• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Bahan Uang Dolar AS adalah Pohon Pisang Indonesia?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 22/10/2020

    Berita


    Klaim bahwa bahan baku uang dolar AS (Amerika Serikat) adalah pohon pisang yang berasal dari Indonesia beredar di Facebook. Klaim ini terdapat dalam sebuah gambar yang berasal dari akun Instagram @faktadanfenoma. Narasi dalam gambar itu berbunyi "Tahukah kamu? Ternyata bahan baku uang Dollar AS adalah pohon pisang yang berasal dari Indonesia".
    Salah satu akun yang membagikan gambar berisi klaim tersebut adalah akun Aladin Ode. Hingga artikel ini dimuat, unggahan pada 19 Oktober 2020 itu telah mendapatkan lebih dari 1.600 reaksi dan sekitar 200 komentar serta telah dibagikan sebanyak 12 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Aladin Ode.
    Apa benar bahan uang dolar AS adalah pohon pisang Indonesia?

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, sejauh ini, belum ada bukti kuat bahwa uang dolar AS berbahan baku serat pisang, dalam hal ini pisang abaka, yang berasal dari Indonesia. Sejumlah situs pemerintah AS yang bisa diakses menyebut uang kertas dolar AS menggunakan 75 persen katun dan 25 persen linen.
    Selain itu, Indonesia baru berhasil mengekspor serat pisang abaka pada Juli 2020, yakni ke Jepang. Selama ini, sebagian besar kebutuhan serat pisang abaka dalam negeri dipenuhi dari impor. Tidak ditemukan informasi apakah Jepang mengekspor kembali serat pisang abaka asal Indonesia tersebut ke AS.
    Untuk memeriksa klaim bahwa bahan uang dolar AS adalah pohon pisang Indonesia, Tempo menelusuri informasi terkait dengan memasukkan sejumlah kata kunci ke mesin pencarian Google. Tempo pun menemukan bahwa klaim tersebut pernah dimuat dalam artikel di situs Nusantaratv.com pada 5 Agustus 2020. Artikel ini menyadur dari situs Bombastis.com, tanpa disertai rujukan atau sumber lain yang lebih kredibel.
    Menurut Departemen Keuangan AS, uang kertas AS terdiri dari 75 persen katun dan 25 persen linen. Inilah yang membuat uang dolar AS terlihat dan terasa berbeda. Informasi ini juga dimuat oleh situs Program Pendidikan Mata Uang AS. Menurut situs ini, bahan-bahan tersebut membuat uang kertas AS sulit disobek.
    Menurut artikel di publikasi elektronik Numismatic Bibliomania Society, The E-Sylum, edisi 1 April 2007, yang berjudul "Linen and Cotton in US Paper Money", Bob Leuver, mantan Direktur Biro Pengukiran dan Percetakan AS (BEP), menjelaskan bahwa katun yang dipakai dalam uang kertas AS berasal dari kapas yang berserat lunak dan banyak dipasok dari Carolina, AS. Sementara linen berasal dari rami yang berserat kokoh atau keras.
    Menurut Leuver, ketika ia masih memimpin BEP, linen yang digunakan berasal dari Belgia. Karena pasokan menurun, BEP mendatangkan rami mentah dari Afrika. Namun, menurut Leuver, saat ini produksi uang kertas AS meningkat, sehingga ia bertanya-tanya dari mana lagi pasokan bahan baku untuk uang kertas AS.
    Leuver pun mencuplik informasi dari Currency News pada Maret 2004, bahwa uang kertas terbuat dari 100 persen serat selulosa alami dari berbagai bahan. Yang paling umum adalah kapas. "Meskipun begitu, linen yang berasal dari rami juga digunakan secara luas, terutama di AS," ujarnya. Bahan serat selulosa lainnya adalah bubur kayu hingga abaka yang berasal dari Filipina, atau mitshumanat, semak berserat yang digunakan di Jepang.
    Abaka untuk uang kertas Indonesia dan Jepang
    Pisang abaka sebagai penghasil serat alam memang populer dijadikan bahan baku bubur kertas untuk uang. Berdasarkan catatan sejarah yang disusun oleh Bank Indonesia, pisang abaka telah lama tumbuh di Indonesia, antara lain di Pulau Sangir (Sulawesi Utara) yang tumbuh secara liar.
    Sebagaimana di Filipina (tempat asal pisang abaka), penduduk Pulau Sangir memanfaatkan serat abaka (atau kafe, menurut bahasa setempat) untuk bahan kain tenun tradisional. Penanaman abaka secara komersial dimulai pada 1905, tepatnya di Jawa dan Sumatera Selatan, dengan orientasi ekspor. Sejak saat itu, pisang abaka mulai berkembang secara luas, dari Sumatera Utara (di daerah Deli dan Bandar Betsy) hingga Lampung, serta di Jawa.
    Namun, setelah Perang Dunia II, perkembangan perkebunan pisang abaka di Indonesia mulai merosot, seiring dengan semakin berkembangnya serat yang berasal dari bahan sintetik. Lahan-lahan perkebunan (khususnya di Sumatera) pun beralih ke tanaman komersial lainnya. Hingga 1982, perkebunan pisang abaka di Indonesia hanya dijumpai di Banyuwangi dengan areal sekitar 600 hektare.
    Menurut penelitian berjudul “Abaka (Musa textilis Nee) sebagai sumber serat alam, penghasil bahan baku bubur kertas dan sumber pendapatan petani” oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, kebutuhan serat abaka nasional masih impor. Demikian pula kebutuhan dunia akan serat tersebut, juga belum terpenuhi.
    Produksi serat abaka internasional mencapai 65 ribu ton per tahun. Adapun permintaan telah mencapai 85 ribu ton per tahun. Artinya, pasokan serat abaka masih kurang sekitar 20 ribu ton per tahun. Sejak 2014, BI pun mulai serius menggunakan bahan baku serat kapas dan serat abaka dalam negeri.
    Karena besarnya kebutuhan abaka, terutama di dalam negeri, Kementerian Pertanian melakukan sejumlah inovasi untuk meningkatkan budidaya abaka. Baru pada 2020, sebanyak enam ton serat abaka Indonesia berhasil diekspor ke Jepang sebagai bahan baku uang mereka. Ekspor dilakukan oleh PT MNP Indonesia yang mengembangkan budidaya pisang abaka di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa "bahan uang dolar AS adalah pohon pisang Indonesia" tidak terbukti. Sejauh ini, belum ada bukti kuat bahwa uang dolar AS berbahan baku serat pisang, dalam hal ini pisang abaka, yang berasal dari Indonesia. Data saat ini menunjukkan bahwa serat pisang abaka dari Indonesia diekspor pada Juli 2020 sebagai bahan baku mata uang Jepang. Sementara sejumlah situs pemerintah AS yang bisa diakses menyebut uang kertas dolar AS menggunakan 75 persen katun dan 25 persen linen.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Jokowi Meninggal Akibat Tersambar Petir Saat Kabur ketika Demo

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 22/10/2020

    Berita

    Beredar postingan dari akun Facebook Ravi Hamdi berupa sebuah foto dan narasi berisikan klaim bahwa Jokowi meninggal akibat tersambar petir saat kabur ketika demo. Postingan ini disukai sebanyak 5 kali dan dikomentari sebanyak 2 kali.
    NARASI:
    “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROOji’uun
    presiden joko widodo disambar petir disaat kabur waktu didemo.
    alhamdulillah, rakyat indonesia akan hidup bahagia dan damai selamanya.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran terhadap foto tersebut mengarah ke sebuah artikel berita dari metrojateng.com yang berjudul “Tiga Orang Di Jepara Tewas Tersambar Petir” yang dipublikasikan pada 16 Januari 2019. Pada artikel tersebut menjelaskan bahwa ada 6 petani dan penambang pasir di Desa Bandungharjo, Jepara tersambar petir dan 3 di antaranya meninggal dunia dan sudah dibawa ke rumah duka, sedangkan korban luka dibawa ke RS Rehatta Kecamatan Kelet untuk mendapatkan perawatanan. Arwin Noor Isdiyanto sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara menghimbau warga untuk waspada akan musim hujan ketika berada di lokasi yang rawan bencana seperi di jalan atau bekeja di tempat terbuka.

    Melihat dari penjelasan tersebut, klaim Jokowi meninggal akibat tersambar petir saat kabur ketika demo adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang Salah/False Context.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto Anies Berendam di Sungai Penuh Sampah

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 22/10/2020

    Berita

    Beredar postingan dari akun Facebook Agus Giro Bertho berupa sebuah foto Anies Baswedan berendam di sebuah sungai yang penuh sampah. Postingan ini disukai sebanyak 514 kali dan dikomentari sebanyak 38 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran terhadap foto tersebut mengarah ke sebuah artikel berita dari https://theconversation.com yang dipublikasi pada 17 November 2017, terlampir pada artikel tersebut berupa foto anak yang berendam di sungai penuh sampah yang diketahui berada di sungai Yamuna, New Delhi di India.

    Menurut artikel dari observers.france24.com sungai tersebut tercemar oleh banyaknya pabrik dan industry kain pada daerah tersebut sehingga menyebabkan polusi dengan level yang membahayakan, sungai tersebut ternyata juga tempat warga lokal untuk melakukan tradisi untuk melempar bunga ke sungai sebagai bentuk persembahan, tetapi bunga-bunga tersebut mengandung pestisida dan bahan kimia sehingga turut memcemarkan sungai tersebut.

    Melihat dari penjelasan tersebut, foto Anies Baswedan berendam di sebuah sungai yang penuh sampah adalah tidak benar dan termasuk dalam Konten yang dimanipulasi/Manipulated Content.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video “Seorang perwira wercok nyamar jadi mahasiswa dengan memakai jaket almamater ditangkap wercok berseragam dan dipukuli”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 22/10/2020

    Berita

    Akun Indah Sarah New (fb.com/indahsarahnew.indahsarahnew) mengunggah sebuah video dengan narasi sebagai berikut:

    “Seorang perwira wercok nyamar jadi mahasiswa dengan memakai jaket almamater. Karena dianggap provokator lalu ditangkap wercok berseragam dan dipukuli
    Temennya teriak2″ .woyy…itu perwiraku…, brimop itu…!”
    Akhirnya…mereka saling pukul. Jadi silahkan simpulkan sendiri.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya perwira polisi yang menyamar menjadi mahasiswa yang mengenakan jaket almamater di aksi unjuk rasa tolak UU Cipta Kerja di Jambi adalah klaim yang keliru.

    Faktanya, pria yang ditangkap menggunakan jaket almamater berwarna hijau itu benar adalah seorang mahasiswa dari Universitas Batanghari (Unbari), Jambi.

    Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Kuswahyudi Tresnadi membantah isu penyamaran itu. “Tidak ada [penyamaran polisi]. Yang diamankan memang mahasiswa, mana ada anggota kami menyamar. Kami telah konfirmasi ke Brimob,” ucap dia ketika dikonfirmasi Tirto, Rabu (21/10/2020).

    Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono juga membantah kalau anggota Brimob itu menyamar sebagai mahasiswa kemudian dipukuli personel Sabhara.

    Saat itu, memang sempat terjadi salah paham antara Satuan Sabhara dan intelijen Brimob sehingga terjadi pemukulan oleh anggota Sabhara terhadap perwira intelijen Brimob yang coba menghentikan anggota Brimob yang hendak memukuli mahasiswa.

    Awi Setiyono mengatakan bahwa kesalahapahaman tersebut sudah selesai, usai tahu yang bawa mahasiswa adalah perwira intelijen Brimob.

    Awi menyebut bahwa video rekaman insiden itu yang viral di media sosial, telah dinarasikan seolah-olah polisi sedang menyamar menjadi mahasiswa dan dibawa oleh aparat lain.

    Awi menjelaskan, insiden baku hantam antara Intel Brimob dan personel Sabhara terjadi karena kesalahapahaman. Namun, pihaknya membantah jika yang mahasiswa yang diamankan dalam video adalah itu adalah Intel Brimob yang tengah menyamar menjadi mahasiswa.

    “Yang ditangkap menggunakan baju almamater hijau (Kampus Unbari) saat kejadian adalah benar-benar mahasiswa,” kata Awi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (21/10/2020).

    Awi menuturkan saat itu mahasiswa dari kampus Unbari sedang diamankan oleh aparat kepolisian berbaju preman dari Intel Brimob Jambi. Namun, salah seorang aparat lain dari Satuan Sabhara mencoba memukul mahasiswa itu.

    “PA (aparat berbaju preman) tersebut yang amankan mahasiswa. Menghalang-halangi anggota Sabhara yang mau memukul, makanya ada salah paham sedikit. Tapi sudah ‘celar’ setelah tahu yang bawa mahasiswa itu adalah PA Intel Brimob,” tambahnya lagi.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini