• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Pesepeda Ini Meninggal Akibat Kekurangan Oksigen Karena Pakai Masker?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 03/06/2020

    Berita


    Pesan berantai yang berisi klaim bahwa ada seorang pesepeda di Monas, Jakarta, yang meninggal akibat kekurangan oksigen karena memakai masker beredar di WhatsApp. Pesan tersebut disertai dengan video yang memperlihatkan seorang pesepeda yang tergeletak di trotoar. Karena tak sadarkan diri, pesepeda itu diberi pertolongan oleh rekannya dengan CPR atau teknik kompresi dada untuk seseorang yang detak jantungnya terhenti.
    Berikut narasi lengkap pesan berantai tersebut:
    "Henri meninggal saat bersepeda tadi pagi di monas krn kekurangan O2 (oksigen).
    Bersepeda jangan memakai masker.....Keterangan nya beginiMenarik napas adalah mengambil O2 dari udara dan menghembuskan napas adalah mengeluarkan CO2 ke udara. Kelebihan kadar CO2 dalam tubuh adalah berbahaya. Bersepeda adalah exercise apalagi bila cepat dan menanjak....kebutuhan O2 bertambah...frekwensi napas dan nadi meningkat. Apabila memakai masker akan terjadi rebreathing dalam arti ada CO2 yang terisap kembali yang lama2 mengakibatkan naik nya kadar CO2 dalam darah dan bisa mengakibatkan keracunan.....salah satu gejalanya pusing dan mual.Dalam keadaan tidak latihan pk masker tidak akan apa apa....bisa saja terjadi sedikit kenaikan CO2 tapi tidak sampai terjadi keracunan.Karena nya bersepeda zaman covid pergilah ke tempat yang sepi dan udaranya besih. Masker tetap dibawa....dipakainya kalo istirahat atau ketemu teman.
    Selamat Olahraga"
    Gambar tangkapan layar pesan berantai yang beredar di WhatsApp soal pesepeda yang meninggal di Monas, Jakarta.
    Apa benar pesepeda tersebut meninggal akibat kekurangan oksigen karena memakai masker?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 30 Mei 2020, Kepala Polsek Gambir Ajun Komisaris Besar Kade Budiyarta membenarkah bahwa ada seorang pesepeda berinisial H, 48 tahun, yang meninggal di Monas, Jakarta, pada 25 Mei 2020. Namun, Budi menyatakan bahwa H meninggal bukan karena menggunakan masker saat berolahraga.
    Budi menuturkan bahwa H meninggal karena serangan jantung. "Itu sudah dipastikan oleh dokter. Keluarganya juga mengatakan dia (H) memang punya riwayat jantung. Mereka bingung kok informasi yang beredar seperti itu,” ujar Budi saat dihubungi Tempo lewat telepon pada 30 Mei 2020.
    Budi menjelaskan bahwa H awalnya pingsan saat tengah beristirahat di area Taman Pandang, Monas. Teman-temannya pun memberikan pertolongan pertama kepada H. Kemudian, mereka bersama petugas satuan Polisi Pamong Praja yang berada di lokasi membawa H ke RS Budi Kemuliaan. Pihak RS lantas merujuk H ke RSUD Tarakan. Menurut Budi, di situ, H dibawa ke ruang Intensive Care Unit (ICU) dan dinyatakan meninggal.
    Dilansir dari kantor berita Antara, informasi bahwa ada seorang pesepeda yang meninggal karena memakai masker awalnya dibagikan oleh akun Instagram @memoefriantto, yakni pada 31 Mei 2020. Dalam unggahannya, akun yang memiliki sekitar 58 ribu pengikut tersebut juga menyematkan video seperti yang beredar di WhatsApp. Video itu pun telah disaksikan lebih dari 13 ribu kali. Saat ini, unggahan tersebut telah dihapus.
    Berolahraga dengan masker
    Dokter spesialis olahraga Michael Triangto menanggapi beredarnya video yang dilengkapi dengan narasi tentang bahaya berolahraga dengan masker. Menurut Michael, dengan memakai masker saat berolahraga, seseorang akan merasa napasnya kurang lega, sesak, dan tidak nyaman. Hal ini wajar karena tujuan utama dari penggunaan masker adalah untuk melindungi dari kemungkinan terinfeksi virus.
    "Juga melindungi orang lain dari kemungkinan kita menginfeksi mereka, terutama bila kita sedang tidak sehat," ujarnya pada 2 Juni 2020. Apalagi jika memakai masker saat berolahraga dengan intensitas yang berat. Hal ini sesuai dengan narasi yang beredar bahwa korban sulit bernapas, sehingga hal tersebut adalah wajar. Hal yang tidak wajar adalah mengapa korban harus berolahraga berat?
    Dalam Panduan Hidup Aktif Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO), terdapat penjelasan mengenai kurva huruf "J", yaitu hubungan antara intensitas berolahraga dan risiko mengalami infeksi penyakit. Bila berolahraga dengan intensitas ringan sampai sedang, risiko yang dihadapi rendah. Sedangkan jika berolahraga dengan intensitas berat, risiko terinfeksi, termasuk Covid-19, dan cedera tinggi.
    Dari penjelasan tersebut, Michael menyarankan, sebelum berolahraga, seseorang harus mengetahui dengan jelas tujuannya. Jika tujuannya untuk sehat, ia hanya boleh berolahraga dengan intensitas ringan sampai sedang sehingga tidak akan terganggu dengan penggunaan masker. Bagi yang ingin berolahraga dengan intensitas berat, menurut Michael, tentunya tidak bisa dilarang.
    Namun, ia menyarankan untuk melakukannya di rumah. "Sehingga tidak diwajibkan menggunakan masker dan kemungkinan untuk terinfeksi maupun menginfeksi dari dan ke orang lain sedikit," tuturnya. Yang perlu dipahami, kata Michael, berolahraga dengan intensitas berat hanya diperuntukkan bagi atlet yang akan bertanding. Tujuan kesehatan bukanlah menjadi prioritas utamanya.
    Terkait masker, menurut Michael, penggunaan masker jenis N95 akan sangat mempengaruhi fungsi pernapasan karena hanya diperuntukkan bagi petugas medis. Sementara masker bedah lebih rendah kemampuan menyaring udaranya, sehingga pemakaiannya tidak terlalu menyesakkan. "Dan masker kain lebih nyaman saat dipakai. Untuk berolahraga di luar ruangan, lebih dianjurkan menggunakan masker bedah atau masker kain," ujarnya.
    Michael juga menjelaskan manfaat lain dari penggunaan masker, selain mencegah penularan infeksi. Secara teoritis, kurangnya oksigen yang masuk ke paru-paru dapat melatih pemakai masker untuk terbiasa dengan oksigen yang tipis. Tapi hal ini membutuhkan waktu adaptasi yang panjang. "Untuk itu, masih dibutuhkan banyak penelitian tentang penggunaan masker saat berolahraga, termasuk pula lama penggunaannya," katanya.
    Michael pun menyimpulkan bahwa berolahraga yang sehat cukup dilakukan dengan intensitas yang ringan sampai sedang. Dengan demikian, penggunaan masker saat berolahraga tidak akan mempersulit sistem pernapasan. "Ini tidak akan menimbulkan gangguan kesehatan, atau menyebabkan kematian. Kecuali bagi yang memiliki gangguan kesehatan, misalnya TBC paru," tuturnya.
    Dilansir dari Kompas.com, terapis fisik sekaligus ahli kebugaran bersertifikasi dari Movement Vault Amerika Serikat, Grayson Wickham, menyebut bahwa olahraga dengan masker pada umumnya aman. "Kebanyakan orang bisa melakukan berbagai gerakan olahraga dengan memakai masker," kata Wickham pada 27 Mei 2020.
    Namun, Wickham berpesan, perhatikan kondisi fisik saat berolahraga dengan memakai masker, terutama bagi mereka yang baru mulai berolahraga atau setelah rehat cukup lama dari rutinitas berolahraga. "Perhatikan ketika merasakan sakit kepala ringan, pusing, kesemutan, atau sesak napas saat berolahraga dengan memakai masker," katanya.
    Selain itu, menurut Wickham, pemilik penyakit jantung, stroke, asma, gangguan paru-paru, serta bronkitis perlu ekstra hati-hati saat berolahraga dengan memakai masker. Penderita penyakit kardiovaskular dan pernapasan perlu berkonsultasi ke dokter saat ingin berolahraga di luar rumah di tengah pandemi, terlebih sambil memakai masker, mengingat keduanya termasuk golongan yang rentan saat terinfeksi Covid-19. "Penting bagi penderita kardiovaskular dan masalah pernapasan untuk memastikan aspek keamanan," ujar Wickham.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pesepeda dalam video di atas meninggal akibat kekurangan oksigen karena memakai masker keliru. Pesepeda berinisial H tersebut, menurut pemeriksaan dokter, meninggal karena serangan jantung. Pihak keluarga juga menyatakan bahwa H memang memiliki riwayat penyakit jantung.
    IBRAHIM ARSYAD
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Metro TV Salah Tulis Jabatan Anies Baswedan Sebagai Presiden dalam Tayangan Beritanya?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 03/06/2020

    Berita


    Video Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang tengah diwawancarai dalam sebuah tayangan berita di stasiun televisi Metro TV beredar di media sosial. Dalam video berdurasi 48 detik itu, terdapat teks atau character generic (CG) yang berbunyi "Presiden Tinjau Kesiapan Kenormalan Baru".
    Oleh pengunggahnya, salah satunya akun Facebook Arroni Walecsha, video itu diberi narasi bahwa Metro TV salah tulis. "Tumben Metro TV salah tulis, tapi saya setuju sich klo beneran. Tetap Harus sabar menunggu pilpres 2024," demikian narasi yang diunggah akun tersebut pada 28 Mei 2020.
    Akun Eko Asiyamto, pada 29 Mei 2020, juga membagikan video tersebut. Akun ini memberikan keterangan terhadap video itu sebagai berikut: "Metro TV salah tulis atau kode Alam..."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Arroni Walecsha.
    Apa benar Metro TV salah tulis jabatan Anies Baswedan sebagai presiden dalam tayangan berita tersebut?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri video itu di kanal YouTube Metro TV, metrotvnews. Hasilnya, video unggahan akun Arroni Walecsha maupun akun Eko Asiyamto tersebut hanyalah cuplikan dari video berita Metro TV yang berdurasi jauh lebih panjang, yakni 9 menit 4 detik.
    Video itu berjudul "Kesiapan Kenormalan Baru". Video yang dipublikasikan pada 26 Mei 2020 ini merupakan video berita dari program Selamat Pagi Indonesia. Sejak awal, video tersebut memang menampilkan CG yang berbunyi "Presiden Tinjau Kesiapan Penerapan PSNN", bahkan saat menyorot reporter Metro TV yang bertugas ketika itu, Marshalina Gita.
    Gambar tangkapan layar video berita Metro TV ketika menampilkan wawancara dengan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.
    Saat Gita mewawancarai Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, CG yang tertulis dalam video itu juga berbunyi, "Presiden Tinjau Kesiapan Penerapan PSNN". CG yang berisi nama dan jabatan Hadi hanya muncul sekitar 20 detik. Lalu, CG berubah menjadi "Presiden Tinjau Kesiapan Kenormalan Baru". Begitu pula saat Gita mewawancarai Kapolri Jenderal Idham Azis.
    Wawancara dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru muncul pada menit 6:06. Pada menit itu, CG masih berbunyi "Presiden Tinjau Kesiapan Kenormalan Baru". Pada menit 6:23, muncul CG yang berisi nama dan jabatan Anies. Sekitar 15 detik kemudian, CG kembali ke tulisan awal, yakni "Presiden Tinjau Kesiapan Kenormalan Baru", hingga wawancara berakhir.
    Gambar tangkapan layar video berita Metro TV ketika menampilkan nama dan jabatan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
    Menurut keterangan di kanal metrotvnews, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meninjau kesiapan kenormalan baru di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, pada 26 Mei 2020. Dalam kunjungan itu, Jokowi didampingi oleh Anies, Hadi, dan Idham. Mulai hari itu, personel TNI-Polri akan dikerahkan di titik-titik keramaian yang ada di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota.
    Situs cek fakta Turnbackhoax.id juga telah memverifikasi gambar tangkapan layar video Metro TV tersebut dengan klaim bahwa Metro TV mengakui Anies sebagai presiden karena menampilkan gambar Anies yang sedang diwawancarai dengan teks headline berita yang berjudul "Presiden Tinjau Kesiapan Kenormalan Baru". Menurut verifikasi tersebut, klaim itu salah.
    Menurut Turnbackhoax.id, gambar tersebut merupakan potongan dari video berita yang teks headline-nya berbunyi "Presiden Tinjau Kesiapan Kenormalan Baru". Video itu memang berisi liputan tentang Presiden Jokowi yang meninjau kesiapan kenormalan baru di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, pada 26 Mei 2020.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Metro TV salah tulis jabatan Anies Baswedan sebagai presiden dalam tayangan beritanya adalah klaim yang menyesatkan. Video yang digunakan untuk menyebarkan klaim itu hanyalah potongan dari video berita Metro TV yang berjudul "Presiden Tinjau Kesiapan Kenormalan Baru". Dalam video aslinya, tercantum teks atau CG yang berisi nama dan jabatan Anies sekitar 15 detik sebelum akhirnya CG kembali ke tulisan awal, yakni "Presiden Tinjau Kesiapan Kenormalan Baru".
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video “selasa 2 Juni 2020 Aksi mahasiswa di jakarta tuntut Jokowi turun dari presiden”

    Sumber: youtube.com
    Tanggal publish: 03/06/2020

    Berita

    Beredar video aksi unjuk rasa mahasiswa dengan narasi sebagai berikut:

    Akun Marta Cpr Sikumbang (fb.com/idamarimar.idamarimar) membagikan video dari kanal Youtube Suara Mambruk yang diberi judul “selasa 2 Juni 2020 Aksi mahasiswa tuntut Jokowi turun dari presiden”.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Medcom, klaim bahwa ada aksi unjuk rasa mahasiswa yang menuntut Presiden Joko Widodo mundur pada Selasa, 2 Juni 2020 di Jakarta adalah klaim yang salah.

    Faktanya, aksi unjuk rasa di video yang diunggah oleh sumber klaim bukan terjadi pada 2 Juni 2020 dan bukan terjadi di Jakarta. Aksi unjuk rasa di video itu terjadi pada September 2019 dan lokasi unjuk rasa adalah Palembang, Sumatera Selatan.

    Video itu diambil di seberang Bank BCA dan Plasa Telkom Palembang, Jalan Kapten A. Rivai , Palembang.

    Video yang sama sudah beredar pada September 2019. Di antaranya seperti video berjudul “MAHASISWA KOMPAK BERNYANYI” yang diunggah channel Youtube SINGA MAROTA IBRA pada Rabu 25 September 2019.

    Seperti diketahui, pada akhir September 2019 terjadi gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai wilayah. Di antaranya Palembang, Makassar dan Jakarta.

    “Sama dengan tuntutan di berbagai daerah, para mahasiswa Palembang ini menolak revisi UU KPK, RUU KHUP, RUU Agraria, RUU Ketenagakerjaan, dan kriminalisasi aktivis,” tulis Tirto.id dalam laporannya pada Selasa 24 September 2019.

    Kesimpulan

    Bukan Juni 2020 dan bukan di Jakarta. Aksi unjuk rasa di video itu terjadi pada September 2019 dan lokasi unjuk rasa adalah Palembang, Sumatera Selatan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto “AS negara paling rasis”

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 03/06/2020

    Berita

    “Fakta membuktikan
    AS adalah negara paling rasis
    Di dunia.
    Anak2ini sdh dibiasakan dg rasis.”

    Hasil Cek Fakta

    BUKAN peristiwa di Amerika. Lokasi kejadian: Sekolah “Laerskool Schweizer-Reneke”, kota Schweizer-Reneke (Provinsi North West, Afrika Selatan).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini