• [SALAH] Video Menara Masjid di Palestina Ditembaki Tentara Israel

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 04/03/2021

    Berita

    Beredar video melalui pesan WhatsApp yang menunjukkan sebuah menara masjid yang diberondong tembakan ketika sedang mengumandangkan adzan. Video tersebut juga disertai narasi yang menyatakan bahwa aksi penembakan tersebut dilakukan oleh tentara Israel terhadap menara masjid di Palestina.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut bukan merupakan video menara masjid di Palestina yang ditembaki oleh tentara Israel, melainkan menara masjid di Irak yang ditembaki oleh Korps Marinir Amerika Serikat pada bulan Maret 2008 yang lalu. Video yang sama telah diunggah oleh kanal YouTube Michael Moore pada 16 Maret 2008, dengan judul video “WINTER SOLDIER: U.S. Marines Fire on Mosques Unprovoked”.

    Dengan demikian, narasi yang beredar melalui pesan WhatsApp tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Kesimpulan

    Video tersebut bukan merupakan video menara masjid di Palestina yang ditembaki oleh tentara Israel, melainkan menara masjid di Irak yang ditembaki oleh Korps Marinir Amerika Serikat pada bulan Maret 2008 yang lalu.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Emma Watson Pensiun dari Kariernya

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 04/03/2021

    Berita

    Akun Twitter Kels 💖 (@ShoujolsMyLove) mengunggah cuitan berupa foto Emma Watson dengan narasi yang mengklaim bahwa ak‏tris asal Inggris tersebut pensiun dari kariernya. Cuitan tersebut telah mendapat atensi sebanyak 4.826 retweet, 18.442 like, dan 55 balasan.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, rumor pensiunnya Emma Watson dari karier akting tidak benar. Mengutip dari EW, manager Emma Watson yang bernama Jason Weinberg, membantah rumor tersebut.

    “Akun media sosial Emma tidak aktif tetapi kariernya tidak,” tegasnya.

    Dari fakta yang telah dipaparkan, maka cuitan akun Twitter Kels ? (@ShoujolsMyLove) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Faktanya, rumor pensiunnya Emma Watson dari dunia akting telah dibantah oleh Jason Weinberg, manager Emma Watson.
    Selengkapnya di bagian penjelasan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Instagram Membatasi Jangkauan Foto Unggahan Pengguna Menjadi 7% dari Pengikut

    Sumber: Instagram.com
    Tanggal publish: 04/03/2021

    Berita

    Akun Instagram Amanda Ensing (@amandaensing) mengunggah foto yang di dalamnya tertulis narasi bahwa Instagram telah membatasi unggahan yang hanya dapat dilihat tidak lebih 7% pengikut. Ia juga meminta kepada pengikutnya untuk memberikan komentar “Yes” dan like jika melihat unggahannya untuk meningkatkan jangkauan. Unggahan tersebut telah mendapatkan atensi sebanyak 38.190 suka.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, Instagram membantah adanya pembatasan seperti yang diklaim pada unggahan tersebut. Instagram pernah memberikan klarifikasi terkait isu yang sama melalui akun Twitter resminya pada Januari 2019.

    “Kami melihat peningkatan pada unggahan tentang Instagram yang membatasi jangkauan foto Anda menjadi 7% dari pengikut Anda, dan kami akan dengan senang hati menjelaskannya,” cuit Instagram.

    “Apa yang muncul pertama kali di feed Anda ditentukan oleh unggahan dan akun apa yang paling sering berinteraksi dengan Anda, serta faktor lain yang berkontribusi seperti ketepatan waktu unggahan, seberapa sering Anda menggunakan Instagram, berapa banyak orang yang Anda ikuti, dll,” tambahnya.

    Meskipun Instagram telah mengonfirmasi isu pembatasan itu sejak 2 tahun yang lalu, mengikutip dari Politifact, informasi tersebut masih berlaku berdasarkan apa yang disampaikan Instagram pada media tersebut.

    Dari berbagai fakta yang telah dijelaskan, unggahan akun Instagram Amanda Ensing (@amandaensing) dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Faktanya, Instagram membantah adanya pembatasan jumlah pengikut yang dapat melihat unggahan penggunanya.
    Selengkapnya di bagian penjelasan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Klaim Empat Nakes Ini Meninggal Karena Vaksin Covid-19

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 04/03/2021

    Berita


    Klaim yang mempertanyakan meninggalnya empat tenaga kesehatan baru-baru ini setelah disuntik vaksin Covid-19 Sinovac beredar di Facebook pada 25 Februari 2021. Menurut klaim itu, meskipun sejumlah pihak mengatakan bahwa keempatnya meninggal bukan karena Covid-19, mereka meninggal dengan penyebab yang sama, yakni penyakit kardiovaskular (cardiovascular), kelainan darah (blood disorder), dan kerusakan otak (brain damage).
    "Walau tim cek fakta dan beberapa media klaim bukan karena vaksin covid.. tapi kenapa semua nya meninggal dengan ciri ciri penyebab yg sama seperti korban lain di luar negeri ? Yaitu : 1. Cardiovascular 2. Blood Disorder 3. Brain Damage," demikian narasi yang diunggah oleh akun ini.
    Menurut akun tersebut, penyebab meninggalnya seorang dokter di Palembang, Sumatera Selatan, usai disuntik vaksin Covid-19 adalah penyakit jantung (cardiovascular). Sementara itu, seorang nakes di Cilacap karena demam berdarah (thrombocytopenia/blood disorder); seorang nakes di Blitar, karena demam dan sesak napas (cardiovascular); dan Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Tamalatea Makassar karena sesak nafas (cardiovascular).
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait meninggalnya empat tenaga kesehatan baru-baru ini di tengah program vaksinasi Covid-19.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, keempat tenaga kesehatan tersebut meninggal bukan karena vaksin Covid-19. Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Hindra Irawan Satari, mengatakan meninggalnya empat nakes itu sudah diaudit oleh tim dari lembaganya. “Hasilnya, bukan karena vaksin Covid-19,” kata Hindra saat dihubungi pada 4 Maret 2021.
    Selain itu, menurut Hindra, cardiovascular, blood disorder, dan brain damage bukan penyakit yang disebabkan oleh vaksin Covid-19. Khusus kejadian di Blitar, nakes ini meninggal karena terinfeksi Covid-19 sebelum menerima vaksin Sinovac. Dengan demikian, dia belum memiliki antibodi dari vaksin untuk mencegah terinfeksi Covid-19. “Antibodi terbentuk antara 14-30 hari setelah penyuntikan vaksin kedua,” ujarnya.
    Hal tersebut ditegaskan oleh dokter spesialis patologi klinis, Tonang Dwi Ardyanto. Menurut dia, tiga penyakit itu, cardiovascular, blood disorder, dan brain damage, bisa terjadi dalam beberapa kondisi. Namun, bukan dampak dari vaksin Covid-19 maupun infeksi Covid-19.
    Pernyataan Hindra terkait kejadian di Blitar pun sama dengan pernyataan Deny Christianto, Kepala Bidang Pelayanan Medik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo, Blitar, yang dikutip dari VoA Indonesia. Menurut Deny, hasil audit Komite Daerah (Komda) KIPI, meninggalnya perawat tersebut tidak disebabkan oleh vaksin Covid-19.
    “Kalau dari Komda KIPI menyatakan, ini kan sudah dilaksanakan audit KIPI di tingkat nasional, itu disampaikan bahwa memang kejadian meninggalnya nakes E ini tidak berhubungan dengan vaksinasi Covid-19 sebelumnya. Dan kesimpulannya bahwa vaksin Sinovac ini aman dan bisa dilanjutkan,” tutur Deny.
    Terkait penyebab meninggalnya nakes di Cilacap, dikutip dari Portal Purwokerto, nakes tersebut didiagnosa mengalami demam berdarah, dengan pemberat di saluran cerna. Dia masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit pada 3 Februari 2021 sore dengan keluhan lemas dan feses berwarna hitam.
    Soal Direktur STIK Tamalatea Makassar, menurut Hindra, dia terkena Covid-19 setelah bepergian ke Mamuju, Sulawesi Barat. Anak dan suaminya juga terkonfirmasi positif Covid-19.
    Dikutip dari IDN Times Sulawesi Selatan, Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan, dan Penunjang Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Mansyur Arif mengatakan kematian Direktur STIK Tamalatea Eha Soemantri sudah dikaji dan diasesmen bersama Komda Penanggulangan dan Pengkajian KIPI Sulsel.
    Mansyur mengatakan Eha menerima suntikan vaksin Covid-19 pertama pada 14 Januari. Sebelum dan sesudah vaksinasi, dia berkunjung ke Mamuju. "Nyonya ES diketahui mengalami sesak napas, demam, dan batuk tiga hari pasca vaksinasi kedua yakni pada 1 Februari dan dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 pada 5 Februari berdasarkan tes swab antigen," kata Mansyur.
    Pada 17 Februari, Eha telah dinyatakan negatif berdasarkan tes swab PCR. Namun, keesokan harinya, keadaan Eha menurun. "Almarhumah dinyatakan meninggal ketika dirawat di ICU (Intensive Care Unit) RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo pada 19 Februari," ujar Mansyur.
    Berdasarkan asesmen, RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo mengambil kesimpulan bahwa Eha kemungkinan terinfeksi Covid-19 sebelum vaksinasi kedua diberikan. Ketika berkunjung ke luar kota itulah Eha diduga pernah berkontak dengan orang yang positif Covid-19.
    Adapun terkait dokter di Palembang yang diklaim meninggal karena vaksin Covid-19, Tempo telah memeriksa klaim itu pada 25 Januari dan menyatakannya keliru. Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan kematian dokter yang berinisial JF tersebut tidak ada hubungannya dengan vaksinasi Covid-19, yang saat ini baru dilakukan dengan vaksin Sinovac.
    "Laporan sementara, almarhum memang menerima vaksin pada Kamis (21 Januari) dan ditemukan telah meninggal pada Jumat (22 Januari) malam. Dari pemeriksaaan sementara, ditemukan tanda-tanda kekurangan oksigen, dan tanda ini tidak berhubungan dengan akibat vaksinasi," ujar Nadia.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa empat tenaga kesehatan tersebut meninggal karena vaksin Covid-19, keliru. Keempatnya meninggal karena beberapa penyebab, mulai dari terinfeksi Covid-19, kekurangan oksigen, hingga demam berdarah. Ketiga hal tersebut tidak berkaitan dengan pemberian vaksin Covid-19.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini