• Deret Fakta Soal Asteroid yang Disebut Hantam Bumi 9 September Mendatang

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 11/10/2019

    Berita

    "Apa benar tanggal 9 september 2019 ada meteor nabrak bumi??"
    "Tanggal 9 september 2019 ada meteor jatuh yang menabrak bumi?"

    Hasil Cek Fakta

    Merdeka.com - Beberapa bulan lalu, agen antariksa Eropa yakni European Space Agency (ESA), memperkirakan asteroid 2006 QV89 akan melintasi serta mungkin menabrak Bumi pada 9 September 2019.

    ESA merilis objek luar angkasa yang akan menabrak Bumi, dan salah satunya asteroid 2006 QV89.

    Melansir Liputan6.com yang mengutip Live Science, dibandingkan dengan asteroid sepanjang 10 kilometer yang membunuh dinasaurus non-avian sekira 66 juta tahun lalu, ukuran 2006 QV89 cukup kecil yakni hanya 40 meter.

    ESA memantau rute asteroid tersebut dan menyimpulkan kalau sangat kecil kemungkinan 2006 QV89 menghantam bumi. Kemungkinan batuan tersebut menghantam Bumi hanya 1:7.299. Berdasarkan pengamatannya pula, ESA mengatakan 2006 QV89 paling dekat akan berjarak sekira 42 juta mil atau sekitar 6,7 juta kilometer dengan Bumi.

    Jarak tersebut masih sangat jauh, mengingat jarak Bulan dengan Bumi sejauh 238.900 mil atau sekitar 384.400 kilometer.

    Berikut deretan fakta lain soal asteroid ini, berdasarkan laporan Liputan6.com.

    Ditemukan Pada Agustus 2006

    Seperti namanya, asteroid 2007 QV89 ditemukan pada 29 Agustus 2006. Batuan antariksa ini ditemukan oleh Catalina Sky Survey yaitu sebuah organisasi yang berbasis di observatorium di dekat Tucson, Arizona.
    Sering Kunjungi Bumi

    Asteroid ini sebenarnya akan cukup sering mengunjungi Bumi. Setelah terbang pada 2019, objek tersebut akan kembali menyambangi Bumi pada 2032, 2045, dan 2062. Adapun menurut ESA, 2006 QV89 merupakan salah satu dari 10 objek luar angkasa yang akan menabrak Bumi. Asteroid tersebut berada di posisi nomor empat.

    ESA memperbarui daftar tersebut secara berkala, dan yang terbaru pada 6 Juni 2019 silam.
    Tenang, Asteroid ini Bukan Ancaman

    Dari pengamatan terbaru yang dilakukan bulan lalu, prediksi awal yang menyebut 2006 QV89 bakal menabrak Bumi dipastikan tidak terjadi. Dengan kata lain, asteroid ini bukan ancaman bagi Bumi.

    Seperti dikutip dari BGR via Liputan6.com, asteroid ini tidak akan menabrak Bumi hingga setidaknya untuk satu abad ke depan.

    Temuan mengenai asteroid 2006 QV89 yang tidak berbahaya ini dilakukan oleh Institute for Astronomy di University of Hawaii. Dipimpin oleh David Tholen, para astronom dari University of Hawaii melakukan pengamatan untuk mengetahui daftar asteroid potensial yang bersinggungan dengan Bumi. Hasilnya, 2006 QV89 tidak termasuk.

    "Ada perbedaan besar antara mengetahui mana asteroid berbahaya atau tidak, dengan mengetahui posisinya di mana," tutur Tholen dalam pernyataan beberapa waktu lalu.

    Perlu diketahui, dibandingkan dengan asteroid sepanjang 10 kilometer yang membunuh dinosaurus non-avian sekitar 66 juta tahun lalu, ukuran 2006 QV89 sangatlah kecil yakni hanya 40 meter.

    Rujukan

    • Merdeka.com
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Fakta Bentrokan di Deiyai Papua, 1 TNI Gugur hingga 10 Pucuk Senpi Dirampas Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Fakta Bentrokan di Deiyai Papua, 1 TNI Gugur hingga 10 Pucuk Senpi Dirampas", https://regional.kompas.com/read/2019/08/29/06380081/fakta-bentrokan-di-deiyai-papua-1-tni-gugur-hingga-10-pucuk-senpi-dirampas?page=all. Editor : Candra Setia Budi

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 10/10/2019

    Berita

    KOMPAS.com - Bentrok antarmassa dengan aparat keamanan terjadi di halaman Kantor Bupati Deiyai, Papua, pada Rabu (28/8/2019) siang. Aksi massa itu terkait tindakan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Dalam bentrok tersebut, mengakibatkan 1 anggota TNI gugur, 2 lainnya luka-luka. Selain itu, 3 petugas polisi dan seorang warga juga terluka. Kapolda Papua Irjen Pol Rudolph A. Rodja mengakui saat bentrok antara massa dan aparat keamanan di Distrik Waghete, Kabupaten Deiyai, juga menyebabkan korban jiwa di pihak massa. Dalam insiden tersebut sepuluh pucuk senjata milik TNI AD hilang. Pasca-bentrok antarmassa, situasi di Deiyai aman dan seluruh korban meninggal dunia dan luka-luka telah dibawa ke RSUD Paniai di Enarotali. Berikut fakta bentrok massa dengan aparat keamanan yang terjadi di halaman kantor Bupati Deiyai:
    1. Kronologi kejadian
    Menurut koordinator aksi, Yul Toa Motte mengatakan, mulanya massa berjumlah 500 orang melakukan unjuk rasa di depan kantor bupati, Rabu pukul 09.00 WIT. Aksi massa itu terkait tindakan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Namun, pada pukul 13.00 WIT, kerusuhan pecah setelah aparat menembakan gas air mata. "Kemudian dilanjutkan dengan timah peluru. Saya lihat sendiri dengan mata sendiri,” kata Yul, saat dihubungi Kompas.com, Rabu. Dia menyebut, ada korban dalam kejadian ini. Kantor Bupati Deiyai, Begini Kronologinya
    2. Tuntut referendum

    Hasil Cek Fakta

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo menjelaskan, aksi unjuk rasa itu digelar Rabu pagi di halaman Kantor Bupati Deiyai. Dengna pesertanya hanya sekitar 150 orang. "Mereka menuntut bupati menandatangani persetujuan referendum," ujar Dedi ketika ditemui di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Rabu sore. Pada saat negosiasi masih berlangsung, Dedi mengatakan, sekitar seribu orang tiba-tiba datang ke lokasi dari segala penjuru. Mereka membawa senjata tajam, bahkan diduga membawa senjata api. Pada saat itulah kontak tembak antara massa tersebut dengan aparat terjadi. Dedi menyebut, massa yang tiba-tiba hadir itu diduga kuat merupakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). "Satu anggota TNI AD gugur dan ada tambahan lima anggota Polri terluka (akibat) panah," ujarnya.
    3. Massa anarkis
    Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto(KOMPAS.COM/DHIAS SUWANDI) Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto mangatakan, massa pada saat itu ingin kembali menggelar aksi unjuk rasa terkait dugaan tidak rasisme kepada mahasiswa Papua di Jawa Timur. "Singkatnya kami mengamankan aksi demo, terus begitu kumpul massa anarkis dan kita jadi korban, panah sama senjata tajam," ujarnya kepada Kompas.com melalui telepon.
    4. 1 TNI gugur dan 2 orang tewas
    Kapolda Papua Brigjen Pol Rudolf Alberth Rodja(Dok Humas Polda) Kapolda Papua Irjen Pol Rudolph A. Rodja mengakui saat bentrok antara massa dan aparat keamanan di Distrik Waghete, Kabupaten Deiyai, juga menyebabkan korban jiwa di pihak massa. Namun ia menegaskan jumlahnya tidak seperti informasi yang beredar. "Korban di pihak massa dua orang meninggal dunia dan sudah dibawa ke RS. Jadi bukan enam orang," sebutnya melalui pesan singkat, Rabu (28/8/2019).
    5. Massa rampas 10 pucuk senpi
    Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Alberth Rodja(Dhias Suwandi) Rudolph mengakui dalam aksi tersebut, massa telah merampas senjata api milik TNI. "Massa merampas sekitar 10 pucuk senpi sambil melakukan penembakan ke arah petugas TNI dan POLRI yang sedang melakukan pengamanan unjuk rasa yang pada awalnya damai," kata Rudolph. Situasi di Deiyai dikatakannya aman dan seluruh korban meninggal dunia dan luka-luka telah dibawa ke RSUD Paniai di Enarotali.
    6. 1 TNI gugur dievakuasi ke Nabire
    Eko Daryanto membenarkan adanya anggota TNI-AD bernama Serda Rikson meninggal akibat terkena panah dalam insiden yang terjadi di Kabupaten Dieyai, Papua, Rabu (28/8/2019). Dilansir dari Antara, jenazah Serda Rikson, anggota TNI AD yang meninggal akibat terkena panah segera dievakuai ke Nabire. Jenazahnya akan dievakuasi ke Nabire melalui jalan darat.

    Rujukan

    • Kompas
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Pabrik Pengolahan Beras di Kabupaten Malang Digerebek Polisi

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 10/10/2019

    Berita

    Benar terdapat penggrebegan terhadap pabrik beras yang menggunakan bahan kimia dalam produknya, namun kejadian ini sudah terjadi pada tahun 2017.

    Hasil Cek Fakta

    Malang - Sebuah pabrik atau gudang pengolahan dan pengemasan beras, di Jalan Sultan Agung, Desa Pringu, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, digerebek Polres Malang, Senin (5/6/2017). Beras dalam kemasan itu diduga diolah memakai cairan kimia berbahaya.

    Polisi menduga pemilik gudang mengolah beras kualitas buruk (coklat) untuk menjadi putih dan layak jual dengan harga tinggi ke berbagai daerah.

    Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, turut memimpin dalam penggerebekkan, menjelaskan, penyelidikan, penyidikan dan pemeriksaan sampel barang bukti akan dikirim ke Labfor Cabang Surabaya.

    "Ada 120-140 ton di dalam, ada proses produksi pengolahan. Ada bahan yang berwarna cokelat dan kusam. Informasinya, bahan dari Jombang. Dari bahan beras yang buruk ada kutu atau kusam, nanti diolah dengan mesin. Juga diduga pakai bahan kimia, nanti keluar putih halus harum lalu dikemas dan dipasarkan," kata Kapolres kepada wartawan.
    Pabrik Pengolahan Beras di Kabupaten Malang Digerebek PolisiFoto: Muhammad Aminudin

    Meskipun masih dugaan, Polres Malang akan mengirim sampel ke Labfor untuk mengecek efek atau kandungan beras apakah mengandung bahan kimia berbahaya bagi kesehatan ataukah tidak.

    "Diduga pada saat pengolahan produksi beras tersebut ada yang menggunakan tidak sesuai dengan sanitasi pangan atau bahan-bahan berbahaya. Masih diduga, cairan yang tidak baik bila dicampur dan dikonsumsi manusia," sebut Kapolres.

    Polisi juga menemukan, Winar sebagai pemilik pengolahan beras belum selesai menyelesaikan perijinan usahanya. Padahal, usahanya sudah berjalan hampir selama dua tahun.

    Kapolres sempat menemukan botol berisi cairan kimia, yang diduga dipergunakan untuk mengolah beras. Tapi temuan tersebut dibantah oleh pemilik usaha.

    Ditemukan ada dua merk kemasan beras di lokasi penggerebekkan, yakni merk "Cap Raja Tomat" (Beras Poles Super Kepala) dan sak beras merk "Jagung Mas" (Beras Pilihan, Kualitas Terjamin). Jumlahnya cukup banyak mencapai belasan ton.

    Untuk sementara diketahui, Unit Dagang (UD) memproduksi sebanyak 20 sampai 30 ton beras. Menurut pengakuan sementara, menyebut jika beras oplosan telah dipasarkan ke sejumlah daerah. Yakni, Surabaya, Malang, Kalimantan.

    Sementara, Winar, diduga kuat pemilik usaha membantah jika cairan kimia dipakai dalam oplosan beras, dan mengakui proses perizinan usahanya tengah diurus.

    "Kami tidak mengoplos atau menggunakan bahan kimia," kata Winar menjawab pertanyaan wartawan.

    Winar sempat mendebat ketika dua botol berisi cairan kimia adalah zat yang digunakan mengoplos berasnya. Namun dia tidak berkutik saat karung sak putih bertuliskan Bulog dan logo Bulog turut juga ditemukan, sehingga ada indikasi, ratusan karung berlogo Bulog itu adalah sak berisi beras yang kemudian dioplos dengan beras lain.
    (bdh/bdh)

    Rujukan

    • Cara reschedule tiket pesawat Garuda Indonesia
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [BERITA] Pertamina Bantah Kelangkaan Elpiji di Padang

    Sumber:
    Tanggal publish: 10/10/2019

    Berita

    Sempat muncul isu terjadi kelangkaan Gas Elpiji di Padang. Menanggapi hal tersebut, pihak Pertamina beri klarifikasinya.

    Hasil Cek Fakta

    Unit Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Roby Hervindo mengatakan isu kelangkaan yang beredar di masyarakat Kota Padang merupakan informasi yang keliru. Pertamina menurut Roby menjamin stok tersedia sesuai HET di tingkat pangkalan.

    “Saat ini berkembang isu kelangkaan di masyarakat dengan mengacu data stok dan harga di pengecer. Ini keliru, karena Pertamina menjamin stok tersedia sesuai HET di tingkat pangkalan. Pengecer bukan distributor resmi elpiji 3 kg sehingga tidak bisa dijadikan patokan,” kata Roby.

    Pihaknya menindaklanjuti laporan di seputar kota Padang dengan memeriksa stok di pangkalan-pangkalan. Dari pemeriksaan lapangan, posisi stok per Selasa (08/10) ternyata tersedia. Misalnya di pangkalan Gindera wilayah Padang Selatan, tersedia 150 tabung. Pangkalan Jafri di Lubuk Begalung ada 250 tabung, Pangkalan Musli wilayah Bungus Teluk Kabung terpantau 50 tabung dan pangkalan dewi wilayah Padang Timur tercatat 310 tabung.

    "Kami himbau warga agar membeli elpiji 3 kg di pangkalan. Dan jangan mudah terhasut isu kelangkaan. Isu seperti ini dimanfaatkan pengecer untuk menahan stok dan mengerek harga. Semakin ramai diisukan, semakin dimanfaatkan oleh pengecer," kata Roby. Terbukti berdasarkan pantauan Pertamina, harga di tingkat pengecer sudah meroket hingga Rp. 27 ribu per tabung.

    Berdasarkan catatan Pertamina, penyaluran elpiji 3 Kg subsidi pada bulan Oktober di Kota Padang sebanyak 20.560 tabung per hari. Ini meningkat sebesar satu persen jika dibandingkan bulan sebelumnya sejumlah 20.384 tabung.

    Wilayah Kota Padang terbagi menjadi 11 Kecamatan dan saat ini disuplai oleh 780 pangkalan. Rencana jumlah total penyaluran untuk bulan Oktober ini sebesar 646.240 tabung. Jumlah ini bertambah enam persen dibanding bulan lalu sebesar 611.520 tabung.

    "Hari ini kami melaporkan kondisi stok pangkalan pada Disperindag Kota Padang dan aparat keamanan. Juga memohon dukungan pemda dan aparat meredam isu kelangkaan tidak makin meluas serta menyebabkan keresahan warga," lanjut Roby.

    Apabila warga menemukan pangkalan yang melanggar aturan HET, atau mengalami kendala pasokan agar dapat melaporkan ke Pertamina melalui saluran telepon Pertamina 135. Pertamina menindaklanjuti semua laporan yang masuk.

    Rujukan

    • Mafindo
    • Republika Online
    • 2 media telah memverifikasi klaim ini