• [SALAH] Sebuah Peralatan Telekomunikasi Bertuliskan “COV-19” Siap Dipasang di Tiang Pemancar 5G

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 29/04/2021

    Berita

    Beredar video di berbagai media sosial, memperlihatkan seorang petugas jaringan telekomunikasi membawa sebuah circuit board (papan sirkuit) bertuliskan ‘COV-19’. Ia kemudian mengklaim bahwa papan sirkuit tersebut mengandung virus penyebab COVID-19 dan akan siap dipasang di tiang untuk dipancarkan ke seluruh wilayah Inggris selama lockdown.

    Dalam video pria tersebut mengatakan:
    “Saya benar-benar tidak tau, perusahaan mana yang memproduksi papan sirkuit ber-merek COV-19, tapi itulah kenyataan yang tertulis di alat ini. Saya bukanlah ahli teori konspirasi, tapi saya sudah membaca dari beragam sumber online tentang virus Corona dan COVID-19, tapi kenapa mereka memasang papan sirkuit dengan nama seperti itu (COV-19) di atas tiang pemancar 5G?”

    Hasil Cek Fakta

    Setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, diketahui bahwa papan sirkuit bertuliskan ‘COV-19’ bukan bagian dari tiang pemancar 5G, namun berasal dari komponen TV kabel. Tidak diketahui pula apakah pria dalam video tersebut merupakan pertugas jaringan 5G.

    Dilansir dari Reuters, diketahui bahwa papan sirkuit di video berasal dari perusahaan telekomunikasi seluler bernama “Virgin Media”. Juru bicara Virgin Media membenarkan bahwa papan sirkuit tersebut diproduksi dari perusahaannya dan sebelumnya digunakan untuk komponen TV kabel yang sudah usang.

    Lebih lanjut, Virgin Media menyatakan, tulisan ‘COV-19’ di papan sirkuit tersebut adalah PALSU. Pihaknya tidak pernah mencetak, menuliskan, mencap komponennya dengan tulisan ‘COV-19’. Selain itu papan sirkuit tersebut juga tidak digunakan untuk infrastruktur jaringan seluler manapun, termasuk jaringan 5G.

    Reuters melanjutkan penelusuran dengan membandingkan beberapa komponen papan sirkuit di video dengan papan sirkuit asli milik Virgin Media. Hasilnya beberapa komponen dan tata letak seperti lubang kabel berwarna abu-abu, sama persis seperti milik Virgin Media.

    Video berisikan hoax COVID-19 yang dipancarkan dari menara 5G sebenarnya sudah banyak beredar sejak awal pandemi tahun 2020, namun tahun ini hoax serupa beredar kembali. Meski begitu, sampai dengan saat ini tidak ada bukti bahwa COVID-19 berasal dari jaringan 5G ataupun disebarkan lewat tiang jaringan 5G.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa, peralatan telekomunikasi bertuliskan ‘COV-19’ yang siap dipadang di jaringan 5G adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).
    Kit yang ditunjukkan petugas tersebut bukan untuk jaringan 5G. Diketahui kit berasal dari perusahaan telekomunikasi seluler, Virgin Media, yang dipergunakan untuk TV kabel.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Klaim Ini Video Proses Evakuasi Jenazah Awak KRI Nanggala 402

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/04/2021

    Berita


    Video berjudul "KRI Nanggala Hancur.! Detik Detik Proses Evakuasi jenazah Awak KRI Nanggala 402" beredar YouTube. Video ini beredar setelah, pada 21 April 2021 lalu, kapal selam KRI Nanggala 402 milik TNI Angkatan Laut hilang kontak saat mengikuti latihan tempur di perairan Bali, lalu dinyatakan tenggelam ke dasar laut.
    Dalamthumbnailvideo itu, terdapat teks yang berbunyi "Hancur Berkeping Keping Ya Allah Kondisi Kru Memprihatinkan". Kanal ini mengunggah video berdurasi 10 menit 5 detik tersebut pada 27 April 2021. Hingga artikel ini dimuat, video tersebut telah ditonton lebih dari 4,3 juta kali dan disukai lebih dari 37 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar video yang beredar di YouTube yang berisi klaim keliru terkait evakuasi kapal selam KRI Nanggala 402 yang tenggelam di perairan Bali.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo mula-mula menonton video itu secara menyeluruh. Tempo juga memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengantool InVid, lalu gambar-gambar ini ditelusuri denganreverse image tool Google dan Yandex.
    Hasilnya, ditemukan bahwa tidak satu pun cuplikan dalam video tersebut yang memperlihatkan proses evakuasi jenazah awak KRI Nanggala 402. Video tersebut merupakan gabungan dari beberapa cuplikan yang berbeda.
    Di bagian awal, video itu memperlihatkan pernyataan Ade Supandi, Kepala Staf TNI AL pada periode 2014-2018, yang diwawancarai oleh CNN Indonesia. Di kanal YouTube-nya, CNN Indonesia mengunggah video itu pada 26 April 2021 dengan judul “Evakuasi Badan Kapal KRI Nanggala 402”.
    Cuplikan video berikutnya memuat pernyataan ahli hidrografi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Wiwin Windupranata, dan pengamat militer Universitas Indonesia (UI), Andi Widjajanto. Video ini diunggah oleh Kompas TV ke kanal YouTube-nya pada 26 April 2021 dengan judul, “Penjelasan Ahli Hidrografi Soal Kemungkinan Evakuasi Jenazah dan Pengangkatan Badan KRI Nanggala 402”.
    Selanjutnya, merupakan cuplikan yang memperlihatkan suasana konferensi pers terkait KRI Nanggala 402 yang dimuat oleh Kompas TV di kanal YouTube-nya pada 24 April 2021. Video itu berjudul “Ini Penampakan 6 Serpihan Barang yang Diduga Milik Kapal Selam KRI Nanggala 402”.
    Terkait narasi yang terdapat dalam video itu, yang dibacakan oleh narator, juga berasal dari beberapa artikel yang berbeda. Narasi pada bagian awal video identik dengan isi artikel Jpnn.com pada 25 April 2021 yang berjudul “TB Hasanuddin Ungkap Fakta Mengejutkan tentang KRI Nanggala 402”.
    Narasi berikutnya merupakan pernyataan duka cita dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dimuat oleh Sindonews.com pada 25 April 2021 dalam artikelnya yang berjudul “53 Awak KRI Nanggala-402 Gugur, Kapolri: Ini Kesedihan dan Kehilangan Bagi Polri”.
    Adapun narasi yang terdapat di akhir video identik dengan isi artikel yang dimuat oleh Rmol.id pada 26 April 2021. Artikel ini berjudul “Tenggelamnya KRI Nanggala-402 Dinilai Bertolak Belakang Dengan Anggaran Besar Kemenhan, GMNI: Presiden Harus Evaluasi Prabowo”.
    Terkaitthumbnail video tersebut, yang memuat sebuah foto yang memperlihatkan sebuah proses evakuasi di bawah laut, foto itu telah beredar di internet setidaknya sejak 2016 silam, jauh sebelum peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala 402 pada 21 April 2021 lalu.
    Foto itu pernah diunggah di situs Imgur.com pada 23 Oktober 2016. Foto tersebut diberi keterangan "Extracting corpse from underwater airplane wreck, training exercise".
    Evakuasi KRI Nanggala 402
    Hingga artikel ini dimuat, TNI AL dan tim evakuasi belum melaporkan temuan jenazah awak kapal selam KRI Nanggala. Pada 25 April 2021, Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Yudo Margono menyatakan bakal mengupayakan pengangkatan badan KRI Nanggala. "Kami akan koordinasikan dengan pihak terkait, khususnya International Submarine Escape and Rescue Liaison Office (Ismerlo), apa yang bisa dilakukan dengan kondisi seperti ini," ujarnya.
    Kerja sama dengan Ismerlo disebut sangat diperlukan karena lokasi tenggelamnya kapal selam itu berada di kedalaman 838 meter. Butuh upaya dan fasilitas yang jauh lebih maju untuk mengangkat kapal dari laut dalam seperti itu. Yudo berkomitmen untuk mengangkat kapal ini. Secara lebih spesifik, keinginan mengangkat badan kapal selam itu juga muncul dari keluarga besar Korps Hiu Kencana, satuan kapal selam di TNI AL.
    Tawaran bantuan dari negara-negara yang tergabung dalam Ismerlo sebenarnya juga telah ada. Namu,n Yudo mengatakan pengajuan bantuan merupakan keputusan pemerintah dan harus mendapat persetujuan dari petinggi negara. "Saya akan mengajukan kepada Panglima TNI dan nanti akan berjenjang ke atas dan tentunya sudah ada keputusan kita akan angkat kapal itu," kata Yudo.
    Terkait jenazah awak kapal KRI Nanggala, seperti dikutip dari Kontan.co.id, akan dievakuasi ke Surabaya, Jawa Timur. Menurut Yudo, proses evakuasi juga akan dikoordinasikan dengan para pihak terkait. "Evakuasi nanti kita ke Surabaya, atau sesuai permintaan keluarga karena di Banyuwangi ini ada tiga orang juga," tuturnya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video tersebut merupakan video proses evakuasi jenazah awak KRI Nanggala 402, keliru. Tidak satu pun cuplikan dalam video tersebut yang memperlihatkan proses evakuasi jenazah awak kapal selam KRI Nanggala. Hingga artikel ini dimuat pun, TNI AL dan tim evakuasi belum melaporkan temuan jenazah awak kapal selam KRI Nanggala.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, KRI Nanggala 402 Tenggelam karena Ranjau Bawah Laut Militer Cina

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 28/04/2021

    Berita


    Klaim bahwa ditemukan banyak ranjau bawah laut milik militer Cina di lokasi tenggelamnya kapal selam milik TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala 402, beredar di media sosial. Klaim tersebut beredar setelah, pada 21 April 2021 lalu, KRI Nanggala 402 hilang kontak saat mengikuti latihan tempur di perairan Bali, lalu dinyatakan tenggelam ke dasar laut.
    Narasi itu terdapat dalam gambar tangkapan layar sebuah cuitan di Twitter pada 26 April 2021. "Saat ini, petinggi TNI digegerkan dengan temuan banyaknya ranjau bawah laut di sekitar lokasi tenggelamnya KRI Nanggala 402 | Hasil pantauan pesawat intai Poseidon P-8 Amerika simpulkan ranjau tersebut ditanam Angkatan Laut komunis Cina | Laut Indonesia sudah jebol | *infovalid," demikian narasi dalam cuitan tersebut.
    Di Facebook, akun ini membagikan gambar tangkapan layar itu pada tanggal yang sama. Akun tersebut menulis, "Ngurusin radikal radikul mulu sih." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan 147 reaksi dan 23 komentar serta dibagikan sebanyak 161 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait tenggelamnya KRI Nanggala 402, kapal selam milik TNI Angkatan Laut, di perairan Bali pada 21 April 2021.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo menghubungi Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono. Dia membantah klaim dalam gambar tangkapan layar tersebut. Julis juga membantah KRI Nanggala tenggelam akibat bom, termasuk ranjau bawah laut. "Kalau (karena) bom, pasti ada lompatan air, pasti sonar menangkapnya," katanya pada 28 April 2021.
    Seperti dilansir dari Kontan.co.id, saat latihan tempur di perairan Bali berlangsung, TNI AL banyak mengerahkan kapal perang, termasuk yang memiliki sonar. Artinya, sonar tersebut seharusnya menangkap suara apabila KRI Nanggala 402 meledak. "Bahkan oleh telinga-mata pun bisa terlihat bahwa air itu akan naik ke atas sedikit," kata Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) TNI AL Laksamana Muda TNI Muhammad Ali pada 27 April 2021.
    Julius melanjutkan, saat mulai menyelam, semua lampu yang ada di KRI Nanggala masih menyala. Artinya, tidak terjadi blackout pada kapal selam tersebut. Jika terkena bom, menurut Julius, "Kapalnya pasti bubar, banyak serpihan saat itu juga. Kalau meledak karena ranjau, sea rider pun pasti terbalik," ujarnya.
    Dikutip dari Koran Tempo edisi 25 April 2021, KRI Nanggala 402 hilang kontak saat geladi resik latihan penembakan torpedo pada 21 April dini hari. Kapal selam berjenis U-209 bikinan Jerman Barat pada 1978 itu sudah berlayar di perairan utara Pulau Bali sejak 20 April lalu. Kapal tersebut bersiap menggelar latihan perang rutin yang akan dihelat dua hari berikutnya.
    Sesuai dengan rencana geladi resik latihan perang, KRI Nanggala 402 akan menembakkan torpedo berukuran 21 inci. Lalu, KRI Layang akan meluncurkan peluru kendali C802. Target keduanya sama, yaitu bekas KRI Karang Unarang. Geladi latihan itu dimulai pada 21 April pukul 03.00 Wita. Saat itu, KRI Nanggala meminta izin menyelam dengan kedalaman 13 meter dan bersiap menembakkan torpedo.
    Selama satu jam, para awak sea rider dan otoritas latihan menunggu lesatan torpedo, tapi tak juga muncul. Suasana semakin mencekam saat komunikasi radio dengan KRI Nanggala terputus. Padahal, kru KRI Nanggala seharusnya lebih dulu berkomunikasi di radio untuk meminta izin penembakan torpedo. "Dipanggil-panggil sudah tidak merespons. Jalur komunikasi utama dan jalur cadangan terputus," kata Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Yudo Margono.
    Dalam konferensi pers pada 24 April 2021, dikutip dari Liputan6.com, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto pun telah memastikan KRI Nanggala 402 tidak meledak. Dia menduga kapal selam itu mengalami keretakan dan tenggelam ke dasar laut. "Tidak meledak. Kalau meledak, pasti sudah buyar semua dan suara ledakannya terdeteksi. Kemungkinan mengalami keretakan," ujar Hadi.
    Hingga saat ini, penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402 masih diinvestigasi. Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Yudo Margono, dalam konferensi pers pada 25 April 2021, mengatakan bahwa investigasi baru bisa dilakukan setelah badan kapal berhasil diangkat ke permukaan. Namun, hal ini juga bukan hal yang mudah, karena lokasi tenggelamnya kapal berada di laut dalam.
    Meski begitu, Yudo masih meyakini tenggelamnya KRI Nanggala bukan dikarenakan kesalahan manusia atau human error. Ia menyebut, sesaat sebelum hilang kontak, seluruh peralatan kapal selam itu terpantau berfungsi dengan baik. Saat proses menyelam, kata Yudo, KRI Nanggala sudah melalui prosedur yang benar.
    Kru pun terpantau menjalankan perannya sesuai tugas masing-masing. Saat mulai menyelam pun diketahui semua lampu masih menyala, yang berarti tidak terjadi blackout. "Sudah kita evaluasi dari awal kejadian, tapi tentunya saya berkeyakinan ini bukan human error tapi lebih pada faktor alam," kata Yudo.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa kapal selam milik TNI AL, KRI Nanggala 402, tenggelam akibat ranjau bawah laut militer Cina, keliru. Kadispenal Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono telah membantah bahwa KRI Nanggala tenggelam akibat bom, termasuk ranjau bawah laut. Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto pun telah memastikan KRI Nanggala tidak meledak. Hingga artikel ini dimuat, penyebab tenggelamnya KRI Nanggala masih diinvestigasi.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Surat “Pendataan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi Tahun 2021”

    Sumber: Tangkapan Layar
    Tanggal publish: 28/04/2021

    Berita

    Kepada Yth,
    Bpk/Ibu.
    Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Seluruh Indonesia
    Di –
    Tempat.

    Dalam rangka meningkatkan kinerja dan sistem informasi penyelenggaraan Perguruan Tinggi, dengan ini kami sampaikan bahwa sesuai dengan Permendikbud Nomor 31 Tahun 2021, Tgl 05 April 2021, tentang data Tenaga Pengajar, Pihak Penyelenggara Perguruan Tinggi WAJIB menyampaikan data dan informasi Tenaga Pengajar, serta memastikan kebenaran dan ketepatannya melalui Pusat Data dan Informasi Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang bertujuan untuk memonitoring kinerja Penyelenggaraan Perguruan Tinggi dan memberikan informasi perkembangan penyelenggaraan Perguruan Tinggi di tanah air.

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah surat perihal “Pendataan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi Tahun 2021”. Terlihat pada kertas surat tersebut narasi yang menyebutkan bahwa Ditjen Dikti Kemendikbud RI meminta Perguruan Tinggi untuk melakukan pendataan tenaga pengajar guna meningkatkan kinerja dibuat pada tanggal 19 April 2021.

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa surat tersebut merupakan surat palsu. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Instagram resminya @ditjen.dikti menegaskan bahwa surat tersebut tidak benar.

    Bukti lainnya menunjukan, alamat email yang tertera dalam surat berbeda dengan alamat email resmi Ditjen Dikti. Dalam surat tertulis bahwa laporan bisa dikirimkan ke email pusdatin.dikti.kemdikbud@gmail.com. Sedangkan, dilansir dari lama resmi pddikti.kemendikbud.go.id, alamat email resmi Pangkalan Data Pendidikan Tinggi adalah pddikti@kemendikbud.go.id.

    Maka dari itu, Dirjen Dikti menghimbau agar masyarakat waspada dan tetap bijak dalam menyikapi segala bentuk informasi dengan tidak menyebarkan kembali surat tersebut.

    Berikut klarifikasi lengkap oleh Ditjen Dikti:

    “Halo #InsanDikti, surat palsu yang mengatasnamakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi beredar lagi di kalangan masyarakat melalui media sosial.

    Surat tersebut berisikan informasi yang tidak benar mengenai Pendataan Tenaga pengajar Perguruan Tinggi Tahun 2021.

    Mari bantu sebarkan informasi ini ke #InsanDikti lainnya untuk menghentikan informasi yang tidak benar ini.”

    Mengacu kepada seluruh referensi, surat Ditjen Dikti terkait “Pendataan Tenaga Pengajar Perguruan Tinggi Tahun 2021” adalah hoaks dalam kategori konten tiruan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Fathia Islamiyatul Syahida (Universitas Pendidikan Indonesia)

    Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui akun media sosial resminya menegaskan bahwa surat tersebut adalah palsu (Hoaks).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini