Larangan salat
Menag larang shalat jumat
[Cek Fakta] Menteri Yaqut Teken Surat Larangan Salat Jumat? Ini Faktanya
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 20/02/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Dari penelusuran kami, klaim bahwa Menteri Yaqut meneken surat larangan salat Jumat, tidak berdasar. Faktanya, pada video itu sama sekali tidak diperlihatkan surat yang dimaksud. Video itu diunggah kanal YouTube JURNAL 99 pada 13 Februari 2021. Kami memerhatikan video berdurasi 10 menit 38 detik.
Hasilnya, tidak ditemukan surat larangan salat Jumat pada video itu yang diteken Menteri Yaqut. Justru surat yang dicantumkan, diteken Wakil Wali Kota Kupang, Hermanus Man.
Hal itu bisa dilihat pada detik ke-33, menit ke-3 detik ke-8, dan menit ke-4 detik ke-22. Kemudian pada menit ke-5 detik ke-59, menit ke-8 detik ke-32, menit ke-9 detik ke-49.
Surat edaran itu diakui Kepala Badan Kesbangpol Kota Kupang, Noce Nus Loa. Namun Noce menegaskan surat edaran itu tidak lagi berlaku. Pasalnya per 10-24 Februari 2021, pihaknya menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tahap III.
Dilansir nusadaily.com, Hermanus meminta pemimpin kegiatan keagamaan memerhatikan tingkat penyebaran Covid-19 di sekitar rumah ibadah. Jika tinggi, pihaknya berharap pemimpin tersebut menghentikan kegiatan keagamaan di rumah ibadah.
Hasilnya, tidak ditemukan surat larangan salat Jumat pada video itu yang diteken Menteri Yaqut. Justru surat yang dicantumkan, diteken Wakil Wali Kota Kupang, Hermanus Man.
Hal itu bisa dilihat pada detik ke-33, menit ke-3 detik ke-8, dan menit ke-4 detik ke-22. Kemudian pada menit ke-5 detik ke-59, menit ke-8 detik ke-32, menit ke-9 detik ke-49.
Surat edaran itu diakui Kepala Badan Kesbangpol Kota Kupang, Noce Nus Loa. Namun Noce menegaskan surat edaran itu tidak lagi berlaku. Pasalnya per 10-24 Februari 2021, pihaknya menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tahap III.
Dilansir nusadaily.com, Hermanus meminta pemimpin kegiatan keagamaan memerhatikan tingkat penyebaran Covid-19 di sekitar rumah ibadah. Jika tinggi, pihaknya berharap pemimpin tersebut menghentikan kegiatan keagamaan di rumah ibadah.
Kesimpulan
Klaim bahwa Menteri Yaqut meneken surat larangan salat Jumat, tidak berdasar. Faktanya, pada video itu sama sekali tidak diperlihatkan surat yang dimaksud.
Informasi ini masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
Informasi ini masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
Rujukan
- https://archive.md/hRWKt
- https://www.youtube.com/watch?v=dqlb1x1kPYk
- https://m.mediaindonesia.com/infografis/detail_infografis/384296-masjid-langgar-ppkm-ii-mui-tidak-pernah-terima-surat-teguran
- https://nusadaily.com/nusantara/kota-kupang-izinkan-kegiatan-keagamaan-di-rumah-ibadah-selama-ppkm-tahap-iii.html
Cek Fakta: Tidak Benar Pesan Berantai Berisi Informasi Pendaftaran Vaksinasi Covid-19 Tahap Kedua
Sumber: whatsaapp.comTanggal publish: 20/02/2021
Berita
Pendaftaran vaksinasi lansia
Daftar vaksin
Pendaftaran Lansia
Vaksin covid lansia
Pendaftaran vaksin untuk lansia
Vaksin untuk lansia
Pendaftaran lansia
Link pendaftaran lansia
Pendaftaran Vaksin Lansia
Peduli lindungi
Aplikasi Peduli Lindungi
1. Masuk google chrome
2. Ketik pedulilindungi.id
3. Untuk daftar klik garis 3 pojok kanan
4. Klik login/register
5. Klik buat akun peduli lindungi
6. Masukan nama lengkap dan no tlp
7. Login masukan nama lengkap dan no KTP
Bagi lansia kalau daftar imunisasi covid gratis pemerintah daftar di pedulilindungi .
Buka aplikasi pedulilindungi daftar dg no ktp.
Besok mulai dibuka untuk lansia
Mekanisme pendaftaran vaksinasi lanjut usia
Daftar vaksin
Pendaftaran Lansia
Vaksin covid lansia
Pendaftaran vaksin untuk lansia
Vaksin untuk lansia
Pendaftaran lansia
Link pendaftaran lansia
Pendaftaran Vaksin Lansia
Peduli lindungi
Aplikasi Peduli Lindungi
1. Masuk google chrome
2. Ketik pedulilindungi.id
3. Untuk daftar klik garis 3 pojok kanan
4. Klik login/register
5. Klik buat akun peduli lindungi
6. Masukan nama lengkap dan no tlp
7. Login masukan nama lengkap dan no KTP
Bagi lansia kalau daftar imunisasi covid gratis pemerintah daftar di pedulilindungi .
Buka aplikasi pedulilindungi daftar dg no ktp.
Besok mulai dibuka untuk lansia
Mekanisme pendaftaran vaksinasi lanjut usia
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan menghubungi Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi. Ia menjelaskan pesan berantai tersebut tidak benar.
"Pesan berantai yang beredar bukan rilis resmi dari Kemenkominfo maupun Kemenkes. Semua yang menjadi sasaran vaksinasi covid-19 tahap kedua ini sudah didaftarkan oleh institusi masing-masing," ujar dr Nadia saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (19/2/2021).
"Sementara untuk lansia datanya kami ambil dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) dan ini masih dalam proses. Vaksin sendiri masih dalam proses distribusi," katanya menambahkan.
Terkait jadwal vaksinasi covid-19 tahap kedua dr. Nadia pun menjelaskan informasinya,
"Untuk pelaksanaan masing-masing daerah akan dilakukan setelah vaksinnya tiba. Yang jelas tidak usah mendaftar atau menunggu SMS. Di pesan berantai tersebut dijelaskan pendaftaran dilakukan semua pada hari yang sama dan itu salah."
Selain itu sebelumnya Liputan6.com pernah menulis artikel berjudul "Vaksinasi COVID-19 Tahap 2: Petugas Pelayanan Publik dan Lansia Tak Perlu Tunggu SMS" yang tayang 17 Februari 2021. Berikut isinya:
"Liputan6.com, Jakarta - Vaksinasi COVID-19 tahap kedua, yang dimulai hari ini, 17 Februari 2021, target penerima vaksin yang menyasar petugas pelayanan publik dan lansia kini tak lagi perlu menunggu SMS pendaftaran dan registrasi.
Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menerangkan, daftar penerima vaksinasi COVID-19 tahap kedua sudah terekam pada sistem Aplikasi P-Care Vaksinasi. Untuk jumlah sasaran vaksinasi tahap kedua, ada 21,5 juta lansia dan 16,9 juta petugas pelayanan publik.
"Kami sampaikan cara metode pemberian vaksinasi tahap kedua. Penerima vaksinasi tidak perlu lagi melakukan pendaftaran sendiri dan menunggu SMS pendaftaran," terang Nadia saat dialog 'Vaksinasi Tahap Kedua di Depan Mata' pada Selasa, 16 Februari 2021.
"Karena pendaftaran sebagian besar sudah kita lakukan sebelumnya dan masuk sistem Aplikasi P-Care Vaksinasi. Nanti penerima vaksinasi tinggal datang saja ke lokasi penyuntikkan. Lalu menyebutkan Nomor Induk Kependudukan (NIK)."
Para petugas pelayanan publik yang menjadi sasaran vaksinasi COVID-19 antara lain guru, pedagang pasar, pekerja sarana transportasi umum, dan TNI/Polri.
Pendaftaran sasaran vaksinasi tahap kedua bagi petugas pelayanan publik dan lansia sudah didaftarkan melalui institusinya. Data vaksinasi ini pun diperoleh melalui BPJS Kesehatan dan Dukcapil (kependudukan dan catatan sipil) daerah, sehingga penerima vaksinasi cukup datang ke lokasi penyuntikkan.
"Kami melakukan vaksinasi massal, dalam hal ini per institusi/klaster. Misal, buat pedagang pasar tinggal datang saja ke lokasi penyuntikkan, di sini berarti lokasinya di pasarnya langsung. Tidak perlu lagi ke fasilitas kesehatan," tambah Nadia.
Ketika penerima vaksinasi COVID-19 tahap kedua ternyata namanya belum masuk daftar saat datang ke lokasi penyuntikkan dapat menunjukkan identitas kepada tim vaksinator.
"Kalau (nama) tidak ada di dalam daftar masih bisa melakukan secara manual. Tentunya, menunjukkan bukti bahwa orang yang bersangkutan adalah sasaran penerima vaksinasi. Misal, dia adalah pedagang pasar ya tunjukkan identitas diri bahwa mereka adalah pedagang pasar," ujar Nadia."
"Pesan berantai yang beredar bukan rilis resmi dari Kemenkominfo maupun Kemenkes. Semua yang menjadi sasaran vaksinasi covid-19 tahap kedua ini sudah didaftarkan oleh institusi masing-masing," ujar dr Nadia saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (19/2/2021).
"Sementara untuk lansia datanya kami ambil dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) dan ini masih dalam proses. Vaksin sendiri masih dalam proses distribusi," katanya menambahkan.
Terkait jadwal vaksinasi covid-19 tahap kedua dr. Nadia pun menjelaskan informasinya,
"Untuk pelaksanaan masing-masing daerah akan dilakukan setelah vaksinnya tiba. Yang jelas tidak usah mendaftar atau menunggu SMS. Di pesan berantai tersebut dijelaskan pendaftaran dilakukan semua pada hari yang sama dan itu salah."
Selain itu sebelumnya Liputan6.com pernah menulis artikel berjudul "Vaksinasi COVID-19 Tahap 2: Petugas Pelayanan Publik dan Lansia Tak Perlu Tunggu SMS" yang tayang 17 Februari 2021. Berikut isinya:
"Liputan6.com, Jakarta - Vaksinasi COVID-19 tahap kedua, yang dimulai hari ini, 17 Februari 2021, target penerima vaksin yang menyasar petugas pelayanan publik dan lansia kini tak lagi perlu menunggu SMS pendaftaran dan registrasi.
Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menerangkan, daftar penerima vaksinasi COVID-19 tahap kedua sudah terekam pada sistem Aplikasi P-Care Vaksinasi. Untuk jumlah sasaran vaksinasi tahap kedua, ada 21,5 juta lansia dan 16,9 juta petugas pelayanan publik.
"Kami sampaikan cara metode pemberian vaksinasi tahap kedua. Penerima vaksinasi tidak perlu lagi melakukan pendaftaran sendiri dan menunggu SMS pendaftaran," terang Nadia saat dialog 'Vaksinasi Tahap Kedua di Depan Mata' pada Selasa, 16 Februari 2021.
"Karena pendaftaran sebagian besar sudah kita lakukan sebelumnya dan masuk sistem Aplikasi P-Care Vaksinasi. Nanti penerima vaksinasi tinggal datang saja ke lokasi penyuntikkan. Lalu menyebutkan Nomor Induk Kependudukan (NIK)."
Para petugas pelayanan publik yang menjadi sasaran vaksinasi COVID-19 antara lain guru, pedagang pasar, pekerja sarana transportasi umum, dan TNI/Polri.
Pendaftaran sasaran vaksinasi tahap kedua bagi petugas pelayanan publik dan lansia sudah didaftarkan melalui institusinya. Data vaksinasi ini pun diperoleh melalui BPJS Kesehatan dan Dukcapil (kependudukan dan catatan sipil) daerah, sehingga penerima vaksinasi cukup datang ke lokasi penyuntikkan.
"Kami melakukan vaksinasi massal, dalam hal ini per institusi/klaster. Misal, buat pedagang pasar tinggal datang saja ke lokasi penyuntikkan, di sini berarti lokasinya di pasarnya langsung. Tidak perlu lagi ke fasilitas kesehatan," tambah Nadia.
Ketika penerima vaksinasi COVID-19 tahap kedua ternyata namanya belum masuk daftar saat datang ke lokasi penyuntikkan dapat menunjukkan identitas kepada tim vaksinator.
"Kalau (nama) tidak ada di dalam daftar masih bisa melakukan secara manual. Tentunya, menunjukkan bukti bahwa orang yang bersangkutan adalah sasaran penerima vaksinasi. Misal, dia adalah pedagang pasar ya tunjukkan identitas diri bahwa mereka adalah pedagang pasar," ujar Nadia."
Kesimpulan
Pesan berantai berisi informasi pendaftaran vaksinasi covid-19 tahap kedua adalah tidak benar.
Rujukan
[SALAH] “wabah flu Spanyol penyebabnya bukan virus melainkan gejala pneumonia oleh bakteri akibat oleh karena adanya wajib masker”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/02/2021
Berita
Akun Facebook Hakim Waluyo (fb.com/hakim.waluyo.31) pada 1 Februari 2021 mengunggah sebuah gambar dengan narasai sebagai berikut:
“Hasil penelitian lebih dalam tentang wabah flu Spanyol ternyata didapatkan penyebabnya bukanlah oleh virus melainkan gejala pneumonia oleh bakteri. Bakteri tersebut tumbuh dan hidup subur justru oleh karena adanya wajib masker yang dijadikan protokol pencegahan penyebaran penyakit yang dinyatakan diduga disebabkan oleh virus flu.
Gejala keracunan CO2 akibat penggunaan masker berkepanjangan tidak akan seketika. Pelan namun pasti dan terkadang dalam hitungan tahunan. Efeknya yang pasti adalah tubuh kekurangan oksigen dan otak lemot untuk berpikir, sulit untuk mencerna dan memahami situasi sehingga tidak mampu berpikir cerdas dan solutif. Targetnya adalah kebodohan. Efek lainnya selain sistem imun menjadi lemah, sel-sel tubuh yang kurang oksigen akan terjadi kelainan pertumbuhan karena lingkungan kimiawi biologis yang tidak sehat sehingga tumbuh menjadi tumor, kanker dst.
Itulah mengapa ada latihan olah nafas dan praktisi olah nafas paham persis bahwa kebijakan wajib masker itu sama dengan pembunuhan secara pelan-pelan. Perlu mempelajari pengetahuan tentang olah nafas untuk lebih paham alasannya. Praktisi meditasi juga jika tidak paham resiko bahaya wajib masker adalah aneh bin ajaib sebab meditasi melibatkan teknik olah nafas. Oksigen adalah energi daya hidup dan juga daya penyembuhan. Rahayu sagung dumadi.”
“Hasil penelitian lebih dalam tentang wabah flu Spanyol ternyata didapatkan penyebabnya bukanlah oleh virus melainkan gejala pneumonia oleh bakteri. Bakteri tersebut tumbuh dan hidup subur justru oleh karena adanya wajib masker yang dijadikan protokol pencegahan penyebaran penyakit yang dinyatakan diduga disebabkan oleh virus flu.
Gejala keracunan CO2 akibat penggunaan masker berkepanjangan tidak akan seketika. Pelan namun pasti dan terkadang dalam hitungan tahunan. Efeknya yang pasti adalah tubuh kekurangan oksigen dan otak lemot untuk berpikir, sulit untuk mencerna dan memahami situasi sehingga tidak mampu berpikir cerdas dan solutif. Targetnya adalah kebodohan. Efek lainnya selain sistem imun menjadi lemah, sel-sel tubuh yang kurang oksigen akan terjadi kelainan pertumbuhan karena lingkungan kimiawi biologis yang tidak sehat sehingga tumbuh menjadi tumor, kanker dst.
Itulah mengapa ada latihan olah nafas dan praktisi olah nafas paham persis bahwa kebijakan wajib masker itu sama dengan pembunuhan secara pelan-pelan. Perlu mempelajari pengetahuan tentang olah nafas untuk lebih paham alasannya. Praktisi meditasi juga jika tidak paham resiko bahaya wajib masker adalah aneh bin ajaib sebab meditasi melibatkan teknik olah nafas. Oksigen adalah energi daya hidup dan juga daya penyembuhan. Rahayu sagung dumadi.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim bahwa wabah flu Spanyol penyebabnya bukan virus melainkan gejala pneumonia oleh bakteri akibat oleh karena adanya wajib masker adalah klaim yang menyesatkan.
Faktanya, pandemi influenza 1918 atau flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas bukan pneumonia bakteri. Terkait masker, penggunaannya tidak akan menyebabkan kekurangan oksigen, karena masker tidak mengganggu sirkulasi udara dalam tubuh.
Dilansir dari Tempo, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pandemi influenza 1918 atau yang kerap disebut pandemi flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas. Meskipun tidak ada konsensus universal mengenai dari mana virus itu berasal, virus tersebut menyebar ke seluruh dunia selama 1918-1919.
CDC menjelaskan, ketika pandemi flu Spanyol terjadi, memang banyak ahli kesehatan yang mengira penyakit itu disebabkan oleh bakteri yang disebut “Pfeiffer’s bacillus”, yang sekarang dikenal sebagai Haemophilus influenzae. Namun, hal tersebut dikarenakan tidak adanya tes diagnostik ketika itu yang bisa menguji infeksi influenza. Dokter tidak mengetahui adanya virus influenza.
Dilansir dari AFP, sejarawan Universitas Sydney yang memiliki spesialisasi dalam kedokteran dan teknologi, Peter Hobbins, mengatakan otopsi yang dilakukan pada pasien yang meninggal karena flu Spanyol menunjukkan penyebab utama kematian adalah terisinya paru-paru oleh cairan, baik karena penyakit atau respons imun tubuh yang terlalu aktif terhadap infeksi.
Menurut Hobbins, penyebab sebenarnya pandemi flu Spanyol pada 1918 adalah strain baru virus Influenza A (H1N1). Dia menambahkan upaya di seluruh dunia telah dilakukan untuk membuat vaksin. Namun, ketika itu, tidak ditemukan secara jelas apa “agen penyebabnya, karena mikroskop yang digunakan tidak cukup bagus untuk melihat virus”.
Dikutip dari Reuters, pada Oktober 2020, beredar klaim palsu bahwa, selama pandemi flu Spanyol, orang meninggal akibat pneumonia bakteri dari masker. Klaim itu juga menyebut bahwa direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, mengetahui hal itu dan menuliskannya dalam sebuah penelitian pada 2008.
Menurut Reuters, klaim tersebut keliru. Pada 2008, Fauci memang menerbitkan riset terkait pandemi flu Spanyol. Namun, pneumonia bakteri yang ia maksud dalam riset itu didahului oleh virus influenza. “Bukti yang kami teliti mendukung skenario di mana kerusakan akibat virus diikuti oleh pneumonia bakteri yang menyebabkan sebagian besar kematian.” Penelitian ini pun tidak menyinggung soal masker.
Terkait klaim bahwa penggunaan masker berkepanjangan dapat menyebabkan gejala keracunan CO2, dilansir dari artikel berjudul “[SALAH] Memakai Masker Dapat Menyebabkan Kematian Akibat Keracunan Karbon Dioksida (CO2)” yang tayang di situs turnbackhoax.id pada 18 Oktober 2020, dr Arif Santoso SpP sebagai Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Unhas menegaskan bahwa memakai masker dalam waktu yang lama tidak membuat seseorang keracunan CO2. Ukuran virus korono sekitar 125 nanometer, ukuran ini membuat virus korona tidak dapat menembus masker sedangkan karbon dioksida, oksigen, hingga nitrogen ukurannya jauh lebih kecil daripada virus korona sehingga dapat menembus pori-pori masker.
Bill Carroll, PhD sebagai profesor kimia Indiana University juga menjelaskan bahwa sebelum tubuh mengalami keracunan CO2, tubuh akan memberikan sinyal perlindungan diri, ketika tingkat CO2 yang mempengaruhi kadar keasaman darah berubah maka tubuh akan mendeteksi perubahan kadar keasaman darah tersebut sehingga orang tersebut akan pingsan sebagai salah satu cara tubuh menuntut seseorang agar bisa bernapas dengan normal.
Faktanya, pandemi influenza 1918 atau flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas bukan pneumonia bakteri. Terkait masker, penggunaannya tidak akan menyebabkan kekurangan oksigen, karena masker tidak mengganggu sirkulasi udara dalam tubuh.
Dilansir dari Tempo, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pandemi influenza 1918 atau yang kerap disebut pandemi flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas. Meskipun tidak ada konsensus universal mengenai dari mana virus itu berasal, virus tersebut menyebar ke seluruh dunia selama 1918-1919.
CDC menjelaskan, ketika pandemi flu Spanyol terjadi, memang banyak ahli kesehatan yang mengira penyakit itu disebabkan oleh bakteri yang disebut “Pfeiffer’s bacillus”, yang sekarang dikenal sebagai Haemophilus influenzae. Namun, hal tersebut dikarenakan tidak adanya tes diagnostik ketika itu yang bisa menguji infeksi influenza. Dokter tidak mengetahui adanya virus influenza.
Dilansir dari AFP, sejarawan Universitas Sydney yang memiliki spesialisasi dalam kedokteran dan teknologi, Peter Hobbins, mengatakan otopsi yang dilakukan pada pasien yang meninggal karena flu Spanyol menunjukkan penyebab utama kematian adalah terisinya paru-paru oleh cairan, baik karena penyakit atau respons imun tubuh yang terlalu aktif terhadap infeksi.
Menurut Hobbins, penyebab sebenarnya pandemi flu Spanyol pada 1918 adalah strain baru virus Influenza A (H1N1). Dia menambahkan upaya di seluruh dunia telah dilakukan untuk membuat vaksin. Namun, ketika itu, tidak ditemukan secara jelas apa “agen penyebabnya, karena mikroskop yang digunakan tidak cukup bagus untuk melihat virus”.
Dikutip dari Reuters, pada Oktober 2020, beredar klaim palsu bahwa, selama pandemi flu Spanyol, orang meninggal akibat pneumonia bakteri dari masker. Klaim itu juga menyebut bahwa direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, mengetahui hal itu dan menuliskannya dalam sebuah penelitian pada 2008.
Menurut Reuters, klaim tersebut keliru. Pada 2008, Fauci memang menerbitkan riset terkait pandemi flu Spanyol. Namun, pneumonia bakteri yang ia maksud dalam riset itu didahului oleh virus influenza. “Bukti yang kami teliti mendukung skenario di mana kerusakan akibat virus diikuti oleh pneumonia bakteri yang menyebabkan sebagian besar kematian.” Penelitian ini pun tidak menyinggung soal masker.
Terkait klaim bahwa penggunaan masker berkepanjangan dapat menyebabkan gejala keracunan CO2, dilansir dari artikel berjudul “[SALAH] Memakai Masker Dapat Menyebabkan Kematian Akibat Keracunan Karbon Dioksida (CO2)” yang tayang di situs turnbackhoax.id pada 18 Oktober 2020, dr Arif Santoso SpP sebagai Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Unhas menegaskan bahwa memakai masker dalam waktu yang lama tidak membuat seseorang keracunan CO2. Ukuran virus korono sekitar 125 nanometer, ukuran ini membuat virus korona tidak dapat menembus masker sedangkan karbon dioksida, oksigen, hingga nitrogen ukurannya jauh lebih kecil daripada virus korona sehingga dapat menembus pori-pori masker.
Bill Carroll, PhD sebagai profesor kimia Indiana University juga menjelaskan bahwa sebelum tubuh mengalami keracunan CO2, tubuh akan memberikan sinyal perlindungan diri, ketika tingkat CO2 yang mempengaruhi kadar keasaman darah berubah maka tubuh akan mendeteksi perubahan kadar keasaman darah tersebut sehingga orang tersebut akan pingsan sebagai salah satu cara tubuh menuntut seseorang agar bisa bernapas dengan normal.
Kesimpulan
Pandemi influenza 1918 atau flu Spanyol disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen yang berasal dari unggas bukan pneumonia bakteri. Terkait masker, penggunaannya tidak akan menyebabkan kekurangan oksigen, karena masker tidak mengganggu sirkulasi udara dalam tubuh.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1247/keliru-klaim-pandemi-flu-spanyol-disebabkan-pneumonia-bakteri-yang-berasal-dari-masker
- https://turnbackhoax.id/2020/10/18/salah-memakai-masker-dapat-menyebabkan-kematian-akibat-keracunan-karbon-dioksida-co2/
- https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/1918-pandemic-h1n1.html
- https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/reconstruction-1918-virus.html
- https://factcheck.afp.com/facebook-posts-falsely-claim-bacterial-meningitis-vaccine-not-h1n1-virus-caused-1918-spanish-flu
- https://www.reuters.com/article/uk-factcheck-fauci-mask-pneumonia-1918-idUSKBN277200
[SALAH] “setelah di vaksin maka kasus HIV dan kanker akan meledak”
Sumber: Instagram.comTanggal publish: 20/02/2021
Berita
Akun Instagram Lois Lois (instagram.com/dr_lois7) pada 17 Februari 2021 mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut:
“Inilah daftar penyakit akibat semua Vaksin!! Vaksin Flu sama dgn vaksin Covid. Mereka cuma pura2 aja meneliti. Buktikan bhw setelah di vaksin maka kasus HIV dan kanker akan meledak!! Vaksin FLu Vaksin paling beracun di dunia!”
Gambar yang diunggah adalah sebuah diagram yang berisi berbagai nama penyakit dan gangguan yang terjadi pada manusia, yang diklaim disebabkan oleh vaksin. Penyakit itu antara lain kanker, infeksi HIV/AIDS, stroke, diabetes, arthritis, dan serangan jantung. Terdapat pula gangguan autisme dalam diagram tersebut. Bahkan, di bagian bawah, disebutkan bahwa kematian adalah salah satu akibat dari pemberian vaksin.
Orang kena hiv boleh vaksin covid
Penyakit HIV
“Inilah daftar penyakit akibat semua Vaksin!! Vaksin Flu sama dgn vaksin Covid. Mereka cuma pura2 aja meneliti. Buktikan bhw setelah di vaksin maka kasus HIV dan kanker akan meledak!! Vaksin FLu Vaksin paling beracun di dunia!”
Gambar yang diunggah adalah sebuah diagram yang berisi berbagai nama penyakit dan gangguan yang terjadi pada manusia, yang diklaim disebabkan oleh vaksin. Penyakit itu antara lain kanker, infeksi HIV/AIDS, stroke, diabetes, arthritis, dan serangan jantung. Terdapat pula gangguan autisme dalam diagram tersebut. Bahkan, di bagian bawah, disebutkan bahwa kematian adalah salah satu akibat dari pemberian vaksin.
Orang kena hiv boleh vaksin covid
Penyakit HIV
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim bahwa setelah divaksin maka kasus HIV dan kanker akan meledak adalah klaim yang menyesatkan.
Faktanya, vaksin flu belum pernah dilaporkan menyebabkan infeksi HIV maupun kanker. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin flu dan bahan kimia yang terkandung di dalamnya aman.
Dilansir dari Tempo, dikutip dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), influenza atau flu adalah penyakit pernapasan menular yang disebabkan oleh virus influenza. Virus ini menginfeksi hidung, tenggorokan, dan terkadang paru-paru. Influenza juga bisa menyebabkan penyakit ringan hingga parah. Komplikasi serius dari influenza dapat membuat pengidapnya menjalani rawat inap, bahkan meninggal.
Ada dua jenis vaksin yang digunakan untuk influenza. Pertama, vaksin flu suntik. Vaksin ini terdiri dari vaksin influenza yang tidak aktif (IIV) dan vaksin influenza rekombinan (RIV). Vaksin tersebut tidak mengandung virus flu hidup. Vaksin ini hadir dalam berbagai jenis formulasi trivalen, kuadrivalen, dosis tinggi, adjuvan, berbasis sel, dan rekombinan.
Sementara yang kedua adalah vaksin flu semprotan hidung. Vaksin ini juga dikenal sebagai vaksin influenza hidup yang telah dilemahkan (LAIV). Vaksin yang digunakan dengan cara disemprotkan ke hidung tersebut mengandung virus hidup. Namun, virus itu telah dilemahkan sehingga tidak menyebabkan influenza.
Dilansir dari Health Line, selama setengah abad terakhir, jutaan orang telah mendapatkan vaksin flu. Namun, sangat sedikit orang yang mengalami masalah serius. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin flu dan bahan kimia yang terkandung di dalamnya aman.
Sebagaimana vaksin lainnya, efek samping dari vaksin flu kebanyakan ringan. Orang yang telah mendapatkan vaksin ini biasanya melaporkan gejala seperti nyeri, kemerahan, dan bengkak pada kulit di sekitar tempat suntikan, demam, kelelahan, dan sakit kepala.
Beberapa penyakit dan gangguan yang tercantum dalam diagram pada unggahan akun Instagram di atas tidak disebabkan atau berkaitan dengan vaksin flu. Berikut ini penjelasannya:
Kanker
Sekitar 40 persen kasus kanker disebabkan oleh virus. Beberapa virus memang telah diketahui sejak lama menjadi penyebab kanker. Namun, kasusnya diduga hanya 10 atau 20 persen. Virus yang dikenal luas terkait kanker adalah virus hepatitis B dan C, yang bisa menyebabkan kanker hati dan human papilloma virus (HPV), lalu memicu kanker serviks. Penyebab kanker lainnya adalah sering mengkonsumsi daging olahan, menghirup udara berpolusi, dan stres.
Dikutip dari situs resmi Preventive Medicine Cancer Care (PMCC) Denver, hingga kini, belum ada penelitian yang menemukan bukti bahwa vaksin mengarah pada risiko kanker yang lebih tinggi. Menurut sebuah publikasi, selama 1955-1963, memang terdapat sebuah virus yang dikaitkan dengan vaksin polio. Virus itu dikenal sebagai SV40, yang kemungkinan terkait dengan peningkatan risiko kanker.
Namun, publikasi itu juga menyatakan tidak ada bukti yang cukup soal peningkatan risiko tersebut. “Penting untuk dicatat bahwa satu-satunya alasan adalah kontaminasi virus SV40, yang bukan merupakan bagian dari vaksin polio. Kontaminasi juga tidak ada lagi dalam vaksin polio modern yang diberikan kepada pasien,” demikian penjelasan PMCC Denver.
Justru, menurut PMCC Denver, banyak penelitian saat ini yang mulai memberikan bukti bahwa vaksin bisa bermanfaat dalam menurunkan risiko kanker. Alasan utama di balik ini adalah karena ada virus tertentu yang diketahui menyebabkan perubahan pada DNA tubuh manusia (seperti HPV).
Ketika perubahan ini terjadi, hal itu dapat menyebabkan perubahan tertentu dalam aktivitas genetik yang diekspresikan oleh sel-sel tubuh. Akibatnya, sel-sel ini kemungkinan besar menjadi kanker. Ketika vaksin diberikan untuk melindungi dari virus, risiko terinfeksi mikroorganisme ini berkurang. Perlindungan itu juga dapat mengurangi risiko pengembangan kanker yang dikaitkan dengan virus.
HIV/AIDS
Dikutip dari situs kesehatan Alodokter, AIDS disebabkan oleh virus HIV. Virus HIV yang masuk ke tubuh akan menghancurkan sel CD4. Sel CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang melawan infeksi. Semakin sedikit sel CD4 dalam tubuh, semakin lemah sistem kekebalan tubuh seseorang. Infeksi HIV terjadi saat darah, sperma, atau cairan vagina dari pengidap masuk ke dalam tubuh orang lain.
Pada Desember 2020 lalu, memang sempat beredar klaim bahwa uji coba salah satu vaksin Covid-19 di Australia telah membuat para relawan positif terinfeksi HIV. Namun, menurut verifikasi Reuters, klaim ini keliru. Vaksin yang dimaksud adalah vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi CSL dan University of Queensland, Australia.
Vaksin Covid-19 ini menggunakan fragmen kecil protein virus HIV untuk menstabilkan vaksin. Produksi dihentikan setelah uji coba menunjukkan bahwa antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap fragmen protein itu dapat menyebabkan hasil positif palsu dalam beberapa tes HIV.
CSL mengatakan “kandidat vaksin tidak mengandung virus HIV dan tidak ada kemungkinan dapat menyebabkan HIV”. Tes lanjutan pun menunjukkan tidak ada virus HIV di tubuh para relawan. Sementara dikutip dari laporan Live Science, tidak ada cara bagi vaksin untuk menyebabkan infeksi HIV, karena mengandung fragmen protein yang tidak berbahaya.
Autisme
Dilansir dari situs kesehatan Halodoc, autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) merupakan gangguan pertumbuhan saraf yang memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku. Beberapa faktor yang dapat memicu autisme adalah faktor keturunan, efek samping dari minuman beralkohol atau obat-obatan selama dalam kandungan, pengaruh gangguan lain (sindrom down, lumpuh otak, dan sebagainya), serta kelahiran prematur.
Hingga kini, penyebab autisme belum diketahui. Namun, para ahli mengidentifikasi adanya beberapa gen yang dicurigai memiliki kaitan dengan ASD. Kadang-kadang, gen ini muncul dan bermutasi secara spontan. Tapi, dalam kasus lain, orang mungkin mewarisi gen tersebut dari orang tua. Dalam kasus anak kembar, autisme bisa terjadi akibat gen kembar.
Dikutip dari Republika.co.id, vaksinolog sekaligus dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe membantah kabar lawas yang kembali muncul bahwa vaksin bisa menyebabkan autisme. Dirga menegaskan bahwa mitos tersebut sama sekali tidak benar. Menurut Dirga, isu itu pertama kali diungkapkan oleh seorang dokter bedah asal Inggris, Andrew Wakefield, pada 1998.
Dokter ini menyebut vaksin MMR (gondong, campak, dan rubella) terkait dengan autisme. Namun, belakangan diketahui bahwa penelitian tersebut palsu. “Setelah itu, dilakukan penelitian luas untuk membuktikan benar atau tidaknya klaim dokter tersebut. Ternyata tidak benar dan dia terbukti memalsukan data,” ujar Dirga pada 15 Desember 2020.
Stroke
Stroke adalah penyakit yang menyerang otak. Stroke terjadi bila aliran darah dari otak terhambat, bisa juga karena pendarahan pada atau di sekitar otak. Penyebabnya adalah pembuluh darah yang mengeras, menyempit, atau tersumbat. Penyebab stroke antara lain karena tekanan darah tinggi, kurang berolahraga, makanan tak sehat, obesitas, dan merokok.
Diabetes
Diabetes bukan penyakit menular, tapi membahayakan nyawa bila tidak dikontrol. Di Inggris saat ini, terdapat sekitar 3,7 juta kasus diabetes yang didiagnosis dengan banyak risiko karena faktor seperti obesitas di masa kecil. Diabetes disebabkan karena berlebihnya glukosa dalam darah.
Ketika seseorang menderita diabetes, pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk memecah glukosa dalam darah. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah secara drastis. Pasalnya, insulin adalah hormon yang berfungsi untuk mengatur kadar gula darah.
Jumlah glukosa darah dalam tubuh biasanya tergantung pada makanan yang dikonsumsi. Orang-orang yang mengkonsumsi gula dalam jumlah lebih banyak cenderung mengembangkan bentuk diabetes yang parah. Namun, apakah seseorang didiagnosis diabetes atau tidak, mungkin juga bergantung pada susunan genetik.
Arthritis/radang sendi
Di dunia medis, radang sendi dise
Faktanya, vaksin flu belum pernah dilaporkan menyebabkan infeksi HIV maupun kanker. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin flu dan bahan kimia yang terkandung di dalamnya aman.
Dilansir dari Tempo, dikutip dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), influenza atau flu adalah penyakit pernapasan menular yang disebabkan oleh virus influenza. Virus ini menginfeksi hidung, tenggorokan, dan terkadang paru-paru. Influenza juga bisa menyebabkan penyakit ringan hingga parah. Komplikasi serius dari influenza dapat membuat pengidapnya menjalani rawat inap, bahkan meninggal.
Ada dua jenis vaksin yang digunakan untuk influenza. Pertama, vaksin flu suntik. Vaksin ini terdiri dari vaksin influenza yang tidak aktif (IIV) dan vaksin influenza rekombinan (RIV). Vaksin tersebut tidak mengandung virus flu hidup. Vaksin ini hadir dalam berbagai jenis formulasi trivalen, kuadrivalen, dosis tinggi, adjuvan, berbasis sel, dan rekombinan.
Sementara yang kedua adalah vaksin flu semprotan hidung. Vaksin ini juga dikenal sebagai vaksin influenza hidup yang telah dilemahkan (LAIV). Vaksin yang digunakan dengan cara disemprotkan ke hidung tersebut mengandung virus hidup. Namun, virus itu telah dilemahkan sehingga tidak menyebabkan influenza.
Dilansir dari Health Line, selama setengah abad terakhir, jutaan orang telah mendapatkan vaksin flu. Namun, sangat sedikit orang yang mengalami masalah serius. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin flu dan bahan kimia yang terkandung di dalamnya aman.
Sebagaimana vaksin lainnya, efek samping dari vaksin flu kebanyakan ringan. Orang yang telah mendapatkan vaksin ini biasanya melaporkan gejala seperti nyeri, kemerahan, dan bengkak pada kulit di sekitar tempat suntikan, demam, kelelahan, dan sakit kepala.
Beberapa penyakit dan gangguan yang tercantum dalam diagram pada unggahan akun Instagram di atas tidak disebabkan atau berkaitan dengan vaksin flu. Berikut ini penjelasannya:
Kanker
Sekitar 40 persen kasus kanker disebabkan oleh virus. Beberapa virus memang telah diketahui sejak lama menjadi penyebab kanker. Namun, kasusnya diduga hanya 10 atau 20 persen. Virus yang dikenal luas terkait kanker adalah virus hepatitis B dan C, yang bisa menyebabkan kanker hati dan human papilloma virus (HPV), lalu memicu kanker serviks. Penyebab kanker lainnya adalah sering mengkonsumsi daging olahan, menghirup udara berpolusi, dan stres.
Dikutip dari situs resmi Preventive Medicine Cancer Care (PMCC) Denver, hingga kini, belum ada penelitian yang menemukan bukti bahwa vaksin mengarah pada risiko kanker yang lebih tinggi. Menurut sebuah publikasi, selama 1955-1963, memang terdapat sebuah virus yang dikaitkan dengan vaksin polio. Virus itu dikenal sebagai SV40, yang kemungkinan terkait dengan peningkatan risiko kanker.
Namun, publikasi itu juga menyatakan tidak ada bukti yang cukup soal peningkatan risiko tersebut. “Penting untuk dicatat bahwa satu-satunya alasan adalah kontaminasi virus SV40, yang bukan merupakan bagian dari vaksin polio. Kontaminasi juga tidak ada lagi dalam vaksin polio modern yang diberikan kepada pasien,” demikian penjelasan PMCC Denver.
Justru, menurut PMCC Denver, banyak penelitian saat ini yang mulai memberikan bukti bahwa vaksin bisa bermanfaat dalam menurunkan risiko kanker. Alasan utama di balik ini adalah karena ada virus tertentu yang diketahui menyebabkan perubahan pada DNA tubuh manusia (seperti HPV).
Ketika perubahan ini terjadi, hal itu dapat menyebabkan perubahan tertentu dalam aktivitas genetik yang diekspresikan oleh sel-sel tubuh. Akibatnya, sel-sel ini kemungkinan besar menjadi kanker. Ketika vaksin diberikan untuk melindungi dari virus, risiko terinfeksi mikroorganisme ini berkurang. Perlindungan itu juga dapat mengurangi risiko pengembangan kanker yang dikaitkan dengan virus.
HIV/AIDS
Dikutip dari situs kesehatan Alodokter, AIDS disebabkan oleh virus HIV. Virus HIV yang masuk ke tubuh akan menghancurkan sel CD4. Sel CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang melawan infeksi. Semakin sedikit sel CD4 dalam tubuh, semakin lemah sistem kekebalan tubuh seseorang. Infeksi HIV terjadi saat darah, sperma, atau cairan vagina dari pengidap masuk ke dalam tubuh orang lain.
Pada Desember 2020 lalu, memang sempat beredar klaim bahwa uji coba salah satu vaksin Covid-19 di Australia telah membuat para relawan positif terinfeksi HIV. Namun, menurut verifikasi Reuters, klaim ini keliru. Vaksin yang dimaksud adalah vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi CSL dan University of Queensland, Australia.
Vaksin Covid-19 ini menggunakan fragmen kecil protein virus HIV untuk menstabilkan vaksin. Produksi dihentikan setelah uji coba menunjukkan bahwa antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap fragmen protein itu dapat menyebabkan hasil positif palsu dalam beberapa tes HIV.
CSL mengatakan “kandidat vaksin tidak mengandung virus HIV dan tidak ada kemungkinan dapat menyebabkan HIV”. Tes lanjutan pun menunjukkan tidak ada virus HIV di tubuh para relawan. Sementara dikutip dari laporan Live Science, tidak ada cara bagi vaksin untuk menyebabkan infeksi HIV, karena mengandung fragmen protein yang tidak berbahaya.
Autisme
Dilansir dari situs kesehatan Halodoc, autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) merupakan gangguan pertumbuhan saraf yang memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku. Beberapa faktor yang dapat memicu autisme adalah faktor keturunan, efek samping dari minuman beralkohol atau obat-obatan selama dalam kandungan, pengaruh gangguan lain (sindrom down, lumpuh otak, dan sebagainya), serta kelahiran prematur.
Hingga kini, penyebab autisme belum diketahui. Namun, para ahli mengidentifikasi adanya beberapa gen yang dicurigai memiliki kaitan dengan ASD. Kadang-kadang, gen ini muncul dan bermutasi secara spontan. Tapi, dalam kasus lain, orang mungkin mewarisi gen tersebut dari orang tua. Dalam kasus anak kembar, autisme bisa terjadi akibat gen kembar.
Dikutip dari Republika.co.id, vaksinolog sekaligus dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe membantah kabar lawas yang kembali muncul bahwa vaksin bisa menyebabkan autisme. Dirga menegaskan bahwa mitos tersebut sama sekali tidak benar. Menurut Dirga, isu itu pertama kali diungkapkan oleh seorang dokter bedah asal Inggris, Andrew Wakefield, pada 1998.
Dokter ini menyebut vaksin MMR (gondong, campak, dan rubella) terkait dengan autisme. Namun, belakangan diketahui bahwa penelitian tersebut palsu. “Setelah itu, dilakukan penelitian luas untuk membuktikan benar atau tidaknya klaim dokter tersebut. Ternyata tidak benar dan dia terbukti memalsukan data,” ujar Dirga pada 15 Desember 2020.
Stroke
Stroke adalah penyakit yang menyerang otak. Stroke terjadi bila aliran darah dari otak terhambat, bisa juga karena pendarahan pada atau di sekitar otak. Penyebabnya adalah pembuluh darah yang mengeras, menyempit, atau tersumbat. Penyebab stroke antara lain karena tekanan darah tinggi, kurang berolahraga, makanan tak sehat, obesitas, dan merokok.
Diabetes
Diabetes bukan penyakit menular, tapi membahayakan nyawa bila tidak dikontrol. Di Inggris saat ini, terdapat sekitar 3,7 juta kasus diabetes yang didiagnosis dengan banyak risiko karena faktor seperti obesitas di masa kecil. Diabetes disebabkan karena berlebihnya glukosa dalam darah.
Ketika seseorang menderita diabetes, pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk memecah glukosa dalam darah. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah secara drastis. Pasalnya, insulin adalah hormon yang berfungsi untuk mengatur kadar gula darah.
Jumlah glukosa darah dalam tubuh biasanya tergantung pada makanan yang dikonsumsi. Orang-orang yang mengkonsumsi gula dalam jumlah lebih banyak cenderung mengembangkan bentuk diabetes yang parah. Namun, apakah seseorang didiagnosis diabetes atau tidak, mungkin juga bergantung pada susunan genetik.
Arthritis/radang sendi
Di dunia medis, radang sendi dise
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1249/keliru-vaksin-flu-sebabkan-infeksi-hiv-dan-kanker
- https://www.cdc.gov/vaccinesafety/vaccines/flu-vaccine.html
- https://www.healthline.com/health/cold-flu/flu-shot-ingredients#side-effects
- https://www.pmccdenver.com/cancer-treatment-prevention-insight/vaccines-cause-cancer
- https://cantik.tempo.co/read/1290291/7-kebiasaan-sehari-hari-pemicu-kanker-menurut-studi-dekade-ini
- https://www.alodokter.com/hiv-aids/penyebab
- https://www.reuters.com/article/uk-factcheck-hiv-idUSKBN28R2WT
- https://www.livescience.com/australia-covid-19-vaccine-false-positive-hiv-tests.html
- https://www.halodoc.com/kesehatan/autisme
- https://republika.co.id/berita/qldhz3414/vaksinolog-vaksin-tidak-sebabkan-autisme-dan-kanker
- https://cantik.tempo.co/read/789624/10-penyebab-stroke-yang-harus-dihindari
- https://gaya.tempo.co/read/1287667/memahami-diabetes-penyebab-jenis-dan-cara-pengobatan
- https://gaya.tempo.co/read/1411092/apa-saja-penyebab-radang-sendi-dan-3-kelompok-yang-mutlak-merasakan
Halaman: 6852/8560

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3381012/original/098384600_1613694527-cek_fakta_wa_vaksin.jpg)

