• [SALAH] Video Ricuh Sidang DPR Mendesak RUU Perampasan Aset

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 04/04/2025

    Berita

    Akun Facebook “Erikson Sinurat” pada Kamis (20/03/2025) mengunggah video [arsip] yang diklaim kericuhan sidang di DPR untuk mendesak RUU Perampasan Aset.

    Berikut narasi lengkapnya :

    "DPR-RI ricuh Yang pro rakyat Mendesak RUU Perampasan aset bagi Koruptor, Tetapi wakil ketua DPR RI menolak uu perampasan aset bagi Para koruptor"

    Hingga Minggu (23/03/2025) unggahan tersebut telah dilihat 4 juta kali, disukai 37 ribu pengguna dan menuai 26 ribu komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri potongan video tersebut dengan bantuan Google Image Search. Hasil penelusuran mengarah ke video Youtube Beritasatu berjudul “Breaking News: Sidang Paripurna Ricuh” diunggah Kamis (02/10/2014).

    TurnBackHoax kemudian memasukkan kata kunci “sidang paripurna ricuh menentukan pimpinan DPR” ke mesin pencarian Google. Hasil mengarah ke pemberitaan detik.com “Paripurna Penetapan Pimpinan DPR Chaos!”

    Puluhan anggota dewan merangsek ke meja pimpinan sidang Popong Otje Djunjunan atau Ceu Popong untuk melontarkan protes. Kericuhan itu berlangsung saat agenda sidang memasuki pembacaan fraksi-fraksi DPR dan alat kelengkapannya.

    Kesimpulan

    Unggahan dengan narasi “ricuh sidang DPR mendesak RUU perampasan aset” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Patung Penyu 16,5 Miliar di Sukabumi Berbahan Kardus

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 04/04/2025

    Berita

    Akun Facebook “Jakarta Keras” pada Selasa (04/03/2025) mengunggah video [arsip] yang mengklaim patung penyu di Sukabumi senilai 16,5 miliar berbahan kardus rusak.

    Berikut narasi lengkapnya :

    NETIZEN PERTANYAKAN ICON PENYU 16,5 MILIAR DI SUKABUMI RUSAK, TERNYATA BAHANNYA DARI KARDUS

    Hingga Sabtu (23/03/2025) unggahan tersebut telah disukai 33.000 pengguna Facebook, dan menuai 12.000 komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran klaim dengan memasukan kata kunci “patung penyu 16,5 miliar di Sukabumi berbahan kardus” ke mesin pencarian Google. Hasilnya mengarah ke artikel cnnindonesia.com “Pemprov: Patung Penyu Sukabumi Tak dari Kardus, Rp15 M untuk Alun-alun” yang tayang pada Rabu (05/03/2025).

    Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Jabar Indra Maha dalam keterangan tertulis kepada CNN, biaya 15,6 miliar dipergunakan untuk membangun keseluruhan kompleks alun-alun di pinggir laut. Dalam kompleks itu ada replika penyu, sarana dan prasarana seperti selfie deck, leuit, hingga gedung kuliner.

    Menurut Indra, bahan kardus pada patung penyu tersebut digunakan sebagai bahan pembentuknya saja. Lanjutnya, replika penyu tersebut terbuat dari bahan resin dan fiberglass.

    Kesimpulan

    Unggahan dengan narasi “patung penyu 16,5 miliar di Sukabumi berbahan kardus” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Tidak Benar Narasi Respon Imun dari Vaksin Sebabkan Keracunan

    Sumber:
    Tanggal publish: 03/04/2025

    Berita

    tirto.id - Media sosial menjadi tempat beropini masyarakat secara bebas, tidak terkecuali terkait isu kesehatan. Hal ini membuat beragam narasi narasi dan teori dari siapapun bisa beredar di internet.

    Tirto menemukan sebuah unggahan di platform X (dulu Twitter) seputar teori kesehatan yang mencurigakan. Unggahan dari akun @blue_berets7 (arsip) pada 12 Maret 2025 lalu, menjabarkan teori yang mengaitkan respon imun dengan reaksi tubuh yang menerima racun.

    “‘Respons imun’ sebenarnya berarti orang tersebut keracunan.

    Carilah asal usul kata "antibody" itu artinya antitoksin.

    ‘Respons imun’ adalah penutup untuk reaksi tubuh terhadap racun,” begitu bunyi cuitan akun tersebut, mengutip seorang lainnya.

    Narasi ini mengaitkan respon imun yang disebut menyebabkan tubuh keracunan tersebut dengan vaksin. Narasi tersebut terdapat dalam gambar dalam unggahan. "Sebuah vaksin 'menyebabkan respons imun yang kuat,' itu berarti peningkatan antibodi, yang berarti Anda diracuni,” begitu bunyi keterangan dalam unggahan gambar dalam unggahan.

    Narasi tersebut memang hanya mendapat sedikit atensi, namun tersebar di berbagai media sosial. Kami menemukan unggahan berikut dari akun Threads @auggy_auggy_ dan di unggahan Facebook "Richard Minick" berikut, yang tersebar beberapa waktu sebelumnya.

    Meski tak banyak mendapat respon dari netizen, narasi soal kesehatan seperti ini dapat menyebabkan dampak kesehatan yang berkepanjangan, sehingga perlu dicek kebenarannya.

    Lalu, benarkah narasi yang mengaitkan respon imun dari vaksin dengan keracunan?

    Hasil Cek Fakta

    Tirto mencoba membedah narasi yang disampaikan di media sosial soal reaksi imun dari vaksin yang menyebabkan keracunan. Mengutip MedlinePlus, respon imun didefinisikan sebagai cara tubuh mengenali dan mempertahankan diri terhadap bakteri, virus, dan zat yang tampak asing dan berbahaya.

    MedlinePlus adalah situs bagian dari layanan National Library of Medicine (NLM), perpustakaan medis terbesar di dunia, yang merupakan bagian dari National Institutes of Health (NIH).

    Berdasar penjelasan lebih lanjut, sistem imun disebut akan melindungi tubuh dari zat yang berbahaya. Paparan dari berbagai zat berbahaya akan memacu sistem imun atau kekebalan tubuh untuk berkembang dan terbentuk. Vaksinasi menjadi salah satu cara memperoleh kekebalan atau imunisasi tanpa perlu mengalami infeksi dari zat berbahaya terlebih dahulu.

    “Vaksinasi (imunisasi) adalah cara untuk memicu respons imun. Dosis kecil antigen, seperti virus hidup yang sudah mati atau dilemahkan atau bagian dari virus, diberikan untuk mengaktifkan "memori" sistem imun (sel B yang diaktifkan dan sel T yang peka). Memori memungkinkan tubuh Anda bereaksi dengan cepat dan efisien terhadap paparan di masa mendatang,” tulis keterangan dari artikel yang telah di-review oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, David C. Dugdale, MD.

    Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PP Peralmuni), Iris Rengganis juga membantah soal narasi yang beredar di media sosial tersebut. Dia menyebut kalau narasi "respons imun" adalah penutup untuk reaksi tubuh terhadap racun tidaklah tepat.

    “Tidak benar, vaksin tidak bikin keracunan,” jawabnya kepada Tirto, Rabu (26/3/2025) lewat pesan singkat. Proses pemberian vaksin adalah dengan memasukan penyebab penyakit yang telah dilemahkan, untuk merangsang sistem kekebalan tubuh.

    Sementara itu Dokter Romsyah Maryam, peneliti di Pusat Riset Veteriner Organisasi Riset Kesehatan, di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan terdapat sistem imun yang adaptif yang menghasilkan antibodi.

    "Antibodi sendiri adalah antinya dari antigen. Apabila ada antigen masuk, otomatis membentuk sistem kekebalan. Antibodi ini merupakan respon imun yang adaptif, contohnya saat pemberian vaksin. Antibodi merupakan immunoglobulin (Ig) sebagai protein berukuran besar yang dapat memberikan respon imun, akan bergerak menetralkan atau mencegah patogen, atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh,” terangnya.

    Antigen sendiri adalah zat yang ada permukaan sel, virus, jamur, atau bakteri. Sistem imun bekerja untuk mengenali dan menghancurkan zat yang mengandung antigen ini.

    Terkait narasi vaksin berbahaya dan dapat menyebabkan keracunan juga mendapat bantahan dari Pan American Health Organization (PAHO).

    “Meskipun bahan-bahan dalam label vaksin mungkin tampak menakutkan (misalnya merkuri, aluminium, dan formaldehida), bahan-bahan tersebut biasanya ditemukan secara alami dalam tubuh, makanan yang kita makan, dan lingkungan sekitar kita - misalnya, dalam ikan tuna. Jumlahnya dalam vaksin sangat kecil dan tidak akan ‘meracuni’ atau membahayakan tubuh,” tulis informasi dari halaman 'Membongkar Mitos Imunisasi'.

    Organisasi ini juga menyebut, vaksin yang diedarkan telah melalui tahap uji coba ilmiah yang ketat dan panjang serta proses sertifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan regulasi negara untuk memastikan bahwa vaksin tersebut aman dan efektif.

    Kesimpulan

    Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan narasi respon imun dari vaksin yang menyebabkan keracunan bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

    Sejumlah ahli kesehatan menjelaskan kalau respon imun dari vaksin bekerja dengan melawan zat berbahaya dalam tubuh. Vaksin memicu respon imun untuk membentuk sistem kekebalan tubuh. Cara kerja vaksin sendiri memasukkan dosis kecil virus yang sudah mati sehingga tidak dapat menyebabkan keracunan.

    Vaksin yang diedarkan juga telah melalui tahap uji coba ilmiah yang ketat dan panjang serta proses sertifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan regulasi negara untuk memastikan bahwa vaksin tersebut aman dan efektif.

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Keliru: Narasi soal Kerusuhan Mei 1998 Tidak Spesifik Menyerang Keturunan Tionghoa

    Sumber:
    Tanggal publish: 03/04/2025

    Berita

    Sebuah narasi beredar di Threads [arsip] yang menyatakan bahwa kerusuhan Mei 1998 di Indonesia tidak spesifik menyasar etnis Tionghoa. Dikatakan korban kekerasan saat itu 99 persen pribumi.

    Konten tersebut menyebut tidak ada hasil pemeriksaan forensik yang mendukung klaim banyak dari etnis Tionghoa yang menjadi korban di masa itu. Berikut narasi selengkapnya: “Kerusuhan Mei 1998 korban utamanya adalah 99% pribumi. Tidak ada korban spesifik etnis Tionghoa yg dapat ditelusuri otentisitas forensiknya. Jika ada pihak terus menerus framing menghubungkan rusuh Mei 98 sbg kekuatan rekayasa yg dikatakan untuk menargetkan (anti) etnis tertentu…”



    Namun, benarkah narasi yang mengatakan penyerangan dalam kerusuhan Mei 1998 tidak spesifik menyasar etnis Tionghoa?

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan informasi terkonfirmasi yang didapatkan dari sumber terbuka di internet, terbukti bahwa korban-korban kerusuhan Mei 1998 banyak yang dari etnis Tionghoa. Mereka mengalami pemerkosaan, kekerasan, pembunuhan, serta pencurian dan perusakan harta benda.

    Berikut sumber-sumber informasinya:

    Pada Juli 1998, pemerintah yang saat itu dipimpin Presiden BJ Habibie, membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada Juli 1998 untuk menyelidiki kerusuhan Mei.

    Tim itu kemudian menghasilkan sekitar 100 lembar laporan berjudul “Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998,” yang dicetak dan diterbitkan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada November 1999. 

    Laporan TGPF menyatakan kerusuhan yang terjadi 13-15 Mei 1998 merupakan dampak dinamika sosial dan politik di periode sebelumnya. Pola kemunculan kerusuhan bervariasi mulai dari yang bersifat spontan, lokal, sporadis, hingga yang terencana dan terorganisir.

    Tim itu mendefinisikan korban kerusuhan Mei 1998 sebagai orang-orang yang telah menderita secara fisik dan psikis karena kerugian fisik/material seperti rumah atau tempat usaha dirusak atau dibakar dan hartanya dijarah. Sejumlah korban meninggal dunia saat terjadinya kerusuhan karena berbagai sebab terbakar, tertembak, teraniaya dan lain-lain. Ada pula yang kehilangan pekerjaan, penganiayaan, penculikan dan kekerasan seksual.

    Korban yang menderita kerugian material seperti penjarahan dan perusakan, paling banyak berasal dari etnis Cina. Sedangkan Korban kehilangan pekerjaan dari masyarakat biasa. Korban meninggal versi tim relawan mencapai 1.190 orang, sementara versi Polda dan Kodam Jakarta sekitar 600 orang.

    Jumlah korban perkosaan di Jakarta dan sekitarnya, Medan, serta Surabaya adalah 52 orang. Namun jumlah itu belum mencakup semua korban yang belum terdata. Pola perkosaan yang mencolok dan beberapa kali terjadi adalah pelaku melakukan secara berkelompok dan bergantian pada satu korban (gang rape).

    “Meskipun korban kekerasan tidak semuanya berasal dari etnis Cina, namun sebagian besar kasus kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 lalu diderita oleh perempuan etnis Cina. Korban kekerasan seksual ini pun bersifat lintas kelas sosial,” tulis laporan itu.

    Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) mempublikasikan data bahwa pada tanggal 6 Mei 1998, kerusuhan di Medan, Sumatera Barat, meluas disertai sentimen rasial yang menyasar keturunan Tionghoa. Hal itu menyebabkan warga keturunan Tionghoa pergi menyelamatkan diri ke hotel-hotel di kawasan Danau Toba yang dijaga ketat oleh petugas keamanan.

    Awal Mula Kerusuhan 1998

    Dilansir Tempo, kerusuhan Mei 1998 didahului demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta Barat, yang menuntut diberlakukannya reformasi di tengah keresahan dan rasa frustasi masyarakat menghadapi krisis moneter 1997-1998. 

    Aksi demonstrasi yang awalnya damai itu berubah menjadi aksi kekerasan fisik di mana empat mahasiswa meninggal dunia karena tertembak atau ditembak. Hal itu meningkatkan kemarahan masyarakat pada Orde Baru yang kemudian menggelar aksi demonstrasi di berbagai daerah.

    Kerusuhan pada tanggal 14 Mei 1998 mulai menyasar warga etnis Tionghoa. Toko-toko mereka dijarah, dirusak, dibakar, bahkan penghuninya turut tewas terbakar. Perempuan-perempuan Tionghoa diserang secara fisik dan seksual. Saat itu juga, beredar narasi bohong yang menyatakan etnis Tionghoa-lah penyebab krisis moneter yang diderita rakyat.

    Satu dekade setelah kerusuhan 1998

    Setelah 10 tahun berlalu, pada tahun 2008 Komnas Perempuan membentuk Tim Pelapor Khusus untuk mendokumentasikan pernyataan dari para korban perkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 yang bersedia menceritakan kembali pengalaman pahit mereka, keluarga, dan para pendamping korban.

    Para korban, keluarga, bahkan tenaga kesehatan yang merawat mereka, mendapat ancaman dan dipaksa untuk tidak membahas kekerasan yang mereka alami di depan publik. Hal itu menyebabkan mereka memutuskan terus bungkam. 

    Di sisi lain, pihak-pihak tertentu mempertanyakan kenapa mereka tidak lapor polisi, bahkan meragukan adanya kekerasan dalam kerusuhan Mei 1998. Hal ini semakin menyudutkan para korban, karena seolah-olah kasus-kasus itu tak terungkap karena kesalahan mereka juga.

    Dalam program pendokumentasian itu, para korban, keluarga, saksi, pendamping dan petugas kesehatan yang menangani korban menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998, kebanyakan menyasar keturunan Tionghoa.

    Setelah 22 tahun, penelitian Eunike Mutiara Himawan yang saat itu berstatus PhD candidate, The University of Queensland, Australia, melalui survei juga mengungkapkan korban kekerasan Mei 1998 masih terluka batin dan kenangan buruk mereka kerap terpantik saat mendengar adanya kerusuhan lagi.

    Di sisi lain, anggapan sebagian masyarakat yang secara keliru mengatakan penyebab krisis moneter tahun 1997-1998 adalah etnis Tionghoa juga belum hilang. Hal ini juga menghalangi orang-orang keturunan Tionghoa untuk melepas trauma masa kelam tersebut.

    Kesimpulan

    Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan etnis Tionghoa tidak spesifik menjadi korban kerusuhan Mei 1998 adalah klaim yang keliru. 

    Korban yang menderita kerugian material seperti penjarahan dan perusakan, paling banyak berasal dari etnis Cina. Demikian juga sebagian besar kasus kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 lalu, diderita oleh perempuan etnis Cina.

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini