[Fakta atau Hoaks] Benarkah Rockefeller Foundation Berada di Balik Kemunculan Virus Corona Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 30/07/2020
Berita
Grup Facebook Geografi Equidistant mengunggah klaim bahwa pendiri Rockefeller Foundation, David Rockefeller, adalah pencipta virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2. Rockefeller pun disebut memiliki mesin pencetak uang sehingga bisa mempengaruhi dunia farmasi dan medis serta media serta lembaga-lembaga dunia seperti Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Badan Kesehatan Dunia (WHO), dan Bank Dunia.
“Nih yang bikin Covid, si jagoan Wall Street (Rockefeller Foundation). Dia punya mesin cetak duit buat endorse RS, farmasi, medis & media. Cara kerja David adalah Infiltrasi kepada PBB, WHO & Bank Dunia," demikian klaim dalam unggahan grup Geografi Equidistant pada 18 Juli 2020.
Dalam unggahan itu, terdapat pula sejumlah tautan dokumen yang diklaim sebagai bukti atas klaim tersebut. Salah satunya adalah dokumen yang berjudul "Scenarios for the Future of Technology and International Development" yang diterbitkan Rockefeller Foundation pada 2010.
Gambar tangkapan layar unggahan grup Facebook Geografi Equidistant.
Artikel ini akan memeriksa sejumlah klaim dalam unggahan itu, yakni:
Hasil Cek Fakta
Klaim 1: Pendiri Rockefeller Foundation, David Rockefeller, adalah pencipta virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2
Klaim ini tidak memiliki basis bukti dan tidak sesuai fakta. Rockefeller telah meninggal pada 20 Maret 2017 pada usia 101 tahun. Sementara pandemi Covid-19 baru terjadi pada penghujung 2019 atau hampir tiga tahun setelah kematiannya. Rockefeller Foundation sendiri adalah yayasan keluarga Rockfeller yang dalam seabad ini, jauh sebelum pandemi Covid-19 terjadi, telah banyak berkontribusi di bidang kesehatan masyarakat dan mendukung pengembangan vaksin.
Rockfeller adalah cucu pendiri Standard Oil dan miliarder pertama Amerika, John Rockefeller. Ia pernah bertugas di Afrika Utara dan Prancis dalam intelijen militer selama Perang Dunia II. Ia kemudian menjalankan Chase National Bank selama bertahun-tahun. Rockfeller pun menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Ia banyak menyumbangkan kekayaannya pada kegiatan seni dan sosial, seperti menyumbangkan 150 juta dolar ke Museum Seni Modern New York yang didirikan oleh ibunya.
Adapun Rockefeller Foundation adalah organisasi nirlaba yang didirikan oleh John Rockefeller pada 14 Mei 1913. Organisasi ini mengabdikan diri sebagai lembaga pemberi bantuan kemanusiaan, seperti beasiswa, lembaga penelitian, dan program eradikasi penyakit menular. Rockefeller Foundation juga sejak lama mendukung pengembangan vaksin, seperti vaksin untuk demam kuning dan malaria. Yayasan ini pun telah memberikan lebih dari 17 miliar dolar untuk mendukung ribuan organisasi dan individu di seluruh dunia.
Saat pandemi Covid-19, Rockefeller Foundation ikut bergerak dengan membuka program “ Covid-19 Response ”. Program ini antara lain memberikan dukungan tes cepat dan penelusuran kontak serta mendukung sistem ketahanan pangan. Tidak hanya di Amerika Serikat, Rockefeller Foundation memberikan tiga hibah senilai 2 juta dolar dalam mendukung upaya peningkatan data dan tanggap Covid-19 di Afrika dan Asia.
Selain itu, berdasarkan arsip berita Tempo pada 30 Maret 2020, hasil studi yang dipimpin oleh Kristian Andersen, profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research Institute, California, AS, telah membantah rumor bahwa SARS-CoV-2 sengaja dibuat atau produk rekayasa laboratorium. Menurut studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine ini, SARS-CoV-2 adalah buah dari proses evolusi alami.
Andersen menjelaskan, sejak awal pandemi Covid-19, para peneliti telah menguliti asal-usul SARS-CoV-2 tersebut dengan menganalisis data urutan genomnya. "Dengan membandingkan data urutan genom jenis-jenis virus Corona yang sudah diketahui, kami dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami," ujarnya.
Klaim 2: Dokumen "Scenarios for the Future of Technology and International Development" berisi skenario pandemi Covid-19 pada 2020
Dokumen tersebut dikeluarkan oleh Rockfeller Foundation pada 2010 untuk membayangkan bagaimana dunia akan terkena dampak dalam empat skenario yang berbeda, salah satunya pandemi global. Skenario ini dibuat untuk merencanakan adaptasi internasional dan pembentukan kemampuan untuk mengantisipasinya melalui teknologi. Dalam dokumen itu, sama sekali tidak disebutkan SARS-CoV-2 atau pandemi Covid-19.
Skenario tentang pandemi global tersebut tercantum pada halaman 18 yang ditulis berdasarkan pengalaman saat wabah flu H1N1 pada 2009. Skenarionya, pandemi global akan menimpa pada 2012 dengan jenis virus yang sangat ganas dan mematikan. Bahkan, negara yang paling siap menghadapi pandemi dengan cepat kewalahan ketika virus melanda seluruh dunia, menginfeksi hampir 20 persen populasi global, dan membunuh 8 juta orang hanya dalam waktu tujuh bulan, di mana mayoritas dari mereka adalah orang dewasa muda yang sehat. Pandemi ini juga memiliki efek mematikan pada ekonomi: mobilitas internasional baik orang maupun barang menjerit, menghentikan industri yang melemahkan pariwisata dan menghancurkan rantai pasokan global.
Organisasi pemeriksa fakta AS, Snopes, pun telah menjelaskan bahwa dokumen tersebut memberikan pandangan hipotetis tentang peristiwa masa depan untuk membayangkan masalah yang mungkin timbul. Dokumen ini juga mengeksplorasi bagaimana populasi global dapat bereaksi selama pandemi, bukan rencana tentang operasi manual untuk membuat virus jenis baru.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Rockefeller Foundation berada di balik kemunculan virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, keliru. Dokumen yang diklaim sebagai bukti atas klaim tersebut, yakni dokumen "Scenarios for the Future of Technology and International Development", bukanlah dokumen operasi untuk merencanakan pandemi Covid-19 pada 2020. Dokumen tersebut berisi pandangan hipotetis tentang peristiwa masa depan untuk membayangkan masalah yang mungkin timbul, salah satunya pandemi global. Dokumen ini juga mengeksplorasi bagaimana populasi global dapat bereaksi selama pandemi. Rockefeller Foundation pun adalah yayasan yang dalam seabad ini telah banyak berkontribusi di bidang kesehatan masyarakat dan mendukung pengembangan vaksin untuk melindungi masyarakat dari berbagai penyakit menular.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/WUa5C
- https://www.forbes.com/profile/david-rockefeller-sr/#72a613596442
- https://www.rockefellerfoundation.org/about-us/our-history/
- https://www.rockefellerfoundation.org/covid-19-national-testing-solutions-group/
- https://philanthropynewsdigest.org/news/rockefeller-foundation-awards-2-million-for-covid-19-response-efforts
- https://www.academia.edu/42295029/Rockefeller_Vakf%C4%B1n%C4%B1n_May%C4%B1s_2010_Raporu_Scenarios_for_the_Future_of_Technology_and_International_Development_?show_app_store_popup=true
- https://www.snopes.com/fact-check/rockefeller-operation-lockstep/
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Vaksin Covid-19 Diuji Coba di Indonesia Karena Lab Cina Kekurangan Monyet?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 30/07/2020
Berita
Klaim bahwa laboratorium Cina kekurangan monyet untuk uji coba vaksin Covid-19 sehingga uji coba tersebut dilakukan di Indonesia beredar di media sosial. Di Facebook, klaim itu dibagikan salah satunya oleh akun Alexander Abu Taqi Mayestino, yakni pada 26 Juli 2020.
Berikut isi lengkap unggahan akun tersebut:
“HARGA MONYET CINA VERSUS HARGA MANUSIA INDONESIAPerbandingan:Di Indonesia negara ber-Pancasila yang berpenduduk sekitar 265 juta manusia, Jokowi dan timnya, menyatakan akan menguji coba vaksin ini ke sekitar 1.600 Manusia WNI.Di negara Neo Komunis Cina yang tidak ber-Pancasila dan berpenduduk sekitar 1,4 milyar manusia (hampir 7 kali lipat jumlah penduduk Indonesia), mereka kekurangan Monyet untuk uji coba ini.Di Cina:Harga Mahal, Lab China Kekurangan MonyetDi Indonesia:Jokowi: Uji Klinis Vaksin Covid-19 Libatkan 1.620 Relawan (Manusia)Bagaimana menurut anda?”
Unggahan itu disertai dengan gambar tangkapan layar dua berita dari Kompas.com. Kedua berita itu berjudul "Harga Mahal, Lab China Kekurangan Monyet untuk Uji Coba Vaksin Corona" dan "Kabar Baik: Vaksin Covid-19 dari China Segera Uji Klinis di Indonesia | Update 5 Vaksin Lainnya".
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Alexander Abu Taqi Mayestino.
Namun, apa benar vaksin Covid-19 diuji coba di Indonesia karena laboratorium Cina kekurangan monyet?
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, Kompas.com memang pernah memuat berita yang berjudul "Harga Mahal, Lab China Kekurangan Monyet untuk Uji Coba Vaksin Corona" dan "Kabar Baik: Vaksin Covid-19 dari China Segera Uji Klinis di Indonesia | Update 5 Vaksin Lainnya".
Berita pertama tentang laboratorium Cina kekurangan monyet dimuat pada 20 Juni 2020. Adapun berita kedua tentang vaksin Covid-19 dari Cina yang akan diuji klinis di Indonesia dimuat pada 20 Juli 2020. Menurut berita pertama, dalam upaya meracik vaksin Covid-19, Yisheng Biopharma, salah satu laboratorium di Cina yang memulai pengembangan vaksin Covid-19 pada Januari 2020, kekurangan monyet percobaan.
Yisheng lebih dikenal sebagai pembuat vaksin rabies, tapi telah mengubah satu dari sembilan laboratoriumnya untuk meracik vaksin Covid-19 dan akan merekrut hingga 50 pegawai tambahan. Perusahaan ini masih dalam tahap awal pengembangan vaksin, tapi dikabarkan akan mengambil risiko untuk memproduksi vaksinnya pada September 2020 sebelum uji klinis selesai.
Vaksin yang sedang diracik Yisheng kini berada dalam tahap pengujian ke hewan, yang mendahului uji klinis ke manusia. Pimpinan Yisheng, Zhang Yi, menuturkan uji coba pada tikus dan kelinci menunjukkan hasil yang bagus karena meningkatkan antibodi penetral. Yisheng berharap vaksin ini tidak hanya melindungi diri dari infeksi, tapi juga menyembuhkan pasien Covid-19.
Langkah selanjutnya yang harus ditempuh Yisheng adalah uji coba ke monyet. Namun, menurut CEO Yisheng, David Shao, uji coba ini membutuhkan biaya yang besar karena permintaan akan monyet sedang tinggi dari laboratorium-laboratorium lainnya sehingga harganya naik. Biasanya, Yisheng membeli seekor monyet dengan harga 10-20 ribu yuan (sekitar Rp 20-40 juta).
Saat ini, seekor monyet bernilai sekitar 100 ribu yuan (sekitar Rp 200 juta). Biasanya, laboratorium-laboratorium Cina menggunakan kera rhesus dan cynomolgus, yang dikembangbiakkan di provinsi-provinsi selatan. Cina adalah pemasok besar monyet percobaan. Tahun lalu, 20 ribu monyet diekspor dan 18 ribu monyet dipakai dalam penelitian lokal. "Konsumsi tahun ini cukup besar sehingga pasokannya tidak cukup," kata Liu Yunbo, Ketua Beijing HFK Bioscience, pemasok hewan percobaan.
Meskipun benar bahwa Yisheng kekurangan monyet percobaan, perusahaan dari Cina yang akan melakukan uji klinis vaksin Covid-19 di Indonesia adalah Sinovac Biotech, bukan Yisheng. Selain itu, Sinovac menguji coba vaksinnya ke Indonesia bukan karena kekurangan monyet percobaan. Uji coba yang dilakukan bersama PT Bio Farma tersebut merupakan fase ketiga dari pengembangan vaksin Covid-19.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat ( CDC ) menjelaskan ada enam tahap yang diperlukan dalam pengembangan vaksin, yakni eksplorasi, pra-klinis, pengembangan klinis, tinjauan peraturan dan persetujuan, produksi, dan kontrol kualitas. Pengembangan klinis meliputi tiga fase. Selama fase I, sejumlah orang menerima vaksin percobaan. Pada fase II, studi klinis diperluas dan vaksin diberikan kepada orang yang memiliki karakteristik (seperti usia dan kesehatan fisik) yang mirip dengan orang yang menjadi sasaran vaksin baru.
Pada fase III, vaksin diberikan kepada ribuan orang serta diuji efikasi dan keamanannya. Pelibatan warga Indonesia dalam uji coba vaksin Sinovac termasuk dalam fase III ini. Selain Indonesia, Brasil dan Bangladesh berpartisipasi dalam uji klinis fase III vaksin Sinovac. Vaksin Covid-19 lain pun diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS dan Inggris. Sama halnya dengan Sinovac, perusahaan-perusahaan itu menerapkan prosedur yang mengujicobakan vaksin buatannya kepada warga negara lain.
Sebelum diujicobakan ke luar Cina, vaksin Covid-19 Sinovac itu telah terlebih dahulu menjalani uji coba fase I dan fase II yang melibatkan sejumlah warga Cina. Sinovac memulai pengembangan kandidat vaksin dari virus yang tidak aktif pada 28 Januari. Pada 13 April, Administrasi Produk Medis Nasional Cina (NMPA) memberikan persetujuan untuk uji klinis fase I dan fase II yang dimulai pada 16 April di Provinsi Jiangsu. Uji klinis fase I dan fase II itu melibatkan orang dewasa sehat berusia 18-59 tahun. Mereka diberi vaksin selama 14 hari.
Berdasarkan arsip berita Tempo, Direktur Bio Farma Honesti Basyir mengungkapkan alasannya memilih Sinovac sebagai mitra untuk mengembangkan vaksin Covid-19. “Metode pembuatan vaksin yang digunakan Sinovac sama dengan kompetensi yang dimiliki Bio Farma,” kata Honesti dalam keterangan resminya pada 20 Juli 2020.
Honesti mengatakan Bio Farma sudah memiliki pengalaman dalam pembuatan vaksin dengan metode tersebut, misalnya vaksin Pertusis, sehingga tidak perlu mengubah atau menambah investasi dalam pembuatan vaksin Covid-19. Sebanyak 2.400 vaksin Sinovac sudah tiba di Bio Farma pada 19 Juli 2020. Menurut Honesti, uji klinis vaksin dijadwalkan berjalan selama enam bulan, yakni Agustus 2020-Januari 2021. “Apabila uji klinis tahap III lancar, Bio Farma akan memproduksinya pada kuartal I 2021,” ujarnya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Covid-19 diuji coba di Indonesia karena laboratorium Cina kekurangan monyet menyesatkan. Berita dari Kompas.com yang digunakan untuk mendukung klaim itu memang menyebut bahwa salah satu laboratorium di Cina yang mengembangkan vaksin Covid-19 kekurangan monyet percobaan. Namun, laboratorium yang dimaksud adalah laboratorium milik Yisheng Biopharma. Perusahaan ini berbeda dengan perusahaan yang menguji klinis vaksinnya di Indonesia, yakni Sinovac Biotech. Sinovac menguji coba vaksinnya ke Indonesia pun bukan karena kekurangan monyet percobaan, melainkan karena mesti menggelar uji klinis fase III vaksin Covid-19 ke manusia yang menjadi syarat dalam produksi vaksin.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/9KBLo
- https://bit.ly/3jWGW3N
- https://www.kompas.com/tren/read/2020/07/20/152835965/kabar-baik-vaksin-covid-19-dari-china-segera-uji-klinis-di-indonesia-update?page=all
- https://www.cdc.gov/vaccines/basics/test-approve.html
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/914/fakta-atau-hoaks-benarkah-indonesia-satu-satunya-negara-yang-jadi-kelinci-percobaan-vaksin-covid-19-dari-cina
- https://bit.ly/3jUrFAz
[SALAH] Video “Parade pasukan keamanan Arab Saudi untuk pengamanan Haji tahun ini”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 30/07/2020
Berita
Akun Facebook atas nama Zaydill membagikan video parade militer. Dalam narasi diklaim bahwa video tersebut merupakan video pasukan keamanan Arab Saudi untuk pengamanan haji tahun ini.
Berikut kutipan narasinya:
“Parade pasukan keamanan Arab Saudi untuk pengamanan Haji tahun ini”
Berikut kutipan narasinya:
“Parade pasukan keamanan Arab Saudi untuk pengamanan Haji tahun ini”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, dilansir dari liputan6.com, video tersebut bukan memperlihatkan parade militer pengamanan haji tahun ini. Mengacu pada laporan liputan6.com, video tersebut merupakan parade militer pengamanan haji tahun 2017.
Hal itu diketahui dari kanal Ruslan Trad di Youtube.com. Pada tanggal 10 September 2017, kanal tersebut mengunggah video yang sama dengan narasi berikut: “A military parade of security forces that will ensure safety during the hajj pilgrimage, is held in Mecca in the presence of the Saudi crown prince Mohammed bin Salman. (23.08.2017).”
Berdasarkan narasi tersebut, diketahui bahwa video itu merupakan parade militer Arab Saudi di Mekkah untuk pengamanan haji tanggal 23 Agustus 2017.
Hal itu diketahui dari kanal Ruslan Trad di Youtube.com. Pada tanggal 10 September 2017, kanal tersebut mengunggah video yang sama dengan narasi berikut: “A military parade of security forces that will ensure safety during the hajj pilgrimage, is held in Mecca in the presence of the Saudi crown prince Mohammed bin Salman. (23.08.2017).”
Berdasarkan narasi tersebut, diketahui bahwa video itu merupakan parade militer Arab Saudi di Mekkah untuk pengamanan haji tanggal 23 Agustus 2017.
Kesimpulan
Atas penjelasan tersebut, maka klaim pada postingan akun Zaydill tidak benar. Sebab, video itu merupakan video parade militer pengamanan ibadah haji tahun 2017, bukan tahun ini. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Connection atau Koneksi yang Salah.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1246621445670388/
- https://turnbackhoax.id/2020/07/30/salah-video-parade-pasukan-keamanan-arab-saudi-untuk-pengamanan-haji-tahun-ini/
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4318429/cek-fakta-tidak-benar-ini-video-parade-pengamanan-ibadah-haji-2020
- https://www.youtube.com/watch?v=7Mk1oCyYpDM
[SALAH] Kampus Pemujaan Setan di Bandung
Sumber: twitter.comTanggal publish: 30/07/2020
Berita
Ramai di media sosial Twitter terkait dengan beredarnya informasi sekte pemuja setan di salah satu kampus swasta di Bandung, Jawa Barat. Dari informasi yang dihimpun oleh sejumlah pengguna Twitter, kampus yang dijadikan sebagai tempat pemujaan setan merujuk ke Institus Teknologi Nasional atau Itenas.
Hasil Cek Fakta
Menanggapi adanya informasi yang dirasa tidak sesuai dengan fakta, pihak terkait pun akhirnya angkat bicara. Melansir dari media sosial Instagram @itenas.official, dinyatakan bahwa informasi yang beredar terkait sekte pemujaan setan adalah tidak benar. Itenas menjelaskan bahwa kegiatan pada foto atau video yang beredar merupakan kegiatan “Jumat Seram” atau “Jumat Senang Ramai-Ramai”.
Berikut adalah klarifikasi yang disampaikan oleh Instagram @itenas.official:
“Sehubungan dengan beredarnya berita/informasi/video/postingan di media sosial Instagram, Twitter dan Youtube “Kampus Pemujaan Setan di Bandung” dengan hastag # Bandung # PemujaanSetan # Kampus, kami menilai adanya penggiringan opini/persepsi bahwa kegiatan pemujaan setan yang dimaksud terjadi di kampus kami, Institut Teknologi Nasional Bandung. Hal ini terlihat dari pernyataan “di kampus It*n*s” yang terletak di Jl. PHH Mustapa Bandung.
—
Berantas hoax dengan bijak menggunakan bersosial media”
Penjelasan serupa juga dituturkan oleh Kepala Biro Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Pemasaran Itenas Yulianti Pratama. Dijelaskan bahwa informasi yang beredar dirasa dapat menggigir opini bahwa kegiatan tersebut terjadi di kampus Itenas. Berdasar pada hal tersebut, Yulianti menegaskan bahwa di kampus Itenas tidak ada sekte pemuja setan ataupun dengan ditualnya.
“Kami meminta agar pihak-pihak yang dengan sengaja menyebarkan berita/narasi/fotopostingan tersebut agar segera menghentikan dan menghapusnya. Atau pihak-pihak yang menerima berita/narasi/foto/postingan tersebut agar tidak menyebarluaskannya,” jelas Yulianti.
Berikut adalah klarifikasi yang disampaikan oleh Instagram @itenas.official:
“Sehubungan dengan beredarnya berita/informasi/video/postingan di media sosial Instagram, Twitter dan Youtube “Kampus Pemujaan Setan di Bandung” dengan hastag # Bandung # PemujaanSetan # Kampus, kami menilai adanya penggiringan opini/persepsi bahwa kegiatan pemujaan setan yang dimaksud terjadi di kampus kami, Institut Teknologi Nasional Bandung. Hal ini terlihat dari pernyataan “di kampus It*n*s” yang terletak di Jl. PHH Mustapa Bandung.
—
Berantas hoax dengan bijak menggunakan bersosial media”
Penjelasan serupa juga dituturkan oleh Kepala Biro Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Pemasaran Itenas Yulianti Pratama. Dijelaskan bahwa informasi yang beredar dirasa dapat menggigir opini bahwa kegiatan tersebut terjadi di kampus Itenas. Berdasar pada hal tersebut, Yulianti menegaskan bahwa di kampus Itenas tidak ada sekte pemuja setan ataupun dengan ditualnya.
“Kami meminta agar pihak-pihak yang dengan sengaja menyebarkan berita/narasi/fotopostingan tersebut agar segera menghentikan dan menghapusnya. Atau pihak-pihak yang menerima berita/narasi/foto/postingan tersebut agar tidak menyebarluaskannya,” jelas Yulianti.
Kesimpulan
Informasi tersebut salah. Bukan kegiatan pemujaan setan. Kegiatan tersebut adalah bagian dari kegiatan “Jumat Seram atau “Jumat Senang Ramai-Ramai” yang diadakan pada November 2019 lalu.
Rujukan
- https://www.itenas.ac.id/2020/07/24/klarifikasi-itenas-bandung-mengenai-berita-hoax-yang-beredar-di-masyarakat/
- https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5107388/soal-sekte-pemuja-setan-begini-penjelasan-lengkap-itenas-bandung?
- https://www.kompas.tv/article/96763/heboh-sekte-pemuja-setan-di-kampus-bandung-merujuk-itenas-mendadak-viral-begini-duduk-perkaranya?
- https://twitter.com/search?q=%40fizzlerock_&src=typed_query
Halaman: 7308/8524



