Suara.com - Pentolan Front Pembela Islama (FPI) Habib Rizieq Shihab ikut berkomentar soal kondisi Papua yang masih mencekam karena meletus kerusuhan di bumi Cenderawasi itu akibat isu rasisme.
Menurutnya, ketimbang Papua berniat memisahkan diri dari Indonesia, lebih baik Presiden Joko Widodo atau Jokowi meninggalkan jabatannya.
Rizieq mengatakan kalau Papua tidak boleh sampai memisahkan diri. Hal tersebut disampaikannya lantaran nantinya keinginan dari pihak asing akan terpenuhi.
"Papua tidak boleh lepas dari NKRI karena itu yang diinginkan pemerintahan asing," kata Rizieq melalui Kadiv Humas PA 212 Damai Hari Lubis kepada Suara.com, Jumat (30/8/2019).
Justru menurut Rizieq ketimbang Papua memisahkan diri, lebih baik Jokowi yang melepaskan jabatannya sebagai presiden. Pernyataan Rizieq tersebut disampaikan karena sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang presiden atas terjadinya kerusuhan di Papua yang hingga kini masih terjadi secara beruntun.
"Daripada lepas Papua, maka lebih bagus dan ideal Presiden Jokowi yang lepas jabatannya, sebagai pertanggung jawabannya atas kekacauan di Papua yang sedang terjadi," ujarnya.
"Biarlah rakyat RI mendapatkan penggantinya (Presiden RI) sesuai mekanisme perundang-undangan yang berlaku di negara ini."
Rizieq Shihab: Daripada Papua Pisah Diri, Lebih Baik Jokowi Lepas Jabatan
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 23/09/2019
Berita
Hasil Cek Fakta
Rujukan
'Soal Ibu Kota Bisa Ditunda, Presiden Fokuslah pada Papua'
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 23/09/2019
Berita
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cendikiawan Muslim Din Syamsuddin menyatakan sebaiknya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengerahkan daya upaya dan pikiran untuk menyelesaikan masalah Papua. Sebab menurutnya masalah ini sangat serius bagi kehidupan kebangsaan, persatuan dan kesatuan bangsa, ketimbang pemindahan ibu kota negara.
"Maka selesaikanlah secara dialogis persuasif namun berkeadilan. Jangan terhadap pihak ini begini, terhadap pihak lain kemudian caranya lain. Kalau ada ketidakadilan dalam menegakkan, ini juga potensial mengganggu kerukunan kehidupan bangsa maka jangan menganggap remeh," kata dia di kantor Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, Rabu (28/8).
"Maka selesaikanlah secara dialogis persuasif namun berkeadilan. Jangan terhadap pihak ini begini, terhadap pihak lain kemudian caranya lain. Kalau ada ketidakadilan dalam menegakkan, ini juga potensial mengganggu kerukunan kehidupan bangsa maka jangan menganggap remeh," kata dia di kantor Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, Rabu (28/8).
Hasil Cek Fakta
Karena itu pula, menurut Din, urusan pemindahan ibu kota ke Kalimantan itu perlu dikesampingkan agar bisa lebih fokus pada persoalan Papua. Din menilai pemindahan ibu kota itu bisa ditunda. Apalagi, lanjut dia, urgensinya belum cukup tersedia.
"Apalagi dalam keadaan negara katanya mengalami defisit keuangan. Darimana nanti biayanya. Fokus pada masalah yang hari ini dihadapi, jangan kemudian menganggap remeh. Perasaan saya, mengemukakan soal pemindahan ibu kota ini terkesan meremehkan masalah Papua yang di depan mata ini, tidak baik, tidak arif bijaksana," tuturnya.
Din menyampaikan, semua harus mengawal persatuan dan kesatuan bangsa ini. Papua adalah saudara bagi semua warga Indonesia. Bagi yang menghina orang-orang Papua, harus dihukum keras dan jangan sampai terlambat.
"Saya tidak tahu sudah ditangkap apa belum itu. Ada fakta di video yang menghina memanggil saudara-saudara kita Papua dengan melecehkan menghina seperti itu," tambahnya.
Pelakunya, kata Din, harus cepat ditangkap. Dia juga mempertanyakan mengapa aparat yang terlibat waktu kejadian di depan asrama Papua Surabaya yang menjadi pemicu itu tidak ditangkap.
"Kita berpikir-pikir kenapa enggak ditangkap atau kenapa lama ditangkap. Itu harus dihukum sekeras-kerasnya karena dia adalah biang kerok dari kerusuhan-kerusuhan yang harganya mahal sekali. Sudahlah urus soal Papua dulu, jangan ibu kota ya, apalagi enggak punya uang juga," katanya.
"Apalagi dalam keadaan negara katanya mengalami defisit keuangan. Darimana nanti biayanya. Fokus pada masalah yang hari ini dihadapi, jangan kemudian menganggap remeh. Perasaan saya, mengemukakan soal pemindahan ibu kota ini terkesan meremehkan masalah Papua yang di depan mata ini, tidak baik, tidak arif bijaksana," tuturnya.
Din menyampaikan, semua harus mengawal persatuan dan kesatuan bangsa ini. Papua adalah saudara bagi semua warga Indonesia. Bagi yang menghina orang-orang Papua, harus dihukum keras dan jangan sampai terlambat.
"Saya tidak tahu sudah ditangkap apa belum itu. Ada fakta di video yang menghina memanggil saudara-saudara kita Papua dengan melecehkan menghina seperti itu," tambahnya.
Pelakunya, kata Din, harus cepat ditangkap. Dia juga mempertanyakan mengapa aparat yang terlibat waktu kejadian di depan asrama Papua Surabaya yang menjadi pemicu itu tidak ditangkap.
"Kita berpikir-pikir kenapa enggak ditangkap atau kenapa lama ditangkap. Itu harus dihukum sekeras-kerasnya karena dia adalah biang kerok dari kerusuhan-kerusuhan yang harganya mahal sekali. Sudahlah urus soal Papua dulu, jangan ibu kota ya, apalagi enggak punya uang juga," katanya.
Rujukan
Awas! Permen ini Bikin Keracunan,Emak-emak di Probolinggo Jadi Korban
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 23/09/2019
Berita
Dua emak-emak Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, pingsan pada malam takbir Idul Adha. Diduga mereka keracunan, setelah memakan permen yang dibeli dari warung milik warga sekitar.
Hasil Cek Fakta
Kedua emak-emak itu adalah Husniati (40) dan Yuliati (40). Kedua ibu rumah tangga (IRT) ini, pingsan setelah memakan permen warna kuning dan warna merah. Permen pembawa mala petaka ini, dibeli dari warung milik Baeri, warga setempat. Bahkan Husniati dilarikan ke Puskesmas Pajarakan untuk mendapatkan pertolongan medis.
“Warga kami atas nama Husniati langsung dibawa ke Puskesmas Pajarakan oleh perangkat desa. Sedangkan korban satunya (Yuliatin, red) yang sempat pingsan tidak bersedia dibawa ke Puskesmas,” kata Kepala Desa setempat, Bawon Santoso, Minggu (11/8/2019).
Bawon menuturkan, sekitar pukul 19.00 WIB, anak Husniati membeli permen berbentuk tas dan buah. Husniati dan Yuliati lantas memakannya, masing-masing memakan 3 buah permen. Namun, belum 5 menit berlalu, tiba-tiba lidah keduanya kaku. Pikiran keduanya seakan terganggu dan membuat keluarganya panik. Kontan saja langsung dibawa ke Puskesmas Pajarakan.
“Saya datangi pemilik warung, ternyata permen tersebut didapat dari sales. Selain itu, kami juga sudah melaporkan hal ini kepada polisi agar diselidiki. Permennya sebagian sudah saya serahkan ke perawat untuk diperiksa,” terang Bawon.
Kanitreskrim Polsek Pajarakan Iptu Kurdi membenarkan peristiwa itu. Pihaknya kemudian mendatangi korban yang dirawat di Puskesmas Pajarakan. Setelah meminta keterangan sejumlah warga, iapun mengambil sampel permen yang masih ada. “Betul, ada keracunan akibat makan permen. Masih kita lidik, belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya,” ujarnya.
Hingga berita ini dituis, Husniati masih menjalani perawatan di Puskesmas Pajarakan. Polisi mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi permen sejenis. Agar kejadian serupa tidak terulang.
“Warga kami atas nama Husniati langsung dibawa ke Puskesmas Pajarakan oleh perangkat desa. Sedangkan korban satunya (Yuliatin, red) yang sempat pingsan tidak bersedia dibawa ke Puskesmas,” kata Kepala Desa setempat, Bawon Santoso, Minggu (11/8/2019).
Bawon menuturkan, sekitar pukul 19.00 WIB, anak Husniati membeli permen berbentuk tas dan buah. Husniati dan Yuliati lantas memakannya, masing-masing memakan 3 buah permen. Namun, belum 5 menit berlalu, tiba-tiba lidah keduanya kaku. Pikiran keduanya seakan terganggu dan membuat keluarganya panik. Kontan saja langsung dibawa ke Puskesmas Pajarakan.
“Saya datangi pemilik warung, ternyata permen tersebut didapat dari sales. Selain itu, kami juga sudah melaporkan hal ini kepada polisi agar diselidiki. Permennya sebagian sudah saya serahkan ke perawat untuk diperiksa,” terang Bawon.
Kanitreskrim Polsek Pajarakan Iptu Kurdi membenarkan peristiwa itu. Pihaknya kemudian mendatangi korban yang dirawat di Puskesmas Pajarakan. Setelah meminta keterangan sejumlah warga, iapun mengambil sampel permen yang masih ada. “Betul, ada keracunan akibat makan permen. Masih kita lidik, belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya,” ujarnya.
Hingga berita ini dituis, Husniati masih menjalani perawatan di Puskesmas Pajarakan. Polisi mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi permen sejenis. Agar kejadian serupa tidak terulang.
Rujukan
Belum Diteliti Ilmiah, Dokter Onkologi Tegaskan Bajakah Bukan Obat Kanker
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 23/09/2019
Berita
narasi:
Apakah benar,tumbuhan bajakah dari kaltim bisa sembuhkan kanker
Apakah benar,tumbuhan bajakah dari kaltim bisa sembuhkan kanker
Hasil Cek Fakta
Penemuan manfaat akar bajakah oleh pelajar dari Kalimantan Tengah yang digadang-gadang bisa dijadikan obat kanker kini menjadi kontroversi di dunia medis.
Kritik datang dari dokter onkologi, yang menyebut pelabelan 'obat kanker' pada temuan tersebut tidak tepat.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hermatologi Onkologi Medik, Dr.dr.Andhika Rachman, SpPD-KHOM mengatakan temuan itu tidak serta merta bisa digunakan, dan harus melalui serangkaian penelitian serta uji klinis, sebelum akhirnya diterapkan kepada manusia.
"Sekali lagi saya bukannya tidak menghormati dan meng-appreciate obat kayak bajakah tadi. Pertanyaannya, seperti ketika minta pendapat, sampai di mana penelitiannya, kalau cuma baru menemukan zat aktif ya nggak bisa dikatakan ini mengobati," ujar Dr.Andhika di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/8/2019).
Menurut Andhika, obat herbal memang mengandung serangkaian zat aktif yang punya beragam manfaat. Contohnya superbetakaroten yang meregenerasi sel, sehingga sel yang mati akibat kanker tumbuh kembali atau kandungan antioksidan di buah sirsak bisa menekan sel kanker.
Tapi semuanya harus jelas terukur kandungannya, serta apa efek sampingnya saat dikonsumsi. Nah, hal ini baru bisa ditemukan jika penelitian dilakukan secara ilmiah.
"Jadi terkadang ada penyesatan tentang herbal yang bagus, sekali lagi maksud saya begini, herbal itu bagus kalau kita tahu aktifnya apa, efek sampingnya apa, kita tahu berapa lama kerjanya, itu yang penting," jelasnya.
Praktisi kesehatan FK-UI ini bercerita beberapa tahun ke belakang booming buah merah yang mengobati kanker, termasuk HIV. Lalu, ramai-ramai pasien banyak meninggalkan obat kimia tanpa memikirkan efek sampingnya hingga berakibat fatal.
"Berapa tahun lalu ketika buah merah booming, orang ramai-ramai tinggalkan minum obat HIV, apa yang terjadi? sembuh tapi jalannya di tanah kusir (meninggal). Seperti itu yang terjadi, ini penyesatan media yang harus diluruskan, bukan berarti alergi obat herbal, semua obat herbal adalah kimia, kalau herbal kenapa itu bisa bikin efek samping?," pungkasnya.
Kritik datang dari dokter onkologi, yang menyebut pelabelan 'obat kanker' pada temuan tersebut tidak tepat.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hermatologi Onkologi Medik, Dr.dr.Andhika Rachman, SpPD-KHOM mengatakan temuan itu tidak serta merta bisa digunakan, dan harus melalui serangkaian penelitian serta uji klinis, sebelum akhirnya diterapkan kepada manusia.
"Sekali lagi saya bukannya tidak menghormati dan meng-appreciate obat kayak bajakah tadi. Pertanyaannya, seperti ketika minta pendapat, sampai di mana penelitiannya, kalau cuma baru menemukan zat aktif ya nggak bisa dikatakan ini mengobati," ujar Dr.Andhika di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/8/2019).
Menurut Andhika, obat herbal memang mengandung serangkaian zat aktif yang punya beragam manfaat. Contohnya superbetakaroten yang meregenerasi sel, sehingga sel yang mati akibat kanker tumbuh kembali atau kandungan antioksidan di buah sirsak bisa menekan sel kanker.
Tapi semuanya harus jelas terukur kandungannya, serta apa efek sampingnya saat dikonsumsi. Nah, hal ini baru bisa ditemukan jika penelitian dilakukan secara ilmiah.
"Jadi terkadang ada penyesatan tentang herbal yang bagus, sekali lagi maksud saya begini, herbal itu bagus kalau kita tahu aktifnya apa, efek sampingnya apa, kita tahu berapa lama kerjanya, itu yang penting," jelasnya.
Praktisi kesehatan FK-UI ini bercerita beberapa tahun ke belakang booming buah merah yang mengobati kanker, termasuk HIV. Lalu, ramai-ramai pasien banyak meninggalkan obat kimia tanpa memikirkan efek sampingnya hingga berakibat fatal.
"Berapa tahun lalu ketika buah merah booming, orang ramai-ramai tinggalkan minum obat HIV, apa yang terjadi? sembuh tapi jalannya di tanah kusir (meninggal). Seperti itu yang terjadi, ini penyesatan media yang harus diluruskan, bukan berarti alergi obat herbal, semua obat herbal adalah kimia, kalau herbal kenapa itu bisa bikin efek samping?," pungkasnya.
Rujukan
Halaman: 7697/8485

