• Hoaks Hantavirus Dikaitkan dengan Agenda PBB 2030, Pakar Tegaskan Klaim Tidak Berdasar

    Sumber:
    Tanggal publish: 15/06/2027

    Berita



    SUKABUMIUPDATE.com – Sebuah video yang beredar di media sosial mengklaim bahwa kemunculan Hantavirus merupakan bagian dari Agenda 2030 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Narasi tersebut mengaitkan penyebaran virus dengan program pembangunan global yang dikenal sebagai Sustainable Development Goals (SDGs).

    Namun, benarkah klaim tersebut?

    Klaim

    Video yang beredar menyebut Hantavirus sengaja dimunculkan sebagai bagian dari Agenda 2030 PBB. Narasi itu juga menghubungkan program pembangunan berkelanjutan dengan berbagai teori konspirasi mengenai pengendalian populasi dan penyebaran penyakit global.

    Penelusuran Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran sejumlah lembaga pemeriksa fakta, klaim tersebut tidak didukung bukti ilmiah maupun dokumen resmi PBB.

    Dikutip dari laporan pemeriksa fakta Tempo.co yang terbit pada 21 Mei 2026, Epidemiolog dari Heidelberg Institute of Global Health, Melani Ratih Mahanani, menegaskan bahwa tidak ada satu pun tujuan dalam Agenda 2030 yang berkaitan dengan penyebaran penyakit.

    “Tidak ada satu pun dari 17 SDGs yang berkaitan dengan penyebaran penyakit” ujar Melani.

    Melani menjelaskan bahwa Agenda 2030 atau Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan kesepakatan global yang disetujui oleh 193 negara anggota PBB untuk mendorong pembangunan berkelanjutan. Program tersebut mencakup berbagai target, mulai dari pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, kesetaraan gender, hingga perlindungan lingkungan.

    Pakar kesehatan masyarakat sekaligus epidemiolog, Dicky Budiman, juga membantah narasi yang menyebut Hantavirus sengaja diciptakan atau disebarkan sebagai bagian dari agenda tertentu.

    Menurut Dicky, kemunculan kasus Hantavirus lebih dipengaruhi oleh faktor ekologis seperti perubahan iklim, urbanisasi, deforestasi, dan meningkatnya interaksi manusia dengan hewan pengerat yang menjadi inang virus tersebut.

    "Hantavirus bukan virus baru. Virus ini sudah dikenal sejak Perang Korea pada era 1950-an dan telah lama menjadi objek penelitian medis," jelas Dicky.

    Secara ilmiah, Hantavirus ditularkan melalui kontak dengan tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi, baik melalui urine, kotoran, maupun air liurnya.

    Penelusuran juga menunjukkan bahwa Agenda 2030 PBB kerap dikaitkan secara keliru dengan berbagai teori konspirasi, seperti depopulasi manusia, pemerintahan dunia tunggal, maupun kewajiban vaksinasi global. PBB sendiri telah berulang kali menegaskan bahwa Agenda 2030 berisi target pembangunan berkelanjutan dan tidak memuat agenda penyebaran penyakit ataupun pengurangan populasi manusia.

    Hasil Cek Fakta

    Kesimpulan

    Klaim bahwa Hantavirus merupakan bagian dari Agenda 2030 PBB adalah tidak benar atau HOAKS.

    Tidak ditemukan bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara kemunculan Hantavirus dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) PBB. Para pakar kesehatan menegaskan bahwa Hantavirus merupakan penyakit yang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan penyebarannya berkaitan dengan faktor lingkungan serta kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.

    Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi informasi kesehatan melalui sumber resmi dan tidak mudah mempercayai narasi yang beredar di media sosial tanpa dasar ilmiah yang jelas.

    Sumber:

    Tempo Cek Fakta (21 Mei 2026)Jala Hoaks DKI JakartaInformasi resmi Sustainable Development Goals (SDGs) PBB

    Penulis: Annisa Nurizkiawan, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi
    • Sukabumi Update
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks, Pemadaman Listrik Global 9 Hari Mulai 18 Juli 2026

    Sumber:
    Tanggal publish: 16/06/2026

    Berita

    tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim akan ada pemadaman listrik secara global selama 9 hari dimulai pada 18 Juli 2026 sebagai salah satu agenda 2030 dan diam diklaim sebagai solusi dari protokol pemadaman tersebut.

    Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Sutri Andini” (arsip) pada Selasa (9/6/2026). Unggahan menampilkan gambar ilustrasi sebuah keluarga memegang lilin dalam situasi pemadaman listrik.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “FAKTA NYATA. 18 JULI 2026: PEMADAMAN LISTRIK GLOBAL SELAMA 9 HARI TERHUBUNG DENGAN AGENDA 2030, DIAM ADALAH PROTOKOLNYA.” Begitu narasi tertulis dalam gambar.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Pengunggah juga menuliskan keterangan dalam unggahan tersebut, “24 jam mati lampu aja hampir gilaaak, apalagi smpai 9 hari bisa bisa sak uwonge pun ikut padam.”

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Sampai artikel ini ditulis pada Senin (15/06/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 117 likes, 84 komentar, dan 93 kali dibagikan ulang. Kolom komentar diisi dengan kritik masyarakat terhadap informasi tersebut dan meyakini bahwa kabar tersebut tidak benar.

    “Baru baca sekilas udah kerasa ada yang janggal loh.. untung udah ada klarifikasinya, jangan gampang kemakan informasi yang belum jelas sumbernya.” Begitu tulis salah satu komentar.

    Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Truth.Seeker 2nd account avicenna,” unggahan tersebut menyebarkan klaim serupa terkait akan adanya pemadaman listrik secara global.

    “Pada 18 Juli 2026, Sebuah Teori Mulai Beredar:

    ✦Pemadaman Listrik Global Selama 9 Hari✦

    Bukan Gangguan Sistem.

    Bukan Kecelakaan.

    Keheningan.

    Ceritanya Bilang, Ini Bukan Sekadar Pemadaman Listrik — ini Adalah RESET Sistem Yang Terkoordinasi. Jaringan Listrik? Mati. Jaringan Komunikasi? Putus. Satelit? Hilang. Tanpa Peringatan. Tanpa Siaran Darurat. Dunia Tiba-tiba Berhenti.Tanpa Ledakan. Tanpa Kehancuran. Hanya Dengungan Sistem Yang Memudar Sampai Tidak Ada Apa-apa. Dalam Teori Ini, Pemadaman Ini Bukan Tentang Lampu Yang Mati. Ini Tentang Hilangnya Sinyal. Seluruh Kerangka Digital Dimatikan Tanpa Meninggalkan Jejak.Bagian Yang Meresahkan? Teori Ini Mengklaim Ada Protokol Yang Disiapkan Untuk Memastikan Tidak Ada Kebocoran Informasi. Tidak Ada pengumuman. Tidak Ada Kepanikan. Hanya Keheningan Yang Menyelimuti Segalanya.

    Pertanyaan Sebenarnya: Kenapa Harus Hening? Kenapa Tidak Ada Peringatan?

    Orang-orang Tidak Sadar Betapa Rapuhnya Dunia Kita. Ini Bukan Cuma Soal Listrik Yang Mati. Ini Tentang Sistem-sistem Yang Saling Terhubung Dan Sinkron Yang Kita Bangun, Yang Bergantung Pada Umpan Balik Konstan. Satu Gangguan Saja, Dan Seluruh Sistem Bisa Retak.Bayangkan: Sembilan Hari. Tanpa Telepon. Tanpa Internet. Tanpa Kontak. Dalam Keheningan Ini, Pertanyaan Sebenarnya Bukan Apa Yang Duluan Rusak. Tapi Siapa Yang Duluan Rusak. Karena Saat Informasi Menghilang, Pikiranmu Akan Mulai Mencarinya. Kamu Akan Panik. Kamu Akan Merasa Kendalimu Lepas.

    Kesimpulan: Dunia Berjalan Karena Koneksi. Dan Kita Sudah Lupa Cara Berfungsi Tanpa Itu. Kalau Jaringan Listrik Mati, Yang Gelap Bukan Cuma Infrastrukturnya — Pikiranmu Juga.​”

    Lantas, benarkah mulai tanggal 18 Juli 2026 akan terjadi pemadaman listrik secara global selama 9 hari sebagai bagian dari agenda 2030?

    Baca juga:Pramono Minta Jangan Ada Lagi Pemadaman Listrik di Jakarta

    PEriksa Fakta Pemadaman Listrik Global. foto/hotline periksa fakta tirto

    Hasil Cek Fakta

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

    Kami justru diarahkan ke laman Kompas, unggahan dengan narasi pemadaman listrik secara global selama 9 hari mulai 18 Juli 2026 tidak benar atau hoaks. Klaim tersebut hanya mengandalkan teori konspirasi tanpa didasari temuan ilmiah dan teknis yang resmi.

    Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Pemadaman listrik global 9 hari,” pada mesin pencarian Google. Hasil penelusuran mengarah pada akun Instagram @humaspoldajabar yang menyatakan klaim pemadaman listrik tersebut adalah hoaks.

    Melansir laman Boatos.org, situs cek fakta terbesar di Brasil pernah menerbitkan artikel dengan narasi yang sama berjudul “It is false that a 9-day global blackout will occur in July 2026" pada Selasa, 26 Mei 2026.

    Dalam artikel tersebut, narasi pemadaman listrik secara global mulai 18 Juli 2026 juga dibagikan di media sosial Brasil dalam bentuk video pendek, sehingga menimbulkan kepanikan kolektif. Pemadaman listrik secara global itu dikaitkan dengan agenda 2030 yang dirahasiakan dan dibagikan dalam berbagai bahasa. Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, dipastikan bahwa narasi pemadaman listrik secara global selama 9 hari mulai 18 Juli 2026 tidak benar atau hoaks.

    Tidak ada prediksi resmi, temuan ilmiah, dan teknis terkait pemadaman listrik global selama sembilan hari tersebut. Teks dalam narasi yang beredar tidak memiliki dasar faktual dan hanya mengandalkan teori konspirasi yang beredar di media sosial tanpa didukung laporan teknis, pernyataan resmi, atau studi ilmiah. Selain itu, tidak ditemukan pula adanya catatan dari organisasi internasional, perusahaan sektor energi, pemerintah, atau lembaga penelitian mengenai protokol global yang melibatkan pemadaman listrik.

    “It is false that a nine-day global blackout is predicted for July 2026. The theory originated on social media and has no technical, scientific, or governmental backing. There is no evidence of a secret plan linked to Agenda 2030 nor a coordinated worldwide interruption of power and communications. The content repurposes common elements of conspiracy theories about global blackouts that have been circulating on the internet for years.” Begitu dikutip Boatos.

    Narasi pada unggahan yang beredar juga menggabungkan istilah-istilah yang sama, seperti "Agenda 2030" dan "Diam adalah protokolnya" tanpa disertai penjelasan yang konkret mengapa hal tersebut bisa terjadi. Hal ini serupa dengan pola klasik teori konspirasi, yakni menggunakan bahasa yang menimbulkan kepanikan, tanpa bukti, dan memprediksi peristiwa besar yang terjadi pada tanggal tertentu.

    Lebih lanjut, pemadaman listrik secara global, secara teknis tidak mungkin terjadi. Hal ini dikarenakan, jaringan listrik di Bumi tidak disatukan oleh satu tombol yang bisa dimatikan secara bersamaan. Jaringan listrik dikelola secara independen oleh masing-masing negara atau wilayah dan memiliki sistem kelistrikan mandiri yang terpisah. Gangguan berskala global, seperti pemadaman massal membutuhkan fenomena kosmik dan belum pernah terjadi sebelumnya.

    Namun, wilayah yang sangat luas bisa mati lampu secara bersamaan akibat badai matahari ekstrem, serangan siber, atau bencana alam. Peristiwa seperti itu juga hanya bisa terjadi jika ada tindakan terkoordinasi. Namun, agenda seperti ini sangat mustahil dirahasiakan oleh para ilmuwan dan teknisi di dunia.

    Penyebaran narasi pemadaman listrik secara global di media sosial adalah bentuk strategi menebar ketakutan dengan menggunakan tanggal dan jangka waktu yang spesifik. Pola seperti ini pernah disebarkan juga di internet seperti narasi pemadaman listrik selama 7 hari pada 20 Februari 2026 juga pernah beredar di media sosial.

    Manajer Komunikasi dan tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Jawa Timur, Dana Puspita Sari membantah narasi tersebut.

    “Berita yang beredar terkait pemadaman tidak benar adanya,” begitu keterangan Dana dikutip Kompas.com (15/2/2026).

    Dalam akun Instagram CNN Indonesia, informasi pemadaman listrik yang dibagikan oleh pihak PLN yaitu pemadaman lampu di beberapa daerah di Jakarta pada 13 Juni 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan ada pemadaman lampu pada Sabtu malam (13/06/2026) selama satu jam mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB. Pemadaman dilakukan sebagai bagian dari Aksi Hemat Energi dan Pengurangan Emisi Karbon dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup 2026.⁣

    “Suasana gelap selama satu jam menjadi simbol kepedulian bersama terhadap lingkungan dan masa depan kota,” begitu keterangan Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi dalam keterangannya, Sabtu (13/6/2026).⁣

    Pemadaman ini mengacu Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon.⁣

    Pemadaman dilakukan di berapa titik penting Ibu Kota, seperti Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Patung Selamat Datang Bundaran Hotel Indonesia (HI), Patung Pemuda, Patung Jenderal Sudirman, hingga kawasan Balai Kota DKI Jakarta. Selain itu, pemadaman juga dilakukan di sejumlah ruas jalan protokol dan arteri.

    Sampai artikel ini ditulis PLN tidak pernah memberikan informasi terkait adanya pemadaman listrik secara global mulai 18 Juli 2026.

    Baca juga:Info Mati Lampu Jakarta: Jadwal Pemadaman Listrik Serentak 2026

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran fakta, video yang mengklaim akan terjadi pemadaman listrik secara global selama 9 hari mulai 18 Juli 2026 adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Pemadaman listrik secara global, secara teknis tidak mungkin terjadi karena jaringan listrik di Bumi tidak disatukan oleh satu tombol yang bisa dimatikan secara bersamaan.

    Pihak PLN dan pemerintah sampai saat ini tidak pernah memberikan informasi terkait adanya pemadaman listrik selama 9 hari, tidak ada prediksi resmi, temuan ilmiah, dan teknis terkait pemadaman listrik global tersebut.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Cek Fakta: Tidak Benar Ini Link Pendaftaran Insentif Guru Honorer dan ASN Rp 5 Juta

    Sumber:
    Tanggal publish: 16/06/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim link pendaftaran insentif untuk guru honorer dan ASN Rp 5 juta, informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 21 Mei 2026.
    Klaim link pendaftaran insentif untuk guru honorer dan ASN Rp 5 juta berupa tulisan sebagai berikut.
    "Pemerintah Hadir Menyalurkan Bantuan Insentif untuk GURU ASN,GURU NON ASN Dan Pegawai Negeri Sipil Beserta GURU HONORER
    Bantuan Sebesar Rp.5.000.000
    Dicairkan Serentak Di Seluruh Wilayah Indonesia
    Untuk Mendapatkan bantuannya,
    Silahkan Daftar di Link Resmi �
    https://bitly.cx/Langsungklikdisini
    https://bitly.cx/Langsungklikdisini"
    Unggahan tersebut menyertakan link berikut.
    "https://daftar-sekarangwl2.d4fttar.one/"
    Jika diklik link akan mengarah pada halaman situs yang menampilkan formulir digital, meminta sejumlah identitas seperti provinsi dan nomor Telegram.
    Benarkah klaim link pendaftaran insentif untuk guru honorer dan ASN Rp 5 juta? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim link pendaftaran insentif untuk guru honorer dan ASN Rp 5 juta, penelusuran mengarah pada artikel berita dari Antaranews berjudul "Kemendikdasmen imbau waspadai laman palsu seputar bantuan insentif " yang tayang pada 1 September 2025
    Dalam artikel ini dijelaskan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengimbau masyarakat, khususnya para guru agar mewaspadai sejumlah laman palsu berujung phising terkait bantuan insentif guru non-ASN sebesar Rp2,1 juta.
    Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen Yudhistira Nugraha meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan pesan, email atau link mencurigakan yang mengatasnamakan pihak tertentu dari Kemendikdasmen.
    "Waspada phising, jangan mudah percaya dengan pesan, email, atau link mencurigakan yang mengatasnamakan pihak tertentu. Phising adalah upaya penipuan untuk mencuri data pribadi seperti password, OTP, atau informasi keuangan," kata Yudhistira di Jakarta pada Senin 1 September 2025.
    Lebih lanjut, pihaknya pun memberikan tips agar terhindar link penipuan phishing, yakni selalu mengecek alamat email/nomor pengirim, jangan klik link mencurigakan, mengaktifkan verifikasi dua langkah, serta menyimpan data pribadi hanya di aplikasi resmi.
    Yudhistira juga menyebutkan beberapa laman yang melakukan phising, di antaranya daftar.form-gtkdikdasmen.com, layanan.form-gtkdikdasmen.com, intensif.gtk-dikdasmen.com, intensif.gtkdikdasmen.com.
    "Domain ini berusaha mencuri data pribadi Anda. Mohon berhati-hati dan pastikan hanya mengisi informasi pada laman resmi kementerian," ujarnya.
    Adapun informasi mengenai bantuan insentif maupun bantuan subsidi upah (BSU) informasi resminya hanya dapat dilihat di Info GTK pada tautan https://info.gtk.dikdasmen.go.id/.
    Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengumumkan insentif untuk guru honorer mengalami kenaikan menjadi Rp400 ribu setiap bulannya mulai 2026. Insentif honorer ini dilakukan dengan mekanisme transfer langsung ke rekening guru yang tercantum dalam Dapodik.
    Dia mengatakan kenaikan insentif guru honorer pada tahun depan tersebut sebesar Rp 100 ribu apabila dibandingkan dengan insentif yang disalurkan untuk tahun 2025, yakni sebesar Rp 300 ribu.
     
     

    Kesimpulan


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim link pendaftaran insentif untuk guru honorer dan ASN Rp 5 juta tidak benar.
    Bantuan insentif maupun bantuan subsidi upah (BSU) informasi resminya hanya dapat dilihat di Info GTK pada tautan https://info.gtk.dikdasmen.go.id/.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks! Uang pecahan baru gambar Presiden Prabowo dan Wapres Gibran

    Sumber:
    Tanggal publish: 16/06/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial Instagram mengeklaim bahwa Bank Indonesia akan menerbitkan uang pecahan Rp18.000 bergambar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

    Unggahan tersebut menampilkan gambar uang berwarna hijau kebiruan yang memuat tanda tangan Gubernur Perry Warjiyo dan Purbaya Yudhi Sadewa, serta mencantumkan logo Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Apakah ini beneran, jangan" entar nasip nya sama kayak duit 75 GK laku...”

    Namun, benarkah terdapat uang pecahan baru Rp18.000 bergambar Prabowo dan Gibran?



    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi maupun pengumuman resmi dari pemerintah dan Bank Indonesia yang menyatakan adanya penerbitan uang pecahan Rp18.000 bergambar Prabowo dan Gibran.

    Dilansir melalui Bank Indonesia, uang rupiah yang saat ini resmi berlaku dan beredar di Indonesia adalah Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022 yang terdiri atas pecahan Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, dan Rp1.000. Tidak terdapat pecahan Rp18.000 seperti yang ditampilkan dalam unggahan tersebut.

    Selain itu, desain uang pada unggahan tersebut tidak sesuai dengan karakteristik uang rupiah yang diterbitkan secara resmi oleh Bank Indonesia.

    Tidak ada pengumuman resmi mengenai penerbitan uang baru yang memuat gambar Prabowo, Gibran, logo MBG, maupun Koperasi Desa Merah Putih.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Dengan demikian, klaim yang menyebut adanya uang pecahan Rp18.000 bergambar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merupakan informasi yang tidak benar atau hoaks.

    Klaim: Uang pecahan baru gambar Presiden Prabowo dan Wapres Gibran

    Rating: Hoaks

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini