[SALAH] Indonesia Tidak Dapat Menggugat Jika Vaksin Bermasalah
Sumber: facebook.comTanggal publish: 23/01/2021
Berita
Beredar di media sosial Facebook, sebuah unggahan tangkapan layar dari sebuah berita yang menyatakan bahwa Indonesia tak dapat menggugat secara hukum, jika vaksin yang diberikan mengalami masalah. Unggahan ini pun mengaitkan artikel tersebut dengan vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah saat ini.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran terhadap artikel yang terdapat dalam unggahan, ternyata menjelaskan tentang vaksin Pfizer asal Amerika Serikat yang ingin dibebaskan dari segala tuntutan hukum jika vaksinnya bermasalah. Karena hal itu, Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir, mengatakan bahwa pemerintah sampai sekarang belum bisa menyepakati pembelian vaksin covid-19 dari perusahaan Pfizer-BioNTech asal AS tersebut.
Sedangkan saat ini, vaksin yang telah beredar di Indonesia hanyalah vaksin Sinovac. Terkait pemberian vaksin Sinovac, pemerintah mengimbau seluruh masyarakat agar tidak takut divaksin. Melansir dari artikel Tempo, Wakil Menteri Hukum dan HAM Eddy Hiariej mengatakan, pemerintah dapat mengeluarkan ultimum remedium berupa sanksi pidana dan denda, sebagai langkah akhir jika masyarakat tetap menolak untuk divaksin.
Vaksin Sinovac ini telah melewati uji dan tahapan hukum di Indonesia. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia pun telah menerbitkan fatwa mengenai kehalalan vaksin Covid-19 buatan Sinovac ini. Dalam Fatwa MUI Nomor: 02 Tahun 2021 Tentang Produk Vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Science Co. LTD China dan PT Bio Farma (Persero), MUI menyatakan bahwa vaksin tersebut hukumnya suci dan halal. Selain itu, Sinovac sendiri telah resmi mengantongi izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) berdasarkan data hasil pemantauan dan analisis dari uji klinik yang dilakukan di Indonesia dan juga mempertimbangkan data hasil uji klinik yang dilakukan di negara Brasil dan Turki.
Jadi dapat disimpulkan, narasi yang mengaitkan antara vaksin Pfizer dalam artikel, dengan vaksin Sinovac yang diberikan kepada masyarakat Indonesia saat ini adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Sedangkan saat ini, vaksin yang telah beredar di Indonesia hanyalah vaksin Sinovac. Terkait pemberian vaksin Sinovac, pemerintah mengimbau seluruh masyarakat agar tidak takut divaksin. Melansir dari artikel Tempo, Wakil Menteri Hukum dan HAM Eddy Hiariej mengatakan, pemerintah dapat mengeluarkan ultimum remedium berupa sanksi pidana dan denda, sebagai langkah akhir jika masyarakat tetap menolak untuk divaksin.
Vaksin Sinovac ini telah melewati uji dan tahapan hukum di Indonesia. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia pun telah menerbitkan fatwa mengenai kehalalan vaksin Covid-19 buatan Sinovac ini. Dalam Fatwa MUI Nomor: 02 Tahun 2021 Tentang Produk Vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Science Co. LTD China dan PT Bio Farma (Persero), MUI menyatakan bahwa vaksin tersebut hukumnya suci dan halal. Selain itu, Sinovac sendiri telah resmi mengantongi izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) berdasarkan data hasil pemantauan dan analisis dari uji klinik yang dilakukan di Indonesia dan juga mempertimbangkan data hasil uji klinik yang dilakukan di negara Brasil dan Turki.
Jadi dapat disimpulkan, narasi yang mengaitkan antara vaksin Pfizer dalam artikel, dengan vaksin Sinovac yang diberikan kepada masyarakat Indonesia saat ini adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Rujukan
- https://bali.suara.com/read/2021/01/12/163136/nah-lho-indonesia-diminta-tak-boleh-gugat-kalau-vaksin-covid-19-bermasalah?ref=terkini_bali_list_1
- https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/12/140200765/isi-lengkap-fatwa-mui-soal-sertifikasi-halal-vaksin-covid-19-sinovac?page=all
- https://www.kompas.com/sains/read/2021/01/11/180200723/vaksin-sinovac-resmi-dapat-izin-bpom-efikasi-uji-capai-653-persen
- https://nasional.tempo.co/read/1423927/wamenkumham-sanksi-pidana-penolak-vaksin-covid-19-jika-pranata-lain-tak-jalan
[SALAH] Menag Yaqut Tidak Lagi Anggarkan Dana untuk Pesantren
Sumber: facebook.comTanggal publish: 23/01/2021
Berita
“DPR Kecewa Menag Yaqut Tak Lagi Anggarkan Dana untuk Pesantren”
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook bernama La pada grup MANUSIA MERDEKA memposting sebuah link artikel yang berjudul “DPR Kecewa Menag Yaqut Tak Lagi Anggarkan Dana untuk Pesantren “. Postingan tersebut diunggah pada tanggal 20 Januari 2021.
Setelah ditelusuri, pada website resmi kemenag.go.id ditemukan berita dengan judul “Afirmasi Pesantren, Kemenag Siapkan Beasiswa, BOS, IP hingga Bantuan Sarpras” pada tanggal 20 Januari 2021. Memberikan afirmasi terhadap pendidikan pesantren merupakan komitmen Yaqut Cholil dan sejumlah program telah disiapkan Kemenag dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. Program tersebut mencakup aspek akademik, kelembagaan, sumber daya manusia (SDM), serta bantuan sarana prasarana (sarpras).
“Sejumlah program afirmasi pesantren sudah kita siapkan di 2021. Kami menyebutnya sebagai program penguatan dan pengembangan pesantren,” tegas Menag di Jakarta, Rabu (20/01) mengutip dari kemenag.go.id.
Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani menambahkan, Kemenag juga telah mengalokasikan anggaran insentif untuk ustadz pesantren dengan jumlah Rp250 ribu. Sedangkan santri ada dua jenis bantuan yang disiapkan yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Pesantren yang sudah di alokasikan anggaran lebih dari Rp162 miliar untuk 160 ribu lebih santri dan Program Indonesia Pintar (PIP) pesantren yang sekitar Rp145 miliar dialokasikan untuk membantu lebih dari 188 ribu santri.
Dengan demikian, informasi bahwa Menag Yaqut tidak lagi menganggarkan dana untuk pesantren tidak benar sehingga masuk dalam kategori konten yang menyesatkan. Kemenag telah mengalokasikan anggaran untuk ustadz pesantren sedangkan untuk santri yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) pesantren.
Setelah ditelusuri, pada website resmi kemenag.go.id ditemukan berita dengan judul “Afirmasi Pesantren, Kemenag Siapkan Beasiswa, BOS, IP hingga Bantuan Sarpras” pada tanggal 20 Januari 2021. Memberikan afirmasi terhadap pendidikan pesantren merupakan komitmen Yaqut Cholil dan sejumlah program telah disiapkan Kemenag dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. Program tersebut mencakup aspek akademik, kelembagaan, sumber daya manusia (SDM), serta bantuan sarana prasarana (sarpras).
“Sejumlah program afirmasi pesantren sudah kita siapkan di 2021. Kami menyebutnya sebagai program penguatan dan pengembangan pesantren,” tegas Menag di Jakarta, Rabu (20/01) mengutip dari kemenag.go.id.
Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani menambahkan, Kemenag juga telah mengalokasikan anggaran insentif untuk ustadz pesantren dengan jumlah Rp250 ribu. Sedangkan santri ada dua jenis bantuan yang disiapkan yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Pesantren yang sudah di alokasikan anggaran lebih dari Rp162 miliar untuk 160 ribu lebih santri dan Program Indonesia Pintar (PIP) pesantren yang sekitar Rp145 miliar dialokasikan untuk membantu lebih dari 188 ribu santri.
Dengan demikian, informasi bahwa Menag Yaqut tidak lagi menganggarkan dana untuk pesantren tidak benar sehingga masuk dalam kategori konten yang menyesatkan. Kemenag telah mengalokasikan anggaran untuk ustadz pesantren sedangkan untuk santri yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) pesantren.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (Institut Agama Islam Negeri Surakarta).
Informasi tersebut tidak benar. Faktanya Kemenag telah mengalokasikan anggaran untuk ustadz pesantren sedangkan untuk santri berupa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) pesantren.
Informasi tersebut tidak benar. Faktanya Kemenag telah mengalokasikan anggaran untuk ustadz pesantren sedangkan untuk santri berupa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) pesantren.
Rujukan
Sesat, Klaim Ini Video Astronot yang Lompat dari Pesawat Luar Angkasa di Ketinggian 128 Ribu Kaki
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 22/01/2021
Berita
Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria berpakaian astronot yang terjun dari angkasa beredar di media sosial. Video tersebut diklaim sebagai video astronot Austria yang melompat dari pesawat luar angkasa yang berada di ketinggian 128 ribu kaki dan menempuh perjalanan sejauh 1.236 kilometer ke bumi dalam waktu 4 menit 5 detik. Menurut klaim tersebut, video ini merupakan video milik kantor berita BBC.
Di Facebook, video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Andiyundinaraihan Andiyundinaraihan, tepatnya pada 21 Januari 2021. Akun ini menuliskan narasi, “Angkasawan Austria melompat dr ketinggian 128000 kaki dr kapal angkasa dn menempuh perjalanan sejauh 1236 kilometer kebumi dalam waktu 4 menit 5 detik. Dia melihat bumi berputar dengan jelas. Vidio rekaman BBC yang menarik dn mengejutkan. Masya Allah.... Allahu Akbar...”
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Andiyundinaraihan Andiyundinaraihan pada 21 Januari 2021 yang memuat klaim sesat terkait video dari BBC yang diunggahnya.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengan toolInVID. lalu, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa pria dalam video itu bukan astronot, melainkan atlet terjun bebas berkebangsaan Austria bernama Felix Baumgartner. Ia melompat dari ketinggian 128.100 kaki, atau 39 kilometer dari permukaan bumi.
Video tersebut pernah diunggah ke YouTube oleh kanal Red Bull pada 16 Oktober 2012 dengan judul “Red Bull Stratos - World Record Freefall”. Dalam keterangannya, tertulis bahwa Felix Baumgartner mencapai kecepatan sekitar 1.357,6 kilometer per jam atau 843,6 mil per jam ketika melompat dari stratosfer, yang membuatnya menjadi orang pertama yang menyaingi kecepatan suara saat terjun bebas.
Red Bull Stratos merupakan sebuah projek dengan misi melampaui batas manusia dan memajukan penemuan ilmiah untuk kepentingan umat manusia. Misi yang berhasil mereka selesaikan telah memecahkan rekor dunia serta memberikan data medis dan ilmiah yang berharga bagi para pionir masa depan.
Menurut ketua tim projek tersebut, Art Thompson, Red Bull Stratos adalah program uji terbang ilmiah multilevel kelas dunia. Program ini diluncurkan pada 14 Oktober 2012. Felix Baumgartner diterjunkan dari Roswell, New Mexico, Amerika Serikat, dan naik ke stratosfer dengan balon helium. Ia menjadi orang pertama yang melampaui kecepatan suara saat terjun bebas.
Aksi Felix Baumgartner ini juga diberitakan oleh BBC pada 14 Oktober 2012 dengan judul “Skydiver Felix Baumgartner breaks sound barrier”. BBC juga menulis bahwa Baumgartner merupakan penerjun bebas pertama yang melaju lebih cepat dari kecepatan suara, mencapai kecepatan maksimum 1.342 kilometer per jam atau 833,9 mil per jam.
Saat melompat keluar dari balon yang berada di ketinggian 128.100 kaki atau 39 kilometer di atas New Mexico, pria berusia 43 tahun itu juga memecahkan rekor dunia terjun bebas tertinggi. Hanya butuh kurang dari 10 menit bagi Baumgartner untuk turun. Saat berada di ketinggian beberapa ribu kaki, ia membuka parasutnya. Setelah mendarat, dia berlutut dan mengangkat tinjunya dengan penuh kemenangan.
"Izinkan saya memberi tahu Anda, ketika saya berdiri di sana, di puncak dunia, Anda akan menjadi sangat rendah hati. Anda tidak berpikir untuk memecahkan rekor dunia lagi, Anda tidak berpikir untuk mendapatkan data ilmiah, satu-satunya hal yang Anda inginkan adalah kembali hidup-hidup," kata Baumgartner usai melakukan aksi tersebut.
Felix Baumgartner
Dikutip dari situs pribadi Felix Baumgartner, felixbaumgartner.com, pria kelahiran Salzburg, Austria, pada 1969 ini mulai mendalami dunia terjun payung pada usia 16 tahun. Ia kemudian memperluas keahliannya sebagai bagian dari tim demonstrasi dan kompetisi militer Austria.
Pada 1988, Baumgartner mulai melakukan aksi terjun payung untuk Red Bull. Pemikiranout-of-the-boxperusahaan dan semangat petualang Baumgartner begitu klik, sehingga sejak saat itu mereka berkolaborasi. Baumgartner pun menjadi atlet Red Bull paling terkenal di dunia saat ini.
Baumgartner menyebut hari dimana ia melakukan aksinya pada 14 Oktober 2012 tersebut sebagai hari yang sangat istimewa. Setelah bertahun-tahun berlatih, melakukan penelitian dengan tim, ia akhirnya siap dan mampu melakukan uji lompat pertama setinggi 21 kilometer di atas permukaan bumi.
“Pada hari itu, setelah saya mendarat dengan selamat di tanah di Roswell, New Mexico, kami semua tahu bahwa sangat mungkin untuk melampaui kecepatan suara. Hanya masalah waktu sampai impian saya menjadi kenyataan, dan itu terjadi,” kata Baumgartner.
Berdasarkan arsip berita Tempo, sebelum beraksi di New Mexico, Baumgartner telah melompat dari dua bangunan tertinggi di dunia, termasuk patung Kristus Penebus di Rio de Janeiro. Dia juga telah melakukan terjun payung melintasi Selat Inggris. Selain itu, ia pernah terjun ke dalam gua gelap sedalam 190 meter, yang dianggapnya sebagai lompatan tersulit sepanjang kariernya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video tersebut adalah video astronot Austria yang melompat dari pesawat luar angkasa yang berada di ketinggian 128 ribu kaki, menyesatkan. Pria berpakaian astronot dalam video tersebut memang terjun dari ketinggian sekitar 128 ribu kaki dan berasal dari Austria, namun ia bukan astronot, melainkan atlet terjun payung. Atlet yang bernama Felix Baumgartner ini pun tidak terjun dari pesawat luar angkasa, melainkan dari balon helium. Video tersebut diambil pada 14 Oktober 2012 saat Baumgartner terjun dari ketinggian 128.100 kaki atau 39 Kilometer di atas wilayah New Mexico, AS. Aksinya itu membuat Baumgartner menjadi penerjun payung pertama yang melaju lebih cepat dari kecepatan suara, dengan kecepatan maksimum 1.342 kilometer per jam.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/astronot
- https://archive.vn/bikN4
- https://www.tempo.co/tag/austria
- https://bit.ly/39SmmNP
- https://win.gs/3pa2uMy
- https://bbc.in/3c3uf5Y
- https://www.tempo.co/tag/rekor-dunia
- https://bit.ly/3c3ufTw
- https://bit.ly/2Y6j6ZT
- https://www.tempo.co/tag/kecepatan-suara
- https://bit.ly/39PIN6m
- https://www.tempo.co/tag/luar-angkasa
Keliru, Pakai Masker Membuat CO2 Menumpuk dan Keasaman Tubuh Naik Sehingga Rentan Virus
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 22/01/2021
Berita
Klaim bahwa memakai masker bisa membuat karbon dioksida atau CO2 menumpuk dan keasaman tubuh meningkat sehingga rentan terhadap virus dan bakteri beredar di Facebook. Klaim ini diunggah oleh akun Setyo Hajar Dewantoro pada 21 Januari 2021, yang dilengkapi dengan gambar tangkapan layar berita dari situs media Detik.com. Berita ini menyebut tubuh tidak bisa mentolerir derajat keasaman atau pH di bawah 7 atau terlalu asam.“Gini lo ya soal masker itu. Masker membuat sirkulasi udara di tubuh jadi tidak natural. Anda menghirup kembali CO2 yang mestinya Anda buang. Tentu saja itu membuat CO2 makin menumpuk di dalam darah, membuat kadar keasaman tubuh meningkat. Itu membuat badan jadi rentan pada virus dan bakteri,” demikian klaim yang ditulis oleh akun Setyo Hajar Dewantoro.
Kemudian, akun tersebut juga mengklaim bahwa orang-orang yang rajin menggunakan masker, apalagi dalam jangka panjang, justru memiliki kemungkinan positif Covid-19 yang lebih tinggi saat menjalani tesswabPCR atau tes rapid antigen. "Kalo diswab PCR dan rapid test antigen, orang-orang yang rajin pake masker apalagi dalam jangka panjang ya probabilitas positif jadi tinggi,” katanya.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Setyo Hajar Dewantoro yang memuat klaim keliru terkait pemakaian masker di tengah pandemi Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, klaim bahwa memakai masker meningkatkan kadar CO2 dan keasaman dalam tubuh, yang kemudian membuat rentan terinfeksi virus dan bakteri, tidak sesuai dengan penelitian yang ada. Masker justru menjadi pelindung agar terhindar dari infeksi SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19. Berita Detik.com yang digunakan untuk melengkapi klaim itu pun tidak berisi penjelasan bahwa masker bisa meningkatkan kadar CO2 atau pun keasaman dalam tubuh.
Mula-mula, Tempo memeriksa isi berita Detik.com tersebut, yang merupakan berita lama yang dimuat pada 9 Maret 2010 dan berjudul "Agar pH Tubuh Tidak Terlalu Asam". Tidak ada satu pun kalimat dalam berita ini yang menjelaskan bahwa meningkatnya keasaman dalam tubuh disebabkan oleh penggunaan masker. Menurut berita itu, tubuh terlalu asam diduga karena diet dan stres.
Tubuh menjadi terlalu asam ketika seseorang terlalu sering makan makanan olahan, makanan kemasan, makanan manis, pasta, produk susu (susu, keju, es krim), minuman beralkohol, obat-obatan, dan garam meja. Makan daging juga meningkatkan keasaman tubuh. Sementara stres ikut memainkan peran penting dalam membuat tubuh terlalu asam. Ini menjawab mengapa orang yang terus hidup dalam ketegangan dan kekakuan cenderung memiliki asam yang cukup banyak.
Tempo kemudian menelusuri informasi tentang keterkaitan antara pemakaian masker dengan kadar CO2 dalam tubuh. Spesialis pengobatan kritis dari Hospital and Clinic University of Iowa, Gregory A. Schmidt, menuturkan bahwa menggunakan masker tidak akan mengganggu sirkulasi udara, baik kadar oksigen maupun kadar CO2 dalam tubuh.
Mereka mengukur tingkat saturasi oksigen dan CO2 di dalam tubuh Danica, seorang terapis pernapasan, ketika memakai masker denganpulse oxymeter. Sebagai informasi, tingkat normal saturasi oksigen dalam darah berada pada level 95-100 persen, sementara CO2 pada level 35-45 persen.
Hasilnya, saat masker dan pelindung wajah (face shield) digunakan selama dua jam, tingkat saturasi oksigen Danica berada pada level 98 persen dan CO2 pada rentang 33-35 persen. Demikian pula ketika durasi pemakaian masker diperpanjang menjadi 4 jam, tingkat saturasi oksigen Danica mencapai 98 persen dan CO2 berada pada level 34 persen. Pada durasi penggunaan masker 6 jam, tingkat saturasi oksigen mencapai 99 persen dan CO2 sebesar 32 persen.
Menurut Gregory, oksigen dan CO2 berukuran sangat kecil sehingga mudah melewati celah-celah masker. Sedangkandroplet, atau cipratan air liur (yang menjadi medium penularan virus Corona), berukuran lebih besar dibandingkan oksigen dan CO2 sehingga tidak mudah menerobos masker.
Menurut arsip berita Tempo, dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Andika Chandra Putra, juga mengatakan bahwa pemakaian masker untuk mencegah penularan Covid-19 tidak akan menimbulkanhypoxiaatau kondisi berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Bahkan, penggunaan masker N95, masker dengan kerapatan tertinggi dibandingkan masker bedah dan kain, secara sering sekalipun tidak sampai dilaporkan mengubah fungsi paru-paru.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa memakai masker membuat karbon dioksida atau CO2 menumpuk dan keasaman tubuh meningkat sehingga rentan terhadap virus dan bakteri, keliru. CO2 dan oksigen berukuran sangat kecil sehingga bisa keluar-masuk dengan mudah melewati masker. Sementaradropletberukuran lebih besar, sehingga akan terhalang ketika memakai masker. Dengan demikian, pemakaian masker justru melindungi seseorang dari Covid-19, yang juga harus disertai dengan menjaga jarak serta mencuci tangan.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://archive.is/lQF9h%20
- https://www.tempo.co/tag/masker
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://www.tempo.co/tag/virus-corona
- https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/d-1314497/agar-ph-tubuh-tidak-terlalu-asam-
- https://uihc.org/health-topics/do-face-masks-make-you-retain-carbon-dioxide
- https://www.tempo.co/tag/co2
- https://www.tempo.co/tag/oksigen
- https://tekno.tempo.co/read/1382573/dokter-paru-pakai-masker-cegah-covid-19-tak-sebabkan-hypoxia/full&view=ok
Halaman: 6907/8554



