• Keliru: Badai Tornado Berkecepatan 195 Km Melanda Sidoarjo 10 Januari 2026

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/01/2026

    Berita

    VIDEO dengan klaim badai tornado berkecepatan 195 kilometer per jam menerjang Sidoarjo, Jawa Timur, pada 10 Januari 2026, beredar di Tiktok [arsip] dan Facebook. Video sepanjang 1 menit 4 detik itu terdiri dari beberapa cuplikan saat angin kencang menerbangkan  sejumlah atap dan puing-puing bangunan di antara pemukiman.



    Namun benarkah video itu menunjukkan peristiwa badai tornado yang melanda Sidoarjo, Jawa Timur pada 10 Januari 2026?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi konten itu menggunakan alat pencarian gambar terbalik dan membandingkannya dengan informasi dari pemberitaan kredibel. Hasilnya, sebagian besar cuplikan video diambil dari peristiwa di Jawa Barat dan Batam. Selain itu, tidak ada badai tornado berkecepatan 195 kilometer di Sidoarjo.



    Fragmen atap terbang terbawa angin pada awal video ini, identik dengan video yang diunggah akun YouTube Tribun Batam. Video tersebut merupakan peristiwa puting beliung dahsyat yang melanda kawasan Tiban, Batam, pada 17 Maret 2025. Kesamaan visual dapat dilihat pada atap puluhan ruko dan rumah yang beterbangan. 

    Bencana tersebut menyebabkan sebuah kantin hancur dan terlempar ke jalan. Sekitar tiga orang mengalami luka ringan.



    Video pusaran angin antara detik ke-30 dan detik ket-47 ini, merupakan peristiwa puting beliung di wilayah Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jatinangor, dan sekitarnya pada 21 Februari 2024. Video ini identik dengan rekaman yang diunggah oleh Instagram media komunitas Jatinangorbanget dan Detik.com.

    Dikutip dari situs BMKG, fenomena puting beliung tersebut terjadi tepatnya di wilayah Rancaekek Bandung terjadi sekitar pukul 15.30-16.00 WIB dengan kecepatan angin mencapai 36.8 km/jam. 



    Cuplikan mulai detik ke-47 hingga akhir ini, merupakan peristiwa angin puting beliung di kawasan Bandara Udara Internasional Juanda, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Kamis, 8 Januari 2026 sore. Menurut laporan pendengar Radio Suara Surabaya, angin puting beliung terjadi di sekitar Terminal 1 Bandara Juanda.  

    Dilansir Kompas.com, berdasarkan pantauan Automated Weather Observing System (AWOS) BMKG Juanda, prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Thariq Harun mengatakan bahwa kecepatan angin puting beliung tersebut maksimal 46 KT (knot) atau setara dengan 85 kilometer per jam. 

    Perbedaan Angin Puting Beliung dan Tornado

    Angin puting beliung memiliki skala kekuatan putar dengan kecepatan kurang dari 70 kilometer per jam. Sebaliknya, fenomena tornado memiliki kecepatan angin yang melampaui ambang batas tersebut. Puting beliung terbentuk dari awan Cumulonimbus dalam durasi singkat, sekitar lima menit, dan mencakup wilayah lokal yang sempit, umumnya kurang dari dua kilometer persegi.

    Serupa dengan puting beliung, tornado merupakan kolom udara berputar yang menghubungkan awan Cumulonimbus dengan permukaan tanah. Fenomena ini lebih sering melanda wilayah Amerika Serikat dengan durasi rata-rata 15 menit, meski pada kasus ekstrem sanggup bertahan hingga tiga jam. Data menunjukkan sekitar 90 persen kejadian tornado berkaitan dengan badai petir, terutama jenis supercell, sedangkan 10 persen sisanya muncul dari pertumbuhan awan cumulus yang sangat pesat.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran Tempo, klaim bahwa peristiwa badai tornado melanda Sidoarjo pada 10 Januari 2026 adalah keliru. 

    Sebagian cuplikan dalam video yang beredar, diambil dari peristiwa puting beliung di Batam pada 17 Maret 2025 dan Rancaekek, Bandung, pada 21 Februari 2024. Adapun potongan video yang benar terjadi di Sidoarjo, adalah puting beliung yang melanda kawasan Terminal 1 Bandara Internasional Juanda yang berkecepatan 85 km per jam. Bukan badai tornado.

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Menyesatkan: NASA Tak Lagi Meneliti Laut Sejak 1978

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/01/2026

    Berita

    SEJUMLAH unggahan di Instagram [arsip], Facebook dan TikTok mengklaim bahwa National Aeronautics and Space Administration (NASA) berhenti meneliti lautan sejak 1978. Narasi tersebut menyebut NASA kini hanya berfokus pada misi ruang angkasa setelah mengalihkan seluruh sumber dayanya dari eksplorasi laut.

    Dalam unggahan itu disebutkan, NASA mendadak menghentikan ekspolarasi saat baru memantau sekitar lima persen wilayah perairan. "Mengapa mereka berhenti menyelam ke kedalaman? Apa yang mereka temukan hingga membuat mereka takut," tulis pengunggah konten.



    Namun, benarkah NASA menghentikan penelitian laut pada 1978 setelah menemukan sesuatu yang menakutkan?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi narasi tersebut dengan menelusuri berbagai sumber otoritatif. Sejak awal, pemerintah Amerika Serikat membentuk National Aeronautics and Space Administration (NASA) dengan misi utama memperkuat teknologi antariksa. Meski demikian, lembaga ini tetap menjalankan riset lautan sebagai bagian dari upaya membandingkan kondisi fisik Bumi dengan planet lainnya.

    Tujuan Pembentukan NASA

    Laman Museum Penerbangan Nasional mencatat bahwa Negeri Abang Sam awalnya membentuk lembaga independen bernama National Advisory Committee for Aeronautics (NACA) pada 1915 guna meneliti dunia penerbangan. Pemerintah Amerika Serikat kemudian mengganti komite tersebut menjadi NASA pada 1 Oktober 1958 untuk menyaingi teknologi antariksa Uni Soviet yang lebih dulu meluncurkan wahana Sputnik di era Cold War.

    Time melaporkan bahwa pendirian NASA berpijak pada National Aeronautics and Space Act. Undang-undang tersebut memandatkan NASA untuk meneliti masalah penerbangan di dalam maupun di luar atmosfer Bumi serta tujuan strategis lainnya, termasuk meredam persaingan riset antar-angkatan bersenjata. NASA berfungsi sebagai pusat penelitian yang menyatukan berbagai unit riset militer Amerika Serikat yang sebelumnya mengembangkan teknologi jet dan satelit secara terpisah.

    Ensiklopedia Britannica menjelaskan bahwa baik NACA maupun NASA tidak memiliki misi spesifik untuk penjelajahan bawah laut. Sejak berdiri, lembaga ini memfokuskan sumber dayanya pada eksplorasi antariksa melalui berbagai misi ikonik seperti Apollo, Viking, Mariner, Voyager, dan Galileo.

    Penelitian Laut oleh NASA 

    Dalam menjalankan misinya, NASA turut meneliti lautan untuk mendukung pengembangan teknologi antariksa. Pada 1978, lembaga ini meluncurkan satelit khusus guna memantau kondisi lautan di Bumi. Satelit tersebut bertugas mengukur ketinggian wahana antariksa di atas permukaan laut, kecepatan, serta arah angin.

    Kemampuan satelit ini mencakup pengukuran suhu permukaan laut, identifikasi fitur awan dan daratan, serta pemantauan medan gelombang permukaan global dan kondisi es kutub. NASA mempelajari lapisan es kutub sebagai referensi untuk mengeksplorasi kondisi serupa di planet lain.

    Pemeriksa fakta Reuters melaporkan bahwa NASA pernah menggelar misi bersama pada 2018 untuk mengamati interaksi organisme mikroskopis di laut dalam. Wilayah laut dalam merupakan area di bawah permukaan air dengan penetrasi cahaya yang memudar cepat, yakni mulai kedalaman 200 meter atau sekitar 656 feet.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan NASA menyetop penelusuran laut dalam sejak tahun 1978 karena ketakutan akan temuan tertentu adalah klaim menyesatkan.

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru: Garuda Indonesia Angkat Khairun Nisa Menjadi Pramugari

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/01/2026

    Berita

    SEBANYAK 70 konten di media sosial seperti  Instagram [arsip], Facebook, Threads, dan X, menyebarkan klaim palsu bahwa Garuda Indonesia telah mengangkat Khairun Nisa sebagai pramugari. Unggahan tersebut menyertakan foto yang memperlihatkan manajemen Garuda Indonesia tengah menjabat tangan Khairun Nisa.

    Nama Khairun Nisa sebelumnya sempat viral di media sosial karena aksi penyamarannya. Ia berpura-pura menjadi pramugari Batik Air demi menyenangkan hati orang tuanya setelah tertipu Rp 30 juta oleh oknum yang menjanjikannya pekerjaan. "Khairun Nisa akhirnya diterima sebagai pramugari maskapai penerbangan Garuda Indonesia," bunyi narasi dalam konten yang beredar tersebut.



    Namun, benarkah Garuda Indonesia secara resmi menerima Khairun Nisa sebagai pramugari seperti ditunjukkan dalam foto yang beredar?

    Hasil Cek Fakta

    Tempo memverifikasi konten tersebut menggunakan pengamatan visual, peranti deteksi akal imitasi, serta konfirmasi dari berbagai sumber otoritatif. Hasilnya, manajemen Garuda Indonesia membantah telah mengangkat Khairun Nisa sebagai pramugari. Foto yang beredar luas di media sosial itu terbukti merupakan hasil rekayasa teknologi akal imitasi.  

    Dikutip dari Berita Satu edisi Kamis, 15 Januari 2026, Kepala Komunikasi Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah, menyatakan perusahaannya tidak sedang menggelar rekrutmen pegawai. Ia menegaskan bahwa foto yang mencatut nama maskapai plat merah tersebut murni hasil manipulasi. "Saat ini Garuda Indonesia belum membuka rekrutmen awak kabin," ujar Dicky.

    Kisah Khairun Nisa menjadi viral setelah perempuan asal Ogan Ilir, Sumatera Selatan, ini kedapatan menyamar sebagai pramugari Batik Air dalam penerbangan Palembang-Jakarta pada 6 Januari 2026. Nisa telah mengakui perbuatannya dan meminta maaf melalui akun TikTok pribadinya. Di sisi lain, Aeronef Academy sempat menawarkan pelatihan gratis bagi Nisa, namun hingga 15 Januari 2026, lembaga tersebut mengaku belum mendapatkan respons lanjutan.



    Hasil verifikasi Tempo mengonfirmasi bahwa foto tersebut merupakan produk rekayasa akal imitasi. Kesimpulan ini berpijak pada temuan tiga anomali fisik yang janggal. Pertama, desain papan nama Garuda Indonesia yang terpampang dalam foto tidak sesuai dengan identitas visual resmi milik perusahaan maskapai tersebut.

    Kedua, perbedaan warna kulit pada telapak tangan pria dalam foto terlihat sangat mencolok, mengindikasikan adanya ketidakkonsistenan dalam proses pengolahan gambar. Ketiga, teks pada sertifikat di bagian depan tetap tampak buram dan tidak terbaca meskipun telah melalui proses pembesaran gambar berulang kali.

    Anomali pada foto tersebut, lazim ditemukan pada konten-konten yang dibuat dengan teknologi AI. Analisis manual tersebut diperkuat dengan alat deteksi AI Image Whisperer yang menyatakan foto dibuat menggunakan AI dengan tingkat konfidensial sangat tinggi. Demikian juga dengan alat deteksi Hive Moderation, menerangkan kemungkinan konten buatan AI mencapai 99,9 persen.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan Khairun Nisa yang berpura-pura menjadi pramugari dalam penerbangan Batik Air awal tahun 2026, diterima bekerja oleh Garuda Indonesia adalah klaim keliru.

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Video dari Kerumunan Demonstran Iran Menyalakan Senter Buatan AI

    Sumber:
    Tanggal publish: 19/01/2026

    Berita

    tirto.id - Gelombang demonstrasi besar di Iran telah berlangsung lebih dari dua pekan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan. Laporan terbaru Tirto.id, berdasar data Iran Human Rights (IHRNGO) per 12 Januari 2026, jumlah korban tewas dalam gelombang protes anti pemerintah itu adalah setidaknya 648 pengunjuk rasa, termasuk sembilan anak di bawah usia 18 tahun, dan ribuan lainnya luka-luka.

    ADVERTISEMENT

    Di tengah derasnya arus informasi terkait kejadian tersebut, beredar sebuah video dengan narasi demonstran warga Iran dengan meramaikan jalanan sambil menyalakan ponsel di tengah kondi kegelapan. Video tersebut diunggah oleh akun Facebook @Calon Ilmuan (arsip) pada Senin (12/01/2026).

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “Internet diputus dan lampu jalan padam, warga Iran nyalakan lampu ponsel,” tulis narasi dalam video.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Dalam video tersebut terlihat ramainya massa yang berbaris memenuhi jalan yang gelap sambil menyalakan lampu di ponselnya. Terdapat juga sudut pandang video di tengah kerumunan yang memperlihatkan lebih dekat massa tersebut.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Dalam keterangan video diberikan konteks kejadian. Disebutkan kalau otoritas di Iran memutus akses internet dan jaringan telepon serta mematikan lampu di beberapa ruas jalan untuk membatasi informasi dan memendam unjuk ras.

    Hal ini yang memacu demonstran di Iran menyalakan ponsel mereka sebagai sumber cahaya. "Meski demikian, warga tetap terlihat berjaga diluar ruangan dengan cahaya ponsel yang menyala, menjadi simbol nyata bahwa mereka ada dan tetap menyuarakan kehadiran mereka, meski dalam kondisi terbatas," tulis narasi penyerta video.

    Aksi tersebut digambarkan sebagai simbol keberadaan dan bentuk ekspresi bahwa mereka tetap hadir serta menyuarakan aspirasi.

    ADVERTISEMENT

    Periksa Fakta Demonstran Iran protes dalam gelap. foto/Hotline periksa Fakta tirto

    Hingga Senin (19/01/2026), video tersebut sudah ditonton sekitar 2,1 ribu kali serta mendapatkan 16 tanda reaksi, dua komentar, dan dua kali dibagikan. Tirto menemukan Video serupa dari unggahan sejumlah akun di Instagram. (tautan 1, tautan 2, tautan 3)

    Lalu bagaimana faktanya, benarkah video yang tersebar di media sosial menunjukkan kondisi demonstrasi di Iran?

    Hasil Cek Fakta

    Tirto memulai penelusuran dengan melakuan pencarian gambar terbalik (reverse image search) menggunakan Google Lens, untuk mencari sumber video yang beredar. Hasil penelusuran mengarahkan ke video identik berikut dari akun Instagram @elnaz555 pada 11 Januari 2026.

    Hingga penelusuran ini dilakukan, video tersebut sudah ditonton hingga sekitar 84,6 juta kali. Dalam keterangan unggahannya, pemilik akun menjelaskan meski unggahan tersebut memang terkait konteks kondisi di Iran, konten yang dibagikan bukan rekaman asli. Video kurang dari 15 detik itu adalah karya visual yang dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).

    Video tersebut disebut sebagai bentuk penghargaan digital bagi para demonstran di Iran.

    "Karya ini bukanlah pengganti realitas! Ini adalah refleksi dari realitas, sebuah cara untuk membantu lebih banyak orang melihat apa yang terjadi, terutama karena seluruh negeri mengalami pemadaman digital selama 4 hari terakhir," tulis pengunggah video.

    Pengunggah menjelaskan bahwa visual itu terinspirasi dari sebuah video yang beredar sebelumnya, yang memperlihatkan massa demonstran di jalanan gelap Iran menyalakan lampu ponsel mereka setelah pemerintah disebut mematikan lampu jalan. Adegan tersebut kemudian direka ulang melalui seni berbasis AI dengan tujuan membantu menggambarkan situasi protes kepada publik luas, terutama di tengah pemadaman akses digital yang dilaporkan terjadi selama beberapa hari terakhir.

    Untuk memperkuat temuan tersebut, Tirto turut menganalisis video menggunakan alat pendeteksi AI Hive Moderation. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas sebagai konten buatan AI sebesar 76,2 persen.

    Tim periksa fakta Tirto kemudian menelusuri dokumentasi asli aksi demonstrasi di Iran yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan video tersebut.

    Dengan menggunakan kata kunci “aksi protes Iran dengan menyalakan lampu ponsel”, ditemukan sejumlah video yang menunjukkan massa demonstran di Iran menyalakan lampu ponsel mereka saat berunjuk rasa.

    Salah satu contohnya adalah unggahan dari akun X @PopularFront_ pada 11 Januari 2026. Unggahan tersebut menampilkan beberapa video aksi demonstrasi di malam hari di wilayah Punak dan Teheran, Iran, dengan massa yang mengangkat dan menggerakkan ponsel mereka dengan lampu menyala ke udara.

    Meski demikian, video tersebut kemudian dibagikan ulang oleh sejumlah pihak tanpa keterangan bahwa konten tersebut merupakan buatan AI, sehingga berpotensi menyesatkan. Perlu ditegaskan bahwa meskipun aksi menyalakan lampu ponsel memang benar terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video yang viral bukanlah rekaman kejadian sebenarnya, melainkan hasil rekayasa visual berbasis AI.

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran menunjukkan bahwa video yang beredar bukan rekaman asli demonstrasi di Iran, melainkan visual buatan Artificial Intelligence (AI). Klaim yang menyebut video tersebut sebagai dokumentasi langsung peristiwa demonstrasi salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Meski aksi menyalakan lampu ponsel memang terjadi dalam beberapa dokumentasi asli, video viral tersebut dibuat sebagai karya seni berbasis AI dan kerap dibagikan ulang tanpa keterangan yang memadai.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini