~ADA YG PAHAM DAN TAU SIAPA ITU….MUSTAFA_KEMAL_ATTATURK…
~ YG MATINYA TIDAK BISA DI KUBUR DALAM GALIAN LIANG LAHATNYA AKHIRNYA DI KUBUR DI ATAS TANAH…
~ KARNA SEMASA HIDUPNYA PUNYA KEKUASAAN TPI DI PAKAI UTK MENGHANCURKAN ISLAM…
~ SAYA MAH OGAH MENGHARGAI ORG YG SUDAH MENGHANCURKAN AGAMA ISLAM
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣..MAKA_JADI_PENGUASA_JANGANLAH_SOMBONG_DAN_SEMAUNYA_AJA_SEOLAH_HIDUPMU_ABADI..
[SALAH] Menggunakan Kekuasaan Untuk Menghancurkan Islam, Mayat Mustafa Kemal Ataturk Tidak Diterima Bumi
Sumber: facebook.comTanggal publish: 23/03/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Sebuah unggahan di Facebook menampilkan gambar Presiden Jokowi yang sedang mengunjungi makam Mustafa Kemal Ataturk di Mausoleum Ataturk. Unggahan ini menyebutkan bahwa Mustafa Kemal Ataturk pada saat kematiannya, tidak diterima di liang lahat karena semasa memiliki kekuasaan, dipakai untuk menghancurkan Islam.
Namun setelah ditelusuri, klaim mengenai kematian Kemal Ataturk yang tidak diterima di liang lahat belum terbukti dalam catatan sejarah apapun. Klaim ini masih bersifat dugaan dan spekulasi beberapa orang. Kabar lain tentang Mustafa Kemal ternyata sudah pernah beredar sejak 2016 dengan beberapa variasi lain yang berhubungan dengan kisah penyebab kematiannya.
Melansir dari artikel Kompas.com yang berjudul “Biografi Tokoh Dunia: Mustafa Kemal Ataturk, Presiden Pertama Turki” yang dipublikasikan pada 9 November 2018, terdapat penjelasan singkat mengenai kehidupan sampai kematian Mustafa Kemal Ataturk.
Artikel ini menjelaskan bahwa pada tahun 1937, Mustafa Kemal mengalami penurunan kesehatan. Saat sedang dalam perjalanan ke Yalova pada tahun 1938, ia menderita penyakit serius sehingga harus kembali ke Istanbul untuk menjalani perawatan. Saat itu, Mustafa Kemal dinyatakan menderita sirosis hati. Mustafa Kemal pun meninggal pada 10 November 1938 di Istana Dolmabahce dan dimakamkan di Museum Etnografi Ankara yang kemudian dipindahkan ke sebuah sarkofagus seberat 42 ton di Mausoleum Anitkabir pada 10 November 1953. Pada biografi Mustafa Kemal maupun sumber yang valid lainnya, belum ada yang dapat membuktikan klaim kisah azab Mustafa Kemal tersebut, termasuk dirinya yang tidak diterima di liang lahat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Mustafa Kemal Ataturk tidal diterima di liang lahat saat kematiannya karena semasa hidup, menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan Islam adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Namun setelah ditelusuri, klaim mengenai kematian Kemal Ataturk yang tidak diterima di liang lahat belum terbukti dalam catatan sejarah apapun. Klaim ini masih bersifat dugaan dan spekulasi beberapa orang. Kabar lain tentang Mustafa Kemal ternyata sudah pernah beredar sejak 2016 dengan beberapa variasi lain yang berhubungan dengan kisah penyebab kematiannya.
Melansir dari artikel Kompas.com yang berjudul “Biografi Tokoh Dunia: Mustafa Kemal Ataturk, Presiden Pertama Turki” yang dipublikasikan pada 9 November 2018, terdapat penjelasan singkat mengenai kehidupan sampai kematian Mustafa Kemal Ataturk.
Artikel ini menjelaskan bahwa pada tahun 1937, Mustafa Kemal mengalami penurunan kesehatan. Saat sedang dalam perjalanan ke Yalova pada tahun 1938, ia menderita penyakit serius sehingga harus kembali ke Istanbul untuk menjalani perawatan. Saat itu, Mustafa Kemal dinyatakan menderita sirosis hati. Mustafa Kemal pun meninggal pada 10 November 1938 di Istana Dolmabahce dan dimakamkan di Museum Etnografi Ankara yang kemudian dipindahkan ke sebuah sarkofagus seberat 42 ton di Mausoleum Anitkabir pada 10 November 1953. Pada biografi Mustafa Kemal maupun sumber yang valid lainnya, belum ada yang dapat membuktikan klaim kisah azab Mustafa Kemal tersebut, termasuk dirinya yang tidak diterima di liang lahat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Mustafa Kemal Ataturk tidal diterima di liang lahat saat kematiannya karena semasa hidup, menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan Islam adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Klaim tersebut salah. Ini merupakan hoaks berulang yang telah muncul sejak tahun 2016 lalu. Sampai hari ini, tidak ada bukti sejarah apapun yang dapat menjelaskan dan membuktikan kebenaran dari hoaks ini.
Klaim tersebut salah. Ini merupakan hoaks berulang yang telah muncul sejak tahun 2016 lalu. Sampai hari ini, tidak ada bukti sejarah apapun yang dapat menjelaskan dan membuktikan kebenaran dari hoaks ini.
Rujukan
[SALAH] Karena Kelelahan dan Kedinginan Seorang Anak Meninggal di Pinggir Jalan
Sumber: Tiktok.comTanggal publish: 23/03/2021
Berita
“Perjuangan hidup , seorang anak Pencari nafkah meninggal dunia diketahui Karena kelelahan dan kedinginan. Semoga Husnul Khotimah ya Allah😭😭 “
Hasil Cek Fakta
Akun tiktok bernama @purwantojoko???? memposting sebuah video seseorang anak kecil yang diklaim meninggal dunia karena kelelahan dan kedinginan.
Setelah ditelusuri, anak kecil tersebut bernama Dedi Putra Anggara berusia 12 tahun. Pemulung kecil yang sempat viral tersebut ternyata tertidur lelap karena kelelahan. Angga ditemukan di Kawasan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat. Video tersebut merupakan hoax yang kembali beredar.
Dengan demikian klaim bahwa anak kecil meninggal dunia karena kelelahan tidak benar dan anak kecil tersebut hanya tertidur kelelahan sehingga masuk dalam kategori konten yang salah.
Setelah ditelusuri, anak kecil tersebut bernama Dedi Putra Anggara berusia 12 tahun. Pemulung kecil yang sempat viral tersebut ternyata tertidur lelap karena kelelahan. Angga ditemukan di Kawasan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat. Video tersebut merupakan hoax yang kembali beredar.
Dengan demikian klaim bahwa anak kecil meninggal dunia karena kelelahan tidak benar dan anak kecil tersebut hanya tertidur kelelahan sehingga masuk dalam kategori konten yang salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (Institut Agama Islam Negeri Surakarta).
Hal tersebut tidak benar. Faktanya, Anak tersebut hanya tertidur lelap dan video tersebut merupakan hoax yang kembali beredar.
Hal tersebut tidak benar. Faktanya, Anak tersebut hanya tertidur lelap dan video tersebut merupakan hoax yang kembali beredar.
Rujukan
[SALAH] Tentara Angkatan Laut Australia Mengalami Efek Samping Parah setelah Divaksin Covid-19
Sumber: facebook.comTanggal publish: 23/03/2021
Berita
[diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia]
“Hanya menginformasikan…”
NARASI DALAM GAMBAR:
[diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia]
“BREAKING: Kapal perang HMAS Sydney berhenti beroperasi karena sekitar 80% tentara yang bertugas mengalami efek samping yang parah setelah mengikuti vaksinasi Covid-19. Efek sampingnya sama dengan yang dialami oleh Greg Hunt setelah ia divaksinasi.
Kini, delapan orang tentara berada dalam ICU dan doa kami beserta dengan mereka di kondisi penuh ketidakpastian ini.”
“Hanya menginformasikan…”
NARASI DALAM GAMBAR:
[diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia]
“BREAKING: Kapal perang HMAS Sydney berhenti beroperasi karena sekitar 80% tentara yang bertugas mengalami efek samping yang parah setelah mengikuti vaksinasi Covid-19. Efek sampingnya sama dengan yang dialami oleh Greg Hunt setelah ia divaksinasi.
Kini, delapan orang tentara berada dalam ICU dan doa kami beserta dengan mereka di kondisi penuh ketidakpastian ini.”
Hasil Cek Fakta
Pengguna Facebook dengan nama pengguna Kym Hart mengunggah sebuah foto hasil tangkapan layar (18/3) yang menyatakan bahwa 80% tentara Angkatan Laut Australia yang bertugas di kapal perang HMAS Sydney tengah mengalami efek samping parah setelah divaksin Covid-19. Unggahan tersebut juga menyatakan bahwa delapan orang dari 80% tentara tersebut tengah dirawat di ICU.
Kementerian Pertahanan Australia, melalui pernyataan yang diunggah di situs resminya, menegaskan bahwa seluruh tentara Angkatan Laut Australia yang bertugas di kapal perang HMAS Sydney hanya mengalami efek samping ringan hingga menengah yang tidak membutuhkan perawatan medis. Kementerian Pertahanan Australia juga menyatakan bahwa kapal perang HMAS Sydney telah berlayar menuju Amerika Serikat pada 11 Maret 2021 waktu setempat dengan anggota kru lengkap.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh pengguna Facebook dengan nama pengguna Kym Hart tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kementerian Pertahanan Australia, melalui pernyataan yang diunggah di situs resminya, menegaskan bahwa seluruh tentara Angkatan Laut Australia yang bertugas di kapal perang HMAS Sydney hanya mengalami efek samping ringan hingga menengah yang tidak membutuhkan perawatan medis. Kementerian Pertahanan Australia juga menyatakan bahwa kapal perang HMAS Sydney telah berlayar menuju Amerika Serikat pada 11 Maret 2021 waktu setempat dengan anggota kru lengkap.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh pengguna Facebook dengan nama pengguna Kym Hart tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Kementerian Pertahanan Australia menyatakan bahwa seluruh tentara Angkatan Laut Australia yang bertugas di kapal perang HMAS Sydney hanya mengalami efek samping ringan hingga menengah yang tidak membutuhkan perawatan medis.
= = = = =
Kementerian Pertahanan Australia menyatakan bahwa seluruh tentara Angkatan Laut Australia yang bertugas di kapal perang HMAS Sydney hanya mengalami efek samping ringan hingga menengah yang tidak membutuhkan perawatan medis.
= = = = =
Rujukan
- https://news.defence.gov.au/media/on-the-record/statement-incorrect-social-media-commentary-regarding-adf-vaccinations
- https://www.aap.com.au/australian-navy-vaccine-side-effects-post-is-all-at-sea/
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4512096/cek-fakta-tidak-benar-anggota-al-australia-alami-efek-samping-berat-usai-divaksin-covid-19
Sesat, Pesan Berantai tentang 4 Vaksin Covid-19 Cina Duduki Peringkat Teratas Vaksin Teraman
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 22/03/2021
Berita
Pesan berantai yang berisi klaim bahwa vaksin Covid-19 dari Cina menduduki empat peringkat teratas vaksin paling aman di antara vaksin-vaksin Covid-19 lainnya yang sudah digunakan beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Menurut pesan itu, informasi tersebut berasal dari situs media asing The New York Times edisi 5 Februari 2021, yang tautannya juga dicantumkan dalam pesan ini.
"Report by The New York Times on Feb 5, 2021. In the safety ranking, the top four are all Chinese vaccines: Sinopharm (China), Sinovac (China), Kexing (China), Can Sino (China), AstraZeneca (UK), Pfizer (United States and Germany), Modena (United States), Johnson & Johnson (United States), Novavax (United States), Satellite 5 (Russia). Sinopharm has two vaccines, ranking first and second respectively," demikian narasi dalam pesan itu.
Gambar tangkapan layar pesan berantai yang beredar di WhatsApp yang berisi klaim sesat terkait vaksin Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo membandingkan narasi dalam pesan berantai itu dengan isi artikel The New York Times edisi 5 Februari 2021 yang tautannya juga dicantumkan dalam pesan ini. Namun, artikel berjudul "It’s Time to Trust China’s and Russia’s Vaccines" tersebut tidak menyebut vaksin dari Cina menduduki empat peringkat teratas vaksin paling aman di antara semua vaksin yang telah beredar.
Artikel opini itu ditulis oleh Achal Prabhala dan Chee Yoke Ling. Prabhala adalah aktivis kesehatan masyarakat asal India yang mempromosikan distribusi vaksin Covid-19. Sementara Ling adalah seorang pengacara publik dari Malaysia yang telah bekerja selama satu dekade untuk meningkatkan akses terhadap obat-obatan di Cina.
Dalam artikel tersebut, tertulis pendapat keduanya tentang bagaimana vaksin-vaksin yang diproduksi oleh Cina dan Rusia (sebentar lagi India) semakin banyak digunakan untuk mengatasi kekurangan vaksin asal Amerika Serikat dan Eropa, seperti Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca, yang dianggap paling baik.
Meskipun awalnya vaksin dari Cina dan Rusia diragukan kemampuannya, sejumlah publikasi di jurnal sains menunjukkan bahwa vaksin dari dua negara ini aman dan bermanfaat. Vaksin Cina dan Rusia kini banyak didistribusikan ke negara-negara berkembang yang tidak memiliki banyak akses terhadap vaksin-vaksin Barat.
Menurut People's Vaccine Alliance, sebuah koalisi organisasi yang menyerukan akses yang lebih luas dan adil terhadap vaksin di seluruh dunia, sebagian besar vaksin yang diproduksi Barat telah dibeli oleh negara-negara kaya mulai awal Desember, semua vaksin Moderna dan 96 persen vaksin Pfizer.
Gavi, sebuah aliansi vaksin, memiliki beberapa vaksin Barat yang telah dipesan. Namun, pada awal Februari, mereka diperkirakan hanya dapat mengirimkan 110-122 juta dosis vaksin AstraZeneca dan 1,2 juta dosis dari Pfizer selama kuartal pertama tahun ini. Padahal, ada 145 negara yang telah mendaftar ke Gavi untuk mendapatkan vaksin Covid-19.
Terlebih lagi, sebagian besar perusahaan farmasi besar Barat telah menolak melisensikan vaksin mereka kepada produsen non-Barat, dan beberapa negara kaya memblokir proposal dari India dan Afrika Selatan, karena Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk sementara menangguhkan beberapa perlindungan kekayaan intelektual untuk vaksin dan perawatan yang terkait Covid-19.
Di sisi lain, menurut analisis data dari firma analitik Airfinity, Sinovac telah menandatangani kesepakatan untuk mengekspor lebih dari 350 juta dosis vaksinnya ke 12 negara tahun ini; Sinopharm, sekitar 194 juta dosis ke 11 negara; dan Sputnik V, sekitar 400 juta dosis ke 17 negara.
Ketiga produsen tersebut telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka akan memiliki kapasitas untuk memproduksi masing-masing hingga 1 miliar dosis pada 2021. Ketiganya pun telah melisensikan vaksin mereka ke produsen lokal di beberapa negara.
Berikut ini sebagian terjemahan dari artikel tersebut:
Awalnya, vaksin Cina dan Rusia diragukan di Barat dan media global lainnya, sebagian karena persepsi bahwa mereka lebih inferior ketimbang vaksin yang diproduksi oleh Moderna, Pfizer, atau AstraZeneca. Dan persepsi itu tampaknya sebagian berasal dari fakta bahwa Cina dan Rusia adalah negara otoriter.
Tapi, berdasarkan bukti yang telah terkumpul hingga saat ini, vaksin dari negara-negara tersebut juga bekerja dengan baik. Pekan ini, jurnal medis terkemuka The Lancet menerbitkan hasil sementara dari uji coba tahap akhir yang menunjukkan bahwa Sputnik V, vaksin Rusia, memiliki tingkat kemanjuran 91,6 persen. Temuan yang telah dikonfirmasi tersebut dirilis pada pertengahan Desember oleh pengembang vaksin, Gamaleya Center dan Dana Investasi Langsung Rusia.
Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Mesir, Yordania, Irak, Serbia, Maroko, Hongaria, dan Pakistan telah menyetujui vaksin Sinopharm dari China, pada pertengahan Januari, 1,8 juta orang di UEE telah menerimanya. Bolivia, Indonesia, Turki, Brasil, dan Chili telah menyetujui dan mulai menyuntikkan vaksin Cina lainnya, dari Sinovac. Sputnik V akan didistribusikan di lebih dari selusin negara di Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.
Ketika negara-negara tersebut menguji vaksin-vaksin ini, mereka membuat keputusan yang tepat, berdasarkan bukti tentang keamanan dan kemanjuran yang dirilis oleh produsen Cina dan Rusia, sebagian besar juga diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang telah ditinjau sejawat seperti The Lancet dan JAMA, atau setelah menjalankan uji coba independen terhadap vaksin tersebut. Beberapa di antaranya memiliki sistem peraturan kesehatan yang setara dengan yang ada di AS atau Eropa.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, pesan berantai yang berisi klaim bahwa vaksin Covid-19 dari Cina menduduki empat peringkat teratas vaksin paling aman, menyesatkan. Pesan berantai ini menyebut informasi itu berasal dari The New York Times. Namun, artikel The New York Times yang tautannya juga dicantumkan dalam pesan tersebut tidak membahas mengenai daftar vaksin Covid-19 yang paling aman. Artikel opini itu membahas mengenai ketimpangan akses terhadap vaksin Covid-19 dari negara-negara Barat, dan vaksin dari Cina serta Rusia bisa menjadi solusi bagi negara-negara miskin dan berkembang untuk mendapatkan vaksin Covid-19. Menurut penelitian terbaru, vaksin Cina dan Rusia telah teruji aman.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
Halaman: 6804/8568



