• test

    Sumber:
    Tanggal publish: 06/06/2020

    Berita

    TEST ‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️


    TOLONG DIBACA SAMPAI SELESAI HAL DIBAWAH INI (PENTING..!!!).

    Corona Virus adalah BOHONG...bukan dari Virus tapi dari Bakteri....semua ini diketahui oleh negara Itali..setelah mereka MENG-AUTOPSI JENAZAH KORBAN CORONA...


    ❗️ 😀 😁 😂

    Hasil Cek Fakta

    ???? ???? ????
  • [SALAH] Kapan FPI Memenuhi Janji Bunuh Diri Massal

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 06/06/2020

    Berita

    Akun Facebook Andrian Rian atau @rian.a.bar mengunggah screenshot atau tangkapan layar yang berisi foto sekelompok orang mengenakan pakaian dominan berwarna putih yang nampak tengah melakukan aksi dengan berjalan jauh. Dalam tangkapan layar tersebut terdapat tulisan yang inti pesannya FPI siap melakukan bunuh diri massal bila MPR melantik Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin.
    Akun Facebook Andrian Rian pun menambahkan narasi yang bunyinya sebagai berikut, “Haii drun jokowi udah lama nih di lantik, kapan kalian mau nepatin janji nya bunuh diri masal ko sampe skarang gak ada tuh kabar nya,” tulisnya, Sabtu (6/6).

    Hasil Cek Fakta

    Setelah menelusuri melalui mesin pencari, unggahan tangkapan layar dan narasi yang dibuat oleh akun Facebook Andrian Rian adalah salah atau keliru.
    Foto yang diambil oleh akun Facebook Andrian Rian adalah hasil karya Fotografer Suara.com, Kurniawan Mas’ud. Foto yang dipakai sebagai sampul dalam artikel berjudul “FPI Minta Polisi Lindungi Laskar yang Kunjungan ke Daerah” yang ditayangkan pada Senin 16 Januari 2017.
    Pada foto karya Kurniawan Mas’ud itu terdapat keterangan berikut, “Front Pembela Islam menyambangi gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin (16/1).”
    Selain itu, terkait tulisan dan narasi FPI yang disebut akan bunuh diri massal bila Jokowi – Amin dilantik MPR, ketika diketikan pada mesin pencari, tidak ditemukan artikel berita dari media daring.
    Dengan begitu, unggahan dan narasi akun Facebook Andrian Rian dalam kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Unggahan tangkapan layar dengan foto sekelompok orang dari FPI dan ditambahkan narasi mereka siap melakukan bunuh diri massal bila MPR melantik Jokowi – Amin seperti yang diklaim akun Facebook Andrian Rian adalah salah. Foto aslinya adalah karya Fotografer Suara.com, Kurniawan Mas’ud dengan keterangan “FPI Minta Polisi Lindungi Laskar yang Kunjungan ke Daerah” dan tidak ditemukan juga artikel berita terkait yang diklaim akun Facebook Andrian Rian.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Demo Mahasiswa yang Tuntut Jokowi Mundur Saat Pandemi Covid-19?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/06/2020

    Berita


    Video yang memperlihatkan demo mahasiswa yang menuntut agar Presiden Joko Widodo atau Jokowi turun dari jabatannya viral di media sosial. Unjuk rasa dalam video yang berdurasi 1 menit 52 detik tersebut diklaim terjadi pada 2 Juni 2020 lalu.
    Dalam video itu, terlihat long march mahasiswa dengan jas almamater dari berbagai perguruan tinggi. Mereka meneriakkan kata-kata "Jokowi turun" secara berulang-ulang. Terlihat pula sebuah mobil komando serta spanduk bertuliskan "Kita tidak sedang bercanda".
    Di YouTube, video itu dibagikan salah satunya oleh kanal Suara Mambruk, yakni pada 2 Juni 2020. Video ini diberi judul "selasa 2 Juni 2020 Aksi mahasiswa tuntut Jokowi turun dari presiden". Hingga artikel ini dimuat, video tersebut telah ditonton lebih dari 29 ribu kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan kanal YouTube Suara Mambruk.
    Sementara di Facebook, di tanggal yang sama, video itu diunggah oleh akun Kustini Sastromihardjo. Video tersebut diberi narasi, "JAKARTA-INDONESIA, terkini yel-yel Mahasiswa #JkwiTurun". Hingga artikel ini dimuat, unggahan ini telah dibagikan lebih dari 3.200 kali.
    Apa benar video tersebut adalah video demo mahasiswa yang tuntut Presiden Jokowi mundur dari jabatannya saat pandemi Covid-19?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula mengambil gambar tangkapan layar video itu dan menelusurinya dengan reverse image tool Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa video tersebut pernah diunggah oleh akun Twitter @Semut_Ibrahim_ pada 25 September 2019, sebelum terjadinya pandemi Covid-19.
    Akun ini memberikan narasi, "25/9/19 Update siang ini #AksiMahasiswa gabungan di #Jakarta mereka meneriakkan yel..yel.. #jokowiturun." Namun, akun itu kemudian meralat lokasi digelarnya aksi mahasiswa tersebut, "Ralat ini di #Palembang..."
    Berdasarkan petunjuk ini, Tempo melakukan pencarian di Google dengan kata kunci "video aksi mahasiswa Palembang 25 September 2019". Hasilnya, ditemukan penjelasan dari akun Twitter Polda DIY, @PoldaJogja, pada 4 Juni 2020 bahwa narasi yang menyertai video tersebut hoaks.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter Polda DIY.
    "Faktanya video tersebut merupakan aksi mahasiswa di Palembang, Sumatera Selatan yang diposting dalam platform media sosial Facebook dengan nama Singa Marota Ibra pada 25 September 2019. Be Smart Netizen Yaa Sobat Polri. Saring Sebelum Sharing," demikian keterangan Polda DIY.
    Di Facebook, Divisi Humas Polri juga mengunggah penjelasan yang sama. Menurut Divisi Humas Polri, judul video di kanal YouTube Suara Mambruk tidak benar. Divisi Humas Polri pun membagikan kembali video demo mahasiswa di Palembang itu dengan dibubuhi stempel "hoax".
    Berdasarkan penelusuran lokasi di Google Maps, Tempo menemukan bahwa video tersebut diambil dari depan Gedung Perjuangan Wanita Sumatera Selatan. Gedung ini berada di Jalan Kapten A. Rivai, Palembang. Hal tersebut terlihat dari tiang besi stasiun LRT Palembang yang bercat biru serta pagar Gedung Perjuangan Wanita yang bercat merah-putih. Tiang dan pagar ini sempat terlihat dalam video unggahan kanal Suara Mambruk maupun akun Kustini Sastromihardjo.
    Gambar tangkapan layar lokasi Gedung Perjuangan Wanita Sumatera Selatan di Google Maps.
    Demo mahasiswa di Palembang
    Pada 24 September 2019, mahasiswa di berbagai daerah memang serentak menggelar demonstrasi yang menuntut pembatalan sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU) bermasalah. Menurut arsip berita Tempo pada 25 September 2019, selain di Jakarta, unjuk rasa juga digelar di Makassar, Jambi, Palembang, Medan, Bandung, dan sebagainya.
    Dilansir dari Tirto.id, para mahasiswa tersebut menolak revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), RUU Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), RUU Agraria, dan RUU Ketenagarkejaan. Mereka juga menyuarakan tentang kriminalisasi terhadap para aktivis.
    Dikutip dari CNN Indonesia, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Palembang yang turun ke jalan ini mengatasnamakan dirinya "Sumsel Melawan". Mereka melakukan long march sejauh 3 kilometer, yakni dari Kambang Iwak Jalan Tasik menuju Gedung DPRD Sumatera Selatan di Jalan Pom IX. Aksi ini bertepatan dengan pelantikan Anggota DPRD Sumsel 2019-2024.
    Namun, dilansir dari Kompas.com, demo mahasiswa di Palembang ini diwarnai kericuhan. Bentrokan antara polisi dan mahasiswa terjadi saat unjuk rasa berlangsung. Kericuhan ini mengakibatkan 28 mahasiswa terluka. Para mahasiswa tersebut berasal dari Universitas Sriwijaya, Universitas PGRI, Universitas Muhammadiyah, Universitas Islam Negeri Raden Fatah, dan sebagainya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video demo mahasiswa yang tuntut Presiden Jokowi mundur dari jabatannya saat pandemi Covid-19 menyesatkan. Video itu merupakan video demo mahasiswa di Palembang pada September 2019, sebelum adanya pandemi Covid-19. Pada 24 September 2019, mahasiswa di berbagai daerah memang serentak menggelar unjuk rasa yang menuntut pembatalan sejumlah RUU bermasalah.
    IBRAHIM ARSYAD
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ramuan Herbal Bernama Mio Kopi Bisa Obati Covid-19?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 05/06/2020

    Berita


    Sebuah video yang berisi narasi bahwa seorang warga Lampung Selatan, Nyoman Subamio, menemukan obat Covid-19 yang bernama Mio Kopi beredar di WhatsApp. Menurut narasi dalam video yang berasal dari Radar TV Lampung ini, resep herbal itu bisa 100 persen mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru, SARS-CoV-2, tersebut.
    Berikut ini narasi dalam video tersebut:
    “Nyoman Subamio, seorang warga Lampung Selatan, mengaku menemukan obat Covid-19. Namanya adalah Mio Kopi. Sebuah resep herbal dengan komposisi manjur mampu menyembuhkan virus Corona, dan herbalis ini memastikan garansi kesembuhan 100 persen. Usaha Nyoman Subamio begitu keras untuk memastikan dan meyakinkan bahwa dirinya memiliki obat penyembuh Covid-19. Kepada sejumlah awak media, herbalis memiliki obat manjur untuk mengobati penderita Corona. Obatnya adalah Mio Kopi, sebuah racikan herbal rahasia dengan komposisi mengusir dan mencegah virus mematikan tersebut. Ia sudah berupaya menembus birokrasi, baik pemerintah pusat dan Provinsi Lampung, namun hanya dianggap sebagai angin lalu. Hebatnya, ia sudah menyurati Istana Presiden untuk membuktikan kehebatan obatnya ini. Ia berjanji, jika tidak sembuh, maka dirinya siap dijebloskan ke penjara.”
    Narasi itu disambung dengan penjelasan dari Subamio, yakni sebagai berikut:
    "Pak Presiden yang sangat saya hormati, saya yakin Pak Presiden mukjizat Mio Kopi bisa mengatasi Corona. Pak Presiden yang sangat saya hormati, nama saya Nyoman Subamio, viral di Lampung TV, 220 ribu lebih yang sudah menonton. Cuma, tidak ada respon sama sekali dari pejabat-pejabat yang ada di Lampung. Pak Presiden, mungkin saya orang pertama di dunia yang siap dan berani makan ludah orang yang kena infeksi Corona hanya untuk membuktikan kedahsyatan mukjizat Mio Kopi. Jika Bapak Presiden bersedia memberikan saya fasilitasi untuk dapat mengobati orang yang kena infeksi Corona, saya hanya butuh waktu tujuh hari saja Pak Presiden untuk membuktikan kedahsyatan mukjizat Mio Kopi ini. Dan Pak Presiden, saya jamin mukjizat Mio Kopi tanpa efek samping, 100 persen tanpa efek samping. Dan saya siap dipenjara jika ini tidak terbukti Pak Presiden."
    Gambar tangkapan layar video soal Mio Kopi yang beredar di WhatsApp.
    Apa benar ramuan herbal bernama Mio Kopi tersebut bisa mengobati Covid-19?

    Hasil Cek Fakta


    Dilansir dari video di kanal YouTube Lampung TV yang dipublikasikan pada 25 April 2020, ramuan herbal Mio Kopi yang dibuat oleh Nyoman Subamio tersebut terdiri dari daun kelor, bawang merah, dan Tolak Angin Sido Muncul. Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri berbagai penelitian tentang pengaruh daun kelor, bawang merah, dan Tolak Angin terhadap virus Corona Covid-19.
    Daun kelor
    Dilansir dari Kompas.com, peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia (UI) belum lama ini melakukan penelitian gabungan untuk mengetahui komponen dari bahan herbal yang bisa melawan infeksi virus Corona. Salah satu bahan alami yang diteliti adalah daun kelor.
    Menurut penelitian itu, senyawa-senyawa yang dianggap bermanfaat untuk menangkal virus Corona memang terkandung dalam daun yang memang sudah sering dijadikan obat herbal ini. Namun, penelitian ini masih dalam tahap awal sehingga diperlukan lebih banyak lagi riset untuk memastikan khasiat daun kelor terhadap penderita Covid-19.
    Menurut dokter sekaligus editor medis SehatQ, Karlina Lestari, masyarakat harus berhati-hati terhadap sejumlah klaim terkait tanaman herbal yang dianggap mampu mencegah Covid-19. Pasalnya, hingga saat ini, belum ada penelitian yang dengan jelas memaparkan bahwa obat herbal tertentu bisa menyembuhkan Covid-19.
    Lagipula, sejauh ini, obat-obat herbal yang diteliti terkait Covid-19 lebih bertujuan untuk melihat kemampuannya dalam meningkatkan sistem imun, bukan untuk benar-benar menyembuhkan. “Jangan percaya 100 persen dengan klaim tersebut karena penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan,” katanya. Ia menambahkan, cara mencegah Covid-19 yang paling benar saat ini adalah rajin mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.
    Bawang merah
    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 2 April 2020, bawang merah memang mengandung senyawa yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Dilansir dari kantor berita Antara, peneliti dari Padang, Sumatera Barat, Rasmi R, juga menyatakan bahwa bawang merah memiliki kandungan antioksidan sehingga dapat melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Meskipun begitu, belum ada penelitian bahwa bawang merah bisa mengobati Covid-19.
    Pada Maret 2020 lalu, beredar narasi bahwa bawang merah yang telah dikupas bisa menyedot bakteri dan virus, termasuk virus Corona Covid-19. Menurut ahli biologi yang dikutip organisasi cek fakta Snopes, sangat tidak masuk akal bawang dapat menyedot virus flu. Sebab, virus membutuhkan inang yang hidup untuk bertahan hidup. Virus pun tidak dapat mendorong dirinya keluar dari tubuh inangnya dan melintasi sebuah ruangan.
    Office for Science and Society Universitas McGill di Quebec, Kanada, menyatakan hal serupa. Justru, menurut mereka, bawang merah tidak mudah terkontaminasi bakteri karena mengandung senyawa sulfur yang bersifat anti-bakteri. Meskipun begitu, tidak berarti bahwa bawang dapat melindungi seseorang dari flu yang disebabkan oleh virus.
    Mereka menuturkan mengupas bawang dapat memicu pelepasan enzim yang memulai reaksi kimia yang menghasilkan asam propenesulfenat, dan pada gilirannya menghasilkan asam sulfat. Asam sulfat inilah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Selain itu, permukaan bawang yang dikupas relatif cepat mengering, sehingga mengurangi kelembaban yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang biak.
    Sejauh ini, penggunaan bawang merah yang telah dikupas pun tidak tercantum dalam rekomendasi pencegahan untuk virus Corona Covid-19. Pencegahan terbaik menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk atau bersin.
    Tolak Angin
    Dilansir dari Detik.com, Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, mengatakan bahwa khasiat Tolak Angin lebih pada meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut dia, Tolak Angin telah lolos uji klinis fase pertama serta menjadi obat herbal terstandar.
    "Karena tolak angin ini sebenarnya secara resmi telah lolos uji klinis fase pertama dan terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau Covid-19 ini kan obatnya belum ada. Jadi, masalahnya, kalau daya tahannya membaik, dia bisa memperbaiki dirinya sendiri," ujar Irwan.
    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 30 April 2020, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati meminta masyarakat lebih cermat dan bijaksana dalam memilih obat alternatif atau herbal untuk mencegah Covid-19. "Selama pandemi Covid-19, banyak bermunculan obat-obat alternatif yang diklaim bisa mengatasi virus ini," kata Zullies.
    Menurut dia, kemunculan sejumlah produk alternatif itu berawal dari keprihatinan atas belum adanya obat untuk Covid-19 yang benar-benar direkomendasikan. Kendati demikian, Zullies menyebut sebagian besar produk alternatif yang ada belum memiliki bukti ilmiah mampu mengatasi Covid-19.
    Meski ada bukti kesembuhan, dia menyebut hal tersebut berasal dari testimoni segelintir orang. Dengan demikian, masih sangat kurang untuk mendukung kemanjuran obat-obat tersebut. Apalagi, Covid-19 pada sebagian orang dengan kekebalan tubuh kuat tidak memberikan gejala dan bisa sembuh sendiri.
    Zullies mengapresiasi inovasi-inovasi obat baru untuk Covid-19 tersebut. Namun, inovasi itu harus tetap berada pada koridor ilmiah yang dapat ditelusuri dan dibuktikan. Kendati Indonesia kaya akan tanaman obat yang berpotensi mengatasi Covid-19, menurut dia, pengembangan obat baru dari herbal tetap harus mengikuti kaidah ilmiah yang berlaku.
    Menurut Zullies, ketika memilih obat-obat untuk mencegah atau mengatasi Covid-19, masyarakat bisa menggunakan obat-obat herbal yang telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Untuk memastikan produk-produk yang telah terdaftar di BPOM dan mendapat izin edar, masyarakat bisa mengaksesnya melalui situs resmi BPOM.
    "Kalau produk yang didaftar sebagai pangan, maka produk tersebut tidak bisa memiliki izin edar sebagai suplemen kesehatan atau bahkan obat pada saat yang sama. Jadi, jika ada produk pangan yang diklaim memiliki efek pengobatan, itu perlu dipertanyakan," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa ramuan herbal Mio Kopi bisa mengobati Covid-19 belum bisa dibuktikan. Ramuan ini terdiri dari daun kelor, bawang merah, dan Tolak Angin. Hingga kini, penelitian tentang khasiat daun kelor terhadap penderita Covid-19 masih berlangsung. Selain itu, belum ada penelitian bahwa bawang merah bisa mengobati Covid-19. Adapun khasiat Tolak Angin lebih pada meningkatkan daya tahan tubuh.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini