[Fakta atau Hoaks] Benarkah Bocah Ini Mengambil Batu untuk Balas Tentara India yang Tembak Kakeknya?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 06/07/2020
Berita
Empat foto yang diklaim sebagai foto-foto seorang bocah yang mengambil batu untuk membalas tentara India yang menembak kakeknya beredar di media sosial. Dalam sebuah foto, memang terlihat bocah tersebut mendekati seorang tentara yang membawa senjata api.
Dalam foto itu, terlihat pula seorang pria paruh baya yang tergeletak di tanah dengan baju putih bernoda merah. Ada pula foto saat bocah itu duduk di atas dada pria tersebut, foto saat bocah itu berada di dalam sebuah mobil, serta foto pria yang sama yang tergeletak di dekat tiga tentara.
Akun yang membagikan foto-foto dan klaim tersebut adalah akun Facebook Yed Felistinesia. Dalam unggahannya pada 1 Juli 2020 tersebut, akun itu menulis, "Tentara India membunuh kakeknya dan bocah laki-laki ini mengambil batu untuk membunuh pembunuh kakeknya. Sekarang tanyakan kepada dunia jika bocah ini mengambil senjata setelah dia besar untuk membunuh pembunuh kakeknya, akankah dunia memanggilnya teroris??? #Save_Kashmir R.Ul Islam."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yed Felistinesia.
Apa benar bocah dalam foto-foto itu mengambil batu untuk membalas tentara India yang menembak kakeknya?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto-foto di atas denganreverse image toolSource. Hasilnya, ditemukan bahwa peristiwa dalam foto-foto itu memang ramai diberitakan oleh media-media India baru-baru ini.
Situs News18.com misalnya, memuat foto-foto yang identik pada 1 Juli 2020 dalam artikelnya yang berjudul "Jammu dan Kashmir: Pasukan keamanan yang menyelamatkan seorang anak berusia 3 tahun masih terus menembak teroris". Artikel ini membahas tentang serangan gerilyawan pemberontak di Sopore, distrik Baramulla, negara bagian Jammu dan Kashmir, India, yang menewaskan seorang tentara dan seorang warga sipil.
Beberapa foto unggahan akun Yed Felistinesia juga pernah dimuat dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh situs Asianetnews.com pada 2 Juli 2020. Artikel ini juga menceritakan tentang serangan teroris di Sopore yang menewaskan seorang warga sipil yang sedang bepergian bersama cucu laki-lakinya.
Dilansir dari HW News, foto saat bocah itu duduk di atas dada kakeknya dan mendekati seorang tentara yang membawa senjata api merupakan foto momen-momen ketika bocah berusia 3 tahun tersebut diselamatkan oleh seorang polisi Jammu dan Kashmir dari lokasi baku tembak di Sopore.
Sebelumnya, Ayad diketahui menangis tersedu-sedu dan berusaha membangunkan kakeknya yang bersimbah darah. Seorang polisi pun mendekatinya, mengambil Ayad dari lokasi baku tembak itu, lalu menggendongnya untuk diantarkan kepada orang tuanya.
Dalam laporannya, HM News juga memuat foto ketika Ayad digendong oleh polisi yang menyelamatkannya. Foto tersebut berasal dari unggahan akun Twitter resmi Polisi Zona Kashmir, @KashmirPolice, yang diberi keterangan, "JKP (Jammu and Kashmir Police) menyelamatkan seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun dalam serangan teroris di Sopore."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @KashmirPolice.
Menurut laporan HM News, anak itu sedang bepergian bersama kakeknya dengan mobil dari Srinagar ke Handwara. Mereka terjebak dalam baku tembak ketika melintasi Sopore, kota yang berada di distrik Baramulla, sekitar 50 kilometer dari Srinagar.
Penjelasan yang sama juga dimuat oleh Outlook India, bahwa foto yang viral itu merupakan foto saat bocah laki-laki tersebut dijemput oleh anggota tentara dan polisi dari lokasi baku tembak di Sopore pada 1 Juli 2020 yang menewaskan kakek bocah itu.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa bocah dalam foto-foto di atas mengambil batu untuk membalas tentara India yang menembak kakeknya menyesatkan. Foto-foto tersebut memperlihatkan momen-momen saat bocah laki-laki berusia tiga tahun tersebut diselamatkan oleh polisi India dari lokasi baku tembak antara polisi India dengan gerilyawan Jammu dan Kashmir di Sopore. Dalam peristiwa itu, kakek bocah tersebut tewas tertembak.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ribuan Santri Tak Sadarkan Diri Usai Ikut Rapid Test Covid-19 dari RS Cina?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 06/07/2020
Berita
Sebuah gambar dengan logo CNN Indonesia yang berisi klaim bahwa ada ribuan santri di Kudus, Jawa Tengah, yang tak sadarkan diri usai ikut rapid test Covid-19 dari rumah sakit Cina beredar di media sosial. Gambar itu memuat sebuah tulisan pendek yang berjudul "Sehari Setelah Dilakukan Rapid Test Covid-19 Kepada Para Santri di Kudus, 1.000 Santri Tak Sadarkan Diri".
Gambar tersebut bertanggal 24 Juni 2020. Adapun tulisan pendek itu berbunyi: "Lebih dari 1.000 Para Santriawan & Santriawati di Kudus dalam keadaan lemah, sebagian tak sadarkan diri, setelah di lakukan Rapid Test Covid-19 oleh Tim Dokter gabungan dari Rs. Indonesia dan RS. Swasta dari China. Tim Dokter dari China di ketuai oleh Lie Kong Nyen, dan dari Indonesia oleh Ringgo Silalahi. Kini ke-2 Tim Dokter tersebut sedang di mintai keterangan oleh Menteri Kesehatan terkait kejadian tersebut."
Untuk mendukung narasi tersebut, dimuat juga empat foto dalam gambar itu. Dua di antaranya memperlihatkan sebuah prosedur rapid test. Sementara foto lainnya menampakkan tim medis yang sedang membawa pasien dan seorang polisi yang berada di antara sejumlah santri yang terlihat dalam kondisi lemah.
Di Facebook, gambar tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Nhickey Mhedhiola, yakni pada 3 Juli 2020. Akun itu pun menulis, "Rezim ini mau menghabisi Islam." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 100 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Nhickey Mhedhiola.
Artikel ini akan berisi pemeriksaan terhadap dua hal, yakni:
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi keempat foto di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digitalnya denganreverse image toolGoogle. Berikut ini hasilnya:
Fakta:
Foto ini tidak terkait dengan rapid test para santri di Kudus. Dalam artikelnya, kantor berita Antara menulis keterangan bahwa foto ini adalah foto saat tim medis Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Magetan menggelar rapid test Covid-19 untuk para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah di Desa Temboro, Kecamatan Karas, Magetan, pada 21 April 2020.
Sumber: Antara
Fakta:
Sama halnya dengan foto pertama, foto ini adalah foto saat Dinas Kesehatan Jawa Timur dan Magetan melakukan rapid test Covid-19 terhadap 305 santri Ponpes Al-Fatah Magetan pada 21 April 2020. Sebanyak 31 santri dinyatakan reaktif dari rapid test tersebut.
Sumber: Antara
Fakta:
Foto ini adalah foto kegiatan simulasi penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loekmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah, pada 1 Februari 2020. Dalam simulasi ini, tim medis mengevakuasi seorang pasien ke ruang isolasi khusus. Foto ini adalah foto jepretan forografer Antara, Yusuf Nugroho, yang dimuat di situs Suara.com.
Sumber: Suara.com
Fakta:
Foto ini bukan foto santri di Kudus yang tak sadarkan diri setelah rapid test, melainkan foto puluhan santri Ponpes Syafaatul Quran di Dukuh Rimbu Lor, Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Demak, yang mendadak mual dan pusing diduga akibat keracunan makanan pada 25 Januari 2018.
Sumber: Okezone.com
Terkait klaim ribuan santri Kudus tak sadarkan diri
Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo memasukkan kata kunci “rapid test santri Kudus” di kolom pencarian situs CNN Indonesia. Lewat cara ini, ditemukan bahwa CNN Indonesia tidak pernah menerbitkan berita dengan judul sebagaimana yang tercantum dalam gambar berlogo CNN Indonesia di atas. Demikian juga di media lain, tidak terdapat pemberitaan soal ribuan santri di Kudus yang tak sadarkan diri karena ikut rapid test Covid-19.
Pada Juni-Juli 2020, Pemerintah Kabupaten Kudus memang memfasilitasi rapid test Covid-19 bagi para santri yang akan kembali ke ponpesnya masing-masing. Hasil non-reaktif rapid test menjadi syarat bagi para santri untuk bisa kembali ke ponpes. Dikutip dari Radio Suara Kudus, hasil rapid test terhadap ratusan santri Kudus ini semuanya non-reaktif.
Bahkan, untuk tes kesehatan secara keseluruhan, kondisi para santri cukup bagus. Setelah menjalani rapid test, para santri itu pun difasilitasi untuk kembali ke ponpes. Pada gelombang pertama, sekitar 300 santri diberangkatkan ke Ponpes Tegalrejo Magelang. Kemudian, pada 4 Juli, diberangkatkan 100 santri ke ponpes di Kediri, Jatim.
Rapid test Covid-19 terhadap para santri Kudus tersebut tidak melibatkan rumah sakit dari Cina. Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama ( RMINU ) Kudus menjelaskan rapid test di Pendopo Kabupaten Kudus itu adalah hasil kerja sama himpunan alumni-alumni pesantren, RMINU, dan Pemkab Kudus untuk memastikan santri bisa kembali ke ponpes dalam kondisi baik.
Sejauh ini, tidak pernah ada laporan bahwa seseorang tak sadarkan diri karena rapid test Covid-19, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Rapid test bekerja dengan cara mengambil sampel darah dari ujung jari atau pembuluh darah vena. Kemudian, sampel darah diteteskan ke alat tes atau bisa juga ditetesi serum terlebih dulu. Setelah itu, antibodi akan mengeluarkan respons yang bisa memberikan informasi tentang kontaminasi virus Corona. Kendati demikian, hasil tes terbagi dalam tiga kategori.
Hasil tes masuk dalam kategori reaktif saat terdapat garis yang muncul pada alat tes, yakni pada kolom kontrol dan kolom antibodi. Bila terdapat garis pada dua kolom ini, pasien direkomendasikan untuk melakukan konsultasi untuk tes dengan metode lain, sepertipolymerase chain reaction(PCR). Tes ini dilakukan agar pasien mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Sementara hasil tes masuk dalam kategori non-reaktif bila hanya muncul garis pada kolom kontrol. Kondisi ini terjadi karena antibodi belum terbentuk kendati virus telah terdeteksi. Pada kondisi ini, pihak rumah sakit menyarankan agar pasien berkonsultasi dengan dokter dan melakukan isolasi mandiri selama sepekan hingga dua pekan. Terakhir, bila hasil tak menunjukkan apapun pada kolom kontrol dan antibodi, berarti tidak sahih.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa ada ribuan santri di Kudus yang tak sadarkan diri usai ikut rapid test Covid-19 dari rumah sakit Cina, sebagaimana yang tercantum dalam gambar berlogo CNN Indonesia di atas, keliru. Pertama, CNN Indonesia tidak pernah menayangkan berita itu. Kedua, empat foto yang ada dalam gambar di atas sama sekali tidak terkait dengan rapid test para santri Kudus. Ketiga, tidak terdapat seribu santri Kudus yang pingsan setelah menjalani rapid test. Rapid test yang diikuti oleh pada santri Kudus pun tidak berasal dari rumah sakit Cina.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://web.archive.org/save/
- https://www.facebook.com/photo.php?fbid=106133277832968&set=a.104117524701210&type=3&theater
- https://jateng.antaranews.com/nasional/berita/1435136/santri-ponpes-temboro-magetan-jatim-jalani-rapid-test-covid-19?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews
- https://www.antaranews.com/berita/1437476/31-santri-temboro-magetan-reaktif-sesuai-hasil-rapid-test
- https://www.suara.com/foto/2020/02/01/155128/simulasi-penanganan-pasien-virus-corona-di-kudus
- https://news.okezone.com/read/2018/01/26/512/1850891/puluhan-santri-pondok-pesantren-di-demak-keracunan-massal
- https://www.radiosuarakudus.com/setelah-dilakukan-cek-kesehatan-dan-rapid-test-100-santri-asal-kudus-kembali-di-ponpes-kediri/
- https://www.nu.or.id/post/read/121285/rminu-kudus--hoaks--berita-ribuan-santri-pingsan-usai-rapid-test
- https://gaya.tempo.co/read/1333062/memahami-cara-kerja-rapid-test-virus-corona/full&view=ok
[SALAH] Foto “pahlawan perang era 11, dengan teknik ngibul 1 negara musuh dengan janji manisnya”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 05/07/2020
Berita
Akun Bahar Lesmana mengunggah foto di Facebook dengan narasi foto tersebut merupakan potret pahlawan perang era 11 dengan teknik ngibul satu negara musuh menggunakan janji manisnya.
Berikut kutipan narasinya:
“Potret foto pahlawan perang era 11, dengan teknik ngibul 1 negara musuh dengan janji manisnya”
Berikut kutipan narasinya:
“Potret foto pahlawan perang era 11, dengan teknik ngibul 1 negara musuh dengan janji manisnya”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui foto tersebut merupakan hasil suntingan. Adapun, foto aslinya ialah foto Adolft Hitler saat Perang Dunia I. Diketahui bahwa foto tersebut diambil pada tahun 1919.
Selama menjadi tentara, Hitler diketahui mendapatkan sejumlah medali penghargaan. Medali-medali tersebut didapatkannya atas prestasinya.
Selama menjadi tentara, Hitler diketahui mendapatkan sejumlah medali penghargaan. Medali-medali tersebut didapatkannya atas prestasinya.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, foto pada sumber merupakan foto suntingan. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi.
Rujukan
- https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1225967327735800/
- https://turnbackhoax.id/2020/07/05/salah-foto-pahlawan-perang-era-11-dengan-teknik-ngibul-1-negara-musuh-dengan-janji-manisnya/
- https://www.hitler-archive.com/photo.php?p=OyQ0LUrR
- https://encyclopedia.ushmm.org/content/en/article/adolf-hitler-and-world-war-i-1913-1919
- https://id.wikipedia.org/wiki/Adolf_Hitler
[SALAH] “Koplak Kompas TV!! Demo tolak HIP ga disiarkan giliran demo PDIP mereka live”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 05/07/2020
Berita
“Koplak Kompas TV!! Demo tolak HIP ga disiarkan giliran demo PDIP mereka live”
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah unggahan melalui media sosial Facebook oleh akun @Ceullen, perihal klaim bahwa stasiun TV yakni Kompas TV tidak menyiarkan situasi demo penolakan RUU HIP di depan Gedung MPR/DRP Rabu, 24 Juni 2020 lalu. Hingga saat ini unggahan @Ceullen telah mendapat 12 komentar dan dibagikan oleh 22 pengguna Facebook lainnya.
Namun pasca dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa klaim @Ceullan tidak sesuai dengan fakta. Coba melakukan penelusuran pada kolom pencarian kompas.tv, ditemukan artikel berjudul “Update Terkini Demo Tolak RUU HIP di Depan Gedung MPR/DPR” yang terbit pada Rabu, 24 Juni 2020. Dalam artikelnya, kompas.tv turut menyisipkan tayangan siaran langsung yang memberitakan situasi terkini demo penolakan RUU HIP.
Jika melihat dari fakta yang ada, klaim akun @Ceullan bahwa Kompas TV tidak menyiarkan demo penolakan RUU HIP adalah tidak benar. Unggahan tersebut masuk ke dalam kategori misleading content. Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Namun pasca dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa klaim @Ceullan tidak sesuai dengan fakta. Coba melakukan penelusuran pada kolom pencarian kompas.tv, ditemukan artikel berjudul “Update Terkini Demo Tolak RUU HIP di Depan Gedung MPR/DPR” yang terbit pada Rabu, 24 Juni 2020. Dalam artikelnya, kompas.tv turut menyisipkan tayangan siaran langsung yang memberitakan situasi terkini demo penolakan RUU HIP.
Jika melihat dari fakta yang ada, klaim akun @Ceullan bahwa Kompas TV tidak menyiarkan demo penolakan RUU HIP adalah tidak benar. Unggahan tersebut masuk ke dalam kategori misleading content. Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Kesimpulan
Informasi tersebut tidak benar. Pada hari yang sama terjadinya demo penolakan RUU HIP Rabu (24/6), Kompas TV turut menayangan siaran langsung yang melaporkan “Update Terkini” di depan Gedung MPR/DRP.
Rujukan
Halaman: 7368/8519






