Akun Lenggo Geni (fb.com/lenggo.geni.5686) mengunggah sebuah gambar dengan narasi sebagai berikut: :
“Indonesia satu2nya negara didunia yang pemerintahnya bahagia merelakan rakyatnya jadi kelinci percobaan vaksin dari china..sementara china sendiri tidak mau menguji cobakan pada rakyatnya.”
Unggahan tersebut juga menyertakan flyer yang berisi foto anggota Ombudsman RI Alvin Lie, gambar vaksin Covid-19, dan pernyataan berbunyi “Jangan sampai kita jadi kelinci percobaan”.
Dari 20 negara, Indonesia ternyata tercatat sebagai satu-satunya negara yang memesan Vaksin Sinovac asal China
[SALAH] “Indonesia satu2nya negara didunia yang pemerintahnya bahagia merelakan rakyatnya jadi kelinci percobaan vaksin dari china”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 26/07/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang pemerintahnya bahagia merelakan rakyatnya jadi kelinci percobaan vaksin dari Cina adalah klaim yang salah.
Faktanya, bukan hanya Indonesia. Sejumlah negara juga melakukan uji coba Vaksin Sinovac, seperti Brasil, Turki, Bangladesh, dan Cile dan juga diujicobakan kepada relawan dari Wuhan bernama Xiong Zhengxing pada 13 April 2020 lalu.
Tim Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Budi Gunadi Sadikin juga mengungkapkan, Sinovac tidak hanya diuji klinis di Indonesia. Setiap kandidat vaksin yang masuk juga mendapat pantauan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
”Sangat penting bagi kandidat vaksin untuk diuji di seluruh dunia. Sehingga Anda dapat mempelajari respons dari berbagai ras dengan susunan genetik yang berbeda,” tuturnya mengutip The Straits Times yang terbit pada 21 Juli 2020.
Sementara itu, flyer yang berisi foto anggota Ombudsman RI Alvin Lie, gambar vaksin Covid-19, dan pernyataan berbunyi “Jangan sampai kita jadi kelinci percobaan” memang berasal dari situs rmol.id.
Keterangan yang diunggah rmol.id pada 21 Juli 2020 itu menyebutkan, Alvin Lie mempertanyakan apakah vaksin tersebut sudah lulus uji klinis dari negara asalnya. Dia juga mewanti-wanti jangan sampai Indonesia menjadi kelinci percobaan.
Menurut Presiden Direktur Bio Farma, Honesti Basyir, vaksin dari Sinovac setelah tiba di Indonesia akan diuji di laboratorium perusahaan lebih dulu. Selain itu, kandidat vaksin perlu mendapat persetujuan dari pemerintah melalui badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sebelum uji klinis akhir dapat dimulai.
Faktanya, bukan hanya Indonesia. Sejumlah negara juga melakukan uji coba Vaksin Sinovac, seperti Brasil, Turki, Bangladesh, dan Cile dan juga diujicobakan kepada relawan dari Wuhan bernama Xiong Zhengxing pada 13 April 2020 lalu.
Tim Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Budi Gunadi Sadikin juga mengungkapkan, Sinovac tidak hanya diuji klinis di Indonesia. Setiap kandidat vaksin yang masuk juga mendapat pantauan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
”Sangat penting bagi kandidat vaksin untuk diuji di seluruh dunia. Sehingga Anda dapat mempelajari respons dari berbagai ras dengan susunan genetik yang berbeda,” tuturnya mengutip The Straits Times yang terbit pada 21 Juli 2020.
Sementara itu, flyer yang berisi foto anggota Ombudsman RI Alvin Lie, gambar vaksin Covid-19, dan pernyataan berbunyi “Jangan sampai kita jadi kelinci percobaan” memang berasal dari situs rmol.id.
Keterangan yang diunggah rmol.id pada 21 Juli 2020 itu menyebutkan, Alvin Lie mempertanyakan apakah vaksin tersebut sudah lulus uji klinis dari negara asalnya. Dia juga mewanti-wanti jangan sampai Indonesia menjadi kelinci percobaan.
Menurut Presiden Direktur Bio Farma, Honesti Basyir, vaksin dari Sinovac setelah tiba di Indonesia akan diuji di laboratorium perusahaan lebih dulu. Selain itu, kandidat vaksin perlu mendapat persetujuan dari pemerintah melalui badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sebelum uji klinis akhir dapat dimulai.
Kesimpulan
Bukan hanya Indonesia. Sejumlah negara juga melakukan uji coba Vaksin Sinovac, seperti Brasil, Turki, Bangladesh, dan Cile dan juga diujicobakan kepada relawan dari Wuhan bernama Xiong Zhengxing pada 13 April 2020 lalu.
Rujukan
- https://www.jawapos.com/hoax-atau-bukan/26/07/2020/uji-klinis-vaksin-sinovac-tak-hanya-di-indonesia/
- http://www.koran-jakarta.com/sinovac–mampu-memincu-respons-kekebalan/
- https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/indonesias-bio-farma-and-chinas-sinovac-to-begin-final-clinical-trials-for-covid-19
- https://www.instagram.com/p/CC4-Tq6DAPG/
Cek Fakta WHO: Virus Corona Tak Menular Lewat Udara
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 25/07/2020
Berita
Virus corona apakah bisa menular via udara? Benar atau tidak?
Hasil Cek Fakta
WHO menegaskan, Covid-19 menular melalui droplet atau percikan yang keluar saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Menurut WHO, droplet tersebut terlalu berat untuk bisa bertahan di udara sehingga akan langsung jatuh ke lantai atau permukaan sesuatu. "Kamu bisa saja tertular virus jika berada dalam rentang jarak 1 meter dari penderita Covid-19," kata WHO, dikutip dari Instagramnya pada Senin (30/3/2020). Penularan juga bisa terjadi saat menyentuh permukaan yang terkena droplet terkontaminasi dan secara tak sadar menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum cuci tangan WHO juga memperingatkan untuk menjaga diri tetap aman dari virus corona dengan cara menjaga jarak minimal 1 meter dari seseorang yang terinfeksi virus corona Covid-19.
Pastikan untuk rutin mendisinfeksi permukaan-permukaan benda yang sering disentuh. Selain itu, cuci tangan secara rutin sebelum menyentuh mata, mulut, dan hidung.
Pastikan untuk rutin mendisinfeksi permukaan-permukaan benda yang sering disentuh. Selain itu, cuci tangan secara rutin sebelum menyentuh mata, mulut, dan hidung.
Rujukan
Cek Fakta: Pesan Mencegah Covid-19 Diklaim dari Eks Menkes Nila F Moeloek, Ini Faktanya
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 25/07/2020
Berita
Apakah berita himbauan dari mantan Menkes ibu Nila Moeloek benar?
Tips kesehatan menghadapi covid-19 dari mantan menteri kesehatan moeloek
Ini ada Artikel dari ibu Nila Muluk ( mantan menkes) copas dr group sebelah ....
Assalamualaikum, Saya menganjurkan kepada kita semua untuk membawa plastik bening ukuran 1 kg kalau keluar. Pastikan semua uang kembalian jangan dipegang, tapi masukan ke kantong plastik itu dan tutup rapat. Setelah ada kesempatan jemur plastik tersebut beserta uang tadi di matahari,.paling tidak 30 menit, insyaa Allah sudah cukup aman. Mari kita mulai putuskan mata rantai penularan dari diri kita sendiri. Insyaa Allah bermanfaat 🙏
Jangan lupa habis pegang uang cuci tangan, karna banyak yang tertular itu sebenernya bukan dari interaksi, melainkan dari uang. Di italia 70% orang2 tertular dari uang, padahal mereka sudah safety pakai masker dll, tapi mereka gak pada sadar ternyata mereka tertular dari uang. Virus corona itu kan nyebar bukan terbang melalui udara, tapi nempel di barang, ya salah satu yang paling ringkih ya uang, uang kan kotor dari tangan siapa aja. Jadi rajin2 lah cuci tangan pakai sabun, dan selalu bawa hand sanitizer dimana pun. Ingatkan juga pembantu rumah tangga kita.
Semoga kita selalu diberikan kesehatan, dan dilindungi dimanapun kita berada, Amin 🙏🏻🙏🏻
Tips kesehatan menghadapi covid-19 dari mantan menteri kesehatan moeloek
Ini ada Artikel dari ibu Nila Muluk ( mantan menkes) copas dr group sebelah ....
Assalamualaikum, Saya menganjurkan kepada kita semua untuk membawa plastik bening ukuran 1 kg kalau keluar. Pastikan semua uang kembalian jangan dipegang, tapi masukan ke kantong plastik itu dan tutup rapat. Setelah ada kesempatan jemur plastik tersebut beserta uang tadi di matahari,.paling tidak 30 menit, insyaa Allah sudah cukup aman. Mari kita mulai putuskan mata rantai penularan dari diri kita sendiri. Insyaa Allah bermanfaat 🙏
Jangan lupa habis pegang uang cuci tangan, karna banyak yang tertular itu sebenernya bukan dari interaksi, melainkan dari uang. Di italia 70% orang2 tertular dari uang, padahal mereka sudah safety pakai masker dll, tapi mereka gak pada sadar ternyata mereka tertular dari uang. Virus corona itu kan nyebar bukan terbang melalui udara, tapi nempel di barang, ya salah satu yang paling ringkih ya uang, uang kan kotor dari tangan siapa aja. Jadi rajin2 lah cuci tangan pakai sabun, dan selalu bawa hand sanitizer dimana pun. Ingatkan juga pembantu rumah tangga kita.
Semoga kita selalu diberikan kesehatan, dan dilindungi dimanapun kita berada, Amin 🙏🏻🙏🏻
Hasil Cek Fakta
Cek fakta Liputan6.com menelusuri kebenaran eks Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengirim pesan berisi pencegahan virus corona. Penelusuran dilakukan dengan menghubungi Nila F Moeloek.
Kepada Liputan6.com, Nila memastikan bahwa pesan tersebut bukan berasal dari dirinya.
"Itu Hoax," ungkap Nila kepada Liputan6.com, Selasa (17/3/2020).
Penelusuran kemudian dilakukan dengan menggunakan situs pencari google dengan memasukkan kata kunci "Nila F Moeloek corona". Hasilnya terdapat artikel berjudul "Nila Moeloek Bantah Pernah Buat Pesan Jemur Uang Cegah Corona" yang ditayangkan situs tempo.co pada Selasa (17/3/2020).
TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek, membantah telah menuliskan sebuah pesan cara memutus mata rantai penularan virus Corona atau Covid-19 dengan menjemur uang.
Pesan yang beredar di media sosial itu berbunyi:
"Ini ada usulan dari ibu Nila Muluk...Assalamualaikum, Saya menganjurkan kepada kita semua untuk membawa plastik bening ukuran 1 kg kalau keluar. Pastikan semua uang kembalian jangan dipegang, tapi masukan ke kantong plastik itu dan tutup rapat.
Setelah ada kesempatan jemur plastik tersebut beserta uang tadi di matahari, paling tidak 30 menit, insyaa Allah sudah cukup aman. Mari kita mulai putuskan mata rantai penularan dari diri kita sendiri. In Syaa Allah bermanfaat ."
Saat dikonfirmasi, Nila mengatakan tidak pernah menuliskan pesan seperti yang beredar. "Hoaks. Terima kasih. Saya enggak buat itu," kata Nila kepada Tempo, Senin, 16 Maret 2020.
Kabar hoaks terkait Covid-19 belakangan marak di sejumlah platform media sosial. Pada Senin, 9 Maret 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengumumkan terdapat 177 hoaks hingga Minggu, 8 Maret 2020.
Dari 177 kasus yang ditemukan pada Ahad, 8 Maret 2020, lima di antaranya tengah dibawa ke ranah hukum. Kelima kasus tersebut yakni dua kasus tengah ditangani oleh Polda Kalimantan Timur, dua kasus lainnya di Kalimantan Barat, dan satu di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Kepada Liputan6.com, Nila memastikan bahwa pesan tersebut bukan berasal dari dirinya.
"Itu Hoax," ungkap Nila kepada Liputan6.com, Selasa (17/3/2020).
Penelusuran kemudian dilakukan dengan menggunakan situs pencari google dengan memasukkan kata kunci "Nila F Moeloek corona". Hasilnya terdapat artikel berjudul "Nila Moeloek Bantah Pernah Buat Pesan Jemur Uang Cegah Corona" yang ditayangkan situs tempo.co pada Selasa (17/3/2020).
TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek, membantah telah menuliskan sebuah pesan cara memutus mata rantai penularan virus Corona atau Covid-19 dengan menjemur uang.
Pesan yang beredar di media sosial itu berbunyi:
"Ini ada usulan dari ibu Nila Muluk...Assalamualaikum, Saya menganjurkan kepada kita semua untuk membawa plastik bening ukuran 1 kg kalau keluar. Pastikan semua uang kembalian jangan dipegang, tapi masukan ke kantong plastik itu dan tutup rapat.
Setelah ada kesempatan jemur plastik tersebut beserta uang tadi di matahari, paling tidak 30 menit, insyaa Allah sudah cukup aman. Mari kita mulai putuskan mata rantai penularan dari diri kita sendiri. In Syaa Allah bermanfaat ."
Saat dikonfirmasi, Nila mengatakan tidak pernah menuliskan pesan seperti yang beredar. "Hoaks. Terima kasih. Saya enggak buat itu," kata Nila kepada Tempo, Senin, 16 Maret 2020.
Kabar hoaks terkait Covid-19 belakangan marak di sejumlah platform media sosial. Pada Senin, 9 Maret 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengumumkan terdapat 177 hoaks hingga Minggu, 8 Maret 2020.
Dari 177 kasus yang ditemukan pada Ahad, 8 Maret 2020, lima di antaranya tengah dibawa ke ranah hukum. Kelima kasus tersebut yakni dua kasus tengah ditangani oleh Polda Kalimantan Timur, dua kasus lainnya di Kalimantan Barat, dan satu di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Kesimpulan
Pesan berisi pencegahan Covid-19 dengan cara menjemur uang ternyata bukan berasal dari mantan Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek. Pesan tersebut diduga berasal dari sumber yang tidak terverifikasi.
Rujukan
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Obat Ibuprofen Bisa Membuat Corona Hidup Lebih Lama?
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 25/07/2020
Berita
Ibuprofen menambah jangka hidup virus covid-19
Intinya jgn minum obat yg kandungannya ibuprofen untuk menghilangkan demam atau rasa sakit bisa meningkatkan jumlah covid19
Intinya jgn minum obat yg kandungannya ibuprofen untuk menghilangkan demam atau rasa sakit bisa meningkatkan jumlah covid19
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari Poynter, perdebatan mengenai penggunaan obat pereda rasa nyeri, ibuprofen, pada pasien COVID-19 berawal ketika Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran mencuit di Twitter mengenai obat tersebut pada 14 Maret 2020 lalu. Menurut dia, obat anti-inflamasi seperti ibuprofen dapat memperburuk gejala.
Pendapat Veran tersebut merujuk pada sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Nasional Perancis untuk Keselamatan Obat pada 2019. Penelitian itu menyatakan bahwa ibuprofen dapat menyebabkan komplikasi terhadap semua pasien penyakit menular.
Namun, di saat yang sama, otoritas kesehatan di Spanyol maupun Austria melaporkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan ibuprofen bisa memperburuk pasien COVID-19. Bahkan, Austria menyebut bahwa klaim "ibuprofen memperburuk gejala COVID-19" sebagai hoaks.
Pada 17 Maret 2020, WHO angkat bicara terkait klaim tersebut. Menurut juru bicara WHO, Christian Lindmeier, meskipun tidak ada bukti yang menghubungkan ibuprofen dengan komplikasi terhadap pasien COVID-19, ia merekomendasikan untuk memilih alternatif lain, seperti asetaminofen, sembari para ilmuwan menyelidiki masalah tersebut.
Dua hari kemudian, yakni pada 19 Maret 2020, WHO menegaskan pernyataannya mengenai klaim "ibuprofen memperburuk gejala COVID-19". Melalui akun Twitter resminya, WHO menyatakan bahwa, berdasarkan informasi yang tersedia sejauh ini, WHO tidak merekomendasikan untuk menentang penggunaan ibuprofen.
"Kami juga berkonsultasi dengan para dokter yang merawat pasien COVID-19 dan tidak menemukan laporan tentang efek negatif ibuprofen, di luar efek samping yang diketahui yang membatasi penggunaannya pada populasi tertentu. WHO juga tidak menemukan data berbasis klinis atau populasi yang dipublikasikan tentang topik ini," demikian pernyataan WHO.
Situs media asing BuzzFeed News memberitakan pernyataan WHO tersebut sekaligus menambahkan pendapat dari sejumlah ahli. Menurut para ahli yang diwawancarai, kekhawatiran mengenai pemberian ibuprofen dan obat serupa yang disebut sebagai obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) terhadap pasien COVID-19 tidak berdasar.
"Saya tidak berpikir membuat rekomendasi untuk menghindari kategori obat ini, yang sangat bermanfaat, bijaksana pada saat ini," ujar Daniel Solomon, profesor kedokteran di Harvard Medical School sekaligus dokter spesialis reumatologi di Brigham and Women's Hospital kepada BuzzFeed News.
Michele Barry, Direktur Pusat Inovasi Kesehatan Global di Stanford University, mengatakan, "Tidak melalui tahap ulasan oleh teman sejawat (peer reviewed). Tidak berdasarkan bukti." Adapun David Juurlink, kepala divisi farmakologi klinis di University of Toronto, menyebutnya "sangat spekulatif".
Pendapat Veran tersebut merujuk pada sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Nasional Perancis untuk Keselamatan Obat pada 2019. Penelitian itu menyatakan bahwa ibuprofen dapat menyebabkan komplikasi terhadap semua pasien penyakit menular.
Namun, di saat yang sama, otoritas kesehatan di Spanyol maupun Austria melaporkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan ibuprofen bisa memperburuk pasien COVID-19. Bahkan, Austria menyebut bahwa klaim "ibuprofen memperburuk gejala COVID-19" sebagai hoaks.
Pada 17 Maret 2020, WHO angkat bicara terkait klaim tersebut. Menurut juru bicara WHO, Christian Lindmeier, meskipun tidak ada bukti yang menghubungkan ibuprofen dengan komplikasi terhadap pasien COVID-19, ia merekomendasikan untuk memilih alternatif lain, seperti asetaminofen, sembari para ilmuwan menyelidiki masalah tersebut.
Dua hari kemudian, yakni pada 19 Maret 2020, WHO menegaskan pernyataannya mengenai klaim "ibuprofen memperburuk gejala COVID-19". Melalui akun Twitter resminya, WHO menyatakan bahwa, berdasarkan informasi yang tersedia sejauh ini, WHO tidak merekomendasikan untuk menentang penggunaan ibuprofen.
"Kami juga berkonsultasi dengan para dokter yang merawat pasien COVID-19 dan tidak menemukan laporan tentang efek negatif ibuprofen, di luar efek samping yang diketahui yang membatasi penggunaannya pada populasi tertentu. WHO juga tidak menemukan data berbasis klinis atau populasi yang dipublikasikan tentang topik ini," demikian pernyataan WHO.
Situs media asing BuzzFeed News memberitakan pernyataan WHO tersebut sekaligus menambahkan pendapat dari sejumlah ahli. Menurut para ahli yang diwawancarai, kekhawatiran mengenai pemberian ibuprofen dan obat serupa yang disebut sebagai obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) terhadap pasien COVID-19 tidak berdasar.
"Saya tidak berpikir membuat rekomendasi untuk menghindari kategori obat ini, yang sangat bermanfaat, bijaksana pada saat ini," ujar Daniel Solomon, profesor kedokteran di Harvard Medical School sekaligus dokter spesialis reumatologi di Brigham and Women's Hospital kepada BuzzFeed News.
Michele Barry, Direktur Pusat Inovasi Kesehatan Global di Stanford University, mengatakan, "Tidak melalui tahap ulasan oleh teman sejawat (peer reviewed). Tidak berdasarkan bukti." Adapun David Juurlink, kepala divisi farmakologi klinis di University of Toronto, menyebutnya "sangat spekulatif".
Kesimpulan
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Obat Ibuprofen Bisa Membuat Corona Hidup Lebih Lama? Senin, 23 Maret 2020 18:29 WIB
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Obat Ibuprofen Bisa Membuat Corona Hidup Lebih Lama?
Pesan berantai yang berisi narasi bahwa obat ibuprofen bisa membuat virus Corona COVID-19 hidup lebih lama beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak Sabtu, 21 Maret 2020. Informasi itu diklaim berasal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam pesan berantai itu, juga disebutkan sejumlah merk obat yang mengandung ibuprofen.
Berikut narasi utuh pesan berantai yang beredar tersebut:
Info tambahan, dari WHO.
Jika ada gejala sakit terkena
- Batuk
- Pilek
- Panas tinggi
“ jangan “minum obat yg mengandung “ ibuprofen”
Ini akan menambah hidup virus corona convid 19
Pertolongan pertama yang dilakukan adalah
Minum obat flu n demam yg mengandung
“ paracetamol”
Di Indonesia obat2 tersebut terdapat pada obat sbb:
- Panadol
- Paramex
- Neozep
Berikut beberapa obat2 yg mengand
[Fakta atau Hoaks] Benarkah WHO Sebut Obat Ibuprofen Bisa Membuat Corona Hidup Lebih Lama?
Pesan berantai yang berisi narasi bahwa obat ibuprofen bisa membuat virus Corona COVID-19 hidup lebih lama beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak Sabtu, 21 Maret 2020. Informasi itu diklaim berasal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam pesan berantai itu, juga disebutkan sejumlah merk obat yang mengandung ibuprofen.
Berikut narasi utuh pesan berantai yang beredar tersebut:
Info tambahan, dari WHO.
Jika ada gejala sakit terkena
- Batuk
- Pilek
- Panas tinggi
“ jangan “minum obat yg mengandung “ ibuprofen”
Ini akan menambah hidup virus corona convid 19
Pertolongan pertama yang dilakukan adalah
Minum obat flu n demam yg mengandung
“ paracetamol”
Di Indonesia obat2 tersebut terdapat pada obat sbb:
- Panadol
- Paramex
- Neozep
Berikut beberapa obat2 yg mengand
Rujukan
Halaman: 7495/8695

