Semua masyarakat yang sudah mempunyai E-KTP mulai 27 maret berhak mendapat konpensasi sejumlah Rp.1.250,000,- untuk biaya #dirumahaja.
Semua Warga Negara Berhak mendapatkan kompensasi untuk tinggal di rumah
Mulai hari selasa besok tanggal 24 Maret 2020, Semua Warga Negara Berhak mendapatkan kompensasi Rp 350.000 per hari untuk tinggal di rumah
Mulai rabu, tanggal 27 Maret 2020, Semua Warga Negara Berhak mendapatkan kompensasi Rp 350.000 per hari untuk tinggal di rumah dalam rangka menghindari penyebaran COVID-19; Novel Coronavirus.
Pelayanan ini dapat diakses oleh semua orang, tidak memandang satu status pekerjaan.
Segera daftarkan NIK anda dan isi formulir dalam site dibawah ini:
https://bit.ly/3dptRNa
Bagi yang sudah memiliki E-KTP sudah bisa mengambil kompensasi Per Tgl 30 Agustus 2020 sebesar Rp. 600.000 untuk biaya # dirumah aja.
Silakan cek apakah nama anda tercantum, dan cocokkan dengan NIK E-KTP anda melalui link berikut ini:
https://s.id/ektp-covid19
Cek E-KTP, apakah nama Anda terdaftar sebagai penerima stimulus dari pemerintah senilai *Rp 600.000,-* pert tanggal 27 Agt 2020. Klik link berikut
https://s.id/ektp-covid19
Cek E-KTP, apakah nama Anda terdaftar sebagai penerima stimulus dari pemerintah senilai Rp 600.000,- pert tanggal 27 Agt 2020. Klik link berikut
https://s.id/ektp-covid19
Cek E-KTP, apakah nama Anda terdaftar sebagai penerima stimulus dari pemerintah senilai Rp *600.000,-* pert tanggal 27 Agt 2020. Klik link berikut
https://s.id/ektp-covid19
Semua Warga Negara Berhak mendapatkan RP 150.000 per hari untuk tinggal di rumah untuk menghindari penyebaran COVID-19; Novel Coronavirus. Mulai dari 20 Maret 2020. Pembayaran hibah Pemerintah Indonesia dapat diakses oleh semua orang, tidak termasuk satu status pekerjaan.
Baca artikel lengkap di sini tentang cara mengajukan klaim:
https://bit.ly/2vvme6X
Cek Fakta: Hoaks Pemilik E-KTP Dapat Kompensasi
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 24/07/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim pemilik e-KTP mendapat kompensasi Rp 1,25 juta, dengan membuka tautan formulir pendaftara yang tercantum dalam klaim tersebut.
Setelah tautan tersebut dibuka, ternyata yang muncul bukan formulir pendaftaran untuk mendapat kompensasi, melainkan potongan gambar sebuah iklan. Dalam potongan gambar tersebut, terdapat tulisan "MIMPI!!!".
Dari tautan yang tercantum dalam klaim menunjukan, klaim tersebut merupakan guyonan.
Guyonan pun bisa masuk dalam kategori hoaks, hal ini diulas dalam artikel berjudul "Hati-hati Guyonan Juga Bisa Masuk Kategori Hoaks" yang dimuat situs liputan6.com, pada 15 Maret 2020.
Dari penelusuran kami, klaim bahwa setiap pemilik KTP elektronik (KTP-el) mendapatkan uang kompensasi#DiRumahSajasebesar Rp680 ribu adalah salah. Faktanya ini informasi hoaks lama yang muncul dengan sedikit perubahan.
Pada Senin 30 Maret 2020, kami dari tim Cek Fakta Medcom.id juga mendapat kabar hoaks senada. Kami telah mengkonfirmasi Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Dukcapil Kemendagri) Zudan Arif Fakrulloh.
"Itu canda-canda. Lihat aja linknya," kata Zudan kepada Medcom.id, Minggu 29 Maret 2020.
Setelah tautan tersebut dibuka, ternyata yang muncul bukan formulir pendaftaran untuk mendapat kompensasi, melainkan potongan gambar sebuah iklan. Dalam potongan gambar tersebut, terdapat tulisan "MIMPI!!!".
Dari tautan yang tercantum dalam klaim menunjukan, klaim tersebut merupakan guyonan.
Guyonan pun bisa masuk dalam kategori hoaks, hal ini diulas dalam artikel berjudul "Hati-hati Guyonan Juga Bisa Masuk Kategori Hoaks" yang dimuat situs liputan6.com, pada 15 Maret 2020.
Dari penelusuran kami, klaim bahwa setiap pemilik KTP elektronik (KTP-el) mendapatkan uang kompensasi#DiRumahSajasebesar Rp680 ribu adalah salah. Faktanya ini informasi hoaks lama yang muncul dengan sedikit perubahan.
Pada Senin 30 Maret 2020, kami dari tim Cek Fakta Medcom.id juga mendapat kabar hoaks senada. Kami telah mengkonfirmasi Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Dukcapil Kemendagri) Zudan Arif Fakrulloh.
"Itu canda-canda. Lihat aja linknya," kata Zudan kepada Medcom.id, Minggu 29 Maret 2020.
Kesimpulan
Klaim pemilik e-KTP yang berdiam di rumah akan mendapat kompensasi tidak benar.
Informasi ini masuk kategori hoaks jenis satire atau parodi. Satire merupakan konten berunsur parodi atau sarkasme yang dibuat untuk menyindir atau mengkritik pihak tertentu. Satire tidak termasuk konten yang membahayakan, tetapi bisa mengecoh karena sebagian masyarakat menganggap informasi dalam satire sebagai kebenaran.
Informasi ini masuk kategori hoaks jenis satire atau parodi. Satire merupakan konten berunsur parodi atau sarkasme yang dibuat untuk menyindir atau mengkritik pihak tertentu. Satire tidak termasuk konten yang membahayakan, tetapi bisa mengecoh karena sebagian masyarakat menganggap informasi dalam satire sebagai kebenaran.
Rujukan
Cek Fakta: Klaim Pesan Suara soal Kondisi RS Hasan Sadikin Bandung Tidak Terbukti
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 24/07/2020
Berita
Terkait covid-19 apa benar ada pasien di rshs bandung yg meninggal pada 19 maret 2020 karena virus tersebut. Pasien bernama Deddy Junaedi laki-laki umur 52 tahun.
Pesan audio di group wa yang berisi daerah zona merah atau red zone covid 19 di seputar jalan atau daerah RSHS rumah sakit hasan sadikin bandung hoax???
Info tentang ada wakil pendeta gereja meninggal dunia di RSHS Bandung karena COVID19 apakah itu benar? Dan beliau tinggal di cihanjuang cimahi
Gaiiss... Wakil pdt gereja kami barusan diinfokan meninggal dunia di RSHS covid.19 bbrp hr yg lalu plg dr JKt, dan beliau tinggal di Cihanjuang Cimahi 😔😔
Pesan audio di group wa yang berisi daerah zona merah atau red zone covid 19 di seputar jalan atau daerah RSHS rumah sakit hasan sadikin bandung hoax???
Info tentang ada wakil pendeta gereja meninggal dunia di RSHS Bandung karena COVID19 apakah itu benar? Dan beliau tinggal di cihanjuang cimahi
Gaiiss... Wakil pdt gereja kami barusan diinfokan meninggal dunia di RSHS covid.19 bbrp hr yg lalu plg dr JKt, dan beliau tinggal di Cihanjuang Cimahi 😔😔
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar viral yang mengklaim kondisi Rumah Sakit Hasan Sadikin yang semakin parah akibat Covid-19, dengan menghubungi pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.
Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin Rina Susana Dewi mengatakan, informasi yang ada dalam pesan suara yang viral tersebut tidak benar.
"Tidak benar ada residen Anestesi yang meninggal karena Covid-19. Sampai saat ini tidak ada petugas kesehatan yang diisolasi, dan tidak ada 5 yang suspek," kata Rina.
Menurutnya, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung telah memberlakukan pengolahan higienis sanitasi yang sesuai dengan standar, sehingga keamanan dan kesehatan petugas dan masyarkat di lingkungan Rumah Sakit Hasan Sadikin terjamin.
"Adapun bagi petugas kesehatan yang kontak erat dengan pasien positif sesuai pedoman pencegahan dan penanggulangan COVID-19 Kementerian Kesehatan, mereka tergolong dalam ODP (orang dalam pemantauan) yang dijamin dan dipantau kesehatannya oleh manajemen RSHS. 10 orang petugas kesehatan telah di tes Covid-19 dan seluruhnya negatif," papar Rina.
Terkait pasien terkonfirmasi positif COVID-19, Rina sudah menyampaikanya ke media masa. "Terkait pasien Covid-19 yang meninggal, sebagaimana karakteristik pasien positif yang meninggal di rumah sakit lain, pasien di RSHS meninggal disebabkan adanya penyakit penyerta," tutup Rina.
Pihak RS Hasan Sadikin juga mengunggah bantahan atas kabar yang viral di situs resminya dan akun instagram.
Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin Rina Susana Dewi mengatakan, informasi yang ada dalam pesan suara yang viral tersebut tidak benar.
"Tidak benar ada residen Anestesi yang meninggal karena Covid-19. Sampai saat ini tidak ada petugas kesehatan yang diisolasi, dan tidak ada 5 yang suspek," kata Rina.
Menurutnya, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung telah memberlakukan pengolahan higienis sanitasi yang sesuai dengan standar, sehingga keamanan dan kesehatan petugas dan masyarkat di lingkungan Rumah Sakit Hasan Sadikin terjamin.
"Adapun bagi petugas kesehatan yang kontak erat dengan pasien positif sesuai pedoman pencegahan dan penanggulangan COVID-19 Kementerian Kesehatan, mereka tergolong dalam ODP (orang dalam pemantauan) yang dijamin dan dipantau kesehatannya oleh manajemen RSHS. 10 orang petugas kesehatan telah di tes Covid-19 dan seluruhnya negatif," papar Rina.
Terkait pasien terkonfirmasi positif COVID-19, Rina sudah menyampaikanya ke media masa. "Terkait pasien Covid-19 yang meninggal, sebagaimana karakteristik pasien positif yang meninggal di rumah sakit lain, pasien di RSHS meninggal disebabkan adanya penyakit penyerta," tutup Rina.
Pihak RS Hasan Sadikin juga mengunggah bantahan atas kabar yang viral di situs resminya dan akun instagram.
Kesimpulan
Klaim dalam pesan suara kondisi Rumah Sakit Hasan Sadikin semakin parah akibat Covid-19 dibantah Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin, Rina Susana Dewi.
Ia menyatakan, sampai saat ini tidak ada petugas kesehatan yang diisolasi, dan tidak benar ada lima dari mereka yang suspect.
Sejauh ini, tak ada bukti sahih yang menguatkan klaim dalam pesan suara seseorang yang mengaku sebagai Intan.
Ia menyatakan, sampai saat ini tidak ada petugas kesehatan yang diisolasi, dan tidak benar ada lima dari mereka yang suspect.
Sejauh ini, tak ada bukti sahih yang menguatkan klaim dalam pesan suara seseorang yang mengaku sebagai Intan.
Rujukan
[SALAH] “ERDOGAN TAK MAU DUDUK DI KURSI TAMU YANG LEBIH KECIL DARI KURSI BABA (POP) VATIKAN”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 24/07/2020
Berita
Akun Yassir (fb.com/yassir.yassir.58726) mengunggah sebuah gambar pertemuan antara Paus Fransiskus dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan narasi sebagai berikut:
“ERDOGAN DATANG KE VATIKAN MENJUMPAI BABA (POP) VATIKAN. KURSI TAMU YG AKAN DI DUDUKI ERDOGAN LEBIH KECIL DARIPADA KURSI POP (lihat lingkaran merah). ERDOGAN MENOLAK, TAK MAU DUDUK. DIA MAU KURSI YANG SAMA BESAR DENGAN POP. PENGAWAL POP BERKATA, “SEMUA PEMIMPIN DUNIA YANG DATANG JUMPA POP, DUDUK KURSI KECIL ITU. ERDOGAN PUN MENJAWAB, “PEMIMPIN NEGARA DI DUNIA BOLEH DUDUK KURSI ITU, TETAPI TIDAK UNTUK PEMIMPIN NEGARA TURKEY. DIA MENJAGA IZZAH ISLAM.. Jayalah Islam…”
“ERDOGAN DATANG KE VATIKAN MENJUMPAI BABA (POP) VATIKAN. KURSI TAMU YG AKAN DI DUDUKI ERDOGAN LEBIH KECIL DARIPADA KURSI POP (lihat lingkaran merah). ERDOGAN MENOLAK, TAK MAU DUDUK. DIA MAU KURSI YANG SAMA BESAR DENGAN POP. PENGAWAL POP BERKATA, “SEMUA PEMIMPIN DUNIA YANG DATANG JUMPA POP, DUDUK KURSI KECIL ITU. ERDOGAN PUN MENJAWAB, “PEMIMPIN NEGARA DI DUNIA BOLEH DUDUK KURSI ITU, TETAPI TIDAK UNTUK PEMIMPIN NEGARA TURKEY. DIA MENJAGA IZZAH ISLAM.. Jayalah Islam…”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Medcom, klaim bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak duduk di kursi kecil ketika bertemu dengan Paus Fransiskus adalah klaim yang salah.
Faktanya, kursi kecil itu untuk penerjemah. Erdogan dan pemimpin dunia lainnya selalu duduk di kursi yang relatif sama besarnya dengan kursi, yang diduduki Paus.
Video yang identik dengan kondisi pertemuan pada foto yang diunggah sumber klaim, diunggah akun twitter Ayhan Gürel pada Selasa 6 Februari 2018. Di video tersebut, tampak seorang petugas tampak membawa sebuah kursi kecil untuk seorang penerjemah.
“ERDOĞAN-PAPA GÖRÜŞMESİNDE “Tercüman için getirilen koltuğu,” atau “DI RAPAT ERDOĞAN-PAPA “Kursi dibawakan untuk penerjemah,” setelah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Dilansir Vatican News, Paus Fransiskus menerima kedatangan Erdogan pada Senin 5 Februari 2018 di Istana Vatikan. Di dalam pertemuan itu, mereka membahas sejumlah hal. Di antaranya terkait komunitas Katolik, penampungan para pengungsi, situasi Timur Tengah, status Yerusalem dan promosi perdamaian serta stabilitas kawasan.
Selain itu, dalam foto yang dimuat di situs Kompas, Obama tampak duduk di sebuah kursi yang sama besar dengan Paus. Pertemuan berlangsung di Istana Vatikan, Kamis 27 Maret 2014. Pula saat Presiden Perancis Emmanuel Macron menemui Paus di Vatikan, Selasa 26 Juni 2018. Macron tampak duduk di kursi yang sama besar dengan Paus.
Faktanya, kursi kecil itu untuk penerjemah. Erdogan dan pemimpin dunia lainnya selalu duduk di kursi yang relatif sama besarnya dengan kursi, yang diduduki Paus.
Video yang identik dengan kondisi pertemuan pada foto yang diunggah sumber klaim, diunggah akun twitter Ayhan Gürel pada Selasa 6 Februari 2018. Di video tersebut, tampak seorang petugas tampak membawa sebuah kursi kecil untuk seorang penerjemah.
“ERDOĞAN-PAPA GÖRÜŞMESİNDE “Tercüman için getirilen koltuğu,” atau “DI RAPAT ERDOĞAN-PAPA “Kursi dibawakan untuk penerjemah,” setelah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Dilansir Vatican News, Paus Fransiskus menerima kedatangan Erdogan pada Senin 5 Februari 2018 di Istana Vatikan. Di dalam pertemuan itu, mereka membahas sejumlah hal. Di antaranya terkait komunitas Katolik, penampungan para pengungsi, situasi Timur Tengah, status Yerusalem dan promosi perdamaian serta stabilitas kawasan.
Selain itu, dalam foto yang dimuat di situs Kompas, Obama tampak duduk di sebuah kursi yang sama besar dengan Paus. Pertemuan berlangsung di Istana Vatikan, Kamis 27 Maret 2014. Pula saat Presiden Perancis Emmanuel Macron menemui Paus di Vatikan, Selasa 26 Juni 2018. Macron tampak duduk di kursi yang sama besar dengan Paus.
Kesimpulan
Kursi kecil itu untuk penerjemah. Erdogan dan pemimpin dunia lainnya selalu duduk di kursi yang relatif sama besarnya dengan kursi, yang diduduki Paus.
Rujukan
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/0k80zRok-bukti-paus-fransiskus-mengalah-setelah-diprotes-erdogan-ini-faktanya
- https://twitter.com/ayhangureltc/status/960590555322265600
- https://internasional.kompas.com/image/2014/03/27/1806498/Barack.Obama.Kunjungi.Paus.Fransiskus.di.Vatikan?page=1
- https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180626193759-139-309198/video-macron-bertemu-paus-fransiskus-di-vatikan
[SALAH] FPA Siap Dukung Jokowi dengan Syarat Semua Laskar Harus Diangkat Menjadi PNS
Sumber: facebook.comTanggal publish: 24/07/2020
Berita
Akun Facebook Qiant Santang atau @qiant.santiang mengunggah screenshot atau tangkapan layar seorang pria yang mengenakan kopiah putih dengan jakte bercorak warna logo Asian Games. Dalam unggahan tersebut tertulis narasi sebagai berikut:
“Berbalik Akan Dukung Jokowi
Korlap FPA : Ya Kami Siap Dukung Jokowi Dengan Syarat Semua Laskar FPA Harus Diangkat Menjadi PSN,” unggahan tangkapan layar oleh akun Facebook Qiant Santang atau @qiant.santiang, Senin (6/7).
“Berbalik Akan Dukung Jokowi
Korlap FPA : Ya Kami Siap Dukung Jokowi Dengan Syarat Semua Laskar FPA Harus Diangkat Menjadi PSN,” unggahan tangkapan layar oleh akun Facebook Qiant Santang atau @qiant.santiang, Senin (6/7).
Hasil Cek Fakta
Setelah menelusuri melalui mesin pencari, diketahui unggahan akun Facebook Qiant Santang adalah salah atau keliru. Tangkapan layar yang dibagikannya adalah hasil suntingan atau editan.
Foto asli dari tangkapan layar tersebut dapat dilihat dari Instagram Sekretariat Kabinet yakni @sekretariat.kabinet pada Jumat, 4 Mei 2018. Pada unggahan ini tertulis keterangan sebagai berikut, “Presiden @jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin Rapat Terbatas tentang Promosi Penyelenggaraan Asian Games XVIII Tahun 2018, di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (4/5) pagi”.
Selain itu diketahui situs Sekretariat Kabinet, foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengenakan jaket berlogo Asian Games tersebut juga digunakan sebagai sampul pada artikel berjudul “Presiden Jokowi Kembali Tekankan Promosi Asian Games 2018 Terus Digencarkan”.
Dari unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet dan situs Sekretariat Kabinet tidak ditemukan klaim seperti yang terdapat dalam tangkapan layar dari akun Facebook Qiant Santang.
Dengan begitu, unggahan akun Facebook Qiant Santang menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi.
Foto asli dari tangkapan layar tersebut dapat dilihat dari Instagram Sekretariat Kabinet yakni @sekretariat.kabinet pada Jumat, 4 Mei 2018. Pada unggahan ini tertulis keterangan sebagai berikut, “Presiden @jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin Rapat Terbatas tentang Promosi Penyelenggaraan Asian Games XVIII Tahun 2018, di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (4/5) pagi”.
Selain itu diketahui situs Sekretariat Kabinet, foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengenakan jaket berlogo Asian Games tersebut juga digunakan sebagai sampul pada artikel berjudul “Presiden Jokowi Kembali Tekankan Promosi Asian Games 2018 Terus Digencarkan”.
Dari unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet dan situs Sekretariat Kabinet tidak ditemukan klaim seperti yang terdapat dalam tangkapan layar dari akun Facebook Qiant Santang.
Dengan begitu, unggahan akun Facebook Qiant Santang menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi.
Kesimpulan
Tangkapan layar dengan inti narasi FPA siap dukung Jokowi dengan syarat semua laskar harus diangkat menjadi PNS adalah hasil suntingan atau editan. Aslinya adalah foto Presiden Jokowi terkait Asian Games XVIII pada tahun 2018.
Rujukan
- http1.
- https://archive.fo/C6sDn 2.
- https://www.facebook.com/qiant.santiang/posts/731846447630966?_rdc=1&_rdr 3.
- https://www.instagram.com/p/BiV1gbnnXst/?igshid 4.
- https://setkab.go.id/presiden-jokowi-kembali-tekankan-promosi-asian-games-2018-terus-digencarkan 5.
- https://www.teropongsenayan.com/86287-pimpin-ratas-jokowi-kembali-pakai-jaket-asian-games
Halaman: 7497/8694


