• Pegawai Mal Rekam Cewek-cewek yang Ada di Kamar Ganti Baju, Buat Fantasi

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 06/01/2020

    Berita

    "rekam wanita di kamar ganti baju mall kerap ceramah agama di medsos"

    Hasil Cek Fakta

    SuaraJatim.id - Erix, lelaki berusia 35 tahun pegawai mal di kawasan Surabaya barat, Jawa Timur, justru merekam konsumennya saat berganti di kamar pas.

    Bahkan, menurut penulusuran beritajatim.com, pelaku ini sudah menjalankan aksi enam kali dan masih menyimpan lima video wanita yang ganti baju.

    “Benar total aksinya enam kali dan aksi keenam gagal. Dalam ponsel pelaku ada lima video konsumen berganti baju,” jelas Kapolsek Wiyung Komisaris M Rasyad, Selasa (12/11/2019).

    “Pelaku merupakan pegawai mal sendiri dan sudah diamankan,” lanjutnya.

    Mengaku hanya untuk fantasi, begitulah pengakuan Erix kepada pihak berwenang yang ketahuan merekam video pelanggannya ganti baju.

    Seusai merekam, pelaku saat pulang melihat video tersebut untuk berfantasi ria memuaskan diri sendiri.

    “Hanya, sesudah berkali-kali video yang direkam, dilihat, kemudian dihapus. Sementara sisanya hanya ada lima video saja, Bukan untuk dijual ke situs dewasa.” kata Rasyad.

    Rasyad menegaskan, video hasil rekaman pelaku tak dijual ke situ-situs dewasa. Sementara saat ditanya apakah pelaku memiliki kelainan, pihak kepolisian melihat kondisi pelaku secara sekilas nampak sehat.

    “Yang pasti pelaku seperti orang normal dan pengakuannya video juga tidak di jual,” lanjutnya.

    Kini pelaku sudah diamankan petugas dan masih menjalani pemeriksaan. Dia dipastikan ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

    Rujukan

    • Suara.com
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Princess Qajar Simbol Kecantikan di Persia Sampai 13 Pria Muda Bunuh Diri Karena Ditolak Cintanya

    Sumber: instagram.com
    Tanggal publish: 06/01/2020

    Berita

    Beredar konten yang menampilkan foto dua wanita berkumis di media sosial Instagram. Dalam narasi postingan disebutkan bahwa foto tersebut merupakan foto “Princess Qajar” yang telah menolak 13 pria muda hingga para pria itu bunuh diri. Berikut kutipan:

    Pada zaman Persia kuno, kumis dan badan gemuk adalah simbol kecantikan sejati. Salah satu contohnya, Putri Qajar (Esmat) di era Persia menjadi rebutan para pria. .⁣
    .⁣
    Putri Fatemeh Khanum “Esmat al-Dowleh” (1855/6–1905) adalah seorang putri dari Dinasti Qajar, salah satu anak perempuan dari raja Persia yang bertahta dari tahun 1848–1896. .⁣
    .⁣
    Putri Qajar sudah berkali-kali dilamar oleh banyak pria di negaranya, namun kebanyakan berakhir penolakan. Sebanyak 13 orang dari pelamar tersebut dikabarkan meninggal dunia karena bunuh diri lantaran ditolak putri tersebut. .⁣

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut tidak benar. Melansir dari hasil cek fakta liputan6.com, diketahui bahwa dua foto tersebut merupakan dua orang berbeda, bukan satu orang.

    Fakta tersebut diketahui dari laman dw.com pada artikel berita foto berjudul “Foto Langka Putri Harem Persia.” Dalam laman dw.com tersebut diketahui bahwa foto wanita berkerudung di sebelah kanan konten sumber bernama Esmat al-Dowleh atau Esmat al Dwala. Berikut kutipan dari dw.com:

    […] Pemain piano pertama di Iran

    Raja Nasir al-Din Shah Qajar tidak hanya memiliki banyak istri, tapi juga punya banyak anak. Esmat al-Dowleh atau Esmat al Dwala merupakan salah satu putri Raja Nasir Shah. Ibunya, Taj al-Dawla atau Taj el Dowleh merupakan selir Raja Nasir Shah. Esmat lahir pada tahun 1855. Sang ayah mengimpor piano ke Iran dan Esmat el-Dowleh kemudian menjadi perempuan pertama di Iran yang bisa main piano. […]

    Dalam informasi yang ada pada dw.com itu tidak tertulis bahwa putri Esmat al-Dowleh atau Esmat al Dwala pernah menolak 13 pria muda. Informasi yang ada hanya Esmat memang dianggap cantik lantaran kumisnya dan sering menolak lamaran laki-laki. Berikut kutipan informasinya:

    […] Kumis Putri Esmat al Dowleh

    Pada masa itu, sangat lumrah jika perempuan berkumis. Berbagai laporan menyebutkan , begitu banyak pria mengagumi kecantikan putri raja berkumis itu dan ingin meminangnya. Esmat sering menolak lamaran-lamaran itu. […]

    Dari kutipan itu dapat terlihat bahwa informasi yang ada ialah Esmat dikagumi karena memiliki kumis dan ia menolak lamaran pria-pria yang meminangnya. Namun, tidak disebutkan jumlahnya.

    Lalu, foto sebelah kiri, mengacu kepada laman dw.com, ialah Taj al-Saltanah. Dia dijelaskan juga seorang putri Raja Nasir dari istri bernama Turan al-Saltaneh. Berikut kutipan informasinya:

    […] Putri yang progresif

    Taj al-Saltanah dilahirkan tahun 1883 dari salah satu istri Raja Nasir yang bernama Turan al-Saltaneh. Putri kesayangan raja ini sangat terkenal sebagai feminis dan anggota The Society of Women’s Freedom. […]

    Perihal Putri Taj al-Saltanah tersebut tidak ditemukan informasi yang menyebutkan ia menolak pinangan 13 pria muda. Informasi yang ada menjelaskan bahwa dirinya merupakan figur putri raja yang progresif, dekat dengan kalangan sastrawan, dan putri yang modern. Berikut kutipannya:

    […] Melawan saudara laki-lakinya sendiri

    Putri Taj al-Saltanah merupakan salah satu pendorong Revolusi Konstitusional di Iran melawan abangnya sendiri, Mozaafar al-Dhin Shah, yang hidup mewah dari pinjaman Rusia dan Inggris. Revolusi tahun 1905-1907 ini memperjuangkan sistem konstitusional dan menentang kekuasaan absolut kerajaan serta intervensi asing di Iran.

    Putri terkasih

    Raja Nasir al-Din Shah Qajar amat mengasihi putrinya yang progresif ini. Sang putri juga dikenal dekat dengan kalangan sastrawan, terutama para penyair. Meski dicinta sang ayah, ia dibenci oleh saudara laki-laki ynag menggantikan ayahnya sebagai raja. Mozaafar al-Dhin Shah sangat tidak suka dengan aktivitas Taj di ruang publik.

    Dari harem ke modernitas

    Taj al-Saltanah juga aktiv menulis buku. Salah satu karyanya berjudul: Crowning Anguish: Memoirs of a Persian Princess from the Harem to Modernity 1884-1914. […]

    Selain dari laman dw.com, bantahan juga disampaikan oleh seorang sejarahwan bernama Victoria Martinez. Dalam tulisannya, ia memaparkan bahwa klaim mengenai “Princess Qajar” tidak berdasarkan fakta. Berikut kutipannya:

    […] The historical reality of this junk history meme is, like all history, complex, and deeply rooted in a period of great change in Persian history that involved issues like reform, nationalism and women’s rights. At its core, however, is a story of not one, but two, Persian princesses who both defined and defied the standards and expectations set for women of their time and place. Neither one, incidentally, was named “Princess Qajar,” though they were both princesses of the Persian Qajar dynasty.

    The primary figure in this history is Princess Fatemeh Khanum “‘Esmat al-Dowleh”[1] (1855/6–1905), a daughter of Nasir al-Din Shah Qajar (1831–1896), King of Persia from 1848–1896, and one of his wives, Taj al-Dowleh. The photograph circulating is indeed ‘Esmat, not an actor, and was taken by her husband circa the mid- to late-19th century. This information alone, readily available online and in print, contradicts the claim that ‘Esmat was “the ultimate symbol of beauty… in the early 1900s.” Since the photo of ‘Esmat was taken years before then, and she died in 1905, it’s a stretch to make her an icon of a period she barely graced.

    The only part of the meme that has a grain of truth to it is that there was indeed a period in Persian history when ‘Esmat’s appearance — namely, her “mustache” — was considered beautiful. According to Harvard University professor Dr. Afsaneh Najmabadi, “Many Persian-language sources, as well as photographs, from the nineteenth century confirm that Qajar women sported a thin mustache, or more accurately a soft down, as a sign of beauty.”[2] But, as Dr. Najmabadi clearly points out, this concept of beauty was at its height in the 19th century. In other words, the 1800s, not the 1900s, as the meme claims. […]

    Terjemahannya:

    […] Realitas historis dari meme sejarah sampah ini, seperti semua sejarah, kompleks, dan berakar dalam pada periode perubahan besar dalam sejarah Persia yang melibatkan isu-isu seperti reformasi, nasionalisme, dan hak-hak perempuan. Pada intinya, bagaimanapun, adalah kisah bukan hanya satu, tetapi dua, putri Persia yang sama-sama mendefinisikan dan menentang standar dan harapan yang ditetapkan bagi wanita dari waktu dan tempat mereka. Tak satu pun, kebetulan, bernama "Putri Qajar," meskipun mereka berdua putri dari dinasti Qajar Persia.

    Tokoh utama dalam sejarah ini adalah Puteri Fatemeh Khanum "'Esmat al-Dowleh" [1] (1855 / 6–1905), putri Nasir al-Din Shah Qajar (1831–1896), Raja Persia dari tahun 1848–1896 , dan salah satu istrinya, Taj al-Dowleh. Foto yang beredar memang ‘Esmat, bukan aktor, dan diambil oleh suaminya sekitar pertengahan hingga akhir abad ke-19. Informasi ini sendiri, tersedia secara online dan dalam bentuk cetak, bertentangan dengan klaim bahwa 'Esmat adalah "simbol kecantikan yang paling ... di awal tahun 1900-an." Karena foto' Esmat diambil bertahun-tahun sebelumnya, dan dia meninggal pada tahun 1905, itu peregangan untuk menjadikannya ikon dari periode yang nyaris tidak ia sambut.

    Satu-satunya bagian dari meme yang memiliki kebenaran adalah bahwa memang ada suatu periode dalam sejarah Persia ketika 'penampilan Esmat - yaitu, "kumisnya" - dianggap indah. Menurut profesor Universitas Harvard, Dr. Afsaneh Najmabadi, "Banyak sumber berbahasa Persia, serta foto-foto, dari abad kesembilan belas mengkonfirmasi bahwa perempuan Qajar memakai kumis tipis, atau lebih tepatnya pelembut lembut, sebagai tanda kecantikan." [ 2] Tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh Dr. Najmabadi, konsep kecantikan ini mencapai puncaknya pada abad ke-19. Dengan kata lain, tahun 1800-an, bukan tahun 1900-an, seperti yang dikatakan meme. […]

    Melalui tulisannya, Martinez memaparkan bahwa klaim konten sumber tidak berdasarkan fakta sejarah. Meski demikian, ia memaparkan bahwa konsep cantik wanita berkumis memang sempat berlaku, namun tidak ada fakta sejarah terjait konteks informasi dalam konten “Princess Qajar” yang dikatakan menolak 13 pria muda hingga bunuh diri.

    Kesimpulan

    Dari paparan itu, maka dapat disimpulkan bahwa klaim konten sumber tidak tepat. Oleh sebab itu, konten tersebut masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang Salah. Hal itu didasari kesalahan konteks dalam konten itu yang membuat satu kesatuan kontennya salah.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Liputan 6
    • 2 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Pemasukan TikTok Digunakan untuk Mendirikan Kamp Konsentrasi Muslim Uighur China

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 06/01/2020

    Berita

    Beredar konten yang menjelaskan penggunaan pemasukan TikTok untuk pembangunan kamp konsentrasi muslim Uighur di China. Konten tersebut juga memasukkan link berita dari CNN Indonesia untuk mengaitkan dengan isi yang dibahas. Berikut kutipan narasinya:

    Suka TikTok ???
    Aplikasi yg tengah membanjiri kawula muda saat ini adalah TIK TOK apa kamu juga memasang aplikasi ini di hpmu ???
    Kamu tau ga aplikasi ini berasal dari mana ???
    Ga tau ???
    Masa iya ga tau ???
    Aplikasi ini berasal dari NEGERI TIRAI BAMBU CINA
    Yups negeri para komunis terbesar kedua di dunia setelah Rusia
    Oh iya kamu tau ga setiap kali ada orang yg menginstal aplikasi TIK TOK ni maka pemasukan bagi negeri china juga bertambah loooh.
    Keren kaaaan
    Eh eh eh tapi kamu tau ga pemasukannya buat apa ???
    Seorang jurnalis muda asal amerika yang bernama Fira Aziz pernah melakukan sesi wawancara ke negeri tirai bambu untuk mencari kantor pencetus aplikasi TIK TOK ini loh.
    Dan kagetnya dia ketika dia mengetahui bahwa raupan uang yg dihasilkan dari aplikasi tersebut digunakan untuk mendirikan Camp Konsentrasi bagi muslim uighur.
    Memangnya kenapa dengan camp konsentrasi tersebut???
    Fira Aziz mengatakan bahwa di camp tersebut anak-anak kecil uighur di cuci otaknya hingga mereka tidak lagi mengenali ibu bapaknya.
    Suami dipisah dari istrinya.
    Para suami dan pemuda yg tidak mau melepas iman islamnya akan di sengat arus listrik hingga mati.
    Para istri dan gadis yg tidak mau melepas iman islamnya akan di perkosa bergilir oleh 13 laki-laki hingga dia wafat.
    Jadi buat kamu yg main TIK TOK kamu sadar ga sih kalo kamu lagi ngebantu kafir cina buat nyiksa saudara seimanmu sendiri ???
    Masih mau jadi bodoh gara-gara aplikasi bodoh ???
    Stop main TIK TOK
    _______
    https://m.cnnindonesia.com/…/media-asing-china-suap-ormas-i…
    AYO PARA MUSLIM/MUSLIMAH VIRALKAN
    Kalau 1 org mengirim ke 5 org lain. (Blm termasuk posting ke group). Hari ini ada 50 postingan membela Islam.
    Ini salah satu moment dimana kita bisa berjihad. Malaikat pencatat menunggu keseriusan kita dlm membela agama Allah
    Jangan tunggu pemerintah berbuat. Mumpung msh ada hayat dikandung badan. Sekalipun fisik kita mungkin tdk bisa turun ke jalan, tp jari2 kita msh bisa berjihad.
    Jadilah muslim yg tidak cuma NATO, No Action Talk Only. Besok mungkin kita sdh dipanggil Allah. Kita akan menyesal....

    Kabar tentang tik tok

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut tidak benar. Nama Fira Aziz, wartawan Amerika Serikat yang disebut melakukan kunjungan ke kantor TikTok di China, tidak ditemukan dalam platform database jurnalis PressHunt (presshunt.co) dan PressFarm (press.farm).

    Fakta tersebut diketahui setelah dilakukan pencarian di dua platform tersebut. Sementara lewat penelusuran dengan mesin pencari, kata kunci Fira Aziz merujuk kepada Feroza Aziz, seorang remaja Amerika Serikat yang sempat viral karena mengkritik perlakuan terhadap muslim Uighur di China.

    Berikut berita yang memuat penjelasan terkait kasus Feroza Aziz dengan TikTok:


    […] TikTok apologises and reinstates banned US teen

    Chinese-owned social network TikTok has apologised to a US teenager who was blocked from the service after she posted a viral clip criticising China's treatment of the Uighur Muslims.

    The firm said it had now lifted the ban, maintaining it was due to 17-year-old Feroza Aziz's prior conduct on the app - and unrelated to Chinese politics.

    Additionally, the firm said "human moderation error" was to blame for the video being taken down on Thursday for almost an hour.

    TIkTok, owned by Beijing-based ByteDance, has insisted it does not apply Chinese moderation principles to its product outside of mainland China.

    Ms Aziz posted on Twitter that she did not accept the firm's explanation.

    "Do I believe they took it away because of a unrelated satirical video that was deleted on a previous deleted account of mine? Right after I finished posting a three-part video about the Uighurs? No.”

    In an interview with BBC News reporter Vivienne Nunis, Ms Aziz said: "I will continue to talk about it, and I will talk about it on Twitter, on Instagram, on any platform I have, even TikTok.

    "I'm not scared of TikTok, even after the suspension. I won't be scared of TikTok.” […]

    Terjemahan:

    […] Media sosial milik perusahaan China, TikTok, telah meminta maaf kepada seorang remaja di Amerika Serikat yang diblokir dari pelayanan aplikasi tersebut setelah dia memposting sebuah video viral yang mengkritik perlakuan China terhadap muslim Uighur.

    Perusahaan tersebut telah mencabut larangannya dan menyebutkan bahwa hal tersebut dilakukan karena penyalahgunaan penggunaan oleh remaja 17 tahun tersebut, serta tidak ada hubungannya sama sekali dengan politik China.

    Selain itu, perusahaan tersebut menyatakan bahwa “human moderation error” merupakan penyebab video tersebut sempat dihapus pada hari Kamis lalu selama hampir satu jam.

    TikTok, yang dimiliki oleh perusahaan ByteDance yang berbasis di Beijing, menyatakan tidak pernah menerapkan kebijakan pemerintah China terhadap produk-produknya di luar negeri.

    Ms. Aziz memposting di akun Twitter-nya menyatakan bahwa dia tidak terima dengan penjelasan perusahaan tersebut.

    “Apakah aku akan percaya bahwa mereka menghapusnya karena sebuah video satire yang tidak berkaitan yang sudah dihapus oleh akun lamaku yang telah dihapus? Setelah aku memposting tiga part video mengenai Uighurs? Tidak.”

    Dalam wawancara dengan reporter BBC News Vivienne Nunis, Ms. Aziz mengatakan, “Aku akan terus membahasnya, dan aku akan terus membahasnya di Twitter, di Instagram, atau di platform lain yang aku punya, bahkan TikTok.”

    “Aku tidak takut dengan TikTok, bahkan setelah disuspensi. Aku tidak akan takut dengan TikTok.”

    […]

    Selain itu, link berita CNN Indonesia yang dikutip tidak memiliki kaitan dengan isi yang dibahas dalam konten tersebut. Link berita tersebut membahas laporan dari Wall Street Journal (WSJ) yang menyebut China membujuk ormas Islam agar tidak lagi mengkritik dugaan persekusi terhadap muslim Uighur lewat sejumlah bantuan dan menjawab kritik yang dilayangkan lewat Kedutaan Besar China di Jakarta. Sehingga, link berita yang dicantumkan tidak mendukung klaim dari konten tersebut.

    Berikut kutipan berita yang dimaksud:

    […] Jakarta, CNN Indonesia -- China disebut berupaya membujuk sejumlah organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, media Indonesia, hingga akademisi agar tak lagi mengkritik dugaan persekusi yang diterima etnis minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.

    Laporan the Wall Street Journal (WSJ) yang ditulis Rabu (11/12), memaparkan China mulai menggelontorkan sejumlah bantuan dan donasi terhadap ormas-ormas Islam tersebut setelah isu Uighur kembali mencuat ke publik pada 2018 lalu.

    Saat itu, isu Uighur mencuat usai sejumlah organisasi HAM internasional merilis laporan yang menuding China menahan satu juta Uighur di kamp penahanan layaknya kamp konsentrasi di Xinjiang.

    Beijing bahkan disebut membiayai puluhan tokoh seperti petinggi NU dan Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), akademisi, dan sejumlah wartawan Indonesia untuk berkunjung ke Xinjiang.

    Hal itu, papar WSJ, terlihat dari perbedaan pendapat para tokoh senior NU dan Muhammadiyah soal dugaan persekusi Uighur sebelum dan setelah kunjungan ke Xinjiang.

    Dalam laporan WSJ, para pemimpin Muhammadiyah sempat mengeluarkan surat terbuka pada Desember 2018 lalu yang menyuarakan dugaan kekerasan terhadap komunitas Uighur. Muhammadiyah bahkan menuntut penjelasan China dan memanggil duta besarnya di Jakarta.

    Sejumlah kelompok Islam bahkan berunjuk rasa di depan kedubes China di Jakarta sebagai bentuk protes terhadap dugaan penahanan itu.

    Tak lama dari itu, China berupaya meyakinkan ormas-ormas Islam bahwa tak ada kamp konsentrasi dan penahanan.

    Beijing berdalih kamp-kamp itu merupakan kamp pelatihan vokasi untuk memberdayakan dan menjauhkan etnis Uighur dari paham ekstremisme.
    China lalu mengundang puluhan pemuka agama Islam, wartawan, hingga akademisi Indonesia untuk mengunjungi kamp-kamp tersebut di Xinjiang.

    Sejumlah pejabat China juga memberikan presentasi terkait serangan terorisme yang dilakukan oknum etnis Uighur.

    Sejak rangkaian tur Xinjiang itu berlangsung, pandangan para pemuka agama Islam tersebut berubah. Seorang tokoh senior Muhammadiyah yang ikut kunjungan ke Xinjiang mengatakan bahwa kamp-kamp yang ia kunjungi sangat bagus dan nyaman, serta jauh dari kesan penjara.

    Kata WSJ, hal itu diutarakan dalam catatan perjalanannya yang dirilis di majalah Muhammadiyah.

    WSJ juga mengatakan hal serupa soal sikap NU. Pemimpin NU, Said Aqil Siroj, disebut meminta warga terutama umat Muslim Indonesia tak percaya pada laporan media dan televisi internasional untuk memahami situasi di Xinjiang. WSJ mengatakan pernyataan itu disampaikan Said melalui buku yang diterbitkan NU cabang China.

    Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga mantan pengurus NU, Masduki Baidlowi, juga disebut WSJ mengamini pernyataan China selama ini bahwa kamp-kamp itu adalah kamp pelatihan vokasi untuk memberdayakan masyarakat Uighur dan menjauhkan mereka dari ekstremisme.

    "Ada masalah dengan ekstremisme di Xinjiang dan mereka [China] sedang menanganinya. Mereka memberikan solusi: pelatihan vokasi dan skill," kata Masduki seperti dikutip WSJ.

    Selain tur gratis ke Xinjiang, China juga disebut menyalurkan sejumlah donasi dan bantuan finansial lainnya yang dibungkus dengan program beasiswa. Sejumlah siswa ormas-ormas Islam termasuk NU turut menerima beasiswa itu.

    Merespons laporan itu, Muhammadiyah membantah bahwa organisasinya bungkam soal Uighur karena sejumlah bantuan dari China.

    Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Muhti, menegaskan bahwa organisasinya independen dan tidak bisa didikte oleh pihak manapun apalagi asing.

    "Muhammadiyah tidak akan menyampaikan suatu pandangan karena sumbangan. Apalagi selama ini tidak ada sumbangan untuk Muhammadiyah," kata Abdul saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Kamis (12/12).

    Abdul juga mengatakan organisasinya menentang keras segala bentuk pelanggaran HAM oleh siapapun. "Tidak terkecuali oleh China, Arab Saudi, Israel, dan sebagainya. Tetapi Muhammadiyah tidak akan bersikap tanpa bukti-bukti yang kuat. Dan tidak hendak mencampuri urusan dalam negeri negara lain," tambahnya.

    Sementara itu, MUI membantah laporan WSJ tersebut. Menurut Kepala Hubungan Internasional MUI, Muhyiddin Junaiddi, tidak semua petinggi agama yang ikut tur ke Xinj

    Kesimpulan

    Berdasarkan penjelasan dan kutipan pemberitaan itu, maka dapat dikatakan bahwa konten yang tertera pada sumber keliru. Dengan demikian, konten tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Luhut Menteri Indonesia atau Dubes Khusus China Untuk Indonesia Tulisan Akbar Tandjung

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 05/01/2020

    Berita

    Beredar tulisan berjudul “Luhut Menteri Indonesia atau Dubes Khusus China Untuk Indonesia?” dengan cantuman nama penulisnya ialah Akbar Tandjung. Tulisan itu berisikan kritik kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan terkait kasus Natuna. Berikut kutipannya:

    *LUHUT ITU MENTERI INDONESIA ATAU 'DUBES KHUSUS' CHINA UNTUK INDONESIA ?*

    Oleh : AKBAR TANJUNG

    _"Sebenarnya enggak usah dibesar-besarin lah kalau soal kehadiran kapal (Coast Guard China) itu,"_

    *[Luhut Binsar Panjaitan, usai pertemuan sore bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (3/1)].*

    Disaat umat ini marah karena China melanggar batas kedaulatan Negara, disaat upaya maksimal perlu dipersiapkan untuk menghalau eksistensi kapal dan kedaulatan China di perairan Indonesia di selat Natuna, Luhut Binsar Panjaitan jusrtu menganggap remeh masalah. Bukannya protes dan marah kepada China, Luhut justru meminta negara ini marah pada negaranya sendiri.

    Persoalan ketercukupan kapal patroli dan bahkan kapal perang untuk mengamankan wilayah perbatasan negara itu satu hal. Pelanggaran kedaulatan China, itu hal yang lain yang perlu disikapi secara tegas.

    Jika menggunakan logika Luhut, maka ketika rumah kecurian karena pagar tidak digembok kita justru diminta marah kepada diri sendiri, kenapa tidak punya kemampuan untuk membeli gembok pagar. Sementara, persoalan pencuri yang telah masuk rumah dan mengacak-ngacak privasi tidak perlu di besar-besarkan.

    Luhut mengganggap, masuknya kapal-kapal asing dari China ini akibat kurangnya kemampuan Indonesia mengawasi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

    "Sebenarnya kan kita juga kekurangan kemampuan kapal untuk melakukan patroli di ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) kita itu. Sekarang memang Coast Guard kita itu, Bakamla, sedang diproses supaya betul-betul menjadi Coast Guard yang besar sekaligus dengan peralatannya," kata Luhut.

    Sebelumnya, Kapal-kapal ikan China dilaporkan telah masuk ke perairan Natuna dan melakukan pencurian ikan. Kapal-kapal pencuri ikan tersebut bahkan dikawal oleh kapal Coast Guard China. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia telah menyampaikan protes keras karena pelanggaran kedaulatan yang dilakukan oleh China.

    Umat Islam justru bertanya, Luhut ini menteri negara mana ? Menteri Indonesia atau duta besar khusus China untuk Indonesia ? Kenapa Luhut, justru bicara dalam konteks kepentingan China dimana Indonesia diminta 'memaklumi' tindakan China bahkan meminta Indonesia menyalahkan diri sendiri ?

    Kalau Luhut diam dalam urusan pembantaian muslim Uighur mungkin saja dapat dibenarkan, karena Luhut memang merasa tak bersaudara dengan muslim Uighur. Tetapi jika Luhut tak bicara lantang terhadap China karena pelanggaran batas kedaulatan, maka wajar jika banyak yang menyebut Luhut sebagai pengkhianat.

    Apalagi, bagi eks militer tentu isu kedaulatan adalah isu krusial. Jiwa tentara, tak akan mungkin rela sejengkal pun tanah perbatasan dirampas musuh.

    Luhut telah menunjukan watak aslinya yang menghamba pada kepentingan China. Sikap Luhut dalam isu kedaulatan ini, mengokohkan posisi Luhut yang berfungsi sebagai 'pengaman kebijakan China' dalam melakukan ekspansi ekonomi ke Indonesia melalui proyek OBOR dan belitan hutang China terhadap Indonesia.

    Adapun Jokowi, dia tak akan berani mendongakan kepala kepada Luhut dan mengusir Luhut dari kabinet. Jokowi berkuasa juga atas sokongan Luhut, karena itu persoalan intervensi China ke Indonesia tidak saja dipahami sebagai kebijakan persoanal seorang luhut.

    Namun, rezim Jokowi ini memang telah menyerahkan 'leher kedaulatan' negeri ini ketangan rezim komunis China, melalui sejumlah utang dan perjanjian. Indonesia telah dipenjara menjadi 'Provinsi baru China diluar China daratan' yang akan menghamba dan melayani kepentingan China.

    Protes kemenlu juga bisa dipahami sebagai 'basa-basi politik' belaka, karena sejatinya kebijakan Indonesia benar-benar telah berada dibawah ketiak China. Buktinya, hingga saat ini Jokowi masih bungkam atas isu kemanusiaan yang menimpa muslim Uighur. [].

    #copast

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa tulisan tersebut bukanlah tulisan Akbar Tandjung, Politisi Senior Partai Golongan Karya (Golkar). Bantahan terkait hal tersebut disampaikan oleh Akbar Tandjung Institute (ATI) melalui siaran persnya kepada sejumlah media.

    Dalam siaran pers tersebut, ATI menuliskan bahwa tulisan yang beredar dengan judul tersebut bukanlah tulisan Akbar Tandjung.

    “Terkait tulisan yang sedang marak dibicarakan di kanal WhatsApp, yang kebetulan penulisnya mengatasnamakan dirinya sebagai Akbar Tanjung, dan berjudul Luhut Itu Menteri Indonesia Atau ‘Dubes Khusus’ China Untuk Indonesia, kami ingin menyatakan bahwa tulisan ini tidak ditulis, diprakarsai, dan distribusikan oleh Bapak Dr. Ir. Hj. Akbar Tandjung, Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar,” tegas ATI dalam siaran persnya.

    Dalam siaran pers tersebut, ATI juga mengapresiasi kepada rekan-rekan dan kolega Akbar Tandjung yang sudah mengkonfirmasi atas edaran tulisan tersebut. ATI pun kembali menegaskan di akhir siaran persnya bahwa Akbar Tandjung tidak pernah menuliskan atau mendistribusikan isi informasi yang tersebar tersebut.

    “Terima kasih kepada keluarga dan teman-teman yang mengkonfirmasi kepada kami perihal keberadaan tulisan tersebut. Selebihnya, kami mohon bantuan keluarga dan teman-teman sekalian untuk mengklarifikasi kepada mereka yang bertanya, bahwa tulisan tersebut sekali lagi tidak diprakarsai, ditulis, dan didistribusikan oleh Bapak Dr. Ir. Hj. Akbar Tandjung,” tutup siaran pers ATI.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hal tersebut, maka konten yang tertera pada sumber bukan tulisan Akbar Tandjung. Oleh sebab itu, maka konten tersebut masuk ke dalam kategori Imposter Content atau Konten Tiruan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini