[SALAH] Video Gunung Semeru di Lumajang Keluarkan Lahar Dingin
Sumber: facebook.comTanggal publish: 19/01/2021
Berita
Gunung Semeru di Lumajang Keluarkan Lahar Dingin
Hasil Cek Fakta
Sebuah akun Facebook bernama Ardi Aris Putra Nugroho mengunggah video yang berdurasi 59 detik memperlihatkan sebuah arus lahar dingin mengalir ke jalan raya dan mengenai sebuah truk. Video tersebut telah dibagikan sebanyak 186 kali.
Setelah ditelusuri video tersebut banyak dibagikan di Youtube dan merupakan video amatiran yang diambil saat merekam detik-detik munculnya arus banjir di Desa Sempol, Kecamatan Ijen, Bondowoso pada 29 Januari 2020 lalu.
Sehingga, klaim mengenai video kejadian Gunung Semeru di Lumajang yang mengeluarkan lahar dingin termasuk hoaks dengan kategori konten yang salah.
Setelah ditelusuri video tersebut banyak dibagikan di Youtube dan merupakan video amatiran yang diambil saat merekam detik-detik munculnya arus banjir di Desa Sempol, Kecamatan Ijen, Bondowoso pada 29 Januari 2020 lalu.
Sehingga, klaim mengenai video kejadian Gunung Semeru di Lumajang yang mengeluarkan lahar dingin termasuk hoaks dengan kategori konten yang salah.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Aisyah Adilah (Anggota Komisariat MAFINDO Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik Jakarta)
Bukan video lahar dingin dari Gunung Semeru. Faktanya, Video tersebut merupakan video banjir bandang di Bondowoso pada 29 Januari 2020 lalu.
Bukan video lahar dingin dari Gunung Semeru. Faktanya, Video tersebut merupakan video banjir bandang di Bondowoso pada 29 Januari 2020 lalu.
Rujukan
[SALAH] Singapura Hentikan Vaksinasi Setelah 48 Orang Meninggal di Negaranya
Sumber: twitter.comTanggal publish: 19/01/2021
Berita
“48 people died in Singapore
https : //www[dot]facebook[dot]com/100002508248302/posts/3597378857022354/?d=n”
“48 orang meninggal di Singapura
https : //www[dot]facebook[dot]com/100002508248302/posts/3597378857022354/?d=n”
Setelah vaksin meninggal
Vaksin singapura
Vaksinasi virus corona
Kasus Covid 19 Singapore
Kementerian kesahatan, singapura
Vaksin bikin mati
Apa benar habis vaksin bisa meninggal
meninggal setelah divaksin
https : //www[dot]facebook[dot]com/100002508248302/posts/3597378857022354/?d=n”
“48 orang meninggal di Singapura
https : //www[dot]facebook[dot]com/100002508248302/posts/3597378857022354/?d=n”
Setelah vaksin meninggal
Vaksin singapura
Vaksinasi virus corona
Kasus Covid 19 Singapore
Kementerian kesahatan, singapura
Vaksin bikin mati
Apa benar habis vaksin bisa meninggal
meninggal setelah divaksin
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter Luisa Capra (@LuisaCapra6) mengunggah cuitan berupa narasi yang menyebutkan terdapat 48 orang meninggal di Singapura beserta tautan unggahan Facebook. Cuitan tersebut diunggah pada 3 Januari 2021.
Berdasarkan hasil penelusuran, narasi dan tautan unggahan Facebook tersebut merujuk kepada artikel The Telegraph berjudul “Singapore halts use of flu vaccines after 48 die in South Korea” yang terbit pada 26 Oktober 2020. Pada artikel itu, disebutkan bahwa Singapura menghentikan sementara penggunaan dua jenis vaksin influenza, SKYCellflu Quadrivalent dan VaxigripTetra, sebagai tindakan pencegahan setelah dilaporkannya beberapa orang yang disuntikan vaksin flu meninggal di Korea Selatan.
Pihak pemerintah Korea Selatan mengonfirmasi, akan tetap melanjutkan program vaksinasi karena tidak ditemukan hubungan antara kematian dan suntikan vaksin. Mengutip dari Reuters, 20 hasil otopsi dari National Forensic Service menunjukkan bahwa 13 orang meninggal karena penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, dan gangguan lainnya yang bukan disebabkan oleh vaksinasi.
Mengutip dari DetikHealth, usai diberhentikannya penggunaan dua jenis vaksin influenza selama kurang lebih satu minggu pada Oktober 2020, Singapura kembali mengizinkan penggunaaan dua vaksin tersebut pada 2 November 2020. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Singapura mengememukakan bahwa vaksin influenza yang beredar sudah memenuhi standar dengan efek samping yang dilaporan pasien bersifat ringan, seperti ruam merah dan demam.
Dengan demikian, unggahan akun Twitter Luisa Capra (@LuisaCapra6) dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan karena tidak ada 48 orang yang meninggal di Singapura terkait vaksinasi flu.
Berdasarkan hasil penelusuran, narasi dan tautan unggahan Facebook tersebut merujuk kepada artikel The Telegraph berjudul “Singapore halts use of flu vaccines after 48 die in South Korea” yang terbit pada 26 Oktober 2020. Pada artikel itu, disebutkan bahwa Singapura menghentikan sementara penggunaan dua jenis vaksin influenza, SKYCellflu Quadrivalent dan VaxigripTetra, sebagai tindakan pencegahan setelah dilaporkannya beberapa orang yang disuntikan vaksin flu meninggal di Korea Selatan.
Pihak pemerintah Korea Selatan mengonfirmasi, akan tetap melanjutkan program vaksinasi karena tidak ditemukan hubungan antara kematian dan suntikan vaksin. Mengutip dari Reuters, 20 hasil otopsi dari National Forensic Service menunjukkan bahwa 13 orang meninggal karena penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, dan gangguan lainnya yang bukan disebabkan oleh vaksinasi.
Mengutip dari DetikHealth, usai diberhentikannya penggunaan dua jenis vaksin influenza selama kurang lebih satu minggu pada Oktober 2020, Singapura kembali mengizinkan penggunaaan dua vaksin tersebut pada 2 November 2020. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Singapura mengememukakan bahwa vaksin influenza yang beredar sudah memenuhi standar dengan efek samping yang dilaporan pasien bersifat ringan, seperti ruam merah dan demam.
Dengan demikian, unggahan akun Twitter Luisa Capra (@LuisaCapra6) dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan karena tidak ada 48 orang yang meninggal di Singapura terkait vaksinasi flu.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)
Bukan warga di Singapura, melainkan warga di Korea Selatan. Singapura memang sempat menghentikan program vaksinasi selama satu minggu, hingga akhirnya kembali berjalan pada November 2020. Adapun kematian puluhan orang tersebut disebabkan adanya riwayat penyakit lain, bukan karena vaksinasi.
Bukan warga di Singapura, melainkan warga di Korea Selatan. Singapura memang sempat menghentikan program vaksinasi selama satu minggu, hingga akhirnya kembali berjalan pada November 2020. Adapun kematian puluhan orang tersebut disebabkan adanya riwayat penyakit lain, bukan karena vaksinasi.
Rujukan
- https://www.telegraph.co.uk/news/2020/10/26/singapore-halts-use-flu-vaccines-48-die-south-korea/amp/?fbclid=IwAR0n8aXV-rHlfeAM2I972hygywDkJpiwKZHpfllziDJg_AgtJ6alNHOPXbg
- https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-southkorea-flushot/south-korean-authorities-stick-to-flu-vaccine-plan-after-deaths-rise-to-48-idUSKBN2790G8
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5238851/singapura-kembali-izinkan-vaksin-influenza-usai-dihentikan-sementara
[SALAH] Video Puluhan Santri Pingsan Setelah Vaksin Covid-19 Sinovac
Sumber: facebook.comTanggal publish: 19/01/2021
Berita
“Vaksin sinovac memakan korban lagi kali ini santri dari jember…. pekerjaan paling aneh org sehat kok disuntik macam gk ad kerjaan lain”
Setelah di vaksin pingsan
Setelah di vaksin pingsan
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Rahmat Lubis memposting ulang sebuah status dengan klaim narasi bahwa vaksin Sinovac memakan korban santri di Jember, Jawa Timur dari pengguna Facebook Misman. Postingan yang diunggah pada 13 Januari 2021 ini telah mendapatkan sebanyak 4 komentar dan telah dibagikan sebanyak 1 kali oleh pengguna Facebook lain.
Setelah ditelusuri, peristiwa dalam video tersebut terjadi jauh sebelum munculnya Covid-19, video tersebut ditemukan di kanal Youtube Jember 1Tv pada 28 Febuari 2018, dengan judul “Puluhan Santri Pingsan Usai Imunisasi Difteri”. Dalam keterangannya, disebutkan bahwa puluhan santri di pondok pesantren Pondok Pesantren Madinatul Ulum berada di Kecamatan Jenggawah itu pingsan karena dehidrasi usai disuntik vaksin difteri.
Dilansir dari akun Instagram Pondok Pesantren Madinatul Ulum @madinatululum_, Pihak ponpes membagikan Surat Edaran YPP, terkait video vaksinasi Difteri 3 tahun lalu yang disebar ulang dan dikaitkan dengan vaksinasi Covid-19.
Berikut keterangan Surat Edaran YPP:
“Assalamualaikum Wr. Wb. Salam silaturahim kami sampaikan, semoga kesehatan dan kebaikan menaungi kita semua. Menanggapi tersebarnya kembali video vaksinasi di YPP. Madinatul Ulum, maka kami merasa perlu meluruskan beberapa hal: 1. Vakasinasi pada video tersebut merupakan vaksinasi difteri yang dilakukan oleh Puskesmas Jenggawah tiga tahun lalu pada tanggal 28 Februari 2018. 2. Tidak benar jika video tersebut dihubungkan dengan vaksinasi COVID-19 yang marak akhir-akhir ini. 3. Alhamdulillah, kondisi terkini seluruh santri YPP. Madinatul Ulum dalam keadaan sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa 4. Seluruh kegiatan dan aktivitas yang berlangsung di lingkungan YPP. Madinatul Ulum dilakukan dengan mengikuti protokol COVID-19. 5. Oleh karena itu, dimohon untuk tidak memancing ketakutan dan kegaduhan dengan kembali menyebarluaskan video tersebut. Demikian informasi ini kami sampaikan, atas kerjasamanya kami haturkan terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb”.
Sebagai tambahan, pemberitaan terkait video tersebut terdapat dalam artikel Liputan6.com berjudull “73 Santri Jember Mual Massal Pasca-Imunisasi Difteri” terbit pada 1 Maret 2018. Puluhan santri Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Jember, dirawat di Puskesmas Jenggawah. Sebagian besar santri juga dirawat secara intensif di pesantren karena mengalami mual, pusing, dan lemas pada 27 Februari 2018 malam.
Dengan demikian klaim vaksin Sinovac memakan korban santri di Jember dengan video yang dibagikan adalah tidak benar karena video tersebut merupakan video vaksinasi Difteri 3 tahun lalu. Sehingga klaim tersebut masuk dalam ketegori konten yang menyesatkan.
Setelah ditelusuri, peristiwa dalam video tersebut terjadi jauh sebelum munculnya Covid-19, video tersebut ditemukan di kanal Youtube Jember 1Tv pada 28 Febuari 2018, dengan judul “Puluhan Santri Pingsan Usai Imunisasi Difteri”. Dalam keterangannya, disebutkan bahwa puluhan santri di pondok pesantren Pondok Pesantren Madinatul Ulum berada di Kecamatan Jenggawah itu pingsan karena dehidrasi usai disuntik vaksin difteri.
Dilansir dari akun Instagram Pondok Pesantren Madinatul Ulum @madinatululum_, Pihak ponpes membagikan Surat Edaran YPP, terkait video vaksinasi Difteri 3 tahun lalu yang disebar ulang dan dikaitkan dengan vaksinasi Covid-19.
Berikut keterangan Surat Edaran YPP:
“Assalamualaikum Wr. Wb. Salam silaturahim kami sampaikan, semoga kesehatan dan kebaikan menaungi kita semua. Menanggapi tersebarnya kembali video vaksinasi di YPP. Madinatul Ulum, maka kami merasa perlu meluruskan beberapa hal: 1. Vakasinasi pada video tersebut merupakan vaksinasi difteri yang dilakukan oleh Puskesmas Jenggawah tiga tahun lalu pada tanggal 28 Februari 2018. 2. Tidak benar jika video tersebut dihubungkan dengan vaksinasi COVID-19 yang marak akhir-akhir ini. 3. Alhamdulillah, kondisi terkini seluruh santri YPP. Madinatul Ulum dalam keadaan sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa 4. Seluruh kegiatan dan aktivitas yang berlangsung di lingkungan YPP. Madinatul Ulum dilakukan dengan mengikuti protokol COVID-19. 5. Oleh karena itu, dimohon untuk tidak memancing ketakutan dan kegaduhan dengan kembali menyebarluaskan video tersebut. Demikian informasi ini kami sampaikan, atas kerjasamanya kami haturkan terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb”.
Sebagai tambahan, pemberitaan terkait video tersebut terdapat dalam artikel Liputan6.com berjudull “73 Santri Jember Mual Massal Pasca-Imunisasi Difteri” terbit pada 1 Maret 2018. Puluhan santri Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Jember, dirawat di Puskesmas Jenggawah. Sebagian besar santri juga dirawat secara intensif di pesantren karena mengalami mual, pusing, dan lemas pada 27 Februari 2018 malam.
Dengan demikian klaim vaksin Sinovac memakan korban santri di Jember dengan video yang dibagikan adalah tidak benar karena video tersebut merupakan video vaksinasi Difteri 3 tahun lalu. Sehingga klaim tersebut masuk dalam ketegori konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Rahmah An Nisaa (Uin Sunan Ampel Surabaya).
Informasi yang salah. Narasi dalam postingan tidak sesuai dengan video yang diunggah. Faktanya, dalam video dinyatakan puluhan santri pondok pesantren di Kecamatan Jenggawah Jember pingsan karena dehidrasi usai disuntik vaksin difteri pada 27 Febuari 2018.
Informasi yang salah. Narasi dalam postingan tidak sesuai dengan video yang diunggah. Faktanya, dalam video dinyatakan puluhan santri pondok pesantren di Kecamatan Jenggawah Jember pingsan karena dehidrasi usai disuntik vaksin difteri pada 27 Febuari 2018.
Rujukan
Sesat, Pesan Berantai yang Sebut Vaksinasi Covid-19 Presiden Jokowi Harus Diulang
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 18/01/2021
Berita
Pesan berantai yang berjudul "Vaksinasi Presiden Harus Diulang dan Hati-hati dengan Vaksinasi" beredar di media sosial dan grup-grup percakapan WhatsApp. Pesan berantai ini menyebar setelah Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjalani vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Sinovac pada 13 Januari 2021 di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Pesan tersebut diklaim ditulis oleh seorang dokter spesialis penyakit dalam yang bernama Taufiq Muhibuddin Waly. Menurut pesan ini, vaksinasi yang dilakukan oleh Jokowi gagal. Alasannya, Jokowi disuntik dengan spuit (alat suntik) bervolume 1 cc dan tidak tegak lurus 90 derajat. "Hal tersebut menyebabkan vaksin tidak menembus otot sehingga tidak masuk ke dalam darah."
Dalam pesan berantai ini, disebutkan pula bahwa orang yang akan menjalani vaksinasi Covid-19 mesti melakukan tes rapid antibodi terlebih dahulu. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah reaksi Antibody-dependent enhancement (ADE). Jika hal ini terjadi, virus-virus mati dalam vaksin Sinovac akan dengan mudah masuk ke sel-sel organ, yang akhirnya menyebabkan kerusakan organ. "Bila tes rapid antibodi positif, sebaiknya batalkan vaksinasi."
Pesan berantai tersebut pun mengklaim vaksin Sinovac sebagai vaksin Covid-19 yang terlemah dalam menimbulkan respons imunitas dari 10 vaksin unggulan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dengan demikian, orang yang hasil tes rapid antibodinya positif tidak masalah jika tidak disuntik vaksin, karena telah memiliki antibodi terhadap Covid-19.
Di Facebook, salah satu akun yang membagikan pesan berantai itu adalah akun Ganti Presiden, tepatnya pada 14 Januari 2021. Akun ini melengkapi pesan tersebut dengan gambar tangkapan layar unggahan lain di Facebook terkait kemasan vaksin Sinovac. Unggahan ini mempertanyakan vaksin yang disuntikkan ke Presiden Jokowi.
"Kemasan vaksin Sinovac setahu saya enggak pakai ampulan. Di dalam box vaksin sudah ada spuit khusus yang sudah ada vaksinnya. Jadi, tenaga medis tinggal tusuk saja. Jadi, yang Jokowi pakai apa?" demikian narasi dalam unggahan itu. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 800 reaksi dan 280 komentar serta dibagikan lebih dari 300 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ganti Presiden yang memuat pesan berantai berjudul "Vaksinasi Presiden Harus Diulang dan Hati-hati dengan Vaksinasi". Sejumlah klaim dalam pesan berantai itu menyesatkan.
Hasil Cek Fakta
Untuk memeriksa klaim-klaim dalam unggahan akun Ganti Presiden, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait klaim-klaim tersebut dan mewawancarai sejumlah ahli serta dokter. Ahli yang Tempo wawancarai adalah ahli biologi molekuler Ahmad Rusjdan Utomo, ahli kimia-farmasi Bimo Ario Tejo, dan dokter spesialis patologi klinis Tonang Dwi Ardyanto.
Klaim 1: Vaksinasi Covid-19 Presiden Jokowi gagal, karena disuntik dengan spuit 1 cc dan tidak tegak lurus 90 derajat sehingga vaksin tidak menembus otot dan tidak masuk ke darah.
Dilansir dari Suara.com, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Mohammad Faqih mengatakan pesan berantai di atas berisi opini penulis dan tidak berdasarkan data serta kajian ilmiah. Menurut Daeng, penyuntikan yang dilakukan oleh dokter Abdul Muthalib sudah benar. Ketika itu, Daeng menjalani vaksinasi usai Presiden Jokowi, dan disuntik oleh dokter yang sama. "Masuk ke otot suntikannya," ujar Daeng.
Dalam tayangan Mata Najwa edisi "Vaksin Siapa Takut" pada 13 Januari 2021, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Wakil Ketua Dokter Kepresidenan yang menyuntikkan vaksin Covid-19 Sinovac kepada Presiden Jokowi, Abdul Muthalib, mengatakan bahwa alat suntik atau spuit yang ia gunakan ketika itu adalah spuit 0,5 cc untuk vaksin.
Adapun menurut Tonang Dwi Ardyanto saat dihubungi pada 15 Januari 2021, satu dosis vaksin Sinovac bervolume 0,5 cc. Karena itu, dia mengatakan bahwa sudah sangat tepat jika dokter menggunakan spuit 1 cc untuk menyuntikkan vaksin Sinovac tersebut. "Kita menggunakan spuit yang paling mendekati dosis yang akan diberikan," ujarnya.
Namun, Tonang menuturkan, jika situasi di lapangan tidak memungkinkan, misalnya hanya tersedia spuit 3 cc, spuit dengan ukuran tersebut juga boleh digunakan. "Masih boleh, karena 0,5 cc bisa dimasukkan ke dalam tempat yang lebih besar. Pakai 2 cc ya enggak apa-apa juga, masih betul juga. Jadi, menurut saya, tidak ada yang aneh, wajar," katanya.
Klaim 2: Orang yang akan menjalani vaksinasi Covid-19 mesti melakukan tes rapid antibodi terlebih dahulu untuk mencegah reaksi ADE. Bila tes rapid antibodi positif, sebaiknya batalkan vaksinasi.
Menurut Bimo Ario Tejo saat dihubungi pada 15 Januari 2021, sejauh ini, tes antibodi sebelum vaksinasi Covid-19 tidak diperlukan. Saat ini, penyintas Covid-19 memang belum diprioritaskan untuk menerima vaksin Covid-19. "Bukan karena takut ADE, tapi karena dua hal," ujar Bimo.
Pertama, penyintas Covid-19 sudah dianggap memiliki kekebalan. Sementara yang kedua, dalam uji klinis selama ini, vaksin belum diujicobakan kepada penyintas Covid-19. "Untuk kekhawatiran terhadap ADE pun, sejauh ini, belum ada buktinya," kata Bimo.
Menurut Bimo, ketika vaksin diujicobakan ke hewan, tidak terlihat adanya ADE. Indikasi ADE memang pernah terlihat dalam uji coba vaksin SARS, yang muncul pada 2002, namun hanya di laboratorium. "Tapi sebenarnya tidak ada buktinya, karena SARS keburu hilang," ujarnya.
Bimo menjelaskan ADE bisa terjadi ketika infeksi pertama menghasilkan antibodi tapi antibodi tersebut tidak bisa melindungi dari infeksi kedua, bahkan justru membantu virus pada infeksi kedua. "Ini biasanya terjadi ketika infeksi kedua berasal dari varian virus yang berbeda," tuturnya.
Karena itu, ADE terjadi pada HIV, karena virus HIV bermutasi dengan sangat cepat. ADE juga muncul pada demam berdarah. Saat ini, dikenal empat jenis demam berdarah, di mana empat virus dengue yang menjadi penyebabnya memiliki perbedaan genetik yang jauh. "Jadi, antibodi yang terbentuk pada infeksi pertama tidak bisa mengenali virus pada infeksi kedua," ujar Bimo.
Untuk varian SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, menurut Bimo, sampai saat ini tidak terlalu banyak. Sifat genetiknya tidak mudah bermutasi. "Walaupun sudah setahun pandemi, mutasi yang terjadi tidak secepat mutasi yang terjadi pada HIV atau virus flu" katanya.
Hal itulah yang membuat banyak ilmuwan optimistis antibodi yang dihasilkan pada infeksi pertama atau dari vaksin tidak menimbulkan ADE. "Tapi harus dimonitor, karena mutasi kadang-kadang sulit dikontrol. Kalau nanti terjadi mutasi yang menyebabkan identitas virus ini berbeda dari yang sekarang, kemungkinan ADE bisa terjadi. Tapi saya melihat belum ke arah sana."
Ahmad Rusjdan Utomo, saat dihubungi pada 15 Januari 2021, juga memberikan penjelasan serupa. Dalam uji klinis vaksin Sinovac, para relawan memang menjalani tes antibodi terlebih dahulu. Namun, menurut Ahmad, alasannya bukan karena takut akan ADE.
Untuk vaksin yang menggunakan bagian dari virus, seperti Moderna dan AstraZeneca, mereka bisa membedakan antibodi yang dihasilkan oleh vaksin dan antibodi yang dihasilkan oleh infeksi alami. Sementara vaksin Sinovac, yang menggunakan virus yang telah dimatikan, tidak bisa membedakan antibodi yang dihasilkan oleh vaksin dan antibodi yang dihasilkan oleh infeksi alami. "Itu yang membuat relawan uji coba vaksin Sinovac harus cek antibodi," katanya.
Terkait ADE, Ahmad mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan hal itu terjadi. Menurut dia, ADE terjadi jika terdapat varian virus yang berbeda, seperti virus dengue penyebab demam berdarah. Virus dengue memiliki empat varian yang berbeda, yang bisa dipisahkan dengan antibodi. "Artinya, perangai serologi mereka berbeda," ujar Ahmad.
Sementara SARS-CoV-2, menurut Ahmad, kalau pun ada variasi, hal itu tidak mengubah perangai serologi mereka. "Jadi, masih virus yang sama. Makanya, walaupun ada varian baru, setelah dicek di laboratorium, semua varian itu masih bisa diblok dengan antibodi. Beda kasusnya dengan dengue. Kalau dengue, diberi vaksin tipe A, tapi yang datang tipe B, jadi isu," tuturnya.
Ahmad juga mengatakan, jika vaksin Covid-19 memang menyebabkan ADE, hal itu seharusnya terlihat pada hewan coba. Dalam kasus SARS, ketika vaksin diuji klinis ke hewan coba, terlihat bukti kerusakan serologi pada organ dalam mereka. "Tapi, kalau bicara Covid-19, kita gunakan hewan coba, tidak terlihat adanya kerusakan organ," katanya.
Terkait klaim bahwa suntikan vaksin yang berulang kali bisa menyebabkan ADE, menurut Ahmad, hal itu hanya dugaan dan tidak memiliki basis ilmiah. "Untuk kasus seperti itu, tidak ada contohnya. Secara imunologi pun, suntikan booster justru bisa menaikkan antibodi. Bagaimana bisa turun? ADE itu kan isunya ketika jumlah antibodi tidak banyak, rendah," ujar Ahmad.
Klaim 3: Vaksin Sinovac adalah vaksin Covid-19 terlemah dari 10 vaksin unggulan WHO.
Menurut arsip berita Tempo, pada 21 Desember 2020, juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucia Rizka Andalusia telah membantah bahwa vaksin Sinovac memiliki kualitas paling lemah di antara kandidat vaksin lainnya. "Hingga saat ini, tidak ada dokumen dan informasi resmi dari WHO yang membandingkan respons imunitas 10 kandidat vaksin, atau pernyataan bahwa vaksin Sinovac rendah," ujarnya.
Ahmad Rusdjan Utomo juga mengatakan tidakfairmembandingkan vaksin-vaksin Covid-19 dengan hanya melihat angka efikasinya masing-masing. Uji klinis vaksin yang dilakukan saat ini hanya membandingkan vaksin Covid-19 yang dikembangkan, seperti vaksin Sinovac atau vaksin Pfizer, denganplacebo. "Kalau maufair, coba bandingkan vaksin Sinovac melawan vaksin Pfizer, di Amerika misalnya," ujarnya.
Menurut Ahmad, vaksin Pfizer sebenarnya juga menuai banyak kritik. Uji klinis yang dilakukan Pfizer merestriksi hanya pada kasus gejala sedang yang terkonfirmasi positif melalui tes PCR. "Jadi, kalau ada gejala suspek, tidak dihitung. Sementara kalau di Brasil (uji klinis vaksin Sinovac), dihitung semua. Bahkan, gejala ringan mereka hitung dan mereka konfirmasi non PCR," tutur Ahmad.
Jika gejala ringan dihitung, menurut Ahmad, angka efikasi terkesan tidak tinggi karenano
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, pesan berantai yang berjudul "Vaksinasi Presiden Harus Diulang dan Hati-hati dengan Vaksinasi" tersebut menyesatkan. Terkait klaim bahwa vaksin Covid-19 Sinovac harus disuntikkan dengan spuit minimal 3 cc, keliru. Satu dosis vaksin Sinovac bervolume 0,5 cc. Karena itu, spuit yang digunakan boleh sama dengan atau lebih besar dari volume vaksin. Terkait klaim soal adanya reaksi ADE akibat vaksin Covid-19, hingga saat ini, hal itu tidak terbukti. Adapun terkait klaim bahwa vaksin Sinovac adalah vaksin Covid-19 terlemah dari 10 vaksin unggulan WHO, hingga saat ini, tidak ada dokumen atau informasi resmi dari WHO yang membandingkan respons imunitas 10 kandidat vaksin, atau pernyataan bahwa vaksin Sinovac adalah vaksin paling lemah.
ANGELINA ANJAR SAWITRI
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksinasi-covid-19
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-sinovac
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://archive.vn/0P4ts
- https://www.suara.com/health/2021/01/14/150238/dokter-dari-cirebon-sebut-vaksinasi-presiden-gagal-pb-idi-angkat-bicara
- https://www.youtube.com/watch?v=hUKnXEXGLd0
- https://nasional.tempo.co/read/1416551/jubir-vaksin-covid-19-bantah-kualitas-sinovac-paling-rendah
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-pfizer
- https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/15/070200265/perhatikan-seperti-ini-bentuk-dan-kemasan-vaksin-sinovac-yang-digunakan?page=all
- https://www.tempo.co/tag/presiden-jokowi
Halaman: 6919/8554



