• [SALAH] Video “DI BALIK COVID-19/CORONA TERNYATA ISI NYA SUDAH HABIS”

    Sumber: youtube.com
    Tanggal publish: 08/06/2020

    Berita

    NARASI:

    “DI BALIK COVID-19/CORONA TERNYATA ISI NYA SUDAH HABIS”

    “Mati coved 19 peti tk boleh di bukak…😁
    Sesudah di bukak peti nya organ tubuh nya habis di ambil..hati” kepada kluarga nya yang meninggal di RS cek dulu mayat nya 😭😭🙏🙏”

    Hasil Cek Fakta

    Namun pasca dilakukan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa judul dan narasi yang menyebut bahwa organ pasien meninggal Covid-19 diambil adalah tidak benar. Faktanya, kejadian yang menimpa orang dalam video tersebut bukan dikarenakan oleh Covid-19. Melansir dari akun Youtube resmi milik tribunnews.com, pemberitaan terkait video tersebut diunggah pada 23 April 2018 dengan judul “Keluarga Ngamuk dan Minta Organ Dikembalikan, Ternyata Jecky Payow Dibunuh karena hal Sepele”.

    Jika melansir dari akun Youtube milik Tribunnews.com, diketahui bahwa video tersebut tidak berkaitan dengan Covid-19. Sementara melansir dari pemberitaan milik inews.id pada 23 April 2020 diketahui bahwa jenazah dalam video tersebut adalah Geraldy Jecky Payow, warga Mamiri Lama, Kecamatan Poigar, Bolaang Mongondow. Jecky Payow merupakan korban penikaman yang terjadi di sebuah indekos di wilayah Malalayang, Manado, Sulawesi Utara. Korban yang sudah tidak bernyawa, kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi.

    Jika melihat dari pemaparan yang ada, maka unggahan yang menyebut bahwa video jenazah tersebut meninggal akibat virus corona dan diambil organ tubuhnya adalah tidak sesuai dengan fakta. Unggahan tersebut masuk ke dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan. Misleading content sendiri terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

    Kesimpulan

    Video yang diunggah oleh akun Youtube @SemuaAdadiSini merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 2018. Video tersebut diunggah jauh sebelum virus corona atau Covid-19 muncul.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Jokowi Yakin Gibran Lebih Pintar Urus Solo Dan Jakarta Dari Pada Diri Saya

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 08/06/2020

    Berita

    Akun Facebook Michael Wibowo atau @michael.wibowo.9634 mengunggah screenshot atau tangkapan layar yang nampak dari situs gelora.co dengan judul “Jokowi Yakin Gibran Lebih Pintar Urus Solo Dan Jakarta Dari Pada Diri Saya.” Terlihat dari tangkapan layar tersebut, artikel berasal dari kanal politik yang ditayangkan pada Rabu (3/6) lalu.
    Selain mengunggah tangkapan layar itu, akun Facebook Michael Wibowo juga menambahkan narasi “Apa Pemirsa Yakin Ini Bocah Bisa Punya Nilai Jual Di Mata Rakyat,Sekalipun Di Iklankan Sang Bapak,Kalau Produk Genetiknya No 1 Paling Pintar Ngibul Dan Ngeprank Di Planet Ini. Cuma Kalian Yang Bisa Menilai,” tulisnya, Sabtu (6/6).

    Hasil Cek Fakta

    Setelah menelusuri melalui mesin pencari diketahui unggahan akun Facebook Michael Wibowo adalah salah atau keliru.
    Foto yang diunggah dari tangkapan layar adalah foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama anaknya, Gibran Rakabuming adalah karya dari Jurnalis Antara, Rachman. Pada foto yang dijadikan sampul dari artikel “Jelang pelantikan, Jokowi salami warga di depan Istana Merdeka” terdapat keterangan “Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi putranya Gibran Rakabuming (kanan) menyalami warga sebelum mengikuti upacara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 di Jakarta, Minggu (20/10/2019)”.
    Selain itu, dengan mengetikal judul serupa yang diunggah oleh akun Facebook Michael Wibowo pada bagian pencarian di situs gelora.co, tidak ditemukan judul serupa. Diketahui artikel yang tayang pada Rabu, 3 Juni 2020 dengan sampul foto Presiden Jokowi dan Gibran adalah bertajuk “Haji Batal Sementara Pilkada Lanjut, Apa Kepentingan Presiden Jokowi? Pilkada Solo?”.
    Di dalam artikel gelora.co itu tidak terdapat pertanyaan atau kalimat serupa dari Presiden Jokowi, seperti yang diklaim akun Facebook Michael Wibowo.

    Kesimpulan

    Unggahan tangkapan layar yang berisi foto Presiden Jokowi dan Gibran, dengan judul artikel “Jokowi Yakin Gibran Lebih Pintar Urus Solo Dan Jakarta Dari Pada Diri Saya” dengan terdapat logo situs gelora.co di dalamnya dan ditayangkan pada Rabu, 3 Juni 2020 lalu adalah hasil suntingan atau editan. Artikel asli berjudul “Haji Batal Sementara Pilkada Lanjut, Apa Kepentingan Presiden Jokowi? Pilkada Solo?”. Selain itu diketahui juga foto asli yang dijadikan sampul pada artikel tersebut adalah karya Jurnalis Antara, Rachman.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Swafoto Gus Yaqut dengan Narasi “Menjadi Nasionalis akan Semu jika Anda tidak mencintai PDI P.”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 08/06/2020

    Berita

    Akun Facebook Manurung Hutapea atau @manurung.hutapea.16 mengunggah swafoto Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas atau yang akrab disapa Gus Yaqut dengan dibelakangnya terdapat massa yang memegang dan mengibarkan bendera PDI Perjuangan.
    Tidak hanya mengunggah foto, akun Facebook Manurung Hutapea juga menambahkan narasi berikut, “Menjadi Nasionalis akan Semu jika Anda tidak mencintai PDI P.,” tulisnya, Senin (8/6).

    Hasil Cek Fakta

    Setelah menelusuri melalui mesin pencari, unggahan dan narasi yang diklaim akun Facebook Manurung Hutapea adalah tidak benar atau keliru.
    Foto yang diunggah akun Facebook Manurung Hutapea adalah gabungan dari dua foto. Pertama, foto massa memegang dan mengibarkan bendera PDI Perjuangan adalah foto karya Jurnalis IDN Times, Teatrika Handiko Putri. Foto ini menjadi sampul pada artikel berjudul “Begini Suasana Kampanye Terbuka PDIP di Alun-alun Kota Tangerang” yang ditayangkan pada Minggu, 24 Maret 2019 lalu.
    Sedangkan foto kedua, yang menampakan Gus Yaqut swafoto adalah foto yang ditayangkan oleh beberapa media daring di antaranya Berita Satu dengan judul “GP Ansor: Jangan Klaim Kemenangan, Tunggu Hasil Resmi KPU” dan Media Indonesia dengan judul “Ketua GP Ansor Sayangkan Klaim Prabowo sebagai Presiden Terpilih”. Kedua artikel ditayangkan pada Kamis, 18 April 2019.
    Selain itu, tidak ditemukan juga pernyataan dari Gus Yaqut seperti yang diklaim akun Facebook Manurung Hutapea bahwa “Menjadi Nasionalis akan Semu jika Anda tidak mencintai PDI P.”
    Dengan begitu, foto dan narasi yang diunggah akun Facebook Manurung Hutapea dalam kategori Misinformasi dan Disinformasi dari Firs Draft dapat disebut sebagai Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Unggahan swafoto Ketua Umum GP Ansor, Gus Yaqut yang dibelakangnya terdapat massa yang memegang dan mengibarkan bendera PDI Perjuangan adalah hasil suntingan atau editan. Juga narasi yang diklaim akun Facebook Manurung Hutapea yang mengesankan Gus Yaqut mengatakan bahwa “Menjadi Nasionalis akan Semu jika Anda tidak mencintai PDI P.” tidak ditemukan beritanya di media daring.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Jangan lupa besok mulai aturan Facebook baru di mana mereka dapat menggunakan foto Anda. Jangan lupa batas waktu hari ini!”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 07/06/2020

    Berita

    Beredar postingan Facebook di bulan Juni 2020 mengenai peringatan untuk menuliskan sejumlah pernyataan pribadi lantaran disinyalir Facebook telah membuat aturan baru yang memungkinkan penggunaan data pribadi akun pengguna.

    Berikut kutipan narasinya:

    “PERINGATAN.
    Jangan lupa besok mulai aturan Facebook baru di mana mereka dapat menggunakan foto Anda. Jangan lupa batas waktu hari ini!!! Ini dapat digunakan dalam kasus pengadilan dalam litigasi terhadap Anda. Semua yang pernah Anda posting menjadi publik mulai hari ini - bahkan pesan yang telah dihapus. Tidak ada biaya untuk salinan dan tempel sederhana, lebih baik aman daripada menyesal.
    Saya tidak memberikan Facebook atau entitas yang terkait dengan izin Facebook untuk menggunakan gambar, informasi, pesan, atau postingan saya, baik masa lalu maupun masa depan.
    Dengan pernyataan ini, saya memberikan pemberitahuan kepada Facebook, dilarang secara ketat untuk mengungkapkan, menyalin, mendistribusikan, atau mengambil tindakan lain terhadap saya berdasarkan profil ini dan / atau isi dan informasinya. Pelanggaran privasi dapat dihukum oleh catatan hukum: Facebook sekarang menjadi entitas publik. Semua anggota wajib memposting catatan seperti ini.
    Jika Anda lebih suka, Anda dapat menyalin dan menempel versi ini. Jika Anda tidak menerbitkan pernyataan setidaknya satu kali, itu akan secara tasit memungkinkan penggunaan foto Anda, serta informasi yang terkandung dalam pembaruan status profil. JANGAN BAGIKAN. Salin dan tempel.
    Algoritma baru mereka memilih beberapa orang yang sama - sekitar 25-yang akan membaca postingan Anda.
    Oleh karena itu:
    Tahan jari Anda di mana pun di postingan ini dan "salinan" akan muncul. Klik "salin". Lalu buka halaman Anda, mulai postingan baru dan letakkan jari Anda di mana saja di kolom kosong. "Tempel" akan muncul dan klik tempel
    Ini akan melewati sistem.
    SAYA TIDAK MEMBERI IZIN FACEBOOK UNTUK MEMBAGIKAN APAPUN TENTANG YANG TELAH SAYA LETAK DI SITUS MEREKA,. FOTO, KIRIMAN SAAT INI ATAU LAMA, NOMOR TELEPON ATAU EMAIL.. TIDAK ADA YANG BISA DIGUNAKAN DALAM FORMULIR APAPUN TANPA IZIN SAYA.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, diketahui bahwa informasi tersebut sudah dibantah oleh pihak Facebook. Melalui kanal FBFactnya, pihak Facebook menyatakan bahwa pengguna Facebook memiliki semua konten dan informasi yang sudah diunggah di Facebook.

    “Anda mungkin sudah melihat kiriman yang meminta Anda untuk menyalin dan menempel pemberitahuan untuk mempertahankan kontrol atas hal yang Anda bagikan di Facebook. Jangan percaya itu. Ketentuan kami sangat jelas: Anda memiliki semua konten dan informasi yang Anda kirimkan di Facebook, dan Anda dapat mengontrol bagaimana kiriman tersebut dibagikan melalui privasi dan pengaturan aplikasi. Seperti itu cara kerjanya, dan belum berubah,” tulis Facebook pada kanal FBFact.

    Lalu, penelusuran kepada kebijakan data Facebook pun diketahui bahwa revisi terakhir dibuat pada 19 April 2018. Dengan demikian, belum ada perubahan kebijakan dari Facebook. Adapun, diketahui pula bahwa isu serupa sempat muncul pada tahun 2019.

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka klaim narasi tersebut tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori Fabricated Content atau Konten Palsu.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Kompas
    • 2 media telah memverifikasi klaim ini