[SALAH] Presenter TV One diberi Sensor Berupa Hijab untuk Menutup Aurat
Sumber: twitter.comTanggal publish: 05/02/2021
Berita
Beredar sebuah postingan dari akun Twitter Ade Armando memposting sebuah video dari acara TV One, terlihat presenter dari acara tersebut diberi suntingan berupa setelan jilbab untuk menutupi aurat dari presenter tersebut. Postingan tersebut disukai sebanyak 348 kali, diretweet sebanyak 56 kali, dan ditonton 8 ribu kali.
Hasil Cek Fakta
Setelah melakukan penelusuran, video siaran dari TV One tersebut dapat ditemukan pada channel Apa Kabar Indonesia tvOne dengan judul “Sutradara Film ‘Jejak Khilafah di Nusantara’ Angkat Bicara Soal Dianggap Propaganda HTI | tvOne” yang dipublikasi pada 27 Agustus 2020. Video tersebut membahas bersama narasumber cendekiawan Muslim Azyumardi Azra dan Sutradara film Nico Pandawa tentang film Jejak Khilafah di Nusantara yang sempat menjadi kontroversi dikarenakan film tersebut diblokir pada saat siaran langsung secara virtual. Acara itu dibawakan oleh presenter Chacha Annisa dan pada video tersebut tidak ada sensor ataupun tambahan setelan hijab pada presenter sepanjang video.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim presenter TV One diberi sensor berupa hijab untuk menutup aurat adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang dimanipulasi/Manipulated Content.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim presenter TV One diberi sensor berupa hijab untuk menutup aurat adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang dimanipulasi/Manipulated Content.
Rujukan
[SALAH] Ramuan Penangkal Covid-19 oleh Kemenkes
Sumber: facebook.comTanggal publish: 05/02/2021
Berita
Beredar sebuah postingan dari akun Facebook Wiena Bundax Nizam memposting beberapa tangkapan layar sebuah dokumen yang diklaim adalah ramuan penangkal Covid-19 oleh Kemenkes. Postingan disukai sebanyak 13 kali, dikomentari sebanyak 7 kali, dan disebarkan kembali 5 kali.
Ramuan Covid
Ramuan covid 19
Kementerian kesehatan obat tradisional
Pemanfaatan obat tradisional
Ramuan herbal menkes
Surat edaranan kemenkes ramuan
Ramuan covid kemenkes
"Ramuan Covid Kemenkes"
Ramuan covid kemenkes
Ramuan covid kemenkea
Ramuan Covid
Ramuan covid 19
Kementerian kesehatan obat tradisional
Pemanfaatan obat tradisional
Ramuan herbal menkes
Surat edaranan kemenkes ramuan
Ramuan covid kemenkes
"Ramuan Covid Kemenkes"
Ramuan covid kemenkes
Ramuan covid kemenkea
Hasil Cek Fakta
Setelah melakukan penelusuran, isi surat edaran tersebut bukanlah ramuan untuk menangkal Covid-19 melainkan tentang pemanfaatan obat tradisional untuk dalam upaya pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan Kesehatan di masa darurat kesehatan hingga bencana nasional Covid-19. Ada beberapa perbedaan dalam versi file yang beredar di media sosial dengan file asli oleh Kemenkes, yaitu perihal jumlah halaman yang terlampir pada file di media sosial hanya berjumlah 3 lembar sedangkan file asli oleh Kemenkes berisikan 5 lembar.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim dokumen berisikan ramuan penangkal Covid-19 oleh Kemenkes adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Salah/False Context.
Melihat dari penjelasan tersebut, klaim dokumen berisikan ramuan penangkal Covid-19 oleh Kemenkes adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Salah/False Context.
Rujukan
- http://yankes.kemkes.go.id/view_unduhan/6/se-dirjen-yankes-nohk0202iv2020
- https://www.kemkes.go.id/article/view/20052100005/kemenkes-sarankan-masyarakat-manfaatkan-obat-tradisional.html
- https://www.merdeka.com/cek-fakta/cek-fakta-hoaks-surat-edaran-dari-kemenkes-terkait-ramuan-covid-19.html
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/GbmqnV1b-cek-fakta-beredar-dokumen-kemenkes-soal-ramuan-covid-19-hoaks-ini-faktanya
[SALAH] “Semua Fraksi Sepakat Copot Anies”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 05/02/2021
Berita
Akun Facebook bernama Farida Noor membagikan sebuah postingan di grup bernama “Jokowi yang terbaik”, disertai dengan link menuju akun YouTube “SKEMA POLITIK”. Postingannya tersebut dimaksudkan untuk memberitahukan publik bahwa semua fraksi DPRD DKI Jakarta sepakat untuk mencopot Anies Baswedan. Ia juga memberikan link sebuah video yang berjudul “Semua Fraksi Sepakat Copot Anies, Jokowi Beri Restu!? ~ Berita Terbaru”, untuk menguatkan klaimnya.
Hasil Cek Fakta
Setelah dilakukan penelusuran fakta dengan pemutaran video berdurasi 11 menit 40 detik, diketahui narasi dalam video tidak menyebutkan sama sekali bahwa semua fraksi sepakat untuk mencopot Anies.
Di menit pertama hingga 00:06:16 berisi cuplikan-cuplikan siaran Presiden Jokowi bersama rapat kabinet untuk mendesak seluruh jajarannya agar tidak lengah dalam penanganan pandemi COVID-19, di beberapa cuplikan terlihat Presiden Jokowi akan memberikan sanksi tegas bagi Menteri, Pejabat dan Birokrat yang tidak serius dalam menangani pandemi.
Setelah itu, narasi pada menit ke- 00:06:27 hingga 00:09:16, ditemukan sama persis dalam artikel berita dari netralnews.com yang berjudul “Heboh DPC Gerindra Minta Gubernur Anies Mundur, AA: pendukung Kini Sadar Memang Tak Berkualitas”.
Kemudian narasi pada menit 00:09:17 hingga akhir ditemukan sama persis dalam artikel berita dari rmoldkijakarta.id yang berjudul “Minta Anies Mundur, Pemuda Muhammadiyah DKI Desak Ketua DPC Gerindra Jaktim Dipecat”.
Meski begitu, dalam kedua artikel tersebut, sama sekali tidak menyebutkan bahwa semua fraksi sepakat mencopot Anies. Adapun narasi yang diungkapkan seputar Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Jakarta Timur Ali Lubis yang meminta Gubernur Anies Baswedan untuk mundur, hal ini karena dianggapnya bahwa Gubernur DKI Jakarta tersebut tak mampu mengendalikan penyebaran Covid-19 di Jakarta.
Dilansir dari kompas.com, cuitan soal pencopotan Anies berasal dari akun Twitter Ali Lubis,
“Anies Baswedan nyerah lawan COVID-19? Jika seperti itu maka sebaiknya mundur saja dari Jabatan Gubernur”.
Cuitan tersebut kemudian menimbulkan kisruh di internal Partai Gerindra sebagai partai pengusung Anies Baswedan pada Pilgub DKI Jakarta yang lalu.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa, klaim akun Farida Noor adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.
Di menit pertama hingga 00:06:16 berisi cuplikan-cuplikan siaran Presiden Jokowi bersama rapat kabinet untuk mendesak seluruh jajarannya agar tidak lengah dalam penanganan pandemi COVID-19, di beberapa cuplikan terlihat Presiden Jokowi akan memberikan sanksi tegas bagi Menteri, Pejabat dan Birokrat yang tidak serius dalam menangani pandemi.
Setelah itu, narasi pada menit ke- 00:06:27 hingga 00:09:16, ditemukan sama persis dalam artikel berita dari netralnews.com yang berjudul “Heboh DPC Gerindra Minta Gubernur Anies Mundur, AA: pendukung Kini Sadar Memang Tak Berkualitas”.
Kemudian narasi pada menit 00:09:17 hingga akhir ditemukan sama persis dalam artikel berita dari rmoldkijakarta.id yang berjudul “Minta Anies Mundur, Pemuda Muhammadiyah DKI Desak Ketua DPC Gerindra Jaktim Dipecat”.
Meski begitu, dalam kedua artikel tersebut, sama sekali tidak menyebutkan bahwa semua fraksi sepakat mencopot Anies. Adapun narasi yang diungkapkan seputar Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Jakarta Timur Ali Lubis yang meminta Gubernur Anies Baswedan untuk mundur, hal ini karena dianggapnya bahwa Gubernur DKI Jakarta tersebut tak mampu mengendalikan penyebaran Covid-19 di Jakarta.
Dilansir dari kompas.com, cuitan soal pencopotan Anies berasal dari akun Twitter Ali Lubis,
“Anies Baswedan nyerah lawan COVID-19? Jika seperti itu maka sebaiknya mundur saja dari Jabatan Gubernur”.
Cuitan tersebut kemudian menimbulkan kisruh di internal Partai Gerindra sebagai partai pengusung Anies Baswedan pada Pilgub DKI Jakarta yang lalu.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa, klaim akun Farida Noor adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.
Rujukan
- https://www.netralnews.com/dpc-gerindra-minta-gubernur-anies-mundur-g9n1dc
- https://www.rmoldkijakarta.id/minta-anies-mundur-pemuda-muhammadiyah-dki-desak-ketua-dpc-gerindra-jaktim-dipecat
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/MkMd4qxb-cek-fakta-semua-fraksi-sepakat-copot-anies-ini-faktanya
- https://megapolitan.kompas.com/read/2021/01/26/17391171/duduk-perkara-kisruh-di-gerindra-berawal-kritikan-ali-lubis-desak-anies?page=all
[SALAH] Foto Satelit Retakan Bawah Laut Akibat Gempa Sulbar
Sumber: facebook.comTanggal publish: 05/02/2021
Berita
Akun facebook bernama Firman Syah Rezeck mengunggah postingan berupa foto satelit google maps wilayah Tanjung Tapalang, Sulawesi Barat dengan tambahan narasi klaim bahwa dalam foto tersebut terdapat retakan laut akibat gempa di Sulawesi Barat.
Retakan gempa sulawesi foro satellite
Retakan gempa sulawesi foro satellite
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelusuran, dilansir dari CekFakta Tempo, garis-garis berwarna biru tua itu memang terlihat dalam foto satelit wilayah Tanjung Tapalang, Sulawesi Barat, di Google Maps. Namun, garis-garis tersebut bukan retakan bawah laut yang diakibatkan oleh gempa.
Tempo kemudian meminta penjelasan dari Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono. Menurut dia, garis-garis biru tua itu memang penampakan dasar laut, tapi bukan karena dampak gempa Sulawesi Barat pada 15 Januari 2021. “Memang strukturnya demikian,” kata Daryono pada 4 Februari 2021.
Menurut Daryono, struktur dasar laut memiliki batuan atau material yang lemah sehingga mudah tergerus air atau terdeformasi. Struktur ini sama dengan struktur yang ada di darat, yang terjadi secara alamiah. “Itu memang alamiah, karena material dasar laut sebenarnya mirip seperti di darat juga. Ada yang keras, ada yang lemah, ada yang gampang erosi, ada yang tidak.”
Dia pun meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan hal tersebut. “Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar Daryono.
Tampilan struktur bawah laut di wilayah Sulbar terlihat lebih jelas di Google Earth. Google Earth adalah program pemetaan dan penandaan geografis unik yang menggunakan citra komposit untuk membentuk peta bumi yang komprehensif dan interaktif dengan menggabungkan lebih dari satu miliar citra satelit dan udara.
Tempo kemudian meminta penjelasan dari Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono. Menurut dia, garis-garis biru tua itu memang penampakan dasar laut, tapi bukan karena dampak gempa Sulawesi Barat pada 15 Januari 2021. “Memang strukturnya demikian,” kata Daryono pada 4 Februari 2021.
Menurut Daryono, struktur dasar laut memiliki batuan atau material yang lemah sehingga mudah tergerus air atau terdeformasi. Struktur ini sama dengan struktur yang ada di darat, yang terjadi secara alamiah. “Itu memang alamiah, karena material dasar laut sebenarnya mirip seperti di darat juga. Ada yang keras, ada yang lemah, ada yang gampang erosi, ada yang tidak.”
Dia pun meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan hal tersebut. “Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar Daryono.
Tampilan struktur bawah laut di wilayah Sulbar terlihat lebih jelas di Google Earth. Google Earth adalah program pemetaan dan penandaan geografis unik yang menggunakan citra komposit untuk membentuk peta bumi yang komprehensif dan interaktif dengan menggabungkan lebih dari satu miliar citra satelit dan udara.
Rujukan
Halaman: 7024/8695



