Tulisan edukasi ini merupakan hasil inti sari dari tulisan berjudul ‘Information Literacy and Fake News’ yang ditulis oleh Candice Benjes-Small dan Dr. Scott Dunn dari Radford University. Berikut beberapa hal yang harus dilakukan agar terhindar dari informasi dan berita palsu:
1. Jangan langsung menganggap sebuah berita dari suatu sumber sebagai kebenaran.
2. Perhatikan penulisan berita sesuai dengan kode etik jurnalistik atau tidak.
3, Bedakan antara perspektif tulisan dengan informasi yang bias.
4. Cari sumber utamanya.
5. Tahan emosi.
... selengkapnya di bagian REFERENSI.
[EDUKASI] Tips Terhindar Dari Informasi dan Berita Palsu
Sumber:Tanggal publish: 07/02/2017
Berita
Hasil Cek Fakta
Rujukan
[EDUKASI] Teori Flat Earth Bukanlah Hoax
Sumber:Tanggal publish: 07/02/2017
Berita
Teori Bumi Datar/Flat Earth (FE) bukanlah hoax. Ia adalah bagian pengetahuan manusia di zaman dahulu, ketika perkembangan ilmu dan instrumen masih sangat terbatas untuk memahami fenomena alam yang ada. Seiring dengan perkembangan waktu, budaya dan pengetahuan manusia, mulailah ditemukan bukti empiris bahwa bumi itu bulat lonjong, dan bukti secara langsung telah didapatkan ketika manusia sudah berhasil melihat bumi dari luar angkasa.
Jadi, tidak semua yang bertentangan dengan fakta bisa disebut HOAX. Sebab, HOAX lebih tepat dilekatkan kepada berita palsu, atau bohong, yang dibuat oleh oknum untuk menyesatkan. Ilmu pengetahuan zaman dahulu, meskipun tidak lagi akurat, dan bertentangan dengan fakta yang bisa kita uji dengan ilmu sekarang, bukanlah HOAX. Sebuah informasi dikatakan sebagai HOAX harus ada unsur kesengajaan untuk menipu.
Bagaimana menyikapi proponen teori purba seperti FE? Saya melihat mereka yang termakan oleh FE adalah orang-orang yang kemampuan sainsnya kurang memadai. Dan, ketika ada orang dengan kemampuan sains yang tinggi ikutan menyebarkan FE, saya menduga bahwa ia sebenarnya yakin kalau FE itu keliru, namun ia lebih suka melakukan trolling dengan keahliannya, dan membuat seolah-olah FE itu ilmiah. Nah banyak orang yang termakan, ya karena memang dasar ilmu fisikanya sangat lemah.
Jadi, tidak semua yang bertentangan dengan fakta bisa disebut HOAX. Sebab, HOAX lebih tepat dilekatkan kepada berita palsu, atau bohong, yang dibuat oleh oknum untuk menyesatkan. Ilmu pengetahuan zaman dahulu, meskipun tidak lagi akurat, dan bertentangan dengan fakta yang bisa kita uji dengan ilmu sekarang, bukanlah HOAX. Sebuah informasi dikatakan sebagai HOAX harus ada unsur kesengajaan untuk menipu.
Bagaimana menyikapi proponen teori purba seperti FE? Saya melihat mereka yang termakan oleh FE adalah orang-orang yang kemampuan sainsnya kurang memadai. Dan, ketika ada orang dengan kemampuan sains yang tinggi ikutan menyebarkan FE, saya menduga bahwa ia sebenarnya yakin kalau FE itu keliru, namun ia lebih suka melakukan trolling dengan keahliannya, dan membuat seolah-olah FE itu ilmiah. Nah banyak orang yang termakan, ya karena memang dasar ilmu fisikanya sangat lemah.
Hasil Cek Fakta
Rujukan
(DISINFORMASI): Pengobatan Jantung Koroner dengan Terapi Kelasi (Chelation) Bisa Gantikan Angioplasty
Sumber:Tanggal publish: 02/02/2017
Berita
Sejak beberapa hari ini beredar pemberitahuan melalui BBM (Black Berry Messenger) tentang metoda pengobatan penyakit jantung koroner dengan menggunakan infus cairan tertentu (khelasi) yang dikatakan mampu mengikis plaque (deposit kolesterol) di dinding pembuluh koroner.
Berita tersebut juga mengesankan bahwa pemberian cairan infus (khelasi) dapat menggantikan metoda angioplasti koroner (pemasangan stent) maupun pengobatan operasi bedah pintas koroner (By-pass).
Akibat pemberitaan tersebut, beberapa masyarakat awam maupun dokter umum dan dokter spesialis meminta penjelasan ke kantor Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), maupun secara langsung kepada anggota PERKI di berbagai daerah.
Berita tersebut juga mengesankan bahwa pemberian cairan infus (khelasi) dapat menggantikan metoda angioplasti koroner (pemasangan stent) maupun pengobatan operasi bedah pintas koroner (By-pass).
Akibat pemberitaan tersebut, beberapa masyarakat awam maupun dokter umum dan dokter spesialis meminta penjelasan ke kantor Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), maupun secara langsung kepada anggota PERKI di berbagai daerah.
Hasil Cek Fakta
Demi melindungi masyarakat terhadap penanganan penyakit kardiovaskular di luar tatalaksana standar medis, maka menjadi tanggung jawab PERKI untuk memberikan klarifikasi sebagai berikut :
Penyakit jantung koroner adalah suatu kelainan akibat proses atherosclerosis menahun, yaitu terjadinya proses deposit lemak, kolesterol LDL dan berbagai substansi lain dalam lapisan dinding pembuluh koroner. Proses ini terjadi secara menahun dan berpotensi menimbulkan penyempitan pembuluh koroner sehingga terjadi gangguan aliran darah yang memberi nutrisi darah pada otot jantung.
Penanganan terhadap Penyakit Jantung Koroner meliputi pemberian terapi farmakologis secara optimal, dan pada kondisi penyakit tertentu memerlukan tindakan revaskularisasi (memulihkan gangguan aliran darah) baik secara non bedah (angioplasti koroner) maupun bedah (Bypass).
Tidak ada satupun referensi terpercaya, yang memberi bukti bahwa ada obat/khelasi yang mampu membuat plak larut sehingga tidak memerlukan lagi tindakan revaskularisasi (angioplasty atau by pass) (terlampir penelitian tahun 2013).
Untuk menentukan strategi pengobatan terbaik, telah dibuat Standar Pelayanan Medis berdasarkan bukti bukti klinis yang diperoleh dari berbagai penelitian di berbagai belahan dunia.
Hingga saat ini, untuk kasus penyakit jantung koroner dengan bukti klinis adanya keluhan disertai iskemia luas atau tanpa disertai penyakit penyerta masih menempatkan penggunaan obat-obat standard preventif dan metoda angioplasti koroner dengan Stent maupun tindakan operasi bypass sesuai rekomendasi kelas I : Artinya para ahli sepakat bahwa kedua metoda pengobatan ini masih yang terbaik. Sedangkan strategi dengan menggunakan sel punca (stem cell) masih dalam tahap riset dan diharapkan menjadi terapi pilihan dimasa depan.
Sebagai wadah dokter spesialis Kardiovaskular di Indonesia, PERKI memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi masyarakat dari pengobatan yang tidak memenuhi standar medis. Oleh karenanya PERKI membuka diri untuk menerima pertanyaan dari masyarakat luas berkenaan dengan pemilihan pengobatan yang terbaik di bidang kardiovaskular, dengan melalui EMAIL: secretariat@inaheart.org
Semoga klarifikasi ini dapat memberi wawasan positif dan melindungi masyarakat dari metoda pengobatan yang tidak berbasis bukti.
Jakarta, 14 April 2014
Pengurus Pusat
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia
Sila di buka dan download gratis buku2 panduan Praktek kedokteran di bidang Kardiovaskular yang sudah di terbitkan oleh Pengurus Pusat PERKI, free Access:
Penyakit jantung koroner adalah suatu kelainan akibat proses atherosclerosis menahun, yaitu terjadinya proses deposit lemak, kolesterol LDL dan berbagai substansi lain dalam lapisan dinding pembuluh koroner. Proses ini terjadi secara menahun dan berpotensi menimbulkan penyempitan pembuluh koroner sehingga terjadi gangguan aliran darah yang memberi nutrisi darah pada otot jantung.
Penanganan terhadap Penyakit Jantung Koroner meliputi pemberian terapi farmakologis secara optimal, dan pada kondisi penyakit tertentu memerlukan tindakan revaskularisasi (memulihkan gangguan aliran darah) baik secara non bedah (angioplasti koroner) maupun bedah (Bypass).
Tidak ada satupun referensi terpercaya, yang memberi bukti bahwa ada obat/khelasi yang mampu membuat plak larut sehingga tidak memerlukan lagi tindakan revaskularisasi (angioplasty atau by pass) (terlampir penelitian tahun 2013).
Untuk menentukan strategi pengobatan terbaik, telah dibuat Standar Pelayanan Medis berdasarkan bukti bukti klinis yang diperoleh dari berbagai penelitian di berbagai belahan dunia.
Hingga saat ini, untuk kasus penyakit jantung koroner dengan bukti klinis adanya keluhan disertai iskemia luas atau tanpa disertai penyakit penyerta masih menempatkan penggunaan obat-obat standard preventif dan metoda angioplasti koroner dengan Stent maupun tindakan operasi bypass sesuai rekomendasi kelas I : Artinya para ahli sepakat bahwa kedua metoda pengobatan ini masih yang terbaik. Sedangkan strategi dengan menggunakan sel punca (stem cell) masih dalam tahap riset dan diharapkan menjadi terapi pilihan dimasa depan.
Sebagai wadah dokter spesialis Kardiovaskular di Indonesia, PERKI memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi masyarakat dari pengobatan yang tidak memenuhi standar medis. Oleh karenanya PERKI membuka diri untuk menerima pertanyaan dari masyarakat luas berkenaan dengan pemilihan pengobatan yang terbaik di bidang kardiovaskular, dengan melalui EMAIL: secretariat@inaheart.org
Semoga klarifikasi ini dapat memberi wawasan positif dan melindungi masyarakat dari metoda pengobatan yang tidak berbasis bukti.
Jakarta, 14 April 2014
Pengurus Pusat
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia
Sila di buka dan download gratis buku2 panduan Praktek kedokteran di bidang Kardiovaskular yang sudah di terbitkan oleh Pengurus Pusat PERKI, free Access:
Rujukan
[DISINFORMASI] Meragukan Jokowi sebagai Alumni UGM
Sumber: Media DaringTanggal publish: 29/01/2017
Berita
Ada yang tahu ?. Jokowi itu Alumnus Gajah Mada , Gajah Duduk , Gajah Nungging , atau Gajah Mungkur ?.
1 tak punya teman satu angkatan .
Atau teman2 seangkatan Jokowi telah mati semua.
Jokowi mahasiswa tunggal ya ?
Jokowi bukan alumni UGM
1 tak punya teman satu angkatan .
Atau teman2 seangkatan Jokowi telah mati semua.
Jokowi mahasiswa tunggal ya ?
Jokowi bukan alumni UGM
Hasil Cek Fakta
Setelah diperikasa pada web Universitas Gajah Mada (UGM), terbukti Presiden Jokowi merupakan lulusan UGM. Hal ini terlihat pada skripsi Jokowi yang berjudul “Studi Tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis Pada Pemakaian Akhir Di Kotamadya Surakarta” ketika menjadi mahasiswa jurusan Kehutanan.
Rujukan
Halaman: 8244/8354



