[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tiga Remaja di Video ini Terkena TikTok Syndrome?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 30/06/2020
Berita
Video yang memperlihatkan tiga remaja yang mengakui bahwa dirinya mengalami TikTok Syndrome viral di media sosial. Video tersebut dibagikan dengan narasi bahwa TikTok, media sosial sekaligus platform video musik buatan perusahaan Cina ByteDance, bisa menyebabkan gangguan pada tubuh yang disebut TikTok Syndrome.
Dalam video berdurasi 4 menit 29 detik itu, terdapat tiga remaja yang menceritakan kisahnya terkena TikTok Syndrome. Mereka adalah Santika Rahmi, Kesar, dan Renaldi. Ketiganya menyatakan bahwa, akibat kecanduan bermain TikTok, tubuh mereka kerap bergerak sendiri. Mereka mengaku tidak bisa mengontrol tubuh mereka.
Di Facebook, video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Bundanya Ayu, yakni pada 28 Juni 2020. Akun ini pun menulis narasi, “Tik tok bisa menimbulkan penyakit. Pokone lamun ayu due tik tok like dan sejenis nya. Nnti mmah gk ksih hp lgi.” Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 177 ribu kali dan dibagikan sekitar 6.700 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Bundanya Ayu.
Apa benar tiga remaja dalam video di atas terkena TikTok Syndrome?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video di atas menjadi beberapa gambar dengantoolInVID. Selanjutnya, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolGoogle dan Yandex. Hasilnya, video di atas merupakan gabungan dari tiga video yang berbeda. Tiga remaja dalam video tersebut juga tidak terkena TikTok Syndrome.
Video pertama, yang berisi pengakuan Santika Rahmi, pernah diunggah di kanal YouTube Kanara TV pada 24 Juni 2020. Kanal ini adalah kanal milik Santika sendiri. Video tersebut diberi judul "Wanita Ini Terkena Penyakit Tik Tok Syndrome??!!!!".
Namun, di atas judul tersebut, terdapat tagar yang menyebut bahwa video itu adalah parodi. Dalam keterangannya, Santika pun menulis, "Video ini merupakan video hiburan parodi dari video Tik Tok syndrome yang telah digarap oleh Creator Kesar."
Video kedua, yang berisi pengakuan Kesar, juga dibuat oleh orang yang sama, yakni Kesar. Video tersebut pernah diunggah di akun Instagram milik Kesar, @kesarnst, pada 18 Juni 2020. Video itu juga merupakan parodi. Kesar menulis keterangan sebagai berikut:
"Kisah seorang remaja yang terkena tiktok syndrome. komedi sarkas (awas konten sensitif) #awreceh #receh #tiktok #tiktokindonesia #hahaha #inspiratif #dokumenter #recehbanget #menggelitik #absurd #konyol #gaksengaja."
Adapun video ketiga, yang berisi pengakuan Renaldi, pernah diunggah oleh kanal YouTube Cikul Markucul pada 24 Juni 2020. Video itu diberi judul “Viraaaal !!! Diagnosa TikTok Syndrom | Korban TikTok | TikTokers". Sama dengan dua video sebelumnya, video ini adalah parodi. Dalam keterangan video itu, tertulis "Parodi diagnosa tiktok...ingat guys ini hanya cuman buat lucu-lucuan jangan ada yang anggap serius yah hehehe..".
TikTok Syndrome
Dilansir dari Mojok.co, jika seseorang mengatakan bahwa sindrom itu memang ada, kemungkinan yang dimaksud adalah Tourette Syndrome, sindrom yang penderitanya sering melakukan gerakan repetisi dan suara-suara yang tidak diinginkan. Gerakan tersebut dilakukan di luar kontrol otak, mirip refleks yang agak aneh. Tapi, gerakan repitisi penderita Tourette syndrome ini bukan jogetan TikTok.
Dilansir dari Tourette.org, Tourette Syndrome adalah salah satu jenis Tic Disorder. Tic merupakan gerakan dan vokalisasi yang terjadi secara tidak disengaja, namun berulang. Mereka adalah gejala utama dari sekelompok kondisi neurologis masa kanak-kanak yang dikenal secara kolektif sebagai Tic Disorder dan secara individual sebagai Tourette Syndrome (TS), motor atau vokal Tic Disorder yang kronis, dan Provisional Tic Disorder.
Dilansir dari Alodokter.com, kondisi ini biasanya dimulai pada usia 2-15 tahun, dan lebih umum terjadi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan. Tic tidak bertahan lebih dari satu tahun. Namun, pada anak-anak dengan Tourette Syndrome, tic berlangsung selama lebih dari satu tahun dan muncul dalam berbagai macam perilaku.
Hingga saat ini, penyebab pasti Tourette Syndrome masih belum diketahui. Namun, ada sejumlah dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh:
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa tiga remaja dalam video di atas benar-benar terkena TikTok Syndrome menyesatkan. Klaim tersebut tidak mencantumkan penjelasan bahwa video itu hanyalah video parodi yang telah disebut dalam unggahan si pencipta video.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
[SALAH] Anies Sebut Solusi Banjir adalah Tinggal Tunggu Musim Kemarau
Sumber: facebook.comTanggal publish: 29/06/2020
Berita
Akun Facebook Shadan atau @sha.dan.54943 mengunggah foto Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan tulisan “SOLUSI BANJIR ITU MUDAH TINGGAL TUNGGU MUSIM KEMARAU” pada 1 Maret 2020 lalu. Selain itu, akun tersebut menambahkan narasi “Selusi banjir dari pemimpin pujaan kadrun.”
Hasil Cek Fakta
Setelah menelusuri melalui mesin pencari, diketahui unggahan akun Facebook Shadan adalah salah atau keliru.
Ketika mengetikan tulisan yang sama persis seperti diklaim oleh akun Facebook Shadan pada mesin pencari, tidak ditemukan pemberitaannya dari media daring.
Selain itu, foto Gubernur Anies yang diunggah akun Facebook Shadan adalah karya Jurnalis detik.com, Rizal Bahari. Foto tersebut menjadi sampul pada artikel berjudul “Anies: Anggaran Lem Aibon Diramaikan tapi DKI Provinsi Bebas Korupsi” yang ditayangkan, Selasa 10 Desember 2019. Dalam artikel tersebut tidak ada pernyataan Gubernur Anies yang mengatakan “SOLUSI BANJIR ITU MUDAH TINGGAL TUNGGU MUSIM KEMARAU.”
Dengan begitu, unggahan akun Facebook Shadan menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat dikategorikan sebagai False Context atau Konten yang Salah.
Ketika mengetikan tulisan yang sama persis seperti diklaim oleh akun Facebook Shadan pada mesin pencari, tidak ditemukan pemberitaannya dari media daring.
Selain itu, foto Gubernur Anies yang diunggah akun Facebook Shadan adalah karya Jurnalis detik.com, Rizal Bahari. Foto tersebut menjadi sampul pada artikel berjudul “Anies: Anggaran Lem Aibon Diramaikan tapi DKI Provinsi Bebas Korupsi” yang ditayangkan, Selasa 10 Desember 2019. Dalam artikel tersebut tidak ada pernyataan Gubernur Anies yang mengatakan “SOLUSI BANJIR ITU MUDAH TINGGAL TUNGGU MUSIM KEMARAU.”
Dengan begitu, unggahan akun Facebook Shadan menurut kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat dikategorikan sebagai False Context atau Konten yang Salah.
Rujukan
[SALAH] “PILPRES 2024 DIBATALKAN, ditunda sampai 2029”
Sumber: FACEBOOK.COMTanggal publish: 29/06/2020
Berita
“PILPRES 2024 DIBATALKAN, ditunda sampai 2029”
Jika ini Terjadi Tamparan Telak Buat Yg Niat Memanzulkan Presiden
Pemilu 2024 di tunda
KPU tunda
pemilu di tunda
Jika ini Terjadi Tamparan Telak Buat Yg Niat Memanzulkan Presiden
Pemilu 2024 di tunda
KPU tunda
pemilu di tunda
Hasil Cek Fakta
Melalui media sosial Facebook, akun @Yahoot mengunggah narasi beserta foto yang di dalamnya berisi tulisan “PILPRES 2024 DIBATALKAN, ditunda sampai 2029”. Foto tersebut diunggah pada 23 Juni 2020 dengan disertai keterangan “Jika ini Terjadi Tamparan Telak Buat Yg Niat Memanzulkan Presiden”.
Unggahan tersebut tentu sangat tidak berdasar. Melansir dari jawapos.com, Komisioner KPU RI, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi menegaskan bahwa informasi terkait penundaan pilpres selama lima tahun tersebut adalah palsu dan tidak berdasar. Lebih lanjut Dewa Kade menjelaskan bahwa ketentuan tentang pilpres masih diatur dalam UU Pemilu yang menyebut bahwa pemilihan dilaksanakan lima tahun sekali.
“Selama UU Pemilu daan UUD belum diubah, ya itu akan menjadi pegangan kita,” tegasnya.
Masih mengutip pemberitaan milik jawapos.com, Wakil Ketua Komisi II DPR, Arwani Thomafi menerangan bahwa DPR sedang menggodok RUU Pemilu. Namun, dalam pembahasan tersebut sama sekali tidak terdapat rencana penundaan Pilpres 2024. Yang mungkin dimundurkan adalah pilkada 2024, untuk menata konsep keserentakan pemilu nasional dan juga daerah.
“Tapi, kalau untuk pilpres, pilegnya itu DPR, DPD, tetap di 2024,” pungkas Arwani.
Sementara itu melansir dari dpr.go.id, pada kolom JDIH tentang UUD 1945 BAB III pasal 7 terkait kekuasaan pemerintah, jelas disebutkan bahwa “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun,dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”.
Informasi yang menyebut Pilpres 2024 ditunda hingga 2029 adalah menyesatkan. Unggahan tersebut masuk ke dalam kategori misleading content. Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Unggahan tersebut tentu sangat tidak berdasar. Melansir dari jawapos.com, Komisioner KPU RI, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi menegaskan bahwa informasi terkait penundaan pilpres selama lima tahun tersebut adalah palsu dan tidak berdasar. Lebih lanjut Dewa Kade menjelaskan bahwa ketentuan tentang pilpres masih diatur dalam UU Pemilu yang menyebut bahwa pemilihan dilaksanakan lima tahun sekali.
“Selama UU Pemilu daan UUD belum diubah, ya itu akan menjadi pegangan kita,” tegasnya.
Masih mengutip pemberitaan milik jawapos.com, Wakil Ketua Komisi II DPR, Arwani Thomafi menerangan bahwa DPR sedang menggodok RUU Pemilu. Namun, dalam pembahasan tersebut sama sekali tidak terdapat rencana penundaan Pilpres 2024. Yang mungkin dimundurkan adalah pilkada 2024, untuk menata konsep keserentakan pemilu nasional dan juga daerah.
“Tapi, kalau untuk pilpres, pilegnya itu DPR, DPD, tetap di 2024,” pungkas Arwani.
Sementara itu melansir dari dpr.go.id, pada kolom JDIH tentang UUD 1945 BAB III pasal 7 terkait kekuasaan pemerintah, jelas disebutkan bahwa “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun,dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”.
Informasi yang menyebut Pilpres 2024 ditunda hingga 2029 adalah menyesatkan. Unggahan tersebut masuk ke dalam kategori misleading content. Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Kesimpulan
Informasi tersebut tidak benar dan menyesatkan. Sampai saat ini tidak ditemukan informasi valid terkait perubahan jadwal ditundanya pilpres 2024 menjadi 2029. Berdasar pada UUD 1945, jelas disebutkan bahwa masa jabatan seorang presiden adalah selama lima tahun dan sesudahnya dapat dilakukan pemilihan kembali. Komisioner KPU turut menegaskan bahwa informasi terkait penundaan pelaksanaan Pilpres 2024 ke 2029 adalah palsu.
Rujukan
[SALAH] Video “ini demo di Amerika. saat ini di masa pandemik #COVIDー19”
Sumber: FACEBOOK.COMTanggal publish: 29/06/2020
Berita
“ini demo di Amerika. saat ini di masa pandemik #COVIDー19
Jika dalam 1 minggu mayat berglimpangan di amerika berarti benar virus corona itu ganas dan nyata. tapi apabila tdak terjadi apa2 brarti silahkan pikirkan sendri..??
*hikmah demo usa dalam covid19*
Jika dalam 1 minggu mayat berglimpangan di amerika berarti benar virus corona itu ganas dan nyata. tapi apabila tdak terjadi apa2 brarti silahkan pikirkan sendri..??
*hikmah demo usa dalam covid19*
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Periksa Fakta AFP, klaim bahwa video pemandangan udara orang-orang berkumpul di jalanan yang diunggah sumber klaim adalah demo di Amerika Serikat adalah klaim yang salah.
Peristiwa di video itu bukan demo di Amerika Serikat. Video itu adalah rekaman ribuan orang di Iran yang menghadiri prosesi pemakaman pemimpin militer Qasem Soleimani di bulan Januari 2020.
Video yang sama diunggah pada tanggal 5 Januari 2020 di sini di saluran YouTube situs berita berbahasa Inggris Al-Masdar News – dengan rotasi 90 derajat.
Keterangan video itu jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berbunyi: “Ribuan orang berduyun-duyun ke jalan-jalan di kota Ahvaz, Iran pada hari Minggu untuk memberikan penghormatan kepada komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam, Mayor Jenderal Qassem Soleimani.”
Video yang sama, dengan rotasi yang sama dengan video di sumber klaim juga diunggah di Twitter pada tanggal 5 Januari 2020. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, kicauan itu berbunyi: “Video udara pemakaman Soleimani di Ahvaz, Jutaan pelayat membanjiri jalan-jalan untuk memberi penghormatan kepada komandan militer Iran Qassem Soleimani.”
Seperti dilansir AFP, pada tanggal 5 Januari 2020 – dua hari setelah Soleimani dibunuh oleh serangan pesawat tak berawak AS – ribuan pelayat berkerumun di jalan-jalan kota Ahvaz untuk memberikan penghormatan terakhir kepada jenderal top Iran itu.
Peristiwa di video itu bukan demo di Amerika Serikat. Video itu adalah rekaman ribuan orang di Iran yang menghadiri prosesi pemakaman pemimpin militer Qasem Soleimani di bulan Januari 2020.
Video yang sama diunggah pada tanggal 5 Januari 2020 di sini di saluran YouTube situs berita berbahasa Inggris Al-Masdar News – dengan rotasi 90 derajat.
Keterangan video itu jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berbunyi: “Ribuan orang berduyun-duyun ke jalan-jalan di kota Ahvaz, Iran pada hari Minggu untuk memberikan penghormatan kepada komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam, Mayor Jenderal Qassem Soleimani.”
Video yang sama, dengan rotasi yang sama dengan video di sumber klaim juga diunggah di Twitter pada tanggal 5 Januari 2020. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, kicauan itu berbunyi: “Video udara pemakaman Soleimani di Ahvaz, Jutaan pelayat membanjiri jalan-jalan untuk memberi penghormatan kepada komandan militer Iran Qassem Soleimani.”
Seperti dilansir AFP, pada tanggal 5 Januari 2020 – dua hari setelah Soleimani dibunuh oleh serangan pesawat tak berawak AS – ribuan pelayat berkerumun di jalan-jalan kota Ahvaz untuk memberikan penghormatan terakhir kepada jenderal top Iran itu.
Kesimpulan
Bukan demo di Amerika Serikat. Video itu adalah rekaman ribuan orang di Iran yang menghadiri prosesi pemakaman pemimpin militer Qasem Soleimani di bulan Januari 2020.
Rujukan
- https://periksafakta.afp.com/video-ini-telah-beredar-di-laporan-tentang-prosesi-pemakaman-komandan-militer-di-iran-di-bulan
- https://www.youtube.com/watch?v=gP3WN3W9rPo
- https://twitter.com/SiffatZahra/status/1213774864286441475
- https://www.straitstimes.com/world/body-of-iranian-military-commander-qassem-soleimani-returned-to-iran
- https://www.aljazeera.com/news/2020/01/tens-thousands-mourn-soleimani-body-returns-iran-200105053330653.html
Halaman: 7556/8694





