• [SALAH] “kemunculan Oarfish pertanda gempa bumi dahsyat bahkan tsunami”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 13/12/2019

    Berita

    Menurut ahli, kemunculan ikan oarfish tidak berhubungan dengan bencana alam, termasuk gempa dan tsunami. Biasanya, ikan oarfish atau ikan laut dalam muncul ke permukaan air karena terbawa arus atau sakit.

    Akun Bulukumbahits (fb.com/Bulukumbahits-100565731425660) mengunggah beberapa gambar dengan narasi sebagai berikut:

    “Ikan Oarfish, ditemukan oleh pemancing di laut selayar, Ikan oarfish adalah Makhluk Laut yang Dianggap sebagai Pertanda Datangnya Gempa Bumi. Ikan oarfish hidup di laut dengan kedalaman 100 hingga 1.000 meter. ia jarang sekali muncul ke permukaan air jika tidak ada hal yang mengharuskan ia muncul. Nah, kemunculan Oarfish sering kali terkena gempa bumi dahsyat bahkan tsunami.
    #Semoga masyarakat sekitar selayar dan bulukumba selalu di lindungi Allah swt Tetap waspada serta hati * dan selalu menerima untuk Allah”

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika membantah kabar yang menyebutkan bahwa munculnya ikan laut dalam atau oarfish di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan sebagai pertanda akan terjadinya gempa besar dan tsunami.

    “Hasil kajian statistik terbaru mengungkap bahwa jenis ikan laut dalam seperti oarfish yang muncul di perairan dangkal tidak berarti bahwa gempa akan segera terjadi,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin, 10 Desember 2019.

    Oarfish adalah ikan yang tinggal di dasar laut, sehingga jarang muncul ke permukaan. Sejak Senin pagi media sosial heboh dengan berita viral ditemukannya ikan oarfish di Kepulauan Selayar.

    Dikatakan Daryono, sejak dulu masyarakat Jepang memang mengenal legenda bahwa oarfish konon sebagai pembawa pesan dari dasar laut. Mereka mengaitkan perilaku binatang yang tidak lazim dengan pertanda akan terjadi gempa kuat.

    “Tanpa ada penelitian ilmiah, maka tidak akan pernah diketahui apakah cerita rakyat tersebut fakta atau hanya legenda saja,” kata dia.

    Majalah ilmiah bergengsi, Bulletin of the Seismological Society of America (BSSA), pernah mempublikasikan kajian mengenai hubungan antara kemunculan ikan laut dalam dan gempa. Hasil kajian itu ternyata bertentangan dengan cerita rakyat yang berkembang di Jepang.

    Dalam kajian itu, para peneliti hanya menemukan satu peristiwa yang dapat dikorelasikan secara masuk akal dari 336 kemunculan ikan dan 221 peristiwa gempa bumi. Oleh karena itu, kemunculan ikan oarfish bukanlah pertanda akan terjadinya gempa besar.

    Menurut teori oseanografi, terangkatnya biota laut dalam ke permukaan air hingga terbawa ke pesisir berkaitan dengan fenomena upwelling. Upwelling adalah sebuah fenomena di mana air laut yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar bergerak dari dasar laut ke permukaan.

    Sejumlah penelitian menyebutkan, jika hanya ada satu atau dua ikan oarfish yang mengambang di permukaan laut, kemungkinan karena ikan tersebut sakit atau sekarat. Selain itu, ada faktor lain yang memicu ikan muncul ke permukaan laut, seperti mengikuti arus laut.

    Dikutip dari situs Detik.com, Profesor Iktiologi Pengkajian Ikan Universitas Kagoshima, Hiroyuki Motomura, mengatakan bahwa tidak ada hubungannya kemunculan ikan oarfish dengan bencana alam. Sebab, ada beberapa faktor yang memicu ikan muncul ke permukaan laut, seperti mengikuti arus laut.

    Ikan oarfish merupakan ikan yang tinggal di dasar laut sehingga jarang muncul ke permukaan. Ikan ini terdiri dari tiga jenis, yakni Regaleus Glesne Ascanius (King of herrings, 1772), Agrostichthys Parkeri (Benham, 1904), dan Regalecus Russelli (Cuvier, 1816).

    Berdasakan jenisnya, ikan oarfish hidup di berbagai macam lokasi. Tipe Regaleus Glesne Ascanius hidup di hampir semua lautan. Tipe Agrostichthys Parkeri hidup di perairan selatan, seperti New Zealand. Sementara tipe Regalecus Russelli hidup di perairan Indo-Pasifik.

    Peneliti taksonomi ikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Teguh Peristiwady, mengatakan bahwa ikan oarfish pada dasarnya tidak berbahaya. Bahkan, daging ikan oarfish dapat dikonsumsi.

    Isu soal ikan bisa menjadi pertanda gempa dan tsunami
    Isu yang mengaitkan antara naiknya ikan ke permukaan laut dan terjadinya gempa serta tsunami sudah lama terjadi. Sebelum di Selayar, Sulawesi Selatan, naiknya ikan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur pada 28 Juli 2019 serta di Pantai Batu Bolong, Badung, Bali, pada 3 Juli dan 15 Juli 2019 juga dikaitkan dengan gempa.

    Jauh sebelum ini, Jepang memiliki legenda yang mengaitkan munculnya ikan oarfish atau ikan laut dalam sebagai tanda gempa besar akan melanda negara itu. Dalam mitologi Jepang, ikan oarfish yang disebut dengan Ryugu no Tsukai atau “Utusan dari Istana Dewa Laut” dipercaya menjadi peringatan terjadinya gempa dan tsunami apabila ikan itu terdampar di pantai Jepang.

    Ikan oarfish menarik perhatian setelah gempa dan tsunami di Tohoku, Jepang, pada Maret 2011, yang menewaskan lebih dari 19 ribu orang serta menyebabkan kehancuran pada tiga reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Diaiichi. Sebelumnya, ada selusin ikan oarfish yang jarang terlihat yang terdampar di Jepang pada akhir 2009 dan 2010.

    Dalam penelitiannya yang dimuat di Buletin Masyarakat Seismologis Amerika, seismolog Yoshiaki Orihara bersama rekan-rekannya menemukan 336 penampakan ikan oarfish di Jepang antara November 1928 dan Maret 2011.

    Namun, tidak satu pun dari ikan oarfish itu muncul dalam 30 hari setelah gempa dengan kekuatan 7,0 atau lebih besar. Orihara dan rekan-rekannya juga tidak dapat menemukan laporan tentang gempa berkekuatan 6,0 atau lebih besar yang terjadi dalam waktu 10 hari dari pengamatan ikan laut dalam.

    Para peneliti Jepang, yang meneliti laporan surat kabar, catatan akuarium, dan makalah akademis sejak 1928, tidak menemukan korelasi antara penampakan ikan oarfish dan gempa besar. “Tidak ada seseorang yang bisa mengkonfirmasi hubungan antara dua fenomena itu,” kata Orihara.

    Namun, studi lain pada 2018 menemukan korelasi antara penampakan ikan oarfish dan El Nino ketika air di Samudera Pasifik tengah dan timur ekuatorial lebih hangat dari biasanya. El Nino mempengaruhi kedalaman laut yang berbeda dari permukaan sehingga rumah pelagis ikan oarfish berubah menjadi lebih dingin. Pada saat yang sama, air di permukaan memanas.

    Beberapa ilmuwan menduga, kedalaman yang lebih dingin mungkin mendorong ikan oarfish berenang ke perairan dangkal untuk mengejar plankton. Hingga saat ini, datangnya gempa dan tsunami belum bisa diprediksi, baik oleh teknologi maupun hewan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “AHOK pelanggan alexis sedang happy dan di urut”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 13/12/2019

    Berita

    Foto hasil suntingan. Foto asli diambil di salah satu tempat spa di Jakarta Pusat dan wajah Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ditambahkan ke wajah pria yang ada di foto itu.

    Akun Kopral Jhon Longor (fb.com/kopassbong.kopassbong) mengunggah gambar dengan narasi:

    “AHOK pelanggan alexis sedang happy dan di urut.”

    Ada 2 gambar dalam unggah tersebut.
    Gambar pertama menampilkan seorang pria yang seolah adalah Ahok yang sedang pijat. Gambar kedua adalah gambar yang sudah pernah diperiksa faktanya beberapa saat yang lalu terkait Ahok yang sedang dipeluk dan dicum oleh 2 wanita.

    Sumber : https://perma.cc/794U-NPKE (Arsip) – Sudah dibagikan 2 kali saat tangkapan layar diambil.

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Setelah dilakukan penelusuran oleh Tim Cek Fakta Medcom.id , foto Ahok berada di Alexis adalah foto hasil editan. Melalui terknik reverse image, foto identik ditemukan di sejumlah situs.

    Merujuk situs lokalaku.com, foto asli diambil di Fortune Spa yang berada di di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pula, seorang pria yang berada di dalam foto tersebut bukanlah Ahok.

    Berita hoaks tersebut masuk dalam kategori Manipulated content (konten manipulasi). Manipulated content atau konten manipulasi biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan media-media besar dan kredibel. Gampangnya, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

    Sementara itu, terkait foto Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal dengan panggilan Ahok yang tampak dipeluk dan dicium oleh dua wanita dan narasi “Ini alasannya knp Alexis dipertahankan. Klo foto ini editan potong telinga saya !!!” sebelumnya sudah pernah diperiksa faktanya.

    Foto itu adalah foto hasil suntingan. Foto Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ini adalah hasil editan oleh Agan Harahap yang pernah dimuat di akun instagramnya pada tahun 2016. Wanita yang ada di sebelah kanan Ahok adalah Miley Cyrus, penyanyi asal Amerika. Sementara itu wanita yang ada di sebelah kiri Ahok adalah Megan Fox, model yang juga berasal Amerika.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Gambar perempuan berjilbab syari. Tulisannya, wife and doughter of Panglima Polim.”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 13/12/2019

    Berita

    Tidak terkait dengan Panglima Polim. Foto itu adalah foto upacara pernikahan adat Pepadun Lampung yang diambil sekitar tahun 1900. Di situs Leiden University Belanda, foto ini ditampilkan dengan judul “Huwelijksceremonie volgens de Adat Lampoeng Pepadon in de Lampongse districten”.

    Akun Syamsul Firdaus (fb.com/syamsul.firdaus.3) mengunggah sebuah foto dengan narasi yang menyebutkan bahwa:

    “Beberapa waktu yang lalu, saya hendak mencari potret perempuan Indonesia zaman dulu. Karena saya tahu pencarian pakai bahasa Indonesia engga akan membuahkan hasil, saya pakai bahasa Inggris. “Malay Woman clothing 19 century.” Begitu tulisannya. Muncullah sederet gambar. Yang membuat saya terperanjat, muncul sebuah gambar berkaitan di pencarian. Gambar perempuan berjilbab syari. Menjuntai sampai ke kaki. Syari sekali. Kaya perempuan zaman sekarang. Tulisannya, “wife and doughter of Panglima Polim.” Saya ketuk. Pencarian terkaitnya, bahkan situs gambarnya, memakai bahasa Belanda. Bahasa penjajah kita. Tertulis “collectie trompenmuseum.”

    Selengkapnya di https://perma.cc/WWW4-2YJ9 (Arsip) – Sudah dibagikan 3726 kali saat tangkapan layar diambil.

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Berdasarkan hasil penelusuran, foto yang diunggah oleh sumber klaim tersebut faktanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Panglima Polim.

    Foto itu adalah foto upacara pernikahan adat Pepadun Lampung yang diambil sekitar tahun 1900. Di situs Leiden University Belanda, foto ini ditampilkan dengan judul “Huwelijksceremonie volgens de Adat Lampoeng Pepadon in de Lampongse districten”.

    Akun twitter Potret Lawas menerangkan bahwa arsip mencatat potret pertama tersebut sebagai pengantin adat Pepadun Lampung tahun 1900. Namun, ada kemungkinan sekadar foto pemuka adat, disebut dalam twit lanjutannya. Foto tersebut diunggah di akun itu pada 10 Januari 2018.

    Adat pepadun didirikan sekitar abad ke-16 pada zaman kesultanan Banten. Pada mulanya terdiri dari 12 kebuaian (Abung Siwo Mego dan Pubian Telu Suku), kemudian ditambah 12 kebuaian lain yaitu Mego Pak Tulang Bawang, Buay Lima Way Kanan dan Sungkai Bunga Mayang (3 Buay) sehingga menjadi 24 kebuaian.
    Adat Pepadun dipakai oleh masyarakat adat Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulang Bawang, Pubian Telu Suku, Buay Lima Way Kanan dan Sungkai Bunga Mayang.

    Nama pepadun diambil dari kata “Pepadun” tempat penobatan Penyimbang di Paksi Pak Skala Brak yang beradat Sai Batin. Sedangkan “Pepadun” masih juga digunakan pada pengakatan kepala adat di marga-marga keturunan Paksi Pak Skala Brak yang beradat Sai Batin di Pesisir Krui dan Pesisir Teluk Semaka.

    Berbeda dengan adat Sai Batin/Peminggir, pada adat Pepadun siapa pun bisa jadi penyimbang atau mengambil gelar, asalkan mempunyai kekayaan yang cukup. Tetapi pada masyarakat adat pepadun tidak begitu mengenal tingkatan adok (gelar) seperti halnya masyarakat adat Sai Batin, sehingga tidak ada yang bernama Raden, Minak, Kimas atau Mas. Sehingga tidak mempunyai struktur aristokrat (kerajaan) – dimana seorang kepala membawahi anak buah – tetapi semua yang mendapat gelar, kedudukan atau hejongan-nya sama/setara.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [KLARIFIKASI] “Video pasien kabur ditangkap security”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 13/12/2019

    Berita

    Bukan karena tidak mampu membayar tagihan atau karena menunggak BPJS. Penangkapan F (27) yang merupakan salah satu pasien ODGJ RSJ Grogol (RS Dr Soeharto Heerdjan) dilakukan karena murni kabur yang disebabkan dampak dari penyakit yang kejiwaan yang diderita F.

    Akun Inspirasi Kehidupan (fb.com/InspirasiKehidupanNyata) mengunggah sebuah video dengan narasi :

    “Di duga tidak bisa membayar tagihan, pasien ini kabur dari salah satu RS di kawasan Grogol. Yaelah security nya galak bener ya, orang lagi sakit di tampol.
    Pemilik video: Yusuf Neo Pamungkas”

    Sumber : https://perma.cc/S3J4-5PTA (Arsip) – Sudah dibagikan 5.317 kali saat tangkapan layar diambil.

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Berdasarkan hasil penelusuran, faktanya pria yang mengenakan baju kaos lengan panjang berwarna hijau di dalam video itu adalah F (27), yang merupakan salah satu pasien ODGJ RSJ Grogol (RSJ Dr Soeharto Heerdjan).

    F kabur dari RSJ Dr Soeharto Heerdjan bukan karena karena tidak mampu membayar tagihan atau karena menunggak BPJS, melainkan karena murni masalah teknis atau dampak dari penyakit yang kejiwaan yang diderita F

    Kaburnya F keluar wilayah rumah sakit bukan tanpa sebab. Pihak rumah sakit menduga F mengalami halusinasi. Dalam halusinasi itu, bisa saja dalam diri F ada dorongan untuk keluar dari rumah sakit tersebut.

    “Iya yang bersangkutan pasien kami, dia kabur bukan karena tidak mampu membayar tagihan rumah sakit, tapi memang pasien orang dengan masalah kejiwaan (ODMK),” kata Direktur Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan dr Laurentius Panggabean.

    “Pasien jiwa berbeda dengan pasien biasa, rasa ingin lari keluar mereka itu kerap terjadi, jadi kita kejar untuk hindari dia dari risiko terjatuh atau tertabrak,” ucap Laurentius Panggabean.

    Rasa ingin keluar juga didorong karena kondisi F yang semakin membaik. Laurentius mengatakan kondisi F membaik setelah dirawat selama 20 hari. Padahal, pihak rumah sakit berupaya sebaik mungkin untuk membuat pasien nyaman di rumah sakit.

    “Tapi kalau sudah halusinasi itu sulit, keinginan keluar itu ada saja, karena keinginan dia mencoba gitu, itu untuk pasien kejiwaan,” kata Lauren.

    Berikut kronologi dan fakta dari penangkapan F:
    F, pasien RSJ, mencoba kabur usai melaksanakan kegiatan olahraga pagi di dalam kompleks rumah sakit. Menurut keterangan satpam rumah sakit, F mencoba kabur dengan memanjat pagar RS. Namun, F berhasil ditemukan tidak jauh dari lokasi rumah sakit oleh satpam dalam keadaan selamat.

    “Keliling olahraga lalu pasien kabur. Pas sudah dapat (tertangkap) tangannya tapi dia nyikut anggota, langsung dia turun, langsung loncat ke arah jembatan layang Grogol,” kata seorang petugas keamanan yang tak mau disebut namanya di RSJ Soeharto, Jakarta Barat, Selasa (10/12/2019).

    Penangkapan F oleh satpam rumah sakit disertai dengan kontak fisik oleh petugas. Selain kontak fisik, pasien juga dibentak agar diam di tempat dan tidak memberontak. Melihat hal tersebut Direktur Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan dr Laurentius Panggabean menyayangkan aksi penangkapan disertai pemukulan yang dilakukan salah satu satpam.

    Tindakan represif tersebut bukan merupakan cara menangani pasien dengan gangguan kejiwaan, meski pasien sudah berada di luar wilayah rumah sakit.

    “Kejar sampai keluar dari RS yang penting kan pasien aman. Lalu dikejar tapi mungkin pas ketangkap prosedur yang terjadi enggak sesuai dengan SOP kami,” ucap Lauren di RSJ, Grogol, Jakarta Barat, Selasa (10/12/2019). “Karena dia lari kemudian dikejar, setelah didapat seolah-olah itu yang lari bukan pasien, seolah-olah kriminal, ini yang disayangkan,” lanjut dia.

    Belajar dari kasus penangkapan F, Lauren memberikan kiat menghadapi orang dengan gangguan kejiwaan. Petugas medis yang menangani harus sabar dan sadar bila pasien yang ditangani bukanlah sakit fisik, namun sakit kejiwaan. Meski petugas kerap mendapat perlakuan tidak pantas, semisal dipukul.

    “Sekalipun dipukul kita enggak boleh balas pukul, itu tidak boleh. Ada cara mengatasinya kita pasang reflek, tapi tidak boleh kekerasan, kalau sampai ada kekerasan itu namanya tidak menghayati pekerjaan,” sambung Lauren.

    Sadar akan tindakan yang dilakukan oleh satpam keliru, pihak rumah sakit segera melakukan klarifikasi dengan meminta maaf langsung kepada pihak keluarga F. Pihak rumah sakit juga telah memanggil keluarga F untuk membicarakan permasalahan ini.

    “Memang kepada pihak keluarga sudah kami sudah meminta maaf, memang ini sesuatu yang di luar perkirakan kita. Dan untuk pihak keamanan akan meninjau kerja sama,” ujar Lauren.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini