Keliru, Klaim Ini Foto Jalan Putus di Sulawesi Barat Akibat Gempa Majene
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 15/01/2021
Berita
Gambar tangkapan layar sebuah unggahan di Facebook yang berisi foto jalan yang terputus akibat longsor viral. Jalan yang putus itu diklaim sebagai jalan yang berada di daerah Sendana, Sulawesi Barat. Menurut klaim tersebut, jalan ini putus akibat gempa Majene pada 14 Januari 2021 yang memiliki magnitudo 5,9.
Di Facebook, gambar tangkapan layar itu diunggah salah satunya oleh akun Nasril Pratama, tepatnya pada 14 Januari 2021. Dalam gambar itu, tertulis narasi, "Info bagi anggota yang maw melintas Mamuju_majene Begitupun sebaliknya kita tunda mii dlu om bos karna ada jlan putus daerah Sendana gara2 gempa tdi."
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto tersebut denganreverse image toolSource dan Google. Hasilnya, diketahui bahwa jalan putus dalam foto itu berada di jalur Lahat-Pagaralam, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Jalan tersebut putus pada Februari 2019.
Foto yang identik pernah dimuat oleh situs media Jawa Pos pada 2 Februari 2019 dalam beritanya yang berjudul “Jalan Lahat-Pagaralam Putus”. Menurut Jawa Pos, tanah longsor telah menyebabkan akses jalan Lahat-Pagaralam terputus. Jalan itu berada di Desa Jati, Kecamatan Pulau Pinang, Lahat.
Peristiwa bermula pada 2 Februari 2019 dini hari. Saat itu, hujan dengan intensitas tinggi terjadi di daerah tersebut. Air kemudian menggerus gorong-gorong. Sekitar pukul 04.00 WIB, jalan itu mulai amblas dan terputus. Tidak ada korban dalam kejadian itu. Namun, lalu lintas harus dialihkan ke jalur alternatif di Kecamatan Gumai Ulu.
Dikutip dari situs media Okezone.com, jalan di sekitar lokasi longsor tersebut amblas sepanjang 20 meter dengan kedalaman 100 meter. Longsor ini sempat membuat macet karena banyaknya kendaraan di jalur Lahat-Pagaralam terjebak, sehingga kendaraan terpaksa memutar balik melalui jalur Gumai atau Muara Siban.
Gempa bumi Sulawesi Barat
Berdasarkan arsip berita Tempo, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Regional IV Makassar mencatat bahwa terjadi sebanyak 28 kali di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, sepanjang 14-15 Januari 2021. "Kalau sejak gempa berkekuatan 5,9 SR pada 14 Januari, sudah 28 kali gempa," kata Staf Pusat Gempa BMKG Regional IV Makassar, Syarifuddin, pada 15 Januari 2021.
Namun, Syarifuddin mengatakan gempa di Kabupaten Mejene yang membuat bangunan rusak hingga menimbulkan korban jiwa adalah gempa yang terjadi pada 15 Januari dini hari pukul 02.28 WITA yang berkekuatan 6,2 SR. "Setelah itu, terjadi lagi gempa susulan sebanyak 19 kali," ujarnya. Pagi tadi, pukul 08.25 WITA, terjadi gempa berkekuatan 4,4 SR di timur laut Majene dengan kedalaman 8 kilometer.
Berdasarkan informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamuju, terdapat 24 korban luka-luka dan tiga orang meninggal serta 2 ribu warga mengungsi. Sementara laporan BPBD Kabupaten Majene menyatakan terjadi longsor di tiga titik sepanjang jalan poros Majene-Mamuju (akses jalan terputus) dan kerusakan 62 rumah, satu puskesmas, serta satu kantor Danramil Malunda.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto tersebut adalah foto jalan putus di daerah Sendana, Sulawesi Barat, akibat gempa Majene pada 14 Januari 2021, keliru. Gempa Majene pada 14-15 Januari 2021 memang menyebabkan akses jalan Majene-Mamuju terputus. Namun, jalan putus dalam foto itu adalah jalan Lahat-Pagaralam, Sumatera Selatan, yang amblas pada 2 Februari 2019.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
Keliru, Orang yang Sudah Vaksinasi Covid-19 Tak Perlu Pakai Masker dan Cuci Tangan
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 15/01/2021
Berita
Klaim bahwa orang yang sudah menjalani vaksinasi Covid-19 tidak perlu memakai masker dan mencuci tangan beredar di media sosial. Klaim itu beredar setelah Presiden Joko Widodo atau Jokowi mendapatkan vaksin Covid-19 di Istana Kepresidenan, Jakarta, dan dimulainya program vaksinasi Covid-19 tahap pertama pada 13 Januari 2021.
Di Facebook, klaim itu diunggah oleh akun Gaes Pardi pada 14 Januari 2021. Klaim tersebut dibagikan di grup Info Kecelakaan dan Kriminal Indonesia. Akun ini menyebut penyuntikan vaksin Covid-19 bertujuan untuk membuat tubuh kebal terhadap Covid-19. "Maka, Anda tidak perlu lagi pakai masker, cuci tangan, dan sebagainya karena Anda sudah kebal terhadap Covid-19," katanya.
Kemudian, akun Gaes Pardi menulis, "Jika Anda sudah disuntik vaksin Covid-19, tapi masih saja disuruh pakai masker, disuruh cuci tangan, duduk berjauhan, dan sebagainya, berarti yang disuntikkan ke Anda itu bukan vaksin, tapi vakcin (valuta keuangan Cina). Nah, Jokowi sudah disuntik vaksin Covid-19 kok masih pakai masker, tapi sudah kebal dari virus Covid-19?"
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Gaes Pardi yang memuat klaim keliru tentang vaksinasi Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, pemberian vaksin bukanlah solusi tunggal dalam mengendalikan pandemi Covid-19, baik di Indonesia maupun di dunia. Meskipun vaksin dapat memberikan manfaat berupa menumbuhkan antibodi, semua vaksin Covid-19, termasuk vaksin Sinovac, belum diketahui efektivitasnya dalam mencegah transmisi atau penularan virus pada orang lain.
Karena itu, seseorang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 tetap harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Pemerintah juga tetap harus memaksimalkan jumlah tes(testing), penelusuran kontak (tracing), dan perawatan terhadap orang-orang yang terinfeksi (treatment).
Menurut Dicky Budiman, ahli epidemiologi dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, vaksin memiliki tiga jenis manfaat atau khasiat. Pertama, efikasi untuk mendapatkan proteksi terhadap virus tertentu agar tidak terinfeksi.
Tingkat efikasi tersebut bervariasi, tergantung pada jenis vaksin yang digunakan saat uji klinis. Efikasi vaksin Sinovac yang diuji di Indonesia misalnya, adalah sebesar 65,3 persen. Sementara efikasi vaksin Pfizer dan vaksin Moderna masing-masing sebesar 95 dan 94 persen.
Dicky mengatakan, berapa pun nilai efikasi, tetap memberikan perlindungan. “Daripada tidak ada vaksin sama sekali,” katanya saat dihubungi Tempo pada 15 Januari 2021. Namun, terbentuknya antibodi untuk memberikan perlindungan membutuhkan proses yang berbeda di masing-masing orang. “Ada salah anggapan, begitu disuntik vaksin, antibodinya otomatis terbentuk. Padahal, itu butuh waktu,” ujarnya.
Jenis kedua adalah mencegah atau mengurangi keparahan atau gejala. Artinya, vaksin dapat mengurangi tingkat keparahan gejala pada seseorang yang telah divaksin yang kemudian terinfeksi. Dengan demikian, vaksin dapat membantu mengurangi jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit, bahkan mengurangi tingkat kematian.
Sementara jenis ketiga adalah memutus transmisi atau tingkat penularan. Hanya saja, saat ini, belum tersedia data yang cukup untuk mengetahui apakah semua vaksin Covid-19 memiliki efektivitas dalam memutus penularan tersebut. Sebab, untuk mengetahui efektivitas ini, dibutuhkan waktu minimal enam bulan pasca vaksinasi massal.
“Kenapa butuh waktu, karena riset vaksin Covid-19 ini luar biasa cepatnya dibandingkan jenis vaksin lainnya. Sehingga, data untuk memutus penularan butuh waktu paling cepat enam bulan pasca uji fase ketiganya berakhir,” kata Dicky.
Di tengah belum tersedianya data tersebut, dikhawatirkan seseorang yang sudah divaksin masih bisa terinfeksi virus dan menularkannya ke orang lain, meskipun mereka tidak memiliki gejala Covid-19. Karena itu, kata Dicky, orang yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19 tetap harus memakai masker dan menjaga jarak agar tidak menularkan virus ke orang lain.
Mengapa orang yang telah divaksin Covid-19 tetap punya risiko menularkan virus?
Dikutip dari The New York Times, menurut Michael Tal, ahli imunologi dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, meskipun vaksin Pfizer dan vaksin Moderna dianggap paling baik dalam mencegah munculnya gejala serius karena Covid-19, belum jelas seberapa efektif keduanya dapat memutus penularan.
Menurut Michael, uji klinis vaksin Pfizer dan vaksin Moderna hanya melacak berapa banyak orang yang jatuh sakit setelah mendapatkan vaksin. Sehingga, ada kemungkinan bahwa mereka yang mendapatkan vaksin bisa terinfeksi tanpa gejala dan bisa menularkan Covid-19 secara diam-diam, terutama jika mereka berkontak dekat dengan orang lain atau berhenti menggunakan masker.
“Jika orang yang divaksinasi adalah penyebar virus yang diam-diam, mereka mungkin tetap menyebarkannya di komunitas mereka, menempatkan orang yang tidak divaksinasi pada risiko,” katanya.
Marion Pepper, ahli imunologi dari University of Washington, AS, menjelaskan secara teknis mengapa mereka yang divaksin tetap berpotensi bisa menularkan SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19.
Dalam sebagian besar kasus infeksi saluran pernapasan, termasuk Covid-19, hidung adalah pintu masuk utama dan tempat berkembang biak dengan cepat. Hal ini mengguncang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan sejenis antibodi yang khusus untuk mukosa, jaringan lembab yang melapisi hidung, mulut, paru-paru, dan perut.
Jika orang yang sama terpapar virus untuk kedua kalinya, antibodi tersebut, serta sel kekebalan yang mengingat virus tersebut, dengan cepat mematikan virus yang terdapat di hidung sebelum mereka menyebar dan bertahan di bagian tubuh yang lain.
Sebaliknya, vaksin Covid-19 disuntikkan jauh ke dalam otot dan merangsang sistem kekebalan untuk menghasilkan antibodi. Hal ini dapat menjaga orang yang divaksinasi tidak jatuh sakit saat terinfeksi Covid-19.
Beberapa dari antibodi tersebut akan bersirkulasi di dalam darah, lalu ke mukosa hidung, dan berjaga di sana. Meskipun begitu, belum jelas berapa banyak kumpulan antibodi yang dapat dimobilisasi, atau seberapa cepat mereka bisa mematikan virus di hidung.
Jika jawabannya tidak banyak, virus bisa bermunculan di hidung sehingga, ketika orang tersebut bersin atau menghembuskan nafas, dapat menginfeksi orang lain. “Ini adalah perlombaan, tergantung apakah virus dapat bereplikasi lebih cepat, atau sistem kekebalan dapat mengontrolnya lebih cepat,” kata Pepper.
Dikutip dari Business Insider, menurut ahli penyakit menular dari Ohio State University, Debra Goff, meskipun melindungi dari tertular virus, vaksin tidak akan sepenuhnya efektif sampai dosis kedua diberikan. "Demi kebaikan sesama umat manusia, Anda perlu terus memakai masker dan dan menjaga jarak fisik dari orang lain,” kata Goff.
Vaksin Covid-19 mengandung potongan kecil materi genetik yang dimaksudkan untuk mengajari sistem kekebalan cara melawan SARS-CoV-2. Bit RNA pembawa pesan ini tidak dapat membuat seseorang sakit dengan Covid-19, tapi perlu beberapa waktu bagi mereka untuk melakukan tugasnya.
Vaksin Pfizer,misalnya, hanya efektif 52 persen dalam mencegah Covid-19 setelah dosis pertama diberikan. Suntikan kedua, bila diberikan tiga minggu kemudian, akan meningkatkan efektivitas menjadi 95 persen.
Ada kemungkinan untuk tertular Covid-19 selama jeda suntikan pertama dan suntikan kedua. Faktanya, seorang perawat California dilaporkan positif Covid-19 setelah lebih dari seminggu mendapat suntikan vaksin pertamanya. Ini bisa terjadi karena seseorang mungkin tidak mengembangkan antibodi hingga 10-14 hari setelah mendapat suntikan pertama.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa seseorang yang sudah menjalani vaksinasi Covid-19 tidak perlu memakai masker dan mencuci tangan, keliru. Vaksin dapat memberikan manfaat berupa menumbuhkan antibodi. Vaksin juga bisa mencegah atau mengurangi gejala. Namun, belum diketahui efektivitas seluruh vaksin Covid-19 dalam mencegah transmisi atau penularan. Karena itu, mereka yang telah mendapatkan vaksin tetap harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksinasi-covid-19
- https://archive.is/vip8f
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-sinovac
- https://www.nytimes.com/2020/12/08/health/covid-vaccine-mask.html
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-moderna
- https://www.businessinsider.com/you-should-wear-mask-long-after-your-covid-19-vaccine-2020-12?international=true&r=US&IR=T
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-pfizer
[SALAH] Pesan Whatsapp Undangan Rakernas Peningkatan Kinerja Tenaga Kesehatan oleh Dinkes DKI
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 15/01/2021
Berita
Beredar melalui aplikasi perpesanan Whatsapp sebuah pesan yang mengatasnamakan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr. Widyastuti, MKM. Pesan berantai tersebut berisi undangan rakernas Dinas Kesehatan yang akan diadakan pada 19-20 Januari 2021 di Hotel Aryaduta Makassar, untuk transportasi dan akomodasi biaya ditanggung oleh panitia sebesar Rp8.000.000.
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari Jalahoaks, setelah dikonfirmasi pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta menepis kabar tersebut. Dijelaskan bahwa pihak Dinas Kesehatan tidak mengadakan kegiatan seperti yang dituliskan pada pesan tersebut. Pesan tersebut dibuat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Sehingga klaim mengenai undangan raker Dinas Kesehatan yang beredar melalui Whatsapp dapat dikatakan hoaks dengan kategori konten palsu.
Sehingga klaim mengenai undangan raker Dinas Kesehatan yang beredar melalui Whatsapp dapat dikatakan hoaks dengan kategori konten palsu.
Rujukan
[SALAH] Video “Rekaman sebelum pesawat sriwijaya air jatuh”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 15/01/2021
Berita
Beredar sebuah postingan video pada akun facebook yang menayangkan rekaman sebelum pesawat sriwijaya air jatuh
NARASI
“Rekaman sebelum pesawat sriwijaya air jatuh 😭😭😭 ya allah sedih nya ..”
NARASI
“Rekaman sebelum pesawat sriwijaya air jatuh 😭😭😭 ya allah sedih nya ..”
Hasil Cek Fakta
Penelusuran percakapan pilot dan co pilot yang viral di media bukan berasal dari Sriwijaya Air SJ182. Transkrip video serupa sudah beredar sejak tahun 2008 yang dialami oleh pesawat Adam Air.
Rujukan
- httpfirstdraftnews.org: “Berita palsu. Ini rumit.”
- http://bit.ly/2MxVN7S (Google Translate),
- http://bit.ly/2rhTadC. youtube.com: “Kotak Hitam ADAM AIR”,
- https://archive.md/PtbSk (arsip cadangan). detik.com: “Rekaman AdamAir Dipastikan Bukan dari Komputer KNKT yang Hilang”
- https://bit.ly/3sonEZs /
- https://archive.md/TbZq3 (arsip cadangan). KOMPAS.com: “Kata-kata Terakhir Pilot AdamAir ”
- http://bit.ly/3bHhq12 /
- https://archive.md/E1V9k (arsip cadangan). KOMPAS.com: “Kata-kata Terakhir Pilot AdamAir”
- http://bit.ly/39ttMHe /
- https://archive.md/qRSRB (arsip cadangan). KOMPAS.com: “Misteri Jatuhnya AdamAir di Majene Terjawab”
- http://bit.ly/2XDBWXY /
- https://archive.md/8xbw6 (arsip cadangan). tirto.id: “Mengenang Kecelakaan Pesawat Jatuh Adam Air 574 Awal Tahun 2007”
- http://bit.ly/3bGSUNp /
- https://archive.md/tG8Pk (arsip cadangan).
Halaman: 6929/8554


