• Keliru, Video yang Sebut Anies Korupsi Rp 100 Miliar dari Saham Miras DKI

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 08/03/2021

    Berita


    Video yang berisi klaim bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan korupsi Rp 100 miliar dari saham minuman keras (miras) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beredar di media sosial. Dalamthumbnail video itu, terdapat narasi "Terebongkarrrr..!! Korupsi 100 Miliar Miras DKI Ternyata Anis Baswedan Gunakan untuk Hal Ini".
    Selain itu, dalam thumbnail video tersebut, terdapat foto yang memperlihatkan Anies sedang memegang tumpukan uang. Di YouTube, video tersebut diunggah oleh kanal ini pada 4 Maret 2021 dengan judul,“Berita Terkini ~ Terbongkar, Gubenur korupsi Bisnis Haram.?”. Hingga artikel ini dimuat, video itu telah ditonton lebih dari 350 ribu kali dan disukai sebanyak 3.500 kali.
    Gambar tangkapan layar video di YouTube yang berisi klaim keliru terkait Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sedang memegang tumpukan uang dalamthumbnail video tersebut denganreverse image toolSource dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto itu merupakan hasil suntingan. Pria dalam foto ini bukan Anies. Bagian wajah pria dalam foto tersebut ditempeli dengan foto wajah Anies.
    Foto aslinya pernah dimuat oleh situs media Bisnis.com dalam artikelnya pada 3 Desember 2020. Foto itu diberi keterangan sebagai berikut: “Petugas memasukan uang pecahan rupiah ke dalam mobil untuk didistribusikan dari Cash Center Mandiri, Jakarta, Senin (11/5/2020). - Antara Foto/Muhammad Adimaja.” Foto yang sama juga pernah dimuat oleh situs media Tirto.id dalam artikelnya pada 18 Juni 2020 dengan keterangan serupa.
    Tempo kemudian menonton secara keseluruhan video yang beredar tersebut. Namun, dalam video itu, tidak ditemukan penjelasan bahwa Anies melakukan korupsi Rp 100 miliar dari saham miras milik Pemprov DKI Jakarta. Video tersebut hanya berisi pembahasan soal polemik rencana Pemprov DKI menjual sahamnya di perusahaan bir PT Delta Djakarta. Pembahasan itu diambil dari beberapa artikel dari situs yang berbeda.
    Bagian awal video berisi narasi yang berasal dari artikel di situs opini Seword.com yang dimuat pada 4 Maret 2021. Setelah itu, narator membacakan kutipan dari dosen Universitas Indonesia Ade Armando yang pernah dimuat dalam artikel di situs Netralnews.com pada 3 Maret 2021. Lalu, narasi di bagian akhir bersumber dari artikel di situs Indonesiakininews.com yang dimuat pada 3 Maret 2021.
    Saham bir Pemprov DKI
    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 4 Maret 2021, penjualan saham bir milik Pemprov DKI Jakarta di PT Delta hingga saat ini masih mandek. Padahal, penjualan saham bir tersebut adalah janji kampanye Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI 2017 lalu.
    Langkah Anies menjual saham di perusahaan pembuat merek bir Anker itu terantuk aturan yang mensyaratkan adanya persetujuan DPRD. Hingga kini, DPRD DKI belum menunjukkan lampu hijau penjualan saham bir tersebut. Untuk diketahui, saham milik Pemprov DKI di PT Delta sebesar 26,25 persen.
    "Saham Delta itu memang kami akan upayakan jual kembali," kata Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria di Balai Kota pada 1 Maret 2021. Hingga kini, restu dari DPRD DKI baru jelas diberikan oleh Fraksi PKS dan PAN. Kedua partai itu mendukung rencana Pemprov DKI menjual saham bir tersebut.
    Sementara tentangan justru datang dari Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi. Ia tegas mengatakan akan mempertahankan saham bir milik DKI di PT Delta. Politikus PDIP itu beralasan selama ini perusahaan tersebut menguntungkan DKI, dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pembangunan di Ibu Kota.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, video yang berisi klaim bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan korupsi Rp 100 miliar dari saham miras milik Pemprov DKI itu keliru. Foto yang memperlihatkan Anies sedang memegang tumpukan uang dalam thumbnail video tersebut merupakan hasil suntingan. Selain itu, dalam video itu, tidak ditemukan penjelasan bahwa Anies melakukan korupsi Rp 100 miliar dari saham miras. Video tersebut hanya berisi pembahasan terkait polemik rencana Pemprov DKI menjual sahamnya di perusahaan bir PT Delta Djakarta.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Banyak Data Orang Meninggal Dunia Akibat Vaksin Covid-19

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 08/03/2021

    Berita

    Cek Fakta Liputan6.com menemukan klaim netizen yang menyebut ada banyak kasus meninggal dunia akibat vaksin covid-19. Klaim ini juga menyebut vaksin covid-19 memiliki efek samping yang berbahaya.

    Klaim ada banyak kasus orang meninggal dunia akibat vaksin covid-19 ditemukan di akun Facebook milik Welly Bullock. Dia membuat klaim itu pada 25 Februari 2021.

    Begini narasinya:

    "Begitu banyak data orang meninggal akibat vaksin covid yg aku temukan..

    Sampe sampe aku cape baca nya satu persatu..

    Dan cape juga buat posting di sosial media buat buktiin kalo vaksin covid punya efek samping yg berbahaya".

    Hasil Cek Fakta

    Untuk membuktikan klaim tersebut, Cek Fakta Liputan6.com menghubungi Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi. Dia memastikan itu informasi hoaks.

    "Tidak benar, itu hoaks. Tidak ada (yang meninggal) karena vaksin," kata dr Siti melalui WhatsApp, Senin (8/3/2021).

    Kemudian, Cek Fakta Liputan6.com menemukan artikel berjudul: "Jangan Termakan Hoaks, Vaksin Covid-19 Tidak Menyebabkan Kematian". Artikel ini dimuat di situs Liputan6.com pada 1 Maret 2021.

    Artikel tersebut mengambil penjelasan dari vaksinolog sekaligus Dokter Penyakit Dalam di RS Menteng Mitra Afia, dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD. Dia pun menjelaskan tentang efek samping dari vaksin.

    "Semua produk medis, selain memiliki manfaat, juga mempunyai efek samping. Efek samping vaksin dikenal dengan KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi. Dari penelitian diketahui bahwa maoritas KIPI bersifat ringan dan merupakan reaksi lokal, yakni nyeri atau kemerahan di bekas suntikan."

    "Sebagian kecil orang setelah divaksinasi akan mengalami reaksis sistemik, seperti demam hingga lemas. Pada prinsipnya, ini merupakan hal yang wajar. Reaksi pasca-vaksinasi merupakan hal lumrah yang terjadi karena saat vaksin diberikan ke tubuh kita, ada proses pengenalan antara tubuh dan anti-gen atau virus mati," ujarnya.

    Dokter Dirga juga memastikan kalau program vaksinasi aman dilakukan. Dia juga menyebut, hingga saat ini belum ada kasus kematian yang dilaporkan akibat vaksin covid-19.

    "Mengenai efek kejang pada vaksin sinovac, itu belum pernah dilaporkan sehingga tidak benar. Tidak benar juga ada laporan atau bukti vaksin covid-19 menyebabkan kematian," ucapnya mengakhir.

    Kesimpulan

    Klaim ada banyak data orang meninggal akibat vaksin covid-19 seperti klaim netizen merupakan informasi hoaks. Vaksin covid-19 dipastikan aman dan tidak menyebabkan kematian.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto PBB Utus Tentara AS untuk Menyerang Myanmar

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 08/03/2021

    Berita

    Cek Fakta Liputan6.com menemukan sebuah klaim yang menyebut Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB ) membawa pasukan Amerika Serikat ( AS ) untuk melakukan penyerangan ke Myanmar.

    Klaim itu berada di akun Facebook, Angel Lay. Dia juga mengunggah foto tentara AS sedang berada dalam pesawat yang diklaim dalam perjalanan menuju Myanmar.

    Begini narasi yang dia buat dalam bahasa Myanmar yang sudah diterjemahkan:

    "Breaking News

    Sudah waktunya kejahatan mati.

    Ketua PBB Christine Schraner Burgener telah menyatakan perang terhadap Myanmar atas permintaan Dr. Sasa.

    Dikatakan bahwa lebih dari 180 negara, termasuk AS, akan berperang.

    Juga terancam menduduki daratan China karena didukung" Thar Wa "[julukan Panglima Angkatan Darat Myanmar].

    Beberapa saksi mata mengatakan dua fregat meninggalkan Australia [menuju Burma] pada pukul 11:30 hari ini.

    Semoga Amaysu (Aung San Suu Kyi) sehat.

    Orang yang mencintai Amaysuu, teruslah berjuang."

    Hasil Cek Fakta

    Untuk membuktikan klaim tersebut, Cek Fakta Liputan6.com memasukan foto tentara AS yang berada di dalam pesawat ke pencarian gambar terbalik, Google Image.

    Hasil penelusuran mengarahkan ke situs angkatan udara AS, US Air Force’s. Foto itu, rupanya dibagikan di situs tersebut pada 5 April 2012. Namun, foto tersebut diambil pada 20 Maret 2012 ketika tentara AS transit di Kyrgyzstan.

    Foto itu memiliki caption sebagai berikut:

    "Prajurit Angkatan Darat AS dan kargo mereka diamankan di C-17 Globemaster III 20 Maret 2012, sebelum lepas landas dari Pusat Transit di Manas, Kyrgyzstan. C-17 Globemaster III dapat memuat hingga 158 penumpang dan lima palet bagasi. (Foto Angkatan Udara AS / Sersan Angela Ruiz)."

    Kemudian, Cek Fakta Liputan6.com juga menelusuri foto lainnya yang diunggah Angel Lay menggunakan Google Image. Foto itu menampilkan ekor pesawat AS dan sejumlah tentara AS.

    Hasil penelusuran juga mengarahkan ke situs US Air Force’s. Diketahui foto itu dibuat pada 13 April 2015, dengan caption sebagai berikut:

    "Parajumper Angkatan Darat AS dari Divisi Lintas Udara ke-82 dan parajumper Angkatan Darat Inggris dari Brigade Serangan Udara ke-16 masuk ke pesawat mobilitas selama Latihan Akses Operasi Gabungan 15-01 13 April 2015, di Pope Army Airfield, Fort Bragg, North Carolina. CJOAX berlangsung beberapa kali setiap tahun untuk mengesahkan kemampuan Angkatan Udara dan Angkatan Darat untuk mengerahkan pengangkutan udara strategis, pasukan kontingensi dan dukungan dalam formasi besar airdrop. (Foto Angkatan Udara AS oleh Penerbang Senior Peter Thompson / Released)"

    Cek Fakta Liputan6.com, dengan Google Search, tidak menemukan artikel dari media kredibel yang menyebut PBB mengutus tentara AS untuk melakukan serangan ke Myanmar.

    Kesimpulan

    Klaim PBB mengirim tentara AS untuk melakukan serangan ke Myanmar merupakan informasi hoaks. Tidak ditemukan bukti kuat yang membahas klaim tersebut.

    Foto yang dibagikan netizen juga sudah beredar di internet jauh sebelum adanya kudeta Myanmar, yang terjadi di awal tahun 2021.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “kejadiannya desa tungondeng kabupaten Bulukumba”

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 08/03/2021

    Berita

    “Ini kejadiannya desa tungondeng kabupaten Bulukumba, mungkin ada yg dekat dari daerah itu dan punya keluarga polisi atau TNI segera tangkap binatang yg satu ini…??”.

    Hasil Cek Fakta

    Salah satu video dengan isi yang sama sudah dibagikan sebelumnya oleh situs Hiru News pada 2 Maret lalu: “Video sensitif seorang ibu yang menyerang bayi perempuannya yang berusia sembilan bulan saat ini beredar di media sosial. Serangan itu dilakukan oleh seorang perempuan berusia 24 tahun di kawasan Navaladi di Ariyalai, Jaffna. Wanita yang terlibat dalam insiden itu ditangkap dan anak itu telah ditahan polisi. Terungkap bahwa wanita tersebut berasal dari Timur Tengah. Polisi Jaffna sedang melakukan penyelidikan terkait hal ini. Tonton videonya dari sini.”

    Artikel berita dari situs lain, Ada Derana: “Seorang wanita dari daerah Manithottam di Jaffna telah ditangkap karena memukuli bayinya yang berusia 8 bulan menggunakan tongkat.”

    Selain itu, hasil pemeriksaan oleh GALIGO.ID dengan cara mendengarkan bahasa yang digunakan di video, mengkonfirmasi ke salah satu tokoh pemuda Desa Tugondeng, dan konfirmasi ke Kapolres Bulukumba, klaim bahwa lokasi peristiwa terjadi di Bulukumba adalah SALAH

    Kesimpulan

    BUKAN peristiwa di Bulukumba. Peristiwa di Jaffna, Sri Lanka, yang berjarak sekitar 12.658 km melalui jalur darat dari Bulukumba. Artikel dengan video yang sama sudah muncul sebelumnya pada 2 Maret 2021, beberapa hari yang lalu.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini