• [SALAH] “Rumah Sakit Di Lockdown Karena Pasien Vaksin Covid Pertama Mulai Makan Pasien Lain”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 25/12/2020

    Berita

    Akun Lavi Shulman (fb.com/jeb.stuart.7982) mengunggah sbeuah gambar dengan narasi sebagai berikut:

    “Nice……..HANS!!!!GET THE FREAKIN’ PANZER!!!!!!!”

    Di gambar yang diunggah, memperlihatkan tangkapan layar yang seolah adalah laporan berita terbaru dari CNN di Los Angeles dan teks sebagai berikut: “HOSPITALS ON LOCKDOWN AS FIRST COVID VACCINE PATIENTS START EATING OTHER PATIENTS atau yang jika diterjemahkan: “RUMAH SAKIT DI LOCKDOWN KARENA PASIEN VAKSIN COVID PERTAMA MULAI MAKAN PASIEN LAIN”.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya berita CNN yang menyatakan di Los Angeles ada rumah sakit di-lockdown karena pasien vaksin COVID-19 pertama mulai memakan pasien lain adalah klaim yang salah.

    Faktanya, foto itu merupakan foto editan atau suntingan yang menggabungkan tampilan berita CNN dengan foto asli yang sudah diunggah sejak Februari 2019 dan tidak ada hubungan dengan pasien vaksin COVID-19.

    Foto asli, dimuat pada artikel berjudul “‘I Remember the First Time I Saw a Teenager Die’” yang tayang di situs The New York Times pada 14 Februari 2019 dengan keterangan “The trauma bay in the emergency department at Temple University Hospital after resuscitation efforts failed” atau jika diterjemahkan “Tempat trauma di unit gawat darurat di Temple University Hospital setelah upaya resusitasi gagal”

    Artikel tersebut berisi pengalaman Eric Curran, seorang mahasiswa kedokteran ketika bekerja untuk menyelamatkan para korban kekerasan senjata di Amerika Serikat.

    Dilansir dari The New York Times, sebagian laporan itu berbunyi: “Temple University Hospital merawat 481 pasien dengan luka tembak tahun lalu, dan 97 meninggal. Di rumah sakit yang satu ini dalam satu lingkungan dalam satu kota. Sebagai sebuah negara, kami kehilangan hampir 40.000 nyawa karena senjata pada tahun 2017. Gambar-gambar ini di sini untuk menunjukkan kepada Anda apa yang terjadi. “

    Dilansir dari AFP, pencarian beberapa kata kunci di Google tidak menghasilkan laporan berita yang kredibel tentang insiden yang diklaim dalam postingan sumber klaim tersebut. Gambar tersebut sebelumnya diunggah di situs diunggah di situs lelucon pada 16 Desember 2020.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Orang yang Shalat Aman dari Corona

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 25/12/2020

    Berita

    Sebuah akun Twitter bernama @SuremetO membalas cuitan yang membantah bahwa wudhu dapat mencegah dari Covid-19 dengan menjelaskan mengenai fungsi wudhu yang untuk membersihkan hadats kecil dan besar. Bukan membersihkan virus. Lalu @SuremetO membantah lagi dengan memaparkan bukti lain bahwa Anies Baswedan tidak pernah sholat, oleh karena itu Anies terpapar virus Corona, @SuremetO mengatakan bahwa orang yang sholat aman dari virus Corona.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, kegiatan shalat atau mengucapkan doa-doa tertentu bisa mencegah Covid-19 tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Faktanya, hingga kini kasus Covid-19 terus bertambah dari 2 kasus pada awal Maret 2020 menjadi lebih dari 500.000 kasus awal Desember 2020. Selain itu ada 17.000 lebih orang meninggal dunia akibat Covid-19.

    Menurut dr. Dirga Sakti Rambe, SpPD, dari OMNI Hospitals Pulomas virus Corona sejauh ini dinyatakan dibunuh, dengan menggunakan desinfektan. Sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa virus Corona bisa mati dengan air biasa.

    Dalam artikel detikhealth.com dengan judul “Viral Virus Corona Disebut Bisa Dihancurkan dengan Air, Benarkah?” pada Minggu, 02 Feb 2020, dr. Dirga Sakti Rambe, SpPD, dari OMNI Hospitals Pulomas menyebutkan, kandungan disinfektan yang dapat membunuh Virus Corona.

    “Disinfektan yang dapat membunuhnya: alkohol dengan kadar minimal 70%, klorin, hidrogen peroksida, dan kloroform. Virus ini juga mati pada pemanasan dengan suhu 56 C minimal selama 30 menit,”.

    Sehingga, klaim mengenai orang yang sholat aman dari Corona termasuk hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Belajar Tatap Muka RESMI Januari 2021, Anak Wajib Swab Test Sebelum Sekolah”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 25/12/2020

    Berita

    Sebuah akun Facebook bernama Ka Na Su mengunggah artikel yang berjudul “Belajar Tatap Muka RESMI Januari 2021, Anak Wajib Swab Test Sebelum Sekolah” yang diterbitkan oleh Liputan6.org. Unggahan tersebut mendapat respon 59 komentar dan telah dibagikan sebanyak 11 kali.

    sekolah swab

    sekolah tatap muka wajib swab

    Pembelajaran Tatap Muka

    Hasil Cek Fakta

    Dilansir dari Liputan6, melalui surat resmi yang dikirimkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika, mengklarifikasi bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa masuk sekolah wajib swab PCR. Selain itu, judul dan penggunaan foto Mendikbud menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

    Ada pun mengenai pembelajaran dengan sistem tatap muka, pemerintah mengumumkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19.

    Pemberian izin pembelajaran tatap muka dapat dilakukan secara serentak dalam satu wilayah kabupaten/kota atau bertahap per wilayah kecamatan dan/atau desa/kelurahan.
    “Pengambilan kebijakan pada sektor pendidikan harus melalui pertimbangan yang holistik dan selaras dengan pengambilan kebijakan pada sektor lain di daerah,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim secara virtual, Jumat (20/11).

    Sehingga, klaim mengenai “Belajar Tatap Muka RESMI Januari 2021, Anak Wajib Swab Test Sebelum Sekolah” termasuk hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Cek Fakta] Benarkah Jokowi Tak Mau Divaksin Duluan? Ini Faktanya

    Sumber: whatsapp.com
    Tanggal publish: 24/12/2020

    Berita

    "Jokowi saja tidak mau disuntik faksin"

    Netralnews di BaBe:
    Jokowi Tak Mau Disuntik Vaksin Duluan, Tak Disangka Begini Respon HNW

    PRESIDEN JOKOWI AJA NGGAK MAU DI SUNTIK VAKSIN CORONA, KOK MAU DI UJI COBAKAN KE RAKYAT, JEBAKAN REZIM CEBONG DAN CHINA KOMUNIS UNTUK MEMBUNUH RAKYAT NKRI SECARA PELAN-PELAN MELALUI SUNTIK VAKSIN

    Waspada jaga anak2 kita dan siswa siswi kita, jangan mau di suntik Vaksin, ini hanya bisnis kacung China

    Klik untuk baca artikel:
    http://share.babe.news/s/echSNrmQvR

    Hasil Cek Fakta

    Dari hasil penelusuran Cek Fakta Medcom.id, klaim bahwa Presiden Jokowi tidak mau disuntik vaksin covid-19 duluan adalah hoaks. Faktanya, Presiden Jokowi menegaskan dirinya akan menjadi penerima pertama vaksin covid-19.

    Dilansir kanal resmi YouTube Sekretariat Presiden melalui video berjudul "Presiden Jokowi: Vaksin Covid-19 Gratis!" diunggah pada 15 Desember 2020, Jokowi mengatakan bahwa dirinya selaku Kepala Negara akan menjadi penerima vaksin Covid-19 pertama kali. Hal ini untuk menepis keraguan masyarakat akan keamanan vaksin yang disediakan.

    "Saya juga ingin tegaskan lagi, nanti saya yang akan menjadi penerima pertama, divaksin pertama kali, hal ini untuk memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada masyarakat bahwa vaksin yang digunakan aman" tegas Jokowi.

    Selain itu, Presiden tetap mengingatkan seluruh masyarakat untuk terus berdisiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dengan mengenakan masker, menjaga jarak aman, dan mencuci tangan secara berkala.

    Kesimpulan

    Klaim bahwa Presiden Jokowi tidak mau disuntik vaksin covid-19 duluan adalah hoaks. Faktanya, Presiden Jokowi menegaskan dirinya akan menjadi penerima pertama vaksin covid-19.

    Informasi ini masuk kategori hoaks jenis Misleading Content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

    Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini