• [SALAH] Nanas Madu Dapat Merusak Ginjal

    Sumber: Whatsapp.com
    Tanggal publish: 16/07/2019

    Berita

    Ini biasa dipasar sebut nanas madu, perbiji 7ribu, mulai saat ini jgn mkn lg. Tolong jangan makan nanas mini Thailand. Taiwan sudah menolak setelah mereka mengirim ke laboratorium untuk memeriksa dan menemukan nanas ini bercampur dengan asam siklam yang dapat merusak ginjal kita. Harap teruskan ke keluarga dan teman Anda.

    Hasil Cek Fakta

    Beredar kabar di media sosial Whatsapp yang melarang makan nanas madu dan nanas mini Thailand. Alasannya Taiwan sendiri sudah menolak nanas tersebut, setelah diketahui mengandung asam siklam yang dapat merusak ginjal. Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo), Khafid Sirotudin menyatakan kabar tersebut adalah hoaks.

    “Bisa saya pastiin itu hoaks. Saya nggak pernah dengar (berita itu),” ujarnya, Kamis (27/6).

    “Indonesia itu eksportir nanas kaleng terbesar di dunia. Jadi, produksi nanas kita itu pun juga terbesar di dunia. Jadi kalau sekarang ada ini-ini (kabar hoaks) ya mana pernah Indonesia impor nanas, ya nggak pernah masa ada nanas Thailand. Kita nggak pernah impor dari sana,” katanya.

    Senada, Spesialis Gizi Klinis, DR.dr. Samuel Oetoro MS, SpGK, mengenai nanas madu merusak ginjal, menurutnya, ini adalah mitos. Samuel mengatakan, kerusakan ginjal penyebab utamanya adalah orang melakukan diet tinggi protein. “Jadi jangan pernah Anda makan protein berlebihan. Mereka yang ingin berotot biasanya makan banyak protein, tapi konsumsi protein ada batasnya. Jika kelebihan, dia harus dibuang, jadi kerja ginjal berat sehingga mudah rusak,” imbuhnya.

    Dilansir dari doktersehat.com, diketahui beberapa mitos nanas yang tidak benar adalah nanas bisa menyebabkan keguguran dan dapat membuat lidah terasa gatal.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [BERITA] Hoaks Catut Nama Merdeka.com Soal Tunggu Komando Habib Rizieq Bunuh Diri Massal

    Sumber:
    Tanggal publish: 16/07/2019

    Berita

    Situs berita merdeka.com kembali jadi korban penyebar berita bohong atau hoaks di jejaring dunia maya. Kali ini, beredar gambar tangkapan layar dari berita merdeka.com yang judulnya tidak sesuai dengan aslinya. Pemimpin Redaksi Ramadhian Fadillah mengatakan, gambar tangkapan layar yang beredar itu tidak sesuai berita aslinya.
    “Kami tidak pernah membuat judul seperti itu. Judul aslinya adalah ‘PA 212: Kami Sudah Tidak Bersama Prabowo, Tunggu Komando Habib Rizieq‘. Berita tersebut tayang 13 Juli 2019 pukul 18.12 WIB,” ujar Ramadhian.

    Hasil Cek Fakta

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [BERITA] Kerusuhan 22 Mei, Pimpinan Pesantren di Cianjur Ditangkap

    Sumber:
    Tanggal publish: 15/07/2019

    Berita

    Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiteror Markas Besar Kepolisian RI dikabarkan menangkap pemimpin Pondok Pesantren At-Taqwa Cikidang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Umar Burhanudin, Jumat 24 Mei 2019, di Ponpes At-Taqwa. Ia diduga terlibat dalam kerusuhan 22 Mei 2019 di Bawaslu, Jakarta. Kepala Polres Cianjur Ajun Komisaris Besar Soliyah membenarkan adanya penangkapan tersebut. Namun, Soliyah memastikan dugaan yang disangkakan terhadap Ustaz Umar dalam kasus tersebut berada di kewenangan tim Densus.
    "Ya (benar ada penangkapan). Semua penyidikan dan penyelidikan mutlak dari Densus," ujar Soliyah di Cianjur, Senin 27 Mei 2019.
    Penangkapan Ustadz Umar berdasarkan pengembangan dari penangkapan dua santri At-Taqwa saat kerusuhan 22 Mei di Jakarta. Sekretaris Pondok Pesantren At-Taqwa, Sobihin, memastikan bahwa Ustadz Umar tidak mungkin terlibat aksi kerusuhan 22 Mei, apalagi memgerahkan massa.
    "Itu dua santri juga terlibat untuk bantuan kemanusiaan, makanya ikut mobil ambulans," tuturnya.

    Hasil Cek Fakta

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Truk TNI Angkut Warga China Ke Bandung

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 14/07/2019

    Berita

    Beredar video yang menyebutkan bahwa rombongan truk TNI mengangkut warga China. Dalam video itu disebutkan pula rombongan truk TNI tersebut menuju Bandung.

    Hasil Cek Fakta

    Atas beredarnya video itu, pihak Pusat Penerangan (Kapuspen) Tentara Nasional Indonesia (TNI) membanta informasi itu. Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi menegaskan, mobil TNI tidak memiliki ciri-ciri seperti dalam video. “Truk tersebut bukan kendaraan operasional TNI baik dari satuan Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU), maupun Angkatan Laut (AL),” kata Sisriadi.

    Sisriadi juga menegaskan, kendaraan milik TNI tidak memiliki velg merah. Bahkan, setiap kendaraan TNI diwajibkan memiliki pelat dan terdapat tulisan "satuan" di badan mobil. “Mobil angkutan TNI harus dilengkapi identitas satuan,” ujar Sisriadi.

    Bantahan dari TNI tersebut juga dipublikasikan di kanal media sosial milik Puspen TNI di Facebook, Twitter, dan Instagram. Dalam informasi bantahan itu, tertulis tertulis empat poin bantahan. Berikut kutipan bantahan dari akun media sosial Puspen TNI:

    […] KLARIFIKASI TNI TERHADAP BEREDARNYA VIDEO YANG DIBUAT ORANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB “KONVOI TRUK TNI TANPA NOPOL”

    1. Truk tersebut bukan kendaraan operasional TNI baik AD/AL/AU karena yang ada di video tersebut, jenis Mitsubishi Colt thn pembuatan 1995-1998, sedangkan di TNI sudah tidak dipakai dan sudah dihapus dari daftar inventaris di jajaran TNI AD/AL/AU.

    2. Mobil jenis Angkutan di TNI baik AD/AL/AU sesuai dinas tidak ada Velg di roda kendaraan diberi warna Merah

    3. Setiap Kendaraan TNI bila keluar dari satuan wajib melengkapi semua (termasuk Plat No/SIM/STNK) sesuai aturan yang berlaku.

    4. Mobil Jenis Angkutan di TNI baik AD/AL/AU sesuai aturan dinas harus dilengkapi dengan Identitas satuan.

    “Orang yg mengambil dan menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya (HOAX) dapat dihukum sesuai dengan Pasal 27 ayat 3 UU ITE” […]

    Kesimpulan

    Berdasarkan klarifikasi dari pihak Puspen TNI tersebut, maka klaim dalam video bahwa truk TNI mengangkut warga China ke Bandung tidak benar. Dengan demikian, video itu masuk kategori false context.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini