Penelusuran Fakta
Tim Cek Fakta menelusuri klaim tersebut melalui penjelasan resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit saat itu, Anung Sugihantono, menegaskan bahwa informasi mengenai vaksin penyebab autisme merupakan hoaks yang telah beredar sejak lama.
Menurut Kementerian Kesehatan, thimerosal merupakan bahan pengawet yang digunakan dalam sejumlah produk farmasi untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme dan menjaga stabilitas vaksin. Berbagai penelitian ilmiah sejak 2002 menunjukkan tidak ada hubungan antara thimerosal dalam vaksin dengan autisme.
“Ito berita hoaks sejak tahun 2015 yang lalu,” kata Anung saat dikonfirmasi oleh Kompas.com .
Kajian keamanan vaksin juga dilakukan oleh Indonesian Technical Advisory Group on Immunization bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hasil kajian tersebut menegaskan bahwa manfaat vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan potensi risiko dari penggunaan thimerosal dalam jumlah kecil.
Sumber: [HOAKS] Kandungan Thimerosal dalam Vaksin Sebabkan Autisme | Kompas
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh dokter umum Gracia Fensynthia yang dikutip dari platform kesehatan Alodokter.
Menurut dr. Gracia, kekhawatiran vaksin menyebabkan autisme berawal dari sebuah penelitian pada 1998 di Inggris yang mengaitkan vaksin MMR dengan autisme. Namun penelitian tersebut kemudian terbukti keliru dan telah ditarik dari publikasi ilmiah.
Sejak saat itu, berbagai penelitian berskala besar dilakukan untuk menguji klaim tersebut. Salah satunya adalah penelitian pada 2019 yang melibatkan hampir 660.000 anak selama 11 tahun, yang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin dengan autisme.
Sumber: Vaksinasi Menyebabkan Autisme, Ini Faktanya | Alodokter
Penjelasan lebih lanjut juga disampaikan oleh Dominicus Husada, Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Tropis Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Menurut dr. Dominicus, klaim yang mengaitkan vaksin MMR dengan autisme berasal dari penelitian tahun 1998 yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet dan dipimpin oleh Andrew Wakefield.
Penelitian tersebut mengklaim adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Namun setelah delapan tahun, penelitian itu terbukti memiliki banyak kelemahan metodologis, termasuk jumlah sampel yang sangat kecil serta adanya manipulasi data.
Akhirnya jurnal The Lancet menarik kembali publikasi tersebut. Andrew Wakefield juga dicabut izin praktik kedokterannya.
“Ada sembilan penelitian ilmiah berskala besar yang telah membuktikan bahwa klaim ini tidak benar dan tidak berdasar secara ilmiah,” tegas dr. Dominicus.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun penelitian tersebut sudah dibatalkan dan terbukti tidak valid, dampak misinformasi itu masih terasa hingga sekarang karena sebagian masyarakat masih mempercayainya.
“Hoaks ini sudah terbantahkan secara ilmiah. Orangtua seharusnya tidak perlu ragu memvaksin anaknya,” ujarnya.
Para ahli juga menjelaskan bahwa vaksin memang dapat menimbulkan reaksi ringan, seperti demam, nyeri, atau bengkak di area suntikan. Namun efek tersebut bersifat sementara dan jauh lebih kecil dibandingkan manfaat vaksin dalam mencegah penyakit serius seperti pneumonia, campak, dan meningitis.