Keliru, Virus Corona Covid-19 Muncul Karena Adanya Tes Rapid dan PCR
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 02/02/2021
Berita
Klaim bahwa virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, muncul karena adanya tes cepat (rapid test) dan tes PCR (polymerase chain reaction) beredar di Facebook. Klaim ini dibagikan oleh akun Lois Lois pada 28 Januari 2021. “Gara2 ada alat setan Rapid dan PCR yg di sumbang Bill gate..Dunia kacau balau meyakini ada virus hanya karena adanya alat setan ini!!!!!”
Akun tersebut juga mengklaim bahwa pasien Covid-19 yang menderita gejala berat diakibatkan oleh obat antivirus. “Masih Main2 alat setan Maka harus siap di racuni obat yg di beri label 'Antivirus'!! Agar bergejala berat sesak nafas,mual,nyeri dada,jantung berdebar pakai Ventilator!!”
Dalam unggahannya, akun itu juga membagikan gambar tangkapan layar Instagram story dari akun @rachay.mds yang menyebut bahwa Tanzania adalah satu-satunya negara yang tidak terjangkit Covid-19 karena tidak menggunakan tes rapid maupun tes PCR. "Itu sebabnya tahun lalu kopit udah 3 bulan, tapi di indonesia masih normal-normal aja, sebelum ada alat tes."
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Lois Lois yang memuat klaim keliru soal tes rapid dan tes PCR Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, klaim-klaim dalam unggahan tersebut tidak berdasarkan fakta. Rapid test maupun tes PCR telah banyak digunakan untuk melakukan deteksi dalam berbagai penyakit lain sebelumnya, tidak hanya Covid-19. Berikut fakta-fakta atas klaim tersebut:
Klaim 1: Virus Corona Covid-19 bisa muncul karena adanya tes rapid dan tes PCR
Fakta:
Tes PCR danrapid testadalah dua jenis tes yang bisa digunakan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi Covid-19. Berdasarkan arsip berita Tempo, pakar kesehatan Akmal Taher mengatakan testingbersamatracing dantreatment(3T) merupakan strategi yang perlu diambil untuk menghentikan laju kasus Covid-19. Dengan tes, mereka yang positif Covid-19 bisa segera ditemukan lalu diisolasi agar tidak menularkannya pada orang lain.
Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, tes PCR telah digunakan. Dikutip dari Science Mag, metode tes PCR ditemukan oleh Kary Mullis, ilmuwan Cetus Corporation di Emeryville, California, Amerika Serikat, pada Mei 1983. Sejak pertama kali ditemukan, tes PCR terus dikembangkan dan diperkuat serta telah menjadi salah satu alat laboratorium yang digunakan di berbagai penjuru dunia.
Dilansit dari Medicinenet, tes PCR punya banyak kegunaan, mulai dari mendiagnosis penyakit genetik, melakukan sidik jari DNA, menemukan bakteri dan virus, mempelajari evolusi manusia, mengkloning DNA mumi Mesir, dan sebagainya. Dengan demikian, tes PCR telah menjadi alat penting bagi ahli biologi, laboratorium forensik DNA, dan banyak laboratorium lain yang mempelajari materi genetik.
Dalam perjalanannya, metode ini berkembang menjadi RT-PCR (reverse transcriptasePCR), yakni teknik yang sangat sensitif untuk mendeteksi dan menghitung mRNA (messengerRNA). Tekniknya terdiri dari dua bagian, yakni sintesis cDNA dari RNA dengan RT dan amplifikasi cDNA tertentu oleh PCR. RT-PCR telah digunakan untuk mengukurviral loadHIV dan juga dapat digunakan dengan virus RNA lain seperti campak dan gondongan.
Klaim 2: Tanzania satu-satunya negara yang tidak memiliki kasus Covid-19
Fakta:
Menurut data WorldOMeter, hingga 2 Februari 2021, terdapat 509 kasus Covid-19 di Tanzania, di mana 21 orang di antaranya meninggal. Tanzania telah mencatatkan kasus Covid-19 sejak 16 Maret 2020.
Tanzania pun mewajibkan orang yang keluar-masuk negaranya untuk memiliki hasil tes PCR negatif. Dikutip dari berita di All Africa pada 12 Januari 2021, individu yang masuk dan keluar dari Tanzania untuk berbagai alasan, baik itu urusan pribadi, bisnis, atau wisata, harus memiliki surat tes PCR Covid-19 dengan hasil negatif.
Langkah-langkah itu diambil oleh Tanzania untuk menjunjung tinggi komitmen dan memastikan negaranya tetap aman bagi rakyatnya, wisatawan, dan investor yang ingin mengunjungi Tanzania selama masa-masa sulit ini.
Klaim 3: Pasien Covid-19 yang bergejala berat karena diracun dengan obat antivirus
Fakta:
Seseorang yang terinfeksi Covid-19 bisa saja tidak menunjukkan gejala ataupun mengalami gejala ringan, gejala sedang, dan gejala berat. Dikutip dari Detik.com, para ahli menyebut memiliki komorbid atau penyakit penyerta menjadi faktor penentu kondisi pasien Covid-19 bisa menjadi berat atau tidak. Hal ini dikarenakan individu dengan penyakit penyerta memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah sehingga tidak mampu melawan Covid-19.
Faktor kedua adalah jika virus berhasil melewati tenggorokan dan masuk ke dalam jaringan paru. Hal ini membuat penyakit tersebut masuk ke fase yang lebih memprihatinkan. Gejala yang dialami meliputi sakit dada, batuk keras, dan sesak napas. Virus ini juga dapat menyerang alveoli atau kantong udara dan memenuhinya dengan cairan sehingga menimbulkan pneumonia.
Sementara faktor ketiga adalah respons sistem kekebalan tubuh. Dalam kebanyakan kasus, kekebalan tubuh bisa langsung melawan dan mematikan virus Corona dengan sukses. Saat kemunculan virus, tubuh berusaha segera memperbaiki kerusakan di paru-paru. Apabila berjalan dengan baik, infeksinya dapat diberantas dalam beberapa hari.
Sayangnya, ada beberapa kondisi di mana kekebalan tubuh dapat lebih berbahaya dan menyebabkan hilangnya folikel yang membantu mengusir kontaminasi. Selain itu, ada juga sindrom badai sitokin yang terjadi saat tubuh overdrive dalam upaya melawan virus. Saat badai sitokin terjadi, imun yang harusnya menyerang virus malah balik menyerang tubuh.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa virus Corona Covid-19 muncul karena adanya tes rapid dan tes PCR, keliru.Testing, terutama dengan tes PCR, justru menjadi salah satu strategi yang penting dalam menghentikan pandemi Covid-19. Teknologi tes PCR pun sudah ditemukan sejak 1983, jauh sebelum munculnya Covid-19.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://archive.is/vUMGZ
- https://www.tempo.co/tag/pcr
- https://www.tempo.co/tag/rapid-test
- https://gaya.tempo.co/read/1392703/3m-dan-3t-kunci-menghambat-penularan-covid-19/full&view=ok
- https://www.sciencemag.org/features/2018/05/pcr-thirty-five-years-and-counting
- https://www.medicinenet.com/pcr_polymerase_chain_reaction/article.htm#what_is_rt_pcr
- https://www.worldometers.info/coronavirus/country/tanzania/
- https://allafrica.com/stories/202101120058.html
- https://www.tempo.co/tag/tanzania
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4973242/3-hal-yang-memicu-gejala-virus-corona-ringan-menjadi-berat-dan-fatal
- https://www.tempo.co/tag/virus-corona
SALAH] Anies Raih Piala Lomba Mewarnai
Sumber: twitter.comTanggal publish: 02/02/2021
Berita
Juara lomba mewarnai anak anak Tingkat Kecamatan seluruh DKI Tahun 2021. – Selalu saja Anies yg juara nya, kasihan anak-anak jatah nya diserobot..
Hasil Cek Fakta
Beredar di media sosial Twitter @Thalomoan1 pada (24/01/21) , mengunggah sebuah foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memegang piala juara mewarnai disamping dua anak kecil yang masing-masing memegang lukisannya, dengan narasi “Juara lomba mewarnai anak anak Tingkat Kecamatan seluruh DKI Tahun 2021. – Selalu saja Anies yg juara nya, kasihan anak-anak jatah nya diserobot.”. Unggahan tersebut mendapat 26 retweets, 173 likes, dan 26 komentar.
Dari penelusuran diketahui foto tersebut merupakan hasil suntingan dari dua sumber foto yang berbeda. Cuplikan foto Anies terdapat pada unggahan akun Instagram resminya “@aniesbaswedan”, yang memposting foto sedang menerima penghargaan atas terpilihnya kembali DKI Jakarta meraih penghargaan Top Digital Award 2020 Selasa(22/12/20). Sedangkan cuplikan foto dua anak kecil memegang lukisannya merupakan potongan dari sebuah foto yang berasal dari www.lenterapendidikan.com, dengan judul artikel “TKIT Dan SDIT Rabbani Juara Lomba Mewarnai” terbit pada Kamis(22/08/19).
Pada foto aslinya, Anies Baswedan memegang piala “Top Digital Award” di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang penghargaan “Top Leader On Digital Implementation 2020”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten tersebut masuk ke dalam kategori Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi.
Dari penelusuran diketahui foto tersebut merupakan hasil suntingan dari dua sumber foto yang berbeda. Cuplikan foto Anies terdapat pada unggahan akun Instagram resminya “@aniesbaswedan”, yang memposting foto sedang menerima penghargaan atas terpilihnya kembali DKI Jakarta meraih penghargaan Top Digital Award 2020 Selasa(22/12/20). Sedangkan cuplikan foto dua anak kecil memegang lukisannya merupakan potongan dari sebuah foto yang berasal dari www.lenterapendidikan.com, dengan judul artikel “TKIT Dan SDIT Rabbani Juara Lomba Mewarnai” terbit pada Kamis(22/08/19).
Pada foto aslinya, Anies Baswedan memegang piala “Top Digital Award” di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang penghargaan “Top Leader On Digital Implementation 2020”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten tersebut masuk ke dalam kategori Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Rahmah An Nisaa (Uin Sunan Ampel Surabaya).
Foto Anies raih piala mewarnai merupakan hasil suntingan dari dua foto dari akun Instagram “@aniesbaswedan”, yakni foto Anies memegang dua penghargaan dari Top Digital Award 2020 pada Selasa(22/12/20) dan foto dua anak kecil dalam lenterapendidikan.com, dengan judul “TKIT Dan SDIT Rabbani Juara Lomba Mewarnai”, terbit pada Kamis(22/0819).
Foto Anies raih piala mewarnai merupakan hasil suntingan dari dua foto dari akun Instagram “@aniesbaswedan”, yakni foto Anies memegang dua penghargaan dari Top Digital Award 2020 pada Selasa(22/12/20) dan foto dua anak kecil dalam lenterapendidikan.com, dengan judul “TKIT Dan SDIT Rabbani Juara Lomba Mewarnai”, terbit pada Kamis(22/0819).
Rujukan
[SALAH] “test Ge Nose C19, Mudah n murah. Rp 15 rb, 10 detik, akurasi 99,9%. Gak hrs swab, gak hrs diambil darah”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 02/02/2021
Berita
Akun Budi R (fb.com/budi.r.357622) pada 30 Januari 2021 membagikan informasi sebagai berikut:
“Mulai tgl 5 Feb’21 di station dan bandara dan tempat2 umum dikenakan biaya Rp 5 rb sd 10 rb per org per 1x test..Ge Nose C19
Ternyata Indonesia ngga kalah… Merdeka!!!! Luar biasaa!!!!
Tes covid jadi simpel. Mudah n murah. Rp 15 rb, 10 detik, akurasi 99,9%. Gak hrs swab, gak hrs diambil darah. Terimakasih UGM, nuwun sanget dosen UGM, Dr Kuwat Triyana (lahir 1977) penemu GeNos pengendus Covid-19. Indonesia Bisa”
“Mulai tgl 5 Feb’21 di station dan bandara dan tempat2 umum dikenakan biaya Rp 5 rb sd 10 rb per org per 1x test..Ge Nose C19
Ternyata Indonesia ngga kalah… Merdeka!!!! Luar biasaa!!!!
Tes covid jadi simpel. Mudah n murah. Rp 15 rb, 10 detik, akurasi 99,9%. Gak hrs swab, gak hrs diambil darah. Terimakasih UGM, nuwun sanget dosen UGM, Dr Kuwat Triyana (lahir 1977) penemu GeNos pengendus Covid-19. Indonesia Bisa”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa alat pendeteksi Covid-19 buatan UGM, GeNose dapat mendeteksi Covid-19 dalam 10 detik adalah klaim yang menyesatkan.
Faktanya, bukan 10 detik. Ketua Tim Pengembang GeNose dari UGM Kuwat Triyana, mengatakan setiap tes membutuhkan waktu tiga menit, termasuk pengambilan napas. Kuwat juga menyatakan, apabila dari GeNose hasilnya positif tetap harus melakukan PCR.
Pemakaian alat pendeteksi COVID-19 GeNose di stasiun-stasiun kereta api memang akan diterapkan pada 5 Februari 2021. Hanya saja, alat penapisan dan diagnostik itu, seperti terdapat dalam halaman infografik, dapat mendeteksi Covid-19 dalam waktu 80 detik.
Dilansir dari Kompas, Kuwat menjabarkan setiap prosesnya sebagai berikut:
“Kalau sampel napas sudah dicolokkan ke mesin GeNose, kita butuh 2 detik untuk proses baseline, lanjut 40 detik proses sensing dan 3 detik decision, sehingga totalnya 45 detik. Kalau ditambah dengan ambil napas ya kira-kira butuh 3 menit termasuk flushing untuk membersihkan ruang sensor,” ujarnya.
Durasi tiga menit termasuk pengambilan napas itu disampaikan Kuwat setelah GeNose mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan RI.
Kuwat menambahkan, biaya tes Covid-19 dengan GeNose tersebut antara Rp 15.000 hingga Rp 25.000. Namun demikian, lanjut Kuwat, apabila ada yang mematok lebih dari Rp 25.000, hal itu mungkin karena ada layanan ekstra yang diberikan.
“Kalau ada yang lebih dari Rp 25.000, mungkin ada tambahan layanan,” terang Kuwat.
Sementara itu, disebutkan dalam narasi bahwa akurasi GeNose mencapai 99,9 persen. Kuwat menyebutnya itu bagian dari cita-cita yang diharapkan. Akan tetapi, saat ini akurasi GeNose tak setinggi seperti yang dinarasikan.
“Akurasi 99,9 itu cita-citanya, tapi saat ini sekitar 95 persen,” kata Kuwat.
Dia menambahkan, saat ini GeNose telah mulai digunakan di delapan rumah sakit, klinik kesehatan, beberapa perusahaan, dan banyak perkantoran milik pemerintah.
Faktanya, bukan 10 detik. Ketua Tim Pengembang GeNose dari UGM Kuwat Triyana, mengatakan setiap tes membutuhkan waktu tiga menit, termasuk pengambilan napas. Kuwat juga menyatakan, apabila dari GeNose hasilnya positif tetap harus melakukan PCR.
Pemakaian alat pendeteksi COVID-19 GeNose di stasiun-stasiun kereta api memang akan diterapkan pada 5 Februari 2021. Hanya saja, alat penapisan dan diagnostik itu, seperti terdapat dalam halaman infografik, dapat mendeteksi Covid-19 dalam waktu 80 detik.
Dilansir dari Kompas, Kuwat menjabarkan setiap prosesnya sebagai berikut:
“Kalau sampel napas sudah dicolokkan ke mesin GeNose, kita butuh 2 detik untuk proses baseline, lanjut 40 detik proses sensing dan 3 detik decision, sehingga totalnya 45 detik. Kalau ditambah dengan ambil napas ya kira-kira butuh 3 menit termasuk flushing untuk membersihkan ruang sensor,” ujarnya.
Durasi tiga menit termasuk pengambilan napas itu disampaikan Kuwat setelah GeNose mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan RI.
Kuwat menambahkan, biaya tes Covid-19 dengan GeNose tersebut antara Rp 15.000 hingga Rp 25.000. Namun demikian, lanjut Kuwat, apabila ada yang mematok lebih dari Rp 25.000, hal itu mungkin karena ada layanan ekstra yang diberikan.
“Kalau ada yang lebih dari Rp 25.000, mungkin ada tambahan layanan,” terang Kuwat.
Sementara itu, disebutkan dalam narasi bahwa akurasi GeNose mencapai 99,9 persen. Kuwat menyebutnya itu bagian dari cita-cita yang diharapkan. Akan tetapi, saat ini akurasi GeNose tak setinggi seperti yang dinarasikan.
“Akurasi 99,9 itu cita-citanya, tapi saat ini sekitar 95 persen,” kata Kuwat.
Dia menambahkan, saat ini GeNose telah mulai digunakan di delapan rumah sakit, klinik kesehatan, beberapa perusahaan, dan banyak perkantoran milik pemerintah.
Kesimpulan
BUKAN 10 detik. Ketua Tim Pengembang GeNose dari UGM Kuwat Triyana, mengatakan setiap tes membutuhkan waktu TIGA MENIT, termasuk pengambilan napas. Kuwat juga menyatakan, apabila dari GeNose hasilnya positif tetap harus melakukan PCR.
Rujukan
- https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/31/205500365/klarifikasi-genose-dapat-deteksi-covid-19-dalam-10-detik-dengan-akurasi-99
- https://kabar24.bisnis.com/read/20210130/621/1350130/genose-disebut-bisa-deteksi-covid-19-dalam-10-detik-ini-faktanya
- https://ugm.ac.id/id/berita/20120-genose-ugm-bisa-deteksi-covid-19-hanya-dalam-80-detik
[SALAH] Pesan Berantai “Paradox vaksin”
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 02/02/2021
Berita
“Paradox vaksin , urusan Covid nga akan pernah selesai
Jika saya divaksinasi, Pertanyaan Kepada : Kementerian Kesehatan RI DPR RI, Presiden, IKATAN DOKTER INDONESIA (IDI) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) World Health Organization (WHO), International Criminal Court – ICC Universal Declaration of Human Rights
1.- Bisakah saya berhenti memakai masker?
* Tidak …”
(Salinan narasi selengkapnya di bagian CATATAN.
Jika saya divaksinasi, Pertanyaan Kepada : Kementerian Kesehatan RI DPR RI, Presiden, IKATAN DOKTER INDONESIA (IDI) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) World Health Organization (WHO), International Criminal Court – ICC Universal Declaration of Human Rights
1.- Bisakah saya berhenti memakai masker?
* Tidak …”
(Salinan narasi selengkapnya di bagian CATATAN.
Hasil Cek Fakta
SUMBER mengedarkan narasi yang tidak berdasarkan fakta sehingga menyebabkan kesimpulan yang keliru.
PublicHealth: “BAGAIMANA VAKSIN BEKERJA
Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan untuk mengenali dan memerangi patogen, baik virus maupun bakteri. Untuk melakukan ini, molekul tertentu dari patogen harus dimasukkan ke dalam tubuh untuk memicu respons imun.
Molekul ini disebut antigen , dan ada di semua virus dan bakteri. Dengan menyuntikkan antigen ini ke dalam tubuh, sistem kekebalan dapat dengan aman belajar mengenalinya sebagai penyerang yang bermusuhan, memproduksi antibodi, dan mengingatnya untuk masa depan. Jika bakteri atau virus muncul kembali, sistem kekebalan akan segera mengenali antigen dan menyerang secara agresif sebelum patogen dapat menyebar dan menyebabkan penyakit.”
CDC: “Cara Kerja Vaksin COVID-19
Vaksin COVID-19 membantu tubuh kita mengembangkan kekebalan terhadap virus penyebab COVID-19 tanpa kita harus terserang penyakit. Berbagai jenis vaksin bekerja dengan cara yang berbeda untuk menawarkan perlindungan, tetapi dengan semua jenis vaksin, tubuh memiliki persediaan limfosit T “memori” serta limfosit B yang akan mengingat cara melawan virus itu di masa depan. .
Biasanya dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi tubuh untuk memproduksi limfosit-T dan limfosit-B setelah vaksinasi. Oleh karena itu, ada kemungkinan seseorang tertular virus penyebab COVID-19 sebelum atau setelah vaksinasi dan kemudian jatuh sakit karena vaksin tidak mempunyai cukup waktu untuk memberikan perlindungan.
Terkadang setelah vaksinasi, proses pembentukan kekebalan bisa menimbulkan gejala, seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membangun kekebalan.”
KGW8: “4. Narasi palsu tentang perusahaan farmasi dan tokoh masyarakat yang mendapatkan keuntungan dari vaksin
Banyak klaim palsu yang mengaitkan vaksin COVID-19 dengan korupsi “farmasi besar”. Sebaliknya, vaksin terkemuka sebagian besar didanai oleh pemerintah dan organisasi nirlaba, yang telah menjanjikan miliaran dolar untuk dosis dengan harga yang ditentukan.
Dalam waktu dekat, perusahaan akan fokus untuk memenuhi pesanan tersebut dengan cepat, daripada menghasilkan keuntungan besar. Tidak jelas seperti apa lanskap vaksin akan terlihat setelah ini.”
PublicHealth: “BAGAIMANA VAKSIN BEKERJA
Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan untuk mengenali dan memerangi patogen, baik virus maupun bakteri. Untuk melakukan ini, molekul tertentu dari patogen harus dimasukkan ke dalam tubuh untuk memicu respons imun.
Molekul ini disebut antigen , dan ada di semua virus dan bakteri. Dengan menyuntikkan antigen ini ke dalam tubuh, sistem kekebalan dapat dengan aman belajar mengenalinya sebagai penyerang yang bermusuhan, memproduksi antibodi, dan mengingatnya untuk masa depan. Jika bakteri atau virus muncul kembali, sistem kekebalan akan segera mengenali antigen dan menyerang secara agresif sebelum patogen dapat menyebar dan menyebabkan penyakit.”
CDC: “Cara Kerja Vaksin COVID-19
Vaksin COVID-19 membantu tubuh kita mengembangkan kekebalan terhadap virus penyebab COVID-19 tanpa kita harus terserang penyakit. Berbagai jenis vaksin bekerja dengan cara yang berbeda untuk menawarkan perlindungan, tetapi dengan semua jenis vaksin, tubuh memiliki persediaan limfosit T “memori” serta limfosit B yang akan mengingat cara melawan virus itu di masa depan. .
Biasanya dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi tubuh untuk memproduksi limfosit-T dan limfosit-B setelah vaksinasi. Oleh karena itu, ada kemungkinan seseorang tertular virus penyebab COVID-19 sebelum atau setelah vaksinasi dan kemudian jatuh sakit karena vaksin tidak mempunyai cukup waktu untuk memberikan perlindungan.
Terkadang setelah vaksinasi, proses pembentukan kekebalan bisa menimbulkan gejala, seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membangun kekebalan.”
KGW8: “4. Narasi palsu tentang perusahaan farmasi dan tokoh masyarakat yang mendapatkan keuntungan dari vaksin
Banyak klaim palsu yang mengaitkan vaksin COVID-19 dengan korupsi “farmasi besar”. Sebaliknya, vaksin terkemuka sebagian besar didanai oleh pemerintah dan organisasi nirlaba, yang telah menjanjikan miliaran dolar untuk dosis dengan harga yang ditentukan.
Dalam waktu dekat, perusahaan akan fokus untuk memenuhi pesanan tersebut dengan cepat, daripada menghasilkan keuntungan besar. Tidak jelas seperti apa lanskap vaksin akan terlihat setelah ini.”
Kesimpulan
Fungsi vaksin adalah untuk melatih sistem kekebalan tubuh, BUKAN untuk obat. Antigen (molekul tertentu dari patogen) dimasukkan ke dalam tubuh untuk memicu respons imun, agar dapat mengenali dan memerangi patogen (virus maupun bakteri). Dengan cukup banyak orang yang diimunisasi maka peluang untuk berjangkitnya penyakit menjadi sangat rendah, karena tidak ada cukup inang yang digunakan oleh patogen untuk berkembang.
Rujukan
- httpfirstdraftnews.org: “Berita palsu. Ini rumit.”
- http://bit.ly/2MxVN7S (Google Translate),
- http://bit.ly/2rhTadC. [2] publichealth.org: “BAGAIMANA VAKSIN BEKERJA”
- http://bit.ly/39FGd41 (Google Translate) /
- http://bit.ly/2L9tRHU (arsip cadangan). [3] cdc.gov: “Memahami Cara Kerja Vaksin COVID-19”
- http://bit.ly/3pI8Nat (Google Translate) /
- http://bit.ly/39EEb43 (arsip cadangan). [4] cdc.gov: “Fakta tentang Vaksin COVID-19”
- http://bit.ly/2L9tRHU (Google Translate) /
- http://bit.ly/3pSyOUR (arsip cadangan). [5] hopkinsmedicine.org: “Apakah Vaksin COVID-19 Aman?”
- http://bit.ly/3cyi2GE (Google Translate) /
- http://bit.ly/3j7v9zC (arsip cadangan). [6] un.org: “Pandemi tidak akan berakhir untuk siapa pun, ‘sampai berakhir untuk semua orang'”
- http://bit.ly/3cykfSw (Google Translate) /
- http://bit.ly/3oNJQtb (arsip cadangan). [7] cdc.gov: “Memastikan Keamanan Vaksin COVID-19 di Amerika Serikat”
- http://bit.ly/2MpvYIg (Google Translate) /
- http://bit.ly/3re5vMB (arsip cadangan). [8] kgw.com: “VERIFIKASI: 5 narasi keliru tentang vaksin COVID-19”
- http://bit.ly/3r8zwNC (Google Translate) /
- http://bit.ly/3pBKXNA (arsip cadangan). [9] wikipedia.org: “Teori konspirasi Farmasi Besar”
- http://bit.ly/2MMIRMa (Google Translate) /
- http://bit.ly/3j6Kq3X (arsip cadangan).
Halaman: 6890/8555



