Some prefer to get sick with pharma drugs that do not heal the body in any way. Nature is full of natural remedies ….the only answer to healing is in nature.
DID YOU KNOW?
Dandelion root is able to kill 98% of cancer cells within 48 hours. Not only that, but it acts as a powerful anti-inflammatory, immune booster, antioxidant and organ detoxifier.
(terjemahan)
Beberapa lebih memilih untuk sakit dengan obat-obatan farmasi yang tidak memberikan kesembuhan pada tubuh dengan bagaimanapun. Alam penuh dengan solusi alami…. satu-satunya jawaban untuk kesembuhan anda adalah ada di alam.
TAHUKAH KAMU?
Akar dandelion mampu membunuh 98% sel kanker dalam waktu 48 jam. Tidak hanya itu, dapat juga bertindak sebagai anti-inflamasi, penguat kekebalan tubuh, antioksidan, dan detoksifikasi organ.
[SALAH] Ekstrak Akar Dandelion Dapat Membunuh 98% Sel Kanker Dalam 48 Jam
Sumber: facebook.comTanggal publish: 25/05/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar postingan di Facebook oleh akun bernama Mark Farnell, dalam isi postingannya tersebut ia memberikan informasi terkait kesehatan. Dikatakan bahwa akar tanaman dandelion dapat membunuh 98% sel kanker pada dalam kurun waktu 48 jam. Tidak hanya itu, informasi tersebut menambahkan jika ekstrak akar dandelion bermanfaat untuk anti-inflamasi, penguat kekebalan tubuh, antioksidan, dan detoksifikasi organ. Postingannya di-likes sebanyak 253 akun dan dibagikan 309 kali.
Setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, klaim bahwa esktrak akar dandelion potensial menyembuhkan kanker adalah palsu. Tidak ada bukti empiris pada pasien bahwa akar dandelion dapat menyembuhkan kanker.
Dilansir dari USA Today, klaim yang sama beredar dalam bentuk artikel pada tahun 2016, dengan judul “Scientists Find Root That Kills 98% of Cancer Cells in Only 48 Hours” (Ilmuan menemukan bahwa akar dandelion dapat membunuh 98% sel kanker dalam waktu 48 jam). Dalam artikel tersebut awalnya diceritakan seorang pria berusia 72 tahun bernama John Di Carlo, yang sembuh setelah meminum ekstrak akar dandelion.
Kejadian ini menginspirasi sejumlah peneliti di Universitas Windsor, Ontario, Kanada untuk menginvestigasi potensi ekstrak akar dandelion sebagai anti kanker. Dalam studi yang dipublikasikan tahun 2016 tersebut menghasilkan temuan bahwa, ekstrak akar dandelion dapat membunuh 95% sel kanker dalam waktu 48 jam pada usus besar. Meski begitu, penelitian ini diujikan pada TIKUS bukan manusia. Tikus yang digunakan sebagai percobaan awalnya ditanamkan sel tumor dan hasil laboratorium membuktikan bahwa ekstrak akar dandelion dapat memperlambat pertumbuhan sel tumor pada tikus tersebut.
Selama ini tidak ada pengujian yang dilakukan pada tubuh manusia yang mengidap kanker. Siyaram Pandey, Profesor Kimia dan Biokimia yang juga berkontribusi pada studi ekstrak akar dandelion sebagai anti kanker, menyatakan:
“Memang sebagian besar sel (kanker) mati dalam waktu 48 jam, tapi bukan berarti pasien yang mengonsumsi akar dandelion akan sembuh dalam 48 jam,” ujarnya pada USA Today.
Martin Ledwick, Kepala Informasi Perawat Kanker di Cancer Research UK, menambahkan:
“Tidak ada bukti ilmiah bahwa ekstrak dandelion adalah obat kanker yang efektif pada manusia. Setiap pengobatan baru yang potensial perlu melalui uji coba yang ketat pada manusia sebelum dinyatakan keamanan dan keefektifannya, jika sudah teruji, dapat ditetapkan. Kami akan sangat menyarankan siapa pun yang mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen apa pun atau perawatan yang tidak terbukti untuk membicarakan hal ini dengan dokter mereka terlebih dahulu”.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa klaim Mark Farnell adalah Hoaks dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.
Setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, klaim bahwa esktrak akar dandelion potensial menyembuhkan kanker adalah palsu. Tidak ada bukti empiris pada pasien bahwa akar dandelion dapat menyembuhkan kanker.
Dilansir dari USA Today, klaim yang sama beredar dalam bentuk artikel pada tahun 2016, dengan judul “Scientists Find Root That Kills 98% of Cancer Cells in Only 48 Hours” (Ilmuan menemukan bahwa akar dandelion dapat membunuh 98% sel kanker dalam waktu 48 jam). Dalam artikel tersebut awalnya diceritakan seorang pria berusia 72 tahun bernama John Di Carlo, yang sembuh setelah meminum ekstrak akar dandelion.
Kejadian ini menginspirasi sejumlah peneliti di Universitas Windsor, Ontario, Kanada untuk menginvestigasi potensi ekstrak akar dandelion sebagai anti kanker. Dalam studi yang dipublikasikan tahun 2016 tersebut menghasilkan temuan bahwa, ekstrak akar dandelion dapat membunuh 95% sel kanker dalam waktu 48 jam pada usus besar. Meski begitu, penelitian ini diujikan pada TIKUS bukan manusia. Tikus yang digunakan sebagai percobaan awalnya ditanamkan sel tumor dan hasil laboratorium membuktikan bahwa ekstrak akar dandelion dapat memperlambat pertumbuhan sel tumor pada tikus tersebut.
Selama ini tidak ada pengujian yang dilakukan pada tubuh manusia yang mengidap kanker. Siyaram Pandey, Profesor Kimia dan Biokimia yang juga berkontribusi pada studi ekstrak akar dandelion sebagai anti kanker, menyatakan:
“Memang sebagian besar sel (kanker) mati dalam waktu 48 jam, tapi bukan berarti pasien yang mengonsumsi akar dandelion akan sembuh dalam 48 jam,” ujarnya pada USA Today.
Martin Ledwick, Kepala Informasi Perawat Kanker di Cancer Research UK, menambahkan:
“Tidak ada bukti ilmiah bahwa ekstrak dandelion adalah obat kanker yang efektif pada manusia. Setiap pengobatan baru yang potensial perlu melalui uji coba yang ketat pada manusia sebelum dinyatakan keamanan dan keefektifannya, jika sudah teruji, dapat ditetapkan. Kami akan sangat menyarankan siapa pun yang mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen apa pun atau perawatan yang tidak terbukti untuk membicarakan hal ini dengan dokter mereka terlebih dahulu”.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa klaim Mark Farnell adalah Hoaks dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).
Informasi Palsu. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan ekstrak akar dandelion dapat membunuh sel kanker. Adapun penelitian yang selama ini digunakan untuk pembuktian adalah percobaan menggunakan tikus, bukan manusia.
Informasi Palsu. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan ekstrak akar dandelion dapat membunuh sel kanker. Adapun penelitian yang selama ini digunakan untuk pembuktian adalah percobaan menggunakan tikus, bukan manusia.
Rujukan
[SALAH] Pengumuman CPNS Kemenkumham Beserta Link Pendaftarannya
Sumber: Media SosialTanggal publish: 25/05/2021
Berita
Sebagai Insan Pengayoman
Daftarkan diri kalian melalui seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2021
Daftar secara online di:
https://sscasn.bkn.go.id
Tanggal pendaftaran:
31 Mei – 21 Juni 2021
Gratis
Tidak Dipungut Biaya
Info Selengkapnya:
https://cpns.kemenkumham.go.id
@cpnskumham
@kemekumham_RI
Daftarkan diri kalian melalui seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2021
Daftar secara online di:
https://sscasn.bkn.go.id
Tanggal pendaftaran:
31 Mei – 21 Juni 2021
Gratis
Tidak Dipungut Biaya
Info Selengkapnya:
https://cpns.kemenkumham.go.id
@cpnskumham
@kemekumham_RI
Hasil Cek Fakta
Beredar flyer dan infografis di media sosial yang menginformasikan pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2021, oleh Kementrian Hukum dan HAM. Dalam flyer yang beredar tersebut diinformasikan pembukaan pendaftaran CPNS dimulai pada 31 Mei hingga 21 Juni 2021, berikut juga disertakan link pendaftaran secara online.
Berdasarkan penelusuran terkait, flyer yang menginformasi pendaftaran CPNS tersebut palsu, karena tidak resmi dikeluarkan oleh Kemenkumham. Sekretaris Jenderal Kemenkuham Andap Budhi
Revianto angkat bicara soal beredarnya flyer dan infografis di tengah masyarakat. Andap menyatakan bahwa Kemenkumham sampai saat ini belum mengeluarkan secara resmi informasi pendaftaran CPNS.
“Memang benar kami akan menyelenggarakan proses penerimaan CPNS, tetapi sampai saat ini kami belum sekali pun secara resmi menyampaikan informasi terkait hal tersebut kepada publik,” kata Andap pada Kompas.com, Minggu (23/5/21).
Ia menambahkan, informasi soal pendaftaran CPNS yang telah beredar di media sosial juga tidak sepenuhnya disalahkan namun juga tidak sepenuhnya dibenarkan. Hal ini dikarenakan menurutnya, bisa saja ada oknum yang sengaja untuk melakukan penipuan secara online.
“Terkait beragam informasi mengenai penerimaan CPNS Kemenkumham, saya meminta masyarakat untuk berhati-hati agar tidak tertipu oleh oknum yang memanfaatkan momen ini,” ungkapnya.
Informasi CPNS di Kemenkumham akan dikeluarkan secara resmi pada 30 Mei 2021, melalui akun-akun resmi terverifikasi, yakni web resmi Kemenkumham, yakni cpns.kemenkumham.go.id, atau akun resmi di Instagram, yaitu @cpns.kumham dan @kemenkumhamri. Adapun informasi yang dikeluarkan selain dari web atau akun yang telah disebutkan, maka dapat dikatakan palsu.
Untuk instagram, beberapa di antaranya misalnya @cpns_kumham, @cpnskumham, @info.cpnskumham, dan lain-lain. Semuanya, kata Andap, adalah palsu.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa pengumuman pendaftaran CPNS Kemenkumham yang beredar di media sosial, sebelum tanggal 30 Mei adalah Hoax dan termasuk kategori Konten Tiruan.
Berdasarkan penelusuran terkait, flyer yang menginformasi pendaftaran CPNS tersebut palsu, karena tidak resmi dikeluarkan oleh Kemenkumham. Sekretaris Jenderal Kemenkuham Andap Budhi
Revianto angkat bicara soal beredarnya flyer dan infografis di tengah masyarakat. Andap menyatakan bahwa Kemenkumham sampai saat ini belum mengeluarkan secara resmi informasi pendaftaran CPNS.
“Memang benar kami akan menyelenggarakan proses penerimaan CPNS, tetapi sampai saat ini kami belum sekali pun secara resmi menyampaikan informasi terkait hal tersebut kepada publik,” kata Andap pada Kompas.com, Minggu (23/5/21).
Ia menambahkan, informasi soal pendaftaran CPNS yang telah beredar di media sosial juga tidak sepenuhnya disalahkan namun juga tidak sepenuhnya dibenarkan. Hal ini dikarenakan menurutnya, bisa saja ada oknum yang sengaja untuk melakukan penipuan secara online.
“Terkait beragam informasi mengenai penerimaan CPNS Kemenkumham, saya meminta masyarakat untuk berhati-hati agar tidak tertipu oleh oknum yang memanfaatkan momen ini,” ungkapnya.
Informasi CPNS di Kemenkumham akan dikeluarkan secara resmi pada 30 Mei 2021, melalui akun-akun resmi terverifikasi, yakni web resmi Kemenkumham, yakni cpns.kemenkumham.go.id, atau akun resmi di Instagram, yaitu @cpns.kumham dan @kemenkumhamri. Adapun informasi yang dikeluarkan selain dari web atau akun yang telah disebutkan, maka dapat dikatakan palsu.
Untuk instagram, beberapa di antaranya misalnya @cpns_kumham, @cpnskumham, @info.cpnskumham, dan lain-lain. Semuanya, kata Andap, adalah palsu.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa pengumuman pendaftaran CPNS Kemenkumham yang beredar di media sosial, sebelum tanggal 30 Mei adalah Hoax dan termasuk kategori Konten Tiruan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).
Flyer Palsu. Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) BELUM secara RESMI mengeluarkan flyer atau infografis pengumuman untuk pendaftaran CPNS di Kementriannya. Adapun pendaftaran CPNS akan diumumkan secara resmi pada 30 Mei 2021.
Flyer Palsu. Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) BELUM secara RESMI mengeluarkan flyer atau infografis pengumuman untuk pendaftaran CPNS di Kementriannya. Adapun pendaftaran CPNS akan diumumkan secara resmi pada 30 Mei 2021.
Rujukan
[SALAH] TNI-Polri Bunuh 3 Wanita di Kabupaten Puncak Papua (Ilaga)
Sumber: facebook.comTanggal publish: 25/05/2021
Berita
“Kabupaten Puncak Papua (Ilaga) Darurat Operasi Militer Indonesia”
Hasil Cek Fakta
Beberapa waktu lalu, sempat beredar informasi dari berbagai akun media sosial dan juga salah satu platform berita online yaitu suarapapua.com mengenai penembakan 3 orang wanita di Kabupaten Puncak (Ilaga) Papua oleh TNI-Polri.
Seperti yang dimuat pada salah satu akun grup facebook, KNPB Media Rakyat yang mengutip informasi dari suarapapua.com menyatakan bahwa operasi gabungan TNI-Polri melakukan berbagai pemaksaan, seperti penyisiran di setiap rumah warga dan dipaksa menunjukkan keberadaan OPM-TPNPB, terdapat pula beberapa warga yang ditangkap, termasuk pelajar/siswa, serta masyarakat diwajibkan memasang bendera putih di halaman rumah. Tidak hanya itu, militer juga dituduh menyerang rumah warga, menjatuhkan puluhan roket, serta melakukan penembakan yang membabi buta sehingga akhirnya menewaskan 3 wanita muda berumur 12, 16, dan 20 tahun.
Berdasarkan hasil pemeriksaan terkait kebenaran informasi tersebut, ditemukanlah fakta bahwa penembakan 3 orang wanita di Kabupaten Puncak (Ilaga), Papua adalah informasi palsu. Hal tersebut ditegaskan oleh Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III serta Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes M Iqbal Alqudussy yang pada saat ini sedang berada di Ilaga dengan Dandim dan Kapolres yang menyatakan bahwa tidak ada peristiwa sebagaimana informasi yang telah beredar saat ini.
Selanjutnya, dilansir dari m.merdeka.com redaksi Suara Papua mengaku tidak melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada Satgas Nemangkawi di Mabes Polri maupun Kogabwilhan III di Timika terkait berita yang telah diterbitkan. Namun, redaksi hanya mengutip seorang sumber yang tidak disebutkan namanya.
Maka dari itu, dilansir dari suarapapua.com Redaksi Suara Papua menyampaikan permintaan maaf kepada Pasukan Gabungan TNI-Polri yang tergabung dalam Satuan Tugas Nemangkawi yang sedang melakukan operasi penegakan hukum di Kabupaten Puncak, serta menyampaikan permintaan maaf pula kepada pembaca yang secara langsung menerima informasi dan memunculkan berbagai macam asumsi atas informasi terkait. Atas dasar tersebut, maka artikel terkait yang sebelumnya telah diterbitkan oleh suarapapua.com itupun telah dicabut, sehingga saat ini artikel tersebut tidak bisa ditemukan dalam platform berita online suarapapua.com.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait penembakan 3 orang wanita muda Papua adalah hoax atau kategori misleading atau konten menyesatkan.
Seperti yang dimuat pada salah satu akun grup facebook, KNPB Media Rakyat yang mengutip informasi dari suarapapua.com menyatakan bahwa operasi gabungan TNI-Polri melakukan berbagai pemaksaan, seperti penyisiran di setiap rumah warga dan dipaksa menunjukkan keberadaan OPM-TPNPB, terdapat pula beberapa warga yang ditangkap, termasuk pelajar/siswa, serta masyarakat diwajibkan memasang bendera putih di halaman rumah. Tidak hanya itu, militer juga dituduh menyerang rumah warga, menjatuhkan puluhan roket, serta melakukan penembakan yang membabi buta sehingga akhirnya menewaskan 3 wanita muda berumur 12, 16, dan 20 tahun.
Berdasarkan hasil pemeriksaan terkait kebenaran informasi tersebut, ditemukanlah fakta bahwa penembakan 3 orang wanita di Kabupaten Puncak (Ilaga), Papua adalah informasi palsu. Hal tersebut ditegaskan oleh Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III serta Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes M Iqbal Alqudussy yang pada saat ini sedang berada di Ilaga dengan Dandim dan Kapolres yang menyatakan bahwa tidak ada peristiwa sebagaimana informasi yang telah beredar saat ini.
Selanjutnya, dilansir dari m.merdeka.com redaksi Suara Papua mengaku tidak melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada Satgas Nemangkawi di Mabes Polri maupun Kogabwilhan III di Timika terkait berita yang telah diterbitkan. Namun, redaksi hanya mengutip seorang sumber yang tidak disebutkan namanya.
Maka dari itu, dilansir dari suarapapua.com Redaksi Suara Papua menyampaikan permintaan maaf kepada Pasukan Gabungan TNI-Polri yang tergabung dalam Satuan Tugas Nemangkawi yang sedang melakukan operasi penegakan hukum di Kabupaten Puncak, serta menyampaikan permintaan maaf pula kepada pembaca yang secara langsung menerima informasi dan memunculkan berbagai macam asumsi atas informasi terkait. Atas dasar tersebut, maka artikel terkait yang sebelumnya telah diterbitkan oleh suarapapua.com itupun telah dicabut, sehingga saat ini artikel tersebut tidak bisa ditemukan dalam platform berita online suarapapua.com.
Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait penembakan 3 orang wanita muda Papua adalah hoax atau kategori misleading atau konten menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta) Informasi tersebut palsu. Faktanya Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes M Iqbal Alqudussy menegaskan bahwa berita tersebut hoax.
Rujukan
Tidak Terbukti, Cina Telah Persiapkan Perang Dunia III dengan Senjata Biologis
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 25/05/2021
Berita
Klaim bahwa Cina telah mempersiapkan Perang Dunia III dengan memakai senjata biologis beredar di Instagram. Menurut unggahan di Instagram tersebut, informasi ini berasal dari sebuah dokumen rahasia yang dibuat oleh para ilmuwan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Cina. Dokumen itu mengungkap bahwa Cina telah meneliti manipulasi penyakit untuk membuat senjata, termasuk virus Corona penyebab Covid-19, sejak 2015.
"China dilaporkan telah mempersiapkan Perang Dunia III dengan memakai senjata biologis selama enam tahun terakhir. Sebuah dokumen rahasia yang dibuat oleh para ilmuwan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA China) itu mengungkap mereka sudah lama meneliti manipulasi penyakit untuk membuat senjata sejak 2015, termasuk virus corona SARS yang menimbulkan COVID-19," demikian bunyi klaim tersebut.
Akun ini membagikan klaim itu pada 10 Mei 2021. Akun tersebut menulis, "So, they already started it?" Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan lebih dari 92 ribulikedan 2.600 komentar.
Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim yang tidak terbukti terkait Cina.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, klaim itu berasal dari sebuah buku yang terbit pada 2015. Namun, buku tersebut mendapatkan banyak kritik karena berisi teori konspirasi dan menyesatkan. Sejauh ini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Cina telah mempersiapkan senjata biologis, termasuk virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.
Munculnya klaim itu bermula dari terbitnya artikel oleh situs media yang berbasis di Australia, The Australian, pada 7 Mei 2021 yang berjudul "‘Virus warfare’ in China military documents". Artikel ini kemudian dikutip oleh sejumlah situs media lain.
Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), artikel itu mengupas buku yang terbit pada 2015 dan masih diperjualbelikan secara online sampai sekarang, berjudul "The Unnatural Origin of Sars dan Species New Species of Man-Made Virus as Genetic Bioweapons". Namun, buku ini membahas apakah virus Corona dapat dipakai oleh teroris sebagai senjata melawan Cina, bukan tentang bagaimana Cina menjadikan virus Corona sebagai senjata biologis.
Buku itu diterbitkan lebih dari satu dekade setelah munculnyaSevere Acute Respiratory Syndrome( SARS ) yang disebabkan oleh virus Corona bernama SARS-CoV pada 2003. Penulis utama buku itu adalah Xu Dezhong, profesor penyakit menular dari Air Force Medical University di Xian, Shaanxi, Cina. “Berdasarkan berbagai bukti epidemiologi, biologi molekuler, dan biologi evolusioner, buku ini menyimpulkan bahwa SARS-CoV mungkin memiliki asal yang tidak alami, atau buatan manusia,” kata penulis.
Terdapat satu bab khusus dalam buku itu yang membahas kemungkinan metode untuk membuat senjata biologis. Tapi sebagian besar isi bab ini berasal dari dokumen militer Amerika Serikat yang tidak diklasifikasikan, yang dirancang oleh Michael Ainscough, seorang kolonel di United States Air Force (USAF) Counter Proliferation Center.
Dalam buku itu, Dezhong menyatakan menerjemahkan makalah Ainscough karena ditulis setahun sebelum munculnya wabah SARS di Cina. Buku ini tidak menuduh secara langsung bahwa AS menciptakan SARS, tapi menunjukkan upaya AS dalam penelitian, pengembangan, dan penyebaran senjata biologis menggunakan metode genetik.
Penyebab SARS
Dikutip dari situs resmi Johns Hopkins Medicine, SARS disebabkan oleh virus yang dikenal dengan nama SARS-associated coronavirus atau SARS-CoV. Umumnya, virus Corona menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas ringan hingga sedang pada manusia, tapi juga dapat menyebabkan penyakit pernapasan, gastrointestinal, hati, dan neurologis pada hewan.
Ketika bergegas menghentikan penyebaran SARS pada 2003, para peneliti mempelajari lebih banyak karakteristik SARS-CoV, yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya. Meskipun mereka masih belum memastikan asal penyakit tersebut, banyak yang percaya bahwa SARS-CoV pertama kali muncul pada hewan, kemudian menyebar ke manusia.
Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa SARS adalah senjata biologis yang juga menyebabkan Covid-19.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Cina telah mempersiapkan Perang Dunia III dengan memakai senjata biologis, tidak terbukti. Klaim ini bermula dari artikel yang membahas buku berjudul "The Unnatural Origin of Sars dan Species New Species of Man-Made Virus as Genetic Bioweapons" yang terbit 2015. Namun, buku itu menyinggung tentang apakah virus Corona dapat digunakan oleh teroris sebagai senjata melawan Cina, bukan tentang bagaimana Cina menjadikan virus Corona sebagai senjata biologis. Tidak ada pula bukti yang disuguhkan yang mendukung klaim ini.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/cina
- https://www.tempo.co/tag/perang-dunia-iii
- https://www.instagram.com/p/COru9Rmlz0q/
- https://www.tempo.co/tag/virus-corona
- https://s.id/AQ0OI
- https://www.scmp.com/news/china/science/article/3132949/chinese-book-bottom-sars-bioweapons-claims
- https://www.tempo.co/tag/sars
- https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/severe-acute-respiratory-syndrome-sars
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://www.tempo.co/tag/senjata-biologis
Halaman: 6689/8578



