(GFD-2025-26176) [KLARIFIKASI] Fenomena Gerhana Bulan Total atau Blood Moon Bukan Pertanda Bencana

Sumber:
Tanggal publish: 17/03/2025

Berita

KOMPAS.com - Di media sosial beredar narasi yang mengeklaim fenomena gerhana bulan total atau blood moon pada Jumat (14/3/2025) adalah tanda bencana besar akan datang.

Narasi yang beredar menyebutkan, bulan akan berwarna merah seperti darah dan merupakan pertanda bencana besar.

Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi tersebut perlu diluruskan.

Narasi yang mengeklaim gerhana bulan darah pada 14 Maret adalah pertanda bencana besar dibagikan akun Facebook ini. Berikut narasi yang dibagikan:

Ini bukan lelucon, jangan dilewati.

Mengejutkan dunia! Bulan darah muncul pada tanggal 14 maret!

Banyak penubuat memperingatkan, akan ada gempa bumi dahsyat dan tsunami pada tahun Juli 2025.

Nubuatan akhir zaman dalam Kitab Wahyu sedang digenapi selangkah demi selangkah dan bencana besar akan segera datang!

Tuhan menggunakan bulan darah untuk memperingatkan dunia: Berjaga-jaga! Bertobatlah! Berbaliklah!

Screenshot Klarifikasi, fenomena Bulan Darah bukan pertanda bencana

Hasil Cek Fakta

Setelah ditelusuri, istilah "Bulan Darah" atau "Blood Moon" merujuk pada Bulan yang berwarna merah ketika gerhana Bulan total terjadi.

Warna merah Bulan tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah, bukan pertanda bencana besar akan datang.

Dikutip dari CBS, fenomena "Bulan Darah" terjadi saat gerhana bulan total, ketika Matahari, Bumi, dan Bulan dalam posisi sejajar.

Cahaya Matahari dibiaskan melalui atmosfer Bumi sebelum mencapai Bulan, yang memantulkannya kembali dalam warna kemerahan menyerupai darah.

Sebagaimana pernah ditulis Kompas.com, Planetarium Jakarta (@planetariumjkt) menyebutkan, puncak gerhana Bulan total akan terjadi pada Jumat (14/3/2025) pukul 13.54 WIB.

Kendati demikian, peneliti utama BRIN, Thomas Djamaluddin mengatakan, masyarakat Indonesia tidak bisa menyaksikan langsung fenomena ini.

Seluruh fase gerhana hanya bisa diamati dari wilayah berikut:

Gerhana Bulan sebagian masih bisa terlihat dari beberapa bagian Eropa, Asia, Australia, dan Afrika, serta seluruh Amerika Utara dan Selatan, Samudra Pasifik, Atlantik, Arktik, dan Antartika.

Dilansir dari National Geographic, narasi yang mengaitkan Bulan Darah sebagai pertanda buruk merupakan kepercayaan yang muncul di masa lalu.

Akan tetapi, kepercayaan itu dimanfaatkan oleh sekelompok manusia lain yang sudah mengetahui Bulan Darah sebagai fenomena astronomi biasa.

Misalnya pada 1504, ketika Christopher Columbus memanipulasi penduduk asli Arawak di Jamaika.

Hal ini diketahui dari catatan putranya, yaitu Ferdinand Columbus. Suku Arawak diperingatkan Columbus bahwa Tuhan akan mengubah Bulan menjadi merah sebagai tanda kemarahan.

Saat gerhana Bulan Darah itu terjadi, suku Arawak ketakutan dan segera memberikan makanan kepada Columbus dan krunya. Ini dilakukan Suku Arawak dengan harapan dapat meredakan "kemarahan" Tuhan.

Saat sains semakin berkembang, kepercayaan ini semakin luntur. Fenomena Bulan Darah pun dinikmati sebagai peristiwa alam yang biasa.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com, narasi yang mengeklaim gerhana bulan pada 14 Maret 2025 adalah pertanda bencana perlu diluruskan.

Istilah "Bulan Darah" atau "Blood Moon" merujuk pada Bulan yang berwarna merah ketika gerhana Bulan total terjadi.

Fenomena "Bulan Darah" terjadi saat gerhana bulan total, ketika Matahari, Bumi dan Bulan dalam posisi sejajar. Peristiwa itu bukan pertanda bencana besar akan datang.

Rujukan