• [SALAH] Hadiah Tunai Sebesar Rp185 Juta dari Shopee

    Sumber: Pesan Singkat SMS
    Tanggal publish: 28/10/2021

    Berita

    Beredar sebuah narasi melalui layanan pesan singkat (SMS) yang menginformasikan bahwa Shopee membagikan hadiah berupa dana tunai sebesar Rp185 juta.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah melakukan penelusuran, hal tersebut tidak benar. Public Relations Shopee melalui laman Kompas menegaskan bahwa segala bentuk pemberian hadiah hanya diberitakan melalui aplikasi Shopee, akun resmi Instagram shopee_id, akun resmi Twitter @ShopeeID, dan akun resmi Facebook Shopee. Hasil periksa fakta dengan narasi serupa juga sudah diunggah pada situs turnbackhoax.id dengan judul “[SALAH] Shopee Bagi-bagi Hadiah Sebesar Rp175 Juta” dan “[SALAH] Pesan Singkat Shopee Hadiah 125 Juta”.

    Dengan demikian, narasi yang disebarkan melalui SMS yang mengatakan bahwa Shopee membagikan hadiah berupa dana tunai sebesar Rp185 juta tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori fabricated content atau konten palsu.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Nadine Salsabila (Universitas Diponegoro)

    Hal tersebut tidak benar. Segala bentuk pemberian hadiah hanya diberitakan melalui aplikasi Shopee, akun resmi Instagram shopee_id, akun resmi Twitter @ShopeeID, dan akun resmi Facebook Shopee.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Menyesatkan, Megawati Menjabat di BRIN untuk Mengubah Sejarah G30S

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/10/2021

    Berita


    Narasi berisi informasi bahwa Megawati mendorong riset sains untuk mengubah sejarah G30S/PKI saat menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),  beredar di Facebook, 24 Oktober 2021. 
    Klaim itu beredar berupa gambar kolase berisi foto Megawati, tangkapan layar artikel, dan sejumlah teks yang salah satunya tertulis:
    “Megawati akan mendorong riset sains untuk membenarkan klaim-klaim ideologisnya. Misal, Pancasila yang sebenarnya adalah versi 1 Juni 1945 G30s adalah kudeta merangkak Suharto/TNI terhadap kekuasaan Soekarno presiden yang sah PKI tidak terlibat dalam G30s.”
    Narasi tersebut beredar setelah Megawati, dilantik menjadi ketua Dewan Pengarah BRIN pada Rabu 13 Oktober 2021. Sesuai dengan Perpres Nomor 33 Tahun 2021, Dewan Pengarah mempunyai tugas memberikan arahan kepada Kepala BRIN dalam merumuskan kebijakan dan penyelenggaraan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi menjadi landasan dalam perencanaan pembangunan nasional di segala bidang kehidupan yang berpedoman pada nilai Pancasila. 
    Lantas benarkah Megawati mendorong riset sains tentang PKI tidak terlibat G30S?
    Tangkapan layar unggahan dengan klaim menyesatkan bahwa Megawati menjabat di BRIN untuk mengubah sejarah G30S

    Hasil Cek Fakta


    Hasil penelusuran Tempo, menunjukkan narasi tentang Megawati mendorong riset sains untuk mengubah sejarah G30S/PKI, berasal dari artikel opini yang ditulis oleh Radhar Tribaskoro dan dimuat pertama kali di situs RMOL Jatim pada 19 Oktober 2021. Artikel opini tersebut dipublikasikan dengan judul Apa yang Dicari Megawati Sehingga Mau Mengepalai Lembaga Riset Sains dan Teknologi?
    Artikel opini tersebut kemudian dipublikasikan ulang oleh beberapa situs dengan mengubah judul. Salah satunya dimuat oleh situs democrazy.id pada berjudul: Jadi Dewan Pengarah BRIN, Pemerhati Sosial & Politik: Mega Dorong Riset Sains PKI Tak Pernah Terlibat G30S. Penelusuran menggunakan tools domainbigdata, situs democrazy.id diketahui baru dibuat pada tanggal 18 September 2020. l  
    Tangkapan layar judul artikel dari democrazy.id tersebut kemudian yang diedarkan warganet ke Facebook. Artikel opini sendiri berarti mewakili pandangan pribadi penulis. Klaim apakah Megawati akan mendorong riset sains untuk mengubah sejarah G30S/PKI saat menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), belum bisa dibuktikan. 
    Tidak ada bukti-bukti yang disertakan dalam artikel opini tersebut terkait klaim Megawati akan mengubah sejarah G30S/PKI setelah dia dilantik menjadi Ketua Dewan BRIN. 
    Pro Kontra Pengangkatan Megawati
    Pengangkatan Megawati sendiri sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN menimbulkan pro kontra. Dewan Penasihat Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) Herlambang P. Wiratraman pada Mei lalu menilai ada arah kepentingan politik untuk menempatkan sains di bawah kekuasaan. Dewan Pengarah harusnya jadi pagar aktivitas keilmuan agar tetap berlandaskan ideologi Pancasila.
    Ia juga melihat ditempatkannya Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN justru merupakan kemunduran. Dengan kapasitas politik Megawati yang begitu besar dalam rezim kekuasaan hari ini, kata Herlambang, bukan tidak mungkin ada intervensi kekuasaan atau partai penguasa dalam strategi atau implementasi riset Indonesia ke depannya.
    Namun Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membantah hal ini. Ia mengatakan Megawati merupakan ketua umum partai politik yang paling konsisten menyuarakan pentingnya ilmu-ilmu dasar, riset dan inovasi, dan terus memperjuangkan peningkatan anggaran penelitian 5 persen dari Produk Domestik Bruto.
    Perdebatan dalam Sejarah Gerakan 30 September
    Sebelumnya Megawati pernah meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meluruskan catatan sejarah soal kejadian 1965. Dikutip dari cnnindonesia.com
    Mega menilai ada hal yang hilang dalam catatan sejarah Indonesia, khususnya di periode 1965. Ia menyebut ada politik desukarnoisasi yang dimulai sejak kepemimpinan Presiden Soeharto.
    Upaya desukarnoisasi tersebut pernah disampaikan sejarawan Asvi Warman Adam, saat pengukuhannya sebagai profesor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 26 Juli 2018. Dikutip dari historia.id, situs  kredibel yang bermuatan sejarah populer, ada tiga periode perdebatan dalam penulisan sejarah (historiografi) peristiwa G30S. 
    Periode pertama tentang dalang peristiwa G30S pada kuru 1965-1968. Periode kedua terjadi penulisan sejarah resmi oleh pemerintah Soeharto sejak 1968 hingga 1998. Sedangkan periode ketiga dikenal sebagai periode pelurusan sejarah semenjak berhentinya Soeharto pada 1998. 
    Desukarnoisasi tersebut, menurut Asvi, terjadi pada periode kedua di mana pemerintah Soeharto menyeragamkan versi sejarah G30S berdasarkan tafsir sepihak dari penguasa. Asvi menyebut nama Nugroho Notosusanto sebagai arsitek dari rekayasa penulisan sejarah tersebut.  
    Selain menyeragamkan sejarah G30S, Nugroho Notosusanto berperan dalam upaya desukarnoisasi dalam peristiwa kelahiran Pancasila 1 Juni 1945. Dia menyisihkan peran Sukarno dalam proses penggalian konsep Pancasila dengan mengedepankan peran Mohammad Yamin. 
    Setelah Orde Baru jatuh, beragam versi G30S bermunculan, baik dari kesaksian penyintas maupun hasil penelitian para ahli. Menurut Asvi, peristiwa pembunah jenderal pada 30 September 1965 hanya dalih bagi Soeharto untuk menghabisi PKI sekaligus merebut kekuasan dari tangan Soekarno. Sebagian besar korban pada peristiwa 1965, dipersekusi massal dan tidak pernah ditunjukkan kesalahannya di muka pengadilan. 
     

    Kesimpulan


    Dari pemeriksaan fakta di atas, Tempo menyimpulkan, unggahan terkait Megawati mendorong riset sains untuk mengubah sejarah G30S/PKI saat menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), adalah menyesatkan. Narasi ini berasal dari artikel opini seorang penulis. Namun hingga artikel ini diturunkan, tidak ada bukti bahwa Megawati akan mengubah sejarah G30S/PKI melalui BRIN. 
    Di sisi lain, semenjak 1998, makin banyak fakta baru tentang peristiwa G30S baik yang berasal dari para korban maupun hasil penelitian para ahli. Fakta-fakta tersebut menjadi titik terang dalam sejarah nasional . 
    TIM CEKFAKTA TEMPO

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Mendeteksi Kesehatan Jantung dengan Memasukkan Tangan ke dalam Air Dingin Selama 30 Detik

    Sumber: Instagram.com
    Tanggal publish: 27/10/2021

    Berita

    “HANYA DALAM 30 DETIK KAMU BISA TAHU BAGAIMANA KONDISI JANTUNGMU SAAT INI”

    Hasil Cek Fakta

    Beberapa waktu lalu akun Instagram bernama @sehatyuks.id membagikan sebuah informasi mengenai metode untuk mendeteksi kesehatan jantung dengan cara merendam kedua tangan selama 30 detik ke dalam air dingin. Pada unggahan tersebut dipaparkan dua langkah yang harus dilakukan. langkah pertama ialah menuangkan air yang sangat dingin ke dalam baskom atau agar hasilnya lebih maksimal maka air dingin tersebut bisa ditambahkan es batu. Langkah kedua ialah masukkan kedua tangan secara bersamaan selama 30 detik ke dalam air yang sebelumnya sudah disiapkan. Setelah hal tersebut dilakukan, maka akan terlihat respon tangan setelah dimasukkan ke dalam air. Respon tangan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu jari-jari tangan memerah dan memucat. Dikatakan bahwa apabila jari tangan memerah hal itu menandakan kondisi jantung dalam keadaan sehat, sedangkan apabila jari tangan membiru atau memucat, maka kondisi jantung tidak baik-baik saja.

    Melansir dari kompas.com, dr Ivan Noersyid, SpJP, dokter spesialis jantung dari RS Awal Bros Bekasi Timur mengatakan bahwa cara yang diilustrasikan untuk mendeteksi kondisi kesehatan jantung tersebut tidaklah terbukti secara ilmiah, baik pada pustaka lama maupun pustaka baru. Atas dasar tersebut, maka dr. Ivan menyarankan untuk lebih sadar atas berbagai faktor risiko dari penyakit jantung. Misalnya, untuk penyakit jantung koroner, faktor risikonya meliputi usia di atas 40 tahun, memiliki penyakit diabetes melitus atau hipertensi, obesitas, meminum alkohol dan merokok. Sementara itu, gejala dari penyakit jantung antara lain ialah nyeri pada dada atau rasa berdebar-debar. Selain mengetahui faktor risiko, cara termudah untuk mengecek kesehatan jantung adalah dengan memeriksa nadi sendiri dan denyut nadi normal mencapai 60-100 kali per menit.

    Melansir dari health.detik.com, dr Vito A Damay, SpJP, dokter jantung dari RS Siloam Karawaci, menyatakan pula bahwa cara mendeteksi kesehatan jantung dengan cara memasukkan tangan ke dalam air es selama 30 detik itupun sama sekali tidak bisa dipakai untuk menentukan kesehatan jantung. Ia mengatakan, ada cara lain yang juga sederhana dan bisa dijadikan tanda untuk mendeteksi kesehatan jantung. Misalnya seperti sering terbangun di malam hari karena sesak nafas mendadak, lalu membaik saat posisi duduk, mudah lelah ketika berjalan atau beraktivitas fisik. Lalu bisa juga memperhatikan keadaan kedua kaki, apabila kaki agak bengkak dan bagian kulit yang ada di atas kaki jika ditekan melesak ke dalam, maka hal tersebut menjadi pertanda adanya masalah pada jantung.

    Selain itu, terkait dengan jari tangan yang berubah warna menjadi memerah dan membiru, melansir dari cnnindonesia.com, Ketua Departemen Informasi Komunikasi dan Pengabdian Masyarakat PP PERKI dokter Sony Hilal menjelaskan bahwa kondisi jari tangan yang memerah merupakan reaksi normal setelah tangan dimasukkan ke dalam air dingin. Hal tersebut merupakan reaksi dari pembuluh darah yang berusaha untuk menghangatkan tubuh dengan melebarkan pembuluh darah yang sebelumnya mengecil, sehingga darah akan kembali menuju jari-jari tangan. Dan apabila jari tangan tidak memerah, artinya tidak terjadi proses penghangatan dan diameter pembuluh darah juga tidak melebar.

    Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait mendeteksi kesehatan jantung dengan memasukkan tangan ke dalam air dingin selama 30 detik ialah informasi salah dan masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Informasi tersebut salah. Faktanya, dokter spesialis jantung dari RS Awal Bros Bekasi Timur mengatakan bahwa metode untuk mendeteksi penyakit jantung dengan menggunakan air es tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Kucing Berusia 30 Tahun atau Setara dengan 90 Tahun Umur Manusia

    Sumber: Instagram.com
    Tanggal publish: 27/10/2021

    Berita

    “30 tahun dah umur kucing ni, bersamaan 90 tahun umur manusia, kategori moyang dah ni gais”

    Hasil Cek Fakta

    Beberapa waktu lalu akun Instagram bernama @muhammad_khalil_99 mengunggah sebuah foto seekor kucing dengan narasi yang menjelaskan bahwa kucing yang terdapat dalam foto tersebut merupakan kucing yang telah berusia 30 tahun, atau setara dengan 90 tahun umur manusia. Atas dasar tersebut, maka wajah kucing itupun berbeda dari wajah kucing pada umumnya, karena kucing yang terdapat dalam foto tersebut memiliki kulit yang telah mengendur.

    Namun melansir dari themighty.com, kucing tersebut merupakan kucing yang diadopsi oleh pasangan Georgina Price dan pasangannya Christopher Lardner asal Stroud, Gloucestershire, Inggris bernama Toby. Toby merupakan kucing yang didiagnosis menderita Ehlers-Danlos syndrome (EDS), atau yang lebih dikenal sebagai Feline Cutaneous Asthenia (FCA) di dunia kucing. Sindrom tersebut merupakan kondisi genetik yang mempengaruhi jumlah dan struktur kolagen dalam tubuh, sehingga sindrom tersebutlah yang menyebabkan Toby memiliki kulit yang mengendur atau menggantung dari tubuhnya karena tidak adanya elastisitas pada kulitnya.

    Melansir dari akun Instagram @tummyandgummy yang dikelola oleh Georgina dan Christopher, Georgina menjelaskan pada salah satu foto yang diunggah pada 30 Desember 2019 lalu bahwa Toby pada saat itu merupakan kucing berusia 6 tahun yang didiagnosis menderita EDS, sehingga menyebabkan adanya kelainan pada kulitnya. Kelainan tersebut menyebabkan kulitnya terlihat mengendur dan mudah terluka. Selain itu, melansir dari themighty.com, Georgina juga memaparkan kekhawatirannya atas dampak yang dapat diterima Toby atas sindrom tersebut, sehingga ia berusaha untuk membatasi beberapa aktivitas Toby, seperti melakukan lompatan, tujuannya adalah untuk mengurangi tekanan pada persendiannya, karena EDS juga memiliki pengaruh pada persendian penderitanya. Hal itulah yang menyebabkan Toby mudah terluka, bahkan saat melakukan aktivitas rutin.

    Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait Kucing Berusia 30 tahun atau setara dengan 90 tahun umur manusia ialah informasi salah dan masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Informasi tersebut salah. Faktanya, kucing tersebut menderita Ehlers-Danlos syndrome (EDS), atau yang lebih dikenal sebagai Feline Cutaneous Asthenia (FCA) di dunia kucing.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini