• Sesat, Klaim Ini Video Kecelakaan Kereta Api pada 28 Januari 2021 di Sukoharjo

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 03/02/2021

    Berita


    Video yang memperlihatkan momen ketika seorang pengendara motor tertabrak kereta beredar di media sosial. Gerbong kereta tersebut berwarna merah-putih dan bertuliskan "Solo". Video ini diklaim sebagai video kecelakaan kereta pada 28 Januari 2021 di dekat Terminal Sukoharjo, Jawa Tengah.
    Di Facebook, salah satu akun yang membagikan video beserta klaim itu adalah akun Cyntia Nandhasari, tepatnya pada 28 Januari 2021. Akun itu menulis, "Kasihan petugasnya... Detik detik pemotor tertabrak Kereta Api, Kamis (28/1/2021). Lokasi : Dekat Terminal Sukoharjo, Jawa Tengah. Silahkan bantu lengkapi infonya, tetap hati hati dan waspada !"
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Cyntia Nandhasari yang memuat klaim menyesatkan terkait video yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci "motor tertabrak kereta di Sukoharjo" di mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan sejumlah berita yang menyatakan bahwa kecelakaan kereta dalam video tersebut sudah lama terjadi, pada 2019.
    Dilansir dari Kompas.com, Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Sukoharjo Ajun Komisaris Firdaus Yudhatama mengatakan video itu adalah video lama. "Bukan kerjaian baru. Itu informasinya video lama. Lokasi sepertinya di Sukoharjo," kata Firdaus pada 29 Januari 2021.
    Senada dengan Firdaus, Kepala Polsek Sukoharjo Kota Ajun Komisaris Gerry Armando mengatakan kejadian dalam video ini sudah lama terjadi, yakni pada 18 November 2019. "Untuk lokasinya, di perlintasan kereta timur Terminal Sukoharjo," kata Gerry pada 29 Januari 2021.
    Dikutip dari Tribun Solo, kereta yang menabrak seorang pengendara motor tersebut adalah kereta api railbus Batara Kresna. Kecelakaan kereta ini terjadi di perlintasan yang berada di jalur Wonogiri-Solo, tepatnya di timur Terminal Sukoharjo.
    Pengendara motor itu bernama Saiman, warga Jatimulyo, Mojogedang, Karanganyar. Ia selamat meskipun sempat terseret sejauh lima meter. Menurut Gerry, peristiwa bermula saat kereta api railbus Batara Kresna melaju dari arah selatan, yakni dari Wonogiri, ke arah utara, yakni dari Solo.
    Lantaran palang pintu kereta tidak berfungsi, petugas menghentikan kendaraan secara manual. Saat itu, petugas menghentikan beberapa kendaraan dari arah timur. Di saat yang bersamaan, Saiman yang mengendarai motor Yamaha Vixion menyalip beberapa truk yang berhenti.
    "Terdengar bunyi klakson railbus sangat keras, namun korban tetap menerobos hingga tertabrak pada bagian tengah body motor," kata Gerry. Akibatnya, Saiman terseret hingga sekitar lima meter bersama motornya. Saiman pun dibawa ke RSUD Ir. Soekarno, Sukoharjo, untuk mendapatkan perawatan.
    Informasi kecelakaan kereta ini juga pernah dimuat pada 18 November 2019 oleh portal berita resmi Polda Jawa Tengah Tribrata News. Menurut laporannya, kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Karena kejadian ini, korban mengalami patah tulang kaki bagian kiri.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video tersebut adalah video kecelakaan kereta api pada 28 Januari 2021 di dekat Terminal Sukoharjo, Jawa Tengah, menyesatkan. Video itu memang menunjukkan pengendara motor yang tertabrak kereta di Sukoharjo. Namun, peristiwa dalam video tersebut sudah lama terjadi, bukan pada 28 Januari 2021, melainkan pada 18 November 2019.
    ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Klaim Ini Foto 70 Ribu Hunian Elite yang Dibangun Erdogan untuk Korban Gempa Turki

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 03/02/2021

    Berita


     Dua foto yang memperlihatkan sebuah kawasan perumahan yang baru dibangun beredar di media sosial. Dua foto itu dilengkapi dengan foto yang memperlihatkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tengah berada di dalam sebuah helikopter. Helikopter ini melintas di atas sebuah kawasan perumahan yang juga baru dibangun.
    Ketiga foto tersebut dibagikan dengan klaim bahwa Erdogan sedang meninjau proyek pembangunan 70 ribu unit hunian elite bagi korban gempa Turki 2020. Terdapat pula kutipan yang disebut berasal dari Erdogan. Kutipan ini berbunyi "Saya bangun 70 ribu pemukiman elite bagi rakyat Turki, gratis siap huni".
    Di Facebook, foto-foto itu dibagikan salah satunya oleh akun Safira Maulida pada 1 Februari 2021. Akun ini menulis, “Presiden Turki Erdogan: Saya bangun 70.000 pemukiman elite bagi rakyat Turki, gratis siap huni. Erdogan melakukan tinjauan proyek pembangunan 70.000 unit hunian elit bagi warga Turki kehilangan tempat tinggal akibat diterpa gempa bumi di tahun 2020.”
    Gambar tangkapan layar unggahan sebuah akun Facebook yang berisi klaim keliru terkait foto-foto yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto-foto tersebut denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa dua foto yang memperlihatkan kawasan perumahan yang baru dibangun itu memang berada di Turki, tepatnya di Konya. Namun, kedua foto ini tidak terkait dengan foto Erdogan yang sedang meninjau pembangunan rumah gempa di Elazig dengan helikopter.
    Dua foto tersebut pernah dimuat oleh situs Karaman Habercisi dalam artikelnya pada 24 Januari 2021. Artikel itu berisi informasi tentang pembangunan pemukiman baru Dedemli Neighborhood yang berada di distrik Meram, Konya, Turki, yang akan segera rampung. Foto-foto itu pun pernah dimuat oleh situs Memleket dalam artikelnya pada tanggal yang sama.
    Menurut kedua artikel ini, kawasan perumahan itu dibangun oleh TOKI (Administrasi Pembangunan Perumahan Massal Turki), bersama Direktorat Jenderal KOSKI Konya yang membangun jaringan air dan saluran pembuangan serta Direktorat Urusan Sains Konya yang membangun konstruksi jalan. Dalam kedua artikel tersebut, tidak terdapat informasi bahwa perumahan ini diperuntukkan bagi korban gempa Turki.
    Adapun foto Erdogan yang tengah berada di dalam helikopter, pernah dimuat oleh situs Hurriyet dalam artikelnya pada 25 Januari 2021. Artikel ini berisi informasi tentang kunjungan Erdogan ke Elazig, Turki, untuk menghadiri peringatan setahun gempa Elazig dan upacara penyerahan rumah gempa.
    Gempa dengan magnitudo 6,8 yang terjadi pada 24 Januari 2020 itu menyebabkan 41 orang tewas. Sebanyak 37 korban ditemukan di Elazig dan empat korban ditemukan di Malatya. Gempa tersebut juga menyebabkan lebih dari 25 ribu rumah di kedua kota itu rusak berat.
    Kini, lebih dari 2.500 rumah telah dibangun di Elazig, di mana lebih dari 20 ribu rumah telah dibangun di era pemerintahan Erdogan. Disambut di bandara, Erdogan mengatakan bahwa dia bakal melakukan pemeriksaan dengan helikopter dan melakukan perjalanan ke wilayah tersebut untuk menghadiri upacara penyerahan rumah gempa di Yazikonak, Elazig.
    Foto tersebut juga pernah dimuat oleh situs Milliyet dalam artikelnya pada 25 Januari 2021. Artikel ini berisi informasi yang sama dengan yang dimuat oleh situs Hurriyet. Dalam kunjungannya ke Elazig itu, Erdogan didampingi oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Urbanisasi Turki, Murat Kurum.
    Tempo pun menelusuri lokasi Konya dan Elazig. Berdasarkan pencarian di Google Maps, jarak antara Konya dan Elazig mencapai 749 kilometer. Konya merupakan salah satu kota yang berada di region Anatolia Tengah. Sementara Elazig adalah salah satu kota yang terletak di region Anatolia Timur.
    Gempa Turki 2020
    Berdasarkan arsip berita Tempo, gempa dengan magnitudo 6,8 memang mengguncang wilayah timur Turki pada 24 Januari 2020. Gempa tersebut terasa hingga ke Iran, Suriah, dan Lebanon. Menurut laporan Reuters dan CNN, gempa terjadi di Sivrice, Elazig. Menteri Dalam Negeri Turki, Sulyman Soylu, mengatakan gempa susulan terjadi beberapa kali dengan kekuatan 5,4.
    Menurut Badan Survei Geologi Amerika Serikat, pusat gempa diperkirakan berada di kedalaman 10 kilometer. Sekitar 500 ribu orang merasakan getaran gempa tersebut. Turki memiliki sejarah panjang dan pahit tentang gempa. Pada Agustus 1999, gempa berkekuatan 7,6 mengguncang Izmit, menewaskan 17 ribu orang. Gempa dahsyat di Turki kembali terjadi pada 2011, mengguncang Ercis dan Van. Sedikitnya 523 orang tewas akibat gempa ini.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa dua foto yang memperlihatkan kawasan perumahan baru itu adalah foto 70 ribu hunian elite yang dibangun Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk korban gempa Turki 2020, keliru. Tidak ditemukan informasi bahwa perumahan Dedemli Neighborhood ini diperuntukkan bagi korban gempa Turki 2020. Kawasan perumahan dalam kedua foto itu memang berada di Turki, namun terletak di Konya. Sementara foto Erdogan yang berada di helikopter diambil ketika ia meninjau pembangunan rumah gempa di Elazig. Jumlah rumah yang dibangun di sana pun tidak sampai 70 ribu unit.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Erdogan bangun 70.000 pemukiman elit”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 03/02/2021

    Berita

    “Presiden Turki Erdogan: Saya bangun 70.000 pemukiman elit bagi rakyat Turki, gratis siap huni

    Erdogan melakukan tinjauan proyek pembangunan 70.000 unit hunian elit bagi warga Turki kehilangan tempat tinggal akibat diterpa gempa bumi di tahun 2020.”

    Hasil Cek Fakta

    SUMBER membagikan foto yang TIDAK saling berkaitan dan menambahkan narasi yang klaimnya tidak nyambung sehingga menimbulkan kesimpulan yang salah

    Lider Gazetesi: “Presiden Recep Tayyip Erdogan menghadiri upacara turnkey peringatan dan tempat tinggal gempa yang diselenggarakan untuk peringatan pertama gempa bumi Elazig. Presiden Erdogan membuat pernyataan penting pada upacara tersebut.”

    Karaman Habercisi: “Permukiman baru Dedemli Neighborhood, yang dibangun oleh Toki di distrik Meram Konya, akan segera selesai. Kaynak: Konya Karaman Yolu Üzerinde Dedemli İçin Sona Yaklaşılıyor”

    TRT HABER: “Presiden Erdoğan memeriksa rumah gempa dari helikopter dan menerima informasi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Urbanisasi, Murat Kurum.”
    Anadolu Ajansi: “Untuk keluarga yang rumahnya hancur atau rusak parah akibat gempa bumi yang terjadi pada 24 Januari tahun lalu, TOKI menyelesaikan pembangunan 8 ribu rumah di bawah kepemimpinan Kementerian Lingkungan Hidup dan Urbanisasi.”

    Kesimpulan

    Klaim dan foto TIDAK nyambung. Foto pertama adalah ketika Erdogan mengunjungi rumah gempa di Elâzığ, dihubungkan dengan foto perumahan di Dedemli yang jaraknya ratusan kilometer dari Elâzığ.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Satu2nya negara yg tidak ada COVID19-nya TANZANIA. Mereka gak pernah adakan Rapid Test n PCR kepada penduduknya”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 03/02/2021

    Berita

    Akun Lois Lois (fb.com/lois.lois.501) pada 28 Januari 2021 mengunggah sebuah gambar tangkapan layar status Instagram akun @rachay.mds yang berisi klaim “Satu2nya negara yg tidak ada COVID19-nya TANZANIA. Mereka gak pernah adakan Rapid Test n PCR kepada penduduknya” dan “Itu sebabnya tahun lalu kopit udah 3 bulan. tapi di indonesia masih normal-normal aja. sebelum ada alat tes Ga ada tuh dokter yang bingung, ini penyakit apa yahh? Mungkinkah ini kopit?”

    Akun Lois Lois menambahkan narasi sebagai berikut:

    “Gara2 ada alat setan Rapid dan PCR yg di sumbang Bill gate..Dunia kacau balau meyakini ada virus hanya karena adanya alat setan ini!!!!! Masih Main2 alat setan
    Maka harus siap di racuni obat yg di beri label ‘Antivirus’!! Agar bergejala berat sesak nafas,mual,nyeri dada,jantung berdebar pakai Ventilator!! Dokter yg ketakutan melihat gejala keracunan obat ini merengek2 minta di suntik racun! Bukan kah ini tampak seperti permainan setan!!!
    Yg tidak percaya informasi saya,kata Jenderal Made: Biarkan aja Bu.. Nanti mereka kena karmanya sendiri!!”
    Tanzania bebas covid
    Tanzania covid
    tanzania bebas hoax
    tanzania bebas covid?
    Tanzania Bebas Covid
    Tanzania bebas COVID-19
    Covid tanzania

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyebut bahwa Tanzania adalah satu-satunya negara yang tidak ada Covid-19 karena tidak menggunakan tes rapid maupun tes PCR kepada penduduknya adalah klaim yang menyesatkan.

    Faktanya, tercatat ada 509 kasus Covid-19 di Tanzania, di mana 21 orang di antaranya meninggal saat artikel ini ditulis (3 Februari 2021). Tanzania pun mewajibkan orang yang keluar-masuk negaranya untuk berbagai alasan harus memiliki surat tes PCR Covid-19 dengan hasil negatif.

    Dilansir dari Tirto, berdasarkan laporan WHO, Tanzania mencatat lima kasus positif pertamanya pada 17 Maret 2020. Puncak kasus harian terjadi pada 30 April 2020 dengan 180 kasus baru. Tanzania terakhir melaporkan kasus konfirmasi pada 8 Mei 2020 dengan 29 kasus. Total menjadi 509 kasus konfirmasi dengan 21 kematian.

    Selain itu, dilansir dari Tempo, Tanzania pun mewajibkan orang yang keluar-masuk negaranya untuk memiliki hasil tes PCR negatif. Dikutip dari berita di All Africa pada 12 Januari 2021, individu yang masuk dan keluar dari Tanzania untuk berbagai alasan, baik itu urusan pribadi, bisnis, atau wisata, harus memiliki surat tes PCR Covid-19 dengan hasil negatif.

    Langkah-langkah itu diambil oleh Tanzania untuk menjunjung tinggi komitmen dan memastikan negaranya tetap aman bagi rakyatnya, wisatawan, dan investor yang ingin mengunjungi Tanzania selama masa-masa sulit ini.

    Kesimpulan

    Faktanya, tercatat ada 509 kasus Covid-19 di Tanzania, di mana 21 orang di antaranya meninggal saat artikel ini ditulis (3 Februari 2021). Tanzania pun mewajibkan orang yang keluar-masuk negaranya untuk berbagai alasan harus memiliki surat tes PCR Covid-19 dengan hasil negatif.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini