Beredar pesan berantai yang menyebutkan ada seorang dosen Universitas Indonesia (UI) meninggal dunia karena virus Corona atau COVID-19. Pada narasi disebutkan pula dosen tersebut berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UI. Berikut kutipan narasinya:
“Innalilahi wa'innalilaihi rojiun telah meninggal dunia Dosen UI ada berita yg menyedihkan, pagi tadi jam 10.00 Dosen kedokteran Gigi, dr Umi Susiana, meninggal (covid 19) pimpinan memutus semua dosen dan karyawan libur 3 Minggu, masuk tgl 6 April 2020. Sekarang kita semua disuruh cepet pulang karena kampus akan ditutup dan di semprot... Jadi kita semua sholat dhuhur dan sholat ghoib, karena jenazah tdk boleh di bezuk.. msh di RSI Cemputih...
Semoga Allah melindungi kita semua, aamiin yaa rabbal aalaamiin...”
[SALAH] Dosen Kedokteran Gigi UI Meninggal Karena COVID-19
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 18/03/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui hal itu tidak benar. Pihak FKG UI sudah memberikan klarifikasi terkait hal itu dan menyatakannya tidak ada dosennya yang meninggal lantaran COVID-19.
Ditelusuri lebih lanjut, didapatkan pemberitaan dari liputan6.com dan cnnindonesia.com, isu dosen kedokteran gigi yang diduga meninggal lantaran COVID-19 berasal dari Universitas Yarsi. Berikut kutipan pemberitaannya:
Dari liputan6.com:
[…] Dosen Universitas Yarsi Meninggal Dunia Setelah Tes Covid-19
Liputan6.com, Jakarta Seorang dosen di Universitas Yarsi, Jakarta dilaporkan meninggal dunia diduga terkait virus corona atau Covid-19. Dosen tersebut meninggal pada Senin (16/3/2020) siang setelah sempat dirawat beberapa hari di sebuah rumah sakit di Jakarta.
"Memang ada dosen dari Fakultas Kedokteran Gigi ya, meninggal tadi siang," kata Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal saat dikonfirmasi Liputan6.com, Senin (16/3/2020).
Fasil mengatakan, hingga pasien meninggal, pihak rumah sakit belum mendapatkan hasil pemeriksaan spesimennya apakah negatif atau positif Covid-19.
Fasli tidak bisa secara rinci mengungkapkan kondisi pasien sebelum meninggal. Yang pasti, sang dosen sempat melakukan tes untuk mengetahui apakah terinfeksi Covid-19 atau tidak.
"Tesnya baru keluar dua atau tiga hari ke depan," tuturnya.
Fasli mengungkapkan, almarhum meninggal dunia di usia berkisar 65 tahun. Ia merupakan dosen sekaligus dokter gigi senior di kampusnya. […]
Dari Cnn Indonesia:
[…] Dosen Universitas Yarsi Meninggal, RS Periksa soal Corona
Jakarta, CNN Indonesia -- Rektor Universitas Yarsi Jakarta Fasli Jalal menyatakan seorang dosen Fakultas Kedokteran Gigi dinyatakan meninggal dunia pada Senin (16/3).
Menurut pernyataan rumah sakit, saat ini tengah dilakukan pemeriksaan terkait virus corona (covid-19) terhadap dosen tersebut.
"Maka keluarganya [menyatakan] statusnya itu masih dalam pemeriksaan. Apa penyebab kematiannya itu [belum tahu]. Karena dia juga punya penyakit kronik sebelum itu. Tapi kata rumah sakit belum bisa sebut apa-apa karena hasil lab belum keluar. Baru akan tahu konfirmasi iya atau tidak itu dua tiga hari lagi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.
Fasli mengatakan dosen tersebut sudah berusia 67 tahun serta mempunyai riwayat penyakit kronis. Ia juga sudah dirawat di salah satu rumah sakit Islam selama beberapa hari belakangan.
Sepengetahuannya dosen tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Terkait isu corona, Fasli menyatakan hal tersebut baru bisa dikonfirmasi oleh pihak rumah sakit yang berwenang atas riwayat kesehatan pasien.
Universitas Yarsi Jakarta, menurutnya, sudah menerapkan kebijakan perkuliahan dari rumah secara daring. Masih ada beberapa prodi yang belum menerapkan perkuliahan dari rumah, namun diharuskan menaati protokol pencegahan virus corona.
Fasli juga sudah meminta semua civitas kampus maupun anggota keluarga agar mengisolasi diri selama setidaknya 14 hari di tempat tinggal masing-masing.
Saat ini, total pasien positif virus corona per Senin (16/3) bertambah menjadi 134 orang. Juru Bicara pemerintah penanganan virus corona, Achmad Yurianto mengatakan penambahan tersebut berasal dari 17 kasus baru yang ditemukan hari ini.
Dari 134 orang itu, lima orang di antaranya meninggal dunia dan delapan lainnya dinyatakan sembuh. […]
Ditelusuri lebih lanjut, didapatkan pemberitaan dari liputan6.com dan cnnindonesia.com, isu dosen kedokteran gigi yang diduga meninggal lantaran COVID-19 berasal dari Universitas Yarsi. Berikut kutipan pemberitaannya:
Dari liputan6.com:
[…] Dosen Universitas Yarsi Meninggal Dunia Setelah Tes Covid-19
Liputan6.com, Jakarta Seorang dosen di Universitas Yarsi, Jakarta dilaporkan meninggal dunia diduga terkait virus corona atau Covid-19. Dosen tersebut meninggal pada Senin (16/3/2020) siang setelah sempat dirawat beberapa hari di sebuah rumah sakit di Jakarta.
"Memang ada dosen dari Fakultas Kedokteran Gigi ya, meninggal tadi siang," kata Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal saat dikonfirmasi Liputan6.com, Senin (16/3/2020).
Fasil mengatakan, hingga pasien meninggal, pihak rumah sakit belum mendapatkan hasil pemeriksaan spesimennya apakah negatif atau positif Covid-19.
Fasli tidak bisa secara rinci mengungkapkan kondisi pasien sebelum meninggal. Yang pasti, sang dosen sempat melakukan tes untuk mengetahui apakah terinfeksi Covid-19 atau tidak.
"Tesnya baru keluar dua atau tiga hari ke depan," tuturnya.
Fasli mengungkapkan, almarhum meninggal dunia di usia berkisar 65 tahun. Ia merupakan dosen sekaligus dokter gigi senior di kampusnya. […]
Dari Cnn Indonesia:
[…] Dosen Universitas Yarsi Meninggal, RS Periksa soal Corona
Jakarta, CNN Indonesia -- Rektor Universitas Yarsi Jakarta Fasli Jalal menyatakan seorang dosen Fakultas Kedokteran Gigi dinyatakan meninggal dunia pada Senin (16/3).
Menurut pernyataan rumah sakit, saat ini tengah dilakukan pemeriksaan terkait virus corona (covid-19) terhadap dosen tersebut.
"Maka keluarganya [menyatakan] statusnya itu masih dalam pemeriksaan. Apa penyebab kematiannya itu [belum tahu]. Karena dia juga punya penyakit kronik sebelum itu. Tapi kata rumah sakit belum bisa sebut apa-apa karena hasil lab belum keluar. Baru akan tahu konfirmasi iya atau tidak itu dua tiga hari lagi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.
Fasli mengatakan dosen tersebut sudah berusia 67 tahun serta mempunyai riwayat penyakit kronis. Ia juga sudah dirawat di salah satu rumah sakit Islam selama beberapa hari belakangan.
Sepengetahuannya dosen tersebut tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Terkait isu corona, Fasli menyatakan hal tersebut baru bisa dikonfirmasi oleh pihak rumah sakit yang berwenang atas riwayat kesehatan pasien.
Universitas Yarsi Jakarta, menurutnya, sudah menerapkan kebijakan perkuliahan dari rumah secara daring. Masih ada beberapa prodi yang belum menerapkan perkuliahan dari rumah, namun diharuskan menaati protokol pencegahan virus corona.
Fasli juga sudah meminta semua civitas kampus maupun anggota keluarga agar mengisolasi diri selama setidaknya 14 hari di tempat tinggal masing-masing.
Saat ini, total pasien positif virus corona per Senin (16/3) bertambah menjadi 134 orang. Juru Bicara pemerintah penanganan virus corona, Achmad Yurianto mengatakan penambahan tersebut berasal dari 17 kasus baru yang ditemukan hari ini.
Dari 134 orang itu, lima orang di antaranya meninggal dunia dan delapan lainnya dinyatakan sembuh. […]
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, tidak ada dosen dari FKG UI yang meninggal karena COVID-19. Adapun, kabar mengenai adanya dosen kedokteran gigi yang meninggal diduga COVID-19 dikabarkan oleh beberapa media berasal dari Universitas Yarsi. Oleh karena itu, konten pesan berantai di Whatsapp itu masuk ke dalam kategori False Context/Konten yang Salah.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2020/03/18/salah-dosen-kedokteran-gigi-ui-meninggal-karena-covid-19/ Surat Edaran Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia Nomor: SE-0612/UN2.F2.D/HKP.04/2020
- https://www.liputan6.com/news/read/4203557/dosen-universitas-yarsi-meninggal-dunia-setelah-tes-covid-19
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200316202712-20-484015/dosen-universitas-yarsi-meninggal-rs-periksa-soal-corona
[SALAH] Satu Pasien Pertama Suspect Corona Terdeteksi di Atambua
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 17/03/2020
Berita
Beredar informasi yang menyebutkan pasien pertama suspek virus Corona atau COVID-19 sudah terdeteksi di Atambua. Dalam narasi yang beredar disebutkan pasien tersebut akan dipindahkan ke ruang isolasi. Berikut kutipan narasinya:
“Info dari IGD RSU Mgr. Gabriel Manek Atambua, tadi sore satu pasien pertama suspect corona terdeteksi. Sementara mau dipindahkan ke ruang isolasi. Beliau adalah pegawai Imigrasi yg bertugas di Motaain. Semoga penanganannya memadai sehingga tdk menyebar. Untuk kita semua, mesti berhati2lah selalu, jaga kesehatan dsn ambil langkah2 taktis dlm berinteraksi demi menjaga penyebaran virus ini.”
“Info dari IGD RSU Mgr. Gabriel Manek Atambua, tadi sore satu pasien pertama suspect corona terdeteksi. Sementara mau dipindahkan ke ruang isolasi. Beliau adalah pegawai Imigrasi yg bertugas di Motaain. Semoga penanganannya memadai sehingga tdk menyebar. Untuk kita semua, mesti berhati2lah selalu, jaga kesehatan dsn ambil langkah2 taktis dlm berinteraksi demi menjaga penyebaran virus ini.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa informasi tersebut tidak benar. Informasi tersebut sudah mendapat klarifikasi dari pihak rumah sakit. Direktur RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua, dr. Batsheba Elena Corputty, menyatakan bahwa informasi yang tersebar tidak benar.
Ia menjelaskan, sekitar pukul 17.00 WITA ada seorang staf imigrasi PLBN Motaain yang berobat dengan keluhan batuk dan sedikit sesak napas.
Demi menjaga keamanan pasien yang lain dan tenaga medis, sesuai prosedur, pasien sarankan menunggu di depan IGD dengan menggunakan masker dikarenakan ruang IGD yang ada belum sesuai standar isolasi.
Namun, pada saat dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis (2 dokter umum, dan 1 dokter spesialis penyakit dalam) serta dilakukan pemeriksaan rontgen dada, maka kami dari pihak RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua menyatakan bahwa pasien tersebut tidak memiliki ciri-ciri suspect COVID-19 sehingga diperbolehkan pulang untuk istirahat di tempat tinggalnya, dengan tetap berkoordinasi dengan tim dari RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Belu
“Kondisi terakhir pasien tersebut stabil, dengan tanda-tanda vital baik, dan tidak ada tanda sesak napas. Suhu dengan termometer infrared tercatat 36.5 derajat celcius,” ungkapnya.
Menurut Dirut RSUD Atambua, Prosedur pemeriksaan diluar IGD Umum mungkin dianggap berlebihan, namun semata-mata untuk mengamankan secara umum pasien di IGD dan tenaga medis di IGD sehingga pelayanan di RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua tetap dapat berjalan dengan baik.
“Kami harap dengan klarifikasi ini pihak RSUD Atambua meminta agar masyarakat tidak panik dan tidak lagi meneruskan informasi yang tidak benar atau hoaks,” tegasnya.
Hal senada pun ditegaskan oleh pihak Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua, Halim. Ia menyatakan bahwa kabar yang tersebar tidak benar. “ Itu berita hoax. Benar pegawai saya yang betugas di Motaain, tapal batas antar Negara dengan Timor Leste masuk opname di rumah sakit Umum Sint Gabriel Atambua. Tetapi bukan karena suspect virus corona sebagaimana viral di dunia maya,melainkan karena sakit lambung,” katanya.
Karena viralnya didunia maya itu lanjut Halim, dini hari Senin 16 Maret 2020 bertempat di rumah sakit Sint Gabriel Atambua sudah melakukan klarifikasi bersama instenasi terkait.
“Saya bersama direktur Rumah Sakit Sint Gabrial Atambua, Wakil Bupati Belu, Ose Luan harus memberikan keterangan pers, dini hari terkait berita bohong ini,” ujar Halim.
Sementara Wakil Bupati Belu Ose Luan juga menegaskan hal yang sama. Bahwa pegawai Imigrasi Atambua yang bertugas di pos lintas batas dengan Negara Timor Leste, Motaain itu bukan terpapar virus Corona (Covid-19) .
Lebih lanjut Ose Luan menjelaskan selama ini Pemkab belu sudah dan selalu menghimbau masyarakat di Kabupaten Belu agar tidak menyebarkan berita yang tidak benar terkait corona ini.
“Sudah berulangkali kami sosialisasikan agar masyarakat tenang. Jaga dan mawas diri agar terhindar dari virus corona ini. Termasuk menghimbau agar tidak jangan menyebarkan berita bohong, hoaks,” jelas Ose Luan.
Ia menjelaskan, sekitar pukul 17.00 WITA ada seorang staf imigrasi PLBN Motaain yang berobat dengan keluhan batuk dan sedikit sesak napas.
Demi menjaga keamanan pasien yang lain dan tenaga medis, sesuai prosedur, pasien sarankan menunggu di depan IGD dengan menggunakan masker dikarenakan ruang IGD yang ada belum sesuai standar isolasi.
Namun, pada saat dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis (2 dokter umum, dan 1 dokter spesialis penyakit dalam) serta dilakukan pemeriksaan rontgen dada, maka kami dari pihak RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua menyatakan bahwa pasien tersebut tidak memiliki ciri-ciri suspect COVID-19 sehingga diperbolehkan pulang untuk istirahat di tempat tinggalnya, dengan tetap berkoordinasi dengan tim dari RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Belu
“Kondisi terakhir pasien tersebut stabil, dengan tanda-tanda vital baik, dan tidak ada tanda sesak napas. Suhu dengan termometer infrared tercatat 36.5 derajat celcius,” ungkapnya.
Menurut Dirut RSUD Atambua, Prosedur pemeriksaan diluar IGD Umum mungkin dianggap berlebihan, namun semata-mata untuk mengamankan secara umum pasien di IGD dan tenaga medis di IGD sehingga pelayanan di RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua tetap dapat berjalan dengan baik.
“Kami harap dengan klarifikasi ini pihak RSUD Atambua meminta agar masyarakat tidak panik dan tidak lagi meneruskan informasi yang tidak benar atau hoaks,” tegasnya.
Hal senada pun ditegaskan oleh pihak Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua, Halim. Ia menyatakan bahwa kabar yang tersebar tidak benar. “ Itu berita hoax. Benar pegawai saya yang betugas di Motaain, tapal batas antar Negara dengan Timor Leste masuk opname di rumah sakit Umum Sint Gabriel Atambua. Tetapi bukan karena suspect virus corona sebagaimana viral di dunia maya,melainkan karena sakit lambung,” katanya.
Karena viralnya didunia maya itu lanjut Halim, dini hari Senin 16 Maret 2020 bertempat di rumah sakit Sint Gabriel Atambua sudah melakukan klarifikasi bersama instenasi terkait.
“Saya bersama direktur Rumah Sakit Sint Gabrial Atambua, Wakil Bupati Belu, Ose Luan harus memberikan keterangan pers, dini hari terkait berita bohong ini,” ujar Halim.
Sementara Wakil Bupati Belu Ose Luan juga menegaskan hal yang sama. Bahwa pegawai Imigrasi Atambua yang bertugas di pos lintas batas dengan Negara Timor Leste, Motaain itu bukan terpapar virus Corona (Covid-19) .
Lebih lanjut Ose Luan menjelaskan selama ini Pemkab belu sudah dan selalu menghimbau masyarakat di Kabupaten Belu agar tidak menyebarkan berita yang tidak benar terkait corona ini.
“Sudah berulangkali kami sosialisasikan agar masyarakat tenang. Jaga dan mawas diri agar terhindar dari virus corona ini. Termasuk menghimbau agar tidak jangan menyebarkan berita bohong, hoaks,” jelas Ose Luan.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dikatakan konten informasi yang beredar mengenai satu pasien suspek COVID-19 terdeteksi di Atambua tidak benar. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah.
Rujukan
[SALAH] “Bule ini kena corona lokasi di Bali”
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 17/03/2020
Berita
Bukan karena corona. Menurut Kapolresta Denpasar AKBP Jansen Avitus Panjaitan, WNA tersebut telah meninggal dunia akibat mengonsumsi minuman keras berjenis tuak. Namun terkait indentitas WNA ini masih belum ditemukan.
Akun Satria Syahreza Khanza Saputra (fb.com/satria.utama.338) mengunggah sebuah gambar dengan narasi:
“CeRitanya aku dari seminyak,,,trus lewat jalan ini (jl.imam Bonjol) .issshh heranku ,kenapa ada ambulance dan ramai bnget orang??? .ternyata ada bule Mati di atas motor. Bali serasa china”
Di gambar yang ia unggah terdapat narasi:
“BULE INI KENA CORONA LOKASI DI BALI”
“Vrius corona: benarkah bule ini terkena corona kejadian di bali”
Akun Satria Syahreza Khanza Saputra (fb.com/satria.utama.338) mengunggah sebuah gambar dengan narasi:
“CeRitanya aku dari seminyak,,,trus lewat jalan ini (jl.imam Bonjol) .issshh heranku ,kenapa ada ambulance dan ramai bnget orang??? .ternyata ada bule Mati di atas motor. Bali serasa china”
Di gambar yang ia unggah terdapat narasi:
“BULE INI KENA CORONA LOKASI DI BALI”
“Vrius corona: benarkah bule ini terkena corona kejadian di bali”
Hasil Cek Fakta
PENJELASAN
Kapolresta Denpasar AKBP Jansen Avitus Panjaitan menyatakan WNA yang ditemukan tak sadarkan diri di Jalan Imam Bonjol, Denpasar, Bali diduga meninggal dunia akibat kelebihan mengonsumsi minuman keras. Dia menyebut kejadian tersebut tidak terkait dengan virus corona.
“Informasi yang kami terima, bule tersebut meninggal dunia. Dugaan sementara karena kebanyakan minum minuman keras. Ini tidak ada kaitan dengan corona. Sekarang (jenazahnya) masih di RSUP Sanglah,” kata Jansen, Minggu (15/3).
Ia menyebut, dari informasi dihimpun WNA tersebut sempat datang ke tempat minum minuman keras. Karena itu, dia meminta masyarakat tidak mengaitkan tewasnya WNA yang belum diketahui identitasnya tersebut dengan wabah virus corona. Polisi pun sampai saat ini masih menelusuri siapa dan dari mana korban berasal.
Kapolresta Denpasar juga menjelaskan bahwa penyebab WNA meninggal dunia bukan karena virus corona atau covid-19. Ia pun berharap masyarakat tidak mengkaitkan hal ini dengan virus corona.
“Tidak ada kaitan dengan corona. Jangan dikaitkan ya karena sebelumnya dia itu habis dari tempat minuman keras.Untuk sementara itu, ini kita masih dalami semua. Kita harap jangan dikaitkan soal corona ya. Kita kabari jika ada perkembangan lebih lanjut,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang WNA ditemukan tak sadarkan diri di atas sepeda motor di tepi trotoar Jalan Imam Bonjol Denpasar, Minggu (15/3). Untuk mengevakuasi, petugas sampai harus memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.
Kapolresta Denpasar AKBP Jansen Avitus Panjaitan menyatakan WNA yang ditemukan tak sadarkan diri di Jalan Imam Bonjol, Denpasar, Bali diduga meninggal dunia akibat kelebihan mengonsumsi minuman keras. Dia menyebut kejadian tersebut tidak terkait dengan virus corona.
“Informasi yang kami terima, bule tersebut meninggal dunia. Dugaan sementara karena kebanyakan minum minuman keras. Ini tidak ada kaitan dengan corona. Sekarang (jenazahnya) masih di RSUP Sanglah,” kata Jansen, Minggu (15/3).
Ia menyebut, dari informasi dihimpun WNA tersebut sempat datang ke tempat minum minuman keras. Karena itu, dia meminta masyarakat tidak mengaitkan tewasnya WNA yang belum diketahui identitasnya tersebut dengan wabah virus corona. Polisi pun sampai saat ini masih menelusuri siapa dan dari mana korban berasal.
Kapolresta Denpasar juga menjelaskan bahwa penyebab WNA meninggal dunia bukan karena virus corona atau covid-19. Ia pun berharap masyarakat tidak mengkaitkan hal ini dengan virus corona.
“Tidak ada kaitan dengan corona. Jangan dikaitkan ya karena sebelumnya dia itu habis dari tempat minuman keras.Untuk sementara itu, ini kita masih dalami semua. Kita harap jangan dikaitkan soal corona ya. Kita kabari jika ada perkembangan lebih lanjut,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang WNA ditemukan tak sadarkan diri di atas sepeda motor di tepi trotoar Jalan Imam Bonjol Denpasar, Minggu (15/3). Untuk mengevakuasi, petugas sampai harus memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.
Rujukan
[SALAH] Jokowi Nyatakan Indonesia Di-Lockdown
Sumber: www.twitter.comTanggal publish: 17/03/2020
Berita
Presiden Jokowi dalam keterangan pers terkait bencana nasional non alam, wabah Covid-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2020) tidak menyatakan bahwa Indonesia di-lockdown.
Presiden Jokowi mengenalkan istilah social distancing atau yang berarti jaga jarak sosial. “Yang paling penting social distancing bagaimana kita menjaga jarak. Dengan kondisi itu kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah,” kata Presiden Jokowi.
=====
NARASI:
“: Mon, Baru saja Breaking News di TV One, katanya Presiden RI nyatakan Indonesia di-lockdown. Anggota Kabinet diperintahkan cek virus conora beserta seluruh jajaran di bawahnya.
Wajah dengan mata berputar : Keknya presiden mulai taat sama Anis, Min !!
Woy Wajah dengan air mata bahagia,” cuit akun Twitter Berkarya Info atau @Berkarya_Info, Minggu (15/3).
=====
Presiden Jokowi mengenalkan istilah social distancing atau yang berarti jaga jarak sosial. “Yang paling penting social distancing bagaimana kita menjaga jarak. Dengan kondisi itu kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah,” kata Presiden Jokowi.
=====
NARASI:
“: Mon, Baru saja Breaking News di TV One, katanya Presiden RI nyatakan Indonesia di-lockdown. Anggota Kabinet diperintahkan cek virus conora beserta seluruh jajaran di bawahnya.
Wajah dengan mata berputar : Keknya presiden mulai taat sama Anis, Min !!
Woy Wajah dengan air mata bahagia,” cuit akun Twitter Berkarya Info atau @Berkarya_Info, Minggu (15/3).
=====
Hasil Cek Fakta
Akun Twitter Berkarya Info atau @Berkarya_Info membuat cuitan yang isinya menyebutkan bahwa katanya Presiden Republik Indonesia (RI) Jokow Widodo atau Jokowi menyatakan Indonesia di-lockdown yang disampaikan pada Breaking News TV One.
Setelah ditelusuri melalui mesin pencari, diketahui dalam Channel You Tube tvOneNews, Breaking News yang berjudul “Hadapi Virus Corona, Jokowi Instruksikan Kepala Daerah Pantau Kondisi Daerahnya” yang ditayangkan pada Minggu (15/3) dengan durasi 11 menit 07 detik, faktanya tidak ditemukan pernyataan Presiden Jokowi yang menyatakan Indonesia di-lockdown.
Sebelumnya dalam menangani kasus virus corona atau Cofid-19 ini, Presiden Jokowi sempat ditanya wartawan perihal lockdown saat mengunjungi Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat (13/3/2020). Lalu, apa jawaban Jokowi?
“Belum berpikir ke arah sana,” ujarnya.
Dalam keterangan pers terkait bencana nasional non alam, wabah Covid-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2020), Presiden Jokowi mengenalkan istilah social distancing atau yang berarti jaga jarak sosial. “Yang paling penting social distancing bagaimana kita menjaga jarak. Dengan kondisi itu kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah,” kata Presiden Jokowi.
Sebagai alternatif opsi lockdown nasional, Jokowi juga memberi lampu hijau bagi setiap pemimpin daerah menetapkan level kedaruratan terkait penyakit Covid-19 oleh virus korona. Jokowi menambahkan, pemda diberi izin untuk menentukan status siaga darurat atau tanggap darurat bencana non-alam.
Tentunya, penetapan level kedaruratan Covid-19 ini harus melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemberian wewenang bagi daerah untuk bertindak cepat ini, menurut Jokowi, disebabkan tingkat kegawatan Covid-19 bisa berbeda-beda di setiap daerah. Arahan Presiden Jokowi ini didasari oleh Undang – Undang Penanggulangan Bencana Pasal 51, yaitu:
(1) Penetapan status darurat bencana dilaksanakan oleh pemerintah sesuai dengan skala bencana.
(2) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk skala nasional dilakukan oleh Presiden, skala provinsi dilakukan oleh gubernur, dan skala kabupaten/kota dilakukan oleh bupati/walikota.
Setelah ditelusuri melalui mesin pencari, diketahui dalam Channel You Tube tvOneNews, Breaking News yang berjudul “Hadapi Virus Corona, Jokowi Instruksikan Kepala Daerah Pantau Kondisi Daerahnya” yang ditayangkan pada Minggu (15/3) dengan durasi 11 menit 07 detik, faktanya tidak ditemukan pernyataan Presiden Jokowi yang menyatakan Indonesia di-lockdown.
Sebelumnya dalam menangani kasus virus corona atau Cofid-19 ini, Presiden Jokowi sempat ditanya wartawan perihal lockdown saat mengunjungi Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat (13/3/2020). Lalu, apa jawaban Jokowi?
“Belum berpikir ke arah sana,” ujarnya.
Dalam keterangan pers terkait bencana nasional non alam, wabah Covid-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2020), Presiden Jokowi mengenalkan istilah social distancing atau yang berarti jaga jarak sosial. “Yang paling penting social distancing bagaimana kita menjaga jarak. Dengan kondisi itu kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah,” kata Presiden Jokowi.
Sebagai alternatif opsi lockdown nasional, Jokowi juga memberi lampu hijau bagi setiap pemimpin daerah menetapkan level kedaruratan terkait penyakit Covid-19 oleh virus korona. Jokowi menambahkan, pemda diberi izin untuk menentukan status siaga darurat atau tanggap darurat bencana non-alam.
Tentunya, penetapan level kedaruratan Covid-19 ini harus melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemberian wewenang bagi daerah untuk bertindak cepat ini, menurut Jokowi, disebabkan tingkat kegawatan Covid-19 bisa berbeda-beda di setiap daerah. Arahan Presiden Jokowi ini didasari oleh Undang – Undang Penanggulangan Bencana Pasal 51, yaitu:
(1) Penetapan status darurat bencana dilaksanakan oleh pemerintah sesuai dengan skala bencana.
(2) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk skala nasional dilakukan oleh Presiden, skala provinsi dilakukan oleh gubernur, dan skala kabupaten/kota dilakukan oleh bupati/walikota.
Rujukan
Halaman: 7556/8501





