• [SALAH] “Gedung-Gedung pencakar langit menembus awan Dubai, UEA.”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/12/2020

    Berita

    Beredar sebuah postingan dari akun Facebook Bagi Kertas berupa foto gedung pencakar langit yang diklaim menembus awan di Dubai, Uni Emirat Arab. Postingan ini disukai sebanyak 3,1 ribu kali, dikomentari 301 kali, dan disebarkan kembali 145 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, foto tersebut diambil pada 6 Januari 2017 yang dimuat oleh newsgd.com, pada artikel tersebut dijelaskan bahwa foto tersebut adalah gedung pencakar langit yang dikelilingi oleh kabut tebal. Foto itu diambil pada jam 7 pagi ketika kabut tersebut menjadi sangat tebal dan menghilang pada jam 9 pagi, ternyata fenomena ini biasa terjadi 2 kali setiap tahunnya yang disebabkan oleh perubahan suhu. Beberapa perbedaan antara awan dan kabut adalah awan dapat terbentuk dari ketinggian yang berbeda-beda sedangkan kabut hanya bisa terbentuk pada ketinggian yang rendah dan memiliki beberapa jenis kabut seperti super fog yang merupakan kabut yang terbentuk akibat penguapan air bergabung dengan asap kebakaran sehingga membentuk kabut yang tebal dan dapat membahayakan pengendara.

    Melihat dari penjelasan tersebut, gedung pencakar langit menembus awan di Dubai, Uni Emirat Arab adalah tidak benar melainkan fenomena kabut tebal yang terjadi 2 kali setahun sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Salah/False Context.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Vaksin yang disimpan -80 Derajat Bukanlah Vaksin Melainkan Agen Transfeksi yang Dapat Memanipulasi Genetika Manusia

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/12/2020

    Berita

    Beredar sebuah postingan dari akun Facebook Hakim Waluyo berupa narasi dengan klaim bahwa semua vaksin yang disimpan pada -80 derajat Celcius bukanlah vaksin melainkan agen transfeksi yang dapat memanipulasi materi genetik. Postingan ini disukai sebanyak 3,1 ribu kali, dikomentari 301 kali, dan disebarkan kembali 145 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, vaksin COVID-19 seperti Pfizer harus disimpan pada suhu -70 derajat Celcius sedangkan vaksin Moderna disimpan pada suhu -20 derajat Celcius tetapi dapat bertahan selama sebulan jika disimpan pada suhu kulkas. Berdasarkan laporan dari American Academy of Pediatrics ada banyak vaksin yang bisa disimpan pada keadaan nyaris membeku seperti vaksin jenis Gardasil yang diberikan peringatan tidak boleh dalam dibekukan dan disimpan pada suhu diantara 2-8 derajat Celcius. Beberapa vaksin memang memerlukan suhu yang lebih dingin khusunya vaksin yang berbasis mRNA (Messenger RNA).

    Vaksin berbasis mRNA ini tidak bekerja dengan memanipulasi genetika manusia melainkan memberikan mRNA yang berisikan intruksi pada sel imunitas untuk membuat protein yang ditampilkan pada permukaan sel agar dapat diketahui oleh sistem imun sehingga sistem imun akan mulai membuat antibodi. mRNA tidak akan memasuki nukleus sel yang menyimpan DNA atau materi genetik.

    Melihat dari penjelasan tersebut, vaksin yang disimpan pada -80 derajat Celcius bukanlah vaksin melainkan agen transfeksi yang dapat memanipulasi materi genetik adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang menyesatkan/Misleading Content

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru, Klaim Ini Video Perang antara FPI dan Suku Dayak

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 18/12/2020

    Berita


    Video yang memperlihatkan kericuhan di sebuah kota beredar di media sosial. Video ini diklaim sebagai video perang antara Front Pembela Islam (FPI) dengan Suku Dayak. Video tersebut beredar di tengah penyelidikan peristiwa penembakan anggota FPI di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 pada 7 Desember 2020 lalu oleh polisi.
    Di Facebook, tautan video itu, yang berasal dari YouTube, dibagikan oleh akun Jaka Lelana pada 11 Desember 2020. Video ini berjudul "Perang dayak vs fpi terbaru 2020. Fpi keok? Simak vidionya". Akun tersebut juga mengunggah tautan itu di kolom komentar sebuah unggahan grup Facebook Pecinta dan Pembela Islam pada 16 Desember 2020.
    Sementara pengunggah video tersebut di YouTube adalah kanal Tirto Geni. Video yang dibagikan pada 15 November 2020 itu telah berganti judul menjadi "Perang dayak vs fpi terbaru 2020. Fpi terbirit birit? Simak vidio nya. Borneo Tribal war". Hingga artikel ini dimuat, video tersebut telah ditonton lebih dari 3.500 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan video kanal YouTube Tirto Geni yang memuat klaim hoaks terkait FPI dan Suku Dayak.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menonton video berdurasi 5 menit 39 detik itu secara menyeluruh. Pada menit 5:05, terdengar suara seorang pria dalam video itu yang berkata, "Tujuan kita Terry Ibrahim." Berbekal petunjuk ini, Tempo pun menelusuri pemberitaan di mesin pencari gambar Google Images dengan kata kunci "Terry Ibrahim".
    Lewat cara tersebut, Tempo menemukan dua foto dari dua situs media yang identik dengan cuplikan dalam video di atas. Foto pertama, yang dimuat oleh Kalimantan-news.com dalam beritanya pada 12 November 2020, identik dengan cuplikan pada detik ke-30 hingga ke-36.
    Foto di situs Kalimantan-news.com (kiri) dan gambar tangkapan layar cuplikan video unggahan kanal YouTube Tirto Geni (kanan).
    Kesamaan terlihat pada spanduk berwarna biru tua yang terpasang di sebuah rumah yang bertuliskan "JaDi Center" dengan warna kuning. Ada pula sejumlah bendera yang terpasang di depan rumah tersebut yang berwarna biru, kuning, putih, dan hijau.
    Foto yang dimuat dalam berita yang berjudul "Pasukan Merah Jemput Terry Ibrahim di Posko Koalisi Adil Bersatu" itu diberi keterangan sebagai berikut: "Pasukan Merah Saat Menjemput Terry Ibrahim di Posko Koalisi Adil Bersatu, Jalan Lintas Melawi, Kamis 12 Oktober 2020."
    Sementara foto kedua, yang dimuat oleh Indo Globe News dalam beritanya pada 13 November 2020, identik dengan cuplikan pada menit 3:02. Kesamaan terlihat pada spanduk berwarna hitam yang bertuliskan "Warkop". Foto ini diberi keterangan: "Pasukan Merah Rajank Bangkule Melakukan Aksi Demo Depan Kedai Kopi Abah Sintang."
    Foto di situs Indo Globe News (kiri) dan gambar tangkapan layar cuplikan video unggahan kanal YouTube Tirto Geni (kanan).
    Menurut berita Kalimantan-news.com, pada 12 November 2020, Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) atau yang kerap disebut Pasukan Merah menjemput Terry Ibrahim di Posko Koalisi Adil Bersatu di Jalan Lintas Melawi, Sintang, Kalimantan Barat. Terry merupakan salah satu anggota DPRD Kalbar.
    Penjemputan itu dilakukan karena Terry tidak kunjung hadir dalam pertemuan bersama Pasukan Merah. Sebelumnya, pada 31 Oktober 2020, Terry dihukum adat oleh Pasukan Merah. Hukuman itu dijatuhkan setelah melalui sidang adat yang difasilitasi oleh Forum Ketemenggungan Adat Dayak Kabupaten Sintang.
    Sidang ini digelar karena Pasukan Merah merasa dirugikan atas tudingan Terry. Saat berkampanye di Desa Lepong Pantak Ketungau Hilir, Terry menyatakan bahwa Pasukan Merah telah menurunkan baliho salah satu calon Bupati Sintang. Sidang pun menjatuhkan hukum Adat Neraka Basa, Adat Kesupan, dan Adat Mali terhadap Terry.
    Menurut berita Indo Globe News, Pasukan Merah meminta Terry menyelesaikan permasalahan adatnya itu secara damai di rumah adat Betang Tampun Juah di Desa Jerora. Namun, permintaan itu tidak diindahkan. Pasukan Merah pun menjemput Terry di poskonya di Jalan Lintas Melawi.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video perang antara FPI dan Suku Dayak keliru. Video tersebut sama sekali tidak terkait dengan FPI, Video itu memperlihatkan aksi penjemputan Terry Ibrahim oleh Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) atau yang kerap disebut Pasukan Merah di Jalan Lintas Melawi, Sintang, Kalimantan Barat. Terry merupakan salah satu anggota DPRD Kalbar. Penjemputan itu dilakukan terkait kasus adat antara Pasukan Merah dan Terry.
    EOLIA PRATAMA | ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Sesat, Bansos Beras di Foto Ini yang Disebut Operasi Intelijen Polisi

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 18/12/2020

    Berita


    Foto yang memperlihatkan bungkusan plastik berisi beras dengan tulisan "Bantuan Sosial" beredar di Twitter. Di atas tulisan tersebut, terdapat tiga logo, yakni logo TNI, logo Polri, dan logo sebuah lembaga. Bansos itu disebut sebagai bentuk operasi intelijen polisi. Klaim yang menyertai foto tersebut juga mengaitkan bansos ini dengan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.
    Akun yang membagikan foto beserta klaim itu adalah akun @umaralims, tepatnya pada 14 Desember 2020. Akun ini menulis, "Beredar Operasi Intelegen. Bismillah alhamdulillah atas pertolongan Allah , barusan ada INTEL Polri datang 3 orang ke Pesantren bawa bantuan beras cerita bla bla bla sedorkan selembar kertas minta tanda tangan dan pernyataan sikap tentang HRS dividiokan tp ana menolak."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @umaralims yang berisi klaim menyesatkan soal bansos beras.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, bansos berupa beras yang terlihat dalam foto tersebut bukanlah bentuk operasi intelijen polisi. Bansos itu merupakan bansos dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bagi warga yang terdampak pandemi Covid-19. Yayasan ini menyebarkan bansos Covid-19 tersebut lewat 34 kepolisian daerah di seluruh provinsi di Indonesia.
    Untuk memeriksa klaim itu, Tempo mula-mula melakukan penelusuran di mesin pencari gambar Google Images dengan kata kunci "bantuan sosial beras TNI Polri". Lewat cara ini, ditemukan sejumlah foto yang memperlihatkan bungkusan bansos berupa beras yang identik dengan yang terlihat dalam unggahan akun @umaralims.
    Kesamaan terlihat pada tulisan "bantuan sosial" yang tercantum pada bungkus bansos serta tiga logo di atas tulisan tersebut. Tiga logo itu terdiri dari logo TNI, logo Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, dan logo Polri.
    Foto yang menunjukkan bungkusan bansos yang identik itu pernah dimuat oleh situs Intelmediabali.id pada 12 Desember 2020. Foto tersebut memperlihatkan penyerahan bansos beras kepada warga di Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali. Menurut situs ini, bantuan tersebut disebarkan lewat kerja sama antara TNI-Polri dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
    Foto yang memperlihatkan bungkusan bansos yang identik lainnya juga pernah dimuat oleh situs resmi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dalam artikelnya pada 8 Desember 2020. Di foto ini, terlihat penyerahan bansos berupa beras dari relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Padang kepada Kepala Sub Bagian Bahan Bakar Minyak dan Pelumas Polda Sumatera Barat Komisaris Basrial.
    Menurut artikel tersebut, Yayasan Buddha Tzu Chi Padang menyerahkan 190 ton beras ke Polda Sumatera Barat pada 3 Desember 2020. Bansos itu akan didistribusikan ke 19 polres di Sumbar. Masing-masing polres mendapatkan 10 ton beras yang bakal disalurkan ke polsek-polsek, yang kemudian membagikannya kepada masyarakat yang membutuhkan.
    Tempo kemudian menelusuri pemberitaan terkait bansos beras dari Yayasan Buddha Tzu Chi yang disebarkan melalui TNI-Polri tersebut. Dilansir dari Kontan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyumbang beras sebanyak 5 ribu ton untuk disebar ke seluruh Indonesia. Sumbangan ini didistribusikan melalui 34 kepolisian daerah di Indonesia.
    Selain beras, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia akan memberikan bantuan bahan pokok lain, seperti minyak dan gula. Sama seperti beras, sumbangan tersebut juga akan disalurkan melalui kepolisian daerah di 34 provinsi di Indonesia.
    Situs resmi Polri juga pernah memuat artikel tentang pendistribusian bansos Covid-19 ini pada 27 Mei 2020. Artikel itu berisi informasi tentang penyaluran bansos berupa sembako dari Yayasan Buddha Tzu Chi di Kepulauan Riau oleh para personel TNI-Polri.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa bansos beras dalam foto di atas merupakan bentuk operasi intelijen polisi, menyesatkan. Bansos tersebut memang disalurkan oleh personel TNI-Polri. Namun, bansos itu merupakan bansos dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bagi warga yang terdampak pandemi Covid-19. Yayasan ini menyebarkan bansos Covid-19 tersebut lewat 34 kepolisian daerah di seluruh provinsi di Indonesia.
    LYDIA FRANSISCA | ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini