• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Produk Prancis yang Dibuang oleh Negara-negara Timur Tengah?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 03/11/2020

    Berita


    Video pendek yang diklaim sebagai video produk Prancis yang dibuang oleh negara-negara Timur Tengah beredar di Facebook sejak akhir Oktober 2020 lalu. Video ini menyebar di tengah munculnya berbagai seruan boikot produk Prancis sebagai respons atas pernyataan Presiden Emmanuel Macron terkait Islam.
    Dalam video itu, terlihat sejumlah truk kontainer yang terparkir di gurun pasir, dan beberapa orang tampak membuang barang-barang yang terdapat dalam truk tersebut.
    Salah satu akun yang membagikan video beserta klaim itu adalah akun Apriel, tepatnya pada 30 Oktober 2020. Akun ini menulis, "Produk prancis Timur Tengah semua di Buang. Harta Melebihi Kecintaanya Kepada Rasulullah. Akibat pelecehanya Semua Produk² Prancis tidak Hanya di Kosongkan di Semua Supermarket tpi dibuang."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Apriel.
    Akun lain, Jastip Rezky Samboja, juga membagikan video yang sama, namun disematkan dalam gambar tangkapan layar berita dari Kompas.com yang berjudul “Perancis Desak Timur Tengah Hentikan Boikot Produknya di Tengah Kisruh Kartun Nabi Muhammad”.
    Apa benar video tersebut menunjukkan saat negara-negara Timur Tengah membuang produk Perancis?

    Hasil Cek Fakta


    Hasil verifikasi Tim CekFakta Tempo menunjukkan video di atas tidak terkait dengan pemboikotan produk-produk asal Prancis oleh negara-negara Timur Tengah. Kompas.com juga tidak memuat video itu dalam beritanya yang berjudul “Perancis Desak Timur Tengah Hentikan Boikot Produknya di Tengah Kisruh Kartun Nabi Muhammad”. Video tersebut adalah video lama yang telah beredar sejak 2016, yang terkait dengan kebijakan pemerintah distrik Al Qasim, Arab Saudi, untuk memusnahkan ayam kemasan kedaluwarsa.
    Untuk mendapatkan fakta tersebut, Tempo mula-mula menelusuri berita Kompas.com yang berjudul "Perancis Desak Timur Tengah Hentikan Boikot Produknya di Tengah Kisruh Kartun Nabi Muhammad". Namun, berita yang terbit pada 26 Oktober 2020 tersebut tidak memuat video itu, melainkan foto Presiden Emmanuel Macron yang bersumber dari kantor berita Prancis Agence France-Presse (AFP).
    Tempo kemudian mencari jejak digital video tersebut, dengan mengambil gambar tangkapan layarnya dan menelusurinya dengan reverse image tool Yandex. Lewat cara ini, ditemukan video yang sama di kanal YouTube How Much yang dipublikasikan pada 7 Januari 2017. Video itu diberi keterangan "Pakistan Destroying Trucks Full of Indian Fake Currency | Modi's Demonetization Impact".
    Selanjutnya, Tempo memasukkan kalimat dalam judul video itu, "Pakistan Destroying Trucks Full of Indian Fake Currency", ke mesin pencari Google untuk menelusuri pemberitaan terkait. Lewat cara ini, ditemukan petunjuk lain dalam artikel di situs media India Times pada 23 Desember 2016. Menurut artikel ini, klaim bahwa video itu adalah video penghancuran mata uang India palsu yang diangkut oleh sejumlah kontainer juga tidak benar.
    Ketika itu, video tersebut memang banyak dibagikan di India lewat WhatsApp dengan klaim yang keliru tersebut, setelah pemerintah India mengumumkan demonetisasi semua uang kertas 500 dan 1.000 rupee dari seri Mahatma Gandhi pada 8 November 2016. Sebagai gantinya, pemerintah menerbitkan uang kertas 500 dan 2.000 rupee. Langkah ini diambil dalam rangka mengurangi peredaran uang tunai ilegal dan palsu yang kerap dipakai untuk mendanai kegiatan ilegal seperti terorisme.
    India Times menjelaskan bahwa video itu adalah video pembongkaran isi truk yang membawa ayam kemasan yang telah kedaluwarsa di luar Kota Mekkah, Arab Saudi. Dengan demikian, video tersebut tidak ada kaitannya dengan mata uang India palsu maupun pembuangan produk-produk asal Prancis.
    Tempo pun menelusuri pemberitaan terkait ayam kemasan kedaluwarsa di Arab Saudi pada 2016. Peristiwa ini pernah diberitakan oleh situs milik stasiun televisi berita Uni Emirat Arab, Al Arabiya, pada 17 November 2016. Situs ini menyertakan foto dan video dari YouTube yang sama dengan yang saat ini beredar.
    Menurut laporan Al Arabiya, video tersebut adalah video yang terkait dengan kebijakan pemerintah distrik Al Qasim, Arab Saudi, untuk memusnahkan sekitar 80 ribu ayam kemasan kedaluwarsa. Puluhan ribu ayam kemasan itu disita dari sekitar 25 truk kontainer berpendingin yang akan didistribusikan di dalam dan di luar distrik.
    Penyitaan itu dilakukan setelah pemerintah setempat menggerebek pusat distribusi ayam busuk di pinggiran kota Buraidah. Sebanyak 25 truk kontainer yang berisi ayam kedaluwarsa itu diminta parkir di sebuah padang pasir, dan terlihat para pekerja menurunkan muatan.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video produk Prancis yang dibuang oleh negara-negara Timur Tengah keliru. Video tersebut telah beredar sejak 2016, jauh sebelum munculnya berbagai seruan boikot produk Prancis sebagai respons atas pernyataan Presiden Emmanuel Macron terkait Islam. Video itu memperlihatkan pemusnahan sekitar 80 ribu ayam kemasan kedaluwarsa di distrik Al Qasim, Arab Saudi. Gambar tangkapan layar berita Kompas.com yang terlihat memuat video ini pun merupakan hasil suntingan.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Tusuk 10 Jari dengan Jarum adalah Pertolongan Pertama Stroke?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 03/11/2020

    Berita


    Pesan berantai yang berisi klaim bahwa menusuk 10 jari dengan jarum adalah salah satu metode pertolongan pertama untuk penyakit stroke beredar di Facebook. Metode ini disebut sebagai metode “pelepasan darah”. Metode itu berupa menusuk 10 jari dengan jarum, bisa jarum suntik, jarum jahit, atau jarum pentul, ke 10 ujung jari hingga berdarah. Setelah darah keluar, seseorang yang terkena stroke akan sadar kembali.
    “Di tempat kejadian, topanglah si penderita supaya dalam posisi duduk, agar tidak terjatuh lagi. Setelah posisi duduk, kini saatnya untuk melepaskan darah. Bila di rumah ada jarum suntik, itu paling baik. Bila tidak ada, pakailah jarum jahit atau jarum pentul. Namun sebelumnya jarum harus disterilkan dengan cara dibakar api sejenak (pakai korek api, kompor). Kemudian tusuklah kesepuluh ujung jari di kedua tangan agar berdarah. Bila darah tidak keluar, bisa dipencet atau dipijit, hingga kesepuluh jari itu meneteskan darah ("setiap jari setetes"). Beberapa menit kemudian, si penderita dengan sendirinya akan sadar kembali,” demikian narasi dalam pesan berantai itu. 
    Salah satu akun yang membagikan pesan berantai tersebut adalah akun Rini Haerani, tepatnya pada 26 Oktober 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan 71 reaksi dan dibagikan sebanyak 144 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Rini Haerani.
    Apa benar menusuk 10 jari dengan jarum adalah pertolongan pertama stroke?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri informasi terkait dengan memasukkan kata kunci “pertolongan pertama pelepasan darah bagi penderita stroke” dan “menusuk 10 jari dengan jarum untuk stroke” di mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa pesan berantai serupa telah beredar setidaknya sejak 2013. Namun, menurut berbagai pemberitaan media yang mengutip para ahli, isi pesan berantai itu keliru.
    Dikutip dari berita di Detik.com pada 18 Maret 2013, dokter spesialis saraf dari Universitas Indonesia, Ahmad Yanuar, menepis kebenaran pesan berantai yang menyebut “menusuk 10 jari dengan jarum adalah pertolongan pertama stroke” tersebut. “Sejauh ini, tidak ada penelitian seperti itu, tidak diketahui efektif atau tidaknya tindakan tersebut,” kata Ahmad. Satu-satunya tindakan yang harus segera dilakukan adalah membawa penderita ke rumah sakit, sehingga bisa diberi tindakan reperfusi. “Sekitar 3-6 jam setelah kejadian, pasien harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan medis,” ujarnya. 
    Pernyataan ini diperkuat oleh penjelasan dokter spesialis saraf lainnya, Fritz Sumantri. “Yang harus digarisbawahi, kedokteran berangkat dari penelitian dan uji coba. Sampai saat ini, ilmu kedokteran tidak mengenal cara seperti itu (menusuk 10 jari dengan jarum), sehingga kita juga tidak tahu efektivitasnya,” kata Fritz.
    Dilansir dari situs kesehatan Klikdokter.com, menurut artikel oleh dokter spesialis penyakit dalam Alvin Nursalim pada 2 Maret 2015, informasi soal pertolongan pertama stroke dengan menusukkan jarum di ujung jari penderita tidak benar. Stroke adalah gangguan pada pembuluh darah otak. Gangguan ini dapat berupa tersumbat atau pecahnya pembuluh darah. Stroke perlu ditangani dengan segera, karena waktu awal terjadinya stroke merupakan waktu yang menentukan terapi selanjutnya.
    Menurut Alvin, penanganan awal stroke bukan dengan mengeluarkan darah dari ujung jari. “Mengeluarkan darah dari ujung jari tidak memiliki manfaat dalam penyembuhan pasien stroke,” katanya. Bahkan, jika jarum yang digunakan tidak bersih, penderita stroke dapat mengalami infeksi akibat tusukan tersebut.
    Alvin pun menjelaskan penanganan awal stroke yang tepat, yakni menjaga patensi jalan napas dan kestabilan sirkulasi darah pasien. “Jika pasien tidak sadar, baringkan pada tempat yang aman, posisikan pasien dengan tubuh menghadap ke samping kiri untuk mencegah masuknya cairan ke saluran pernapasan, lalu segera panggil pertolongan untuk membawa pasien ke unit gawat darurat terdekat,” kata Alvin.
    Penjelasan yang sama pun diberikan oleh dokter spesialis saraf dari Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Yuda Turana, seperti yang dimuat oleh Tempo pada 23 Februari 2018. Menurut dia, klaim bahwa “menusuk 10 jari dengan jarum adalah pertolongan pertama stroke” keliru. “Tidak benar. Justru, respons nyeri akibat tusukan jarum dapat meningkatkan tekanan darah yang berisiko memperburuk strokenya,” ujar Yuda.
    Penegasan bahwa metode ini tak tepat juga diungkapkan oleh dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Harapan Kita, Dicky Armein Hanafy. Dia bahkan mengatakan cara ini tidak berguna sama sekali. "Tidak ada gunanya sama sekali. Ada risiko infeksi, apalagi kalau jarumnya tidak steril atau bersih," katanya. Ketimbang memberikan pertolongan pertama di rumah, kedua dokter ini menyarankan untuk segera melarikan penderita ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan. "Keluarga harus langsung bawa ke rumah sakit," ujar Yuda.
    Dikutip dari situs kesehatan Alodokter.com, dalam bagian “Tanya Dokter”, dokter Saphira Evani menyatakan bahwa pertolongan pertama bagi penderita stroke adalah membawanya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat. “Menusuk ke-10 jari pasien dengan jarum tidak bisa menghentikan proses terjadinya stroke,” ujarnya. Dia menambahkan, “Belum ada satu pun jurnal medis yang dapat membuktikan manfaat dari tindakan tersebut. Dengan menusuk jari, Anda telah membuang waktu untuk mencari jarum, menusukkannya ke penderita, yang mana seharusnya lebih bijak dipergunakan untuk membawa penderita ke rumah sakit terdekat.” 

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa “menusuk 10 jari dengan jarum adalah pertolongan pertama stroke” keliru. Para dokter spesialis saraf dan jantung telah menyatakan bahwa menusuk 10 jari dengan jarum bukanlah cara yang tepat untuk menangani seseorang yang terkena stroke. Bahkan, tindakan itu bisa berbahaya, menyebabkan infeksi jika jarum yang digunakan tidak steril. Penanganan pertama stroke adalah menjaga patensi jalan napas dan kestabilan sirkulasi darah penderita. Jika tidak sadar, penderita dibaringkan di tempat yang aman, dan tubuhnya diposisikan menghadap ke samping kiri untuk mencegah masuknya cairan ke saluran pernapasan. Lalu, segera panggil pertolongan untuk membawa pasien ke unit gawat darurat terdekat.
    SITI AISAH
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] SBY: “Rakyat punya hak untuk mengkritik. Jadi gapapa kalo demo anarkis, sekalian saya tambah pasukan”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 02/11/2020

    Berita

    “Rakyat punya hak untuk mengkritik
    Jadi gapapa kalo demo anarkis, sekalian saya tambah pasukan”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar pada Facebook akun dengan nama Anti Provokasi mempostingan gambar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan klaim SBY mengatakan “rakyat punya hak untuk mengkritik. Jadi gapapa kalo demo anarkis, sekalian saya tambah pasukan”. Postingan tersebut diunggah pada 15 Oktober 2020.

    Setelah ditelusuri, ditemukan video yang sama dengan gambar tersebut. Dalam video yang berjudul “pesan SBY untuk pemerintah” dan video yang sama pada channel YouTube Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak ditemukan kata-kata tersebut.

    “Rakyat punya hak untuk menyampaikan kritik pandangannya ketidak sukanya kepada negara, pemimpin itu kalau mendengarkan rakyatnya itu perlu untuk introspeksi. Jadi sekali lagi harapan saya saudara-saudara saya rakyat Indonesia menyampaikan kritik, ya kritik yang proporsional. Kalau statement yang seperti pemerintah berbohong harus disertai bukti, tetapi silahkan gunakan untuk kepentingan bangsa kita” menit ke 4:16 pada Youtube Susilo Bambang Yudhoyono 23 Maret 2018.

    Dengan demikian, klaim bahwa Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan “Rakyat punya hak untuk mengkritik
    Jadi gapapa kalo demo anarkis, sekalian saya tambah pasukan” adalah tidak benar. Faktanya, hal tersebut tidak pernah dikatakan oleh SBY pada video asli di Youtube dan gambar pada postingan Facebook adalah tangkap layar dari video tersebut, sehingga hal ini masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (Institut Agama Islam Negeri Surakarta).

    Klaim tersebut adalah tidak benar. Faktanya, hal tersebut tidak pernah dikatakan oleh SBY pada video asli di Youtube dan gambar pada postingan Facebook adalah tangkap layar dari video tersebut.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video Penguburan Massal Produk Perancis

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 02/11/2020

    Berita

    “Penguburan Masal Produk Perancis”

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook Raffasya II mengunggah video disertai dengan narasi yang menggambarkan bahwa video tersebut merupakan video penguburan massal produk Perancis pada 30 Oktober 2020. Unggahan itu mendapat respon sebanyak 457 reaksi, 32 komentar, dan telah dibagikan sebanyak 599 kali.

    Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan video serupa yang diunggah oleh akun YouTube Moha M dengan judul ” ياساتر وشش ذااا?” pada 19 November 2016. Mengutip dari berita di portal Al Arabiya yang terbit pada 17 November 2016, video tersebut merupakan video yang diambil saat operasi resmi di bawah pengawasan Sekretariat wilayah al-Qassim untuk membuang sekitar 80.000 bungkus ayam kedaluwarsa yang tidak layak konsumsi.

    Dengan demikian, unggahan akun Facebook Raffasya II dapat dikategorikan sebagai Konten yang Salah karena video tersebut bukan video penguburan massal produk Perancis, melainkan video operasi resmi pembuangan sekitar 80.000 bungkus ayam kedaluwarsa yang tidak layak konsumsi di bawah pengawasan Sekretariat al-Qassim tahun 2016.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)

    Narasi yang salah. Faktanya, video tersebut merupakan video operasi resmi di bawah pengawasan Sekretariat al-Qassim, Arab Saudi untuk membuang sekitar 80.000 bungkus ayam kedaluwarsa yang tidak layak konsumsi tahun 2016.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini