• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Anies Dapat Penghargaan Gubernur Terbaik Penanganan Covid-19 di KTT CAC?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 11/06/2020

    Berita


    Narasi bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendapat penghargaan internasional sebagai salah satu gubernur terbaik dalam menangani Covid-19 beredar di Facebook. Narasi ini dilengkapi dengan sebuah video yang memperlihatkan salah satu acara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Global Cities Against Covid-19 (CAC) pada 2 Juni 2020.
    Akun yang membagikan narasi serta video tersebut adalah akun Yuli Mustikaningsih, yakni pada 8 Juni 2020. Akun ini menulis, "Masya Allah Tabarokalloh...Bpk Anies Baswedan dapat penghargaan internasional, menjadi salah satu gubernur terbaik dalam menangani COVID 19." Hingga artikel ini dimuat, video itu telah ditonton lebih dari 5 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yuli Mustikaningsih.
    Apa benar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendapat penghargaan sebagai gubernur terbaik penanganan Covid-19 di KTT CAC?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, video dengan durasi yang lebih panjang pernah diunggah oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di akun Instagram-nya, @aniesbaswedan, pada 6 Juni 2020. Dalam KTT CAC ini, Anies memang didaulat sebagai pembicara utama dalam Mayoral Meeting.
    Selain Anies, terdapat pula pembicara utama lain, yakni Gubernur Maryland (Amerika Serikat), Wali Kota London (Inggris), dan Wali Kota Moskow (Rusia), serta pembicara kunci, yakni Wali Kota Seoul (Korea Selatan), Park Wonsoon. Namun, dalam KTT CAC itu, tidak disebutkan bahwa terdapat pemberian penghargaan gubernur terbaik, termasuk kepada Anies.
    Berikut keterangan lengkap yang diunggah oleh Anies:
    "Together We Stand. Itulah topik Mayoral Meeting, Cities Against Covid-19 Global Summit 2020-Virtual yang diselenggarakan Selasa, 2 Juni 2020. Pertemuan Tingkat Tinggi ini dihadiri oleh wali kota dan gubernur di 40 kota/provinsi/negara bagian dari berbagai benua. Sebagai pembicara kunci adalah Wali Kota Seoul, Mr. Park Wonsoon, dilanjutkan dengan empat pembicara utama yaitu 1) Wali Kota London, Mr. Sadiq Khan, 2) Gubernur Maryland, Mr. Larry Hogan, 3) Gubernur Jakarta, Mr. Anies Baswedan, 4) Wali Jota Moscow, Mr. Sergei Sobyanin. Gubernur DKI Jakarta mengajak semua untuk melihat ke depan. Mengantisipasi perubahan yang perlu dilakukan oleh para pemimpin di seluruh dunia dalam memandang tata ruang, menjadikan kota yang tangguh, dan membangun kolaborasi sosial. #TogetherWeStand eng.cac2020.or.kr"
    Tempo pun menelusuri situs resmi KTT CAC yang tautannya terdapat dalam unggahan Anies tersebut. Hasilnya, diketahui bahwa dalam acara Mayoral Meeting KTT CAC memang tidak terdapat sesi pemberian penghargaan gubernur terbaik dalam penanganan Covid-19.
    Dalam acara itu, hanya terdapat presentasi mengenai penanganan Covid-19 oleh beberapa gubernur dan wali kota, termasuk Anies. Terdapat pula sesi diskusi terbuka yang juga diikuti oleh gubernur dan wali kota dari wilayah-wilayah lainnya serta inisiasi kerja sama antar wilayah yang dinamai "Deklarasi Seoul".
    Dikutip dari Prnewswire.com, KTT CAC berlangsung pada 1-5 Juni 2020 dan melibatkan gubernur serta wali kota dari 42 wilayah di seluruh dunia. Pada 2 Juni 2020, acara Mayoral Meeting dibuka dengan presentasi dari pembicara kunci Wali Kota Seoul. Lalu, acara dilanjutkan dengan presentasi dari pembicara utama, mulai dari Wali Kota London, Gubernur Maryland, Gubernur DKI Jakarta, hingga Wali Kota Moskow.
    Setelah presentasi dari empat wilayah tersebut, wali kota dari 14 kota, termasuk Toronto (Kanada), New Delhi (India), Budapest (Hungaria), dan Hanoi (Vietnam), berbagi mengenai upaya yang dilakukannya dalam menangani pandemi Covid-19. Ada pula wali kota dari Istanbul (Turki), Teheran (Iran), Tel Aviv (Israel), Buenos Aires (Argentina), Vancouver (Kanada), serta Chongqing (Cina).
    Kehadiran Anies dalam KTT CAC pun diberitakan oleh beberapa media dalam negeri. Dalam situsnya, tvOne menayangkan video yang diunggah oleh Anies di Instagram pada 7 Juni 2020. Video berita itu diberi judul "Anies Jadi Pembicara Utama di Forum 'Cities Against Covid-19 Global Summit 2020'". Namun, dalam video berita ini, juga tidak disinggung bahwa Anies mendapat penghargaan dalam KTT CAC tersebut.
    Adapun dilansir dari situs Viva.co.id, dalam presentasinya, Anies mengajak semua pihak untuk melihat ke depan. "Selama lebih dari enam bulan, banyak dari kita berjuang untuk menyelamatkan warga kita, untuk memastikan kita bisa kembali ke kehidupan normal lagi," kata Anies.
    Menurut Anies, akhir pekan pertama Juni 2020, Jakarta mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun, selama tiga bulan terakhir, Jakarta tidak hanya mengalami masalah, tapi juga kesempatan. Jakarta menghadapi dua masalah, yaitu kesehatan dan ekonomi. Di sisi lain, Jakarta juga mengalami terobosan di bidang digital dan lingkungan yang lebih asri.
    "Krisis kesehatan dan ekonomi ini menjadi tantangan yang harus kami hadapi, tapi penduduk kami juga mengalami transformasi. Pada masa pendemi ini, yang diperlukan tidak hanya pelayanan yang baik tapi juga layanan perkotaan yang tangguh," kata Anies.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendapat penghargaan sebagai gubernur terbaik penanganan Covid-19 di KTT CAC merupakan klaim yang keliru. Dalam KTT itu, Anies memang didaulat sebagai salah satu pembicara utama dalam acara Mayoral Meeting pada 2 Juni 2020. Namun, dalam KTT tersebut, tidak terdapat sesi pemberian penghargaan gubernur terbaik dalam penanganan Covid-19, termasuk kepada Anies.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Lima Bersaudara di Surabaya yang Menunggu Diadopsi Karena Orang Tuanya Meninggal Akibat Covid-19?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 11/06/2020

    Berita


    Foto lima anak yang berdiri berjejer di sebuah ruangan yang mirip kamar jenazah beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Menurut narasi yang menyertai foto itu, anak-anak tersebut merupakan lima bersaudara yang menunggu diadopsi karena orang tuanya meninggal akibat Covid-19.
    Dalam foto tersebut, terdapat pula foto KTP seorang pria yang beralamat di Kalijudan, Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur. Adapun narasi yang tertulis di bawah foto itu adalah sebagai berikut: "Papa mama meninggal krn covid 19. 5 bersaudara kandung ini nunggu diadopsi oleh para budiman".
    Foto yang beredar di grup-grup WhatsApp yang memuat klaim bahwa kelima anak dalam foto tersebut menunggu diadopsi.
    Apa benar kelima anak dalam foto tersebut adalah lima bersaudara di Surabaya yang menunggu diadopsi karena orang tuanya meninggal akibat Covid-19?

    Hasil Cek Fakta


    Informasi tersebut telah dibantah oleh Humas Kota Surabaya melalui akun resminya di Facebook dan Twitter. Menurut Humas Kota Surabaya, berdasarkan hasil koordinasi dengan Puskesmas Kalijudan, keluarga tersebut sudah tidak tinggal di Kalijudan selama dua tahun. Tetangga juga tidak mengetahui kepindahan keluarga tersebut.
    Saat ini, alamat yang tercantum dalam KTP di foto yang beredar sudah ditempati oleh orang lain dan tidak memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. “Di dalam data kami, juga tidak ditemukan pasien Covid-19 atas nama tersebut,” demikian penjelasan Humas Kota Surabaya pada 10 Juni 2020 di Facebook.
    Keterangan Humas Kota Surabaya ini juga dimuat oleh Tribunnews Surabaya dalam berita yang berjudul "Foto 5 Saudara Kandung Menunggu Diadopsi karena Orang Tua Meninggal karena Covid-19 Ternyata HOAX".
    Dalam kolom komentar unggahan akun Humas Kota Surabaya, sejumlah warganet pun memberikan penjelasan yang mendukung keterangan mengenai keluarga tersebut. Akun Dadung misalnya, menjelaskan bahwa keluarga tersebut adalah tetangganya. Setelah dari Kalijudan, keluarga itu tinggal di kampungnya di Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya.
    Kemudian, akun Wicaksono Suhermanto, mengatakan bahwa anak-anak tersebut kini dirawat oleh ibu kandungnya. “Ayolur,ojo titik-titik share/ membagikanpostinganyang belum jelas adanya,” katanya memperingatkan. Hal ini juga dinyatakan oleh akun Jokodono Ring, bahwa kelima anak tersebut tinggal bersama ibunya. Dia juga membagikan foto kelima anak itu bersama mamanya. “Alhamdulillah anak anak tentram bersama mamanya,” ujarnya.
    Akun Cak Mat Alb mengatakan bahwa ayah dari lima anak itu adalah kawannya di klub burung CLBK. Menurut penjelasan akun ini, pria tersebut memang meninggal, tapi bukan karena Covid-19. Penjelasan yang sama juga diberikan akun Aldo Angels Songo Songo. “WwwooiiiiiiItu teman kami bukan meninggal karena Covid-19.Nijelashoax,” katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa kelima anak dalam foto di atas adalah lima bersaudara di Surabaya yang menunggu diadopsi karena orang tuanya meninggal akibat Covid-19, keliru. Ayah kelima anak itu memang dilaporkan meninggal. Namun, Humas Kota Surabaya menyatakan nama pria tersebut tidak ditemukan dalam data pasien yang meninggal karena Covid-19.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] 30 Pembantu Baru Positif Corona di Penjaringan

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 11/06/2020

    Berita

    Beredar video disertai narasi yang mengklaim ada 30 orang asisten rumah tangga (ART) baru dari datang dari kampung positif terpapar virus Corona atau Covid-19.

    Berikut kutipan narasinya:

    “Waahh tolong info info buat yg punya kelg ato sodara yg tinggal disekitaran Kelapa gading,kemayoran,sunter,Pluit, MK & PIK,...
    Hati2 nihh kl ambil “ART baru yg fress from kampong”..👇👇
    [: Pembantu baru dtg dr kampung ,30 org ,di test ,semua nya corona...
    Ud masuk tv beritanya...
    Pembantu baru dtg dr kampung sekitar 30rg. daerah penjaringan ditest . semua kena covid 19.Hati2 cari pembantu dr penyalur...
    “Klo ambil pembantu atau karyawan,langsung rapid test dulu ke rumah sakit biar lebih aman buat keluarga””

    Hasil Cek Fakta

    Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa informasi itu tidak benar. Dilansir dari detik.com, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara pun meluruskan informasi tersebut. Pasien terkonfirmasi positif yang dievakuasi itu berjumlah 23 orang, bukan 30 orang.

    "Warga biasa dari Kamal Muara, 23 terkonfirmasi positif tapi yang dirujuk 19, sisanya ada 2 yang ternyata sebelum hasil swab keluar dia sudah pulang kampung di awal bulan puasa, 2 lagi isolasi mandiri di rumah," kata Kasudin Kesehatan Jakut Yudi Dimyati saat dihubungi, Senin (1/6/2020).

    Yudi menjelaskan, video yang beredar itu merupakan kejadian pada Jumat (29/5) lalu. Para pasien dibawa menggunakan 6 ambulans menuju RS Duren Sawit.

    "Kan mau dirujuknya dalam jumlah besar jadi karena mereka tanpa gejala, mereka datang ke puskesmas, dari puskesmas sudah disiapkan ambulans, ada 6 ambulan kita siapkan," ujarnya.

    Dia memastikan semua pasien itu terkonfirmasi positif lewat swab test. Tes itu dilakukan setelah dinas kesehatan melakukan tracing dari kasus yang ada sebelumnya.

    "Ada kasus positif, lalu kita lakukan tracing, yang dekat kita lakukan swab semua, jadi tidak ada rapid test," ujar Yudi.

    Adapun, Yudi menegaskan bahwa pasien positif itu bukan ART melainkan warga setempat dan bukan pembantu yang baru datang dari Jakarta. "Bukan itu. Itu warga RW 017," kata Yudi saat dihubungi Kompas.com, Selasa (2/6/2020) malam.

    Hal senada pun disampaikan oleh Kapolsek Metro Penjaringan, AKBP Achmad Imam Rifai. Dilansir dari merdeka.com, narasi dalam video dan pesan tersebut tidak sepenuhnya benar. Faktanya, jumlahnya tidak sebanyak itu.

    "Hoaks. Itu hasil rapid tes di Kelurahan Penjaringan dan yang positif dan dibawa ke rumah sakit 19 orang," katanya saat dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (2/6).

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka klaim pada narasi konten tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Cara reschedule tiket pesawat Garuda Indonesia
    • Kompas
    • Merdeka.com
    • 4 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] PKI Mencekik Leher Polri

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 11/06/2020

    Berita

    Beredar postingan gambar pria tengah mencekik seorang anggota Polisi. Dalam narasi disebutkan bahwa gambar tersebut merupakan gambar PKI tengah mencekik Polisi.

    Berikut kutipan narasinya:

    “POLRI JD PELINDUNG PKI,, SEKARANG PKI MENCEKIK LEHER POLRI, INILAH KEBODOHAN KERJA POLRI YG TDK BS MENUMPAS PKI YG ADA DLM ISTANA NEGARA.,,DAN RAKYAT SDH TDK PERCAYA DGN KERJA POLRI,, SEKIAN MKSH DR KOMANDO SRIKANDI MERAH PUTIH POWER OF RAKYAT PRIBUMI BERGERAK MENUMPAS PKI DLM ISTANA NEGARA DAN MENUMPAS KORUPTOR DLM ISTANA NEGARA”

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut tidak benar. Diketahui bahwa gambar tersebut berasal dari video yang sempat viral pada Februari 2020 lalu mengenai pria yang mencekik petugas Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya di ruas jalan Tol Angke, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

    Hal itu diketahui melalui video yang terdapat pada kanal Kompas TV di Youtube dengan judul “VIRAL! Seorang Polisi Dicekik dan Didorong Pengendara Mobil Karena Tidak Terima Ditilang” yang tayang pada 8 Februari 2020.

    Diketahui pula bahwa pria yang mencekik petugas tersebut bernama Tohap Silaban. Adapun, dilansir dari detik.com, kasus pencekikan Tohap tersebut sudah diproses oleh pihak kepolisian. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya di ruas jalan Tol Angke, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

    Tohap dijerat dengan Pasal 212 KUHP dan Pasal 335 KUHP. Dia terancam hukuman 1 tahun penjara atas perbuatannya itu. Pria yang merupakan Sekjen Rakyat Militan Jokowi (Ramijo) ini juga dijerat dengan Undang-Undang Darurat karena kepemilikan senjata tajam berupa bowie knife.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka klaim pada narasi konten postingan salah. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Medcom.id
    • 2 media telah memverifikasi klaim ini