• Hoaks! Menag umumkan kas masjid dikelola pemerintah

    Sumber:
    Tanggal publish: 28/04/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial Facebook menarasikan bahwa Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan pembentukan rekening kas masjid akan dikelola oleh pemerintah.

    Unggahan tersebut disertai narasi yang menegaskan seolah-olah pemerintah akan mengambil alih pengelolaan dana masjid.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Ungkap fakta: Pembentukan rekening kas masjid yang nanti akan dikelola oleh pemerintah”

    Unggahan tersebut disertai narasi:

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    “Rekening kas masjid akan dikelola Pemerintah”

    Namun, benarkah Menag umumkan kas masjid dikelola pemerintah?



    Hasil Cek Fakta

    Kementerian Agama (Kemenag), dilansir dari ANTARA, menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mengeluarkan kebijakan maupun rencana terkait pengambilalihan pengelolaan kas masjid. Informasi yang beredar tersebut merupakan hoaks.

    Kemenag juga menjelaskan bahwa pengelolaan kas masjid tetap menjadi kewenangan masing-masing pengurus masjid, seperti Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) atau takmir. Pengelolaan tersebut dilakukan secara mandiri berdasarkan kepercayaan jamaah dan tidak diambil alih oleh pemerintah.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Dengan demikian, klaim yang menyebut Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan kas masjid akan dikelola pemerintah adalah informasi yang tidak benar atau hoaks.

    Klaim: Menag umumkan kas masjid dikelola pemerintah

    Rating: Hoaks

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks! Amerika Serikat bakal ambil alih Selat Malaka

    Sumber:
    Tanggal publish: 28/04/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan video di media sosial YouTube mengeklaim bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengambil alih Selat Malaka dari Indonesia.

    Unggahan tersebut menyebut bahwa AS, melalui pernyataan tertentu, menuntut Indonesia menyerahkan kedaulatan atas Selat Malaka, sehingga memicu kekhawatiran publik terkait isu geopolitik dan keamanan wilayah.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “AS UMUMKAN AMBIL ALIH SELAT MALAKA DARI INDONESIA! TRUMP TUNTUT RI TUNDUK SERAHKAN KEDAULATAN NEGARA

    INDONESIA DALAM BAHAYA! AMERIKA MAU AMBIL ALIH SELAT MALAKA DAN WILAYAH UDARA INDONESIA!”

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Namun, benarkah AS akan ambil alih Selat Malaka?



    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi maupun pernyataan resmi dari pemerintah atau media kredibel yang menyebut bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih Selat Malaka.

    Hasil penelusuran menunjukkan bahwa video tersebut identik dengan unggahan YouTube Kompas.com berjudul “AS Dekati Selat Malaka, "Dilema" China di Teritorial Indonesia?” yang diunggah pada (20/4/2026).

    Dalam unggahan tersebut membahas tentang pelayaran kapal perang Amerika Serikat di Selat Malaka pada 18 April 2026.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Dalam konteks aslinya, pelayaran tersebut merupakan bagian dari hak lintas transit (transit passage) yang diatur dalam hukum internasional dan dinyatakan legal. Kegiatan tersebut tidak berkaitan dengan upaya pengambilalihan wilayah.

    Selain itu, dilansir dari ANTARA, Selat Malaka merupakan jalur pelayaran internasional yang dapat dilalui kapal asing sesuai ketentuan dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang telah diratifikasi Indonesia.

    Pemerintah Indonesia juga menegaskan bahwa keberadaan kapal asing di jalur tersebut merupakan bagian dari kebebasan navigasi, bukan bentuk ancaman terhadap kedaulatan negara.

    Dengan demikian, klaim yang menyebut Amerika Serikat akan mengambil alih Selat Malaka dari Indonesia adalah informasi yang tidak berdasar.

    Rating: Amerika Serikat bakal ambil alih Selat Malaka

    Klaim: Hoaks

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks! Purbaya usul MBG diubah jadi bantuan untuk Iran, Palestina, dan Israel

    Sumber:
    Tanggal publish: 28/04/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial Facebook mengeklaim bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihapus dan diganti menjadi bantuan sosial untuk Iran, Palestina, dan Israel.

    Unggahan tersebut juga menyebut bahwa pengalihan anggaran dilakukan agar terhindar dari penyalahgunaan dana di dalam negeri dan dianggap sebagai amal kebaikan.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Viral…… Purbaya Berkata Kepada Prabowo. Izin Pak Prabowo, Bagaimana Jika Kita Hapuskan Program MBG Dan Digantikan Menjadi

    Bantuan Sosial Ke Iran, Bantuan Sosial Ke Palestina, Bantuan Sosial Ke Israel

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Daripada Anak-anak Kita Ker4cunan, Korup5i Dana Di Setiap Provinsi Dan Bisa menjadi Amal Pahala Jika Kita alihkan ke timur tengah Diakhirat Nanti.”

    Namun, benarkah pernyataan tersebut?



    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi maupun pernyataan resmi dari pemerintah atau media kredibel yang menyebut bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa maupun Presiden Prabowo Subianto mengusulkan penghapusan program MBG untuk dialihkan menjadi bantuan sosial ke negara lain.

    Selain itu, gambar yang digunakan dalam unggahan tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan narasi yang beredar.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Faktanya, program MBG justru terus dijalankan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan gizi masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal.

    Program ini juga dinilai memberikan dampak positif, seperti membuka lapangan kerja dan melibatkan pelaku usaha kecil dalam rantai pasok pangan.

    Dengan demikian, klaim yang menyebut Purbaya mengusulkan penghapusan program MBG dan mengalihkannya menjadi bantuan sosial untuk Iran, Palestina, dan Israel merupakan informasi yang tidak benar atau hoaks.

    Rating: Purbaya usul MBG diubah jadi bantuan untuk Iran, Palestina, dan Israel

    Klaim: Hoaks

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks! Indonesia peringkat 5 populasi LGBT terbanyak di dunia

    Sumber:
    Tanggal publish: 28/04/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial Instagram mengeklaim bahwa Indonesia menempati peringkat kelima di dunia dalam jumlah populasi lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) berdasarkan data dari lembaga intelijen Amerika Serikat (CIA).

    Unggahan tersebut menyertakan narasi seolah-olah informasi tersebut berasal dari laporan resmi CIA sehingga dianggap kredibel dan memicu perdebatan di masyarakat.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “INDONESIA RANK 5 DENGAN POPULASI LGBT TERBANYAK DI DUNIA”

    Namun, benarkah Indonesia menempati peringkat 5 populasi LGBT terbanyak di dunia?



    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan data maupun pernyataan resmi dari CIA, pemerintah, atau media kredibel yang menyebut Indonesia berada di peringkat kelima dunia dalam jumlah populasi LGBT.

    Selain itu, CIA tidak memiliki publikasi resmi yang merilis peringkat jumlah populasi LGBT per negara secara global.

    Sebagai perbandingan, data dari World Population Review tahun 2026 menunjukkan negara dengan persentase populasi LGBTQ+ tertinggi antara lain Brasil (14%), Kanada (12%), Swedia (12%), Amerika Serikat (11%), Jerman (11%), dan Spanyol (10%). Indonesia tidak termasuk dalam daftar tersebut.

    Perlu dicatat, data terkait populasi LGBT di berbagai negara juga sulit diukur secara akurat karena tidak semua individu terbuka mengenai identitasnya, terutama di negara dengan tekanan sosial tertentu.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Dengan demikian, klaim yang menyebut Indonesia berada di peringkat kelima dunia dalam jumlah populasi LGBT adalah informasi yang tidak benar.

    Rating: Indonesia peringkat 5 populasi LGBT terbanyak di dunia

    Klaim: Hoaks

    Pewarta: Tim JACX

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini