“SUDAH SAYA BILANG HATI HATI DENGAN DATANG NYA ADZAB KALIAN BILANG TIDAK MUNGKIN ADA ADZAB,
KALAU KATA ALLOH JUSTRU KALIAN SUDAH TERLALU DEKAT DENGAN ADZAB,
MAKA APA YANG TERJADI, TIDAK ADA ORANG YANG TAHU DISITULAH HEBATNYA RAHASIA ALLOH”
[SALAH] “Berita Abu Janda Hari Ini Keadaan Koma”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/10/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Khalid Bin Wahid mengunggah sebuah gambar hasil tangkapan layar pada 27 Oktober 2020, dalam gambar tersebut terdapat keterangan “Berita Abu Janda Hari Ini Keadaan Koma”, selain itu pada gambar tersebut juga terdapat foto seseorang yang tengah dirawat.
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim Abu Janda hari ini keadaan koma adalah klaim yang salah. Tidak ditemukan informasi mengenai keadaan Abu Janda dalam keadaan koma. Sedangkan, gambar yang terdapat dalam postingan tersebut, ditemukan foto aslinya pada situs penggalangan dana dan donasi kitabisa.com yang diunggah pada 23 Maret 2017.
Diketahui seseorang dalam gambar pada postingan tersebut bernama Dista, foto tersebut diabadikan saat Dista dirawat dalam ruangan ICU Rumah Sakit. Dista merupakan seorang buruh cuci yang bekerja di usaha laundry milik tetangganya yang ada di Kota Duri, Riau. Ia mengalami kecelakan dan pendarahan hebat dikepalanya, sempat koma dan harus dirawat cukup lama diruang ICU Rumah Sakit dengan kebutuhan biaya yang cukup besar.
Dengan demikian, klaim berita Abu Janda hari ini keadaan koma adalah tidak benar dan termasuk dalam konten yang menyesatkan.
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim Abu Janda hari ini keadaan koma adalah klaim yang salah. Tidak ditemukan informasi mengenai keadaan Abu Janda dalam keadaan koma. Sedangkan, gambar yang terdapat dalam postingan tersebut, ditemukan foto aslinya pada situs penggalangan dana dan donasi kitabisa.com yang diunggah pada 23 Maret 2017.
Diketahui seseorang dalam gambar pada postingan tersebut bernama Dista, foto tersebut diabadikan saat Dista dirawat dalam ruangan ICU Rumah Sakit. Dista merupakan seorang buruh cuci yang bekerja di usaha laundry milik tetangganya yang ada di Kota Duri, Riau. Ia mengalami kecelakan dan pendarahan hebat dikepalanya, sempat koma dan harus dirawat cukup lama diruang ICU Rumah Sakit dengan kebutuhan biaya yang cukup besar.
Dengan demikian, klaim berita Abu Janda hari ini keadaan koma adalah tidak benar dan termasuk dalam konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Konaah (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta).
Informasi palsu. Tidak ditemukan informasi mengenai keadaan Abu Janda dalam keadaan koma. Sedangkan, gambar yang terdapat dalam postingan tersebut, ditemukan foto aslinya pada situs penggalangan dana dan donasi kitabisa.com yang diunggah pada 23 Maret 2017. Diketahui seseorang dalam gambar itu bernama Dista, foto tersebut diabadikan saat Dista dirawat dalam ruangan ICU Rumah Sakit.
Informasi palsu. Tidak ditemukan informasi mengenai keadaan Abu Janda dalam keadaan koma. Sedangkan, gambar yang terdapat dalam postingan tersebut, ditemukan foto aslinya pada situs penggalangan dana dan donasi kitabisa.com yang diunggah pada 23 Maret 2017. Diketahui seseorang dalam gambar itu bernama Dista, foto tersebut diabadikan saat Dista dirawat dalam ruangan ICU Rumah Sakit.
Rujukan
[SALAH] Presiden Jokowi Menjadi Dokter
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/10/2020
Berita
“Kalau Jokowi sanggup menjadi dokter , ngapain dokter kadrun ala barat menilai buruk kepada Jokowi , alasan cuma satu yaitu mereka tidak mau Indonesia maju , salam sukses buat Jokowi…”
Hasil Cek Fakta
Pengguna Facebook Cherry Chups dalam forum Manusia Merdeka mengunggah sebuah foto (27/10) yang menunjukkan Presiden RI Joko Widodo mengenakan jas dan topi berwarna putih, masker, pelindung wajah, serta sarung tangan karet. Unggahan foto tersebut juga disertai dengan keterangan yang menyatakan bahwa Jokowi sanggup menjadi dokter.
Berdasarkan hasil penelusuran, foto tersebut bukan merupakan foto Jokowi menjadi dokter, melainkan merupakan foto yang diunggah oleh situs presidenri.go.id saat Jokowi melakukan kontrol terhadap fasilitas produksi vaksin COVID-19 pada 11 Agustus 2020 yang lalu. Foto yang sama juga diunggah ulang oleh akun Facebook resmi Jokowi, Presiden Joko Widodo, pada 26 Agustus 2020, disertai dengan keterangan mengenai rencana vaksinasi Covid-19.
Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh pengguna Facebook Cherry Chups tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Berdasarkan hasil penelusuran, foto tersebut bukan merupakan foto Jokowi menjadi dokter, melainkan merupakan foto yang diunggah oleh situs presidenri.go.id saat Jokowi melakukan kontrol terhadap fasilitas produksi vaksin COVID-19 pada 11 Agustus 2020 yang lalu. Foto yang sama juga diunggah ulang oleh akun Facebook resmi Jokowi, Presiden Joko Widodo, pada 26 Agustus 2020, disertai dengan keterangan mengenai rencana vaksinasi Covid-19.
Dengan demikian, informasi yang diunggah oleh pengguna Facebook Cherry Chups tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Informasi yang salah. Faktanya, foto tersebut merupakan foto Presiden Joko Widodo saat tengah melakukan kontrol kesiapan fasilitas produksi vaksin Covid-19 pada 11 Agustus 2020 lalu.
Informasi yang salah. Faktanya, foto tersebut merupakan foto Presiden Joko Widodo saat tengah melakukan kontrol kesiapan fasilitas produksi vaksin Covid-19 pada 11 Agustus 2020 lalu.
Rujukan
[SALAH] Foto Winstar Mendapat Penghargaan Tingkat Nasional untuk Kategori Bupati Balekos Terbaik
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/10/2020
Berita
“Winstar mendapat penghargaan tingkat nasional untuk katagori Bupati Balekos terbaik”
Hasil Cek Fakta
Beredar postingan berita Koran Jakarta dengan gambar Herwin Yatim ucapkan terima kasih dan merasa terhormat atas penghargaan bupati Balekos. Judul yang tertulis di bawah foto tersebut yaitu “Winstar Mendapat Penghargaan Tingkat Nasional Untuk Katagori Bupati Balekos Terbaik”. Postingan tersebut diunggah oleh akun Sahrul Luwuk.Narasi dalam postingan tersebut “Hama,… LUAR BIASA BUPATI BANGGAI masuk koran Jakarta…. Benar tidak ini punya berita, jangan2 BALEKOS?”.
Setelah dilakukan penelusuran terhadap foto tersebut, postingan tersebut merupakan suntingan dari Koran Jakarta edisi Kamis, 19 Desember 2019. Terlihat pada koran judul asli berita sebelum diedit yaitu “Gunakan Hasil Bea Masuk untuk Industri dalam Negeri”, dan gambar aslinya petugas kepolisian bersenjata lengkap dengan latar belakan menara gereja.
Melihat dari penjelasan tersebut, Foto Winstar mendapat penghargaan tingkat nasional untuk kategori Bupati Balekos terbaik tidak benar dan termasuk dalam konten yang dimanipulasi/ manipulated content.
Setelah dilakukan penelusuran terhadap foto tersebut, postingan tersebut merupakan suntingan dari Koran Jakarta edisi Kamis, 19 Desember 2019. Terlihat pada koran judul asli berita sebelum diedit yaitu “Gunakan Hasil Bea Masuk untuk Industri dalam Negeri”, dan gambar aslinya petugas kepolisian bersenjata lengkap dengan latar belakan menara gereja.
Melihat dari penjelasan tersebut, Foto Winstar mendapat penghargaan tingkat nasional untuk kategori Bupati Balekos terbaik tidak benar dan termasuk dalam konten yang dimanipulasi/ manipulated content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Aniq Masruroh (Universitas Sebelas Maret)
Foto tersebut adalah suntingan. Foto asli adalah dua petugas kepolisian bersenjata lengkap dalam rangkaian pengamanan natal dan tahun baru.
Foto tersebut adalah suntingan. Foto asli adalah dua petugas kepolisian bersenjata lengkap dalam rangkaian pengamanan natal dan tahun baru.
Rujukan
[SALAH] Video “Terjadi demonstrasi kerusuhan di Thailand”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/10/2020
Berita
Akun Kwok Fu Lai (fb.com/kwokfu.lai.9) mengunggah sebuah video pada 17 Oktober 2020 dengan narasi “泰國~出現暴動示威,防暴警察噴射胡椒特霧~驅散示威者。” atau yang jika diterjemahkan :
“Thailand ~ Terjadi demonstrasi kerusuhan dan polisi anti huru hara menyemprotkan semprotan merica khusus ~ untuk membubarkan para demonstran.”
“Thailand ~ Terjadi demonstrasi kerusuhan dan polisi anti huru hara menyemprotkan semprotan merica khusus ~ untuk membubarkan para demonstran.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya video kerusuhan dalam aksi demonstrasi di Thailand pada 17 Oktober 2020 adalah klaim yang salah.
Fakta, bukan di Thailand. Aksi unjuk rasa di video tersebut terjadi di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia pada 8 Oktober 2020.
Video yang identik, diunggah di kanal Youtube ilove borneo pada 8 Oktober 2020 dengan judul “detik detik demo mahasiswa di pontianak part 3”
Selain itu, foto bagian gedung DPRD Kalimatan Barat yang identik dengan gedung di video itu diunggah oleh situs media online lokal Pontianak, Post Kota Pontianak dengan judul “PECAH BENTROK MAHASISWA DAN POLISI DI KONTOR DPRD PROVINSI” pada 9 Oktober 2020.
Dilansir dari news.okezone.com, aksi penolakan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Kamis (8/10/2020) berakhir ricuh. Setidaknya, sudah ada 32 diduga perusuh yang diamankan.
Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go menerangkan, ada yang memprovokasi sehingga terjadinya bentrok antara massa pengunjuk rasa dengan aparat kepolisian.
“Kelompok mahasiswa diprovokasi. Sehingga awalnya berlangsung aman, namun terjadi sedikit bentrokan. Karena ada kelompok anak-anak di bawah umur di luar kelompok mahasiswa yang selalu memulai aksi lempar dan tidak berkenan melakukan dialog,” terangnya.
Ia menjelaskan, ada yang melempar batu saat anggota DPRD Kalbar hendak turun ke lapangan menemui pengunjuk rasa untuk berdialog. Terpaksa anggota DPRD kembali ke gedung. “Karena anggota dewan dilempar dan diserang sehingga petugas pengamanan berupaya memisahkan dan menghalau pengunjuk rasa meninggalkan lokasi unjuk rasa,” jelasnya.
Menurutnya, hampir 1.000 personel gabungan Polri dan TNI yang dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi penolakan Omnibus Law ini. “Untuk yang diamankan, ada 32 orang pengunjuk rasa. Masih didalami keterlibatannya dalam aksi anarkis,” tegas Donny.
Saat ini, situasi di Kota Pontianak sudah kondusif. Sama dengan yang disampaikan Kabag Ops Polresta Pontianak, AKP Rizal Ferdianto. Ia mengatakan, dalam aksi penyampaian aspirasi mahasiswa ini disusupi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Sementara itu, perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Pengemban Amanat Rakyat (Solmadapar) Angga Marta menegaskan, ada 19 OKP dan BEM tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Ampera yang melaksanakan aksi penolakan Omnibus Law ini.
“Kami menolak secara gamblang dengan menggandeng DPRD Kalbar untuk satu suara menolak Omnibus Law. Kami hanya ini ditegakkannya demokrasi. Hak bersuara jangan dipenjara,” jelasnya usai berorasi.
Dia menyesalkan terjadinya rusuh antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Menurutnya, rusuh ini ada yang provokasi. “Ternyata ada penyusup dan tak diundang. Mereka menjadi percikan-percikan chaos ini. Saya pastikan, kami dari koalisi aksi ini tidak ada melakukan tindakan anarkisme. Itu bukan mahasiswa. Tapi dari luar,” tegasnya.
Fakta, bukan di Thailand. Aksi unjuk rasa di video tersebut terjadi di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia pada 8 Oktober 2020.
Video yang identik, diunggah di kanal Youtube ilove borneo pada 8 Oktober 2020 dengan judul “detik detik demo mahasiswa di pontianak part 3”
Selain itu, foto bagian gedung DPRD Kalimatan Barat yang identik dengan gedung di video itu diunggah oleh situs media online lokal Pontianak, Post Kota Pontianak dengan judul “PECAH BENTROK MAHASISWA DAN POLISI DI KONTOR DPRD PROVINSI” pada 9 Oktober 2020.
Dilansir dari news.okezone.com, aksi penolakan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Kamis (8/10/2020) berakhir ricuh. Setidaknya, sudah ada 32 diduga perusuh yang diamankan.
Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go menerangkan, ada yang memprovokasi sehingga terjadinya bentrok antara massa pengunjuk rasa dengan aparat kepolisian.
“Kelompok mahasiswa diprovokasi. Sehingga awalnya berlangsung aman, namun terjadi sedikit bentrokan. Karena ada kelompok anak-anak di bawah umur di luar kelompok mahasiswa yang selalu memulai aksi lempar dan tidak berkenan melakukan dialog,” terangnya.
Ia menjelaskan, ada yang melempar batu saat anggota DPRD Kalbar hendak turun ke lapangan menemui pengunjuk rasa untuk berdialog. Terpaksa anggota DPRD kembali ke gedung. “Karena anggota dewan dilempar dan diserang sehingga petugas pengamanan berupaya memisahkan dan menghalau pengunjuk rasa meninggalkan lokasi unjuk rasa,” jelasnya.
Menurutnya, hampir 1.000 personel gabungan Polri dan TNI yang dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi penolakan Omnibus Law ini. “Untuk yang diamankan, ada 32 orang pengunjuk rasa. Masih didalami keterlibatannya dalam aksi anarkis,” tegas Donny.
Saat ini, situasi di Kota Pontianak sudah kondusif. Sama dengan yang disampaikan Kabag Ops Polresta Pontianak, AKP Rizal Ferdianto. Ia mengatakan, dalam aksi penyampaian aspirasi mahasiswa ini disusupi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Sementara itu, perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Pengemban Amanat Rakyat (Solmadapar) Angga Marta menegaskan, ada 19 OKP dan BEM tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Ampera yang melaksanakan aksi penolakan Omnibus Law ini.
“Kami menolak secara gamblang dengan menggandeng DPRD Kalbar untuk satu suara menolak Omnibus Law. Kami hanya ini ditegakkannya demokrasi. Hak bersuara jangan dipenjara,” jelasnya usai berorasi.
Dia menyesalkan terjadinya rusuh antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Menurutnya, rusuh ini ada yang provokasi. “Ternyata ada penyusup dan tak diundang. Mereka menjadi percikan-percikan chaos ini. Saya pastikan, kami dari koalisi aksi ini tidak ada melakukan tindakan anarkisme. Itu bukan mahasiswa. Tapi dari luar,” tegasnya.
Kesimpulan
Bukan di Thailand. Aksi unjuk rasa di video tersebut terjadi di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia pada 8 Oktober 2020.
Rujukan
Halaman: 7268/8695



