[SALAH] Daftar Minuman Instan yang Dapat Sebabkan Diabetes dan Matikan Sumsum Tulang
Sumber: Telegram.comTanggal publish: 23/10/2021
Berita
Telah beredar pesan melalui Telegram berisi informasi daftar minuman instan yang dapat menyebabkan pengerasan otak (kanker otak), diabetes, dan pengerasan sumsum tulang belakang. Informasi tersebut diklaim berasal dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan mengatasnamakan Dr. H. Ismuhadi, MPH.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, pesan berantai itu sudah beredar sejak tahun 2010. Mengutip dari Antara, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBIDI) tahun 2010, Dr. Prijo Sidipratomo mengonfirmasi bahwa informasi terkait minuman instan itu bukan berasal dari IDI maupun PBIDI. Ia juga mengimbau masyarakat untuk melakukan pengecekan berita terkait IDI dan tidak mudah percaya dengan kabar yang belum pasti kebenarannya.
“Setiap pernyataan resmi dari PBIDI dikeluarkan secara tertulis dengan menggunakan kop surat resmi organisasi dan ditandatangani Ketua Umum atau Sekretaris Jenderal,” jelas Prijo.
Selain itu, melalui situs resminya, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia menegaskan tidak pernah mengeluarkan pernyataan tentang bahaya pemanis aspartam. Pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Kepala BPOM Kustantinah dalam siaran persnya mengatakan Aspartam dikategorikan aman berdasarkan Keputusan Codex stan 192-1995 Rev. 10 Tahun 2009. Dalam pengaturan Codex disebutkan bahwa Aspartam dapat digunakan untuk berbagai jenis makanan dan minuman antara lain minuman berbasis susu, permen, makanan dan minuman ringan.
Pesan yang mengatasnamakan IDI dengan memberikan informasi bahaya minuman instan sebelumnya pernah dibahas dalam artikel Turn Back Hoax berjudul [SALAH] Pernyataan IDI Terkait Aspartame dalam Minuman Instan Sebabkan Kanker, Diabetes, dan Pengerasan Sumsum Tulang Belakang.
Dari berbagai fakta di atas, pesan berantai terkait daftar minuman instan sebabkan pengerasan otak (kanker otak), diabetes, dan pengerasan sumsum tulang belakang dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan.
“Setiap pernyataan resmi dari PBIDI dikeluarkan secara tertulis dengan menggunakan kop surat resmi organisasi dan ditandatangani Ketua Umum atau Sekretaris Jenderal,” jelas Prijo.
Selain itu, melalui situs resminya, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia menegaskan tidak pernah mengeluarkan pernyataan tentang bahaya pemanis aspartam. Pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Kepala BPOM Kustantinah dalam siaran persnya mengatakan Aspartam dikategorikan aman berdasarkan Keputusan Codex stan 192-1995 Rev. 10 Tahun 2009. Dalam pengaturan Codex disebutkan bahwa Aspartam dapat digunakan untuk berbagai jenis makanan dan minuman antara lain minuman berbasis susu, permen, makanan dan minuman ringan.
Pesan yang mengatasnamakan IDI dengan memberikan informasi bahaya minuman instan sebelumnya pernah dibahas dalam artikel Turn Back Hoax berjudul [SALAH] Pernyataan IDI Terkait Aspartame dalam Minuman Instan Sebabkan Kanker, Diabetes, dan Pengerasan Sumsum Tulang Belakang.
Dari berbagai fakta di atas, pesan berantai terkait daftar minuman instan sebabkan pengerasan otak (kanker otak), diabetes, dan pengerasan sumsum tulang belakang dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)
Faktanya, pesan berantai yang mengatasnamakan Dr. H. Ismuhadi, MPH itu adalah hoaks lama yang sudah beredar sejak tahun 2010.
Faktanya, pesan berantai yang mengatasnamakan Dr. H. Ismuhadi, MPH itu adalah hoaks lama yang sudah beredar sejak tahun 2010.
Rujukan
[SALAH] Daun Kemangi Obat Penghilang Gatal Kulit
Sumber: facebook.comTanggal publish: 22/10/2021
Berita
Beredar sebuah informasi melalui media sosial Facebook dengan klaim daun kemangi dapat menjadi obat gatal kulit, cara pengobatannya hanya dengan menggosokkan daun kemangi di bagian kulit yang gatal hingga air daun kemangi keluar, getah dari daun tersebut dapat mengobati gatal-gatal.
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri informasi tersebut ternyata salah, faktanya belum ada penelitian yang membuktikan getah daun kemangi dapat mengobati gatal. Melalui Kompas.com, dr. Dedianto Hidajat, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram yang juga doktor spesialis kulit dan kelamin, menegaskan bahwa informasi itu hoaks, daun kemangi mengandung zat yang baik untuk kulit seperti anti radang, antibakteri, bahkan antioksidan. Namun, agar manfaat daun kemangi untuk gatal kulit bisa berfungsi perlu melalui proses pengekstrakan terlebih dahulu di laboratorium.
Klaim daun kemangi dapat mengobati gatal ini merupakan hoaks lama yang muncul kembali. Sebelumnya sudah ada ulasan dari Liputan6.com pada September 2020 yang menyatakan bahwa klaim tersebut merupakan hoaks karena belum ada riset daun kemangi dapat mengobati gatal, selain itu melalui Turnbackhoax.id juga sudah ada artikel yang mengabarkan bahwa klaim tersebut hoaks.
Dengan demikian, klaim daun kemangi obat penghilang gatal kulit merupakan hoaks dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Klaim daun kemangi dapat mengobati gatal ini merupakan hoaks lama yang muncul kembali. Sebelumnya sudah ada ulasan dari Liputan6.com pada September 2020 yang menyatakan bahwa klaim tersebut merupakan hoaks karena belum ada riset daun kemangi dapat mengobati gatal, selain itu melalui Turnbackhoax.id juga sudah ada artikel yang mengabarkan bahwa klaim tersebut hoaks.
Dengan demikian, klaim daun kemangi obat penghilang gatal kulit merupakan hoaks dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Fathia IS.
Klaim tersebut salah, setelah ditelusuri belum terbukti daun kemangi dapat mengobati gatal pada kulit. Adapun khasiat daun kemangi yang dioleskan langsung ke kulit memerlukan proses pengekstrakan melalui lab.
Klaim tersebut salah, setelah ditelusuri belum terbukti daun kemangi dapat mengobati gatal pada kulit. Adapun khasiat daun kemangi yang dioleskan langsung ke kulit memerlukan proses pengekstrakan melalui lab.
Rujukan
- https://www.kompas.com/tren/read/2021/10/14/063200265/-hoaks-getah-kemangi-bisa-sembuhkan-gatal-pada-kulit?page=all#page2
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4345212/cek-fakta-benarkah-daun-kemangi-bisa-mengobati-gatal-kulit
- https://turnbackhoax.id/2020/09/03/salah-getah-daun-kemangi-obat-gatal-gatal/
[SALAH] Scan MRI Harus Dihindari Penerima Vaksin Covid-19
Sumber: facebook.comTanggal publish: 22/10/2021
Berita
Beredar sebuah unggahan di Facebook yang menampilkan tanggapan Twitter dari @DRAFZALNIAZ2 dengan klaim bahwa scan MRI harus dihindari setelah pasien mendapatkan suntikan vaksin Covid-19, terutama pada minggu pertama setelah penyuntikan. Ia menjelaskan, ini dapat mempengaruhi elektromagnetisme yang dihasilkannya.
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri informasi tersebut ternyata salah, faktanya tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa scan MRI harus dihindari setelah vaksinasi. Jean Chen, Profesor Biofisika Media Universitas Toronto, melalui AFP menjelaskan bahwa MRI Scan menggunakan radio medan magnet untuk menghasilkan gambar detail bagian dalam tubuh, sedangkan vaksin Covid-19 tidak mengandung bahan-bahan magnetik sehingga tidak dapat mempengaruhi proses scen MRI.
Selain itu, Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, membantah klaim yang beredar tersebut. Ia menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 berisi virus yang telah dimatikan, serta zat di dalamnya berbentuk cairan untuk stabilitas vaksin sehingga tidak ada kandungan elektro magnetik di dalamnya.
Dengan demikian, klaim scan MRI harus dihindari kepada pasien setelah vaksinasi Covid-19 merupakan hoaks dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Selain itu, Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, membantah klaim yang beredar tersebut. Ia menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 berisi virus yang telah dimatikan, serta zat di dalamnya berbentuk cairan untuk stabilitas vaksin sehingga tidak ada kandungan elektro magnetik di dalamnya.
Dengan demikian, klaim scan MRI harus dihindari kepada pasien setelah vaksinasi Covid-19 merupakan hoaks dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Fathia IS.
Klaim tersebut salah, setelah ditelusuri tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa scan MRI harus dihindari setelah mendapatkan vaksin Covid-19.
Klaim tersebut salah, setelah ditelusuri tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa scan MRI harus dihindari setelah mendapatkan vaksin Covid-19.
Rujukan
[SALAH] Studi FDA: Vaksin Pfizer Membuat Orang Lebih Rentan Tertular Covid-19
Sumber: artikel onlineTanggal publish: 22/10/2021
Berita
Beredar sebuah artikel dari laman www.lifesitenews.com menyebarkan informasi mengenai studi FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan vaksin Pfizer-BioNTech Covid-19 dapat lebih berpeluang untuk terpapar virus Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri informasi tersebut salah. Faktanya, Alison Galvani, the Director of the Yale Center for Infectious Disease Modeling and Analysis melalui AFP mengungkapkan bahwa orang yang diberi vaksin Pfizer akan jauh lebih kecil berkemungkinan terpapar, terinfeksi, dirawat di rumah sakit atau bahkan meninggal akibat Covid-19. Selain itu, Juru Bicara FDA mengungkapkan bahwa klaim dalam artikel tersebut salah dan menyesatkan.
Mengutip dari kemkes.go.id, vaksin Pfizer diperuntukkan bagi masyarakat umum wilayah Jabodetabek. Badan POM dalam press release-nya menyatakan bahwa vaksin Pfizer memiliki efikasi 100% mencegah Covid-19 pada remaja usia 12-15 tahun, sedangkan pada usia 16 tahun ke atas memiliki efikasi 95,5% mencegah Covid-19.
Dengan demikian, klaim Vaksin Pfizer membuat orang lebih rentan tertular Covid-19 merupakan hoaks dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Mengutip dari kemkes.go.id, vaksin Pfizer diperuntukkan bagi masyarakat umum wilayah Jabodetabek. Badan POM dalam press release-nya menyatakan bahwa vaksin Pfizer memiliki efikasi 100% mencegah Covid-19 pada remaja usia 12-15 tahun, sedangkan pada usia 16 tahun ke atas memiliki efikasi 95,5% mencegah Covid-19.
Dengan demikian, klaim Vaksin Pfizer membuat orang lebih rentan tertular Covid-19 merupakan hoaks dengan kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Fathia IS.
Klaim tersebut salah. Faktanya, hasil penelitian tidak menemukan bahwa penerima vaksin Pfizer akan meningkatkan peluang terpapar Covid-19, justru sebaliknya.
Klaim tersebut salah. Faktanya, hasil penelitian tidak menemukan bahwa penerima vaksin Pfizer akan meningkatkan peluang terpapar Covid-19, justru sebaliknya.
Rujukan
- https://factcheck.afp.com/
- http%253A%252F%252Fdoc.afp.com%252F9PB64D-1
- https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20210821/3938331/vaksin-pfizer-tahap-awal-diperuntukan-untuk-masyarakat-umum-di-jabodetabek/
- https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/618/Badan-POM-Terbitkan-EUA-Comirnaty–Vaksin-COVID-19-Pfizer—Sebagai-Vaksin-Kedua-Platform-mRNA.html
Halaman: 6583/8694



