“Innalillahi wa inna illaihi roji’un Telah berpulang kehadiratNya GUNTUR SOEKARNO PUTRA (Putra sulung Proklamator Ir. SOEKARNO). Semoga khusnul khotimah dan arwahnya diterima di sisi Alloh SWT. Aamiin.”
Read more at https://nasional.tempo.co/read/748138/beredar-kabar-guntur-soekarno-putra-meninggal-dunia#PD5VoyWeJUHUot4C.99
Guntur Soekarno Putra Meninggal
Sumber: www.whatsapp.comTanggal publish: 26/02/2016
Berita
Hasil Cek Fakta
dilansir dari Tempo, setelah melakukan konfirmasi melalui sekretaris pribadi Puti Guntur Soekarno Putri, yakni Nani Kusumawardhani, kabar tersebut tidaklah benar adanya. Yang meninggal bukanlah Guntur melainkan Besan atau yang tak lain adalah mertua dari Puti.
Rujukan
(HOAX) Peresmian Monumen Po An Tui Di TMII
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 23/02/2016
Berita
Narasi/Klaim: Rudy Razy, Jonru, Posmetro mengklaim bahwa Mendagri membuat prasasti/monumen Po An Tui (laskar China yang antek Belanda) di TMII.
Hasil Cek Fakta
Penjelasan: Monumen yang diresmikan di TMII adalah Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa menentang VOC Belanda tahun 1740-1743. Monumen itu tidak ada hubungannya dengan Po An Tui.
Laskar Po An Tui itu baru ada tahun 1945 dan mereka tidak menentang VOC, bahkan jadi antek Belanda, karena VOC sudah bubar tahun 1800. Jadi ini mencampuradukkan dua hal yang berbeda.
[…] Mendagri Tjahjo Kumolo meresmikan Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa di Taman Budaya Tionghoa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Tjahjo menyambut baik pembangunan monumen ini sebagai bentuk perjuangan kepada pejuang bangsa.
“Monumen ini sangat penting karena mengingatkan siapa leluhur kita, perjuangan bangsa kita melawan penjajah,” ucap Tjahjo, di TMII, Jakarta Timur, Sabtu (14/11/2015).
Tjahjo mengatakan, pembangunan monumen ini juga harus dijadikan sebagai momentum persatuan dan kesatuan bangsa. Menurutnya, sudah tidak ada lagi permasalahan ras, suku dan agama di tanah air ini.
“Jangan sampai kita tercerai berai karena keberagaman, kita harus hidup penuh kedamaian. Tidak ada lagi mayoritas dan minoritas!” tegasnya.
Monumen ini sendiri menceritakan tentang perjuangan laskar Tionghoa dan Jawa dalam melawan VOC Belanda yang menjajah bangsa Indonesia. Monumen ini menceritakan perjuangan bangsa selama tiga tahun yaitu pada tahun 1740-1743 dalam mengusir VOC. […]
Laskar Po An Tui itu baru ada tahun 1945 dan mereka tidak menentang VOC, bahkan jadi antek Belanda, karena VOC sudah bubar tahun 1800. Jadi ini mencampuradukkan dua hal yang berbeda.
[…] Mendagri Tjahjo Kumolo meresmikan Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa di Taman Budaya Tionghoa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Tjahjo menyambut baik pembangunan monumen ini sebagai bentuk perjuangan kepada pejuang bangsa.
“Monumen ini sangat penting karena mengingatkan siapa leluhur kita, perjuangan bangsa kita melawan penjajah,” ucap Tjahjo, di TMII, Jakarta Timur, Sabtu (14/11/2015).
Tjahjo mengatakan, pembangunan monumen ini juga harus dijadikan sebagai momentum persatuan dan kesatuan bangsa. Menurutnya, sudah tidak ada lagi permasalahan ras, suku dan agama di tanah air ini.
“Jangan sampai kita tercerai berai karena keberagaman, kita harus hidup penuh kedamaian. Tidak ada lagi mayoritas dan minoritas!” tegasnya.
Monumen ini sendiri menceritakan tentang perjuangan laskar Tionghoa dan Jawa dalam melawan VOC Belanda yang menjajah bangsa Indonesia. Monumen ini menceritakan perjuangan bangsa selama tiga tahun yaitu pada tahun 1740-1743 dalam mengusir VOC. […]
Rujukan
(HOAX) Cerita Inspiratif Thomas Alva Edison
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 22/02/2016
Berita
Seorang Ibu yang Luar Biasa
Suatu hari, Thomas Alva Edison pulang sekolah dan menyerahkan selembar kertas pemberian gurunya untuk ibunya. Sang ibu menangis sambil membaca isi surat itu dengan mengeraskan suaranya: “Putra anda seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidiknya. Agar anda mendidiknya sendiri.”
Jauh setelah ibunya wafat dan Edison telah menjadi penemu ternama, dia melihat-lihat barang lama keluarga. Tiba-tiba dia melihat kertas surat terlipat di sorokan sebuah meja. Dia membukanya dan membaca isinya: “Putra Anda seorang anak yang bodoh. Kami tidak mengizinkan anak Anda bersekolah lagi.”
Edison menangis berjam-jam setelah itu dan kemudian menuliskan ini di diarynya: “Thomas Alva Edison, adalah anak bodoh yang, karena seorang Ibu yang Luar Biasa, mampu menjadi seorang jenius pada abad kehidupannya.”
Suatu hari, Thomas Alva Edison pulang sekolah dan menyerahkan selembar kertas pemberian gurunya untuk ibunya. Sang ibu menangis sambil membaca isi surat itu dengan mengeraskan suaranya: “Putra anda seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidiknya. Agar anda mendidiknya sendiri.”
Jauh setelah ibunya wafat dan Edison telah menjadi penemu ternama, dia melihat-lihat barang lama keluarga. Tiba-tiba dia melihat kertas surat terlipat di sorokan sebuah meja. Dia membukanya dan membaca isinya: “Putra Anda seorang anak yang bodoh. Kami tidak mengizinkan anak Anda bersekolah lagi.”
Edison menangis berjam-jam setelah itu dan kemudian menuliskan ini di diarynya: “Thomas Alva Edison, adalah anak bodoh yang, karena seorang Ibu yang Luar Biasa, mampu menjadi seorang jenius pada abad kehidupannya.”
Hasil Cek Fakta
Thomas Alva Edison memang keluar dari sekolahnya saat masih kecil. Sebagai penderita diseleksia, Edison memang sulit beradaptasi dengan situasi belajar yang statis. Salah seorang gurunya memang ada yang mengatakan kalau Edison anak kacau dan sulit diajar. Ibunya, Nancy Matthews Elliott, tidak pernah menutupi kekurangan sang anak dan Edison paham kondisinya yang kurang mampu beradaptasi dengan kondisi belajar di dalam kelas.
Apalagi, guru yang mengajar Edison kala itu, memiliki pola belajar mengajar yang kaku sehingga Edison tidak betah duduk diam di dalam kelas. Dengan demikian, klaim pada narasi tidaklah tepat. Detil penjelasan mengenai kondisi Edison saat masih kecil dapat dibaca di situs truthorfiction.com. Berikut kutipan penjelasan dari situs tersebut mengenai kabar Edison:
[…] This rumor contains a few accurate details. Thomas Edison was dyslexic, which made it difficult for him to succeed in an 1800s classroom. And one of Edison’s teacher’s reportedly described him as “addled.” But the central claim — that Edison’s mother hid that fact from him — is not accurate.
The Foundation for Economic Education reports that Edison was well aware of his teacher’s diagnosis, and that he was enraged by it. Edison was seven years old when his teacher, the Rev. G.B. Engle, described him as “addled.” The boy stormed out of the school in Port Huron, Michigan, and returned the next day with his mother, Nancy. Nancy hoped to reconcile, but she became frustrated with Engle’s “rigid ways” and decided to educate young Thomas at home.
In the biography, “Thomas Alva Edison: Great American Inventor,” Louise Betts goes into more detail about why young Edison had problems with Reverend Engle’s teaching style. Betts writes that sitting still in a classroom was “pure misery” for Edison to begin with, and Engle forced his students to learn by memorizing lessons and reciting them out loud. Students were whipped with a leather strap if they made mistakes, and “Mrs. Engle also heartily approved of using the whip as a way of teaching students better study habits. her whippings were often worse than her husband’s!”
Betts concludes that Edison wasn’t able to memorize lessons and needed hands-on experience to understand and learn things. Edison also needed to ask lots of questions, which frustrated his teacher. Later, Edison said, “I remember I used to never be able to get along at school. I was always at the foot (bottom) of the class. I used to feel that the teachers did not sympathize with me, and that my father thought I was stupid.”
Later in life, Edison said, “My mother was the making of me. She was so true, so sure of me: and I felt I had something to live for, someone I must not disappoint.” […]
Apalagi, guru yang mengajar Edison kala itu, memiliki pola belajar mengajar yang kaku sehingga Edison tidak betah duduk diam di dalam kelas. Dengan demikian, klaim pada narasi tidaklah tepat. Detil penjelasan mengenai kondisi Edison saat masih kecil dapat dibaca di situs truthorfiction.com. Berikut kutipan penjelasan dari situs tersebut mengenai kabar Edison:
[…] This rumor contains a few accurate details. Thomas Edison was dyslexic, which made it difficult for him to succeed in an 1800s classroom. And one of Edison’s teacher’s reportedly described him as “addled.” But the central claim — that Edison’s mother hid that fact from him — is not accurate.
The Foundation for Economic Education reports that Edison was well aware of his teacher’s diagnosis, and that he was enraged by it. Edison was seven years old when his teacher, the Rev. G.B. Engle, described him as “addled.” The boy stormed out of the school in Port Huron, Michigan, and returned the next day with his mother, Nancy. Nancy hoped to reconcile, but she became frustrated with Engle’s “rigid ways” and decided to educate young Thomas at home.
In the biography, “Thomas Alva Edison: Great American Inventor,” Louise Betts goes into more detail about why young Edison had problems with Reverend Engle’s teaching style. Betts writes that sitting still in a classroom was “pure misery” for Edison to begin with, and Engle forced his students to learn by memorizing lessons and reciting them out loud. Students were whipped with a leather strap if they made mistakes, and “Mrs. Engle also heartily approved of using the whip as a way of teaching students better study habits. her whippings were often worse than her husband’s!”
Betts concludes that Edison wasn’t able to memorize lessons and needed hands-on experience to understand and learn things. Edison also needed to ask lots of questions, which frustrated his teacher. Later, Edison said, “I remember I used to never be able to get along at school. I was always at the foot (bottom) of the class. I used to feel that the teachers did not sympathize with me, and that my father thought I was stupid.”
Later in life, Edison said, “My mother was the making of me. She was so true, so sure of me: and I felt I had something to live for, someone I must not disappoint.” […]
Rujukan
[HOAX] David Beckham Pakai Kaos Bertuliskan “Free West Papua” Saat Berkunjung ke Wamena, Papua
Sumber: Media OnlineTanggal publish: 18/02/2016
Berita
Pemain sepak bola asal Inggris David Beckham ternyata berkunjung ke pedalaman Wamena-Papua secara diam-diam.Pemain ternama Dunia ini ternyata memberikana bantuan kemanusiaan setelah mendegar tragedi kematian anak di Nduga pada tahun silam 2015 lalu. Pada kedatangan sang bintang sepak bola itu akhirnya dikagetkana dengan kaos baju yang dikenakan David Beckham yang bertulisan”Free West Papua”.
Hasil Cek Fakta
Foto mantan pemain sepakbola tersohor di dunia, David Beckham, memakai kaos bertuliskan Free West Papua saat berkunjung ke Wamena, Papua, beredar di media sosial. Foto kontroversial tersebut dimuat dalam artikel yang berjudul ‘Diam-Diam David Beckham Ke Wamena-Papua’ yang dibuat oleh situs potretanakmelanesia.blogspot.co.id pada tanggal 18 Februari 2016.
Faktanya, tulisan Free West Papua di kaos putih David Beckham merupakan hasil editan dari situs tersebut. Di foto aslinya, David Beckham hanya memakai kaos polos putih. Foto asli tersebut terpajang di sebuah artikel berjudul ‘David Beckham’s 7 Fund: Keeping children safe from malnutrition in Papua New Guinea’ yang dimuat oleh situs medium.com, situs buatan Evan Williams, pendiri dan mantan CEO Twitter.
Soal lokasi David Beckham yang datang ke Wamena, Papua, itu adalah bohong alias hoax. Faktanya, David Beckham berkunjung ke Papua Nugini dalam rangkaian kegiatan syuting film dokumenter BBC yang berjudul For the Love of the Game, seperti kutipan dari medium.com. Di Papua Nugini, David bertemu anak-anak yang menderita kekurangan gizi, yang merupakan isu utama di negara ini.
Dikutip dari bola.com, Pria berusia 40 tahun itu berkeliling dunia demi merayakan 10 tahun ditunjuknya ia sebagai duta UNICEF Goodwill. Dia akan bermain sepak bola di tujuh benua dalam waktu tujuh hari. Hasil pemasukan pertandingan yang dijalani Beckham nantinya akan disumbangkan sepenuhnya ke organisasi bernama 7 yang digagas UNICEF awal 2015.
Faktanya, tulisan Free West Papua di kaos putih David Beckham merupakan hasil editan dari situs tersebut. Di foto aslinya, David Beckham hanya memakai kaos polos putih. Foto asli tersebut terpajang di sebuah artikel berjudul ‘David Beckham’s 7 Fund: Keeping children safe from malnutrition in Papua New Guinea’ yang dimuat oleh situs medium.com, situs buatan Evan Williams, pendiri dan mantan CEO Twitter.
Soal lokasi David Beckham yang datang ke Wamena, Papua, itu adalah bohong alias hoax. Faktanya, David Beckham berkunjung ke Papua Nugini dalam rangkaian kegiatan syuting film dokumenter BBC yang berjudul For the Love of the Game, seperti kutipan dari medium.com. Di Papua Nugini, David bertemu anak-anak yang menderita kekurangan gizi, yang merupakan isu utama di negara ini.
Dikutip dari bola.com, Pria berusia 40 tahun itu berkeliling dunia demi merayakan 10 tahun ditunjuknya ia sebagai duta UNICEF Goodwill. Dia akan bermain sepak bola di tujuh benua dalam waktu tujuh hari. Hasil pemasukan pertandingan yang dijalani Beckham nantinya akan disumbangkan sepenuhnya ke organisasi bernama 7 yang digagas UNICEF awal 2015.
Rujukan
Halaman: 8428/8472



