• Data di Mabes TNI berdasarkan Formulir C1

    Sumber:
    Tanggal publish: 18/04/2019

    Berita

    BREAKING NEWS
    ------
    Data di Mabes TNI berdasarkan formulir C1 yang dicapture dan dikirim ke pusat Data Mabes TNI oleh Babinsa - Koramil Pasangan 02 memperoleh suara hingga 60%
    ------
    (Sumber A1)

    Hasil Cek Fakta

    Pesan SUMBER mencatut TNI untuk membangun premis yang salah agar pesan terlihat berasal dari sumber terpercaya.
    Klaim “Mabes TNI”, “Babinsa – Koramil” dan “sumber A1” tidak valid karena tidak menyertakan informasi ke sumber referensi yang jelas (misalnya: tautan), ciri khas dari teknik “Appeal to Authority”. Selengkapnya di bagian REFERENSI.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Ketua PA 212 Slamet Maarif mengajak para pendukung Prabowo-Sandi untuk hadir pada acara sujud syukur kemenangan di Monas.

    Sumber:
    Tanggal publish: 18/04/2019

    Berita

    Beredar flyer yang berisi sebuah ajakan kepada pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk sujud syukur bersama di Monumen Nasional (Monas) pada Jumat (19/4/2019).

    Hasil Cek Fakta

    Persaudaraan Alumni (PA) 212 yakin Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menang dalam Pilpres 2019. Mereka bahkan sudah menyiapkan doa bersama menyambut kemenangan tersebut yang akan digelar di Monumen Nasional, Jumat (19/4).

    “Kami mengundang antum, mujahid seluruhnya, anak bangsa untuk bersyukur, sujud syukur kemenangan pada hari Jumat besok mulai salat jamaah Isya di Istiqlal lalu ke Monas zikir, doa, sujud kemenangan. Siap hadiri sujud syukur kemenangan?” tanya Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif yang dijawab ‘siap’ oleh pendukung Prabowo-Sandi di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (17/4).

    Untuk itu, Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif meminta pendukung Prabowo-Sandi tidak mempercayai survei yang memenangkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Sebab, kata Slamet, pihaknya sudah tidak begitu mempercayai survei khususnya sejak Pilkada DKI 2017 yang memenangkan Ahok-Djarot. Padahal, hasil sesungguhnya pasangan Anies-Sandi yang keluar sebagai pemenang.

    Lebih lanjut, Slamet menegaskan Prabowo-Sandi berdasarkan laporan yang diterimanya memenangkan pilpres lebih dari 50 persen. Sehingga ia meminta para pendukungnya mengawal kemenangan tersebut.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Pejabat dan Caleg Terjerat OTT Politik Uang

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 17/04/2019

    Berita

    Sejumlah kabar mengenai operasi tangkap tangan terhadap praktik politik uang beredar di media sosial menjelang Pemilu 2019. Pada hari ini misalnya, Selasa (16/4/2019), setidaknya ada dua tangkapan layar menginformasikan OTT politik uang.

    Foto artikel pertama berasal dari laman Tribun Medan. Artikel itu mengenai wakil bupati terkena OTT politik uang. Foto artikel kedua berasal dari laman berita Viva.co.id, tentang caleg PKS di Lombok Timur yang juga terkait politik Uang.

    Tangkapan layar dari kedua artikel itu diunggah dengan disertai narasi bahwa politik uang dilakukan untuk memenangkan salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

    Berikut narasi postingan yang menyertai tangkapan layar tersebut:

    2 cara kampret yg sdh pasti akn kalah berusaha unk bisa menang.

    1. Sebisa mungkin dan sebanyak mungkin berusaha memghalangi jokower menggunakn hak pilihnya.
    2. Membeli suara .

    Keduanya sdh terbongkar, tinggal kita hrs bisa mencegah.

    #01TheChampion
    #PilihYgJelasIslamnya

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, artikel di laman Tribun Medan diunggah pada Senin (15/4/2019) kemarin. Sementara, artikel di laman Viva.co.id diunggah pada Rabu (16/4/2019).

    Namun, isi artikel tidak ada hubungannya dengan pemenangan salah satu calon presiden dan wakil presiden.

    Kedua topik OTT pejabat pemerintahan itu juga pernah dimuat di laman Kompas.com. Artikel Tribun Medan sesuai dengan artikel Kompas yang berjudul "Polres Karo Amankan Caleg dan Timses Partai Gerindra yang Diduga Lakukan "Money Politics."

    Dalam berita dituliskan bahwa operasi tangkap tangan dilakukan terhadap tiga orang yang diduga tim sukses calon legislatif dari Partai Gerindra, terkait dugaan money politic. Setelah dilakukan pengembangan, polisi mengamankan dua orang caleg dari partai tersebut.

    Sementara itu, artikel Viva.co.id sesuai dengan artikel "Caleg PKS yang Tertangkap Tangan Bagi-bagi Uang Bantah "Money Politics"

    Dalam artikel tersebut dituliskan bahwa seorang caleg DPRD Kabupaten Lombok Timur Dapil I dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhamad Ali Akbar, tertangkap tangan atas tuduhan praktik politik uang.

    Dia ketahuan oleh masyarakat dan Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS). Peristiwa itu terjadi di wilayah Dengen Timur, Kecamatan Selong, Lombok Timur, Senin malam (15/4/2019).

    Namun, ia membantah segala tuduhan tersebut. Ali membantah jika tertangkap tangan, namun dia tak memungkiri jika melakukan kesalahan telah melakukan kampanye di masa tenang.

    Rujukan

    • Kompas
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Jika Mencoblos Gambar Partai, Calon Presiden Akan Kalah

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 17/04/2019

    Berita

    Satu hari jelang pemilihan umum, beredar himbauan lewat media sosial di Kota Makassar.

    Warga dihimbau hati-hati saat mencoblos Calon Presiden, Calon Anggota Legislatif, dan Partai. Karena akan merugikan salah satu Calon Presiden.

    Berikut informasi yang beredar lewat WhatsApp dan Facebook :

    HIMBAUAN

    Assalamualaikum .. Mohon ingatkan kpd seluruh keluarga,’ sahabat, teman, handai taulan dan para relawan, agar pada saat pencoblosan

    17 April 2019 kita

    langsung coblos calegnya jangan lambang partainya tujuan nya agar Prabowo Sandi dapat suara 2 dari caleg dan partainya,,,

    Artinya
    Kertas warna Abu2

    Coblos gambar prabowo/sandi

    Kertas warna Kuning

    Coblos nama calegnya

    Maka partai akan mendapatkan 2 point

    Kertas warna biru

    Coblos nama calegnya

    Maka partai akan mendapatkan 2 point

    Contoh

    Kalo 01 lebih banyak suara calegnya daripada partainya

    dan 02 lebih banyak suara partainya drpd celegnya maka kemungkinan 02 akan kalah,,,

    Karena pemilu sekarang memakai sistem gaya pemilu Amerika kemarin

    yg Donal Trump menang telak dari pendukung nya ketimbang partainya,,,

    Jadi kalo kita nyoblos caleg otomatis dapat 2 suara dari celeg dan partainya.

    Harus segera di sosialisasikan

    Gerindra,

    PAN

    Demokrat,

    PKS

    Berkarya,

    partai pendukung 02

    #PRABOWOSANDI

    Hasil Cek Fakta

    Anggota Bawaslu Kota Makassar Abdul Hafid mengatakan informasi yang disebar itu hoax.

    Indonesia mengadopsi cara penghitungan perolehan suara dengan berdasarkan jumlah kursi dengan model penghitungan Sainte-Lague.

    “Tujuannya supaya perolehan suara terbagi habis ke masing-masing peserta Pemilu,” kata Hafid kepada Makassar Terkini, Selasa 16 April 2019.

    Dia mengatakan, informasi tersebut cenderung masuk kategori kampanye di masa tenang.

    “Tidak boleh lagi ada kampanye,” tegas Hafid.

    Presidium Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Sulawesi Selatan Mardiana Rusli mengatakan, sistem Pemilu di Indonesia jauh berbeda dengan Amerika.

    “Bedalah,” kata Mardiana yang juga mantan Anggota KPU Sulsel.

    Menurut Mardiana, sistem Pemilu di Indonesia sifatnya proporsional terbuka. Pola pencoblosannya beda dengan Amerika.

    Pemilu Indonesia masih menggunakan perhitungan manual. Dikerjakan oleh petugas KPPS. Berjenjang mulai dari TPS, kecamatan, kabupaten, kota, provinsi sampai tingkat paling tinggi di pusat.

    Terkait cara pencoblosan lembar suara presiden dan lembar suara partai, kata Mardiana, sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Perolehan suara capres terpisah dengan suara partai.

    “Capres hanya dua pilihan. Pilih 01 atau 02, tidak ada gabungan dengan Caleg atau partai di surat suara yang beda. Begitupula sebaliknya,” ungkapnya.

    Jika warga memilih atau mencoblos nama satu Caleg, suaranya akan langsung diberikan ke Caleg. Bila warga memilih dua sampai tiga Caleg dalam satu partai, maka suaranya untuk partai.

    “Tidak ada istilah satu poin atau dua poin,” ungkap Mardiana.

    Pemilihan Presiden di Amerika menggunakan sistem Dewan Pemilih.

    Warga negara Amerika akan memilih sejumlah Dewan Pemilih yang dicalonkan partai.

    Selanjutnya, Dewan Pemilih terpilih yang akan menentukan siapa Presiden terpilih.
    “Kalau di Indonesia, warga langsung memilih presidennya. Tanpa diwakili,” kata Mardiana.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini