[SALAH] Akun Facebook dan Website Xiaomi Indonesia
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/01/2021
Berita
Beredar sebuah postingan dari akun Facebook Xiaomi Indonesia memposting promosi sebuah event seperti harga tahun baru serta flash sale produk dari Xiaomi, pada postingan tersebut terlampir sebuah link yang menuju website xiaomi-co[dot]id untuk melakukan pembelian dan transaksi dari event tersebut dan diketahui website dan akun tersebut telah dihapus. Postingan disukai sebanyak 1000 kali, dikomentari sebanyak 22 kali, dan disebarkan kembali 25 kali.
Hasil Cek Fakta
Setelah melakukan penelurusan dengan mencari akun resmi Xiaomi Indonesia di Facebook diketahui sudah memiliki centang biru dan telah diverifikasi serta adanya pemberitahuan website palsu dari akun Instagram resminya dengan tangkapan layar yang serupa bahwa website resmi dari Xiaomi Indonesia adalah mi.co.id dan menghimbau pengguna untuk berhati-hati terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan Xiaomi Indonesia.
Melihat dari penjelasan tersebut, akun Facebook dan website xiaomi-co[dot]id Xiaomi Indonesia adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten Tiruan/Imposter Content.
Melihat dari penjelasan tersebut, akun Facebook dan website xiaomi-co[dot]id Xiaomi Indonesia adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten Tiruan/Imposter Content.
Rujukan
Keliru, Vaksin Covid-19 Terkait dengan Jaringan 5G dan Sebabkan Wabah Penyakit Baru
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 27/01/2021
Berita
Klaim bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan efek jangka pendek berupa lumpuh dan meninggal, efek jangka panjang berupa wabah penyakit baru, dan terkait dengan chip serta jaringan 5G beredar di Facebook. Narasi itu diunggah oleh akun James Bowie pada 24 Januari 2021.
Berikut isi lengkap narasi tersebut:
"Efek samping vaksin ada yg jangka pendek.. dan ada juga yg jangka panjang terjadi nyaYg jangka pendek: lumpuh dan meninggalYg jangka panjang: wabah penyakit jenis baru(Tunggu saat robot nano di dalam vaksin di gabungin dengan CHIP RFID buat alat segala transkasi yg di tanam dalam tubuh dan Jaringan hape 5G udah mulai di gunakan dengan menyeluruh)"
Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook James Bowie pada 24 Januari 2021 yang memuat klaim keliru terkait vaksin Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Untuk memeriksa klaim-klaim dalam unggahan akun James Bowie, Tim CekFakta Tempo menelusuri berbagai informasi dari lembaga yang kredibel serta pemberitaan dari media. Berikut fakta atas klaim-klaim tersebut:
Klaim 1: Vaksin Covid-19 menyebabkan lumpuh dan meninggal
Fakta:
Sebelum program vaksinasi Covid-19 dimulai di Indonesia, vaksin Sinovac telah terlebih dahulu menjalani uji klinis fase 3, di mana 1.620 relawan mendapat suntikan pertama dan 1.590 relawan diberi suntikan kedua. Dari penyuntikan ini, tidak ada kasus kematian maupun kelumpuhan yang dilaporkan.
Sejak vaksinasi Covid-19 dimulai pada 13 Januari 2021, lebih dari 132 ribu tenaga kesehatan kelompok pertama telah menjalani vaksinasi tersebut per 23 Januari. Jumlah ini setara dengan 22 persen dari total 598.483 tenaga kesehatan yang akan divaksinasi pada tahap pertama.
Dari mereka yang telah menjalani vaksinasi itu, tidak ada pula kasus kematian maupun kelumpuhan yang dilaporkan karena vaksin Sinovac. Berdasarkan laporan dari Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), semua reaksi yang muncul masih bersifat ringan, tidak ada yang serius.
Klaim 2: Vaksin Covid-19 menyebabkan wabah penyakit baru
Fakta:
Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan wabah penyakit baru. Meskipun begitu, seperti dilansir dari Kompas.com, Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak bisa secara langsung menghentikan pandemi.
Namun, dilansir dari British Society for Immunology, vaksinasi sangat efektif, di mana sebagian besar vaksin pada anak efektif sekitar 85-95 persen. Vaksinasi pun diperkirakan menyelamatkan 2-3 juta jiwa setahun. Berkat vaksin, penyakit yang mengancam nyawa yang umum teradi pada anak-anak, seperti difteri, batuk rejan, dan polio, kini relatif jarang muncul.
Melihat sejarah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, terdapat penurunan yang signifikan dalam jumlah kasus penyakit setelah diperkenalkannya vaksin untuk melawannya. Cacar misalnya, jika tidak diberantas, akan menyebabkan 5 juta kematian di seluruh dunia dalam setahun. Melalui vaksinasi, beberapa penyakit bahkan sudah bisa diberantas secara tuntas, seperti cacar.
Terkait munculnya wabah penyakit baru, seperti dikutip dari Baylor College of Medicine, umumnya disebabkan oleh proses alami, seperti evolusi patogen dari waktu ke waktu, tapi banyak juga yang merupakan hasil dari perilaku manusia. Dalam satu abad terakhir, interaksi antara populasi manusia dan lingkungan telah berubah.
Faktor yang berkontribusi terhadap perubahan interaksi antara manusia dan lingkungan tersebut di antaranya adalah pertumbuhan penduduk, migrasi dari daerah pedesaan ke perkotaan, perjalanan udara internasional, kemiskinan, perang, dan perubahan ekologi yang merusak akibat pembangunan ekonomi dan penggunaan lahan.
Banyak penyakit muncul ketika agen infeksi pada hewan ditularkan ke manusia (disebut zoonosis). Dengan bertambahnya populasi manusia, yang kemudian memasuki wilayah geografis baru, terdapat kemungkinan terjadinya kontak dekat dengan hewan yang merupakan inang potensial dari agen infeksi. Jika faktor ini digabungkan dengan peningkatan kepadatan dan mobilitas manusia, terdapat potensi ancaman yang serius bagi kesehatan.
Dugaan lainnya adalah perubahan iklim yang menyebabkan munculnya penyakit menular. Saat iklim bumi menghangat dan habitat berubah, penyakit dapat menyebar ke wilayah geografis baru. Misalnya, suhu yang menghangat memungkinkan nyamuk, dan penyakit yang ditularkannya, memperluas jangkauannya ke wilayah yang sebelumnya belum pernah ditemukan.
Klaim 3: Vaksin Covid-19 terkait dengan chip dan jaringan 5G
Fakta:
Narasi ini juga menyebar di sejumlah negara. Sebelumnya, Tempo telah melakukan verifikasi terkait klaim soal pemasangan chip dalam vaksin Covid-19, dan menyatakannya sebagai klaim yang keliru. Penanaman microchip ke tubuh manusia lewat vaksin adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Dikutip dari Science20, kebanyakan microchip RFID (Radio Frequency Identification) terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam jarum berukuran normal yang digunakan untuk vaksin. Mungkin saja membuat chip dengan ukuran yang lebih kecil, tapi tidak berguna apabila tidak memiliki antena sebagai penerima sinyal.
Sebuah chip harus memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengambil daya dari gelombang mikro, yang kemudian mengirim kembali sinyal yang cukup kuat sehingga bisa diterima oleh penerima. Chip RFID terkecil yang tersedia secara komersial, lengkap dengan antenanya, hanya dapat terbaca dari jarak milimeter. Sementara chip RFID terkecil yang tidak tersedia secara komersial hanya dapat terbaca dari jarak mikron.
AFP Fact Check pun telah membantah klaim bahwa, selama vaksinasi Covid-19, microchip disuntikkan secara diam-diam ke bawah kulit seseorang, dan memungkinkan microchip itu terhubung dengan ponsel 5G milik orang tersebut.
Mischa Dohler, Ketua Profesor Komunikasi Nirkabel King's College London, mengatakan microchip di bawah kulit tidak dipakai untuk mengoperasikan ponsel 5G. "Microchip dan 5G tidak memiliki kesamaan. Ini seperti membandingkan apel dan mobil," katanya. “Microchip memang ada dan saat ini digunakan di negara-negara Nordik misalnya, di mana Anda dapat menanamkan chip (di bawah kulit) dan bepergian, lalu membayar dengan chip itu di bar.”
Perusahaan microchip telah bermunculan di Swedia dan Denmark serta Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, menawarkan chip yang disuntikkan ke tangan, tepatnya di antara ibu jari dan jari telunjuk, yang kemudian bisa digunakan untuk membuka kunci pintu atau membeli makanan ringan dengan lambaian tangan. Ada pula perusahaan yang sedang mengembangkan chip untuk menyimpan data medis.
Namun, Dohler menepis klaim bahwa microchip yang ditanamkan di tangan tersebut memungkinkan seseorang melakukan dan menerima panggilan tanpa harus memegang ponsel mereka. “Saya tidak mengatakan ini tidak akan pernah terjadi. Tapi, saat ini, itu adalah omong kosong ilmiah. Untuk berkomunikasi, Anda perlu menghasilkan gelombang suara. Jadi, microchip itu harus sangat dekat dengan telinga Anda atau ditanamkan sangat dekat dengan otak."
Microchip bekerja dengan RFID (radio frequency identification), yang memungkinkan berbagai produk terpindai untuk mendapatkan informasi, mirip dengan kode batang di supermarket. Luyun Jiang, analis teknologi di perusahaan riset pasar IDTechEx, mengatakan teknologi ini hanya dapat menangani "data yang sangat terbatas" dan tidak dapat digunakan untuk melakukan dan menerima panggilan telepon.
“5G membutuhkan cukup banyak daya dan perangkat keras,”
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, unggahan akun Facebook James Bowie, bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan efek jangka pendek berupa lumpuh dan meninggal, efek jangka panjang berupa wabah penyakit baru, dan terkait dengan chip serta jaringan 5G, keliru.
IKA NINGTYAS
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://archive.is/DVOrN
- https://nasional.tempo.co/read/1401918/ketua-tim-riset-uji-klinis-vaksin-covid-19-sebut-17-relawan-drop-out
- https://nasional.tempo.co/read/1425902/kemenkes-lebih-dari-132-ribu-tenaga-kesehatan-jalani-vaksinasi-covid-19/full&view=ok
- https://www.kompas.com/global/read/2020/11/17/161018270/who-vaksin-corona-tidak-bisa-langsung-hentikan-pandemi
- https://www.immunology.org/celebrate-vaccines/public-engagement/guide-childhood-vaccinations/how-vaccines-work
- https://www.bcm.edu/departments/molecular-virology-and-microbiology/emerging-infections-and-biodefense/emerging-infectious-diseases
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1207/keliru-vaksin-sinovac-dipasangi-gps-atau-chip-untuk-lacak-keberadaan-orang-yang-telah-divaksin
- https://www.science20.com/robert_walker/no_bill_gates_does_not_want_to_inject_us_all_with_a_microchip_in_a_vaccine_fails_basic_fact_check-250358
- https://factcheck.afp.com/experts-reject-conspiracy-theories-about-5g-microchip-implants
- https://www.tempo.co/tag/5g
- https://www.tempo.co/tag/microchip
[SALAH] “bahwa michelle obama dulunya adalah seorang transgender?”
Sumber: instagram.comTanggal publish: 27/01/2021
Berita
“Pernahkah kalian mendengar/membaca/meriset topik bahwa michelle obama dulunya adalah seorang transgender?”.
Hasil Cek Fakta
SUMBER membagikan foto hasil MANIPULASI. POLITIFACT: “Tidak ada bukti bahwa Obama adalah wanita transgender atau diberi nama “Michael” saat lahir.”
indy100: “Seorang mantan kandidat Kongres Republik adalah orang terbaru yang memicu munculnya kembali teori konspirasi internet yang menegaskan Michelle Obama adalah seorang wanita trans.”
ELLE: “Hari ini adalah ulang tahun ke-55 Michelle Obama, sebuah kesempatan yang ditandai oleh Barack Obama dengan membagikan penghargaan Twitter dan Instagram yang lucu kepada istrinya.”
indy100: “Seorang mantan kandidat Kongres Republik adalah orang terbaru yang memicu munculnya kembali teori konspirasi internet yang menegaskan Michelle Obama adalah seorang wanita trans.”
ELLE: “Hari ini adalah ulang tahun ke-55 Michelle Obama, sebuah kesempatan yang ditandai oleh Barack Obama dengan membagikan penghargaan Twitter dan Instagram yang lucu kepada istrinya.”
Kesimpulan
Foto hasil MANIPULASI. FAKTANYA, foto yang asli diunggah oleh Barack Obama di akun Instagramnya pada 17 Januari 2019.
Rujukan
- httpfirstdraftnews.org: “Berita palsu. Ini rumit.”
- http://bit.ly/2MxVN7S (Google Translate),
- http://bit.ly/2rhTadC. instagram.com/barackobama (akun terverifikasi),
- https://bit.ly/3a6IN1V /
- https://archive.md/O6JMK (arsip cadangan). politifact.com: “Tidak, Michelle Obama bukanlah wanita transgender”
- http://bit.ly/2YdMVYs (Google Translate) /
- http://bit.ly/3iQ0mqR (arsip cadangan). indy100.com: “Tren aneh Partai Republik menyebarkan rumor bahwa Michelle Obama transgender, jelasnya”
- http://bit.ly/3plD2UA (Google Translate) /
- http://bit.ly/2LWQKil (arsip cadangan). elle.com: “Barack Obama Memposting Foto Throwback Yang Menggemaskan Untuk Ulang Tahun Michelle”
- http://bit.ly/2MoXiWH (Google Translate) /
- http://bit.ly/3sX10Yv (arsip cadangan).
[SALAH] Minum Air Kelapa Sebagai Penangkal Racun Usai Divaksin
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/01/2021
Berita
Produksi SINOVAC
Buat anggota grup tretan sedejeh yg sudah diVaksin karena dapat undangan, mohon siapkan kelapa ijo jgn lupa, Bagi yg belum diVaksin persiapkan diri, Insya ALLAH air klapa ijob bisa jadi penawar effect racun Vaksin, Amin Ya Robbal Alamin
Air kelapa Vaksin
Air kelala vaksin
Hubungan vaksin sama air kelapa
Abis vaksin langsung minum kelapa muda biar vaksin nya mati tdk mempengaruhi tubuh
Bahan herbal mampu membunuh covid-19
Bahan herbal yang membunuh virus covid-19
Obat Herbal Vaksin
Vaksin minum kelapa
Vaksin air kelapa
Air kelapa membunuh virus corona
Air kelapa muda pasca vaksin covid
Air kelapa netral vaksin
Minum air kelapa setelah vaksin
Vaksin dan air kelapa
air kelapa muda apakah membantu untuk menetralisir setelah vaksin ?
Buat anggota grup tretan sedejeh yg sudah diVaksin karena dapat undangan, mohon siapkan kelapa ijo jgn lupa, Bagi yg belum diVaksin persiapkan diri, Insya ALLAH air klapa ijob bisa jadi penawar effect racun Vaksin, Amin Ya Robbal Alamin
Air kelapa Vaksin
Air kelala vaksin
Hubungan vaksin sama air kelapa
Abis vaksin langsung minum kelapa muda biar vaksin nya mati tdk mempengaruhi tubuh
Bahan herbal mampu membunuh covid-19
Bahan herbal yang membunuh virus covid-19
Obat Herbal Vaksin
Vaksin minum kelapa
Vaksin air kelapa
Air kelapa membunuh virus corona
Air kelapa muda pasca vaksin covid
Air kelapa netral vaksin
Minum air kelapa setelah vaksin
Vaksin dan air kelapa
air kelapa muda apakah membantu untuk menetralisir setelah vaksin ?
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook bernama Agok membagikan postingan yang mengklaim bahwa air kelapa dapat digunakan sebagai penangkal racun vaksin COVID-19. Narasi serupa juga beredar di WAG (Whatsapp Group). Postingan mengenai air kelapa sebagai penangkal racun vaksin COVID-19 beredar bersamaan dengan program vaksinasi yang sedang digalakan pemerintah RI pada awal bulan Januari 2021 lalu.
Salah satu klaim para penolak vaksin adalah vaksin untuk COVID-19 mengandung racun sehingga berbahaya jika dikonsumsi. Maka dari itu, dianjurkan untuk meminum air kelapa untuk menetralisir racun yang ada setelah divaksin.
Melansir dari health.detik.com, juru bicara program vaksinasi COVID-19 dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Lucia Rizka Andalusia, mengungkapkan vaksin COVID-19 tidak mengandung racun. Hal ini dikarenakan, virus yang ada dalam vaksin sudah dimatikan dan dapat merangsang pembentukan antibodi.
“Hal tersebut tidak benar, karena vaksin ini bukan racun. Vaksin ini dari virus yang sudah dimatikan yang dapat merangsang pembentukan antibodi setelah disuntikkan,” ungkapnya kepada detikcom, Kamis (21/1/2021).
Selain itu, Lucia mengungkapkan bahwa antara vaksin dan air kelapa tidak akan berhubungan, hal ini dikarenakan vaksin disuntikkan sehingga masuk ke otot lengan sedangkan air kelapa akan masuk ke lambung.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Ahli Gizi KONI DKI Jakarta sekaligus APKI Approved Educator, Irtya Qiyamulail, memberikan penjelasan bahwa vaksin COVID-19 tidak mengandung racun sehingga tidak perlu dinetralisir.
“Belum ada penelitian apapun yang menyatakan bahwa air kelapa hijau bisa menetralkan atau mengganggu fungsi dari vaksin. Selain itu, isi dari vaksin covid-19 adalah virus yang sudah dimatikan, aluminium hidroksida untuk meningkatkan kemampuan vaksin, fosfat sebagai stabilizer, dan natrium klorida sebagai isotonis.”
“Dari sini bisa dilihat bahwa tidak ada kandungan racun yang perlu dinetralisir ataupun dikhawatirkan seperti apa yang disampaikan pada berita tersebut,” ucap Irtya, dalam artikel liputan6.com, Kamis (21/1/2021).
Bersumber dari Tim Cek Fakta liputan6.com saat menghubungi Juru Bicara PT Kimia Farma, Bambang Heriyanto, menegaskan bahwa vaksin Sinovac aman digunakan, karena telah lulus uji standart dari BPOM, WHO, dan syarat kehalalan dari MUI.
Adapun fungsi dari air kelapa sendiri, menurut Medical Manager Consumer Health Division PT Kalbe Farma, dr. Helmin Agustina Silalahi, mengungkapkan tidak ada bukti penelitian yang membuktikan air kelapa dapat menetralkan racun. Lebih lanjut, dilansir dari halodoc.com, dr. Fadhli Rizal Makarim menjelaskan air kelapa hanya dapat meringankan gejala keracunan makanan, bukan menetralkan racun. Seseorang yang keracunan perlu perawatan medis lebih lanjut.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa, vaksin COVID-19 Sinovac tidak mengandung racun sehingga tidak perlu dinetralisir dengan air kelapa, selain itu tidak ada bukti ilmiah yang menjelaskan air kelapa dapat menetralisir racun. Sehingga klaim dari Agok adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.
Salah satu klaim para penolak vaksin adalah vaksin untuk COVID-19 mengandung racun sehingga berbahaya jika dikonsumsi. Maka dari itu, dianjurkan untuk meminum air kelapa untuk menetralisir racun yang ada setelah divaksin.
Melansir dari health.detik.com, juru bicara program vaksinasi COVID-19 dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Lucia Rizka Andalusia, mengungkapkan vaksin COVID-19 tidak mengandung racun. Hal ini dikarenakan, virus yang ada dalam vaksin sudah dimatikan dan dapat merangsang pembentukan antibodi.
“Hal tersebut tidak benar, karena vaksin ini bukan racun. Vaksin ini dari virus yang sudah dimatikan yang dapat merangsang pembentukan antibodi setelah disuntikkan,” ungkapnya kepada detikcom, Kamis (21/1/2021).
Selain itu, Lucia mengungkapkan bahwa antara vaksin dan air kelapa tidak akan berhubungan, hal ini dikarenakan vaksin disuntikkan sehingga masuk ke otot lengan sedangkan air kelapa akan masuk ke lambung.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Ahli Gizi KONI DKI Jakarta sekaligus APKI Approved Educator, Irtya Qiyamulail, memberikan penjelasan bahwa vaksin COVID-19 tidak mengandung racun sehingga tidak perlu dinetralisir.
“Belum ada penelitian apapun yang menyatakan bahwa air kelapa hijau bisa menetralkan atau mengganggu fungsi dari vaksin. Selain itu, isi dari vaksin covid-19 adalah virus yang sudah dimatikan, aluminium hidroksida untuk meningkatkan kemampuan vaksin, fosfat sebagai stabilizer, dan natrium klorida sebagai isotonis.”
“Dari sini bisa dilihat bahwa tidak ada kandungan racun yang perlu dinetralisir ataupun dikhawatirkan seperti apa yang disampaikan pada berita tersebut,” ucap Irtya, dalam artikel liputan6.com, Kamis (21/1/2021).
Bersumber dari Tim Cek Fakta liputan6.com saat menghubungi Juru Bicara PT Kimia Farma, Bambang Heriyanto, menegaskan bahwa vaksin Sinovac aman digunakan, karena telah lulus uji standart dari BPOM, WHO, dan syarat kehalalan dari MUI.
Adapun fungsi dari air kelapa sendiri, menurut Medical Manager Consumer Health Division PT Kalbe Farma, dr. Helmin Agustina Silalahi, mengungkapkan tidak ada bukti penelitian yang membuktikan air kelapa dapat menetralkan racun. Lebih lanjut, dilansir dari halodoc.com, dr. Fadhli Rizal Makarim menjelaskan air kelapa hanya dapat meringankan gejala keracunan makanan, bukan menetralkan racun. Seseorang yang keracunan perlu perawatan medis lebih lanjut.
Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa, vaksin COVID-19 Sinovac tidak mengandung racun sehingga tidak perlu dinetralisir dengan air kelapa, selain itu tidak ada bukti ilmiah yang menjelaskan air kelapa dapat menetralisir racun. Sehingga klaim dari Agok adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).
Klaim yang salah. Vaksin tidak mengandung racun. Menurut juru bicara program vaksinasi COVID-19 dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kedua hal tersebut tidak berhubungan. Vaksin COVID-19 Sinovac tidak mengandung racun sehingga tidak perlu dinetralkan dengan air kelapa. Adapun air kelapa sendiri juga tidak dapat menetralkan racun.
Klaim yang salah. Vaksin tidak mengandung racun. Menurut juru bicara program vaksinasi COVID-19 dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kedua hal tersebut tidak berhubungan. Vaksin COVID-19 Sinovac tidak mengandung racun sehingga tidak perlu dinetralkan dengan air kelapa. Adapun air kelapa sendiri juga tidak dapat menetralkan racun.
Rujukan
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5342601/viral-anjuran-minum-air-kelapa-untuk-netralkan-vaksin-covid-19-ini-faktanya
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4462990/cek-fakta-tidak-benar-air-kelapa-hijau-bisa-netralkan-fungsi-vaksin-simak-penjelasannya
- https://www.halodoc.com/artikel/mengapa-air-kelapa-digunakan-sebagai-obat-keracunan-makanan
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4373948/benarkah-minum-air-kelapa-bisa-menetralkan-racun
Halaman: 6899/8554



