• [SALAH] Penemu Mobil Berbahan Bakar Air Dibunuh

    Sumber: website
    Tanggal publish: 31/03/2021

    Berita

    Murder

    On one fateful day in March 21 1998, Stanley Meyer was mysteriously murdered…While in a restaurant along with his brother, Stephen Meyer along with two Belgian investors, Stanley was murdered by poisoning. Stephen Meyer remembered the events of what happened on that fateful evening.

    Stephen Meyer, quote: “Stanley took a sip of cranberry juice. Then he grabbed his neck, bolted out the door, dropped to his knees and vomited violently.”
    “I ran outside and asked him, ‘What’s wrong?’ “ Stephen recalled.
    “He said, ‘They poisoned me.’ That was his dying declaration.”

    Hasil Cek Fakta

    Sebuah artikel menjabarkan mengenai penemuan teknologi bahan bakar air yang ditemukan oleh Stanley Meyer. Dalam artikel tersebut dijelaskan cara kerja penemuan Stanley hingga misteri kematiannya.

    Setelah ditelusuri, terdapat klaim yang salah mengenai tulisan dalam artikel tersebut. Berikut penjelasannya:

    1. Kematian Stanley Meyer karena dibunuh.

    Setelah diselidiki selama tiga bulan oleh Kepolisian Grove City, penyebab kematian Stanley ditetapkan karena Aneurisma Otak. Pernyataan itu didukung oleh hasil otopsi yang dilakukan William R. Adrion menyimpulkan bahwa Meyer meninggal akibat cerebral aneurysma karena darah tinggi. Satu-satunya hasil temuan kepolisian mengenai obat yang terdeteksi adalah Pereda nyeri lidokain dan fenitoin untuk mengobati kejang.

    2. Seluruh penemuan sel bahan bakar dimulai pada tahun 1975, ketika Stanley Meyer menemukan bahan bakar Air.

    Faktanya, orang yang pertama kali menciptakan sel bahan bakar adalah Sir William Robert Grove yaitu Fisikawan Inggris yang menemukan sel bahan bakar pada tahun 1842.

    3. Cara kerja bahan bakar air yang lebih efisien.

    Penemuan Meyers dimaksudkan untuk bekerja dengan membebaskan molekul hidrogen dalam H2O molekul oksigen yang menyertainya, memungkinkan hidrogen yang sangat mudah terbakar dibakar sebagai sumber bahan bakar. Proses ini (dikenal sebagai elektrolisis) adalah nyata dan terdokumentasi dengan sangat baik, tetapi sayangnya, dibutuhkan jumlah energi yang sama untuk memutus ikatan seperti yang dilepaskan saat terbentuk. Dengan kata lain – melepaskan energi dari air akan selalu menghabiskan lebih banyak energi daripada yang dihasilkannya. Itulah hukum pertama dan kedua termodinamika yang bekerja.

    Penjelasan tersebut sama seperti pendapat editor jurnal Nature, Philip Ball, dalam kolomnya, menilai bahwa berbagai klaim soal temuan bahan bakar air, seperti yang ditemukan Stanley, termasuk dalam pseudosains. Philip mengatakan hidrogen memang bahan bakar yang menjanjikan dalam ekonomi energi bersih yang baru.

    Tapi membuat hidrogen dari air membutuhkan lebih banyak energi daripada yang bisa didapatkan dari membakarnya. Menurut Philip, mengekstrak energi bersih dari siklus total ini tidak memungkinkan, selama hukum pertama dan kedua termodinamika masih berlaku.

    4. Sel bahan bakar air Stanley Meyer diperiksa oleh tiga saksi ahli di pengadilan.

    Nyatanya, ketika hendak diuji oleh saksi ahli Prof Michael Laughton dari Queen Mary, University of London, Meyer menghindar dengan alasan yang dibuat-buat. Akhirnya di pengadilan kesaksian 3 orang ahli menilai bahwa ‘temuan’ Meyer tersebut sama sekali tidak revolusioner. Water Fuel Cell ala Meyer yang telah resmi dipatenkan itu selanjutnya dinyatakan sebagai penipuan oleh Pengadilan Ohio pada 1996.

    Sehingga, klaim mengenai penemu bahan bakar air yang meninggal karena dibunuh termasuk hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Aisyah Adilah (Anggota Komisariat MAFINDO Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik Jakarta)

    Faktanya, hasil otopsi menunjukkan bahwa Stanley Meyer meninggal karena cerebral aneurysma akibat darah tinggi.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Remaja Tewas Terjatuh dari Nebeng Mobil di RS Mitra Medika Pedan

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 31/03/2021

    Berita

    Mohon bantuan barangkali ada yang mengenali anak ini. Posisi saat ini meninggal dunia di RS Mitra Medika Pedan.

    Tolong bantu share, barangkali ada anggota keluarganya yg hilang, anak ini jatuh dri nebeng mobil, skrg ada di RS Mitra.

    Hasil Cek Fakta

    Sebuah akun Facebook bernama Setyawira Wibawa mengunggah foto seorang anak yang dikabarkan meninggal di Rumah Sakit Mitra Medika Pedan karena jatuh dari mobil tumpangannya.

    Setelah ditelusuri, berdasarkan keterangan dari Kapolsek Pedan AKP Damin ternyata kejadian tersebut terjadi bukan di Pedan melainkan di wilayah Bekasi, Jawa Barat.

    “Betul hoaks. Salah info, setelah kita cek ternyata kejadian bukan di Pedan. Kita dapat informasi dari kades, kita cek ke RS. Ternyata kejadiannya di wilayah Bekasi, Jawa Barat sudah seminggu yang lalu,” ungkap AKP Damin.

    Pihak Rumah Sakit Mitra pun juga membantah adanya pasien remaja tersebut. Direktur PT Mitra Kita Sejati yang membawahi RS Mitra Keluarga Husada Kecamatan Pedan, Klaten, dokter Suhardjanto, menyebut tidak ada pasien IGD dengan kondisi seperti postingan tersebut.

    “IGD mitra tadi pagi dan kemarin nggak ada pasien itu. Tadi dari kepolisian sudah datang ke IGD konfirmasi, dan tidak ada,” terang Suhardjanto.

    Sehingga, klaim mengenai remaja yang tewas terjatuh dari nebeng mobil di RS Mitra Medika Pedan termasuk hoaks dengan kategori konteks yang salah.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Aisyah Adilah (Anggota Komisariat MAFINDO Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik Jakarta)

    Klaim tersebut salah. Faktanya, peristiwa tersebut terjadi di Bekasi, Jawa Barat.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Klaim Ini Foto Petugas yang Seret Rizieq Shihab saat Sidang dan Kini Sakit Parah

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 30/03/2021

    Berita


    Gambar tangkapan layar sebuah video di YouTube yang memperlihatkan seorang pria berbaju dan berserban putih yang dibawa oleh seorang pria berkemeja kotak-kotak ke dalam sebuah ruangan beredar di Facebook. Video ini disebut sebagai video ketika seorang petugas sidang menyeret mantan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke dalam ruangan sidang.
    Dalam gambar tersebut, terdapat pula foto lain yang ditempelkan yang memperlihatkan seorang pria yang sedang terbaring. Pria ini disebut sebagai petugas sidang yang menyeret Rizieq, yang kini sakit parah. Adapun judul video tersebut adalah "Berita Terkini!!! - Dibayar Kontan | Petugas yang Menganiaya dan Menyeret HRS Langsung Sakit Parah".
    Akun ini mengunggah gambar tangkapan layar itu pada 22 Maret 2021. Akun tersebut pun menulis, "Semuga menyusul pada risem penhianat para ulamak kita." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan 214 reaksi dan 140 komentar serta dibagikan sebanyak 223 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait foto yang diunggahnya seputar persidangan kasus Rizieq Shihab.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri sumber dari gambar tangkapan layar itu di YouTube. Hasilnya, ditemukan bahwa gambar tersebut berasal dari video yang diunggah oleh kanal YouTube Titik Tumpu pada 21 Maret 2021 dengan judul "Berita Terkini!!! - Dibayar Kontan | Petugas yang Menganiaya dan Menyeret HRS Langsung Sakit Parah".
    Tempo kemudian memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengan toolInVid. Gambar-gambar tersebut pun ditelusuri jejak digitalnya denganreverse image tool Google. Hasilnya, ditemukan bahwa pria yang sedang terbaring dalam foto yang ditempelkan dalam gambar tangkapan layar video itu bukanlah petugas yang membawa pemimpin FPI Rizieq Shihab ke ruangan sidang.
    Pria tersebut merupakan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Medan Timur, Medan, Sumatera Utara, yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Surfina Ajis akibat kelelahan selama melaksanakan rekapitulasi suara dalam Pemilu 2019.
    Video yang menampilkan anggota KPPS Medan Timur yang sedang dirawat di rumah sakit itu pernah diunggah ke YouTube oleh kanal milik stasiun televisi iNews pada 26 April 2019 dengan judul “KPU Catat 225 Anggota KPPS Meninggal dan 1.470 Dirawat Akibat Kelelahan Pemilu - iNews Pagi 26/04”.
    Video yang sama juga pernah diunggah ke YouTube oleh kanal Panwaslih Medan Timur pada 27 Desember 2019 dengan judul “Komisioner Panwaslih Medan Timur Jalani Rawat Inap”. Dalam video ini, dijelaskan bahwa, akibat kelelahan selama pelaksanaan rekapitulasi suara dalam Pemilu 2019, tiga anggota KPPS Medan Timur dirawat di RS Surfina Ajis. Anggota KPPS Medan Timur yang diklaim sebagai petugas sidang Rizieq Shihab itu bernama Soegeng Afriadi.
    Sementara cuplikan yang memperlihatkan Rizieq Shihab dibawa oleh seorang pria berkemeja kotak-kotak ke dalam sebuah ruangan pernah diunggah ke YouTube oleh kanal milik stasiun televisi Kompas TV pada 19 Maret 2021 dengan judul “Terdakwa Kasus Kerumunan Rizieq Shihab Tetap Tolak Sidang Online”. Dalam video ini, tidak terlihat bahwa Rizieq diseret oleh pria tersebut.
    Menurut keterangan Kompas TV, dalam sidang pada 19 Maret 2021, Rizieq menolak sidang tersebut digelar secara online. Ia meminta sidang digelar secara offline. Namun, hakim tetap menggelar sidang dengan agenda pembacaan dakwaan. Ketua Majelis Hakim Suparman Nyompa berulang kali memberi penjelasan soal pentingnya kehadiran Rizieq dalam sidang ini.
    Dalam sidang tersebut, jaksa mendakwa Rizieq bersama sejumlah terdakwa lainnya dalam kasus ini sengaja tidak mengindahkan perintah dan imbauan dari polisi serta Wali Kota Jakarta Pusat untuk tidak membuat kerumunanan saat menggelar acara pernikahan anaknya. Jaksa mengatakan pemberitahuan soal aturan larangan membuat kerumunan sudah disampaikan polisi dalam sejumlah kesempatan kepada Rizieq.
    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 19 Maret 2021, Rizieq Shihab menolak sidang pembacaan dakwaan untuknya yang digelar secara virtual. Mantan pimpinan FPI itu ngotot hadir secara langsung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, bukan mengikuti sidang telekonferensi dari Rumah Tahanan Mabes Polri. "Saya tidak rida dunia akhirat," kata Rizieq dalam siaran langsung sidang di YouTube Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
    Atas penolakan itu, majelis hakim yang dipimpin oleh Suparman Nyompa menjelaskan alasan sehubungan dengan kondisi pandemi Covid-19. Permintaan Rizieq untuk hadir langsung, kata hakim ketua Suparman, tidak bisa dipenuhi untuk menjaga protokol kesehatan pencegahan Covid-19. "Saya berharap Habib bisa mengikuti persidangan," katanya.
    Rizieq tetap menolak bujukan hakim Suparman. Menurut dia, sidang virtual hanya bisa dilakukan jika ada persetujuan dari terdakwa. Jaksa penuntut umum pun meminta hakim untuk melanjutkan sidang. Rizieq memilih keluar dari persidangan. "Kalau memang dipaksakan sidang online, silakan Yang Mulia melanjutkan sidang ini dengan jaksa tanpa kehadiran saya bersama pengacara. Saya ikhlas, saya rida, saya tunggu berapa pun vonisnya," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pria dalam foto di atas adalah petugas yang menyeret mantan pemimpin FPI Rizieq Shihab saat sidang dan kini sakit parah, keliru. Pria yang terlihat sedang terbaring itu bernama Soegeng Afriadi, anggota KPPS Medan Timur, Medan, Sumatera Utara. Soegeng, bersama dua rekannya, dirawat di RS Surfina Ajis akibat kelelahan selama pelaksanaan rekapitulasi suara dalam Pemilu 2019.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Gambar Artikel yang Klaim Mahfud MD Ungkap Pelaku Bom Gereja Katedral Makassar adalah Polisi

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 30/03/2021

    Berita


    Gambar tangkapan layar artikel yang berjudul “ Mahfud MD : Pelaku Bom Gereja Katedral Makassar 3 Oknum Polisi suku Batak, hobi Mabuk Miras, beragama Protestan, yang sakit hati karena di pecat" beredar di Facebook. Artikel itu dimuat pada 28 Maret 2021 pukul 11.45.
    Artikel tersebut dilengkapi dengan foto Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD. Dalam gambar itu, terdapat pula logo situs media Kompas.com. Akun ini membagikan gambar tersebut pada 30 Maret 2021.
    Gambar tersebut beredar setelah terjadinya bom bunuh diri di pintu gerbang Gereja Katedral di Jalan Kajaolalido, MH Thamrin, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada 28 Maret 2021 pukul 10.30 WITA. Menurut polisi, pelaku adalah pasangan suami-istri yang berinisial L dan YSF.
    Gambar tangkapan layar artikel hasil suntingan yang memuat klaim keliru terkait Menkopolhukam Mahfud MD dan pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, Kompas.com tidak pernah mempublikasikan berita dengan judul “Mahfud MD: Pelaku Bom Gereja Katedral Makassar 3 Oknum Polisi suku Batak, hobi Mabuk Miras, beragama Protestan, yang sakit hati karena di pecat” pada 28 Maret 2021.
    Fakta ini didapatkan setelah Tempo memeriksa indeks berita Kompas.com pada 28 Maret 2021. Dalam indeks tersebut, tidak ada berita yang diturunkan pada pukul 11.45 seperti yang terlihat dalam gambar tangkapan layar yang beredar.
    Berita Kompas.com yang tayang pada rentang pukul 11.41 hingga pukul 11.46 antara lain:
    Menkopolhukam Mahfud MD juga tidak pernah menyatakan bahwa pelaku bom Gereja Katedral Makassar adalah tiga polisi yang bersuku Batak, beragama Kristen Protestan, dan hobi mabuk miras yang sakit hati karena dipecat.
    Pada 28 Maret 2021, Kompas.com mempublikasikan beberapa pernyataan Mahfud MD, bahwa pemerintah akan mengejar jaringan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Selain itu, Mahfud menyatakan bahwa jumlah korban yang terluka akibat aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar bertambah menjadi 20 orang.
    Tempo kemudian menelusuri foto Mahfud MD yang tercantum dalam gambar tangkapan layar yang beredar denganreverse image tool Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut adalah dokumentasi Kemenkopolhukam saat Mahfud MD memberikan pernyataan terkait situasi terkini pasca pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja pada 8 Oktober 2020. Foto yang identik pernah dimuat oleh sejumlah media. Namun, foto itu tidak ditemukan di Kompas.com.
    Pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar
    Berdasarkan arsip berita Tempo, Polri menyebut bahwa pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar adalah pasangan suami-istri. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan pelaku diduga merupakan bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Mereka ditengarai terhubung dengan kelompok Abu Sayyaf di Filipina bagian selatan.
    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Boy Rafli juga mengatakan dua pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar terafiliasi dengan kelompok teroris di Filipina. Kedua pelaku bom Makassar ini merupakan anggota JAD.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, gambar tangkapan layar artikel yang berjudul "Mahfud MD: Pelaku Bom Gereja Katedral Makassar 3 Oknum Polisi suku Batak, hobi Mabuk Miras, beragama Protestan, yang sakit hati karena di pecat" tersebut keliru. Gambar itu merupakan hasil suntingan. Kompas.com tidak pernah mempublikasikan berita dengan judul tersebut, termasuk pada 28 Maret 2021. Menkopolhukam Mahfud MD pun tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti yang diklaim dalam judul itu.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini