• [SALAH] “Penemuan hewan baru bermata 4 di South Sudan, menjadi salah satu keindahan di Afrika”

    Sumber: instagram.com
    Tanggal publish: 21/12/2020

    Berita

    Akun Instagram Ringkasdunia (instagram.com/ringkasdunia) mengunggah sebuah gambar dengan narasi “Empat mata”

    Gambar itu terdiri dari dua foto yang memperlihatkan seekor kambing hitam bermata empat dan narasi “Penemuan hewan baru bermata 4 di South Sudan, menjadi salah satu keindahan di Afrika”.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP, klaim adanya foto penemuan hewan baru bermata empat di South Sudan, Afrika adalah klaim yang salah.

    Faktanya, bukan hewan. Foto itu menunjukkan boneka makhluk mitos kuno dari Basque yang dibuat oleh seniman asal Spanyol.

    Dilansir dari AFP, foto pertama di unggahan menyesatkan adalah versi cermin dari foto Fuego Fatuo Art. Pencarian gambar terbalik dan kata kunci di Google menemukan foto yang diunggah pada tanggal 25 Oktober 2019, di akun Instagram Fuego Fatuo Art, milik seniman asal Spanyol Alvaro Herranz.

    Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, status unggahan itu berbunyi: “[EN] Akerbeltz sekarang tersedia untuk preorder di www.fuegofatuo.etsy.com! Tautan di bio!”

    Akerbeltz, yang menyerupai kambing atau anak kambing jantan berwarna hitam, adalah mahluk dalam mitologi Basque, di Spanyol bagian utara.

    Foto kedua di unggahan menyesatkan juga merupakan versi cermin dari foto Fuego Fatuo Art yang tertanggal 12 Oktober 2019.

    Keterangan foto itu berbunyi: “Izinkan saya memperkenalkan bayi kecil Akerbeltz ini. Akerbeltz adalah makhluk mitos dari mitologi Basque di Spanyol bagian utara. Awalnya dianggap sebagai pelindung alam dan hewan, hubungannya dengan penyihir dan grup penyihir dari zaman kuno membuat agama Kristen menganggap mereka makhluk jahat yang berhubungan dengan iblis. Simbolisme mana pun yang Anda pilih untuk percaya, tampaknya makhluk yang baik untuk musim seram tahun ini. Bagaimana menurut Anda?”

    Fuego Fatuo Art juga mempublikasikan video review boneka makhluk tersebut di kanal YouTubenya. Di menit ke-2:30, Herranz, sang seniman, menjelaskan dia menambahkan sepasang tanduk dan mata ekstra karena dia ingin membuat hewan itu “menjadi lebih fantastis”.

    Kesimpulan

    BUKAN hewan. Foto itu menunjukkan boneka makhluk mitos kuno dari Basque yang dibuat oleh seniman asal Spanyol.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video Jarum Suntik Menghilang Saat Proses Vaksinasi Covid-19

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 21/12/2020

    Berita

    “Disappearing needles!! There soo desperate, come on!!”

    Terjemahan Narasi:
    “Jarum yang menghilang!! Sangat putus asa, ayolah!!”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar video proses vaksinasi Covid-19 di media sosial dengan narasi yang menyebutkan jarum menghilang setelah disuntikan ke tubuh pasien.

    Dari hasil penelusuran, diketahui informasi tersebut tidak benar. Jarum pada suntikan tidak menghilang, tapi otomatis ditarik menggunakan suntikan khusus yang disebut “Safety Syringe” (Alat Suntik Pengaman). Alat suntik pengaman merupakan alat suntik dengan mekanisme keamanan tambahan untuk mengurangi risiko cedera pada petugas kesehatan dan orang lain akibat tertusuk jarum yang tidak disengaja.

    Alat suntik pengaman telah digunakan secara luas selama lebih dari satu dekade dan hingga kini terdapat banyak model untuk jarum suntik jenis ini. Menggunakan alat suntik pengaman tidak berdampak pada jumlah vaksin yang didapat seseorang dan tidak berbeda dengan menerima vaksin melalui jarum suntik tradisional.

    Dilansir dari bbc.com, klip video datang dari laporan yang disiarkan di BBC TV 16 Desember 2020, dibagikan oleh juru kampanye anti-vaksin. Mereka mengklaim jarum suntik palsu dengan “jarum yang menghilang” digunakan sebagai upaya pihak berwenang untuk mempromosikan vaksin yang sebenarnya tidak ada.

    Dari penelusuran di atas diketahui jarum suntik tidak menghilang saat proses vaksinasi, melainkan alat yang digunakan berupa suntikan dengan pengaman tambahan yang dapat menarik kembali jarum setelah digunakan. Sehingga status tersebut masuk kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Rizqi Abdul Azis (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia).

    Jarum suntik tidak hilang. Alat suntik yang digunakan bernama “Safety Syringe” yang dapat menarik kembali jarum setelah digunakan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto Bupati Gowa dengan Narasi Lockdown Tanggal 19-27 Desember

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 20/12/2020

    Berita

    “Hasil Rapat Pimpinan insya Allah Kita akan lockdown mulai tanggal 19 Desember 2020 – 27 Desember 2020, pengumuman resmi akan menyusul dan diminta tetap bekerja dari rumah dan diminta untuk tidak keluar daerah terutama pergi rekreasi”.

    Hasil Cek Fakta

    Beredar pesan berantai di media sosial yang berisi informasi lockdown tanggal 19 – 27 Desember 2020. Pesan tersebut melampirkan foto Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan.

    Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kabupaten Gowa, Arifuddin Saeni menyatakan informasi tersebut tidak benar. Ia mengatakan terjadi peningkatan kasus positif Covid-19 di Gowa, Sulawesi Selatan sehingga masyarakat diharuskan mematuhi protokol kesehatan dengan disiplin menggunakan masker, jaga jarak, rajin cuci tangan dan tidak berkerumun. Kendati demikian, Pemkab tidak berencana untuk melakukan lockdown pada tanggal 19 – 27 Desember 2020.

    “Untuk lockdown tidak ada. Pak Bupati dan Wabup hanya mengingatkan untuk meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19,” ujar Arifuddin dilansir dari humas.gowakab.go.id, 18 Desember 2020.

    Menurutnya jika nanti akan diberlakukan lockdown, Pemerintah Gowa akan melakukan sosialisasi secara resmi, tidak melalui pesan berantai yang beredar. Lebih lanjut, Arifuddin mengimbau agar masyarakat agar selalu mematuhi protokol kesehatan yang berlaku di masyarakat.

    Sementara itu, foto Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan yang dicatut bukan membahas perihal lockdown. Foto tersebut diambil ketika Adnan memimpin rapat perihal Pilkada 2020 bersama para pimpinan SKPD dan para camat lingkup Pemkab Gowa di Baruga Karaeng Galesong, Kantor Bupati Gowa, Senin 7 September 2020. Sehingga dari penelusuran di atas, pesan berantai tersebut masuk kategori Konten Palsu.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Rizqi Abdul Azis (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia).

    Pemerintah Kabupaten Gowa mengatakan informasi tentang lockdown tidak benar. Selain itu foto Bupati Gowa yang dilampirkan bukan sedang membahas tentang lockdown maupun Covid-19, namun perihal Pilkada 2020.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Kebijakan Lockdown dan Menjaga Jarak Merupakan Strategi untuk Mencegah Revolusi

    Sumber: instagram.com
    Tanggal publish: 20/12/2020

    Berita

    “Tidak banyak orang yang mengerti bahwa kebijakan “social distancing” ini tidak ada kaitannya dengan “keamanan”. Ini merupakan sebuah usaha untuk merusak hubungan antar-manusia yang merupakan elemen penting dalam kehidupan bermasyarakat. Strategi pecah belah mereka sangat jelas dan orang-orang masih saja (emotikon zombie)(emotikon zombie)”

    NARASI DALAM GAMBAR:
    “Bagaimana bibit-biti revolusi ditanamkan.
    Kita bertemu di tempat minum…
    Kita bertemu di restoran..
    Kita bertemu di Gereja.

    Apakah sekarang paham tentang strategi penyelesaiannya?”

    Hasil Cek Fakta

    Pengguna Instagram project_knowledge mengunggah sebuah foto (17/12) yang berisi tentang cara bibit-bibit revolusi pada zaman dahulu ditanamkan. Unggahan foto tersebut juga disertai dengan keterangan yang menyatakan bahwa kebijakan lockdown dan menjaga jarak yang diterapkan oleh pemerintah dunia di masa pandemi Covid-19 ini bukan merupakan usaha untuk menjaga keamanan dan keselamatan warga, melainkan merupakan strategi pemerintah untuk mencegah revolusi.

    Melansir dari who.int, kebijakan lockdown dan menjaga jarak merupakan cara paling efektif untuk menekan angka persebaran Covid-19. Hal ini dikarenakan virus penyebab Covid-19 ditularkan melalui percikan air liur yang berasal dari saluran pernapasan dan keluar melalui hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi Covid-19 batuk, bersin, maupun berbicara. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menegaskan pentingnya menjaga jarak untuk mengurangi resiko penularan Covid-19.

    Informasi dengan topik serupa juga pernah dimuat dalam situs Reuters dengan judul artikel ‘Fact check: Lockdowns and Social Distancing Measures Are Not A Ploy to Suppress Revolution’ dan mengategorikannya sebagai false.

    Dengan demikian, keterangan yang diunggah oleh pengguna Instagram project_knowledge tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).

    Informasi yang salah. Faktanya, WHO dan CDC telah menegaskan bahwa kebijakan lockdown dan menjaga jarak merupakan cara yang paling efektif untuk menekan angka persebaran Covid-19. Hal ini disebabkan karena Covid-19 mudah tersebar melalui kontak jarak dekat antara satu orang dengan yang lain.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini