• [SALAH] Tangkapan layar KOMPAS.com “Eksclusive Kapal selam Cina 093B KRI Nanggala 402”

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 28/04/2021

    Berita

    “24 April 2021

    KRI Nanggala 402 adalah salah
    satu Kapal Selam jenis terbaik
    yang di punyai Indonesia. Kapal
    Selam ini buatan German, di
    beli pada jaman Pemerintahan SBY. Namun KRI Nanggala 402
    ini kini hancur di Torpedo oleh Kapal Selam Cina 093B. Detik-
    detik sebelum kejadian Kapten
    M. Rifan Jaya yang pimpin
    patroli rutin di Laut, terdengar
    minta izin darurat untuk menembakan Torpedo, namun
    izin tidak di berikan oleh Mabes Tni. Dari hasil penelusuran
    kami Tim Kompas, ternyata KRI
    Nanggala 402 telah berhadapan
    dengan Kapal Selam Cina 093B
    yang menyusup ke dalam
    perairan laut Indonesia.
    Setelah kami Konfirmasi
    kepada Menkopolhukam, beliau
    mengatakan:
    *Memang benar kondisi KRI
    Nanggala 402 sedang
    berhadapan dengan Kapal
    Selam Cina 093B, namun itu
    untuk Latihan bersama.”

    (di bagian kolom sebelah kiri).

    “Eksclusive

    (foto)
    Kapal selam Cina 093B

    (foto)
    KRI Nanggala 402

    (foto Mahfud MD)

    (di bagian kolom sebelah kanan).

    Hasil Cek Fakta

    SUMBER membagikan Tangkapan layar PALSU yang mencatut KOMPAS.com. Indeks berita KOMPAS.com pada 24 April 2021. Terlihat bahwa artikel dipublikasikan dengan tanggal dan jam, TIDAK hanya tanggal seperti tangkapan layar PALSU oleh SUMBER.

    Salah satu artikel di turnbackhoax.id (7 Juni 2020) dengan gaya dan struktur pelintiran yang sama, perbedaannya media yang dicatut adalah CNN Indonesia.

    Kesimpulan

    Tangkapan layar PALSU. FAKTANYA, setiap artikel di KOMPAS.com diterbitkan dengan jam publikasi, TIDAK hanya tanggal. Selain itu, gaya dan struktur tangkapan layar palsu yang sama sebelumnya pernah diperiksa dan dimuat di beberapa artikel di turnbackhoax.id, dengan mencatut CNN Indonesia.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Versi Baru WhatsApp dengan Warna Merah Muda

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 28/04/2021

    Berita

    Beredar sebuah tautan melalui pesan berantai di WhatsApp mengenai peluncuran versi baru WhatsApp. Dalam tautan tersebut, WhatsApp disebut sudah meluncurkan versi baru WhatsApp dengan warna merah muda. Pengguna dapat mengunduh aplikasi melalui tautan yang disediakan.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, aplikasi tersebut adalah palsu. Peneliti keamanan siber asal India, Rajshekhar Rajaharia menyatakan bahwa aplikasi tersebut adalah malware yang mampu mengambil alih akses ponsel pengguna. Melansir dari Gadgets360, WhatsApp telah menegaskan bahwa pihaknya tidak meluncurkan versi baru WhatsApp dengan warna merah muda. Pihak WhatsApp juga meminta pengguna untuk hanya mengunduh aplikasi resmi yang tersedia di Play Store dan App Store.

    Dengan demikian, tautan melalui pesan berantai di WhatsApp mengenai peluncuran versi baru WhatsApp tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten Tiruan/Imposter Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
    Aplikasi tersebut adalah palsu. WhatsApp telah menegaskan bahwa pihaknya tidak meluncurkan versi baru WhatsApp dengan warna merah muda.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video Tabrakan Mobil Wamenhan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

    Sumber: Youtube.com
    Tanggal publish: 28/04/2021

    Berita

    Beredar di Youtube video yang diklaim sebagai video kecelakaan lalu lintas antara mobil Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI) dengan Asisten Logistik (Aslog) TNI AU dan motor patroli dan pengawalan (Patwal) di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
    Narasi:
    “TABRAKAN Mobil Wamenhan RI & Aslog TNI AU plus motor patwal di Terminal 3 SoeTa.”

    Hasil Cek Fakta

    Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa mobil yang tertabrak bukanlah mobil milik Wamenhan. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Terminal 3 Bandara Soetta terjadi antara sebuah mobil Camry dengan sejumlah kendaraan dinas Lemhanas, Patwal, dan Kemenkumham.

    “Mobil yang ditabrak lagi parkir, mobil patwal, mobil dinas Lemhanas, Kemkumham itu lagi parkir. Dia (pelaku) mau parkir juga akhirnya keserempet. Kena mobilnya dua, motornya satu,” kata Kasat Lantas Polres Bandara Soetta Mokhamad Sigit Prabowo (24/04/2021).

    Sigit menjelaskan kejadian itu berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB. Penabrak itu diduga mengantuk saat mengejar jadwal keberangkatan pesawat. Dari kecelakaan itu, tidak terdapat korban luka, melainkan hanya kerugian materiil.

    “Iya dia itu buru-buru mungkin ngantuk ya, kerugian hanya materi saja. Jadi dia mau pergi itu takut ketinggalan pesawat, intinya buru-buru dia,” kata Sigit.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka klaim bahwa mobil Wamenhan RI terlibat kecelakaan lalu lintas di Terminal 3 Bandara Soetta tidak benar dan masuk ke dalam kategori Konten yang Salah.

    Kesimpulan

    Bukan mobil Wamenhan yang ditabrak. “Mobil yang ditabrak lagi parkir, mobil patwal, mobil dinas Lemhanas, Kemkumham itu lagi parkir. Dia (pelaku) mau parkir juga akhirnya keserempet. Kena mobilnya dua, motornya satu,” kata Kasat Lantas Polres Bandara Soetta Mokhamad Sigit Prabowo.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Sesat, Rudal Cina di Balik Tenggelamnya KRI Nanggala 402

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/04/2021

    Berita


    KLAIM
    Sejumlah konten di internet yang mengklaim bahwa rudal Cina berada di balik tenggelamnya KRI Nanggala 402 beredar dalam beberapa hari terakhir. Konten-konten ini menyebar setelah, pada 21 April 2021, kapal selam itu hilang kontak saat mengikuti latihan tempur di perairan Bali, lalu dinyatakan tenggelam ke dasar laut. Badan kapal diduga remuk dan terpisah menjadi tiga bagian. Sebanyak 53 awak Nanggala juga dinyatakan gugur dalam peristiwa ini.
    Konten pertama berupa video di YouTube berjudul "Menhan Bongkar Dalang Hilangnya Kapal Nanggala 402" yang diunggah pada 24 April 2021. Di awal video, disebutkan bahwa ada peran rudal maut Cina dalam tenggelamnya KRI Nanggala. Menurut video itu, rudal asal Cina C802 yang akan digunakan dalam latihan tempur di perairan Bali tersebut merupakan rudal anti kapal tercanggih di dunia yang dikembangkan sejak 1989.
    Situs Eramuslim juga mempublikasikan artikel berjudul "Fakta Mengerikan Rudal China Dibalik Tenggelamnya KRI Nanggala 402" pada 26 April 2021. Artikel ini mengutip penjelasan dari Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono terkait latihan penembakan dengan rudal C802 serta Panglima Komandi Armada II Laksamana Madya TNI Sudihartawan, juga terkait rudal tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan di YouTube yang berisi klaim sesat terkait tenggelamnya kapal selam milik TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala 402.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan pemeriksaan terhadap isi video di YouTube dan artikel di situs Eramuslim tersebut, rudal buatan Cina itu, rudal C802, bukan penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402. TNI AL telah menggunakan rudal tersebut sejak latihan gabungan TNI pada 2008. KRI Nanggala pun diketahui hilang kontak sebelum latihan tempur ketika itu sempat menembakkan rudal C802.
    Dalam video tersebut, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto tidak menyebut bahwa rudal asal Cina C802 sebagai dalang hilangnya KRI Nanggala. Pernyataan Prabowo terdapat pada menit 5:15 yang dibacakan oleh narator. Prabowo menyebut bahwa hilangnya KRI Nanggala 402 adalah bukti sulitnya perjuangan menjaga NKRI. Prabowo juga mengatakan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI perlu dimodernisasi.
    "Semenjak insiden peristiwa tenggelamnya kapal selam Nanggala, ia berniat mempercepat peremajaan alutsista. 'Kita memang perlu meremajakan alutsista kita. Banyak alutsista yang memang karena keterpaksaan dan karena kita utamakan pembangunan kesejahteraan. Kita belum modernisasi lebih cepat, tapi sekarang karena mendesak kita harus modernisasi alutsista kita lebih cepat lagi,' begitulah imbuh Prabowo. Lebih lanjut Prabowo menyebut akan meremajakan alutsista di darat, laut, maupun udara," kata narator.
    Dalam video tersebut, tidak ada pernyataan bahwa Prabowo membongkar dalang hilangnya KRI Nanggala. Ia juga tidak menyinggung tentang rudal maut Cina C802. Terkait artikel di situs Eramuslim, juga disebutkan bahwa penembakan rudal itu belum terlaksana, karena seluruh armada yang dilibatkan dalam latihan tempur tersebut sedang dikerahkan untuk melakukan pencarian dan pertolongan terhadap KRI Nanggala.
    Dikutip dari Koran Tempo edisi 25 April 2021, KRI Nanggala 402 hilang kontak saat geladi resik latihan penembakan torpedo pada 21 April dini hari. Kapal selam berjenis U-209 bikinan Jerman Barat pada 1978 itu sudah berlayar di perairan utara Pulau Bali sejak 20 April lalu. Kapal tersebut bersiap menggelar latihan perang rutin yang akan dihelat dua hari berikutnya.
    Sesuai dengan rencana geladi resik latihan perang, KRI Nanggala akan menembakkan torpedo berukuran 21 inci. Lalu, KRI Layang akan meluncurkan peluru kendali C802. Target keduanya sama, yaitu bekas KRI Karang Unarang. Geladi latihan itu dimulai pada 21 April pukul 03.00 Wita. Saat itu, KRI Nanggala meminta izin menyelam dengan kedalaman 13 meter dan bersiap menembakkan torpedo.
    Selama satu jam, para awaksea rider dan otoritas latihan menunggu lesatan torpedo, tapi tak juga muncul. Suasana semakin mencekam saat komunikasi radio dengan KRI Nanggala terputus. Padahal, kru KRI Nanggala seharusnya lebih dulu berkomunikasi di radio untuk meminta izin penembakan torpedo. "Dipanggil-panggil sudah tidak merespons. Jalur komunikasi utama dan jalur cadangan terputus," kata Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Yudo Margono.
    Peluru kendali C802 sudah lama digunakan oleh TNI AL. Dikutip dari kantor berita Antara, uji coba rudal C802 telah dilakukan dalam latihan gabungan TNI pada 2008. Indonesia memiliki empat rudal C802. Rudal ini adalah rudal anti kapal permukaan buatan Cina yang diperkenalkan oleh produsennya, China Haiying Electro-Mechanical Technology Academy, pada 1989.
    Rudal C802 juga dikenal sebagai rudal yang memiliki kemampuan untuk menghindar dari radar musuh karena, selain dilengkapi perangkat anti-jamming yang terpasang pada peralatan pemandunya, rudal ini mempunyai kemampuan terbang rendah (sea skimming) pada awal diluncurkan, yakni 20-30 meter, dan turun menjadi 5-7 meter saat akan mendekati sasaran.
    Dikutip dari situs Indomiliter, debut pertama rudal C802 ditampilkan TNI AL dalam latihan gabungan TNI pada 2008. Dalam ajang latihan tersebut, rudal C802 dipasang pada KRI Layang 805, tipe kapal FPB (fast patrol boat) 57 buatan PT PAL.
    Hingga saat ini, penyebab tenggelamnya KRI Nanggala masih diinvestigasi. Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Yudo Margono, dalam konferensi pers pada 25 April 2021, mengatakan bahwa investigasi baru bisa dilakukan setelah badan kapal berhasil diangkat ke permukaan. Namun, hal ini juga bukan hal yang mudah, karena lokasi tenggelamnya kapal berada di laut dalam.
    Meski begitu, Yudo masih meyakini tenggelamnya KRI Nanggala 402 bukan dikarenakan kesalahan manusia atau human error. Ia menyebut, sesaat sebelum hilang kontak, seluruh peralatan kapal selam itu terpantau berfungsi dengan baik. Saat proses menyelam, kata Yudo, KRI Nanggala 402 sudah melalui prosedur yang benar.
    Kru pun terpantau menjalankan perannya sesuai tugas masing-masing. Saat mulai menyelam pun diketahui semua lampu masih menyala, yang berarti tidak terjadi blackout. "Sudah kita evaluasi dari awal kejadian, tapi tentunya saya berkeyakinan ini bukan human error tapi lebih pada faktor alam," kata Yudo.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa rudal asal Cina merupakan dalang tenggelamnya KRI Nanggala 402, menyesatkan. Adanya rudal C802 buatan Cina dalam kapal selam itu bukanlah penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402. KRI Nanggala 402 hilang kontak sebelum rudal tersebut sempat ditembakkan. Hingga kini, penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402 yang membawa 53 awak itu masih diinvestigasi oleh TNI AL.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini