• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Rachmawati Sebut Megawati Hanya Anak Pungut Bung Karno?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/07/2020

    Berita


    Klaim bahwa Rachmawati Soekarnoputri menyebut sang kakak, Megawati Soekarnoputri, hanya anak pungut Sukarno, Presiden RI ke-1, beredar di media sosial. Klaim itu terdapat dalam gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Official News Update dengan narasi, "Rachmawati Bungkam Mulut Mak Banteng Soal RUU BPIP. Megawati Cuma Anak Pungut Bung Karno."
    Dalam unggahan itu, akun Official News Update juga menautkan video dari kanal YouTube-nya. Video itu diberi thumbnail dengan narasi, "Rachmawati Bungkkam Mu.lut Mak Banteng Soal RUU BPIP. Bilang Sama Megawati Jangan Bicara Pancasila Dia Hanya Anak Pu.ngut Sukarno". Gambar tangkapan layar itu pun dibagikan oleh akun Akang Didi di Facebook pada 20 Juli 2020.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Akang Didi.
    Apa benar Rachmawati menyebut bahwa Megawati hanya anak pungut Bung Karno?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri video dari kanal YouTube Official News Update tersebut. Video itu diunggah pada 18 Juli 2020 dengan judul “Berita Terkini~ Soal RUU BPIP Rachmawati Ungkap Siapa Megawati |Viral Hari Ini News RUU HIP Terbaru”.
    Video berdurasi 10 menit 37 detik tersebut memang memuat pernyataan Rachmawati. Namun, setelah ditonton secara lengkap, tidak terdapat pernyataan Rachmawati dalam video itu yang menyebut bahwa Megawati hanya anak pungut Bung Karno.
    Berikut ini pernyataan lengkap Rachmawati yang terdapat pada menit 0:40 hingga 2:27, yang dimunculkan kembali pada menit 7:58 hingga 9:46:
    “Itu jargonnya komunisme itu, klassenunterschied, vertikal. Yang namanya kelas bawah melakukan perlawanan terhadap kelas atas, itu membuka peluang dari jargon-jargon komunisme itu, kalau cara begini. Ketidakadilan, kemiskinan, itu membuka peluang ideologi komunisme masuk di negara kita. Bukan urusan khilafah di sini. Khilafah udah selesai. Yang namanya pimpinan, orang-orang yang katanya dulu mengadopsi atau merangkul pemikiran khilafah itu sekarang sudah ada di tempatnya Presiden Jokowi kok. Bisa dicek sendiri. Tapi itulah. Ini peluang masuknya ideologi lain. Jadi, jangan bicara Megawati tentang Pancasila. Ketidakadilan, kemiskinan, pengangguran, dan lain sebagainya. Dan ini adalah buah daripada amandemen, menjadi demokrasi kita liberal kapitalistik. Ini enggak sesuai dengan ajarannya Bung Karno. Mbok dia sadar. Makanya saya bilang biang kerusuhannya itu Mega. Dan ini membuka peluang komunisme. Nah, ini mana keadilan hukumnya di sini? Kalau orang sekarang berteriak mengenai kita harus jurdil, itu hak warga negara dong. Katanya kita negara hukum. Tapi kalau kita bicara tentang bagaimana ketidakadilan hukum, langsung dituduh makar. Kalau mau bicara secara objektif, yang disebut makar itu adalah Megawati Soekarnoputri ketika Gus Dur memerintah.”
    Cuplikan video Rachmawati yang dimuat oleh kanal Official News Update itu identik dengan video Rachmawati yang diunggah oleh kanal Agus Cimone pada 20 Mei 2019 dengan judul “Rachmawati Soekarnoputri angkat bicara || yang makar itu Megawati Soekarnoputri !!!”.
    Cuplikan video yang memuat pernyataan Rachmawati tersebut juga pernah dimuat oleh kanal milik situs media Suara.com, Suaradotcom, pada 14 Mei 2019 dengan judul “Sebut Sumber Kekacauan, Rachmawati Catat 12 Dosa Besar Megawati”.
    Dilansir dari Suara.com, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Rachmawati Soekarnoputri menyebut Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri membuka peluang penyebaran komunisme semakin subur di Indonesia. Hal tersebut disampaikannya lantaran melihat Megawati menjadi bagian dari pemerintah yang mengajarkan rakyat untuk berbuat tidak adil. Apa yang dilakukan Megawati, menurutnya, malah merangsang rakyat untuk bergerak melawan pemerintahan.
    Ia pun memaparkan paham komunisme yang digagas oleh filsuf Karl Marx di mana paham tersebut memperlihatkan kondisi masyarakat yang tidak lagi membutuhkan sosok pemimpin dan tidak membutuhkan negara sebagai lembaga kewenangan vertikal. "Yang namanya kelas bawah melakukan perlawanan terhadap kelas atas itu membuka peluang dari jargon-jargon komunisme. Ketidakadilan itu membuka peluang jargon komunisme masuk di negara kita," ujarnya.
    Karena itu, Rachmawati meminta agar tidak membingkai Megawati sebagai sosok Pancasilais. Pasalnya, saat menjadi Presiden RI ke-5, Megawati menandatangani amandemen ketiga dan keempat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang dinilai Rachmawati sebagai bentuk keinginan Megawati menjalankan pemerintahan secara liberal kapitalistik. Ia juga menilai Megawati membiarkan kemiskinan dan ketidakadilan yang mengundang komunisme semakin subur di Indonesia.
    Megawati anak kandung Bung Karno
    Kisah kelahiran Megawati Soekarnoputri terdokumentasi dalam sebuah artikel berjudul “Sang Ayah Bicara tentang Mega” yang klipingnya terdapat dalamdatabasedi laman resmi Perpustakaan Nasional. Lewat artikel itu, diketahui bahwa Megawati merupakan anak kandung Bung Karno dari Fatmawati.
    Berikut isi artikel itu:
    Di bulan Januari, anak perempuan saya lahir. Sebelum Fatmawati mengandung dia, Fatmawati pernah bermimpi diberikan seuntai kembang sepatu merah oleh ayah saya. Ini berarti bahwa dia segera dikaruniai seorang putri. Kami memang merindukan seorang anak putri.
    Saya tak pernah melupakan bahwa pada tanggal 23 Januari, istri saya berada di tempat tidur dan tidak dibawa ke rumah bersalin, hospital. Kamar disiapkan untuk melahirkan putriku. Namun tiba-tiba lampu padam, gelap gulita, langit gelap sekali seolah ditelan awan gelap malam. Segera turun hujan yang lebat sekali, menghantam langit-langit rumah, air hujan masuk melalui atap-atap rumah yang bocor, deras sekali. Air masuk menggenangi dalam rumah.
    Dokter dan jururawat memindahkan Fatmawati ke kamar tidurnya. Dalam kegelapan malam itu, cuma ada penerang dari sebatang lilin. Putri kami lahir. Kami menamakannya Megawati. Mega berarti awan.
    Sekarang saya memandangi putri saya sedang tertidur. Dia mengikuti jejak kakaknya (Guntur-red.) yang dalam usia satu tahun berada dalam kehidupan yang bersuasana revolusi. Hidup dalam persembunyian dan pelarian karena situasi heroik-revolusioner yang harus dihadapi. Untaian kata-kata di atas dirangkai oleh Cindy Adams untuk melukiskan saat-saat Soekarno, putra bangsa yang menjadi presiden pertama negeri ini, mengenang kelahiran putrinya Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri. Putri dambaan yang saat ini sedang diharap bisa menjadi penerus cita-cita demokrasi untuk rakyatnya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Rachmawati menyebut bahwa Megawati hanya anak pungut Bung Karno keliru. Video yang mencantumkan klaim tersebut dalamthumbnail-nya memang memuat pernyataan Rachmawati. Namun, dalam video tersebut, Rachmawati sama sekali tidak menyebut Megawati sebagai anak pungut Bung Karno. Berdasarkan arsip Perpustakaan Nasional pun, Megawati merupakan anak kandung Bung Karno dari Fatmawati.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Indonesia Satu-satunya Negara yang Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Covid-19 dari Cina?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/07/2020

    Berita


    Akun Facebook Yamada Himura Yamashita membagikan gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @podoradong pada 21 Juli 2020. Gambar tangkapan layar itu berisi klaim bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang menjadi kelinci percobaan vaksin Covid-19 dari Cina.
    “Hanya satu2nya di dunia, ada pemerintah yang bahagia merelakan rakyat negerinya menjadi kelinci percobaan vaksin dari China. Sementara China sendiri tak mau mengujicobakan pada rakyatnya sendiri," demikian cuitan akun @podoradong yang terdapat dalam gambar tangkapan layar tersebut.
    Tweet akun @podoradong itu pun diamini oleh akun Yamada Himura Yamashita dengan memberikan narasi senada, "Innalillahi. Bahkan. Rakyatnya Pun Mau dijadikan Kelinci Percobaan. Ya Allah. Berikan Kami Pertolongan Mu untuk Menjatuhkan Rezim Dzalim Ini."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yamada Himura Yamashita.
    Narasi ini beredar usai 2.400 vaksin Sinovac dari Cina didatangkan ke Indonesia untuk diuji klinis tahap ketiga pada Agustus 2020. Vaksin Covid-19 itu akan diujicobakan terhadap 1.620 sukarelawan. Uji coba tersebut akan dilakukan oleh pemerintah yang bekerja sama dengan PT Bio Farma.
    Benarkah Indonesia satu-satunya negara yang menjadi kelinci percobaan vaksin Covid-19 dari Cina?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, Indonesia bukan satu-satunya negara yang melakukan uji klinis vaksin Sinovac dari Cina. Sebelum uji klinis ke negara lain, Cina pun telah menguji coba vaksin tersebut terhadap hewan serta warga negaranya.
    Negara lain yang menjadi tempat uji coba vaksin Sinovac asal Cina adalah Brasil. Di sana, uji coba vaksin itu akan dilakukan oleh 12 pusat penelitian di enam negara bagian, yakni Sao Paulo, Brasilia, Rio de Janeiro, Minas Gerais, Rio Grande do Sul, dan Parana dengan melibatkan 9. ribu sukarelawan.
    Menurut Dimas Covas, Direktur Instituto Butantan, pusat penelitian yang didanai oleh negara bagian Sao Paulo, uji coba tersebut dianggap sebagai salah satu studi yang paling menjanjikan untuk memerangi Covid-19, yang hasil uji klinisnya diharapkan selesai akhir tahun ini. Perjanjian dengan Sinovac tidak hanya mencakup percobaan, tapi juga pemindahan teknologi untuk memproduksi vaksin Covid-19 secara lokal.
    Selain Brasil, Bangladesh menjadi negara lainnya yang melakukan uji coba vaksin Sinovac fase ketiga. Pekan lalu, badan penelitian medis Bangladesh mengumumkan bahwa uji coba yang akan dilakukan oleh Pusat Internasional untuk Penelitian Penyakit Diarrheal (ICDDR-B) ini dimulai bulan depan dan melibatkan 4.200 sukarelawan. "Setengahnya akan mendapatkan vaksinasi," kata Mahmood Uz Jahan, direktur Dewan Penelitian Medis Bangladesh (BMRC).
    Kandidat vaksin Sinovac diproduksi oleh perusahaan Sinovac Biotech Ltd, perusahaan biofarmasi yang berbasis di Cina yang berfokus pada penelitian, pengembangan, pembuatan, dan komersialisasi vaksin penyakit menular manusia. Sebelum membuat vaksin Covid-19, Sinovac pernah membuat vaksin untuk hepatitis A dan B, influenza musiman, pandemi influenza H5N1 (flu burung), influenza H1N1 (flu babi), gondong, dan rabies anjing. Pada 2009, Sinovac adalah perusahaan pertama di dunia yang menerima persetujuan untuk vaksin influenza H1N1.
    Lebih dulu diuji coba di Cina
    Sebelum diujicobakan ke luar Cina, vaksin Sinovac telah terlebih dahulu menjalani uji coba fase I dan fase II yang melibatkan sejumlah warga Cina. Sinovac memulai pengembangan kandidat vaksin dari virus yang tidak aktif, yang disebut CoronaVac, pada 28 Januari 2020.
    Pada 13 April, Administrasi Produk Medis Nasional Cina NMPA) memberikan persetujuan untuk uji klinis fase I dan fase II di Cina, yang dimulai pada 16 April di Provinsi Jiangsu. Uji klinis fase I dan fase II itu melibatkan orang dewasa yang sehat, berusia 18-59 tahun. Mereka diberi vaksin selama 14 hari.
    Hasil awal fase I dan fase II itu menunjukkan tidak ada efek samping yang serius pada 743 sukarelawan yang diberi vaksin. Lebih dari 90 persen sukarelawan pun mengalami serokonversi atau perkembangan antibodi yang dapat dideteksi pada mikroorganisme dalam serum sebagai akibat dari infeksi atau imunisasi. Serokonversi ini ditemukan pada uji klinis fase II atau 14 hari setelah selesainya vaksinasi dua dosis pada hari nol dan hari 14.
    Produksi vaksin sendiri membutuhkan proses yang panjang. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat ( CDC ) menjelaskan ada enam tahap yang biasanya diperlukan dalam pengembangan vaksin , yakni eksplorasi, pra-klinis, pengembangan klinis, tinjauan peraturan dan persetujuan, produksi, dan kontrol kualitas.
    Pengembangan klinis meliputi tiga fase. Selama fase I, sejumlah orang menerima vaksin percobaan. Pada fase II, studi klinis diperluas dan vaksin diberikan kepada orang-orang yang memiliki karakteristik (seperti usia dan kesehatan fisik) yang mirip dengan orang-orang yang menjadi sasaran vaksin baru. Pada fase III, vaksin diberikan kepada ribuan orang dan diuji efikasi dan keamanannya. Pelibatan warga di Brasil, Bangladesh, dan Indonesia termasuk dalam fase III ini.
    Sinovac bukan satu-satunya kandidat vaksin Covid-19
    Selain Sinovac, vaksin lain juga diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS dan Inggris. Sama halnya dengan Sinovac, perusahaan-perusahaan itu juga menerapkan prosedur yang mengujicobakan vaksin buatannya kepada warga negara lain.
    Di Australia misalnya, beberapa vaksin Covid-19 sedang diuji coba. Salah satunya adalah vaksin yang sedang dikembangkan oleh Clover Biopharmaceuticals yang berbasis di Cina. Perusahaan bioteknologi yang berbasis di AS, Novavax, pun sudah memulai uji coba vaksinnya di Australia pada Mei dan diperkirakan akan segera memperluas pengujiannya ke AS dan negara-negara lain.
    Uji coba skala besar akan dimulai di AS pada Agustus oleh kandidat vaksin yang dikeluarkan oleh Universitas Oxford. Uji coba vaksin ini didanai oleh pemerintah Inggris.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Indonesia satu-satunya negara yang menjadi kelinci percobaan vaksin Covid-19 dari Cina, padahal Cina tidak mau mengujicobakan vaksin itu pada rakyatnya sendiri, menyesatkan. Selain Indonesia, uji coba vaksin Sinovac fase III dilakukan di Brasil dan Bangladesh. Uji klinis tersebut merupakan prosedur yang umum dilakukan dalam pengembangan vaksin. Sebelum menguji coba pada populasi yang lebih besar pun, uji klinis vaksin Sinovac pada fase I dan fase II telah dilakukan pada sejumlah warga Cina.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video “Baju tentara China di cuci Laundry di Kelapa Gading”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 27/07/2020

    Berita

    Baju tentara China di cuci Laundry di Kelapa Gading….Parah nih udah banyak tentara China,udah siap perang kynya😡😡😡😡😡

    Hasil Cek Fakta

    Melalui media sosial Facebook, akun @DiniWahyuniLubis membagikan video dengan klaim “Baju tentara China di cuci Laundry di Kelapa Gading”. Unggahan tersebut dibagikan pada 21 Juli 2020, dan mendapat lima tanggapan dari pengguna Facebook lainnya. Tak lama pasca ramai menjadi perbincangan di jagat maya, @DiniWahyuniLubis diketahui telah menghapus unggahannya tersebut.

    Coba melakukan penelusuran lebih lanjut melalui mesin pencari milik google, pencarian tertuju pada artikel milik jawa pos di pressreader.com. Mengutip pada laman tersebut, fakta pertama diketahui bahwa seragam yang terdapat pada video bukanlah seragam tentara China melainkan seragam militer Korea Selatan. Hal tersebut diklarifikasi oleh Koordinator Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Andree So.

    “Bukan Tiongkok itu. Huruf Mandarin itu ribet. Kalau itu kan simple,” pungkas Andree.

    Klarifikasi juga dituturkan oleh kontributor di Komunitas Pemerhati Aviasi dan Pertahanan, Enrico Aryyaguna. Ia menjelaskan bahwa tulisan pada seragam tersebut merupakan aksara Hangeul yang menunjukkan nama khas Korea Selatan. Aksara Hangeul pada badge bertuliskan nama Kim Seg Wanga atau Kim Se Kwang, sementara beberapa emblem diketahui menunjukkan lambang satuan dari militer Korea Selatan.

    “Itu sejenis seragam wamil dari Korea Selatan. Saya lihat ada satu emblem yang bentuknya identik dengan divisi infanteri tahap II. Itu yang ada satu bulat merah,” jelasnya.

    Sementara melansir dari okezone.com, diketahui bahwa pihak berwajib telah melakukan pengecekan terhadap sejumlah tempat laundry di wilayah Kelapa Gading. Faktanya, dari 42 lokasi usaha laundry yang disambangi, tidak ditemukan lokasi yang sesuai ataupun tengah mencuci seragam seperti halnya yang terdapat pada video.

    “Kami ingin memberikan klarifikasi terkait video viral adanya seragam tentara China yang ada di Kelapa Gading. Dapat kami sampaikan dalam klarifikasi ini, kami telah melakukan pengecekan terhadap 42 usaha laundry yang ada di Kelapa Gading namun tidak menemui lokasi laoundry yang ada di video tersebut,” tutur Kapolsek Kelapa Gading Kompol Rango Siregar.

    Kesimpulan

    Informasi tersebut menyesatkan. Pakaian yang terdapat pada video bukan seragam tentara China, melainkan seragam militer Korea Selatan. Berdasar dari pengecekan pihak berwajib terhadap 42 usaha laundry di Kelapa Gading, tidak ditemukan pula lokasi yang serupa dalam video.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Inilah kebijakan yg merusak dan menjerumuskan generasi penerus bangsa,…menjauhkan nilai agama”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 27/07/2020

    Berita

    “Inilah kebijakan yg merusak dan menjerumuskan generasi penerus bangsa,…menjauhkan nilai agama”, tulis akun Facebook Tony Andhika atau @tony.andhika.1 dengan melampirkan surat berlogo Kementerian Agama Republik Indonesia, Minggu (12/7).

    Hasil Cek Fakta

    Akun Facebook Tony Andhika atau @tony.andhika.1 mengunggah foto surat berlogo Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia yang berasal dari bagian Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Dijelaskan hal dari surat tersebut adalah “Implementasi KMA 792 Tahun 2018. KMA 183 Tahun 2019 dan KMA 184 tahun 2019”.

    Dalam surat tersebut, pada point nomor tiga (3) tertulis “Dengan berlakunya KMA 183 Tahun 2019 dan KMA 184 Tahun 2019 maka mulai Tahun Pelajaran 2020/2021 KMA No 165 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran PAI dan Bahasa Arab di Madrasah sudah tidak berlaku lagi”.

    Selain unggahan surat Kemenag tersebut, akun Facebook Tony Andhika menambahkan narasi yang bunyinya, “Inilah kebijakan yg merusak dan menjerumuskan generasi penerus bangsa,…menjauhkan nilai agama”.

    Setelah melakukan penelusuran melalui mesin pencari, diketahui unggahan akun Facebook Tony Andhika adalah salah atau keliru.

    Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar membenarkan surat tersebut. Dia menegaskan bidang pelajaran tersebut tetap ada. Namun ada perbaikan pada substansi materi.

    “Mulai tahun pelajaran 2020/2021, pembelajaran di MI, MTs, dan MA akan menggunakan kurikulum baru untuk Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab,” terang Umar di Jakarta, Jumat (10/07/2020).

    Menurut dia, keputusan ini sudah disosialisaikan sejak lama. Dan surat yang beredar saat ini hanya penegasan dari keputusan yang ditetapkan Kementerian Agama.

    “Ini sudah disosialisasikan sejak satu tahun lalu kepada seluruh guru dan pengawas madrasah. Surat di atas hanya penegasan saja. Sebaiknya surat di baca pelan-pelan dari atas, tidak ujuk-ujuk baca nomor 3. Insya Allah paham,” ujar dia.

    Umar menegaskan, Kemenag telah menerbitkan KMA No 183 tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Selain itu, diterbitkan juga KMA 184 tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah. Kedua KMA ini akan diberlakukan secara serentak pada semua tingkatan kelas pada tahun pelajaran 2020/2021.

    “KMA 183 tahun 2019 ini akan menggantikan KMA 165 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah,” ujar Umar.

    “Sehubungan itu, mulai tahun ajaran ini KMA 165 tahun 2014 tidak berlaku lagi,” lanjutnya.

    Meski demikian, mata pelajaran dalam Pembelajaran PAI dan Bahasa Arab pada KMA 183 Tahun 2019 sama dengan KMA 165 Tahun 2014. Mata Pelajaran itu mencakup Quran Hadist, Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan Bahasa Arab. “Jadi beda KMA 183 dan 165 lebih pada adanya perbaikan substansi materi pelajaran karena disesuaikan dengan perkembangan kehidupan abad 21,” jelas Umar.

    “Kemenag juga sudah menyiapkan materi pembelajaran PAI dan Bahasa Arab yang baru ini sehingga baik guru dan peserta didik tidak perlu untuk membelinya. Buku-buku tersebut bisa diakses dalam website e-learning madrasah,” tandasnya.

    Kesimpulan

    Klaim akun Facebook Tony Andhika tersebut terkait dengan Surat Kemenag yang mengatakan KMA No 165 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan bahasa Arab di Madrasah sudah tidak berlaku lagi adalah salah. Dengan berlakunya KMA 183 Tahun 2019 dan KMA 184 Tahun 2019 maka mulai tahun pelajaran 2020/2021 pembelajaran di MI, MTs, dan MA akan menggunakan kurikulum baru untuk PAI dan bahasa Arab.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini