“KLW SOAL POLITIK UANG JKW AHLINYA..
Jangan Pilih Pemimpin Karena Suap Rp 100 Ribu
(Ustadz Abdul Somad di Sipare Pare Kab. Batubara)
#2019PRABOWOSANDI”
[DISINFORMASI] “Jangan Pilih Pemimpin Karena Suap Rp 100 Ribu”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/12/2018
Berita
Hasil Cek Fakta
Cuitan sumber membagikan video berita tahun 2015, diedarkan untuk membangun premis bahwa yang sedang dilakukan adalah kegiatan politik uang. Selengkapnya di bagian REFERENSI.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/807373462928524/
- https://www.liputan6.com/video/read/2187267/presiden-jokowi-bagi-bagi-amplop-di-ngawi
- https://www.liputan6.com/news/read/2187272/kunjungi-ngawi-presiden-jokowi-bagi-bagi-amplop
- http://www.tribunnews.com/regional/2015/03/08/presiden-jokowi-bagi-bagi-uang-rp-100-ribu-di-ngawi-picu-kehebohan
Benarkah 500 Ribu Tentara China akan Menghanguskan Indonesia?
Sumber:Tanggal publish: 28/12/2018
Berita
Beredar informasi bahwa sebanyak 500 ribu tentara asal China sudah ada di Indonesia. Mereka siap menghanguskan seluruh Indonesia.
Hasil Cek Fakta
Informasi itu diunggah di Facebook pada 19 Desember 2018 dan telah dibagikan 804 kali hingga 25 Desember 2018 oleh akun Anisa Banjary. Ia menyertakan sebuah tangkapan layar berisi foto Presiden China, Xi Jinping dan selembar surat. dengan judul berita: “Surat Tertulis Xi Jinping: Jika Kedubes China Diusir dari Indonesia, Maka Ch…..”. Di bawah foto itu tertulis sumbernya berasal dari k0mpasinf0.blogspot.com.
Faktanya, blog tersebut tidak bisa diakses dengan memuat keterangan bahwa blog telah dihapus. Nama blog itu juga memakai nama Kompas yang diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara. Surat kabar yang terbit pertama kali pada 28 Juni 1965 tersebut, saat ini memiliki edisi online di kompas.id. Kemudian, Grup Kompas membuat unit bisnis, PT Kompas Cyber Media, untuk menerbitkan media online kompas.com. Jadi, Kompas tidak menerbitkan edisi onlinenya di blogspot.
Selain itu, foto Presiden China Xi Jinping yang berjajar dengan selembar surat pernah diterbitkan kompas.com pada 22 Juli 2016. Foto itu diunggah dalam berita berjudul Presiden Xi Desak Muslim China Lawan Ïnfiltrasi. kompas.com memuat keterangan pada foto itu: “Sepucuk surat seorang bocah SD yang meminta Presiden Xi Jingpin (kanan) menurunkan berat badan telah disensor pemerintah China.” Foto itu sendiri bersumber dari Sky News.
Faktanya, blog tersebut tidak bisa diakses dengan memuat keterangan bahwa blog telah dihapus. Nama blog itu juga memakai nama Kompas yang diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara. Surat kabar yang terbit pertama kali pada 28 Juni 1965 tersebut, saat ini memiliki edisi online di kompas.id. Kemudian, Grup Kompas membuat unit bisnis, PT Kompas Cyber Media, untuk menerbitkan media online kompas.com. Jadi, Kompas tidak menerbitkan edisi onlinenya di blogspot.
Selain itu, foto Presiden China Xi Jinping yang berjajar dengan selembar surat pernah diterbitkan kompas.com pada 22 Juli 2016. Foto itu diunggah dalam berita berjudul Presiden Xi Desak Muslim China Lawan Ïnfiltrasi. kompas.com memuat keterangan pada foto itu: “Sepucuk surat seorang bocah SD yang meminta Presiden Xi Jingpin (kanan) menurunkan berat badan telah disensor pemerintah China.” Foto itu sendiri bersumber dari Sky News.
Rujukan
[DISINFORMASI] Kinerja Jokowi Bikin UAS Jatuhkan Pilihannya
Sumber: Portal DaringTanggal publish: 27/12/2018
Berita
Jakarta – Sikap Ustad Abdul Somad (UAS) menyusul Tuan Guru Bajang(TGB) untuk mendukung Jokowi melanjutkan jabatan sebagai presiden RI karena kinerjanya yang sangat baik.
Kinerja dan teladan serta bisa menjadi imam Sholat merupakan ukuran pemimpin yang didambakan UAS, hal itu membuat ustad asal Riau ini sependapat dengan TGB ikut dukung Jokowi 2 periode.
UAS memberikan pernyataan mengejutkan ketika bertemu Gubernur Nusa Tengara Barat, TGB, dia mengumumkan bahwa dirinya memberikan dukungan kepada Jokowi untuk menjadi Presiden dua periode.
“Hari ini saya sampaikan kepada masyarakat Indonesia, saya beralih dan mendukung bapak Joko Widodo menjadi Presiden 2 periode.
Dukungan saya ini bersifat personal, saya mendukung karena saya melihat kinerja bapak Jokowi selama ini menjabat Presiden itu sangat baik,”ucap UAS.
Sikap UAS ini tentu menjadi preseden baik bagi umat, dan melihat kebenaran dalam pemilihan Presiden bahwa yang telah bekerja untuk Indonesia telah membuktikan bukan Capres yang belum pernah memimpin namun hanya wacana.
Kinerja dan teladan serta bisa menjadi imam Sholat merupakan ukuran pemimpin yang didambakan UAS, hal itu membuat ustad asal Riau ini sependapat dengan TGB ikut dukung Jokowi 2 periode.
UAS memberikan pernyataan mengejutkan ketika bertemu Gubernur Nusa Tengara Barat, TGB, dia mengumumkan bahwa dirinya memberikan dukungan kepada Jokowi untuk menjadi Presiden dua periode.
“Hari ini saya sampaikan kepada masyarakat Indonesia, saya beralih dan mendukung bapak Joko Widodo menjadi Presiden 2 periode.
Dukungan saya ini bersifat personal, saya mendukung karena saya melihat kinerja bapak Jokowi selama ini menjabat Presiden itu sangat baik,”ucap UAS.
Sikap UAS ini tentu menjadi preseden baik bagi umat, dan melihat kebenaran dalam pemilihan Presiden bahwa yang telah bekerja untuk Indonesia telah membuktikan bukan Capres yang belum pernah memimpin namun hanya wacana.
Hasil Cek Fakta
Isu Ustaz Abdul Somad mendukung Calon Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo, merupakan hoaks lama bersemi kembali. Isu itu sempat muncul di bulan Juli 2018, selepas Ustaz Abdul Somad bertemu dengan TGH Zainul Majdi atau karib disapa Tuan Guru Bajang (TGB). Isu itu juga sudah pernah dibantah oleh Ustaz Abdul Somad dalam akun Instagram miliknya yang telah terverifikasi. Selain itu, wartakota.co bukanlah situs resmi milik media Wartakota sebab situs resminya beralamatkan http://wartakota.tribunnews.com/.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/806447623021108/
- https://turnbackhoax.id/2018/12/27/salah-kinerja-jokowi-bikin-uas-jatuhkan-pilihannya/
- https://www.instagram.com/p/BlcXbj3DR4C/
- https://news.detik.com/berita/4110105/usai-said-aqil-tgb-temui-ustaz-somad
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/695270750805463/
Benarkah Gempa dan Tsunami Besar Akan Melanda Indonesia pada 31 Desember 2018?
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/12/2018
Berita
Menjelang pergantian tahun, beredar kabar di media sosial bahwa gempa dan tsunami besar akan terjadi di Indonesia dan dunia. Bencana itu dianggap sebagai pertanda kehidupan akan kiamat.
Kabar itu dibagikan oleh akun Rudy Beckham AL Batawi di Facebook pada 23 Desember 2018. Selengkapnya ia menulis:
Waspada KIAMAT SUDAH DEKAT...
Malam Tahun Baru 31 Desember 2018 Pukul 24.00 WIB ( 00.00 WIB ) akan terjadi GEMPA dan TSUNAMI BESAR di Seluruh Indonesia dan Dunia untuk itu dihimbau kepada semua Masyarakat Dunia agar BERTAUBAT dan MEMAKMURKAN MASJID menjalankan SHOLAT 5 WAKTU agar kita semua MATI dalam keadaan IMAN dan TAQWA kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya.
" Ya Alloh Ya Tuhanku...Bukan kematian yang kami takuti, akan tetapi apakah kami mati dalam keadaan ISLAM dan IMAN atau TIDAK "
" Ya Alloh Ya Tuhanku... Matikan kami dalam memperjuangkan Agama Islam dan Mati Syahid kumpul bersama Para Nabi dan Rosul Mu di dalam Surga Firdaus "
Amin
Dia menyertakan video berita iNews berjudul “Gempa Megatrust Ancam Ibukota”. Berita berdurasi 1 menit 52 detik itu terkait pernyataan BMKG yang meminta masyarakat Jakarta menyiapkan mitigasi bencana untuk menghadapi gempa besar (megatrust) hingga 8,7 skala ritcher.
Postingan tersebut rupanya memantik banyak respon. Hingga 26 Desember 2018, unggahan di FB itu telah dibagikan 144,9 ribu kali dan mendapatkan 6,9 ribu komentar. Videonya sendiri telah ditonton lebih dari 2,5 juta tayangan.
Benarkah gempa dan tsunami besar akan melanda Indonesia dan dunia?
Kabar itu dibagikan oleh akun Rudy Beckham AL Batawi di Facebook pada 23 Desember 2018. Selengkapnya ia menulis:
Waspada KIAMAT SUDAH DEKAT...
Malam Tahun Baru 31 Desember 2018 Pukul 24.00 WIB ( 00.00 WIB ) akan terjadi GEMPA dan TSUNAMI BESAR di Seluruh Indonesia dan Dunia untuk itu dihimbau kepada semua Masyarakat Dunia agar BERTAUBAT dan MEMAKMURKAN MASJID menjalankan SHOLAT 5 WAKTU agar kita semua MATI dalam keadaan IMAN dan TAQWA kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya.
" Ya Alloh Ya Tuhanku...Bukan kematian yang kami takuti, akan tetapi apakah kami mati dalam keadaan ISLAM dan IMAN atau TIDAK "
" Ya Alloh Ya Tuhanku... Matikan kami dalam memperjuangkan Agama Islam dan Mati Syahid kumpul bersama Para Nabi dan Rosul Mu di dalam Surga Firdaus "
Amin
Dia menyertakan video berita iNews berjudul “Gempa Megatrust Ancam Ibukota”. Berita berdurasi 1 menit 52 detik itu terkait pernyataan BMKG yang meminta masyarakat Jakarta menyiapkan mitigasi bencana untuk menghadapi gempa besar (megatrust) hingga 8,7 skala ritcher.
Postingan tersebut rupanya memantik banyak respon. Hingga 26 Desember 2018, unggahan di FB itu telah dibagikan 144,9 ribu kali dan mendapatkan 6,9 ribu komentar. Videonya sendiri telah ditonton lebih dari 2,5 juta tayangan.
Benarkah gempa dan tsunami besar akan melanda Indonesia dan dunia?
Hasil Cek Fakta
Video lama
Tempo melakukan pencarian video berita itu di kanal official iNews di Youtube. Hasilnya, video tersebut sebenarnya adalah berita yang telah dipublikasikan di program iNews siang pada 6 Maret 2018. Tidak ada keterangan bahwa ancaman gempa akan datang pada malam tahun baru 31 Desember 2018. Video berita dari iNews itu bisa ditonton di sini
2. Gempa tidak dapat diprediksi
Kabar mengenai ancaman gempa megatrust itu pernah menghebohkan publik pada Maret 2018. Tempo pun pernah menurunkan sejumlah laporan untuk memperjelas kesimpangsiuran mengenai gempa megatrust yang dikabarkan akan melanda Jakarta maupun pesisir selatan Jawa.
Potensi gempa megathrust selatan Jawa memang ada. Namun menurut Nugroho Dwi Hananto, peneliti gempa dan kelautan dari Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tidak ada yang bisa memprediksi kapan persisnya gempa besar akan mengguncang wilayah di sekitarnya, termasuk Jakarta.
"Hingga saat ini belum ada metode untuk memprediksi gempa secara pasti," kata pria yang juga menjabat Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian Puslit Oseanografi tersebut kepada Tempo, Senin, 5 Maret 2018.
Nugroho menjelaskan, megathrust ialah sesar (patahan) yang naik dan terbentuk karena adanya zona tumbukan (subduksi) antara kerak samudra dan kerak benua. Zona megathrust di Indonesia, kata dia, memanjang dari utara di Andaman, barat Sumatera, selatan Jawa, utara Papua, dan utara Sulawesi.
"Secara statistik, 85 persen gempa bumi dihasilkan zona megathrust," ujar Nugroho. "Baik gempa besar maupun kecil.”
Gempa-gempa masa lalu yang tercatat, Nugroho menjelaskan, biasanya dijadikan acuan untuk menghitung periode dan prediksi gempa masa depan. Perhitungan perkiraan gempa juga dilakukan dari rekaman data karang dan endapan sedimen.
"Tapi perhitungan itu hanya menjadi acuan di mana gempa selanjutnya akan terjadi, di mana ada sesar aktif, termasuk zona megathrust. Bukan untuk menghitung waktu, tanggal, bulan, dan jam berapa gempa akan terjadi," kata Nugroho.
Menurut Nugroho, prediksi gempa yang pasti tidak mungkin dilakukan dengan teknologi yang ada sekarang ini. Sebab, struktur penyebab gempa melibatkan faktor alamiah yang kompleks. Karena itu, Nugroho kembali menekankan, "Tidak ada manusia yang tahu pasti kapan gempa akan terjadi selanjutnya."
3. Menghadapi gempa
Sementara itu Untuk meningkatkan kewaspadaan, BMKG mengimbau masyarakat Indonesia agar meniru cara warga Kobe, Jepang, bersiap menghadapi gempa. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan kesiapan warga Kobe telah menyelamatkan banyak nyawa saat gempa melanda wilayah Jepang pada 1995.
Gempa Kobe merupakan gempa bumi yang melanda kawasan Jepang pada 17 Januari 1995. Episentrum gempa itu berada di sebelah Utara Pulau Awaji, sebelah selatan Prefektur Hyogo berkekuatan magnitudo 7,2.
Gempa bumi itu terjadi akibat tubrukan tiga lempeng, yaitu lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Gempa itu berlangsung selama 20 detik dan mengakibatkan kerusakan besar di kota Kobe yang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat gempa. Gempa Bumi memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe.
Dari bencana itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebagian besar korban yang selamat itu karena pertolongan diri sendiri, yakni mencapai 34,9 persen. Sementara mereka yang selamat karena pertolongan keluarga sebanyak 31,9 persen, pertolongan teman atau tetangga 28 persen, pertolongan pejalan kaki 2,6 persen, pertolongan oleh tim penyelamat 1,7 persen, dan pertolongan lainnya hanya 0,9 persen.
Karena itu, Dwi mengatakan kesiapan menghadapi bencana telah terbukti dapat memperkecil risiko jumlah korban dan kerugian. Upaya mitigasi gempa, kata dia, harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan komprehensif dengan melibatkan kerja sama semua pihak, baik saat terjadi bencana, dan pascabencana.
Untuk menyadarkan masyarakat Indonesia akan mitigasi gempa, Dwikorita meminta semua pihak terus melakukan sosialisasi dan geladi evakuasi soal gempa bumi. Geladi itu, kata dia, harus terus dilakukan secara rutin, baik di sekolah, hotel, dan gedung-gedung publik.
"Latihan itu dapat menjadikan masyarakat lebih paham dan siap dalam menghadapi bencana, serta lebih terampil dan cekatan dala menyelamatkan diri sendiri," kata dia kepada Tempo, 4 Maret 2018.
Tempo melakukan pencarian video berita itu di kanal official iNews di Youtube. Hasilnya, video tersebut sebenarnya adalah berita yang telah dipublikasikan di program iNews siang pada 6 Maret 2018. Tidak ada keterangan bahwa ancaman gempa akan datang pada malam tahun baru 31 Desember 2018. Video berita dari iNews itu bisa ditonton di sini
2. Gempa tidak dapat diprediksi
Kabar mengenai ancaman gempa megatrust itu pernah menghebohkan publik pada Maret 2018. Tempo pun pernah menurunkan sejumlah laporan untuk memperjelas kesimpangsiuran mengenai gempa megatrust yang dikabarkan akan melanda Jakarta maupun pesisir selatan Jawa.
Potensi gempa megathrust selatan Jawa memang ada. Namun menurut Nugroho Dwi Hananto, peneliti gempa dan kelautan dari Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tidak ada yang bisa memprediksi kapan persisnya gempa besar akan mengguncang wilayah di sekitarnya, termasuk Jakarta.
"Hingga saat ini belum ada metode untuk memprediksi gempa secara pasti," kata pria yang juga menjabat Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian Puslit Oseanografi tersebut kepada Tempo, Senin, 5 Maret 2018.
Nugroho menjelaskan, megathrust ialah sesar (patahan) yang naik dan terbentuk karena adanya zona tumbukan (subduksi) antara kerak samudra dan kerak benua. Zona megathrust di Indonesia, kata dia, memanjang dari utara di Andaman, barat Sumatera, selatan Jawa, utara Papua, dan utara Sulawesi.
"Secara statistik, 85 persen gempa bumi dihasilkan zona megathrust," ujar Nugroho. "Baik gempa besar maupun kecil.”
Gempa-gempa masa lalu yang tercatat, Nugroho menjelaskan, biasanya dijadikan acuan untuk menghitung periode dan prediksi gempa masa depan. Perhitungan perkiraan gempa juga dilakukan dari rekaman data karang dan endapan sedimen.
"Tapi perhitungan itu hanya menjadi acuan di mana gempa selanjutnya akan terjadi, di mana ada sesar aktif, termasuk zona megathrust. Bukan untuk menghitung waktu, tanggal, bulan, dan jam berapa gempa akan terjadi," kata Nugroho.
Menurut Nugroho, prediksi gempa yang pasti tidak mungkin dilakukan dengan teknologi yang ada sekarang ini. Sebab, struktur penyebab gempa melibatkan faktor alamiah yang kompleks. Karena itu, Nugroho kembali menekankan, "Tidak ada manusia yang tahu pasti kapan gempa akan terjadi selanjutnya."
3. Menghadapi gempa
Sementara itu Untuk meningkatkan kewaspadaan, BMKG mengimbau masyarakat Indonesia agar meniru cara warga Kobe, Jepang, bersiap menghadapi gempa. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan kesiapan warga Kobe telah menyelamatkan banyak nyawa saat gempa melanda wilayah Jepang pada 1995.
Gempa Kobe merupakan gempa bumi yang melanda kawasan Jepang pada 17 Januari 1995. Episentrum gempa itu berada di sebelah Utara Pulau Awaji, sebelah selatan Prefektur Hyogo berkekuatan magnitudo 7,2.
Gempa bumi itu terjadi akibat tubrukan tiga lempeng, yaitu lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Gempa itu berlangsung selama 20 detik dan mengakibatkan kerusakan besar di kota Kobe yang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat gempa. Gempa Bumi memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe.
Dari bencana itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebagian besar korban yang selamat itu karena pertolongan diri sendiri, yakni mencapai 34,9 persen. Sementara mereka yang selamat karena pertolongan keluarga sebanyak 31,9 persen, pertolongan teman atau tetangga 28 persen, pertolongan pejalan kaki 2,6 persen, pertolongan oleh tim penyelamat 1,7 persen, dan pertolongan lainnya hanya 0,9 persen.
Karena itu, Dwi mengatakan kesiapan menghadapi bencana telah terbukti dapat memperkecil risiko jumlah korban dan kerugian. Upaya mitigasi gempa, kata dia, harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan komprehensif dengan melibatkan kerja sama semua pihak, baik saat terjadi bencana, dan pascabencana.
Untuk menyadarkan masyarakat Indonesia akan mitigasi gempa, Dwikorita meminta semua pihak terus melakukan sosialisasi dan geladi evakuasi soal gempa bumi. Geladi itu, kata dia, harus terus dilakukan secara rutin, baik di sekolah, hotel, dan gedung-gedung publik.
"Latihan itu dapat menjadikan masyarakat lebih paham dan siap dalam menghadapi bencana, serta lebih terampil dan cekatan dala menyelamatkan diri sendiri," kata dia kepada Tempo, 4 Maret 2018.
Kesimpulan
Dari fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa kabar yang disebarkan oleh Rudy Beckham AL Batawi di Facebook adalah keliru. Indonesia memang punya potensi gempa dan tsunami, namun datangnya bencana tersebut tidak bisa diprediksi.
Rujukan
Halaman: 7845/8401




