[SALAH] Akun Facebook Wakil Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/05/2021
Berita
Beredar akun Facebook Wakil Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin. Akun tersebut menggunakan foto profil Taufik memakai kemeja putih, dengan foto sampul Bupati dan Wakil Bupati Asahan menggunakan pakaian dinas.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, melansir dari topsatu.com, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Asahan H. Rahmat Hidayat Siregar, S.Sos, MSi, mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dan waspada apabila menerima pesan dari akun yang mengatasnamakan Wakil Bupati Asahan.
Sejauh ini belum menerima laporan tentang adanya korban. Sebelumnya modus penipuan atas nama Wakil Bupati Asahan juga pernah beredar dengan media sosial Whatsapp.
Dengan demikian, akun Facebook Wakil Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin dapat dikategorikan sebagai Konten Tiruan/Imposter Content.
Sejauh ini belum menerima laporan tentang adanya korban. Sebelumnya modus penipuan atas nama Wakil Bupati Asahan juga pernah beredar dengan media sosial Whatsapp.
Dengan demikian, akun Facebook Wakil Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin dapat dikategorikan sebagai Konten Tiruan/Imposter Content.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Rahmah an nisaa (Uin Sunan Ampel Surabaya).
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Asahan H. Rahmat Hidayat Siregar, S.Sos, MSi, mengatakan bahwa itu bukan akun Wakil Bupati Asahan dan mengimbau agar masyarakat berhati-hati.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Asahan H. Rahmat Hidayat Siregar, S.Sos, MSi, mengatakan bahwa itu bukan akun Wakil Bupati Asahan dan mengimbau agar masyarakat berhati-hati.
Rujukan
[SALAH] Akun Facebook Bupati Tuban “Aditia Halindra Faridzky”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/05/2021
Berita
Beredar akun Facebook Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, memposting program pinjaman dana dengan 0 persen bunga dan 50 persen untuk subsidi setiap bulannya, serta meminta biaya admin 10 persen dari pinjaman yang dibayarkan di awal.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, melansir dari suaraindonesia.co.id, Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kecamatan Rengel, Susilowati mengatakan bahwa itu hoaks.
“Saya sudah konfirmasi ke mas Lindra bahwa itu hoaks,” ucap Susilowati pada (09/05/21).
Aditya menambahkan banyak modus penipuan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab mengatasnamakan dirinya dan lebih berhati-hati khususnya warga Tuban atas penipuan tersebut.
Dengan demikian, akun Facebook Bupat Kuningan Aditia Lindra Faridzky dapat dikategorikan sebagai Konten Tiruan/Imposter Content.
“Saya sudah konfirmasi ke mas Lindra bahwa itu hoaks,” ucap Susilowati pada (09/05/21).
Aditya menambahkan banyak modus penipuan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab mengatasnamakan dirinya dan lebih berhati-hati khususnya warga Tuban atas penipuan tersebut.
Dengan demikian, akun Facebook Bupat Kuningan Aditia Lindra Faridzky dapat dikategorikan sebagai Konten Tiruan/Imposter Content.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Rahmah an nisaa (Uin Sunan Ampel Surabaya).
Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kecamatan Rengel, Susilowati mengatakan melalui suaraindonesia.co.id bahwa akun tersebut adalah palsu.
Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kecamatan Rengel, Susilowati mengatakan melalui suaraindonesia.co.id bahwa akun tersebut adalah palsu.
Rujukan
[SALAH] Video “Warga Malaysia antri nginep di stadion shah alam…semua positif covid 19”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/05/2021
Berita
Akun Facebook Pinang Muda (fb.com/awal.ludinn.56) pada 15 Mei 2021 mengunggah sebuah video ke grup InfoPinang dengan narasi sebagai berikut:
“Warga Malaysia antri nginep di stadion shah alam…semua positif covid 19”
Dalam video tersebut, tampak antrian panjang ratusan orang yang memasuki sebuah gedung stadion. Banyak di antara mereka yang membawa tas ransel, bahkan koper. Terlihat pula sejumlah petugas kesehatan yang memakai pakaian hazmat lengkap dengan masker dan faceshield.
“Warga Malaysia antri nginep di stadion shah alam…semua positif covid 19”
Dalam video tersebut, tampak antrian panjang ratusan orang yang memasuki sebuah gedung stadion. Banyak di antara mereka yang membawa tas ransel, bahkan koper. Terlihat pula sejumlah petugas kesehatan yang memakai pakaian hazmat lengkap dengan masker dan faceshield.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, adanya video yang diklaim sebagai warga Malaysia yang antri menginap di Stadion Shah Alam karena positif Covid-19 adalah klaim yang menyesatkan.
Faktanya, bukan untuk menginap. Mereka mengantri hanya untuk menjalani pemeriksaan Covid-19. Stadion Malawati yang berada di Shah Alam tersebut bukan pusat karantina atau isolasi bagi pasien Covid-19, melainkan menjadi Pusat Penilaian Covid-19.
Video yang identik diunggah oleh kanal Youtube Harian Metro pada 16 Mei 2021 dengan judul “Sesak di CAC Stadium Melawati memang senario biasa”. Video ini juga dimuat di artikel berjudul “Proses biasa CAC di Stadium Malawati, tidak ada yang pelik [METROTV]” yang terbit di situs hmetro.com.my.
“Pusat Penilaian Covid-19 (CAC) di Stadium Malawati, Seksyen 13, di sini, bukan pusat penahanan dan rawatan ke atas pesakit Covid-19 seperti yang digembar-gemburkan oleh segelintir pihak. Sebaliknya, lokasi terbabit hanyalah pusat penilaian bagi pesakit Covid-19 sebelum dihantar ke hospital atau Pusat Kuarantin dan Rawatan Covid-19 Berisiko Rendah (PKRC) di Taman Ekspo Pertanian Malaysia (MAEPS), di Serdang.” tulis laporan tersebut.
Dilansir dari Tempo, Pusat Kesiapsiagaan dan Tindakan Cepat Krisis (CPRC) Selangor mengatakan bahwa video yang viral itu menunjukkan antrian warga yang akan menjalani penilaian kesehatan di CAC Stadion Melawati, Shah Alam.
Mereka menjalani asesmen yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan terkait apakah harus menjalani perawatan di rumah sakit, masuk ke pusat karantina, atau cukup hanya menjalani isolasi di rumah. Jabatan Kesihatan Negeri (JKN) Selangor menjelaskan CAC ini dioperasikan seiring dengan melonjaknya kasus Covid-19 di sana. Antrian terjadi karena warga harus menjalani rapid test terlebih dahulu untuk penapisan (screening).
Selain itu, dikutip dari kantor berita Malaysia, Bernama, dokter kesehatan masyarakat Dinas Kesehatan Petaling, Faridah Amin, juga menjelaskan bahwa Stadion Malawati tidak digunakan sebagai pusat karantina atau isolasi pasien Covid-19, melainkan hanya sebagai Pusat Penilaian Covid-19.
“Pasien positif Covid-19 dinilai kesehatannya dan tergantung kondisi setiap orang, apakah akan menjalani isolasi di rumah, di Pusat Karantina dan Pusat Perawatan Risiko Rendah (PKRC) di Malaysia Agro Exposition Park di Serdang, atau harus dirawat di rumah sakit,” katanya.
Faktanya, bukan untuk menginap. Mereka mengantri hanya untuk menjalani pemeriksaan Covid-19. Stadion Malawati yang berada di Shah Alam tersebut bukan pusat karantina atau isolasi bagi pasien Covid-19, melainkan menjadi Pusat Penilaian Covid-19.
Video yang identik diunggah oleh kanal Youtube Harian Metro pada 16 Mei 2021 dengan judul “Sesak di CAC Stadium Melawati memang senario biasa”. Video ini juga dimuat di artikel berjudul “Proses biasa CAC di Stadium Malawati, tidak ada yang pelik [METROTV]” yang terbit di situs hmetro.com.my.
“Pusat Penilaian Covid-19 (CAC) di Stadium Malawati, Seksyen 13, di sini, bukan pusat penahanan dan rawatan ke atas pesakit Covid-19 seperti yang digembar-gemburkan oleh segelintir pihak. Sebaliknya, lokasi terbabit hanyalah pusat penilaian bagi pesakit Covid-19 sebelum dihantar ke hospital atau Pusat Kuarantin dan Rawatan Covid-19 Berisiko Rendah (PKRC) di Taman Ekspo Pertanian Malaysia (MAEPS), di Serdang.” tulis laporan tersebut.
Dilansir dari Tempo, Pusat Kesiapsiagaan dan Tindakan Cepat Krisis (CPRC) Selangor mengatakan bahwa video yang viral itu menunjukkan antrian warga yang akan menjalani penilaian kesehatan di CAC Stadion Melawati, Shah Alam.
Mereka menjalani asesmen yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan terkait apakah harus menjalani perawatan di rumah sakit, masuk ke pusat karantina, atau cukup hanya menjalani isolasi di rumah. Jabatan Kesihatan Negeri (JKN) Selangor menjelaskan CAC ini dioperasikan seiring dengan melonjaknya kasus Covid-19 di sana. Antrian terjadi karena warga harus menjalani rapid test terlebih dahulu untuk penapisan (screening).
Selain itu, dikutip dari kantor berita Malaysia, Bernama, dokter kesehatan masyarakat Dinas Kesehatan Petaling, Faridah Amin, juga menjelaskan bahwa Stadion Malawati tidak digunakan sebagai pusat karantina atau isolasi pasien Covid-19, melainkan hanya sebagai Pusat Penilaian Covid-19.
“Pasien positif Covid-19 dinilai kesehatannya dan tergantung kondisi setiap orang, apakah akan menjalani isolasi di rumah, di Pusat Karantina dan Pusat Perawatan Risiko Rendah (PKRC) di Malaysia Agro Exposition Park di Serdang, atau harus dirawat di rumah sakit,” katanya.
Kesimpulan
BUKAN untuk menginap. Mereka mengantri hanya untuk menjalani pemeriksaan Covid-19. Stadion Malawati yang berada di Shah Alam tersebut bukan pusat karantina atau isolasi bagi pasien Covid-19, melainkan menjadi Pusat Penilaian Covid-19.
Rujukan
- https://www.youtube.com/watch?v=aD2VKFv57lc (Arsip: archive.ph/wip/Z7kM3)
- https://www.hmetro.com.my/mutakhir/2021/05/706637/proses-biasa-cac-di-stadium-malawati-tidak-ada-yang-pelik-metrotv
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1373/sesat-warga-malaysia-antri-menginap-di-stadion-shah-alam-karena-positif-covid-19
- https://www.bernama.com/en/news.php?id=1961910
Keliru, Klaim Covid-19 Hanya Tipuan Yahudi untuk Atur Ibadah Umat Islam
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 20/05/2021
Berita
Video berdurasi sekitar 2,5 menit mengenai Covid-19 viral di WhatsApp dalam sepekan terakhir. Di bagian awal, terdapat cuplikan yang menunjukkan belasan orang berpakaian hazmat sedang menari bersama. Di sekeliling mereka, terdapat puluhan pria yang mengenakan jas serta topi hitam yang identik dengan pakaian yang biasa dikenakan oleh kaum Yahudi.
Video ini memuat narasi bahwa Covid-19 hanya tipuan dari orang-orang yang berada di dalam video itu untuk mengatur ibadah umat Islam. “Tujuannya berhasil. Mereka bergembira, agenda terlaksana, membuat ummat kalang kabut. Mereka telah berjaya mengatur ibadah umat Islam dan lainnya melalui issue Corona," demikian teks pembuka yang tercantum di video ini.
Gambar tangkapan layar video yang beredar di WhatsApp yang berisi klaim keliru terkait Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, video tersebut berisi kompilasi dari video-video dengan konteks yang berbeda-beda. Tidak satu pun dari video-video itu yang menunjukkan bahwa Covid-19 hanya tipuan Yahudi. Berikut penjelasan atas video-video tersebut:
Video 1
Video ini tayang pertama kali di kanal YouTube Szymon S pada 13 Oktober 2020. Video itu diberi judul "Covid party in Jewish style - Coffin Dance form Israel". Akun ini menuliskan keterangan “We Jews have our own ways of having fun!”.
Video tersebut memperlihatkan sejumlah tenaga kesehatan yang melakukan tarian Coffin (Coffin Dance) setelah mereka selesai beraktivitas. Coffin Dance, atau dikenal pula dengan sebutan tarian pembawa keranda atau joget peti, adalah tarian yang dilakukan di Ghana oleh para pembawa keranda sebagai sebuah upacara kematian yang bernuansa sukacita. Tarian ini menjadi populer di tengah pandemi Covid-19, dan banyak memiliki beragam versi, seperti versi remix yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Israel.Video 2
Foto ini menunjukkan bagian dari aksi simbolik untuk memprotes pembukaan ekonomi tanpa bantuan di Torch of Friendship Park, Florida, Amerika Serikat, pada 27 Mei 2020. Aksi dilakukan dengan menunjukkan proses pemakaman oleh anggota komunitas dan aktivis sosial di seluruh Florida, termasuk kota-kota seperti Miami, Jacksonville, Orlando, dan Tampa, untuk menghormati nyawa yang hilang karena Covid-19 dan untuk meminta pertanggungjawaban Gubernur Florida Ron DeSantis dan Presiden AS ketika itu, Donald Trump, atas kecerobohan dan kelambanan mereka. Foto ini diambil oleh fotografer EPA-EFE, Cristobal Herrera.
Video 3
Dilansir dari AFP, foto ini identik dengan foto yang diterbitkan oleh surat kabar Belanda, NRC, dalam artikelnya pada 4 Maret 2021. Artikel tersebut bercerita tentang kehidupan sehari-hari paramedis Amsterdam selama pandemi Covid-19. Jurnalis yang meliput hal tersebut juga menjelaskan bahwa, selama memproduksi laporan ini, seorang pria mendekati mereka dan meneriakkan "berita palsu".
Video 4
Video ini pernah beredar pada April 2021, dan telah diverifikasi oleh Tempo. Video tersebut bukan video tumpukan jenazah pasien Covid-19 palsu yang telah dipersiapkan. Kantong-kantong plastik hitam berisi manusia yang terlihat dalam video tersebut dipakai dalam syuting video klip lagu rapper asal Rusia, Dmitry Nikolayevich Kuznetsov alias Husky.
Video 5
Video ini menunjukkan bagian dari proses pembuatan video promosi rumah sakit di Shamir Assaf Harofeh, Be'er Ya'akov, Israel. Dikutip dari Francetvinfo.fr, juru bicara rumah sakit, Liad Aviel, mengatakan bahwa video tersebut direkam di lokasi mereka pada 3 dan 4 Maret 2021, beberapa minggu setelah layanan darurat baru di sana diresmikan."Apa yang Anda lihat di video adalah instalasi darurat baru kami di tempat parkir kami. Kami ingin menunjukkan dengan gambar bagaimana kami dapat mengubah tempat parkir menjadi struktur medis darurat. Sangat disayangkan bahwa seseorang mencoba membuat video ini menjadi alat anti-vaksin," ujar Aviel. "Kami tidak ada hubungannya dengan itu, dan kami menentang teori konspirasi ini." Video promosi tersebut juga diunggah di kanal YouTube rumah sakit ini.
Video 6
Video ini pernah beredar pada awal Mei 2021, dan telah diverifikasi oleh Tempo. Peristiwa dalam video itu merupakan aksi protes oleh mahasiswa kedokteran UCV di depan Hospital Universitario de Caracas (HUC), Venezuela. Mereka berunjuk rasa dengan membawa properti kantong jenazah berisi kertas. Para mahasiswa itu memprotes banyaknya tenaga kesehatan yang meninggal karena Covid-19 dan terbatasnya vaksin Covid-19 bagi mereka. Aksi mereka kemudian didatangi sekelompok orang yang merusak properti yang digunakan dalam demonstrasi.
Video 7
Dilansir dari Agencia Lupa dan Stop Fake, video ini memperlihatkan bagian dari produksi laporan khusus oleh TV Vitoria di Brasil tentang rutinitas kerja para penggali kubur. Tim ini tidak pernah mensimulasikan penguburan orang yang meninggal karena penyakit. Pada 30 Maret 2021, tim itu pergi ke pemakaman kota Barra do Jucu di Vila Velha untuk melakukan wawancara dengan pengelola. Idenya adalah memperlihatkan hal-hal yang diperlukan selama proses pemakaman.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Covid-19 hanya tipuan dari Yahudi untuk mengatur ibadah umat Islam, keliru. Video yang digunakan untuk menyebarkan klaim tersebut berisi kompilasi dari video-video dengan konteks yang berbeda-beda. Tidak satu pun dari video-video itu yang menunjukkan bahwa Covid-19 hanya tipuan Yahudi.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://www.tempo.co/tag/islam
- https://www.youtube.com/watch?v=9TDbpCIU_zU
- https://www.tempo.co/tag/pandemi-covid-19
- https://webgate.epa.eu/?16634349628007773501&MEDIANUMBER=56113766
- https://factuel.afp.com/non-cette-video-ne-prouve-pas-que-les-medias-manipulent-les-images-de-la-pandemie
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1317/keliru-klaim-ini-video-tumpukan-jenazah-covid-19-yang-salah-satunya-merokok
- https://www.francetvinfo.fr/sante/maladie/coronavirus/non-cette-video-ne-prouve-pas-que-les-malades-du-covid-19-sont-des-acteurs_4323865.html
- https://www.youtube.com/watch?v=A5lzK8aTYQg
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1355/keliru-klaim-ini-video-ratusan-kantong-jenazah-covid-19-palsu-yang-berisi-kertas
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://piaui.folha.uol.com.br/lupa/2021/04/01/verificamos-cemiterio-prova-midia/
- https://stopfake.kz/kk/archives/5611
- https://www.tempo.co/tag/yahudi
Halaman: 6694/8574




