• [Fakta atau Hoaks] Benarkah Keluarga Peserta BPJS Kesehatan Dapat BLT Rp 4 Juta Per Orang?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 06/10/2020

    Berita


    Gambar tangkapan layar sebuah unggahan di Facebook yang berisi tautan artikel berjudul "Cek Fakta: Keluarga yang Miliki BPJS Dikabarkan Akan Dapat BLT Sebesar Rp 4 Juta" beredar di media sosial. Artikel tersebut berasal dari situs Detiksatuinfo.xyz.
    Artikel ini dilengkapi dengan foto Kartu Indonesia Sehat. Kemudian, di atas tautan artikel yang berasal dari situs Detiksatuinfo.xyz itu, terdapat narasi yang berbunyi "Alhamdulillah Keluarga yang Miliki BPJS Dikabarkan Akan Dapat BLT Sebesar Rp 4 Juta per anggota".
    Di Facebook, gambar tangkapan layar tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Selari Mala Laris, yakni pada 2 Oktober 2020. Akun itu pun menulis narasi, "Yg punya kartu in siap2 aja." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 400 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Selari Mala Laris.
    Apa benar keluarga peserta BPJS Kesehatan bakal mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 4 juta per anggota?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri situs yang memuat artikel tersebut, yakni Detiksatuinfo.xyz. Hasilnya, ditemukan bahwa situs ini memang pernah memuat artikel dengan judul "Cek Fakta: Keluarga yang Miliki BPJS Dikabarkan Akan Dapat BLT Sebesar Rp 4 Juta per anggota" pada 2 Oktober 2020.
    Namun, artikel tersebut merupakan artikel pemeriksaan fakta terhadap hoaks yang beredar ketika itu, bahwa "keluarga yang memiliki kartu BPJS Kesehatan akan mendapatkan BLT sebesar Rp 4 juta per anggota". Artikel ini menyadur artikel di situs Pikiran Rakyat yang berjudul sama, yang dikutip dari situs cek fakta Turnbackhoax.id.
    Menurut artikel cek fakta Turnbackhox.id, Kepala Humas BPJS Kesehatan Iqbal Anas Maruf menyatakan informasi itu keliru. "Ini hoaks. Selama ini, tidak ada bantuan-bantuan seperti itu", kata Iqbal. Hoaks serupa dengan nama bantuan yang berbeda pernah beredar pada 2019. Ketika itu, bantuan yang diklaim diberikan adalah tunjangan hari raya (THR) bagi peserta BPJS Kesehatan dengan nominal Rp 2 juta per kartu keluarga (KK).
    Klaim palsu yang menyebut "keluarga yang memiliki kartu BPJS Kesehatan akan mendapatkan BLT sebesar Rp 4 juta per anggota" juga telah diverifikasi oleh sejumlah media, seperti Viva.co.id, Liputan6.com, Merdeka.com, dan Antara. Keempatnya pun menyatakan informasi itu keliru.
    Tempo kemudian mengkonfirmasi kembali isu tersebut ke Humas BPJS Kesehatan Palembang, Hendra Kurniawan. Dia juga menyebut bahwa informasi yang beredar itu hoaks. Menurut dia, pemerintah melalui BPJS Kesehatan tidak pernah mengeluarkan kebijakan demikian. "Itu hoaks. Enggak benar informasinya. Tidak ada kebijakan demikian," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa "keluarga peserta BPJS Kesehatan bakal mendapatkan BLT sebesar Rp 4 juta per anggota" keliru. Kepala Humas BPJS Kesehatan Iqbal Anas Maruf telah menyatakan bahwa klaim tersebut hoaks. Menurut dia, selama ini, tidak ada bantuan semacam itu yang diberikan oleh BPJS Kesehatan.
    IBRAHIM ARSYAD
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Foto Anggota PKI yang Telah Dipersenjatai?

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 06/10/2020

    Berita


    Foto yang memperlihatkan belasan orang mengenakan penutup wajah bergambar palu arit dan sedang mengangkat senjata beredar di media sosial. Di belakang belasan orang itu, berkibar pula bendera merah bergambar palu arit. Foto ini diklaim sebagai foto para anggota Partai Komunis Indonesia atau PKI.
    Di Facebook, foto tersebut dibagikan salah satunya oleh akun Atira Atira, yakni pada 4 Oktober 2020. Akun ini pun menulis narasi, “Betulkah PKI tidak ada ??? Lalu siapa mereka ini yg bersenjata dgn lambang PKI ???” Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan sebanyak 262 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Atira Atira.
    Apa benar orang-orang dalam foto tersebut merupakan anggota PKI yang telah dipersenjatai?

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto tersebut denganreverse image toolYandex dan Google. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa belasan orang bersenjata dengan atribut palu arit dalam foto tersebut merupakan gerilyawan New People's Army (NPA), sayap bersenjata Partai Komunis Filipina (CPP).
    Foto ini pernah diunggah oleh blog Jatibarang Blogger pada Oktober 2017. Selain foto itu, dimuat pula sejumlah foto lain yang diambil dari kegiatan dan lokasi yang sama. Dalam keterangannya, blog ini menulis bahwa foto-foto itu diambil di Filipina.
    Tempo kemudian menelusuri foto lain yang dimuat oleh blog itu, dan menemukan bahwa foto tersebut pernah dimuat oleh media independen yang berbasis di Brasil, Renovamidia, pada 28 November 2018. Foto ini terdapat dalam berita yang berjudul "Duterte ingin membentuk pasukan untuk membunuh gerilyawan komunis".
    Berita ini berisi informasi bahwa ancaman Presiden Filipina Rodrigo Duterte membentuk pasukan khusus untuk melawan gerilyawan Maois dari NPA menuai banyak kecaman. Kritikan tersebut antara lain disuarakan oleh anggota CPP, anggota parlemen, kelompok kiri, serta pembela hak asasi manusia.
    Pada 27 November 2018, kepada para tentara Filipina, Duterte berkata, "Saya mungkin terpaksa membuat unit 'Sparrow' saya sendiri, pasukan kematian Duterte, untuk mengakhiri para pembunuh Maois ini." Sparrow merujuk pada milisi yang dibentuk oleh NPA selama masa pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos (1965-1986) untuk membunuh para penegak hukum.
    "Saya akan mencari orang-orang dengan bakat yang sama untuk membunuh," kata Duterte, yang mengklaim bahwa dia telah mencoba melakukan dialog secara damai dengan NPA, tapi mereka menanggapinya dengan membunuh para polisi dan personel militer.
    Salah satu foto yang terdapat dalam blog Jatibarang Blogger pun pernah dimuat oleh The New York Times pada 29 November 2017. Foto itu diberi keterangan: "Para pejuang NPA, pasukan komunis, menandai ulang tahun mereka yang ke-48 di bulan April. Pemberontakan Filipina adalah salah satu yang terlama di Asia. Dondi Tawatao/Getty Images."
    Berdasarkan arsip berita Tempo, pada Februari 2017, CPP sempat mengungkapkan rasa kecewanya terhadap pemerintahan Duterte yang dianggap ingkar janji. Sudah tujuh bulan menjabat sebagai presiden, Duterte belum memenuhi janji-janji kampanyenya. Alhasil, gencatan senjata yang dibuat sejak 26 Agustus 2016 dihentikan secara sepihak oleh CPP. Perang gerilya pun kembali dilakukan.
    Bagaimana sebenarnya sejarah lahirnya CPP yang dikenal dengan perang gerilyanya ini? CPP mendasarkan gerakan mereka pada paham Maoisme, yakni paham yang berasal dari ajaran pemimpin komunis Cina, Mao Zedong, yang berakar pada Marxisme. CPP telah dibentuk sejak lama, bahkan sebelum Filipina merdeka.
    CPP awalnya dibentuk untuk melawan invasi Jepang dalam Perang Dunia II. Namun, setelah Filipina mendapat kemerdekaan dari Amerika Serikat, kelompok kiri itu kian tersudut, bahkan terancam dibasmi. Sejak itu, mereka terus bergerilya di daerah-daerah pinggiran dan hutan untuk memberontak.
    Pada Desember 1968, bersamaan dengan ulang tahun pemimpin revolusi Cina, Mao Zedong, CPP yang tidak terorganisir secara baik kembali dibentuk. CPP kemudian bertahan hingga kini di bawah pimpinan Jose Maria Sison. Dalam mendukung gerakannya, CPP mendirikan sayap militer yang disebut New People's Army pada 1969, tiga bulan setelah Sison mendirikan CPP.
    Sejak itu, CPP dan NPA terus melakukan pergerakan untuk melawan pemerintah Filipina yang dituduh telah dikendalikan oleh AS. Kekuatan NPA bertambah besar setelah Ferdinand Marcos berkuasa dan memberlakukan darurat militer di Filipina pada 1972. NPA kemudian mendirikan kamp di hutan-hutan dan meluncurkan serangan yang menargetkan militer dan polisi serta pasukan AS.
    Selama pemberontakannya, tercatat sebanyak 150 ribu orang, baik dari militer, polisi, NPA, dan warga sipil tewas. Pemberontakan yang membuat Sison ditangkap tersebut dikatakan sebagai penghambat laju pertumbuhan ekonomi Filipina. CPP sempat berjaya setelah berhasil memboikot pemilu pada 1986 dan menggulingkan Marcos. Kekuasaan Filipina kemudian berpindah ke tangan Presiden Corazon Aquino.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, kalim bahwa foto di atas merupakan foto anggota Partai Komunis Indonesia atau PKI yang telah dipersenjatai, keliru. Belasan orang bersenjata dengan atribut bergambar palu arit dalam foto tersebut merupakan gerilyawan New People's Army (NPA), sayap bersenjata Partai Komunis Filipina (CPP).
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Pesawat “Darurat Bencana” Diluncurkan Karena Donald Trump Positif COVID-19

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 06/10/2020

    Berita

    Akun Twitter @TimInHonolulu (Tim Hogan), menulis cuitan yang diunggah pada 2 Oktober 2020. Cuitan tersebut menyebarluaskan informasi bahwa pesawat “darurat bencana” tipe E-6B Mercury diluncurkan karena Donald Trump terbukti positif COVID-19. Cuitan tersebut telah dibagikan ulang sebanyak 9.499 kali. Selain itu, terdapat 27.221 orang yang telah menyukai cuitan tersebut, diikuti dengan lebih dari 1000 orang memberikan komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelurusan lebih lanjut, dilansir dari portal berita FOX news, pesawat “darurat bencana” tersebut adalah bagian dari Operation Looking Glass – yang sekarang dikenal sebagai Airborne Command Post (ABNCP). Operasi ini digunakan untuk memberikan komando dan kendali pasukan nuklir AS jika pusat komando darat tidak dapat dioperasikan. Hal ini tidak mengindikasikan bahwa AS sedang terlibat dalam peperangan, karena penerbangan pesawat E-6B ini tercatat sebagai penerbangan yang teratur dilakukan setiap tahun.

    “Ini sangat mungkin menjadi penerbangan rutin, E-6B mengudara secara teratur, juga pada skala waktu yang lebih besar, bukan hanya sesekali” ujar Christiaan Triebert, salah satu reporter New York Times, di akun Twitter pribadinya pada 2 Oktober 2020.

    Selain itu, penerbangan pesawat E-6B ini juga sudah direncanakan jauh sebelum Donald Trump positif terkena COVID-19. Menurut artikel berita dari Washingtonian, jadwal penerbangan yang bersamaan dengan positifnya Donald Trump hanyalah “purely coincidental” atau murni kebetulan.

    Dengan demikian, pernyataan yang ditulis oleh @TimInHonolulu tersebut dapat dikategorikan sebagai konteks yang salah, sebab akun tersebut telah memberikan narasi yang salah terhadap alasan peluncuran pesawat E-6B Mercury di lepas pantai timur dekat Washington DC

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Betulkah PKI tidak ada ? Lalu siapa mereka ini yg bersenjata dgn lambang PKI ?”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 05/10/2020

    Berita

    Akun Atira Atira (fb.com/atira.atira.39589149) mengunggah sebuah foto sekumpulan orang bersenjata dan dan bendera palu arit dibelakang mereka dengan narasi sebagai berikut:

    “Betulkah PKI tidak ada ??? Lalu siapa mereka ini yg bersenjata dgn lambang PKI ???”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya foto sekumpulan orang bersenjata dan dan bendera palu arit dibelakang mereka adalah bukti Partai Komunis Indonesia (PKI) masih ada adalah klaim yang salah.

    Faktanya, bukan PKI dan itu adalah klaim lama yang diedarkan kembali. Foto itu sebenarnya memperlihatkan kegiatan gerilyawan New People’s Army (NPA) di sebuah pedalaman terpencil Provinsi Mountain, Filipina pada Minggu 2 April 2017. NPA adalah organisasi sayap bersenjata Partai Komunis Filipina.

    Klaim ini pernah diperiksa faktanya pada tahun 2017 melalui artikel berjudul [HOAX] “Bila mereka adalah bagian dari generasi bangkit PKI, waspadalah kita semua.”

    Foto asli, salah satunya dimuat di situs gettyimages.no dengan judul “Filipino Communist Rebels Exchange Wedding Vows Amidst A Peace Process”. Sementara foto yang diunggah oleh sumber klaim sudah dimanipulasi, bagian watermark “getty images” dihilangkan.

    Kesimpulan

    Bukan PKI dan itu adalah klaim lama yang diedarkan kembali. Foto itu sebenarnya memperlihatkan kegiatan gerilyawan New People’s Army (NPA) di sebuah pedalaman terpencil Provinsi Mountain, Filipina pada Minggu 2 April 2017. NPA adalah organisasi sayap bersenjata Partai Komunis Filipina.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini